Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 I. PENDAHULUAN 1.1. PENGERTIAN DAN DEFINISI 1. METODE PENELITIAN: METODE: CARA ATAU PROSEDUR UNTUK MELAKSANAKAN SUATU KEGIATAN. PENELITIAN: RISET DARI.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 I. PENDAHULUAN 1.1. PENGERTIAN DAN DEFINISI 1. METODE PENELITIAN: METODE: CARA ATAU PROSEDUR UNTUK MELAKSANAKAN SUATU KEGIATAN. PENELITIAN: RISET DARI."— Transcript presentasi:

1 1 I. PENDAHULUAN 1.1. PENGERTIAN DAN DEFINISI 1. METODE PENELITIAN: METODE: CARA ATAU PROSEDUR UNTUK MELAKSANAKAN SUATU KEGIATAN. PENELITIAN: RISET DARI KATA RESEARCH ATAU PENEMUAN KEMBALI KEBENARAN DALAM PROSES ATAU FENOMENA ALAM. “IMPLEMENTASI DARI ASPEK EPISTEMOLOGI DALAM FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN, TENTANG BAGAIMANA CARA PEMAHAMAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN” 2. ILMU PENGETAHUAN. MODEL, TEORI, ATAU DESKRIPSI YANG DISAJIKAN DALAM SUSUNAN BAHASA YANG SISTEMATIS TERHADAP FAKTA ATAU FENOMENA TENTANG SUATU OBYEK YANG DIDAPATKAN DARI HASIL KEGIATAN PENELITIAN (RISET). KEGIATAN PENELITIAN MERUPAKAN SALAH SATU JENIS KEGIATAN ILMIAH, YANG KEBENARAN TEORINYA MENGACU KEPADA KEBENARAN ILMIAH, DAN KEGIATANNYA SECARA KETAT MENGGUNAKAN METODE ILMIAH ATAU METODE PENELITIAN. UNSUR KEBENARAN ILMIAH ADALAH LOGIKA BERFKIR INDUKSI DAN DEDUKSI, YANG DIIMPLEMENTASIKAN SECARA BERSAMA-SAMA SECARA TERSTRUKTUR UNTUK MENDAPATKAN SUATU HUKUM ATAU TEORI ILMU PENGETAHUAN TENTANG SUATU OBYEK ATAU FENOMENA ALAM. SIFAT KEBENARAN ILMIAH RELATIF, TINGKAT KEBENARANNYA TERUS DISEMPURNAKAN MELALUI KEGIATAN PENELITIAN YANG DILAKSANAKAN SECARA BERKESINAMBUNGAN.

2 SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN RASIONAL PADA AWAL PENGEMBANGAN PEMIKIRAN RASIONAL MANUSIA, SEMUA HASIL PEMIKIRANNYA DALAM BERBAGAI JENIS OBYEK PENELITIAN, MENJADI SATU DALAM KELOMPOK ILMU FILSAFAT. PERINTIS PEMIKIRAN FILSAFAT ADALAH PARA FILSUF YUNANI KUNO (SEKITAR ABAD 6 SM – ABAD 2 SM), DENGAN TOKOH UTAMANYA: SOCRATES, PLATO, DAN ARISTOTELES. SESUDAH ITU PEMIKIRAN FILSAFAT TERUS BERLANGSUNG DENGAN PERODISASI: ZAMAN PERTENGAHAN, ZAMAN RENAISANS, ZAMAN MODERN, DAN ZAMAN ABAD 20 – SEKARANG. PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT SEJALAN DAN MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DALAM MEMAHAMI FAKTA DAN FENOMENA ALAM DAN KEHIDUPAN, DAN MENJADI MOTOR PENGGERAK PEMBENTUKAN PERADABAN, MISALNYA: 1. PEMIKIRAN FILSAFAT ZAMAN PERTENGAHAN DIPENGARUHI OLEH AJARAN AGAMA YANG CENDERUNG DOGMATIS, DAN MENGHASILKAN PEMIKIRAN DAN SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA YANG CENDERUNG TOTALITER. 2.ZAMAN RENAISANS DAN ZAMAN MODERN MENGHASILKAN PEMIKIRAN DAN SISTEM YANG SEKULER, KARENA PEMIKIRAN FILSAFAT MELEPASKAN DIRI DARI AJARAN AGAMA DENGAN POLA FIKIR YANG RASIONAL DAN BEBAS. 3.MULAI PADA ABAD KE 20 PERMASALAHAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA MENJADI SEMAKIN BANYAK DAN KOMPLEKS YANG DISEBABKAN OLEH: - PERKEMBANGAN JUMLAH PENDUDUK DUNIA YANG CEPAT - PERKEMBANGAN KEMAKMURAN YANG MEMBEBASKAN MANUSIA DARI SEBAGIAN BESAR PEKERJAAN FISIK. - PERBEDAAN KEMAKMURAN ANTAR NEGARA YANG SEMAKIN MEMBESAR, YANG MENGAKIBATKAN BERAGAI PERMASALAHAN GLOBAL - POLUSI DAN DEGRADASI LINGKUNGAN HIDUP AKIBAT IMPLEMENTASI TEKNOLOGI DALAM BERBAGAI ASPEK KEHIDUPAN.

3 3 BERBAGAI KEADAAN SESUDAH ABAD KE 20 TERSEBUT MENYEBABKAN PEMIKIRAN RASIONAL MANUSIA DALAM FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN CENDERUNG REAKTIF, DEFENSIF, PARSIAL, SEKTORAL DAN PRAGMATIS PERKEMBANGAN DAN KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN. KEGIATAN BERFIKIR MANUSIA BERSIFAT EKSPLORATIF DAN EKSPANSIF, SEHINGGA HASIL PEMIKIRANNYA TERUS BERTAMBAH SECARA AKUMULATIF DALAM BIDANG- BIDANG YANG SEMAKIN MELUAS DAN BANYAK. KARENA PENAMBAHAN INI DAN SEMAKIN BANYAKNYA APLIKASI HASIL PEMIKIRAN RASIONAL DALAM KEHIDUPAN, MAKA ILMU FILSAFAT KEMUDIAN TERPECAH MENJADI DUA KELOMPOK YAITU: 1. KELOMPOK ILMU FILSAFAT MURNI 2. KELOMPOK ILMU-ILMU PENGETAHUAN. KELOMPOK ILMU FILSAFAT MURNI TETAP PADA KARAKTERISTIK SEMULA YAITU: 1.RASIONAL: MENEKANKAN KEPADA KEMAMPUAN RASIONAL DENGAN MENGGUNAKAN KAIDAH LOGIKA 2.RADIKAL: TUJUAN BERFIKIR FILSAFAT UNTUK MENGGALI KEBENARAN SAMPAI KE AKAR PERMASALAHANNYA (RADIK = AKAR). 3.SPEKULATIF: KRITERIA KEBENARANNYA TIDAK MENGGUNAKAN NORMA ATAU UKURAN TERTENTU, TETAPI MENURUT METODE YANG DIKEMBANGKAN OLEH ALIRAN FILSAFAT MASING-MASING. KELOMPOK ILMU FILSAFAT MURNI MENGHASILKAN PEMIKIRAN YANG MENDASARI METODE BERFIKIR ILMU PENGETAHUAN, DAN MENG-EKSPLORASI OBYEK MATERIAL MAUPUN OBYEK FORMAL BARU UNTUK DITERUSKAN OLEH ILMU PENGETAHUAN BAGI PENGEMBANGAN DAN APLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN. TERDAPAT KERJASAMA SECARA SINERGI ANTARA FILSAFAT DENGAN ILMU PENGETAHUAN, SEBAGAI SARAN BERFIKIR INTELEKTUAL MANUSIA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP MEREKA.

4 4 KELOMPOK ILMU PENGETAHUAN BERKEMBANG DENGAN MENEKANKAN PADA APLIKASI UNTUK MEMBERI MANFAAT SECARA LANGSUNG KEPADA KEHIDUPAN NYATA. KARAKTERISTIK ILMU PENGETAHUAN KEMUDIAN BERBEDA DENGAN INDUKNYA (FILSAFAT), SEBAGAI BERIKUT: 1. RASIONAL : SEPERTI FILSAFAT, TETAP MENGGUNAKAN KEMAMPUAN RASIONAL DENGAN MENGGUNAKANKAIDAH LOGIKA 2. PRAGMATIS : DIKEMBANGKAN BUKAN UNTUK MENDAPATKAN KEBENARAN TERTINGGI, TETAPI LEBIH KEPADA MENCARI MANFAAT BAGI PENGEMBANGAN KEHIDUPAN MANUSIA 3. NORMATIF: KRITERIA KEBENARANNYA MENGIKUTI SUATU NORMA YAITU KEBENARAN ILMIAH YANG DI IMPLEMENTASIKAN DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DALAM BENTUK METODE ILMIAH. KAITANNYA YANG ERAT DENGAN APLIKASINYA, MENYEBABKAN ILMU PENGETAHUAN BERKEMBANG SANGAT CEPAT. HAL INI KARENA TERBENTUKNYA TERSEDIANYA BIAYA RISET DARI HASIL APLIKASI TERSEBUT. DENGAN PERKEMBANGAN ITU MAKA ILMU PENGETAHUAN KEMUDIAN PECAH MENJADI BANYAK KELOMPOK ATAU DISIPLIN ILMU- ILMU PENGETAHUAN BARU. PENGELOMPOKAN ILMU PENGETAHUAN DAPAT DILAKUKAN MENURUT BERBAGAI KLASIFIKASI, SEPERTI: 1. KLASIFIKASI MENURUT LINGKUP FUNGSINYA: - KELOMPOK ILMU DASAR: FISIKA, BIOLOGI, MATEMATIKA, DLL.. - KELOMPOK ILMU TERAPAN: TEKNIK, PERTANIAN, KEDOKTERAN, EKONOMI, HUKUM, DLL.. 2. MENURUT SIFAT OBYEKNYA: - KELOMPOK ILMU ALAM: FISIKA, BIOLOGI, TEKNIK, KEDOKTERAN, DLL.. - KELOMPOK ILMU KEMANUSIAAN ATAU ILMU SOSIAL: EKONOMI, HUKUM, PSIKHOLOGI, SOSIOLOGI, DLL..

5 TEORI KEBENARAN KEBENARAN ADALAH HASIL USAHA SUBYEK DALAM MEMAHAMI, MENGAMBARKAN DAN MEMANFAATKAN REALITAS TENTANG OBYEK. DARI ASPEK SUBYEKNYA, KEBENARAN DAPAT BERORIENTASI KEPADA SALAH SATU ATAU LEBIH FUNGSI MENTAL MANUSIA, YAITU SPIRITUAL, EMOSIONAL, DAN RASIONAL. KARENA ITU KEBENARAN MEMPUNYAI LINGKUP DAN MAKNA YANG SANGAT LUAS, KARENA KOMPLEKSITAS DALAM SUBYEK DAN DALAM OBYEK. KEBENARAN RASIONAL BERFUNGSI UNTUK MEMBEDAKAN KEBENARAN DARI KESALAHAN DENGAN MENGGUNAKAN PROSES LOGIKA. DALAM PROSES LOGIKA BIASANYA DIPERLUKAN LANDASAN PEMBENARAN, BERUPA PENJELASAN ATAU ALASAN UNTUK MENENTUKAN BAHWA SESUATU SEBAGAI BENAR ATAU SALAH. PENJELASAN ATAU ALASAN UNTUK PEMBENARAN DAPAT MENGIKUTI BERBAGAI JENIS ALUR BERFIKIR LOGIS SEPERTI: PREPOSISI, PERNYATAAN, IDE, KEPERCAYAAN, PENILAIAN, DAN LAIN-LAIN. KEBENARAN RASIONAL DAPAT DIKLASIFIKASIKAN DENGAN BERBAGAI KATEGORI, DIANTARANYA: 1. MENURUT METODE PEMBENARANNYA 2.MENURUT SUMBER KEBENARANNYA 3.MENURUT LINGKUP KEBENARANNYA KEBENARAN MENURUT METODE PEMBENARANNYA. MENURUT KLASIFIKASI INI KEBENARAN DAPAT DIBAGI DALAM DUA KELOMPOK YAITU SEBAGAI BERIKUT. II. TEORI KEBENARAN DAN LOGIKA

6 6 1. METODE PEMBENARAN DENGAN PENJELASAN. DALAM TEORI INI SETIAP KEBENARAN MEMERLUKAN PENJELASAN YANG DAPAT MEMBERIKAN LANDASAN PEMBENARANNYA. TERDAPAT BANYAK JENIS TEORI TENTANG PENJELASAN TERHADAP KEBENARAN, DIANTARANYA: a.TEORI KORESPONDENSI: SIFAT PENJELASANNYA ADALAH HUBUNGAN DENGAN REALITAS DALAM OBYEKNYA. b.TEORI KOHEREN: SIFAT PENJELASAN KOHEREN ATAU KONSISTEN DENGAN TEORI KEBENARAN LAIN TENTANG OBYEK YANG DITELITI. c.TEORI KONSENSUS: SIFAT PENJELASAN ADALAH KESEPAKATAN DALAM SUATU KELOMPOK KEBENARAN TERTENTU. d.TEORI PRAGMATIS: SIFAT PENJELASAN KARENA KEBERHASILAN DALAM PRAKTEK ATAU APLIKASINYA. e.TEORI PROSES SOSIAL: KEBENARAN YANG PEMBENTUKANNYA MELALUI PROSES SOSIAL, SETELAH MELALUI PERJUANGAN YANG BERAT. 2.METODE PEMBENARAN PADA DIRINYA SENDIRI. TEORI INI BERANGGAPAN BAHWA KEBENARAN TIDAK MEMERLUKAN PENJELASAN, TETAPI KEBENARANNYA ADA PADA DIRINYA SENDIRI. PERNYATAAN BAHWA “TEMBOK ITU BERWARNA PUTIH” SUDAH BENAR DENGAN SENDIRINYA. DALAM PROSES LOGIKA KEBENARAN INI DISEBUT “AKSIOMA” ATAU “POSTULAT” YANG BIASANYA DIJADIKAN PENJELASAN AWAL TITIK TOLAK DARI JENIS KEBENARAN PERTAMA. PEMBENARAN DALAM METODE INI SERING BERLANDASKAN KEPADA HAL YANG TIDAK RASIONAL. SEPERTI: KEPERCAYAAN AGAMA, MORAL, IDE, DAN LAIN-LAIN.

7 KEBENARAN MENURUT SUMBER KEBENARANNYA. KEBENARAN ADALAH MERUPAKAN HASIL INTERAKSI ANTARA SUBYEK DENGAN OBYEK, SEHINGGA MENURUT KLASIFIKASI INI TEORI KEBENARAN DAPAT DIBAGI DALAM DUA JENIS YAITU. 1. KEBENARAN SUBYEKTIF: ADALAH KEBENARAN YANG MENEKANKAN PADA YANG DIALAMI OLEH SUBYEK. PENGALAMAN SUBYEK MENJADI SUMBER DAN TITIK TOLAK PERUMUSAN PERNYATAAN KEBENARANNYA. DALAM PRAKTEKNYA KEBENARAN RASIONALYANG SEPENUHNYA SUBYEKTIF HANYA MATEMATIKA. KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN LAIN, DALAM KADAR YANG BERBEDA, LEBIH MENEKANKAN KEPADA SUBYEK ATAU OBYEKNYA. CONTOH: KEBENARAN ILMU SOSIAL LEBIH BERSIFAT SUBYEKTIF, KARENA DASARNYA ADALAH PENGALAMAN MANUSIA. 2.KEBENARAN OBYEKTIF: MERUPAKAN KEBALIKAN ARI KEBENARAN SUBYEKTIF, DIMANA TITIK TOLAK KEBENARANNYA PADA OBYEK. KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN YANG LEBIH BERSIFAT OBYEKTIF ADALAH ILMU ALAM TERUTAMA FISIKA, KARENA OBYEKNYA BENDA MATI KEBENARAN MENURUT LINGKUPNYA 1.KEBENARAN RELATIF: MENGACU ATAU RELATIF TERHADAP SUATU UKURAN, STANDAR, KONVENSI, DAN LAIN-LAIN. KEBENARAN DALAM ILMU SOSIAL BANYAK YANG RELATIF TERHADAP BUDAYA, ETIKA, MAUPUN NILAI MASYARAKAT TERTENTU. KARENA ITU KEBENARAN DALAM ILMU SOSIAL SELALU BERUBAH, KARENA PERUBAHAN DALAM SISTEM ACUANNYA TERSEBUT. 2.KEBENARAN ABSOLUT: YAITU KEBENARAN YANG BERLAKU DALAM SEMUA KONDISI, SITUASI, RUANG DAN WAKTU. KEBENARAN AJARAN AGAMA DIANGGAP ABSOLUT OLEH PEMELUKNYA, NILAI MORAL / BUDAYA TERTENTU JUGA SERING DIANGGAP ABSOLUT, MISALNYA: MENYUMBANG FAKIR MISKIN ITU BAIK, ILMU PENGETAHUAN HARUS DIPELAJARI SMUA ORANG, DLL.

8 HUBUNGAN ANTARA KEBENARAN DENGAN KEPERCYAAN DAN KEBIJAKSANAAN. KEPERCAYAAN DAN KEBENARAN BERHUBUNGAN DENGAN REALITAS TENTANG OBYEK YANG MENJADI SASARAN. PERBEDAANNYA, KEBENARAN BERHUBUNGAN DENGAN FUNGSI RASIONAL SEDANG KEPERCAYAAN BERHUBUNGAN DENGAN FUNGSI EMOSI DAN- ATAU SPIRIT. KEPERCAYAAN TIMBUL KARENA ADANYA PEMAHAMAN ATAS KEBENARAN, YANG DAPAT BERUPA PERSEPSI, KOMUNIKASI, REASONING, DAN REFLEKSI. ILMU PENGETAHUAN ADALAH KEPERCAYAAN YANG TELAH DIUJI KEBENARANNYA DENGAN FAKTA EMPIRIS. KARENA ITU PROSES PEMAHAMAN SEBELUM TERCAPAI TINGKAT KEPERCAYAAN ADALAH PROSES INDUKSI. PROSES PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN SIFATNYA SPONTAN, SEDANG PEMBENTUKAN KEBENARAN MELALUI PROSES LOGIKA. KEBIJAKSANAAN MERUPAKAN KELANJUTAN DARI KEPERCAYAAN, YANG SUDAH MENGANDUNG ASPEK KEARAH IMPLEMENTASI ATAU TINDAKAN. KARENA ITU KEBIJAKSANAAN DAPAT BERSUMBER KEPADA KEBENARAN RASIONAL. NAMUN DALAM PRAKTEK KEBIJAKSANAAN DAPAT BERSUMBER KEPADA KEPERCAYAAN SAJA, MISALNYA KEPERCAYAAN AGAMA. BAGI PARA PEMELUK AGAMA, KEBIJAKSANAAN DAN KEPERCAYAAN BERFUNGSI SEBAGAI PENGARAH FUNGSI RASIONALYANG SELANJUTNYA MEMBIMBING KEGIATAN MANUSIA MENUJU KEHIDUPAN YANG BENAR. NAMUN HARUS DIINGAT ADANYA BAHAYA APABILA KEPERCAYAAN TANPA DILANDASI KEBENARAN RASIONAL. KEPERCAYAAN SEPERTI INI AKAN MENJAUHKAN KEPERCAYAAN DARI REALITAS OBYEK. DALAM HAL INI KEPRCAYAAN DAPAT DIBIMBING OLEH LOGIKA PALSU, MISALNYA: WISHFUL THINKING. DALAM LOGIKA INI KEBENARAN TIDAK BERLANDASKAN FAKTA, TETAPI BERDASARKAN KEHENDAK, HARAPAN, OPTIMISME, ATAU HAL YANG MENYENANGKAN SAJA.

