Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENDIDIKAN DAN STRUKTUR SOSIAL : DUA PERSPEKTIF MAKRO DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN (SOS 223) DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENDIDIKAN DAN STRUKTUR SOSIAL : DUA PERSPEKTIF MAKRO DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN (SOS 223) DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL."— Transcript presentasi:

1 PENDIDIKAN DAN STRUKTUR SOSIAL : DUA PERSPEKTIF MAKRO DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN (SOS 223) DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU PENDIDIKAN

2 PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL DAN KONFLIK Untuk memahami hubungan antara pendidikan dan struktur sosial, dapat merujuk pada dua teori makro : Struktural Fungsionalisme: –perkembangan pemikirannya dapat dibagi menjadi dua babak 1.sebelum Perang Dunia (PD) II; 2.setelah PD II Struktural Konflik: –Marx –Max Weber

3 Struktural Fungsional (sebelum PD II) Pertama kali dicetuskan oleh August Comte yang kemudian dikembangkan oleh Emile Durkheim  seiring dengan tumbuh dan berkembangnya ilmu Sosiologi  Disebut juga sebagai teori fungsionalisme struktural atau pendekatan model konsensus. Asumsi dari pendekatan ini : 1. Masyarakat dianggap sebagai organisme hidup, memiliki sistem yang telah mantap dan terlembaga  analogikanya seperti berjalannya mekanisme tubuh manusia. 2.Masing-masing sistem memiliki peran, di mana kumpulan peran yang saling bekerja sama itu disebut sebagai struktur. 3.Dalam kehidupan bermasyarakat, sistem yang terlembaga dan kemudian terbentuk menjadi struktur itu adalah : keluarga, agama, pendidikan, ekonomi, politik dan sebagainya.  masing-masing mempunyai keterkaitan kooperatif untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat. 4.Fungsi utama dari suatu sistem adalah : sosialisasi, internalisasi, enkulturasi (pembudayaan).  fungsinya adalah untuk melestarikan pola- pola interaksi dan agar masyarakat tidak selalu berada dalam kekacauan.  melalui sosialisasi pula maka anggota masyarakat dipersiapkan untuk mengisi berbagai peran di masyarakat.

4 PERTANYAAN-PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN OLEH PARA PENGANUT PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL 1.Apa fungsi pendidikan bagi masyarakat? –Apakah fungsi yang dimainkan oleh pendidikan berkontribusi pada pemeliharaan konsensus nilai serta solidaritas sosial? 2.Apakah ada hubungan yang sifatnya fungsional di antara lembaga-lembaga pendidikan dengan lembaga-lembaga lainnya di masyarakat? –Apakah hubungan di antara lembaga-lembaga tersebut berfungsi untuk mengintegrasikan masyarakat sebagai suatu kesatuan? Studi-studi yang berperspektif struktural fungsional berfokus pada upaya menelusuri sumbangan positif dari pendidikan dalam pemeliharaan pola.

5 PARA AHLI SOSIOLOGI YANG MENGEMBANGKAN STRUKTURAL FUNGSIONAL Emile Durkheim: –Fungsi utama pendidikan: Sebagai agen yang mentransmisikan norma-norma dan nilai- nilai masyarakat; –Fungsi/peran sekolah: Menanamkan nilai-nilai dan keterampilan ‘baru’ yang tidak didapat anak-anak dari lingkungan keluarga atau sosialnya. Mengajarkan disiplin secara tegas  agar murid terbiasa menaati norma dan nilai-nilai masyarakat, melatih disiplin diri  kesalahan yang diperbuatnya akan merusak masyarakat secara keseluruhan (bukan karena menghindari hukuman) Mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan- pekerjaan di masa datang  tempat alih pengetahuan dan keterampilan seiring dengan meningkatnya pembagian kerja yang kompleks dan terspesialisasi di masyarakat.

