Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

 Berbicara dalam kegiatan wawancara  Persiapan wawancaca  Pelaksanaan wawancara Hakikat Wawancara (Pertemuan ke-6)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: " Berbicara dalam kegiatan wawancara  Persiapan wawancaca  Pelaksanaan wawancara Hakikat Wawancara (Pertemuan ke-6)"— Transcript presentasi:

1  Berbicara dalam kegiatan wawancara  Persiapan wawancaca  Pelaksanaan wawancara Hakikat Wawancara (Pertemuan ke-6)

2 Wawancara  proses pencarian data berupa pendapat/pandangan/pengamatan seseorang yang akan digunakan sebagai salah satu bahan penulisan karya jurnalistik. Wawancara sangat penting dalam dunia jurnalistik. Wawancara vs reportase Apakah wawancara sama dengan reportase? Jawabnya adalah tidak. Reportase memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas dari wawancara, sedangkan wawancara adalah salah satu teknik reportase. Hakikat Wawancara

3 1.Man in the street interview. Untuk mengetahui pendapat umum masyarakat terhadap isu/persoalan yang akan diangkat jadi bahan berita. 2.Casual interview. Wawancara mendadak. Jenis wawancara yang dilakukan tanpa persiapan/perencanaan sebelumnya. 3.Personality interview. Wawancara terhadap figur- figur publik terkenal. Atau orang yang memiliki kebiasaan/prestasi/sifat unik, yang menarik untuk diangkat sebagai bahan berita. 4.News interview. Wawancara untuk memperoleh informasi dari sumber yang mempunyai kredibilitas atau reputasi di bidangnya. Jenis Wawancara

4 1.Lakukanlah persiapan sebelum melakukan wawancara. 2.Taatilah peraturan dan norma-norma yang berlaku di tempat pelaksanaan wawancara tersebut. 3.Jangan mendebat nara sumber. 4.Hindarilah menanyakan sesuatu yang bersifat umum 5.Ungkapkanlah pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin 6.Hindari pengajuan dua pertanyaan dalam satu kali bertanya 7.Pewawancara hendaknya pintar menyesuaikan diri terhadap berbagai karakter nara sumber 8.Bisa menjalin hubungan personal dengan nara sumber 9.Tidak memihak 10.Proses untuk menemui nara sumber Wawancara yang Baik

5 1.Lakukanlah persiapan sebelum melakukan wawancara. Persiapan tersebut menyangkut outline wawancara, penguasaan materi wawancara, pengenalan mengenai sifat/karakter/kebiasaan orang yang hendak kita wawancarai, dan sebagainya. 2.Taatilah peraturan dan norma-norma yang berlaku di tempat pelaksanaan wawancara tersebut. Sopan santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap norma/etika setempat, adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar kita dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat pelaksanaan wawancara. Wawancara yang Baik

6 3. Jangan mendebat nara sumber. Tugas seorang pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari nara sumber, bukan berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya, biarkan saja. Jangan didebat. Kalaupun harus didebat, sampaikan dengan nada bertanya, alias jangan terkesan membantah. Contoh yang baik: "Tetapi apakah hal seperti itu tidak berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak?" Contoh yang lebih baik lagi: "Tetapi menurut Tuan X, hal seperti itu kan berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri. Bagaimana pendapat Bapak?" Contoh yang tidak baik: "Tetapi hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak.“ 4. Hindarilah menanyakan sesuatu yang bersifat umum, dan biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal ini akan sangat membantu untuk memfokuskan jawaban nara sumber. Wawancara yang Baik

7 5. Ungkapkanlah pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin dan to the point. Selain untuk menghemat waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan mencerna ucapan si pewawancara. 6. Hindari pengajuan dua pertanyaan dalam satu kali bertanya. Hal ini dapat merugikan kita sendiri, karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya pertanyaan terakhir yang didengarnya. Wawancara yang Baik