9 LOGIKA LOGIKA MERUPAKAN MEKANISME BERFIKIR RASIONAL UNTUK MEMECAHKAN SUATU PERMASALAHAN, DAN BERTUJUAN UNTUK MENDAPATKAN KESIMPULAN YANG BENAR. SELAIN UNTUK MENARIK KESIMPULAN, LOGIKA JUGA MEMPUNYAI BEBERAPA FUNGSI LAIN SEPERTI PEMAHAMAN, PENJELASAN DAN PENILAIAN TERHADAP PERMASALAHAN YANG DITELITI DAN PENYELESAIANNYA. LOGIKA MERUPAKAN ALAT BANTU UTAMA DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN. DISAMPING LOGIKA ADA BEBERAPA ALAT BANTU LAIN UNTUK PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, YAITU: MATEMATIKA, BAHASA, STATISTIKA, DAN ETIKA. DALAM BAB INI DIBAHAS TENTANG LOGIKA, DAN DALAM BAB BERIKUTNYA ADALAH BAHASAN TENTANG PERANAN BAHASA DAN STATISTIKA. BAHASAN TENTANG MATEMATIKA DAN ETIKA SUDAH DILAKUKAN SEBELUMNYA PENGERTIAN BERFIKIR DAN LOGIKA. AKTIVITAS BERFIKIR MERUPAKAN AKTIVITAS MENTAL YANG MELIPUTI TIGA UNSUR YAITU RASIO, EMOSI DAN SPIRIT. DALAM AKTIVITAS BERFIKIR RASIONAL, MAKA PENEKANAN ADA PADA FUNGSI BERFIKIR LOGIS, DENGAN FUNGSI EMOSI DAN SPIRIT MEMBERIKAN LANDASAN DAN ARAH PEMECAHANNYA. DALAM AKTIVITAS BIDANG SENI PENEKANANNYA PADA FUNGSI EMOSI, DAN DALAM AKTIVITAS KEAGAMAAN PENEKANANNYA PADA FUNGSI SPIRITUAL. KAITAN ANTARA FUNGSI RASIO DENGAN FUNGSI EMOSI DAN SPIRIT DAPAT DIINDIKASIKAN DARI SELALU ADANYA KEYAKINAN AKAN KEBENARAN SEBELUM PROSES BERFIKIR LOGIS DIMULAI, YANG DISEBUT SEBAGAI SUATU LOMPATAN MENTAL.

10 10 LOMPATAN MENTAL INI MEMBERIKAN ARAH DAN SEMANGAT DAN MERUPAKAN BENTUK TANGGUNG-JAWAB (MORAL) DALAM KEGIATAN BERFIKIR. TANPA TANGGUNG JAWAB MORALTERSEBUT, MAKA PROSES BERFIKIR DAPAT MENJADI SUATU “ANARKHI”. (Amati kejadian di Indonesia dalam berbagai bidang: politik, hukum, sosial dan agama sekarang ini). KEGIATAN BERFIKIR RASIONAL BUKAN MERUPAKAN KEGIATAN “PENCIPTAAN” SESUATU DARI TIDAK ADA, TETAPI MERUPAKAN USAHA UNTUK MENDAPATKAN PEMAHAMAN, PENJELASAN DAN PENILAIAN TERHADAP “SESUATU” YANG SUDAH ADA SEBELUMNYA. KEGIATAN LOGIKA YANG PALING JAUH ADALAH “REKAYASA”, YAITU MANIPULASI DARI BERBAGAI UNSUR PEMAHAMAN YANG SUDAH DIDAPAT MENJADI SESUAT YANG BARU. FUNGSI REKAYASA ATAU ENGINEERING SEBAGAIMANA FUNGSI ILMU PENGETAHUAN ADALAH PRAGMATIS, YAITU MENCIPTAKAN SARANA, MEKANISME ATAU PROSEDUR BARU UNTUK MEMBANTU MANUSIA DALAM MENGEMBANGKAN KEHIDUPANNYA. TUJUAN PROSES BERFIKIR ADALAH INTERNALISASI TERHADAP REALITAS DALAM OBYEK KEDALAM DIRI SUBYEK MELALUI PROSES INDERAWI, ABSTRAKSI DAN REFLEKSI. LOGIKA MEMBANTU PROSES BERFIKIR DENGAN MEMBERIKAN PROSEDUR UNTUK PERUMUSAN DISKRIPSI SPONTAN DALAM PROSES ABSTRAKSI. DALAM PROSES REFLEKSI, LOGIKA MEMBERIKAN ACUAN UNTUK MENYUSUN DESKRIPSI YANG INTEGRAL, MISALNYA DENGAN PENYUSUNAN MODEL ABSTRAK ATAU MODEL FISIK. PENYUSUNAN MODEL ABSTRAK BERKAITAN DENGAN JENIS LOGIKA TEORITIS, SEDANG MODEL FISIK BERKAITAN DENGAN LOGIKA EMPIRIS.

11 DALIL DAN PRINSIP LOGIKA. DALAM PROSES BERFIKIR, MAKA FUNGSI LOGIKA ADALAH MENJEMBATANI REALITAS DIDALAM DIRI SUBYEK DENGAN REALITAS DALAM OBYEK YANG DIAMATI. HAL INI HANYA DAPAT DILAKSANAKAN APABILA ADA KESESUAIAN ANTARA KEDUA REALITAS TERSEBUT, SEPERTI DITERANGKAN DALAM PEMBAHASAN GEJALA ILMU PENGETAHUAN. FUNGSI LOGIKA ADALAH MENJEMBATANI KEDUA REALITAS TERSEBUT, DENGAN MEMBERIKAN DALIL, PROSEDUR ATAU PRINSIP PEMBENARAN DALAM PROSES BERFIKIR SEHINGGA DIJAMIN DIDAPAT KESIMPULAN YANG BENAR DAN KONSISTEN. TERDAPAT BEBERAPA TINGKATAN PATOKAN LOGIKA, YAITU AKSIOMA SEBAGAI DALIL POKOK, KEMUDIAN PATOKAN BERDASARKAN AKAL SEHAT, DAN PRINSIP PEMBENARAN DALAM MENGAMBIL KESIMPULAN. AKSIOMA MERUPAKAN TITIK AWAL TEMPAT BERPIJAK DARI KEBENARAN YANG AKAN DITURUNKAN DIATASNYA, SEHINGGA KEBENARAN AKSIOMA TIDAK PERLU BUKTI KARENA MELEKAT PADA PRINSIPNYA SENDIRI. AKSIOMA ATAU DALIL POKOK LOGIKA TERDIRI DARI EMPAT RUMUSAN YANG SALING MELENGKAPI SEBAGAI BERIKUT. 1.PRINCIPIUM IDENTITAS: SETIAP BENDA/SESUATU ADALAH IDENTIK DENGAN DIRINYA SENDIRI. 2.PRINCIPIUM INDIVIDUATIONIS: SETIAP BENDA /SESUATU HANYA IDENTIK DENGAN DIRINYA SENDIRI. PENYIMPANGAN TERHADAP PRINSIP INI DISEBUT TAUTOLOGIE YAITU MENGANGGAP DUA BENDA /SESUATU SEBAGAI IDENTIK. 3.PRINCIPIUM CONTRADICTIONIS: APABILA ADA DUA HAL YANG BERTENTANGAN, TIDAK MUNGKIN KEDUANYA BENAR. 4.PRINCIPIUM EXCLUSI TERTII: APABILA ADA DUA HAL YANG BERTENTANGAN, TIDAK MUNGKIN KEDUANYA SALAH.

12 12 PENGOPERASIAN AKSIOMA TERSEBUT MEMERLUKAN PRINSIP-PRINSIP PELENGKAP UNTUK MENJELASKAN HUBUNGAN LOGIS ANTAR KONSEP ATAU REALITAS YANG BERBEDA. PRINSIP PELENGKAP TERSEBUT TERKUMPUL DALAM BENTUK KUMPULAN AKAL SEHAT (COMMON SENSE), YANG TERSUSUN BERDASARKAN PENGALAMAN DAN BERBAGAI PRINSIP HIDUP SEPERTI: KEJUJURAN, KEBERSAMAAN, KEBAIKAN, KESINAMBUNGAN DAN LAIN-LAIN. SELANJUTNYA PROSES LOGIKA MEMERLUKAN PEMBENARAN ATAU PENJELASAN, YANG BERUPA HUBUNGAN LOGIS SEPERTI KRONOLOGIS, FUNGSIONAL, HIRARKIS, ATAU HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT. HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT MERUPAKAN KONSEP LOGIS YANG UTAMA DALAM BERFIKIR RASIONAL UNTUK PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN. DALAM ANALISIS SUATU PERMASALAHAN BIASANYA AKIBATNYA DIKETAHUI TERLEBIH DAHULU, BARU KEMUDIAN SEBAB ATAU ALASANNYA DITEMUKAN DENGAN ANALISIS LOGIKA. UNTUK MENJAMIN PROSES LOGIKA YANG BENAR, MAKA SEBAB (ALASAN) YANG DITEMUKAN DAN DIHARAPKAN MENJADI PENYEBAB YANG VALID TERHADAP AKIBAT YANG TERJADI MAKA ALASAN TERSEBUT HARUS MEMENUHI PERSYARATAN SEBAGAI BERIKUT. 1.ALASAN YANG DIPERGUNAKAN ITU MEMANG PERLU (NECESSARY), DAN PRINSIPNYA HANYA ADA SATU PENJELASAN YANG TEPAT UNTUK SUATU AKIBAT TERTENTU. 2.ALASAN YANG DIPERLUKAN ITU CUKUP (SUFFICIENT), ATAU MEMADAI, TIDAK KURANG DAN TIDAK LEBIH. SEPERTI DALAM MATEMATIKA, BEKERJANYA LOGIKA MENGIKUTI SUATU ALUR BERFIKIR YANG KONSISTEN. TIDAK ADA KONTRADIKSI DALAM HASIL ATAU KESIMPULAN DARI PROSES BERFIKIR, SIFATNYA SALING MENOPANG DALAM SUATU BANGUNAN PIRAMIDA TERBALIK.

13 13 NAMUN ADA PERBEDAAN ANTARA LOGIKA DAN MATEMATIKA, YAITU BAHWA MATEMATIKA TIDAK MEMPUNYAIREALITAS EMPIRIS SEDANG LOGIKA JUSTRU BERFUNGSI UNTUK MEMAHAMI DAN MENCARI KEJELASAN TERHADAP FENOMENA EMPIRIS. DALAM KENYATAANNYA, KEBANYAKAN REALITAS EMPIRIS MEMPUNYAI KOMPLEKSITAS TINGGI SEHINGGA TIDAK MUDAH UNTUK DIFAHAMI. AKIBATNYA BANYAK PERMASALAHAN YANG SULIT UNTUK DIPECAHKAN DENGAN, ATAU DALAM TERMINOLOGI LOGIKA DISEBUT SEBAGAI “DILEMA”. RUMITNYA SUATU DILEMA, DIGAMBARKAN DENGAN BAIK DALAM KEJADIAN BUAH SIMALAKAMA YAITU: Apabila dimakan Ibu mati, tetapi apabila tidak dimakan Bapak yang mati. ATAU SEPERTI DIGAMBARKAN DALAM SUATU CERITA TENTANG SEORANG IBU DAN SEEKOR BUAYA SEBAGAI BERIKUT: Ada seekor buaya yang menangkap anak kecil, kemudian ber-negosiasi dengan Ibunya. Buaya berjanji kalau si Ibu dapat menebak dengan benar apa yang akan diperbuat terhadap anaknya, maka anak itu akan dilepaskan. Si Ibu menebak bahwa buaya tidak akan mengembalikan anaknya. Dilemanya adalah buaya tidak akan memberikan anaknya dengan alasan kebenaran perkataan ibunya, sedang si Ibu harus menerima anaknya dengan alasan tebakannya benar. Jadi dua alternatif pilihannya berlawanan tetapi keduanya benar, yang merupakan hal yang tidak mungkin CARA KERJA LOGIKA. SEBELUM MEMBAHAS CARA KERJA LOGIKA, PERLU DIKETAHUI KLASIFIKASI LOGIKA SEBAGAI BERIKUT. 1.LOGIKA TERSTRUKTUR ADA DUA MACAM YAITU: - LOGIKA DEDUKSI - LOGIKA INDUKSI

14 14 2. LOGIKA TIDAK TERSTRUKTUR ADA DUA MACAM YAITU: - LOGIKA TRIAL AND ERROR - INTUISI DALAM MENEMUKAN KEBENARAN ATAU MEMECAHKAN PERMASALAHAN DALAM HIDUPNYA, MANUSIA SERING TIDAK MENGGUNAKAN LOGIKA, MISALNYA DENGAN MENGGUNAKAN BERBAGAI CARA SEBAGAI BERIKUT. 1.SUBYEKTIF: DORONGAN KEHENDAK (WISHFULL THINKING), EMOSI ATAU PRASANGKA. 2.SPIRITUAL: WAHYU, PARANORMAL, MIMPI DLL. 3.MEDITASI: BERKONSENTRASI PENUH UNTUK MEMAKSIMALKAN SEGALA KEMAMPUAN YANG ADA PADA DIRINYA. DALAM BAB INI DIBAHAS LOGIKA TERSTRUKTUR YANG TERDIRI DARI LOGIKA DEDUKSI DAN INDUKSI. SEPERTI TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA, KEDUA JENIS LOGIKA INI MERUPAKAN PILAR PENOPANG KEBENARAN TEORI ILMU PENGETAHUAN. LOGIKA TERSTRUKTUR DISEBUT JUGA LOGIKA PROPOSISI, KARENA KEBENARAN DARI KESIMPULAN YANG DIAMBIL BERPIJAK PADA SUATU PROPOSISI YANG MERUPAKAN LANDASAN PEMBENARAN ATAU TITIK PANGKAL DARI KEBENARANNYA LOGIKA PR0POSISI. STRUKTUR LOGIKA PROPOSISI MEMPUNYAI DUA KOMPONEN YAITU PROPOSISI DAN KONSTANTA. PROPOSISI ADALAH PERNYATAN ATAU UANGKAPAN YANG MANDIRI ATAU DAPAT DITEGASKAN DIDALAM DIRINYA SENDIRI DALAM SUATU SISTEM TERTENTU. KARENA SIFATNYA ITU MAKA DALAM PROSES LOGIKA, PROPOSISI BERFUNGSI SEBAGAI TITIK PANGKAL PEMBENARAN LOGIKA.

15 15 KONSTANTA ADALAH OPERATOR YANG MENGOPERASIKAN SATU ATAU LEBIH PROPOSISI, SEHINGGA MEMPUNYAI ARTI YANG BARU. DALAM PROSES LOGIKA PALING SEDERHANA, PROPOSISI ATAU KONSTANTA MEMPUNYAI DUA NILAI YAITU “0” (NOL) ATAU “1” (SATU). NILAI 0 BERARTI BENAR DAN NILAI 1 BERARTI SALAH. PROSES LOGIKA YANG LEBIH KOMPLEKS, PROPOSISI DAPAT MEMPUNYAI 3 NILAI, n NILAI, ATAU NILAINYA KONTINYU. DALAM SISTEM LOGIKA, PROPOSISI DITULISKAN DENGAN NOTASI HURUF KECIL SEPERTI: p, q, r, ATAU s SEDANG KONSTANTA DITULIS DENGAN NOTASI HURUF BESAR SEPERTI A, B, C, D, M, N, ATAU K. SATU OPERATOR DAPAT DIOPERASIKAN DENGAN PROPOSISI TUNGGAL MISALNYA: Np, Mq DAN Kr; ATAU DAPAT DIOPERASIKAN DENGAN DUA PROPOSISI MISALNYA: Kpq, Dpq, Cpr, ATAU Eqr. DALAM PENGEMBANGANNYA YANG LEBIH RUMIT, PROSES LOGIKA DAPAT MENGKOMBINASIKAN BEBERAPA JENIS OPERATOR DAN BEBERAPA PROPOSISI SEKALIGUS. DALAM KAITAN DENGAN DALIL LOGIKA, MAKA PROPOSISI ADALAH PERNYATAAN HUBUNGAN LOGIS YANG MENJADI ALASAN PEMBENARAN. KARENA ITU PROPOSISI HARUS MEMENUHI PERSYARATAN PERLU DAN CUKUP. KONSTANTA ADALAH AKAL SEHAT YANG MEMBERIKAN ARTI BARU KEPADA PROPOSISI. SEBAGAI AKAL SEHAT, MAKA KONSTANTA ATAU OPERATOR MEMPUNYAI BANYAK JENIS, KARENA AKAL SEHAT MENGACU KEPADA TUUAN HIDUP SEPERTI: KETERATURAN, KESEIMBANGAN, KESINAMBUNGAN, KEMAJUAN, PERKEMBANGAN DLL. CONTOH KONSTANTA MISALNYA: NEGASI (N), KONJUNGSI (K), ALTERNATIF (A), EQUIVALENSI (E), DISJUNGSI (D), IMPLIKASI (C), DAN OPTIMISME (S).

16 16 CONTOH OPERASI NEGASI ADALAH, APABILA p = 1, MAKA Np = 0 DAN SEBALIKNYA. OPERATOR K, A, E, D, C, DAN S DIOPERASIKAN DENGAN DUA PROPOSISI DWI NILAI ( 0 DAN 1) SEPERTI DITUNJUKKAN DALAM DIAGRAM BERIKUT: p qKpq p qApq p qEpq p qDpq p qCpq p qSpq ENAM JENIS KONSTANTA DALAM CONTOH DIATAS MERUPAKAN SEBAGIAN DARI SEMUA OPERATOR YANG MUNGKIN DARI PROSES LOGIKA DENGAN DUA PROPOSISI, YANG MEMPUNYAI DUA NILAI (TWO VALUED LOGIC). DENGAN MENGGUNAKAN TEORI KOMBINASI MAKA KEMUNGKINAN TERBANYAK JUMLAH OPERATORNYA ADALAH: (22)2 = 16 JENIS, SEHINGGA MENGHASILKAN 64 MACAM KESIMPULAN. SKEMA LENGKAP PROSES OPERASI LOGIKA DUA PREPOSISI DWI NILAI DAPAT DILIHAT DALAM TABEL 1.

