Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh : Dina Imelda Oleh : Dina Imelda Pembimbing : dr. Subandi, Sp. S-FINS 1.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh : Dina Imelda Oleh : Dina Imelda Pembimbing : dr. Subandi, Sp. S-FINS 1."— Transcript presentasi:

1 Oleh : Dina Imelda Oleh : Dina Imelda Pembimbing : dr. Subandi, Sp. S-FINS 1

2 Definisi Paralysis berarti hilangnya gerakan volunter karena gangguan salah satu jalur motoris di bagian manapun dari otak besar menuju serat otot Derajat ringan paralysis disebut paresis Kata plegia berasal dari bahasa Yunani berarti “menyerah”, dan kata palsy berasal dari bahasa Perancis yang memiliki arti sama dengan paralysis Kata-kata ini digunakan bergantian, secara umum digunakan paralysis atau plegia untuk gangguan fungsi motor berat atau komplit dan paresis untuk gangguan sebagian 2

3 LOWER MOTOR NEURON ANATOMI DAN FISIOLOGI Paralysis yang disebabkan oleh penyakit pada sel kornu anterior atau akar anterior memiliki pola berbeda dengan paralysis disebabkan gangguan pada saraf perifer Semua aktifitas motorik, bahkan jenis refleks ringan sekalipun memerlukan aktifitas berkesinambungan dari banyak otot Motor unit kecil diaktivasi sensorik aferen dari gelendong otot, tonik lebih aktif, lebih siap melakukan gerakan refleks, menjaga keseimbangan, berjalan, dan berlari 3

4 Con’t Motor unit besar berperan terutama pada gerakan fasik, di tandai letupan awal aktifitas otot agonis, kemudian letupan pada antagonis, diikuti letupan ketiga pada agonis Neuron besar kornu anterior dari saraf tulang belakang mengandung konsentrasi tinggi dari kolin asetiltransferase Gamma-aminobutyric acid (GABA) menjadi neurotransmitter penghambat dari interneuron pada kornu posterior 4

5 5

6 Paralisis Berkaitan Lesi Lower Motor Neuron Jika keseluruhan serat motor perifer yang mensuplai suatu otot akan terganggu, seluruh gerakan volunter, postural dan refleks dari otot akan hilang Paralisis lower motor neuron adalah sebab langsung dari hilangnya fungsi atau kerusakan sel kornu anterior atau akar akson anterior dan sarafnya Tanda dan gejala bervariasi tergantung lokasi lesi. Pada kasus, pertanyaan klinis terpenting adalah apakah ada perubahan sensorik 6

7 Con’t Pada lesi sumsum tulang belakang akut dan mendalam, lesi kortikospinalis di batang otak dan otak mungkin sementara menghapuskan refleks spinal myotatic (spinal shock) 7

8 UPPER MOTOR NEURON ANATOMI DAN FISIOLOGI Kata piramidal, kortikospinal, dan upper motor neuron sering digunakan bergantian, walaupun tidak sepenuhnya memiliki arti sama Yang mendampingi traktus kortikospinal di otak adalah traktus kortikobulbar, terdistribusi pada nukleus motorik dari saraf kranial ipsilateral dan kontralateral The Somatotopic organization dari sistem kortikospinal penting untuk klinis, terutama sehubungan dengan sindrom stroke tertentu 8

9 Con’t Traktus kortikospinal dan upper motor neuron lainnya berakhir sehubungan dengan sel saraf pada zona intermediate gray matter (neuron internuncial), asal dimana impuls motorik ditransmisikan ke sel kornu anterior 9

10 10

11 Motorik, Premotorik, dan Supplementary Korteks Motorik dan Kontrol Otak Terhadap Gerakan Area motorik dari korteks serebral didefinisikan secara fisiologis sebagai area korteks yang dapat dirangsang letupan listrik dari gerakan terisolasi dibangkitkan dengan rangsangan berintensitas minimal Kelompok otot kontralateral dari wajah, tangan, tungkai dan kaki dipresentasikan pada korteks motorik primer (area 4 Fig. 3-3) Area 6, premotor area, juga termasuk yang dapat dirangsang letupan listrik, namun memerlukan rangsangan lebih besar dari area 4 untuk menimbulkan gerakan 11

12 Con’t Supplemetary motor area, adalah bagian paling anterior dari area 6 pada sisi medial hemisfer serebri (6a pada fig. 3-3B) Prefrontal cortex, supplementary motor cortex, premotor cortex dan motor cortex bertanggung jawab terhadap berbagai rangsangan dan terlibat dalam pengaturan sebelum perubahan dan berkoordinasi dengan gerakan yang kompleks 12

13 13

14 14

15 Terminasi dari Kortikospinal dan Descending Traktus Motorik lainnya Tiga kelompok serat motorik dibedakan berdasarkan perbedaan distribusi terminalnya: (1) Traktus kortikospinal dan kortikobulbar, memproyeksikan semua tingkatan tulang belakang dan batang otak, berakhir secara luas melalui nucleus propius dari kornu dorsalis dan zona intermediate (2) Jalur ventromedial, dari tektum (traktus tektospinal), vestibular nuclei (vestibulospinal tract) dan pontin dan sel retikuler meduler (reticulospinal tract) berakhir pada sel internuncial bagian ventromedial area abu-abu spinal (3) Jalur lateral, dari bagian magnocellular nukleus merah dan berakhir di zona internuncial 15