8 7. Pewawancara hendaknya pintar menyesuaikan diri terhadap berbagai karakter nara sumber. Untuk nara sumber yang pendiam, pewawancara hendaknya dapat melontarkan ungkapan-ungkapan pemancing yang membuat si nara sumber "buka mulut". Sedangkan untuk nara sumber yang doyan ngomong, pewawancara hendaknya bisa mengarahkan pembicaraan agar nara sumber hanya bicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan materi wawancara. 8. Pewawancara juga hendaknya bisa menjalin hubungan personal dengan nara sumber, dengan cara memanfaatkan waktu luang yang tersedia sebelum dan sesudah wawancara. Kedua belah pihak dapat ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, atau hal- hal lain yang berguna untuk mengakrabkan diri. Ini akan sangat membantu proses wawancara itu sendiri, dan juga untuk hubungan baik dengan nara sumber di waktu-waktu yang akan datang. Wawancara yang Baik

9 9. Jika kita mewawancarai seorang tokoh yang memiliki lawan ataupun musuh tertentu, bersikaplah seolah-olah kita memihaknya, walaupun sebenarnya tidak demikian. Seperti kata pepatah, "Jangan bicara tentang kucing di depan seorang pecinta anjing". 10. Bagi seorang reporter pers yang belum ternama, seperti pers kampus dan sebagainya, kendala terbesar dalam proses wawancara biasanya bukan wawancaranya itu sendiri, melainkan proses untuk menemui nara sumber. Agar kita dapat menemui nara sumber tertentu dengan sukses, diperlukan perjuangan dan kiat-kiat yang kreatif dan tanpa menyerah. Salah satu caranya adalah rajin bertanya kepada orang-orang yang dekat dengan nara sumber. Koreklah informasi sebanyak mungkin mengenai nara sumber tersebut, misalnya nomor teleponnya, alamat villanya, jam berapa saja dia ada di rumah dan di kantor, di mana dia bermain golf, dan sebagainya. Wawancara yang Baik

10 Cara memperoleh/mengumpulkan berita  melalui reportase, yang bertujuan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin data yang berhubungan dengan karya jurnalistik yang akan dibuat. Pihak yang menjadi objek reportase disebut nara sumber. Nara sumber ini bisa berupa manusia, makhluk hidup selain manusia, alam, ataupun benda-benda mati. Jika nara sumbernya berupa manusia, maka reportase tersebut bernama wawancara.  Dengan demikian, ada sedikit perbedaan antara reportase dengan wawancara. Wawancara merupakan bagian dari reportase, dan reportase tidak hanya dapat dilakukan terhadap manusia. Media Cetak vs Media Elektronik

11 Wawancara untuk media cetak berbeda dengan wawancara untuk media elektronik. Wawancara untuk media elektronik biasanya dikemas semenarik mungkin. Sebelum wawancara berlangsung, seringkali dilakukan briefing antara pewawancara dan nara sumber, yang bertujuan untuk menjaga kelancaran wawancara. Hal ini dilakukan karena wawancara untuk media elektronik merupakan "produk" tersendiri yang "dijual" kepada pemirsa/pendengar. Sedangkan dalam media cetak, yang terpenting bagi pembaca adalah tulisan yang dibuat berdasarkan hasil reportase, sehingga proses wawancara tidaklah penting bagi mereka. Karena itu, wawancara untuk media cetak dapat berlangsung tanpa kemasan yang menarik ataupun briefing antara wartawan dengan nara sumber. Satu-satunya persiapan yang perlu dilakukan adalah persiapan wartawan itu sendiri, yang mencakup bahan wawancara dan pengetahuan umum mengenai materi wawancara. Sedangkan proses wawancaranya dapat berlangsung dalam berbagai situasi dan tempat. Bisa di kantor, di restoran sambil makan siang, lewat telepon, sambil berjalan menuju halaman parkir, sambil ngobrol, dan sebagainya. Media Cetak vs Media Elektronik

12 Teknik & Persiapan Wawancara SUMBER berita, selain diperoleh dalam suatu peristiwa atau kejadian di lapangan juga bisa dari hasil wawancara. Mengadakan wawancara atau interview pada prinsipnya merupakan usaha untuk menggali keterangan yang lebih dalam dari sebuah berita dari sumber lain yang relevan. Informasi atau keterangan itu bisa berupa pendapat, kesan, pengalaman, pikiran dan sebagainya. Referensi : - Oleh: Mulyadi Adhisupo - Langkah Awal Menjadi Presenter, Oleh Hendi Triono - Teknik Wawancara, hlm. 72