17 17 TABEL 1. KOMBINASI LENGKAP PROSES LOGIKA DENGAN DUA PROPOSISI DWI NILAI p q p q S A B C D E F G O X M L K J I H

18 18 DALAM PROSES LOGIKA BIASANYA AWALNYA DIMULAI DARI ADANYA PERMASALAHAN YANG AKAN DIPECAHKAN ATAU AKAN DICARI JAWABANNYA. DALAM MENCARI JAWABAN DENGAN MENGGUNAKAN LOGIKA TERSTRUKTUR, MAKA ADA DUA JENIS ALUR LOGIKA YANG DAPAT DITEMPUH SESUAI DENGAN PROSEDUR LOGIKA PROPOSISI YANG TELAH DIURAIKAN SEBELUMNYA, YAITU: 1. MENEMUKAN TERLEBIH DAHULU PERNYATAAN ATAU UNGKAPAN MANDIRI YANG BERSESUAIAN DENGAN PERMASALAHAN YANG AKAN DIPECAHKAN, SEBAGAI DASAR PENGAMBILAN KESIMPULAN. 2. MENGUMPULKAN DATA YANG BERSESUAIAN DENGAN PERMASALAHANNYA, DAN APABILA DATANYA CUKUP KEMUDIAN DIRUMUSKAN KESIMPULANNYA TERMASUK RUMUSAN PROPOSISINYA. ALUR LOGIKA PERTAMA DISEBUT LOGIKA DEDUKSI, SEDANG ALUR LOGIKA KEDUA DISEBUT LOGIKA INDUKSI. KEDUA JENIS LOGIKA TERSEBUT MERUPAKAN METODE BERFIKIR YANG DIGUNAKAN UNTUK PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, DAN AKAN DIBAHAS SECARA LEBIH DETAIL SEBAGAI BERIKUT LOGIKA DEDUKSI. CARA KERJA LOGIKA DEDUKSI DISEBUT SILOGISME, YAITU SUATU METODE PENGAMBILAN KESIMPULAN DENGAN MENGHUBUNGKAN PERNYATAAN UMUM DENGAN PERNYATAAN KHUSUS YANG BERADA DIDALAM LINGKUP PERNYATAAN UMUM. PERNYATAAN UMUM TERSEBUT DISEBUT PREMIS MAYOR, SEDANG PERNYATAAN KHUSUS DISEBUT PREMIS MINOR. CONTOH CARA KERJA SILOGISME:PREMIS MAYOR : SEMUA MAKHLUK HIDUP AKAN MATI PREMIS MINOR : MANUSIA ADALAH MAKHLUK HIDUP KESIMPULAN : MANUSIA PASTI MATI

19 19 APABILA DIAMATI, MAKA CARA KERJA SILOGISME ADALAH PELAKSANAAN DARI LOGIKA PROPOSISI. DENGAN DEMIKIAN AKAN TERDAPAT 16 KEMUNGKINAN JENIS HUBUNGAN LOGIS DALAM LOGIKA DEDUKSI. NAMUN DEMIKIAN, HANYA BEBERAPA JENIS SILOGISME YANG SERING DIGUNAKAN DALAM PROSES LOGIKA. MENURUT POLA HUBUNGAN LOGIS YANG ADA DALAM PREMIS MAYOR, ADA DUA JENIS SILOGISME, YAITU: 1.SILOGISME KATEGORIS: HUBUNGAN LOGIS DALAM PREMIS MAYOR SIFATNYA HANYA MENEGASKAN ATAU MEMUNGKIRI PERNYATAAN AWALNYA. CONTOH SEBELUMNYA YANG MENYATAKAN BAHWA SEMUA MAKHLUK HIDUP AKAN MATI ADALAH SILOGISME MENEGASKAN, SEDANG SILOGSIME MEMUNGKIRI MISALNYA: ORANG YANG SUDAH MATI TIDAK DAPAT HIDUP LAGI PAK MAMAT SUDAH MATI MAKA PAK MAMAT TIDAK AKAN DAPAT HIDUP LAGI. SILOGISME INI ADALAH LOGIKA PROPOSISI DENGAN JENIS OPERATOR J KOMBINASI LENGKAP LOGIKA PROPOSISI PADA TABEL 1, DIMANA PAK MAMAT TIDAK MUNGKIN BERSAMA-SAMA HIDUP ATAU MATI SEHINGGA YANG BENAR ADALAH SALAH SATU ANTARA HIDUP ATAU MATI. 2. SILOGISME HIPOTETIS: HUBUNGAN LOGIS DALAM PREMIS MAYOR MERUPAKAN PERNYATAAN YANG BERSYARAT YANG MERUPAKAN ALTERNATIF AKIBAT DARI PERNYATAAN AWALNYA. TERDAPAT TIGA JENIS SILOGIME HIPOTETIS, YAITU: A).SILOGISME KONDISIONAL: PREMIS MAYORNYA MERUPAKAN HUBUNGAN BERSYARAT HUBUNGAN KAUSALITAS, SEBAGAI BERIKUT: JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN, PASTI LULUS DENGAN BAIK TONY BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA TONY AKAN LULUS DENGAN BAIK.

20 20 SILOGISME KONDISIONALTIDAK DAPAT MASUK KEDALAM SKEMA LENGKAP DALAM TABEL 1, DAN AKAN DIBAHAS LEBIH LANJUT. B). SILOGISME DISJUNKTIF: PREMIS MAYORNYA MERUPAKAN PERNYATAAN DISJUNKTIF (MEMISAHKAN ATAU MEMBEDAKAN) MISALNYA: TUKUL DAPAT MENJADI SEORANG PEKERJA YANG RAJIN, ATAU PEMALAS TUKUL MENJADI PEKERJA YANG RAJIN MAKA TUKULBUKAN SEORANG PEMALAS. SILOGISME INI ADALAH LOGIKA PROPOSISI DENGAN JENIS OPERATOR D DARI TABEL 1, DIMANA SEMUA KEMUNGKINAN BENAR, KECUALI KEMUNGKINAN PAK MAMAT SEKALIGUS RAJIN DAN MALAS. C). SILOGISME KONJUNKTIF: PREMIS MAYORNYA MERUPAKAN PERNYATAAN YANG BERSIFAT MENAMBAHKAN DAN OPERATORNYA ADALAH FUNGSI PERKALIAN DALAM ILMU HITUNG, MISALNYA: BERMAIN CATUR HANYA DAPAT DILAKUKAN OLEH DUA ORANG PEMAIN. HANYA ADA SATU ORANG PEMAIN CATUR MAKA PERMAINAN CATUR TIDAK DAPAT DILAKUKAN. SILOGISME KONJUNKSI ADALAH KEBALIKAN SILOGISME DISJUNKSI, DAN MENGGUNAKAN OPERATOR K DARI TABEL 1, DIMANA SEMUA KEMUNGKINAN SALAH, KECUALI KEMUNGKINAN ADA DUA ORANG PEMAIN CATUR. LOGIKA DEDUKTIF BERDASARKAN SILOGISME HIPOTETIS KONDISIONAL BANYAK DIGUNAKAN DALAM BAHASAN ILMU PENGETAHUAN. DALAM REALITAS KEHIDUPAN, HUBUNGAN LOGIS ANTAR PERISTIWA SIFATNYA TIDAK MUTLAK DAN TERJADINYA BERDASARKAN TEORI PROBABILITAS. CONTOH TENTANG MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN AKAN LULUS DENGAN BAIK SEBELUMNYA, DAPAT DIPERLUAS MENJADI EMPAT KEMUNGKINAN PADA HALAMAN BERIKUT INI.

21 21 1. JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA AKAN LULUS DENGAN BAIK TONY BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA TONY AKAN LULUS DENGAN NILAI BAIK. 2. JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA AKAN LULUS DENGAN BAIK TONY TIDAK PERNAH BELAJAR MAKA TONY BISA LULUS ATAU BISA JUGA TIDAK LULUS. 3. JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA AKAN LULUS DENGAN BAIK TONY LULUS DENGAN NILAI BAIK MAKA TONY BELUM TENTU BELAJAR DENGAN TEKUN. 4. JIKA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN MAKA AKAN LULUS DENGAN BAIK TONY TIDAK LULUS UJIAN KARENA TONY TIDAK BELAJAR DENGAN TEKUN. DARI EMPAT KEMUNGKINAN LOGIS DIATAS TERNYATA HANYA BENTUK (1) DAN (4) SAJA YANG DAPAT DIKATEGORISASIKAN SEBAGAI LOGIKA, KARENA MEMPUNYAI KESIMPULAN YANG PASTI. BENTUK (2) DAN (3) BUKAN MERUPAKAN LOGIKA KARENA KESIMPULANNYA TIDAK PASTI. BENTUK (2) TIDAK DAPAT DIAMBIL KESIMPULAN KARENA MAHASISWA YANG TIDAK BELAJAR BISA SAJA LULUS DENGAN NILAI BAIK DENGAN BERBAGAI SEBAB MISALNYA DIA CERDAS ATAU MEMANG PAS BISA MENGERJAKAN. SEDANG BENTUK (3) SEBALIKNYA MAHASISWA YANG LULUS DENGAN NILAI BAIK BELUM TENTU KARENA BELAJAR TEKUN. PERMASALAHAN DALAM VALIDITAS KEBENARAN LOGIKA DEDUKSI ADALAH PADA TINGKAT KEBENARAN DARI PREMIS MAYOR YANG DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR PENARIKAN KESIMPULAN. APABILA PREMIS MAYORNYA SALAH ATAU KURANG BENAR, MAKA KESIMPULANNYA JUGA KURANG BENAR. SETIAP KEBENARAN SELALU MENGACU KEPADA KEBENARAN SEBELUMNYA, SEHINGGA HARUS ADA TITIK AWAL KEBENARAN YANG TIDAK MEMERLUKAN SEBAB LAGI. KEBENARAN AWAL INI DISEBUT SEBAGAI AKSIOMA.

22 LOGIKA INDUKSI. LOGIKA INDUKSI MERUPAKAN KEBALIKAN DARI LOGIKA DEDUKSI YAITU PEMECAHAN MASALAH DIMULAI DARI MENEMUKAN PERNYATAAN UMUM KEMUDIAN DITURUNKAN KEPADA PERNYATAAN KHUSUS PEMECAHAN MASALAHNYA. PEMECAHAN MASALAH DALAM LOGIKA INDUKSI DIMULAI DENGAN DATA-DATA SINGULIR UNTUK MERUMUSKAN PERNATAAN UMUM SEBAGAI PATOKAN PEMECAHAN MASALAH. CONTOH ALUR LOGIKA INDUKSI, MISALNYA TENTANG BAGAIMANA AGAR LULUS DENGAN NILAI BAIK. ALUR BERFIKIRNYA DIMULAI DENGAN MENGUMPULKAN DATA PERILAKU BELAJAR PARA MAHASISWA YANG LULUS DENGAN NILAI BAIK SEBAGAI BERIKUT: 1.MAHASISWA A BELAJAR TEKUN DAN LULUS DENGAN NILAI BAIK 2.MAHASISWA B BELAJAR TEKUN DAN LULUS DENGAN NILAI BAIK 3.MAHASISWA C BELAJAR TEKUN DAN LULUS DENGAN NILAI BAIK DAN SETERUSNYA SAMPAI JUMLAHNYA CUKUP BANYAK, SEHINGGA KEMUDIAN DAPAT DIAMBIL KESIMPULAN PERNYATAAN UMUMNYA, BAHWA: “APABILA MAHASISWA BELAJAR DENGAN TEKUN, MAKA AKAN LULUS DENGAN NILAI BAIK”. CONTOH DIATAS ADALAH LOGIKA INDUKSI SEDERHANA, NAMUN DEMIKIAN ADA PERMASALAHAN TENTANG VALIDITASNYA YAITU SEBERAPA BANYAK DATA YANG HARUS DIKUMPULKAN. DALAM REALITASNYA TIDAK MUNGKIN DAPAT DIKUMPULKAN DATA SECARA LENGKAP. PADA PRINSIPNYA SEMAKIN BESAR DATA MAKA KESIMPULANNYA SEMAKIN MENDEKATI KEBENARAN. DALAM LOGIKA INDUKSI YANG LEBIH KOMPLEKS, MAKA PERMASALAHAN LAIN ADALAH MENEMUKAN KONSEP AKAL SEHAT YANG SESUAI UNTUK MENYUSUN PERNYATAAN UMUM DARI DATA YANG TERSEDIA. DIPERLUKAN DALIL UNTUK MENGINTERPRETASIKAN DATA, SEHINGGA DIDAPAT RUMUSAN PERNYATAAN UMUM ATAU KESIMPULAN YANG BENAR.

23 23 FILSUF DAN AHLI LOGIKA INGGRIS, JOHN STUART MILL ( ) MENGIDENTIFIKASI- KAN BEBERAPA DALIL LOGIKA INDUKSI BERDASARKAN HUKUM LOGIKA SEBAB-AKIBAT DAN SEBAB YANG DIDAPAT MEMENUHI PERSYARATAN PERLU DAN CUKUP. 1. METODE KESESUAIAN (METHOD OF AGREEMENT): APABILA SUATU GEJALA a MUNCUL DALAM GEJALA AB DAN AC, MAKA A ADALAH ALASAN YANG CUKUP BAGI GEJALA a. KESIMPULAN INI MEMBUTUHKAN DUA PESYARATAN YAITU: A. MEMANG ADA SEBAB ATAU ALASAN BAGI GEJALA a. B. ALASAN ITU ADA PADA ABC. CONTOH: GEJALA MABUK DISEBABKAN OLEH ALKOHOL DICAMPUR DENGAN AIR ATAU ALKOHOL DICAMPUR DENGAN COCA COLA, SEHINGGA PENYEBAB MABUK ADALAH ALKOHOL (BUKAN AIR ATAU COCA COLA). 2. METODE KETIDAK-SESUAIAN (METHOD OF DIS-AGREEMENT): APABILA GEJALA a MENAMPAKKAN DIRI PADA ABC TETAPI TIDAK PADA BC, MAKA A MERUPAKAN ALASAN YANG PERLU BAGI GEJALA a. KESIMPULAN INI MEMBUTUHKAN DUA PERSYARATAN SEPERTI PADA DALIL KESESUAIAN. CONTOH: RASA ASIN MUNCUL PADA SAYUR YANG MERUPAKAN CAMPURAN GARAM, AIR DAN SAYURAN, KARENA CAMPURAN AIR DAN SAYURAN TIDAK TERASA ASIN. 3.METODE GABUNGAN KESESUAIAN DENGAN KETIDAK-SESUAIAN: GEJALA a MUNCUL DALAM GEJALA AB DAN AC TETAPI TIDAK PADA BC, MAKA A MERUPAKAN ALASAN PERLU DAN CUKUP BAGI GEJALA a DENGAN DUA PERSYARATAN SEPERTI DALIL SEBELUMNYA. CONTOH: a = LULUS UJIAN, A = BELAJAR, B = REKREASI, DAN C = OLAHRAGA. 4.METODE RESIDU (METHOD OF RESIDUES): GEJALA a MUNCUL PADA A, GEJALA b MUNCUL PADA B, GEJALA c MUNCUL PADA C, DAN GEJALA abc MUNCUL PADA ABC; MAKA A ADALAH SYARAT PERLU DAN CUKUP

24 24 BAGI a. VALIDITAS KEBENARAN INI MEMBUTUHKAN DUA PESYARATAN SEPERTI SEBELUMNYA, DITAMBAH SATU PERSYARATAN LAGI YAITU SETIAP GEJALA MERUPAKAN ALASAN BAGI SALAH SATU GEJALA LAIN. CONTOH: SETIAP MALAM MINGGU TIGA ORANG MAHASISWA a, b, danc SELALU DATANG KE ASRAMA PUTRI MENEMUI MAHASISWI A, B, DAN C. DALAM REALITASNYA, LOGIKA INDUKSI MEMBUTUHKAN LEBIH BANYAK LAGI DALIL UNTUK MENGINTERPRETASIKAN DATA, SEHINGGA DIDAPAT KESIMPULAN YANG AKURAT. KARENA ITU KELEMAHAN LOGIKA INDUKSI ADALAH KESULITAN DALAM INTERPRETASI DATA, YAITU MENEMUKAN DALIL YANG SESUAI. KEMUNGKINAN TERJADI KESALAHAN DALAM PERUMUSAN KESIMPULAN LOGIKA INDUKSI CUKUP BESAR, KARENA KOMPLEKSNYA HUBUNGAN SEBAB- AKIBAT ANTAR VARIABELNYA. KELEMAHAN LAIN DARI LOGIKA INDUKSI ADALAH DALAM LINGKUP PENGAMBILAN KESIMPULAN, YAITU KARENA LINGKUP DATA SELALU LEBIH SEMPIT DARI LINGKUP KESIMPULANNYA. HAL INI MENGINDIKASIKAN ADANYA LOMPATAN PROSES LOGIKA, SEHINGGA SEMENTARA AHLI LOGIKA MENYATAKAN BAHWA LOGIKA INDUKSI TIDAK SAH. PADA PROSES PENGAMBILAN KESIMPULAN DALAM LOGIKA DEDUKSI, LINGKUP PREMIS MINORNYA SELALU LEBIH SEMPIT DARIPADA LINGKUP PREMIS MAYORNYA SEHINGGA TIDAK ADA LOMPATAN PROSES LOGIKA. UNTUK MENJAMIN KEBENARAN TEORI ILMU PENGETAHUAN, MAKA INTERPRETASI DATA HASIL PENELITIAN DILAKUKAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE STATISTIK. DALAM METODE STATISTIK DIKEMBANGKAN BERBAGAI METODE PENARIKAN KESIMPULAN DARI DATA YANG TERSEDIA SEPERTI: METODE SAMPLING, TEORI KORELASI, PROBABILITAS, METODE UJI HIPOTESIS, DAN LAIN-LAIN. RUMITNYA IMPLEMENTASI LOGIKA INDUKSI, DAPAT DIAMATI DALAM PRAKTEK PEKERJAAN DI BIDANG KEDOKTERAN, PEKERJAAN KEPOLISIAN ATAU PROFESI DETEKTIF YANG MENCARI KEBENARAN BERDASARKAN DATA PASIEN ATAU DATA DI TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP).