6 TALCOTT PARSONS Fungsi/peran sekolah: Sebagai agen sosialisasi yang cukup penting untuk: 1.Menyiapkan anak-anak dengan peran-peran dewasa yang kelak akan dijalaninya. 2.Mensosialisasikan nilai-nilai universalistik yang berbeda dengan nilai-nilai partikularistik (yang didapat dari rumah). Melalui universalistik, anak harus mentaati peraturan sekolah; prestasi belajarnya diukur dengan soal-soal yang belaku umum (general) 3.Mengoperasikan prinsip-prinsip meritokrasi

7 Lanjutan… 4.Menanamkan nilai-nilai berprestasi  semua anak dianggap memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing & bekerja keras agar mendapatkan prestasi terbaik (equality of opportunity) 5.Sebagai agen yang menyeleksi dan menempatkan individu sesuai dengan kapasitas keahlian yang dimilikinya  sehingga dapat mengisi struktur peran & okupasi di masyarakat.

8 Struktural Fungsionalisme (Setelah PD II) Berkembang karena adanya konflik (perang dingin) antara Amerika Serikat dan Uni Soviet (Rusia). Kondisi tersebut memicu beberapa hal : –Muncul perlombaan teknologi pemakaian senjata nuklir serta teknologi transportasi modern; –Ambisi dari masing-masing negara untuk menjadi adidaya, dan memiliki keunggulan yang ditekankan pada tekonologi.

9 Lanjutan… Akibatnya Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting, dan konsekuensinya : –pendekatan fungsional dan pendekatan human capital berkembang pesat; –dana pendidikan peningkatannya cukup besar, guna menciptakan teknologi-teknologi baru, khususnya di AS; –industri berbasis teknologi semakin berkembang pesat (berekspansi) disertai dengan kebutuhan tenaga kerja yang memiliki tingkat pendidikan yang semakin tinggi; tujuan jangka panjangnya adalah meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya.

10 TEORI FUNGSIONALISME TEKNIS : sebagian pengembangan dari perspektif fungsionalisme struktural dan mengadopsi pemikiran Talcott Parsons, khususnya pada konsep pemikiran tentang: partikularisme vs universalisme dan askripsi vs prestasi. Asumsi dari perspektif fungsionalisme teknis: –Ekspansi dan diferensiasi sistem pendidikan : akibat dari perubahan dalam struktur profesi dan okupasi yang disebabkan oleh teknologi. –Lembaga pendidikan adalah satu-satunya sarana untuk meningkatkan keterampilan yang luas dan kompleks. –Ada kesemaan kesempatan/peluang untuk memperoleh pendidikan bagi berbagai lapisan masyarakat.

11 PROPOSISI DASAR DARI TEORI FUNGSI TEKNIS PENDIDIKAN 1.Meningkatnya jumlah tenaga ahli di berbagai bidang pekerjaan terutama disebabkan oleh perubahan teknologi. Proposisi tersebut didasari atas fenomena : –pekerjaan yang mensyaratkan keahlian rendah jumlahnya semakin menurun, dan pekerjaan yang mensyaratkan keahlian tinggi semakin meningkat. –Banyak pekerjaan (di masa y.a.d) yang semakin membutuhkan tenaga berkeahlian tingkat tinggi. 2. Pendidikan formal pada akhirnya harus menyediakan pelatihan keterampilan bagi siswa-siswanya. 3.Oleh karena didorong oleh semakin tingginya tuntutan tenaga kerja yang berpendidikan atau berkeahlian, maka pada akhirnya masyarakat akan menempuh periode sekolah yang semakin lama/panjang.