13 Sumber Informasi (Informan)  Dalam dunia jurnalistik, wawancara selalu dimaksudkan  upaya untuk mendapatkan berita, komentar atau opini sehubungan dengan sesuatu yang berhubungan dengan otoritas yang dimiliki seseorang. Mis: keterangan atau informasi tentang kampanye advokasi pengelolaan sumber daya hutan yang adil & berkelanjutan atau perubahan PP tentang pengelolaan hutan negara  (yg punya otoritas : Kel.Tani Hutan, Kadinas Kehutanan, Menteri Kehutanan). Namun wawancara yg dilakukan untuk mendapat bahan tulisan yang bersifat ‘human interest’ tidak harus dilakukan dengan seseorang yang mempunyai otoritas tetapi siapapun bisa menjadi sumber berita untuk diwawancarai. Mis: kelompok tani di Gunungkidul dan Kulonprogo yang tengah berjuang mendapat izin pengelolaan hutan negara tidak hanya sekadar 5 thn tetapi 35 thn. Perjuangan ini sangat menarik karena menyangkut mati hidup kelompok tani yang berada di sekitar hutan. Hidup dan matinya masyarakat di sekitar hutan tiba-tiba diputus tentu akan menjadi pusat perhatian.

14 Mencari Informasi Untuk melengkapi dan mempertajam suatu berita wartawan harus melakukan wawancara. Mis: seseorang berhasil mengendus kasus illegal logging, selain memberitakan kasus dari pernyataan seseorang, harus mencari informasi yg akurat dan faktual untuk mendapat kebenaran kasus itu kepada yang lebih punya otoritas untuk memperjelas persoalan, siapa di balik kasus tersebut. Hasil dari wawancara diharapkan menjadi laporan, mengungkapkan fakta, memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang illegal logging. Wawancara dapat dilakukan dengan pemangku adat,polisi hutan, masyarakat di sekitar hutan, juga penguasa di tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten, gubernur, Kapolri sampai pelaku.

15 Berita: Fakta & Opini Berita yang disajikan merupakan perpaduan antara fakta (fact news) dan opini / pendapat / omongan (talk news). Untuk menggali keterangan atau informasi dari seseorang, wawancara yang diperlukan tidak sekedar sambil lalu, tetapi memerlukan kekhususan. Dalam dunia jurnalistik wawancara khusus opini mempunyai nilai tambah, lebih-lebih kalau yang menjadi sumber wawancara memiliki nama atau keistimewaan dan opini yang dikemukakan merupakan suatu yang sama sekali baru dan belum pernah dikemukakan kepada media lain.

16 Persiapan Wawancara > Untuk melakukan wawancara memerlukan persiapan dengan langkah-langkah sbb: 1)Sebelum wawancara hrs menguasai persoalan, kalau perlu membuat daftar pertanyaan dari yang bersifat umum sampai detail. 2)Menentukan arah permalahan dilengkapi berbagai berita terkait 3)Menetapkan siapa saja yg akan menjadi nara sumber. Harus jelas kriterianya mengapa mewawancarai nara sumber tersebut. 4) Mengenali sifat-sifat nara sumber sebelum wawancara  tanya kepada orang lain atau membaca tulisan dan riwayat hidup termasuk hobi, keluarganya, dan kesukaan lainnya.

17 Persiapan Wawancara 5) Membuat janji dulu  kapan waktu yang luang dan tepat 6) Persiapan mental krn masing2 pribadi punya karakter yang berbeda, shg perlu membaca karakter calon nara sumber. 7) Persiapan lainnya  membawa bloknote, pena, tape recorder, kamera. 8) Dianjurkan untuk berpakaian rapi dan sopan. Untuk mendapatkan hasil yang baik harus menemukan orang yg sesuai dengan bidang dan keahlian, atau bisa juga karena hobi terkait dengan permasalahan yang akan menjadi topik wawancara.

18 Melakukan Wawancara Kalau sudah ada janji mau wawancara dan waktu sudah ditentukan maka sudah selayaknya menepati waktu yang sudah disepakati bersama. Namun wawancara itu bisa dilakukan di mana dan kapan saja, meski mendadak, tetapi penguasan masalah tetap harus dipegang, supaya informasi yang didapatkan sesuai dan memberi nilai tambah pada berita yang diharapkan. Wawancara bisa dilaksanakan di mana saja, seperti di depan pintu, ketika narasumber sedang masuk mobil Namun diperlukan persiapan matang dari wartawan, terutama pengenalan lebih dulu pewancara dengan nara sumber.