25 LOGIKA KEILMUAN. TUJUAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN ADALAH MENEMUKAN TEORI BARU BERUPA PERNYATAAN ATAU UNGKAPAN KEBENARAN TENTANG REALITAS OBYEK YANG DITELITI. BERDASARKAN ALUR BERFIKIRNYA, LOGIKA DEDUKSI TIDAK DAPAT MENEMUKAN KEBENARAN BARU KARENA PROPOSISINYA ADALAH KEBENARAN YANG SUDAH TERBUKTI. LOGIKA DEDUKSI HANYA DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MEMECAHKAN MASALAH YANG SUDAH PERNAH TERJADI SEBELUMNYA. KESIMPULAN LOGIKA INDUKSI DIRUMUSKAN BERDASARKAN DATA YANG BERSESUAIAN DENGAN PERMASALAHANNYA, SEHINGGA APABILA PERMASALAHANNYA BARU MAKA TEORI YANG DIDAPAT ADALAH TEORI BARU. NAMUN SEPERTI TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA, LOGIKA INDUKSI MEMPUNYAI PERMASALAHAN KARENA KOMPLEKSNYA PROSEDUR UNTUK MENGINTERPRETASIKAN DATA DENGAN BENAR. KARENA ITU DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, UNTUK MENJAMIN VALIDITAS TEORINYA MAKA DIGUNAKAN KEDUA LOGIKA TERSEBUT SECARA BERSAMA SAMA YANG DISEBUT JUGA SEBAGAI LOGIKA ILMIAH. MEKANISME KERJA LOGIKA ILMIAH ADALAH LOGIKA DEDUKSI BERFUNGSI UNTUK ANALISIS TEORITIS TERHADAP PERMASALAHAN YANG DITELITI YANG MENGHASILKAN HIPOTESIS. SIFAT KEBENARAN HIPOTESIS ADALAH DUGAAN ATAU KEBENARAN SEMENTARA KARENA BELUM ADA PROPOSISI YANG SECARA LANGSUNG MENJELASKAN PERMASALAHANNYA. SELANJUTNYA HIPOTESIS DIBUKTIKAN DENGAN LOGIKA INDUKSI BERDASARKAN INTREPRETASI DATA YANG DIKUMPULKAN. APABILA KESIMPULAN LOGIKA INDUKSI MEMBENARKAN HIPOTESIS DEDUKTIF, MAKA KESIMPULAN TERSEBUT SUDAH MEMENUHI PERSYARATAN SEBAGAI TEORI ILMIAH. KARENA SIFAT KEBENARAN ILMIAH RELATIF, MAKA PROSES DEDUKSI-INDUKSI TERSEBUT BERJALAN SECARA BERKESINAMBUNGAN DAN DALAM SETIAP TAHAP DEDUKSI-INDUKSI SELALU DIHASILKAN TEORI BARU YANG MENYEMPURNAKAN TEORI SEBELUMNYA, SEPERTI DIPERLIHATKAN DALAM DIAGRAM BERIKUT.

26 26 KHASANAH TEORI DEDUKSI HIPOTESIS DATA INDUKSI TEORI BARU MASALAH KEILMUAN MASALAH BARU RISET SATU KALI KEGIATAN RISET GAMBAR 1. DIAGRAM METODE ILMIAH DAN SATU KALI KEGIATAN RISET PROSES KESINAMBUNGAN KEGIATAN RISET MERUPAKAN RANGKAIAN DARI KEGIATAN RISETYANG TERPISAH. SETIAP SATU KALI KEGIATAN RISET DIMULAI DARI ADANYA MASALAH KEILMUAN SAMPAI DIPECAHKANNYA MASALAH TERSEBUT DENGAN METODE ILMIAH BERUPA TEORI BARU, SEPERTI DITUNJUKKAN DALAM GAMBAR DIBAWAH.

27 27 ALUR BERFIKIR MENURUT LOGIKA KEILMUAN MERUPAKAN IMPLEMENTASI DARI TEORI KEBENARAN YANG SUDAH DIRUMUSKAN SEJAK ZAMAN YUNANI KUNO OLEH FILSUF ARISTOTELES YANG MENGGABUNGKAN KEBENARAN RASIONAL DENGAN KEBENARAN EMPIRIS. DALAM PERJALANAN IMPLEMENTASI TEORI KEBENARAN ARISTOTELES SELALU TERJADI PERUBAHAN DALAM PENEKANANNYA, TERKADANG LEBIH MENEKANKAN PADA RASIONALISME DAN TERKADANG LEBIH MENEKANKAN PADA EMPIRISME. DALAM APLIKASI UNTUK PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN, WALAUPUN PENEKANAN PADA RASIONALISME TETAP HARUS ADA VERIFIKASI EMPIRIS; DAN SEBALIKNYA PENEKANAN EMPIRISME HARUS DAPAT DIJELASKAN DENGAN RASIO. APABILA HANYA DITERIMA OLEH SALAH SATU JENIS LOGIKA SAJA, MAKA DAPAT DIKATAKAN BELUM MEMENUHI KRITERIA KEBENARAN ILMIAH. CONTOH: PENGOBATAN ALTERNATIF WALAUPUN BERHASIL TETAPI BELUM RASIONAL SEHINGGA BUKAN MERUPAKAN TEORI ILMIAH.

28 28 SEPERTI TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA LOGIKA KEILMUAN TELAH DIRINTIS SEJAK ZAMAN YUNANI KUNO OLEH ARISTOTELES SEKITAR ABAD KE 3 SM, DALAM USAHA MERUMUSKAN KRITERIA KEBENARAN RASIONAL. KRITERIA KEBENARAN INI DIADOPSI MENJADI KEBENARAN ILMU PENGETAHUAN ATAU METODE ILMIAH, YANG TERUS DIGUNAKAN SAMPAI SEKARANG. KOMPONEN KEBENARAN ILMIAH ADALAH KAIDAH LOGIKA INDUKSI (EMPIRIS) DAN LOGIKA DEDUKSI (TEORITIS), YANG DIAPLIKASIKAN UNTUK MENGUJI KEBENARAN TEORI ILMU PENGETAHUAN SECARA BESAMA-SAMA. DALAM IMPLEMENTASINYA, ALUR BERFIKIR MENURUT METODE ILMIAH DIMULAI DARI PROSES PENGAMATAN EMPIRIS TERHADAP OBYEK YANG DITELITI, DILANJUTKAN PERUMUSAN HIPOTESIS, PEMBUKTIAN HIPOTESIS, DAN TERKHIR PENYUSUNAN TEORI ILMIAH SECARA DEDUKSI, SBB. MASALAH/OBYEK PENGAMATAN HIPOTESIS INDUKSI-EMPIRIS DEDUKSI-TEORITIS TEORI ILMIAH. NAMUN DALAM PERKEMBANGANYA, ALUR BERFIKIR METODE ILMIAH DIBALIK DENGAN MEMULAI PEMECAHAN MASALAH SECARA DEDUKTIF TERLEBIH DAHULU, KEMUDIAN BARU DILAKUKAN PEMBUKTIAN INDUKTIF DENGAN MENGGUNAKAN DATA EMPIRIS. MASALAH DEDUKSI-TEORITIS HIPOTESIS PENGAMATAN EMPIRIS INDUKSI TEORI ILMIAH. II. METODE ILMIAH.

29 29 APLIKASI METODE ILMIAH DENGAN ALUR TERBALIK MEMPUNYAI KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN TERHADAP PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN. BEBERAPA KEUNTUNGAN YANG DAPAT DI IDENTIFIKASIKAN ADALAH: 1.DAPAT DIHINDARI PENGGUNAAN KAIDAH LOGIKA TRIAL & ERROR PADA TAHAP PENGAMATAN DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. DENGAN MENGGUNAKAN LOGIKA DEDUKSI TERLEBIH DAHULU MAKA PERUMUSAN HIPOTESIS MENJADI TERARAH KARENA KONSISTEN DENGAN TEORI SEBELUMNYA. 2. DENGAN SEMAKIN BANYAK TEORI ILMU PENGETAHUAN BARU, MAKA SEMAKIN LENGKAP PROPOSISI UNTUK LOGIKA DEDUKSI. DENGAN DEMIKIAN HIPOTESIS MENJADI SEMAKIN RELEVAN DAN TERARAH, SEHINGGA PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN MENJADI SEMAKIN CEPAT SEPERTI YANG DAPAT KITA AMATI DALAM DUA ABAD TERAKHIR. BEBERAPA KERUGIAN DARI ALUR METODE ILMIAH TERBALIK ADALAH: 1. MENIMBULKAN SIKAP INTELEKTUAL TERBALIK: ANGGAPAN BAHWA TEORI LEBIH PENTING DARIPADA FAKTA EMPIRIS DALAM PEMECAHAN MASALAHNYA SENDIRI. SERING TERJADI TEORI DIPAKSAKAN UNTUK PEMECAHAN SUATU MASALAH TANPA MELIHAT FAKTA-FAKTA OBYEKTIF DARI KENYATAAN EMPIRIS. 2. ADANYA SIKAP CENDERUNG PUAS DENGAN HANYA MELAKSANAKAN KAJIAN TEORI SAJA DALAM MNYUSUN DESKRIPSI TERHADAP FAKTA EMPIRIS. PADAHAL KAJIAN TEORI BARU MERUPAKAN SETENGAH KEBENARAN, APABILA DITINJAU BAHWA KEBENARAN ILMIAH TERDIRI DARI KOMPONEN KAJIAN DEDUKSI DAN PENGAMATAN / INDUKSI. 3.CENDERUNG TIMBUL KESOMBONGAN ILMUWAN SESUDAH MELAKUKAN KAJIAN TEORITIS DAN MENGANGGAP PERMASALAHAN TELAH SELESAI.

30 30 KAJIAN TEORITIS-DEDUKTIF LEBIH MUDAH DAN SEDERHANA DIBANDINGKAN KEGIATAN EMPIRIS-INDUKTIF, KARENA DAPAT DILAKSANAKAN DENGAN MENGGUNAKAN SUMBER REFERENSI TEORITIS SAJA. SEBALIKNYA KAJIAN INDUKTIF-EMPIRIS LEBIH SULIT DAN TERKESAN MERUPAKAN PEKERJAAN KASAR, KARENA LANGSUNG TERJUN KE LAPANGAN DENGAN BERBAGAI PERMASALAHAN NYATA YANG KOMPLEKS. LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DITEMPUH DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN PENELITIAN, LEBIH BANYAK DARI YANG DITUNJUKKAN DALAM DIAGRAM LINIER TERSEBUT. LANGKAH- LANGKAH KEGIATAN PENELITIAN DIANTARANYA MELIPUTI: IDENTIFIKASI DAN ANALISIS MASALAH, PENCARIAN SUMBER PUSTAKA, STUDI PUSTAKA, PERUMUSAN HIPOTESIS, RENCANA PENGUMPULAN DATA ANALISIS DATA UNTUK PEMBUKTIAN HIPOTESIS, KEGIATAN PUBLIKASI DAN SEMINAR, DLL.. ALUR METODE ILMIAH SECARA LENGKAP MELIPUTI JUGA LANGKAH CYCLIS DALAM KEGIATAN PENELITIAN, SEPERTI DAPAT DILIHAT PADA DIAGRAM ALUR METODE ILMIAH UNTUK PENELITIAPADA HALAMAN BERIKUT.

31 31 MASALAH TEORI, KEILMUAN BAHAN PUSTAKA DEDUKSI HIPOTESIS DATA EMPIRIS DITOLAK INDUKSI VERIFIKASI HIPOTESIS DITERIMA MASALAH BARU PEMBAHASAN DAN INTERORETASI HASIL TEORI BARU ALUR METODE ILMIAH UNTUK KEGIATAN PENELITIAN. APLIKASI / /iNDUSTRIKONSUNEN / MASYARAKAT TEKNOLOGI

32 32 ALUR METODE ILMIAH SEPERTI TERLIHAT DALAM DIAGRAM DIATAS MENYEBABKAN ILMU PENGETAHUAN TERUS BERKEMBANG SEMAKIN CEPAT, DENGAN KARAKTERISTIK PNGEMBANGAN SEBAGAI BERIKUT: 1.LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PENELITIAN KONSISTEN MENGIKUTI ALUR METODE ILMIAH TERBALIK, DIMULAI LOGIKA DEDUKSI KEMUDIAN INDUKSI. 2.PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN TERUS BERLANGSUNG SECARA SIKLUS, DAN ADA TIGA ALUR SIKLUS DALAM KEGIATAN PENELITIAN YAITU: - SIKLUS KECIL, YAITU APABILA HIPOTESIS DITOLAK - SIKLUS BESAR KE ARAH KIRI, YAITU SESUDAH PENEMUAN TEORI BARU SELALU TIMBUL MASALAH BARU YANG MENJADI TOPIK SELANJUTNYA. -SIKLUS BESAR KE ARAH KANAN, YAITU TEORI BARU MENAMBAH KASANAH TEORI BARU YANG DIGUNAKAN SEBAGAI REFERENSI ANALISIS DEDUKSI TEORI DALAM PENELITIAN SELANJUTNYA 3.KEBENARAN ILMIAH BERSIFAT KONSISTEN, KOHEREN, PRAGMATIS, OBYEKTIF, RELATIF, DAN BERLAKU UMUM / UNIVERSAL. 4. TARAF KEBENARAN ILMIAH TIDAK ABSOLUT, TETAPI RELATIF, DAN TERUS DISEMPURNAKAN SECARA BERTAHAP SECARA GRADUAL. 5.TEORI ILMU PENGETAHUAN TERUS BERTAMBAH SECARA AKUMULATIF DAN SELALU ADA PROSES KOREKTIF 6.ADA UNSUR KOMUNIKASI DAN KOREKSI ANTAR ILMUWAN DALAM SEMUA TAHAP PELAKSANAAN KEGIATAN PENELITIAN, DALAM BERBGAI BENTUK SEPERTI: SEMINAR, ARTIKELJURNAL, KOMUNIKASI LANGSUNG ANTAR ILMUWAN DLL. 7.ILMU PENGETAHUAN MERUPAKAN HASIL KERJA KELOMPOK, YAITU PARA ILMUWAN, PRAKTISI, MAUPUN MASYARAKAT.

33 33 DALAM SIKLUS KECIL YAITU APABILA HIPOTESIS DITOLAK OLEH ANALISIS INDUKSI, TIDAK BERARTI BAHWA KEGIATAN PENELITIAN GAGAL. APABILA SEMUA TAHAPAN PENELITIAN TELAH DILAKSANAKAN DENGAN BENAR, MAKA HIPOTESIS DITOLAK KARENA PERMASALAHAN YANG DITELITI MASIH RUMIT DAN BELUM BANYAK TEORI YANG MENJELASKANNYA. CONTOH KASUS SEPERTI INI MISALNYA MASALAH ILMU KEDOKTERAN SEPERTI PENYAKIT KANKER, DIMANA BELUM ADA PENJELASAN TEORI YANG MEMADAI TENTANG PROSES TUMUHNYA SEL KANKER. SIKLUS BESAR KE ARAH KIRI, MENUNJUKKAN SIFAT KEBENARAN ILMIAH YANG SELALU DAPAT DISEMPURNAKAN. PADA BAGIAN AKHIR LAPORAN PENELITIAN PAPARAN KESIMPULAN PENELITIAN SELALU DIIKUTI OLEH SARAN-SARAN YANG DIDAPAT DARI BAGIAN PEMBAHASAN SESUDAH PEMBUKTIAN HIPOTESIS. SIKLUS BESAR KEARAH KANAN MENUNJUKKAN KAITAN DAN KESINAMBUNGAN PROSES LOGIKA DEDUKSI DAN INDUKSI, DIMANA TEORI HASIL INDUKSI MENJADI SALAH SATU REFERENSI ATAU PREMIS MAYOR DALAM LOGIKA DEDUKSI. SATU KEGIATAN PENELITIAN ADALAH IMPLEMENTASI SATU KALI DEDUKSI DAN SATU KALI INDUKSI IMPLIKASI DARI BERBAGAI KARAKTERISTIK KEGIATAN PENELITIAN TERSEBUT, MENYEBABKAN BEBERAPA KARAKTERISTIK UMUM DARI ILMU PENGETAHUAN DAN PENGEMBANGANNYA SEBAGAI BERIKUT: 1.MENITI KEBENARAN ILMIAH, SEOLAH MENAIKI TANGGA-TANGGA KEBENARAN MENUJU YANG LEBIH SEMPURNA. 2.KARENA SIFATNYA YANG RELATIF MAKA KEBENARAN TEORI ILMU PENGETAHUAN DAPAT DISEFINISIKAN SEBAGAI: “SUATU TEORI DIANGGAP BENAR SEPANJANG BELUM ADA TEORI LAIN YANG MEMBUKTIKANNYA SALAH”.

34 34 3.BAGI KOMUNITAS ILMUWAN TEMUAN TEORI BARU YANG DIPUBLIKASIKAN SUDAH OUT OF DATE, KARENA MEREKA SUDAH LANGSUNG MELAKUKAN PENELITIAN BARU UNTUK MEMPERBAIKINYA. 4.PROSES KEGIATAN ILMIAH SELALU DILAKSANAKAN SECARA TERBUKA /TRANSPARAN, KARENA ILMU PENGETAHUAN BERSIFAT UNIVERSAL. 5.SARANA UTAMA YANG DIPERLUKAN DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN ADALAH: PERPUSTAKAAN YANG BERISI KUMPULAN DOKUMEN TEORI ILMIAH SEBAGAI SARANA LOGIKA DEDUKSI DAN LABORATORIUM UNTUK MENDAPATKAN DATA BAGI LOGIKA INDUKSI.

35 35 SEMUA KEGIATAN PENELITIAN DILAKUKAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ILMIAH DAN MENGIKUTI ALUR YANG TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA. TETAPI DALAM PELAKSANAANNYA TERDAPAT BANYAK JENIS PENELITIAN KARENA BEBERAPA HAL SEBAGAI BERIKUT: 1.PERBEDAAN TUJUAN PENELITIAN 2.PERBEDAAN CARA PENDEKATANNYA 3.PERBEDAAN DALAM LINGKUP DISIPLIN KEILMUANNYA MENURUT TUJUAN PENELITIANNYA, TERDAPAT DUA JENIS PENELITIAN: 1.PENELITIAN DASAR: YAITU PENELITIAN YANG BERTUJUAN UNTUK MENGEMBANGKAN TEORI DASAR, SEBAGAI PENJELASAN TERHADAP FENOMENA YANG DITELITI. PENELITIAN DALAM ILMU FISIKA, KIMIA MURNI, ATAU SOSIOLOGI DAPAT DIKATEGORIKAN DALAM PENELITIAN DASAR. 2.PENELITIAN TERAPAN: YAITU PENELITIAN YANG BERTUJUAN UNTUK MANFAAT PRAKTIS, SEPERTI PEMECAHAN MASALAH, PENGEMBANGAN METODE APLIKASI, PENGEMBANGAN DESAIN DLL. PENELITIAN BIDANG TEKNOLOGI, EKONOMI, PERTANIAN, KEDOKTERAN DLL. TERMASUK DALAM PENELITIAN TERAPAN. MENURUT PERBEDAAN CARA PENDEKATANNYA, YAITU METODE UNTUK MENCAPAI TUJUAN ILMIAH, ADA EMPAT JENIS PENELITIAN: 1.PENELITIAN QUALITATIF: YAITU PENELITIAN YANG MENGGUNAKAN PENGALAMAN SEBAGAI DASAR ANALISIS PENYUSUNAN TEORI, DAN DIGUNAKAN PADA PENELITIAN DALAM BERBAGAI CABANG ILMU SOSIAL. METODENYA ADALAH ANALISIS TERHADAP SUBSTANSI DAN NARASI DALAM USAHA INTERPRETASI DARI DATA YANG BERUPA DATA QUALITATIF. DALAM PENELITIAN QUALITATIF TIDAK ADA UJI QUANTITATIF TERHADAP KESIMPULAN YANG DIDAPAT. III. JENIS - JENIS PENELITIAN

36 36 2.PENELITIAN QUANTITATIF: YAITU PENELITIAN YANG MENDASARKAN PERUMUSAN TEORINYA PADA SIFAT DAN HUBUNGAN ANTAR FENOMENA QUANTITATIF DARI OBYEKNYA. JENIS PENELITIAN INI DIGUNAKAN DALAM ILMU ALAM, SEPERTI FISIKA DAN BIOLOGI, KARENA OBYEKNYA ADALAH FISIK SEHINGGA MUDAH DIKUANTIFIKASIKAN. NAMUN ILMU-ILMU SOSIAL JUGA MENGADOPSI JENIS PENELITIAN INI, DENGAN MENCIPTAKAN INTRUMEN PENGUKUR DARI VARIABEL- VARIABELNYA. KARENA DATANYA KUANTITATIF, MAKA PENYUSUNAN KESIMPULANNYA DAPAT MENGGUNAKAN ANALISIS STATISTIK. PERANAN INSTRUMEN PENGUKURAN SANGAT PENTING DALAM PENELITIAN KUANTITATIF, KARENA PENGUKURAN YANG TIDAK AKURAT MENGHASILKAN KESIMPULAN YANG KURANG AKURAT PULA. HASIL PENGUKURAN DAPAT JUGA MENUNJUKKAN PENYIMPANGAN TERHADAP SIFAT GENERALITAS ATAU KETERATURAN DARI SIFAT OBYEK, YANG DISEBUT SEBAGAI ANOMALI. TENTANG PENTINGNYA DATA KUANTITATIF, THOMAS KUHN MENYATAKAN SEBAGAI BERIKUT: “When measurement departs from theory, it is likely to yield mere numbers, and their very neutrality makes them particularly sterile as a source of remedial suggestions. But numbers register the departure from theory with an authority and finesse that no qualitative technique can duplicate, and the departure is often enough to start a search”. DALAM PENGMPULAN DATA KUATITATIF MELIBATKAN PULA ANALISIS STATISTIK UNTUK PENENTUAN SAMPEL, APABILA JUMLAH POPULASINYA BESAR YANG UMUMNYA TERJADI PADA PENELITIAN SOSIAL.

