Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

FILSAFAT ETIKA Emylia Fiskasari, S.Si., Apt. Chapter I.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "FILSAFAT ETIKA Emylia Fiskasari, S.Si., Apt. Chapter I."— Transcript presentasi:

1 FILSAFAT ETIKA Emylia Fiskasari, S.Si., Apt. Chapter I

2 Istilah Filsafat  Segi semantik: perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab ‘falsafah’, yang berasal dari bahasa Yunani, ‘philosophia’, yang berarti ‘philos’ = cinta, suka (loving), dan ‘sophia’ = pengetahuan, hikmah(wisdom). Jadi ‘philosophia’ berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut ‘philosopher’, dalam bahasa Arabnya ‘failasuf”.  Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.

3  Segi praktis : dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti ‘alam pikiran’ atau ‘alam berpikir’. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat.  Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa “setiap manusia adalah filsuf”. Semboyan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh- sungguh dan mendalam.

4 FILSAFAT Pengertian 1. Plato (427SM – 347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli). 2. Aristoteles (384 SM – 322SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).

5 3. Marcus Tullius Cicero (106 SM – 43SM) politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya. 4. Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud (segala sesuatu yg diwujudkann oleh yg lain) dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.

6 5. Immanuel Kant ( ), yang sering disebut raksasa pemikir Barat, mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya tiga persoalan, yaitu:  Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)  Apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)  Apakah Manusia itu ? (dijawab oleh antropologi)

7 6. Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal. 7. Drs H. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

8 Jadi....  Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu, dengan mencari sebab-sebab terdalam, berdasarkan kekuatan pikiran manusia sendiri.  Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat yang ada, yaitu:  Hakikat Tuhan,  Hakikat alam semesta, dan  Hakikat manusia, serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut

9 Cara Membatasi Filsafat Pada zaman modern ini pada umunya orang telah sepakat untuk mempelajari ilmu filsafat itu dengan dua cara, yaitu:  mempelajari sejarah perkembangan sejak dahulu kala hingga sekarang (metode historis)  mempelajari isi atau lapangan pembahasannya yang diatur dalam bidang-bidang tertentu (metode sistematis).

10 Metode historis  Dalam metode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu kala sehingga sekarang.  Di sini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana timbulnya aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika, dan tentang keagamaan. Seperti juga pembicaraan tentang zaman purba dilakukan secara berurutan (kronologis) menurut waktu masing masing.

11 Metode Sistematis  Dalam metode sistematis orang membahas langsung isi persoalan ilmu filsafat itu dengan tidak mementingkan urutan zaman perjuangannya masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang-bidang yang tertentu.  Misalnya, dalam bidang logika dipersoalkan mana yang benar dan mana yang salah menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berpikir yang benar dan mana yang salah. Kemudian dalam bidang etika dipersoalkan tentang manakah yang baik dan manakah yang buruk dalam pembuatan manusia. Di sini tidak dibicarakan persoalan- persoalan logika atau metafisika.

12 Cabang-cabang Filsafat  Filsafat adalah sebagai induk yang mencakup semua ilmu khusus  Dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya, filsafat.  Mula-mula matematika dan fisika melepaskan diri, kemudian diikuti oleh ilmu-ilmu lain. Adapun psikologi baru pada akhir-akhir ini melepaskan diri dari filsafat.

13  Setelah filsafat ditinggalkan oleh ilmu-ilmu khusus, ternyata ia tidak mati, tetapi hidup dengan corak baru sebagai ‘ilmu istimewa’ yang memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus.  Ahli filsafat biasanya mempunyai pembagian yang berbeda-beda, yaitu......

14 H. De Vos menggolongkan filsafat sebagai berikut:  ” metafisika,  ” logika,  ” ajaran tentang ilmu pengetahuan  ” filsafat alam  ” filsafat sejarah  ” etika,  ” estetika, dan  ” antropologi.

15 Prof. Albuerey Castell membagi masalah-masalah filsafat menjadi enam bagian, yaitu:  ” masalah teologis  ” masalah metafisika  ” masalah epistomologi (asal, sifat, dan jenis pengetahuan)  ” masalah etika  ” masalah politik, dan  ” masalah sejarah

16 Dr. Richard H. Popkin dan Dr Avrum Astroll dalam buku, Philosophy Made Simple, membagi ke dalam tujuh bagian, yaitu:  ” Section I Ethics  ” Section II Political Philosophy  ” Section III Metaphysics  ” Section IV Philosophy of Religion  ” Section V Theory of Knowledge  ” Section VI Logics  ” Section VII Contemporary Philosophy,