12 Lanjutan… Teori ini mendukung MERITOKRASI DAN TEKNOKRASI di dalam sistem stratifikasi sosial KRITIK TERHADAP TEORI FUNGSI TEKNIS PENDIDIKAN : –melebih-lebihkan peran teknologi –kurang melihat adanya potensi konflik dalam memperebutkan kesempatan kerja di antara para lulusan sekolah. Potensi konflik itu misalnya : adanya proses tawar-menawar di antara para majikan dan pekerjanya. Para majikan cenderung enggan memberi gaji yang lebih tinggi apabila kemampuan dan tingkat pendidikan pekerjanya semakin baik. Ada campur tangan faktor askriptif bagi mereka yang ingin meraih sukses pekerjaan.

13 PENDEKATAN YANG MENJADI PENERUS PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONAL: FAHAM LIBERAL Lebih menitikberatkan peran individu  yang mempengaruhi kehidupan sosial/masyarakat Individu dianggap: 1.Memiliki kemampuan sebagai penentu keberhasilan pendidikan dan sukses karir seseorang di masyarakat; 2.Setiap individu memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk mencapai kesuksesan (equality of opportunity); 3.Individu berperan untuk kestabilan norma dan nilai-nilai di masyarakat; 4.Semua individu memiliki potensi dan kecerdasan yang sama secara intelektual; 5.Manusia adalah individu yang otonom (berkehendak bebas)  setiap individu mampu memilih dan memiliki kehendak bebas untuk mengembangkan potensinya.

14 FUNGSI PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF LIBERAL Peran pendidikan/sekolah: –Sebagai media yang mensosialisasikan dan mereproduksi nilai- nilai dasar yang dimiliki masyarakat; –Menyelenggarakan dan mempromosikan individu agar dapat menjadi anggota masyarakat berperilaku baik & menjadi individu yang berkualitas; –Hanya melalui pendidikan kemajuan masyarakat dapat dicapai  tidak melihat kaitan antara kegagalan atau keberhasilan pendidikan dengan terciptanya struktur kelas, dominasi politik dan budaya, atau diskriminasi di masyarakat; –Sebagai agen yang mensosialisasikan nilai-nilai tentang keunggulan/excellence  menjadi target utama yang harus dicapai murid; –Individu yang memiliki need of achievement tinggi/berprestasi  dianggap mampu merubah kondisi masyarakat jadi lebih baik.

15 Ilmuwan berperspektif Liberal: John Dewey Fungsi pendidikan menurut Dewey: 1.Developmental function: mendorong individu untuk dapat mengembangkan seluruh potensinya  agar dapat menjadi manusia seutuhnya; Fungsi sekolah: mengembangkan berbagai potensi/bakat, kepribadian, kognisi dan estetika murid. 2.Integrative function: mengajarkan individu untuk mampu bersikap toleran, demokratis, adil dan mampu bekerja sama dengan individu-individu lainnya. Fungsi sekolah: mendorong murid untuk mengintegrasikan diri mereka dengan berbagai aktivitas dan kegiatan yang dilakukan bersama murid-murid lainnya;

16 Lanjutan… 3.Egalitarian function: –Sekolah memberi kesempatan yang sama kepada semua individu untuk dapat bersaing secara terbuka dalam memperebutkan hak- hak khusus tertentu (status sosial/strata menengah-atas) –Sekolah memberi kesempatan yang sama/setara bagi semua warga (equality of opportunity).

17 PERSPEKTIF STRUKTURAL KONFLIK (MARX) Tesis yang dikemukakan Marx dan Engels tentang pendidikan: 1.Pendidikan cenderung bersifat kelas  konsekuensinya mereka menyarankan untuk membebaskan pendidikan dari pengaruh kelas yang berkuasa. Tesis ini didasarkan atas fenomena : a)sekolah merupakan sarana dari kaum kapitalis untuk meneruskan posisinya kepada keturunannya. b)fungsi sekolah : (i) mempersiapkan anak-anak kaum elit menggantikan posisi orang tuanya; (ii) mengarahkan anak-anak kaum pekerja untuk membiasakan diri mereka pada status yang lebih rendah. 2.Pendidikan seharusnya untuk mengakhiri perjuangan kelas: –membantu proses perubahan masyarakat menuju masyarakat tanpa kelas. 3.Pendidikan sebagai lembaga yang otonom akan punah: artinya, pendidikan tidak bisa lagi mengekang dan mengatur tingkah laku manusia, apalagi mengindoktrinasi, karena dalam masyarakat tanpa kelas, manusia adalah makhluk yang bebas terutama dari rasa asing terhadap dirinya sendiri.