37 37 3.PENELITIAN KOMPARATIF: ADALAH GABUNGAN ANTARA PENELITIAN QUALITATIF DENGAN PENELITIAN QUANTITATIF. DENGAN PENGGABUNGAN INI DIHARAPKAN DIDAPATKAN TEORI YANG LEBIH KUAT TINGKAT KEBENARANNYA. KEUNTUNGAN PENGGABUNGAN INI ADALAH: - ANALISIS QUALITATIF DIGUNAKAN UNTUK PERUMUSAN HIPOTESIS, YANG DAPAT MEMBERIKAN ARAH KEPADA UJI KUANTITATIF UNTUK VERIFIKASINYA. - ANALISIS KUANTITATIF DISAMPING BERFUNGSI UNTUK MENGUJI HIPOTESIS JUGA AKAN MEMBERIKAN INFORMASI EMPIRIS UNTUK LEBIH MENJELASKAN FENOMENA OBYEK YANG DITELITI. OPERASIONALISASI METODE ILMIAH DALAM DIAGRAM ALUR PROSES PELAKSANAAN PENELITIAN YANG TELAH DIBAHAS SEBELUMNYA ADALAH JENIS PENELITIAN KOMPARATIF. NAMUN TIDAK SEMUA PEMASALAHAN KEILMUAN DAPAT MENGGUNAKAN JENIS PENELITIAN KOMPRARATIF. 4.PENELITIAN REKAYASA: ADALAH PENELITIAN YANG DIGUNAKAN DALAM BIDANG REKAYASA TEKNOLOGI. TUJUAN PENELITIAN BUKAN UNTUK MENGHASILKAN TEORI BARU, NAMUN UNTUK REKAYASA MEKANISME, PRODUK, ATAU METODE BARU DENGAN MENGGUNAKAN TEORI YANG SUDAH ADA. ADA BANYAK JENIS PENELITIAN MENURUT DISIPLIN KEILMUANNYA, MISALNYA. 1. PENELITIAN SOSIAL 2.PENELITIAN PSIKHOLOGI 3.PENELITIAN PENDIDIKAN 4. PENELITIAN KEDOKTERAN 5. PENELITIAN FISIKA 6.PENELITIAN REKAYASA TEKNOLOGI, DAN LAIN-LAIN.

38 38 KLASIFIKASI DIATAS DIBUAT KARENA ADANYA PERBEDAAN DALAM BERBAGAI ASPEK PADA MASING-MASING DISIPLIN KEILMUAN, SEPERTI SIFAT OBYEK DAN TUJUAN PENELITIAN SEHINGGA MENYEBABKAN PERBEDAAN METODOLOGINYA. JENIS PENELITIAN YANG BANYAK DILAKUKAN DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN SELAMA INI DAPAT DIIDENTIFIKASIKAN SEBAGAI BERIKUT: 1.PENELITIAN HISTORIS 2.PENELITIAN DESKRIPTIF 3.PENELITIAN PERKEMBANGAN 4.PENELITIAN STUDI KASUS 5.PENELITIAN KORELASIONAL 6.PENELITIAN KAUSAL-KOMPARATIF 7.PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN 8.PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU. 9.PENELITIAN TINDAKAN (ACTION RESEARCH) 10.PENELITIAN REKAYASA. PERUBAHAN PARADIGMA DALAM FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN, SELALU MENIMBULKAN CARA PENDEKATAN BARU DALAM PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN YANG SELANJUTNYA AKAN MENGHASILKAN JENIS PENELITIAN YANG BERBEDA. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMPUTER DAN ELEKTRONIKA, JUGA MEMPENGARUHI METODOLOGI DAN PELAKSANAAN PENELITIAN, MISALNYA: PENGGUNAAN SIMULASI, PROSES PENGAMBILAN DATA YANG SEPENUHNYA MENGGUNAKAN PERANGKAT KOMPUTER, PENELITIAN JARAK JAUH, DLL..

39 PENELITIAN HISTORIS. TUJUAN PENELITIAN: MENYUSUN REKONSTRUKSI MASA LAMPAU SECARA SISTEMATIS DAN OBYEKTIF. METODENYA DENGAN MENGUMPULKAN, MENGEVALUASI, MEMVERIFIKASI, DAN MENSINTESISKAN DATA DAN BUKTI-BUKTI PENINGGALAN MASA LAMPAU YANG DITEMUKAN. TUJUAN PENELITIAN HISTORIS SELAIN REKONSTRUKSI, ADALAH UNTUK IDENTIFIKASI, ATAU PEMECAHAN MASALAH MASA KINI YANG BERHUBUNGAN DENGAN SEJARAH MASA LAMPAU. CONTOH: SEJARAH BANGSA, SEJARAH ANTHROPOLOGY, SEJARAH SENI, DLL.. CIRI-CIRI PENELITIAN HISTORIS: 1.BIASANYA TERGANTUNG KEPADA DATA HASIL OBSERVASI ORANG LAIN (DATA SEKUNDER), KARENA TIDAK MUNGKIN SEORANG PENELITI DAPAT MENGUMPULKAN SEMUA DATA SEJARAH SENDIRI (DATA PRIMER). 2.DATA HARUS DIUJI VALIDITAS INTERNAL DAN EKSTERNAL. UJI INTERNAL UNTUK MENGUJI KEASLIAN DATA, SEDANG UJI EKSTERNAL UNTUK MENGUJI RELEVANSI DENGAN TOPIK YANG DITELITI. 3.ANALISIS HARUS TERTIB, SISTEMATIS, DAN TUNTAS. 3.2.PENELITIAN DESKRIPTIF. TUJUAN PENELITIAN: MENCARI PENJELASAN ATAS SUATU FAKTA ATAU KEJADIAN YANG SEDANG TERJADI. CONTOH: SURVAI PENDAPAT UMUM; SURVAI TENTANG BERBAGAI PERMASALAHAN BIDANG EKONOMI, SOSIAL, HUKUM, POLITIK; SURVAI UNTUK MENEMUKAN SEBAB-SEBAB SUATU KEJADIAN MISALNYA: KELAPARAN, PEMOGOKAN, KERUSUHAN, DAN KRIMINALITAS. KARENA ITU PENELITIAN DESKRIPTIF SERING DISEBUT PENELITIAN SURVAI.

40 40 CIRI-CIRI PENELITIAN DESKRIPTIF: 1.TIDAK PERLU ADA HIPOTESIS. 2.TUJUAN UTAMA UNTUK MEMBERIKAN PENJELASAN OBYEKTIF, JUSTIFIKASI, KOMPARASI, DAN EVALUASI SEBAGAI BAHAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN BAGI YANG BERWENANG PENELITIAN PERKEMBANGAN (DEVELOPMENT RESEARCH). TUJUAN PENELITIAN: MENELITI PERKEMBANGAN ATAU PERUBAHAN SEBAGAI FUNGSI WAKTU ATAS SUATU PROSES YANG DITELITI. CONTOH: PERKEMBANGAN PHISIK ANAK BALITA, PERKEMBANGAN ANAK TERBELAKANG, DAN PERKEMBANGAN DALAM BERBAGAI ASPEK BIDANG EKONOMI. CIRI-CIRI PENELITIAN PERKEMBANGAN: 1.PENELITIAN MEMERLUKAN WAKTU YANG LAMA 2.BIASANYA MENELITI PADA ASPEK ATAU VARIABEL TERTENTU. 3.SERING DIGUNAKAN UNTUK PERAMALAN DI MASA YANG AKAN DATANG (EDUCATED GUESS) PENELITIAN STUDI KASUS. TUJUAN PENELITIAN: MEMPELAJARI SECARA INTENSIF TENTANG SUATU KEADAAN ATAU PERISTIWA YANG SEDANG BERLANGSUNG. PENELITIAN INI SERING DISEBUT JUGA PENELITIAN LAPANGAN, KARENA MEMUSATKAN PERHATIAN PADA KEJADIAN ATAU KASUS TERTENTU. CONTOH: STUDI KASUS KEBUDAYAAN DI SUATU KOTA METROPOLITAN, STUDI KASUS ANAK-ANAK LEMAH MENTAL, STUDI KEBUDAYAAN SUKU TERPENCIL, DLL..

41 41 CIRI-CIRI PENELITIAN STUDI KASUS: 1.DIKONSENTRASIKAN KEPADA SATU KELOMPOK OBYEK. 2.JUMLAH SAMPEL YANG DITELITI SEDIKIT TETAPI VARIABELNYA BANYAK; SEDANG PADA PENELITIAN PADA PENELITIAN DESKRIPTIF JUMLAH SAMPELNYA BESAR TETAPI VARIABELNYA SEDIKIT. KESIMPULANNYA BELUM TENTU DAPAT BERLAKU UMUM PENELITIAN KORELASIONAL. TUJUAN PENELITIAN: MENELITI PENGARUH PERUBAHAN SUATU FAKTOR BERKAITAN DENGAN PERUBAHAN SATU ATAU LEBIH FAKTOR YANG LAIN. KUAT ATAU LEMAHNYA HUBUNGAN ANTAR FAKTOR TERSEBUT DIUKUR BERDASARKAN PARAMETER KOEFISIEN KORELASI. CONTOH: HUBUNGAN ANTARA SKOR TEST UMPTN DENGAN IPK SESUDAH MAHASISWA, HUBUNGAN ANTARA IQ DENGAN KEBERHASILAN STUDI, HUBUNGAN ANTAR EQ PENGEMUDI DENGAN KECELAKAAN LALU-LINTAS, DLL.. CIRI-CIRI PENELITIAN KORELASIONAL: 1.HUBUNGAN ANTAR VARIABEL DALAM PROSES YANG DITELITI RUMIT, SEHINGGA SULIT DILAKUKAN PENELITIAN EKSPERIMEN. 2.YANG DITELITI KEERATAN HUBUNGAN ANTAR VARIABEL. 3.SIFAT PENELITIAN KURANG EKSAK, KARENA PENGARUH ANTAR VARIABEL SULIT DITERANGKAN.

42 PENELITIAN KAUSAL-KOMPARATIF TUJUAN PENELITIAN: MENELITI SEBAB-SEBAB SUATU PROSES ATAU KEJADIAN, DENGAN MENGAMATI AKIBAT YANG TERJADI. AKIBAT KEJADIAN DIIDENTIFIKASIKAN DENGAN MENGUMPULKAN DATA YANG RELEVAN. CONTOH: PENELITIAN TENTANG CIRI PRIBADI YANG SERING MENYEBABKAN KECELAKAAN LAU-LINTAS, DENGAN DATA DARI KEPOLISIAN ATAU ASURANSI; PENELITIAN TENATANG UMUR TERBAIK MASUK SEKOLAH DASAR, DENGAN MENELITI DATA PRESTASI MURID KLAS VI; DLL. CIRI-CIRI: - DATA PENELITIAN SUDAH TERSEDIA (DATA SEKUNDER). - BIASANYA METODE EKSPERIMEN TIDAK DAPAT DILAKUKAN PADA JENIS PENELITIAN INI. 3.7.PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN (TRUE EXPERIMENTAL RESEARCH). TUJUAN PENELITIAN: MENELITI HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT ANTAR VARIABEL SUATU PROSES, DENGAN MELAKUKAN TIRUAN TERHADAP PROSES YANG SEBENARNYA. PROSES TIRUAN DAPAT DILAKUKAN PERSIS SEPERTI KEJADIAN SEBENARNYA, TETAPI SERING DENGAN MEMUSATKAN KEPADA SATU ATAU LEBIH VARIABEL PROSES TERTENTU. VARIABEL LAIN HARUS DIKONTROL SEHINGGA HANYA VARIABEL PENELITIAN YANG MEMBERIKAN PENGARUH TERHADAP PERUBAHAN PROSES YANG TERJADI.

43 43 1. CONTOH PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN: PENELITIAN TERHADAP PENGARUH SUATU PROGRAM BARU (MISAL PENCEGAHAN PENGGUNAAN NARKOBA), TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU MURID SEKOLAH MENENGAH; PENELITIAN PENGARUH BAHAN ADITIF BAHAN BAKAR, TERHADAP EFISIENSI MESIN KENDARAAN BERMOTOR, DLL.. CIRI-CIRI: 1.DIBUAT PERENCANAAN UNTUK PERLAKUAN TERHADAP VARIABEL-VARIABEL PROSES, DAN KONDISI EKSPERIMEN SECARA KETAT. 2.KALAU PERLU DILAKUKAN PERBANDINGAN HASILNYA DENGAN PROSES SEBENARNYA SEBAGAI KONTROL. 3.DITELITI INTERNAL VALIDITY: TINGKAT SIGNIFIKANSI PERBEDAANNYA. 4.DITELITI EKSTERNAL VALIDITY: PERBEDANNYA BERLAKU UMUM (SELURUH POPULASI) ATAU TIDAK. JENIS PENELITIAN INI SULIT DILAKUKAN PADA KELOMPOK ILMU SOSIAL, KARENA SIFAT OBYEK (MANUSIA) SANGAT BERVARIASI DAN REAKSI TERHADAP PERLAKUAN PENELITIAN SULIT DIPREDIKSI PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU (QUASI- EXPERIMENTAL RESEARCH). TUJUAN PENELITIAN: SEPERTI PADA PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN, TETAPI PROSES HUBUNGAN ANTAR VARIABEL KOMPLEKS SEHINGGA TIDAK DAPAT DILAKUKAN EKSPERIMEN SEBENARNYA. CONTOH: PENELITIAN SEBAB-AKIBAT DALAM BIDANG SOSIAL, KARENA REAKSI DAN PERILAKU MANUSIA TIDAK DAPAT DIPREDIKSI DAN DIUKUR SECARA EKSAK DAN SELALU BERUBAH MENURUT WAKTU DAN SITUASI.

44 44 CIRI-CIRI: 1.METODOLOGI PENELITIAN DIUSAHAKAN SEDEKAT MUNGKIN DENGAN METODOLOGI PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN. 2.PADA TOPIK TERTENTU SULIT DIBEDAKAN ANTARA PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN DAN SEMU PENELITIAN TINDAKAN (ACTION RESEARCH) TUJUAN PENELITIAN: MENGEMBANGKAN SUATU PROSEDUR BARU ATAU MEMECAHKAN MASALAH DENGAN PENERAPAN LANGSUNG PADA PROSES DALAM KEADAAN SEBENARNYA. CONTOH: METODE BARU DITERAPKAN DALAM KURSUS MENGEMUDI UNTUK PENCEGAHAN KECELAKAAN; PROSEDUR MENANAM PADI BARU UNTUK PARA PETANI (BIMAS, INMAS), PEMBERLAKUAN UNDANG-UNDANG ATAU PERATURAN KEPADA MASYARAKAT, DLL.. CIRI-CIRI: 1.CEPAT, PRAKTIS, DAN RELEVAN UNTUK PEMECAHAN MASALAH. 2.PROSEDURNYA FLEKSIBEL DAN ADAPTIF, DAPAT DILAKUKAN MODIFIKASI APABILA HASILNYA TIDAK SESUAI DENGAN PERENCANAANNYA. 3.TUJUANNYA SITUASIONAL, SEHINGGA SUMBANGANNYA TERHADAP PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN PERLU DILAKUKAN KAJIAN LEBIH LANJUT.

45 PENELITIAN REKAYASA. ILMU TEKNIK (ENGINERING) MERUPAKAN ILMU TERAPAN, DENGAN ILMU DASARNYA ILMU FISIKA. ENGINERING ATAU SERING DITERJEMAHKAN MENJADI REKAYASA, DAPAT DIARTIKAN SEBAGAI: PEMANFAATAN BERBAGAI TEORI FISIKA DAN TEORI DASAR TEKNIK YANG RELEVAN UNTUK MENCIPTAKAN MEKANISME, PERALATAN, ATAU BANGUNAN UNTUK MEMBANTU BERBAGAI AKTIVITAS MANUSIA ATAU MEMENUHI KEBUTUHANNYA. KARENA ITU JENIS PENELITIAN REKAYASA BANYAK DILAKUKAN DALAM BIDANG ILMU TEKNIK, DENGAN TUJUAN TERUS MEMPERBAIKI KINERJA DAN MEMPERLUAS LINGKUP APLIKASI DARI PERALATAN ATAU BANGUNAN ENGINEERING. ALUR PROSES PADA KEGIATAN REKAYASA KETEKNIKAN DITUJUKKAN DALAM GAMBAR HALAMAN BERIKUT. DALAM ALUR TERSEBUT DITUNJUKKAN BAHWA KEGIATAN REKAYASA DIMULAI DARI ADANYA KEBUTUHAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS ATAU PRODUKTIVITAS TERTENTU. PENDORONG KEGIATN REKAYASA LAIN ADALAH PEMECAHAN MASALAH YANG SEDANG DIHADAPI, MISALNYA MEMENANGKAN PERANG, ATAU KRISIS YANG MEBUTUHKAN PEMECAHAN TEKNOLOGI. MELALUI RANGKAIAN KEGIATAN YANG CUKUP PANJANG, HASIL AKHIR DARI REKAYASA ADALAH PRODUK TEKNOLOGI, YANG BIASANYA PRODUK KOMERSIAL. PENELITIAN REKAYASA MELAKSANAKAN BAGIAN DARI RANGKAIAN KEGIATAN, YANG MEMERLUKAN ANALISIS TEORI (DEDUKSI) DAN VERIFIKASI DATA (INDUKSI). SERING DIGUNAKAN SIMULASI KOMPUTER UNTUK VERIFIKASI, SEBELUM DI UJI INDUKSI.