19 Pelaksanaan Wawancara Saat wawancara yang perlu diperhatian adalah: 1. Menjaga Suasana 2. Bersikap Wajar 3. Memelihara Situasi 4. Tangkas Menarik Kesimpulan 5. Menjaga Pokok Persoalan 6. Kritis 7. Sopan Santun 1.Menjaga Suasana Ini sangat penting dalam pelaksanaan wawancara dibuat lebih rileks, sehingga berjalan dengan santai tidak terlalu formal meskipun membahas masalah yang serius. Menciptakan suasana nyaman dan baik memerlukan waktu, sebelum memasuki materi lebih enak kalau dibuka dengan hal-hal yang umum. Misalnya, keadaan nara sumber: kesehatan, hobi dan yg mungkin menyentuh hati.

20 Pelaksanaan Wawancara 2. Bersikap Wajar Dalam mewawawancarai narasumber yang benar- benar pakar, ada yg tidak menguasai persoalan  jgn rendah diri atau merasa lebih tinggi, seharusnya bisa mengimbangi atau mengangkatnya. Pewawancara juga harus bisa mencegah supaya narasumber tidak berceramah, krn itu perlu menguasai materi, selain menguasai nara sumber dan pandai-pandai membawakan diri agar tidak direndahkan. 3. Memelihara Situasi Pewawancara jangan terbawa emosi, hrs dikuasai utk mendapat informasi yang dibutuhkan dan jangan sampai terjebak ke dalam situasi, berdiskusi, yg panjang, berdebat, apalagi menghakimi. Mis: wwncara dg direktur rumah sakit terkait dengan kasus flu burung, karena etika kedokteran hrs merahasiakan informasi.

21 Pelaksanaan Wawancara 4. Tangkas Menarik Kesimpulan Pada saat wawancara berlangsung dituntut untuk secara setia mengikuti setiap jawaban yg diberikan nara sumber untuk menarik kesimpulan dengan tangkas, spy nara sumber tdk mengulang kembali apa yang telah disampaikan. Juga spy tidak kehilangan sumber berita, karena nara sumber takut salah kutip. Cek kembali istilah atau bahasa Inggrisnya. 5. Menjaga Pokok Persoalan Menjaga pokok persoalan sangat penting dalam setiap wawancara agar dalam menggali informasi mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya  jgn hanya mengikuti apa yang dikatakan nara sumber.

22 Pelaksanaan Wawancara 6. Kritis Sikap kritis perlu agar mendapat informasi rinci dan lengkap  kejelian menangkap pokok pembicaraan dan jeli menangkap gerakan-gerakan yang diwawancarai, meluruskan data bila nara sumber salah mengungkapkannya. Baik itu tentang angka, tempat kejadian dsb. Ini penting sebagai bahan untuk menuliskan laporan, sehingga benar-benar utuh dan penuh warna (bisa mendeskripsikan sifat narasumber saat diwawancara) 7. Sopan Santun Sopan santun perlu dijaga, krn menyangkut etiket pergaulan. Jgn bersikap sembarangan, sombong atau perilaku yang tidak simpatik lainnya. Mis: merokok sementara narasumber tidak merokok Kondisi ruangan yg ber-AC, mengucapkan rasa terima kasih di awal dan akhir, berpesan menghubungi bila data masih kurang. Jgn gusar jika ditolak utk wawancara, janji lagi lewat telp, jgn menjanjikan akan dimuat, tapi yakinkan hasilnya berguna.

23 Penulisan Wawancara Hasil wawancara bisa dituangkan dalam beberapa bentuk penulisan sesuai dengan tujuan wawancara yang telah dilakukan. Bila hasil wawancara akan digabungkan dengan hasil wawancara yang lain, cara menuliskannya akan lain dengan bentuk penulisan yang didasarkan pada satu wawancara. Hasil wawancara dapat dipergunakan untuk bahan penulisan berita atau straight news, laporan atau tulisan khusus wawancara.

24


Download ppt " Berbicara dalam kegiatan wawancara  Persiapan wawancaca  Pelaksanaan wawancara Hakikat Wawancara (Pertemuan ke-6)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google