18 Pendekatan Materialisme historis dari Marx Perjuangan kelas menurut pemikiran Marx, dapata ditelusuri dari materialisme historis: 1.Means of production (cara-cara berproduksi): sesuatu yang digunakan untuk memproduksi kebutuhan material dan untuk mempertahankan eksistensi/keberadaan  industri kecil, industri menengah, industri besar 2.Relations of production (relasi-relasi dalam berproduksi): relasi sosial yang terjadi di masyarakat dalam kaitannya dengan kegiatan produksi  peran sosial yang terbagi kepada individu-individu dalam aktivitas produksi. 3.Mode of production (sarana berproduksi): cara mengorganisasikan produksi  basis ekonomi masyarakat membentuk relasi-relasi sosial  masyarakat pertanian (pemilik/tuan tanah); masyarakat industri (pemilik modal/pabrik/industri). 4.Force of production (kekuatan untuk berproduksi): 1.pada masyarakat feodal: kekuatan produksi ada pada tanah, alat-alat pertanian dan teknik penggarapan. 2.Pada masyarakat industri: kekuatan produksi pada teknik industri, ilmu, modal, teknologi.

19 TEORI KONFLIK DARI MAX WEBER Di dasarkan pada stratifikasi atau pengelompokkan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat. –Weber melihat bahwa perbedaan dalam stratifikasi tersebut disebabkan adanya KELOMPOK-KELOMPOK STATUS. –Suatu kelompok status biasanya memiliki nilai-nilai budaya yang sama, termasuk gaya hidup; kesamaan bahasa; fashion style, upacara ritual yang sama, olah raga, rasa seni yang sama, dan sebagainya.

20 Tiga Sumber Terbentuknya Kelompok Status: 1.perbedaan situasi atau keadaan ekonomi (Weber menyebutkan dengan kelas yang berbeda) 2.perbedaan posisi kekuasaan atau politik 3.perbedaan kondisi sosial, budaya atau lembaga. PENDIDIKAN adalah bagian dari budaya kelompok status tertentu, konsekuensinya: 1.Sekolah bersifat elitis (sepanjang suatu kelompok status mampu melakukan kontrol pendidikan, maka kontrol itu akan digunakan untuk membantu anggota-anggotanya mempersiapkan orang-orang untuk masuk ke dalam klik/lingkaran kelompok tersebut). 2.Pendidikan kemudian dianggap sebagai bagian dari mekanisme penempatan tenaga kerja/alat seleksi (sebagai syarat formal untuk menyeleksi orang-orang yang “berbudaya” sama)  persaingan antar kelompok status

21 Lanjutan… Berdasarkan situasi yang demikian itu, maka menurut Randall Collins: –Ekspansi pendidikan di AS bukan karena persyaratan teknis di mana dunia kerja membutuhkan tenaga kerja berkeahlian tinggi, tetapi karena persaingan antar kelompok status dalam memperebutkan kekayaan, kekuasan dan status. –Pendidikan justru semakin memperkuat keberadaan “kebudayaan kelompok status” –Pendidikan juga mengajarkan perbedaan in group dan out group –Pasar kerja menjadi tempat yang paling menentukan dalam melakukan seleksi anggota-anggotanya  kualifikasi pendidikan digunakan sebagai alat untuk melakukan seleksi terhadap tenaga kerja.

22


Download ppt "PENDIDIKAN DAN STRUKTUR SOSIAL : DUA PERSPEKTIF MAKRO DALAM SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN (SOS 223) DEPARTEMEN SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google