46 46 KINERJA TEKNIS KINERJA EKONOMIS LINGKUNGAN KEBUTUHAN / MASALAH IDE-IDE / SOLUSI BASIC DESIGN DETAIL DESIGN VERIFIKASI INDUKTIF PROTOTYPE PRODUK KOMERSIAL FILOSOFIS INTEGRAL GLOBAL KINERJA TEKNIS KINERJA EKONOMIS LINGKUNGAN SIMULASI LABORATORIUM UJI KINERJA TEKNIS UJI LINGKUNGAN EVALUASI EKONOMIS VISI MISI TUJUAN ALUR PROSES PADA KEGIATAN REKAYASA KETEKNIKAN

47 47 III. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PENELITIAN DALAM MENG-IMPLEMENTASIKAN METODE ILMIAH, LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PENELITIAN HARUS TERRENCANA, SISTEMATIS, DAN EKSPLISIT. NAMUN TIDAK DAPAT DIBUAT LANGKAH-LANGKAH YANG SAMA PADA SEMUA JENIS PENELITIAN, KARENA PERBEDAAN TUJUAN, OBYEK, DAN PERMASALAHANNYA. JENIS PENELITIAN YANG DAPAT MENG-IMPLEMENTASIKAN SECARA LENGKAP METODE ILMIAH ADALAH PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN. BIASANYA JENIS PENELITIAN YANG LAIN BERUSAHA MENDEKATI METODE DAN LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN. LANGKAH-LANGKAH UMUM YANG DILAKUKAN DALAM PELAKSANAAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT: 1. IDENTIFIKASI, PEMILIHAN, DAN PERUMUSAN MASALAH. 2. PERUMUSAN JUDUL 3. STUDI PUSTAKA. 4. PERUMUSAN HIPOTESIS. 5. IDENTIFIKASI, KLASIFIKASI, DAN ANALISIS VARIABEL PENELITIAN. 6. PENENTUAN INTRUMEN PENGAMBIL DATA. 7. PENYUSUNAN RANCANGAN PENELITIAN. 8. PENENTUAN SAMPEL. 9. PENGUMPULAN DATA. 10. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA. 11. PEMBAHASAN DAN INTREPRETASI HASIL 12. PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN.

48 48 DALAM KAITAN DENGAN OPERASIONALISASI METODE ILMIAH, LANGKAH KE-DUA SAMPAI DENGAN KE-EMPAT ADALAH PELAKSANAAN LOGIKA BERFIKIR DEDUKSI, SEDANG LANGKAH KE-LIMA SAMPAI DENGAN KESEMBILAN ADALAH PELAKSANAAN LOGIKA BERFIKIR INDUKSI. DUA LANGKAH TERAKHIR ADALAH PROSES MENUJU IMPLEMENTASI ILMU PENGETAHUAN IDENTIFIKASI, PEMILIHAN, DAN PERUMUSAN MASALAH. MASALAH: TIMBUL KARENA ADANYA KESENJANGAN ANTARA YANG DIINGINKAN UNTUK TERJADI DENGAN APA YANG MENJADI KENYATAAN TERJADI, YAITU ANTARA das Sollen DENGAN das Sein. KESENJANGAN DAPAT TERJADI PADA SEMUA ASPEK KEHIDUPAN, KARENA SIFAT MANUSIA YANG TIDAK PERNAH PUAS DENGAN APA YANG DICAPAI. SIFAT TERSEBUT MUNGKIN MEMANG MERUPAKAN KODRAD MANUSIA, YANG TERUS INGIN MENGEMBANGKAN DIRI DALAM RANGKA PROSES AKTUALISASI DIRINYA (MENEMUKAN JATI DIRI-NYA?). PEMIKIRAN FILSAFAT ADA YANG BERKESIMPULAN BAHWA MANUSIA ADALAH MAKHLUK YANG BELUM SELESAI DAN AKAN TERUS BERPROSES SEPANJANG HIDUPNYA DI DUNIA. MASALAH BIDANG TEKNOLOGI PRINSIPNYA BERHUBUNGAN DENGAN EMPAT KRITERIA: 1. KUALITAS 2. EFISIENSI 3. PRODUKTIVITAS 4. KINERJA EKONOMIS 5. PERLINDUNGAN LINGKUNGAN.

49 49 KEGIATAN PENELITIAN BERUSAHA MENJEMBATANI KESENJANGAN ANTARA KEINGINAN DENGAN KENYATAN TERSEBUT, DENGAN MENCIPTAKAN PROSEDUR ATAU TEORI BARU PADA BIDANG YANG BERSANGKUTAN. CONTOH: MASALAH PENCEMARAN LINGKUNGAN AKIBAT ASAP KENDARAAN BERMOTOR TIMBUL KARENA BELUM ADA TEKNOLOGI MESIN KENDARAAN YANG BERSIH UNTUK MENGGANTIKAN TEKNOLOGI MOTOR BAKAR PENGGERAK KENDARAAN BERMOTOR YANG MENGHASILKAN POLUSI. 1. IDENTIFIKASI MASALAH: KALAU KITA AMATI MASALAH TERJADI DIMANA-MANA DENGAN JUMLAH CUKUP BANYAK. KEMAMPUAN IDENTIFIKASI MASALAH TERGANTUNG KEPADA KEPEKAAN, DAN KEMAMPUAN SESEORANG; DAN DIPERLUKAN LATIHAN. UNTUK MENEMUKAN MASALAH ILMU PENGETAHUAN, BEBERAPA SARANA BERIKUT DAPAT MEMBANTU: 1. SUMBER PUSTAKA ILMIAH: JURNAL, THESIS, DISERTASI, INTERNET. 2. PERTEMUAN ILMIAH: SEMINAR, DISKUSI ILMIAH 3. PERNYATAAN ILMUWAN, ATAU PEMEGANG OTORITAS BIDANG YANG SESUAI. 4. PENGALAMAN, PENGALAMAN PRIBADI. 2. PEMILIHAN MASALAH: TIDAK SEMUA MASALAH YANG DI IDENTIFIKASIKAN LAYAK UNTUK DIJADIKAN TOPIK PENELITIAN. KRITERIA SUATU MASALAH ILMIAH LAYAK UNTUK DITELITI DAPAT DITINJAU DARI ASPEK OBYEKTIF DAN ASPEK SUBYEKTIF.

50 50 ASPEK OBYEKTIF (DARI SIFAT MASALAHNYA): - PENTINGNYA MASALAH: PENGEMBANGAN ILMU DAN / ATAU APLIKASINYA. - BELUM PERNAH DITELITI SEBELUMNYA. - MASALAHNYA DAPAT DITELITI DENGAN ILMU PENGETAHUAN YANG ADA. ASPEK SUBYEKTIF (DARI SISI PENELITI): - KESESUAIAN LATAR BELAKANG BIDANG ILMU DAN PENGALAMAN PENELITI, - BIAYA, PERALATAN, DAN WAKTU YANG DIPERLUKAN TERJANGKAU. 3. PERUMUSAN MASALAH: TUJUAN PERUMUSAN MASALAH UNTUK MEMBATASI DAN MEMPERJELAS MASALAH PENELITIAN, SEHINGGA MEMBANTU PELAKSANAAN LANGKAH SELANJUTNYA. RUMUSAN MASALAH YANG BAIK APABILA JELAS, DAN SESUAI DENGAN YANG AKAN DIBUKTIKAN DALAM KEGIATAN PENELITIAN PERUMUSAN JUDUL FUNGSI JUDUL PENELITIAN DIANTARANYA ADALAH: 1. MENUNJUKKAN GARIS-BESAR ISI DARI KESELURUHAN PENELITIAN. 2. RUMUSAN JUDUL MENJADI HAK PENELITI 3. SEBAGAI ACUAN BAGI PENELITI LAIN. KARENA ITU JUDUL HARUS DIRUMUSKAN DENGAN JELAS DAN SPESIFIK, DAN MENGANDUNG KONSEP-KONSEP UTAMA PENELITIAN.

51 51 SELAIN ITU JUDUL JUGA MENGANDUNG HUBUNGAN ANTAR VARIABEL YANG AKAN DITELITI, SEPERTI PERBEDAAN, PENGARUH, ATAU KORELASI. NAMUN DEMIKIAN, RUMUSAN JUDUL HARUS SINGKAT, BIASANYA TIDAK BOLEH LEBIH DARI DUAPULUH KATA. SEMENTARA PENELITI LEBIH SUKA MERUMUSKAN JUDUL SESUDAH PENELITIAN SELESAI, KARENA TIDAK ADA LAGI HAL YANG BELUM JELAS TENTANG ISI PENELITIAN STUDI PUSTAKA. STUDI PUSTAKA MERUPAKAN LANGKAH KEGIATAN BERFIKIR DEDUKTIF YANG PENTING, DAN BERTUJUAN UNTUK: 1. MELIHAT PERKEMBANGAN PENELITIAN YANG TELAH DILAKUKAN PADA TOPIK SEJENIS. 2. MEN-CHECK APAKAH MASALAH YANG AKAN DITELITI SUDAH PERNAH DITELITI: ORISINALITAS TOPIK. 3. MENYUSUN DESKRIPSI DAN KERANGKA TEORITIS TERHADAP MASALAH YANG DITELITI, SEBAGAI DASAR PERUMUSAN HIPOTESIS. KEGIATAN STUDI PUSTAKA TERMASUK PENGUMPULAN SUMBER PUSTAKA, DAN SERING MERUPAKAN YANG PALING LAMA DALAM PENELITIAN. SUMBER PUSTAKA PENELITIAN YANG PALING PENTING ADALAH SUMBER PUSTAKA PRIMER, YAITU LAPORAN HASIL PENELITIAN YANG BIASANYA DIMUAT DALAM: JURNAL ILMIAH, THESIS, DISERTASI, ATAU DALAM SEMINAR ILMIAH. SUMBER PUSTAKA LAIN SEPERTI: BUKU TEKS, INTERNET, ENSIKLOPEDIA, DLL., DAPAT MEMBANTU SEBAGAI TAMBAHAN INFORMASI. KRITERIA SUMBER PUSTAKA YANG PENTING ADALAH: 1. RELEVANSINYA DENGAN MASALAH PENELITIAN 2. SIFAT UP TO DATE DARI BAHAN PUSTAKA.

52 52 DALAM STUDI PUSTAKA PERLU DIPERHATIKAN EFISIENSI KEGIATAN, SEPERTI KECEPATAN MEBACA DAN PENCATATAN HAL-HAL PENTING SECARA SISTEMATIS. BIASANYA SEMAKIN BANYAK SUMBER PUSTAKA YANG DIDAPAT SEMAKIN KOMPLEKS PROSES ANALISIS PENYUSUNAN TEORINYA. DALAM KAJIAN PUSTAKA JUGA PERLU MULAI DIIDENTIFIKASIKAN VARIABEL-VARIABEL YANG MEMPENGARUHI MASALAH PENELITIAN PERUMUSAN HIPOTESIS. HIPOTESIS ADALAH JAWABAN SEMENTARA TERHADAP MASALAH YANG DITELITI, DAN MERUPAKAN HASIL AKHIR DARI KEGIATAN BERFIKIR DEDUKTIF. DARI SUDUT KEBENARAN ILMIAH HIPOTESIS MASIH SETENGAH BENAR, KARENA MASIH TEORITIS YANG MASIH HARUS DIBUKTIKAN SECARA EMPIRIS. KRITERIA RUMUSAN HIPOTESIS YANG BAIK ADALAH: 1. RUMUSAN HIPOTESIS MENYATAKAN HUBUNGAN ANTAR VARIABEL YANG DITELITI. 2. HIPOTESIS DAPAT DIUJI KEBENARANNYA SECARA EMPIRIS. 3. RUMUSAN DALAM KALIMAT YANG PADAT DAN JELAS. DALAM PENELITIAN BIDANG KETEKNIKAN SERING HIPOTESIS TIDAK PERLU DIRUMUSKAN, KARENA MASALAHNYA SUDAH JELAS. MASALAH BIDANG KETEKNIKAN BIASANYA MENGACU KEPADA LIMA KRITERIA TEKNOLOGI DIATAS, SEHINGGA MASALAH PENELITIAN ADALAH MENINGKATKAN KINERJA PADA MASING-MASING KRITERIA TERSEBUT. CONTOH: PENELITIAN DESAIN BARU IMPELER POMPA SENTRIFUGAL, PENELITIAN POTENSI SUBER ENERGI ANGIN DI SUATU DAERAH, PENELITIAN KETERSEDIAAN SUMBER-DAYA ALAM; DLL..

53 IDENTIFIKASI, ANALISIS, DAN KLASIFIKASI VARIABEL PENELITIAN. VARIABEL PENELITIAN ADALAH SUATU KARAKTERISTIK YANG MEMPUNYAI DUA ATAU LEBIH NILAI, ATAU SIFAT YANG BERDIRI SENDIRI. TUJUAN IDENTIFIKASI VARIABEL UNTUK MENEMUKAN SEMUA KARAKTERISTIK YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA MASALAH PENELITIAN. SEMUA VARIABEL YANG DITEMUKAN KEMUDIAN DIANALISIS, UNTUK MENENTUKAN JENIS PERAN DAN KUAT-LEMAHNYA PERAN MASING-MASING DALAM MASALAH PENELITIAN. ANALISIS VARIABEL PENTING UNTUK DAPAT MEMBUAT RANCANGAN PENELITIAN. NAMUN DALAM BANYAK MASALAH PENELITIAN SULIT UNTUK MENENTUKAN PERAN VARIABEL, KARENA HUBUNGAN ANTAR VARIABEL KOMOLEKS. FUNGSI VARIABEL DAPAT DIKLASIFIKASIKAN MENJADI DUA GOLONGAN YAITU: VARIABEL BEBAS DAN VARIABEL TERGANTUNG. VARIABEL BEBAS ADALAH VARIABEL PENYEBAB, SEDANG VARIABEL TERGANTUNG ADALAH HASIL ATAU AKIBAT YANG TERJADI. UMUMNYA ADA BANYAK VARIABEL BEBAS, UNTUK MENGHASILKAN SATU VARIABEL TERGANTUNG. HUBUNGAN ANTARA VARIABEL DALAM SUATU PROSES DIGAMBARKAN DALAM DIAGRAM SEBAGAI BERIKUT: VAR. PENELITIAN VAR. MODERATOR PROSES VARIABEL VAR. KONTROL (INTERAKSI VARIABEL) TERGANTUNG VAR. RAMBANG PROSES (INTERAKSI VARIABEL)

54 54 VARIABEL PENELITIAN ADALAH VARIABEL BEBAS YANG DIPILIH UNTUK DITELITI. VARIABEL MODERATOR DAN VARIABEL KONTROL MEMPUNYAI PENGARUH SIGNIFIKAN TERHADAP PROSES, TETAPI BUKAN VARIABEL PENELITIAN. CONTOH: VARIABEL MODERATOR ADALAH PEMBEDAAN MOTOR BENSIN DAN MOTOR DIESEL, SEDANG CONTOH VARIABEL KONTROL ADALAH PEMAKAIAN BENSIN YANG SAMA DALAM PENELITIAN PENGARUH BAHAN ADITIF BAHAN BAKAR. VARIABEL RAMBANG PENGARUHNYA KECIL DAN DAPAT DIABAIKAN, MISALNYA PENGARUH TEMPERATUR UDARA DALAM PENELITIAN BAHAN BAKAR. VARIABEL PENELITIAN PERLU DIKATEGORIKAN LEBIH LANJUT UNTUK PERSIAPAN PENGUMPULAN DATA. ADA EMPAT JENIS KATEGORI VARIABEL YAITU: VARIABEL NOMINAL, VARIABEL ORDINAL, VARIABEL RATIO, DAN VARIABEL INTERVAL. 1. VARIABEL NOMINAL: DIKELOMPOKKAN DALAM SIFAT YANG SERUPA, TETAPI TIDAK ADA HUBUNGAN SATU SAMA LAIN. MISALNYA: BAHAN BAKAR BENSIN DAN SOLAR, PRIA WANITA, MACAM-MACAM SUKU BANGSA, DLL.. 2. VARIABEL ORDINAL: DIKELOMPOKKAN DALAM SIFAT YANG SERUPA, TETAPI MASING- MASING MEMPUNYAI HUBUNGAN GRADASI. MISALNYA: TINGKATAN KLAS SEKOLAH; KATEGORI LEMAH, SEDANG, DAN KUAT; DLL.. 3.VARIABEL RATIO: ADALAH KUANTIFIKASI VARIABEL DENGAN CARA MEMBANDINGKAN DENGAN UKURAN ATAU SATUAN YANG DISEPAKATI. MISALNYA: UKURAN PANJANG, UKURAN PANAS, UKURAN GAYA, DLL.. 4. VARIABEL INTERVAL: MERUPAKAN PENGGOLONGAN LEBIH LANJUT VARIABEL ORDINAL, UNTUK PERSIAPAN PENGOLAHAN DATA. HASIL PENGUKURAN DIBAGI MENJADI BEBERAPA KELOMPOK, BERDASARKAN INTERVAL NILAI UKURAN TERTENTU. SETIAP KELOMPOK WALAUPUN NILAI ASLINYA TIDAK SAMA, DIANGGAP MEMPUNYAI KARAKTERISTIK YANG SAMA. CONTOH: PENGELOMPOKAN NILAI DALAM IP, UMUR DALAM KATEGORI ANAK, DEWASA, DAN MANULA; PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK DALAM MIKROHIDRO, MINIHIDRO, DAN PLTA; DLL..