17 Dr. M. J. Langeveld Dr. M. J. Langeveld mengatakan: Filsafat adalah ilmu Kesatuan yang terdiri atas tiga lingkungan masalah:  ” lingkungan masalah keadaan (metafisika manusia, alam dan seterusnya)  ” lingkungan masalah pengetahuan (teori kebenaran, teori pengetahuan, logika)  ” lingkungan masalah nilai (teori nilai etika, estetika yang bernilai berdasarkan religi)

18 Aristoteles, murid Plato, mengadakan pembagian secara kongkret dan sistematis menjadi empat cabang, yaitu: a) Logika. Ilmu ini dianggap sebagai ilmu pendahuluan bagi filsafat. b) Filsafat teoritis. Cabang ini mencangkup:  ” ilmu fisika yang mempersoalkan dunia materi dari alam nyata ini,  ” ilmu matematika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu dalam kuantitasnya,  ” ilmu metafisika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu. c) Filsafat praktis. Cabang ini mencakup:  ” ilmu etika, yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup perseorangan  ” ilmu ekonomi, yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran di dalam negara. d) Filsafat poetika (Kesenian).

19 Dari pandangan para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat mempunyai beberapa cabang,  Metafisika: filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, hakikat yang bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman manusia.  Logika: filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah.  Etika: filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk.  Estetika: filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek.  Epistomologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan.  Filsafat-filsafat khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia, filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan, dan sebagainya.

20 MANFAAT DAN TUJUAN FILSAFAT  Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).  Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran.

21  S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut.  Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugas filsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru.

22 MANFAAT dan TUJUAN FILSAFAT  Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah :  1) Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri: dengan berpikir lebih mendalam, kita mengalami dan menyadari kerohanian kita. Rahasia hidup yang kita selidiki justru memaksa kita untuk berpikir untuk hidup sesadar-sadarnya, dan memberikan isi kepada hidup kita sendiri.

23  2) Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari. Orang yang hidup secara “dangkal” saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi melihat pemecahnya. Dalam filsafat kita dilatih melihat dulu apa yang menjadi persoalan, dan ini merupakan syarat mutlak untuk memecahkannya.  3) Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung “akuisme” dan “aku-sentrisme” (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku).

24  4) Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri, bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.  5) Filsafat memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) sehingga mengurangi salah paham dan konflik

25 Aliran-aliran dalam filsafat  Aliran-aliran metafisika  Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu : (1) yang mengenai kuantitas (jumlah) dan (2) yang mengenai kualitas (sifat).Yang mengenai kuantitas terdiri atas (a) monisme, (b) dualisme, dan (c) pluralisme.

26 Aliran Metafisik  Monisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa unsur pokok segala yang ada di dunia ini adalah esa (satu). Menurut Thales: air, menurut Anaximandros: ‘apeiron’, menurut Anaximenes: udara.  Dualisme adalah aliran yang berpendirian bahwa unsur pokok sarwa yang ada ini ada dua, yaitu roh dan benda.  Pluralisme adalah aliran yang berpendapat bahwa unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak. Menurut Empedokles: udara, api, air dan tanah.

27 Aliran-aliran etika  1) Aliran etika nuturalisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural (fitrah) kejadian manusia sekali.  2) Aliran etika hedonisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan ‘hedone’ (kenikmatan dan kelezatan).  3) Aliran etika utilitarianisme, yaitu aliran yang menilai baik dan buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi manusia (utility = manfaat).

28 Aliran etika...  4) Aliran etika idealisme, yaitu aliran yang menilai baik buruknya perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.  5) Aliran etika vitalisme, yaitu aliran yang menilai baik-buruknya perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya daya hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.  6) Aliran etika theologis, yaitu aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos = Tuhan).

29 Aliran-aliran Teori Pengetahuan 1. Golongan yang mengemukakan asal atau sumber pengetahuan. Termasuk ke dalamnya:  Rationalisme, yaitu aliran yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia ialah pikiran, rasio dan jiwa manusia.  Empirisme, yaitu aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap pancainderanya.  Kritisisme (transendentalisme), yaitu aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri.

30 Aliran Teori Pengetahuan Golongan yang mengemukakan hakikat pengetahuan manusia. Termasuk ke dalamnya:  Realisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambar yang baik dan tepat dari kebenaran dalam pengetahuan yang baik tergambarkan kebenaran seperti sungguh- sungguhnya ada.  Idealisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegensi

31 TO BE CONTINUED...


Download ppt "FILSAFAT ETIKA Emylia Fiskasari, S.Si., Apt. Chapter I."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google