16 Paralisis Disebabkan Lesi Upper Motor Neuron Serat thalamacortical, merupakan mata rantai terpenting pada sistem serat ascending dari basal ganglia dan cerebellum, juga melewati capsula interna dan white matter serebri. Lesi pada area ini secara simultan menyebabkan lesi baik itu pada sistem kortikospinal dan extrapiramidal Distribusi paralisis disebabkan lesi upper motor neuron bervariasi dengan lesi lokal tetapi ciri-ciri tertentu adalah karakteristiknya Lesi upper motor neuron ditandai kekhasan dalam mempertahankan gerakan tertentu 16

17 Con’t Jika upper motor neuron terganggu diatas nukleus facialis di pons, otot tangan dan lengan terganggu paling parah dan otot kaki terganggu sedikit Pada level bawah, misal pada tulang belakang, lesi akut komplit pada upper motor neuron tidak hanya menyebabkan paralisis gerakan volunter tapi juga menghilangkan sementara refleks spinal pada segmen dibawah lesi  spinal shock 17

18 Spastisitas, Hiperefleksi, dan Tanda Babinski Jika tahanan meningkat sehubungan dengan kemampuan peregangan, refleks tendon meningkat  spastisitas Indikasi paling sensitif untuk lesi upper motor neuron adalah tanda Babinski Kondisi hiperefleksi ditandai spastisitas dalam bentuk klonus, serial kontraksi otot involunter ritmik terjadi pada frekuensi 5-7 Hz sebagai respon gerakan tiba-tiba dan terus menerus dari rangsang regang dari patella atau ankle 18

19 19

20 Gangguan Motorik Disebabkan Lesi Lobus Parietal Lobus parietal adalah sumber utama informasi penting visual dan taktil untuk kontrol gerakan Pasien tidak dapat mempertahankan posisi stabil dengan tangan terentang, mata tertutup dan tidak dapat mempertahankan kontraksi Gerakan dan mamipulasi benda kecil terganggu, kecepatan mengetuk menghilang 20

21 APRAKSIA DAN GANGGUAN NONPARALISIS FUNGSI MOTORIK Lesi lobus frontal  mengurangi kemampuan berpikir, bicara, dan bertindak Apraksia adalah kondisi dimana pasien kehilangan kemampuan untuk melakukan aktifitas yang pernah dipelajari sebelumnya tanpa kelemahan, ataxia, kehilangan rasa sensorik atau gangguan ekstrapiramidal 21

22 POLA PARALISIS DAN DIAGNOSIS Monoplegia Kelemahan atau paralisis dari otot satu lengan atau kaki Monoplegia tanpa Atrofi Otot Sering karena lesi pada korteks serebri Penyebab tersering lesi serebrovaskular; dapat juga terjadi karena tumor atau abses Monoplegia karena lesi upper motor neuron biasanya bersamaan dengan adanya spastisitas, refleks meningkat, dan tanda Babinski Studi konduksi otot masih normal 22

23 Con’t Monoplegia dengan Atrofi Otot Lebih sering terjadi dibanding monoplegia tanpa gangguan otot Tidak digunakannya otot dalam waktu yang lama pada satu anggota gerak menimbulkan atrofi, tetapi masih lebih ringan dibandingkan atrofi pada lesi lower motor neuron Masih ada reflek tendon dan studi konduksi otot masih normal 23

24 Hemiplegia Bentuk paling umum dari paralisis, mencakup lengan, kaki dan terkadang wajah pada satu sisi Kerusakan traktus kortikospinal dan kortikobulbar pada area atas dari batang otak juga dapat menyebabkan paralisis pada wajah, lengan dan kaki pada posisi berlawanan Paraplegia Kelemahan atau paralisis dari kedua anggota gerak bawah Disebabkan penyakit mengenai tulang belakang, akar saraf, atau saraf perifer Penyebab utama akut paraplegia adalah trauma tulang belakang Myelitis transversa adalah penyebab akut paraplegia pada masa kanak-kanak 24

25 Tetraplegia Kelemahan atau paralisis dari keempat ekstremitas Triplegia Kelemahan ketiga anggota gerak, jarang Anggota gerak keempat lemah atau hiperefleksi, sindrom seperti inkomplit tetraplegia Tanda babinski bilateral Paralysis of Isolated Muscle Groups Mengindikasikan lesi dari satu atau lebih saraf perifer atau beberapa akar saraf spinal Electromiografi dan studi konduksi otot berperan disini 25

26 Paralisis Histerikal Dapat mengenai satu tangan atau kaki, kedua kaki atau separuh tubuh Refleks tendon normal Kelemahan inkonsisten Hoover sign dan tanda Babinski trunk-thigh membantu membedakan dari organik hemiplegia Paralisis Otot dan Spasme Tanpa Perubahan Nyata Pada Saraf atau Otot Terdiri dari: myasthenia gravis; inflammatory myopathies, the muscular dystrophies, dan myotonia congenital (Thomsen disease);, familial periodic paralysis; disorders of potassium, sodium, calcium, dan magnesium metabolism; tetany; tetanus; poisoning by Clostridium botulinum; black widow spider bite; dan the thyroid and endocrine myopathies lainnya. 26

27 27


Download ppt "Oleh : Dina Imelda Oleh : Dina Imelda Pembimbing : dr. Subandi, Sp. S-FINS 1."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google