55 55 KEBANYAKAN VARIABEL BIDANG KETEKNIKAN DAPAT DIKATEGORIKAN DALAM VARIABEL RATIO, TETAPI VARIABEL BIDANG SOSIAL SERING SULIT UNTUK DIKUANTIFIKAN. MISALNYA: KEPUASAN PELANGGAN, UKURAN KECERDASAN, KEBENARAN KEPUTUSAN PENGADILAN, DLL PENENTUAN INSTRUMEN PENGAMBIL DATA. INSTRUMEN PENGAMBIL DATA SANGAT PENTING, KARENA VALIDITAS HASIL PENELITIAN TERGANTUNG KEPADA KETELITIAN DATA. TIGA PERSYARATAN PENTING INSTRUMEN PENGAMBIL DATA ADALAH: VALIDITAS, RELIABILITAS, DAN SENSITIVITAS PERALATAN. VALIDITAS BERHUBUNGAN DENGAN KESESUAIAN DAN KETEPATAN UKURAN. RELIABILITAS BERHUBUNGAN KONSISTENSI HASIL PENGUKURAN DALAM KONDISI YANG BERBEDA. SENSITIVITAS ALAT BERHUBUNGAN DENGAN KETELITIAN DAN KECEPATAN ALAT UNTUK MENGIKUTI PERUBAHAN. UNTUK JENIS VARIABEL RATIO, BIASANYA INSTRUMEN PENGUKURNYA SUDAH TERSEDIA DAN SIAP PAKAI. NAMUN UNTUK JENIS VARIABEL ORDINAL, INSTRUMEN SERING HARUS DITENTUKAN OLEH PENELITI SENDIRI. PEMILIHAN JENIS INSTRUMEN JUGA TERGANTUNG KEPADA KETELITIAN YANG DIPERLUKAN. MISALNYA: MENGUKUR DIMENSI CASING MESIN TIDAK PERLU MENGGUNAKAN MOKROMETER PENYUSUNAN RANCANGAN PENELITIAN. RANCANGAN PENELITIAN ADALAH RANCANGAN PERLAKUAN TERHADAP VARIABEL PENELITIAN DALAM PROSES PENGUMPULAN DATA EMPIRIS, UNTUK PEMBUKTIAN HIPOTESIS. YANG MEMBUTUHKAN RANCANGAN PENELITIAN SECARA DETIL ADALAH PENELITIAN EKSPERIMEN, KARENA VARIABEL PENELITIANNYA DAPAT DIANALISIS DENGAN AKURAT.

56 56 RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN TIDAK TERLALU RUMIT, KARENA VARIABEL-NYA BIASANYA TIDAK BANYAK DAN PENGARUH DARI VARIABEL YANG TIDAK DITELITI DAPAT DIKONTROL DENGAN BAIK. HAL INI BERLAKU DALAM SEMUA PENELITIAN BIDANG KETEKNIKAN, TETAPI RANCANGAN EKSPERIMEN BIDANG PERTANIAN AGAK LEBIH RUMIT KARENA ADANYA PENGARUH VARIABEL YANG SULIT DIKONTROL, SEPERTI: IKLIM, KONDISI TANAH, MUTU BIBIT TANAMAN, DLL PENENTUAN SAMPEL. SAMPEL ADALAH BAGIAN YANG DIAMBIL DARI POPULASI, YANG DIHARAPKAN MERUPAKAN REPRESENTASI DARI POPULASI. POPULASI MERUPAKAN KESELURUHAN ANGGOTA YANG MENJADI OBYEK ATAU SASARAN PENELITIAN. TUJUAN PENENTUAN SAMPEL ADALAH UNTUK MENGHEMAT WAKTU, BIAYA, DAN TENAGA DALAM PELAKSANAAN PENELITIAN, TERUTAMA APABILA JUMLAH POPULASINYA SANGAT BESAR. BANYAK TEKNIK YANG DIKEMBANGKAN UNTUK PENGAMBILAN SAMPEL (SAMPLING), DIANTARANYA: TEKNIK ACAK, TEKNIK SISTEMATIS, DAN TEKNIK NON-ACAK. DALAM BIDANG KETEKNIKAN SERING TIDAK DIPERHATIKAN MASALAH PENENTUAN SAMPEL, KARENA MENGANGGAP SIFAT POPULASI SELALU SERAGAM. MISALNYA: PENELITIAN MOTOR BAKAR, MENGGUNAKAN MESIN YANG DIJADIKAN ALAT PENELITIAN DIAMBIL BEGITU SAJA TANPA MEMPERHATIKAN KONDISINYA. SEHARUSNYA, KONDISI MESIN HARUS DIPERHATIKAN, SESUAI DENGAN TUJUAN PENELITIANNYA PENGUMPULAN DATA. DATA PENELITIAN DAPAT BERASAL DARI PENGUMPULAN OLEH PENELITI SENDIRI ATAU DATA PRIMER, DAN DATA YANG DIKUMPULKAN OLEH PENELITI LAIN MELALUI BERBAGAI SUMBER PUSTAKA ATAU DATA SEKUNDER.

57 57 DATA PRIMER DIDAPAT PADA WAKTU PELAKSANAAN RANCANGAN PENELITIAN, DI LABORATORIUM ATAU DI LAPANGAN. ADA TIGA CARA YANG UMUM DILAKUKAN UNTUK PENGUMPULAN DATA PRIMER YAITU: CARA PENGAMATAN, CARA PERTANYAAN, DAN CARA PENGUKURAN. DALAM JENIS PENELITIAN EKSPERIMEN, SEMUA DATA DIDAPAT DARI HASIL PENGUKURAN. DATA PRIMER DAN DATA SEKUNDER, SEBELUM DIANALISIS LEBIH LANJUT HARUS DITELITI TERLEBIH DAHULU KETELITIAN DAN VALIDITASNYA, SEBELUM DIOLAH LEBIH LANJUT PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ADALAH IMPLEMENTASI DARI PROSES BERFIKIR INDUKTIF, UNTUK MEMBUKTIKAN SECARA EMPIRIS HIPOTESIS YANG TELAH DIRUMUSKAN. DALAM PENGOLAHAN DATA, BIASANYA DATA DISAJIKAN DALAM BENTUK TABEL ATAU GRAFIK UNTUK MEMUDAHKAN INTERPRETASI. ANALISIS DATA BERTUJUAN UNTUK MEMBUKTIKAN HIPOTESIS DENGAN MENGGUNAKAN METODE STATISTIK PEMBAHASAN DAN INTREPRETASI HASIL. SESUDAH HIPOTESIS DIBUKTIKAN, TIDAK BERARTI PENELITIAN TELAH SELESAI. TUJUAN PEMBAHASAN DAN INTERPRETASI ADALAH UNTUK MEMBERIKAN ARTI KEPADA HASIL PENELITIAN DALAM ASPEK-ASPEK: 1. SUMBANGAN HASIL PENELITIAN TERHADAP KHASANAH TEORI ILMU PENGETAHUAN. 2. SUMBANGAN HASIL PENELITIAN DALAM ASPEK APLIKASI. 3, KESIMPULAN PENTING YANG DIDAPAT. 4. KELEMAHAN DAN KEKURANGAN YANG DIJUMPAI, DAN SARAN-SARAN BAGI PERBAIKAN.

58 58 KARENA ITU BAGIAN PEMBAHASAN DAN INTERPRETASI HASIL PENELITIAN DIANGGAP BAGIAN PALING PENTING YANG MENENTUKAN MUTU MUTU PENELITIAN, KARENA MEMBERIKAN INFORMASI UNTUK PROSES KEILMUAN SELANJUTNYA. DENGAN ADANYA KESIMPULAN DAN SARAN, BAGIAN INI SERING DIJADIKAN SUMBER INFORMASI UNTUK MENDAPATKAN TOPIK PENELITIAN YANG BARU PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN. PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN MERUPAKAN TAHAP TERAKHIR DALAM KEGIATAN PENELITIAN. BEBERAPA FUNGSI LAPORAN PENELITIAN DIANTARANYA: 1. SARANA KOMUNIKASI ILMIAH, KARENA LAPORAN DIPUBLIKASIKAN. 2. SEBAGAI LEGITIMASI HAK CIPTA ATAU PATEN BAGI PENELITI. 3. DOKUMEN AKHIR, SEBAGAI LAPORAN BAGI PEMBERI DANA PENELITIAN. LAPORAN PENELITIAN BIASANYA DISUSUN MENURUT FORMAT TERTENTU, DENGAN TUJUAN TERUTAMA UNTUK MEMUDAHKAN PEMAHAMAN BAGI YANG MEMANFAATKAN.

59 59 TUJUAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL ADALAH UNTUK MENDAPATKAN PENJELASAN TERHADAP PERMASALAHAN YANG DITELITI. PENJELASAN TERSEBUT BIASANYA DALAM BENTUK HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT ANTAR VARIABELTERIKAT DAN VARIABEL BEBAS YANG MEMPENGARUHI TEJADINYA PERMASALAHAN. BIASANYA DIPILIH SATU VARIABEL BEBAS YANG DIPILIH UNTUK DITELITI PENGARUHNYA TERHADAP SATU ATAU LEBIH VARIABEL TERIKAT. BIASANYA TERDAPAT LEBIH DARI SATU VARIABEL BEBAS YANG BERPENGARUH, SEHINGGA PERLU DISUSUN SUATU RANCANGAN PENELITIAN UNTUK MENJAMIN BAHWA PERUBAHAN VARIABEL TERIKAT HANYA KARENA PENGARUH VARIABEL BEBAS YANG DITELITI KARAKTERISTIK PENELITIAN EKSPERIMENTAL. PENELITIAN EKSPERIMENTAL MERUPAKAN JENIS PENELITIAN YANG DAPAT MENGIMPLEMENTASIKAN SECARA LENGKAP SELURUH LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PENELITIAN YANG TELAH DIPAPARKAN DALAM BAB SEBELUMNYA. UNTUK DAPAT DITELITI SECARA EKSPERIMEN MAKA DATA EMPIRIS HARUS DAPAT DIPILIH SECARA RANDOM, SEHINGGA DAPAT DIJAMIN PENGARUH VARIABEL BEBAS YANG DITELITI TERPISAH DENGAN VARIABEL BEBAS LAINNYA. VALIDITAS PENELITIAN EKSPERIMENTAL DITENTUKAN OLEH TERPISAHNYA PENGARUH VARIABEL PENELITIAN TERSEBUT, DAN KEMUNGKINAN BERCAMPURNYA PENGARUH VARIABEL BEBAS DAN INKONSISTENSI PENGARUH ANTAR VARIABEL DISEBUT ANCAMAN VALIDITAS PENELITIAN. TERDAPAT DUA JENIS ANCAMAN TERHADAP VALIDITAS PENELITIAN, YAITU: IV. PENELITIAN EKSPERIMENTAL.

60 60 1. ANCAMAN VALIDITAS INTENAL. JENIS ANCAMAN VALIDITAS INTERNALADALAH APABILA PERUBAHAN YANG TERJADI PADA VARIABEL TERIKAT TIDAK HANYA DISEBABKAN OLEH MANIPULASI YANG DILAKUKAN TERHADAP VARIABEL BEBAS. TERDAPAT BEBERAPA JENIS PENYEBAB TERJADINYA ANCAMAN VALIDITAS INTERNAL, DIANTARANYA: MATURITY, SEJARAH, PENGARUH TESTING, DAN MORTALITAS. 2.ANCAMAN VALIDITAS EKSTERNAL. ADALAH JENIS ANCAMAN YANG TIDAK MENJAMIN BAHWA KESIMPULAN HASIL PENELITIAN TIDAK DAPAT BERLAKU UMUM, DAN HANYA BERLAKU PADA KONDISI PADA WAKTU PROSES EKSPERIMEN DILAKSANAKAN. BEBERAPA PENYEBAB TERJADINYA ANCAMAN VALIDITAS EKSTERNAL ADALAH: SAMPLING ERROR, KESALAHAN RANCANGAN PENELITIAN, KESALAHAN INSTRUMEN DAN PERALATAN PENELITIAN, DAN PENGARUH REAKSI SUBYEK YANG TIDAK NORMAL. ANCAMAN VALIDITAS PADA JENIS PENELITIAN ESKPERIMEN SUNGGUHAN LEBIH SEDIKIT DIBANDINGKAN PADA JENIS PENELITIAN EKSPERIMEN SEMU. HAL INI KARENA DALAM PENELTIAN EKSPERIMENTAL SEMU PENGAMBILAN SAMPEL TIDAK DAPAT DILAKSANAKAN SECARA RANDOM, SEHINGGA DAPAT TERJADI KEDUA JENIS ANCAMAN VALIDITAS PENELITIAN. UNTUK DAPAT MENGURANGI TERJADINYA ANCAMAN VALIDITAS PENELITIAN MAKA HARUS DIBUAT RANCANGAN PENELITIAN YANG DAPAT MENGONTROL PENGARUH VARIABEL BEBAS YANG TIDAK DITELITI. SEMAKIN KOMPLEKS HUBUNGAN ANTAR VARIABEL DALAM PROSES / PERMASALAHAN YANG DITELITI, MAKA DIBUTUHKAN RANCANGAN PENELITIAN YANG SEMAKIN RUMIT DAN PELAKSANAAN KEGIATAN PENELITIAN SEMAKIN LAMA.

61 PENYUSUNAN RANCANGAN PENELITIAN. SEBELUM DAPAT DISUSUN RANCANGAN PENELITIAN MAKA SEMUA VARIABEL YANG MEMPENGARUHI PROSES ATAU PERMASALAHAN YANG DITELITI HARUS DIIDENTIFIKASIKAN. KEMUDIAN DILAKUKAN ANALISIS TERHADAP SEMUA VARIABEL YANG MELIPUTI JENIS VARIABEL, PERANAN MASING-MASING VARIABEL, DAN KUAT-LEMAHNYA PRANANNYA. DALAM SUATU PROSES, MISALNYA REAKSI KIMIA, SERING TERDAPAT VAIABEL ASING YANG BERASAL DARI LINGKUNGAN. JENIS VARIABEL YANG DIKONTROL PENGARUHNYA DALAM PELAKSANAAN EKSPERIMEN TENTU SAJA ADALAH SEMUA VARIABEL BEBAS YANG TIDAK DITELITI TERMASUK VARIABEL ASING, KALAU ADA. YANG HARUS DIKETAHUAI DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN PENELITIAN ADALAH BAHWA TIDAK ADA RANCANGAN PENELITIAN YANG SEMPURNA DAPAT MENGHILANGKAN SAMA SEKALI ANCAMAN VALIDITASNYA. HAL INI KARENA ADANYA HUBUNGAN INTERAKTIF ANTAR VARIABEL, SEHINGGA PENGONTROLAN SALAH SATU VARIABEL DAPAT MEMPENGARUHI PERANAN VARABEL LAINNYA. MENURUT JUMLAH VARIABEL BEBAS YANG DIPILIH MENJADI VARIABEL PENELITIAN, RANCANGAN PENELITIAN DAPAT DIBAGI MENJADI DUA KELOMPOK YAITU: 1. KELOMPOK RANCANGAN VARIABEL TUNGGAL, YAITU PENELITIAN DENGAN HANYA MEMILIH SATU VARIABEL BEBAS UNTUK DITELITI. 2. KELOMPOK RANCANGAN PENELITIAN FAKTORIAL, YAITU PENELITIAN DENGAN LEBIH DARI SATU VARIABEL BEBAS YANG DITELITI. JENIS PENELITIAN YANG BANYAK DILAKUKAN ADALAH PENELITIAN DENGAN VARIABEL TUNGGAL.

62 KELOMPOK RANCANGAN PENELITIAN VARIABEL TUNGGAL. RANCANGAN PENELITIAN VARIABEL TUNGGAL DIBAGI DALAM TIGA JENIS, YAITU: 1.RANCANGAN PRA EKSPERIMENTAL YAITU RANCANGAN PENELITIAN SEDERHANA, BIASANYA DIGUNAKAN UNTUK UJI COBA INSTALASI PERALATAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN. HAL INI PERLU DILAKUKAN UNTUK MENJAMIN BAHWA INSTALASI DAN INSTRUMEN PENELITIAN DAPAT BERFUNGSI DENGAN BAIK PADA WAKTU DILAKUKAN EKSPERIMEN YANG SEBENARNYA. 2.RANCANGAN EKSPERIMENTAL SEMU DIGUNAKAN UNTUK MELAKSANAKAN JENIS PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU, YAITU APABILA SAMPEL TIDAK DAPAT DITENTUKAN SECARA ACAK 3.RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN DIGUNAKAN UNTUK MELAKSANAKAN JENIS PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN. KARENA SIFAT SAMPELNYA YANG DAPAT DITENTUKAN SECARA ACAK, MAKA RACANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN MEMPUNYAI DERAJAD KONTROL TERHADAP VALIDITAS PENELITIAN TERTINGGI DIBANDINGKAN RANCANGAN PENELITIAN LAINNYA. VALIDITAS RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU SEDEKAT MUNGKIN DENGAN RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN. RANCANGAN PRA EKSPEIMENTAL MEMPUNYAI DERAJAD VALIDITAS TERENDAH, DAN DATANNYA MEMANG TIDAK DIGUNAKAN SEBAGAI DATA PENELITIAN YANG AKAN DIOLAH UNTUK MEMBUKTIKAN HIPOTESIS PENELITIAN.

63 RANCANGAN PRA-EKSPERIMENTAL. TERDAPAT TIGA JENIS RANCANGAN PRA-EKSPERIMENTAL, YAITU: 1.RANCANGAN STUDI KASUS SATU ARAH, SEPERTI PADA DIAGRAM BERIKUT: X O DIMANA: X = PERLAKUAN EKSPERIMEN O = PASCA UJI 2.RANCANGAN PRA DAN PASCA UJI SATU KELOMPOK O 1 X O 2 DIMANA: O 1 = PRA UJI, X = PERLAKUAN EKSPERIMEN O 2 = PASCA UJI. 3.RANCANGAN PENELITIAN KELOMPOK STATIS X 1 O 1 X 2 O 2 DIMANA: X 1 = PERLAKUAN EKSPERIMEN, O 1 = PASCA UJI X 2 = PERLAKUAN NORMAL, O 2 = PASCA UJI DALAM RANCANGAN INI ADA DUA KELOMPOK PENELITIAN, YAITU KELOMPOK EKSPERIMEN DAN KELOMPOK PERLAKUAN NORMAL SEBAGAI KONTROL TERHADAP HASIL EKSPERIMEN.

64 RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU. DALAM JENIS PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU TERDAPAT ANCAMAN VALIDITAS INTERNAL DAN EKSTERNAL, KARENA PENGARUH VARIABEL BEBAS SULIT DIPISAHKAN. DENGAN DEMIKIAN RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU LEBIH SULIT DAN KOMPLEKS, DAN TERDAPAT TIGA JENIS RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU. 1.RANCANGAN PRA UJI DAN PASCA UJI TIDAK EKIVALEN: O 1 X 1 O 2 O 3 X 2 O 4 RANCANGAN INI BANYAK DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN. MISALNYA KELOMPOK SISWA DIBAGI DALAM DUA KELOMPOK YANG DIBERI PERLAKUAN EKSPERIMEN X1 DAN PERLAKUAN NORMAL X2. O1 DAN O2 MASING-MASING ADALAH PRA UJI UNTUK MENELITI KEDUA KELOMPOK UJI. 2.RANCANGAN TIME SERIES O 1 O 2 O 3 O 4 X O 5 O 6 O 7 O 8 MERUPAKAN PERLUASAN DARI RANCANGAN PRA DAN PASCA UJI SATU KELOMPOK PADA PENELITIAN PRA-EKSPERIMEN, DENGAN MELAKUKAN PRA UJI DAN PASCA UJI BERKALI-KALI. APABILA HASIL SEMUA PERLAKUAN PRA UJI HAMPIR SAMA, DAN HASIL PASCA UJI BERUBAH SECARA KONSISTEN MAKA DAPAT DISIMPULKAN BAHWA PERUBAHANNYA KARENA PENGARUH PERLAKUAN EKSPERIMEN X. RANCANGAN INI DAPAT DIPERLUAS DENGAN MENAMBAH SATU KELOMPOK LAGI SEBAGAI KONTROL.

65 65 3.RANCANGAN COUNTER BALANCED REPLIKASI X 1 X 2 X 3 X 4 1 A B C D 2 B D A C 3 C A D B 4 D C B A DALAM DIAGRAM DIATAS DITUNJUKKAN SETIAP KELOMPOK PENELITIAN (A, B, C, DAN D) SECARA BERGANTIAN MENERIMA PERLAKUAN (X1, X2, X3, DAN X4). TUJUANNYA ADALAH UNTUK MEBANDINGKAN EFEKTIVITAS PENGARUH PERLAKUAN, APABILA DIKENAKAN PADA KELOMPOK YANG BERBEDA. PELAKSANAAN SETIAP PERLAKUAN PADA SATU KELOMPOK TIDAK MEMPENGARUHI PERLAKUAN LAINNYA AGAR TIDAK TERJADI INTERFERENSI DALAMPERLAKUANMAJEMUK TERSEBUT RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN. CIRI UTAMA DARI PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN ADALAH PENENTUAN SAMPEL SEBAGAI ANGGOTA SETIAP KELOMPOK PENELITIAN DAPAT DILAKUKANA SECARA ACAK. DENGAN DEMIKIAN HOMOGENITAS ANTAR KELOMPOK PENELITIAN TERJAMIN, SEHINGGA RANCANGAN PENELITIANNYA DAPAT DISUSUN TANPA MEMPERHATIKAN KONDISI SAMPEL. DENGAN DEMIKAN PENGONTROLAN TERHADAP ANCAMAN VALIDITAS INTERNAL MAUPUN EKSTERNAL DAPAT DILAKUKAN SECARA LEBIH SEDRHANA DARIPADA PENELITIAN EKSPERIMENTAL SEMU. RANCANGAN PENELITIAN ELKSPERIMENTAL SUNGGUHAN DAPAT DIBAGI DALAM TIGA JENIS. 1. RANCANGAN KELOMPOK KONTROL PASCA UJI. EKSPERIMEN R: X 1 O 1 KONTROL R: X 2 O 2

66 66 NOTASI R ARTINYA PEMILIHAN SAMPEL ANGGOTA KELOMPOK DILAKUKAN SECARA ACAK (RANDOM). KOMBINASI ANTARA KELOMPOK RANDOM DENGAN ADANYA KELOMPOK KONTROL DIHARAPKAN DAPAT MENGONTROL PENGARUH VARIABEL NON-PENELITIAN. EFEKTIVITAS DARI PERLAKUAN EKSPERIMEN X1 DITUNJUKKAN OLE PERBEDAAN NILAI PASCA UJI EKSPERIMEN O3 DENGAN NILAI PASCA UJI KONTROL O4. 2.RANCANGAN KELOMPOK KONTROL PRA UJI DA PASCA UJI EKSPERIMEN R: O 1 X 1 O 2 KONTROL R: O 3 X 2 O 4 TUJUAN PEMBERIAN PRA-UJI PADA KELOMPOK EKSPERIMEN DAN KELOMPOK KONTROL ADALAH UNUTK MENGURANGI ANCAMAN VALIDITAS INTERNAL JENIS MORTALITAS. SEPERTI PADA RANCANGAN PENELITIAN SEBELUMNYA, EFEKTIVITAS PERLAKUAN EKSPERMEN DITUNJUKKAN OLEH PERBEDAAN HASIL PASCA UJI EKSPERIMEN O2 DENGAN HASIL PASCA UJI KONTROL O4. 3. RANCANGAN EMPAT KELOMPOK SOLOMON. EKSPERIMEN R: O 1 X 1 O 2 KONTROL R: O 3 X 2 O 4 EKSPERIMEN R: X 3 O 5 KONTROL R: X 4 O 6 RANCANGAN PENELITIAN INI MERUPAKAN KOMBINASI DARI DUA JENIS RANCANGAN PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN SEBELUMNYA. HAL INI DILAKUKAN KARENA ADANYA KESULITAN MENGONTROL PENGARUH VARIABEL NON-PENELITAN, MISALNYA PENGARUH IKLIM ATAU KONDISI TANAH PADA PENELITIAN BIDANG PERTANIAN.

67 RANCANGAN FAKTORIAL. RANCANGAN PAKTORIAL BANYAK DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN EKSPERIMENTAL SUNGGUHAN YANG MEMPUNYAI LEBIH DARI SATU VARIABEL BEBAS YANG DITELITI. RANCANGAN INI DAPAT MENGETAHUI PENGARUH ANTAR VARIABEL BEBASNYA, SELAIN MENGETAHUI PENGARUHNYA SECARA MANDIRI. JENIS RANCANGAN PENELITIAN TERGANTUNG KEPADA JUMLAH VARIBEL BEBAS YANG DITELITI DAN JUMLAH KATEGORINYA, DAN DITULISKAN DALAM BENTUK MATRIX, MISALNYA RANCANGAN FAKTORIAL: 2 X 2, RANCANGAN FAKTORAL: 3 X 3 DAN LAIN-LAIN. CONTOH RANCANGAN PENELITIAN FAKTORIAL: 2 X 2 DALAM PENELITIAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN. PENELITIAN BERTUJUAN UNTUK MENGETAHUI PEGARUH DUA VARIABEL BEBAS YAITU METODE MENGAJAR DAN LAMA STUDI TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA. MASING-MASING VARIABEL BEBAS MEMPUNYAI DUA KATEGORI, YAITU METODE MENGAJAR DENGAN KATEGORI METODE DISKUSI DAN METODE KULIAH TATAP MUKA. KATEGORI LAMA BELAJAR YAITU SELAMA 60 MENIT DAN 9 MENIT. MATRIK RANCANGAN PENELITIANNYA DIGAMBARKAN SEBAGAI BERIKUT: KATEGORI: METDE MNGAJAR & LAMA BELAJAR 60 MENIT90 MENIT KULIAH7468 DISKUSI7873 NILAI RATA- RATA: NILAI RATA-RATA: 76 70,5

68 68 V. PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN USULAN PENELITIAN ADALAH SUATU DOKUMEN ILMIAH YANG BERISI RENCANA PELAKSANAAN SUATU KEGIATAN PENELITIAN. PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN MEMPUNYAI DUA TUJUAN PENTING, YAITU: 1.SEBAGAI PEDOMAN BAGI PELKASANAAN KEGIATAN PENELITIAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN ILMIAH YANG DITETNTUKAN. 2.SEBAGAI PROPOSAL UNTUK MENDAPATKAN DANA YANG DIPERLUKAN UNTUK PELAKSANAAN PENELITIAN. USULAN PENELITIAN BIASANYA MENGIKUTI FORMAT TERTENTU, YANG DITENTUKAN OLEH LEMBAGA YANG MENYEDIAKAN DANA PENELITIAN ATAU LAIN MISALNYA LEMBAGA PENDIDIKAN UNTUK PENELITIAN AKADEMIK SEPERTI: SKRIPSI, THESIS, ATAU DISERTASI. KARENA ITU SUATU USULAN PENELITIAN HARUS DAPAT MENCERMINKAN KELAYAKAN KEGIATAN PENELITIAN, DITINJAU DARI DUA ASPEK, YAITU: 1. BOBOT DAN KELAYAKAN ILMIAH 2.KELAYAKAN DALAM PELAKSANAANNYA. KELAYAKAN USULAN PENELITIAN PALING TIDAK HARUS MEMEHUHI LIMA KRITERIA SEBAGAI BERIKUT: 1.PERMASALAHANNYA LAYAK DALAM ASPEK SUBYEKTIF DAN OBYEKTIF 2.MAMPU MENUNJUKKAN PENTINGNYA MASALAH YANG DITELITI, DARI ASPEK PENGEMBANGAN TEORI BARU DAN – ATAU APLIKASINYA. 3.ADANYA DUKUNGAN BAHAN PUSTAKA LENGKA DAN UP TO DATE DALAM ANALISIS DEDUKSI DALAM STUDI PUSTAKA 4.METODE PENELITIAN DIPAPARKAN SECARA DETAIL DAN JELAS.

69 69 5.INFORMASI YANG JELAS TENTANG PELAKSANAAN PNELITIAN, YANG MELIPUTI: BIAYA PENELTIAN, JADUAL PELAKSANAAN, DATA PERSONALIA PELAKSANA, DAN DUKUNGAN LAIN TERHADAP PELAKSANAANNYA. 5.1.ISI USULAN PENELITIAN UNTUK DAPAT MEMENUHI KRITERIA DIATAS DAN MEMENUHI STANDAR TULISAN ILMIAH, MAKA USULAN PENELITIAN TERDIRI DARI TIGA BAGIAN YAITU BAGIAN AWAL, BAGIAN UTAMA, DAN BAGIAN AKHIR SBB. A. BAGIAN AWAL 1. JUDUL PENELITIAN 2. KATA PENGANTAR 3. DAFTAR ISI 4. DAFTAR TABEL 5. DAFTAR GAMBAR 6. DAFTAR SYMBOL. B. BAGIAN UTAMA BAB I. PENDAHULUAN BAB II. TINJAUAN PUSTAKA BAB III. METODOLOGI PENELITIAN C. BAGIAN AKHIR 1. DAFTAR PUSTAKA 2. LAMPIRAN

70 70 ISI DARI USULAN PENELITIAN AKAN MENJADI BAGIAN DARI LAPORAN PENELITIAN, DENGAN MENAMBAH DUA BAB PADA BAGIAN UTAMA (BAB IV DAN BAB V SEBAGAI BERIKUT. BAB IV.HASIL PENGUMPULAN / ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN BAB V.KESIMPULAN DAN SARAN BEBERAPA BAGIAN LAIN DARI USULAN PENELITIAN PERLU DITAMBAH SERTA ATAU DIREVISI, APABILA ADA TAMBAHAN INFORMASI ATAU TEMUAN BARU DARI HASIL PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA DAN PEMBAHASAN. TAMBAHAN DAN REVISI TERSEBUT MISALNYA PERNYATAAN ORISINALITAS, RINGKASAN/SUMMARY, DAFTAR ISI, DAFTAR TABEL, DAFTAR GAMBAR, KAJIAN PUSTAKA, DAFTAR PUSTAKA, DAN LAMPIRAN. DENGAN DEMIKIAN PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN TELAH MENCAKUP LEBIH DARI SETENGAH DARI SEMUA KEGIATAN PELAKSANAAN PENELITIAN. DALAM ASPEK OPERASIONALISASI KEGIATAN ILMIAH, USULAN PENELITIAN TELAH MELAKSANAKAN ANALISIS MASALAH PENELITIAN YANG DILAPORKAN DALAM BAB I PENDAHULUAN, LOGIKA DEDUKSI DALAM BAB II TINJAUAN PUSTAKA, DAN PERSIAPAN LOGIKA INDUKSI DALAM BAB III METODOLOGI PENELITIAN. USULAN PENELITIAN YANG BAIK SELAIN MENJAMIN BOBOT ILMIAH PENELITIAN DAN SEBAGAI PEDOMAN PELAKSANAAN PENELITIAN, JUGA HARUS DAPAT MENJAMIN KEBERHASILAN PENELITIAN DALAM ASPEK PELAKSANAANNYA YANG MELIPUTI JADUAL WAKTU, KETERSEDIAAN PERALATAN DAN BIAYA YANG DIPERLUKAN, DAN KOMPETENSI DARI PARA PENELITI DAN TEKNISI PELAKSANA PENELITIAN. BERIKUT DIPAPARKAN PENJELASAN TENTANG ISI USULAN PENELITIANPENDAHULUAN, METODOLOGI PENELITIAN, DAN PELAKSANAAN PENELITIAN. BAHASAN TENTANG JUDUL PENELITIAN DAN TINJAUAN PUSTAKA SUDAH DIPAPARKAN DALAM BAB III LANGKAH- LANGKAH PELAKSANAAN PENELITIAN.

71 PENDAHULUAN BAB PENDAHULUAN BERFUNGSI SEBAGAI PENGANTAR TERHADAP KEGIATAN PENELITIAN YANG AKAN DILAKSANAKAN DAN BERISI LATAR BELAKANG, TUJUAN, DAN MANFAAT PENELITIAN. LATAR BELAKANG BERISI BAHASAN TENTANG PENTINGNYA TOPIK ATAU PERMASALAHAN YANG AKAN DITELITI, DALAM ASPEK PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN/ATAU APLIKASINYA. BAHASAN TENTANG TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN MENUJUKKAN LEBIH DETAIL TENTANG ASPEK IMPLEMENTASI DARI MASALAH YANG AKAN DITELITI. DALAM BAB PENDAHULUAN SERING MELIPUTI RUMUSAN MASALAH DAN BATASAN MASALAH, YANG SUDAH DIPAPARKAN DALAM BAB III METODOLOGI PENELITIAN. BAGIAN METODOLOGI PENELITIAN MEMBAHAS RENCANA PELAKSANAAN LOGIKA INDUKSI UNTUK MEMBUKTIKAN HIPOTESIS YANG TELAH DIRUMUSKAN DALAM BAHASAN TINJAUAN PUSTAKA. ANALISIS DEDUKSI MENGGUNAKAN BAHAN PUSTAKA SEBAGAI DASAR PEMECAHAN MASALAH YANG KEMUDIAN DIRUMUSKAN DALAM HIPOTESIS PENELITIAN. DALAM ANALISIS INDUKSI DIBUTUHKAN DATA EMPIRIS DARI EKSPERIMEN ATAU DATA LAPANGAN TENTANG PERMASALAHAN YANG AKAN DITELITI. SELANJUTNYA DENGAN LOGIKA INDUKSI (MENGGUNAKAN METODE STATISTIK) DATA DIINTERPRETASIKAN UNTUK MEMBUKTIKAN HIPOTESIS.

72 72 BEBERAPA HAL PENTING DALAM PENYUSUNAN METODOLOGI PENELITIAN ADALAH SEBAGAI BERIKUT: 1.PENENTUAN METODE PENDEKATAN UNTUK PEMBUKTIAN HIPOTESIS, YAITU JENIS PENELITIAN YANG DIGUNAKA. 2.ANALISIS VARIABEL-VARIABEL PENELITIAN. 3.PENENTUAN POPULASI DAN SAMPLE PENELITIAN 4.PENYUSUNAN RANCANGAN PENELITIAN. 5.RENCANA INSTALASI PERALATAN DAN INSTRUMEN PENGAMBIL DATA. 6.RENCANA PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA PENELITIAN 7.RENCANA ANALISIS DATA DAN METODE STATISTIK YANG DIGUNAKAN INFORMASI TENTANG PELAKSANAAN PENELITIAN INFORMASI TENTANG BIAYA, JADUAL PELAKSANAAN, DAN PERSONALIA PENELITIAN BERGUNA UNTUK MENGETAHUI KELAYAKAN DALAM ASPEK PELAKSANAAN PENELITIAN. SUATU TOPIK PENELITIAN YANG MEMPUNYAI PROSPEK HASIL YANG SANGAT PENTING ATAU BERMANFAAT, TIDAK DAPAT DILAKSANAKAN APABILA BIAYANYA TIDAK TERJANGKAU, PERALATANNYA BELUM TERSEDIA, ATAU PERSONALIA PENELITI NYA TIDAK MEMPUNYAI LATAR BELAKANG KEILMUAN ATAU TIDAK MEMPUNYAI PENGALAMAN MENELITI.

73 FORMAT PENULISAN USULAN PENELITIAN WALAUPUN ISI USULAN PENELITIAN PADA PRINSIPNYA SAMA, SEPERTI YANG TELAH DIBAHAS DIATAS, TETAPI FORMAT USULAN PENELITIAN DAPAT BERBEDA-BEDA, TERGANTUNG KEPADA KETENTUAN DARI LEMBAGA PEMBERI DANA ATAU YANG MEMPUNYAI OTORITAS TERHADAP KEGIATAN PENELITIAN. UNTUK PENULISAN USULAN PENELTIAN PROGRAM S2 DAN S3, PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS BRAWIJAYA (PPSUB) TELAH MEMBUAT BUKU PANDUAN PENULISAN PROPOSAL PENELITIAN THESIS DAN DISERTASI BAGI PARA MAHASISWA PPSUB. SETIAP LEMBAGA PENYEDIA DANA PENELITIAN BIASANYA MENENTUKAN FORMAT SENDIRI, DAN HARUS DIIKUTI OLEH PENELITI YANG MENGAJUKAN USULAN PENELITIAN. DI INDONESIA BEBERAPA INSTANSI PEMERINTAH DAN SWASTA MENGELUARKAN BUKU PANDUAN PENYUSUNAN USULAN PENELITIAN YANG DAPAT MEREKA DANAI. DISAMPING FORMAT PENULISAN USULAN, BEBERAPA LEMBAGA MENENTUKAN JENIS TOPIK ATAU BIDANG ILMU YANG PENELITIANNYA AKAN MEREKA DANAI. INSTANSI PEMERINTAH SEPERTI KEMENTERIAN RISTEK ATAU DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL BIASANYA MEMBIAYAI PENELITIAN YANG LEBIH BERSIFAT PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNLOGI. LEMBAGA SWASTA ATAU INDUSTRI BIASANYA MENDANAI PENELITIAN YANG BERSIFAT TERAPAN, SEPERTI: PEMECAHAN MASALAH ATAU PENGEMBANGAN PROSES ATAU METODE TERTENTU UNTUK PERBAIKAN DARI PRAKTEK YANG SEDANG DILAKUKAN.

74 74 VI. PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN LAPORAN PENELITIAN ADALAH LAPORAN AKHIR HASIL KEGIATAN PENELITIAN YANG TELAH DILAKUKAN. LAPORAN PENELITIAN MERUPAKAN SUATU TULISAN ILMIAH YANG DI DOKUMENTASIKAN DALAM BERBAGAI BENTUK SEPERTI CETAKAN, MIKROFILM, ATAU FILE ELEKTRONIK. LAPORAN PENELITIAN BIASANYA JUGA DITULIS DALAM ARTIKEL ILMIAH, YANG DIPUBLIKASIKAN DALAM MAJALAH ILMIAH (JURNAL ILMIAH), ATAU MELALUI SEMINAR ILMIAH FUNGSI LAPORAN PENELITIAN WALAUPUN ISI USULAN PENELITIAN PADA PRINSIPNYA SAMA, SEPERTI YANG TELAH DIBAHAS DIATAS, TETAPI FORMAT USULAN PENELITIAN DAPAT BERBEDA-BEDA, TERGANTUNG KEPADA KETENTUAN DARI LEMBAGA PEMBERI DANA ATAU MEMPUNYAI OTORITAS PENELITIAN. UNTUK PENULISAN THESIS PROGRAM S2 DAN S3, PPSUB TELAH MEMBUAT PANDUAN PENULISAN THESIS DAN DISERTASI BAGI PARA MAHASISWA PPSUB.


Download ppt "1 I. PENDAHULUAN 1.1. PENGERTIAN DAN DEFINISI 1. METODE PENELITIAN: METODE: CARA ATAU PROSEDUR UNTUK MELAKSANAKAN SUATU KEGIATAN. PENELITIAN: RISET DARI."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google