Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Penyusunan Neraca Fisik dan Moneter Hutan Oleh Direktorat Neraca Produksi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Penyusunan Neraca Fisik dan Moneter Hutan Oleh Direktorat Neraca Produksi."— Transcript presentasi:

1 Penyusunan Neraca Fisik dan Moneter Hutan Oleh Direktorat Neraca Produksi

2 PENDAHULUAN ● Salah satu upaya untuk membuat pengelolaan hutan lestari adalah dengan melakukan inventarisasi perubahan cadangan sumberdaya hutan dan kemudian melakukan valuasi terhadap manfaat dan biaya dari penggunaan hutan tersebut. ● Hasil pengukuran perubahan fisik dan valuasinya dapat dinyatakan dalam bentuk Neraca sumber Daya Hutan (NSDH), dimana prinsipnya memuat keseimbangan dan arus (flow) pemanfaatan hasil hutan dan pemulihannya dalam suatu periode. ● Adanya penyajian informasi Neraca Sumber Daya Hutan yang berkesinambungan tentu sangat bermanfaat sebagai bahan penunjang bagi tersusunnya suatu sistem pembangunan ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

3 ● Salah satu alat ukur yang keberhasilan pembangunan adalah besaran pendapatan per kapita penduduk, yang diperoleh dari statistik Pendapatan Nasional. Indikator umum yang lazim digunakan adalah besarnya Produk Domestik Bruto (PDB) yang diciptakan. ● Namun dilihat dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan, penggunaan PDB sebagai indikator pembangunan dinilai masih belum cukup sehingga dalam jangka panjang cakupannya harus diperluas dengan memperhitungkan penipisan (deplesi) sumber daya alam dan degradasi lingkungan.

4 Persediaan awal ( begining stock ) kayu log + pertumbuhan + penanaman baru - pengambilan atau penebangan kayu - kerusakan kayu = Persediaan akhir ( final stock ) kayu log KERANGKA METODOLOGI DAN SUMBER DATA ● Dalam menyusun neraca sumber daya hutan, terlebih dahulu harus disusun neraca fisik. Neraca fisik kayu menunjukkan kondisi awal masing-masing komoditi kayu pada periode tertentu, kemudian ditambah arusnya ( flow ) sehingga diperoleh kondisi akhir masing-masing komoditi kayu tersebut. Neraca ini membentuk persamaan seperti di bawah ini:

5 ● Setelah neraca fisik kayu tersusun, untuk menghitung neraca moneter kayu, perlu dihitung terlebih dahulu unit rent yang merupakan bagi hasil anatar rente ekonomi kayu terhadap volume fisik yang dihasilkan Rente ekonomi ( economic rent ) adalah kelebihan nilai penerimaan atas biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh output dan biaya guna memulihkan kondisi sumber daya hutan dan lingkungan, tidak termasuk pajak retribusi dan pungutan-pungutan lainnya oleh pemerintah; serta dikurangi pula dengan hasil investasi yang normal. Rente per unit (unit rent) adalah hasil bagi antara rente ekonomi terhadap volume fisik sumber daya kayu yang dihasilkan Rente ekonomi ( economic rent ) adalah kelebihan nilai penerimaan atas biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh output dan biaya guna memulihkan kondisi sumber daya hutan dan lingkungan, tidak termasuk pajak retribusi dan pungutan-pungutan lainnya oleh pemerintah; serta dikurangi pula dengan hasil investasi yang normal. Rente per unit (unit rent) adalah hasil bagi antara rente ekonomi terhadap volume fisik sumber daya kayu yang dihasilkan

6 ● Untuk memperoleh unit rent spesifik kayu tertentu (misalnya kayu Jati, dalam produksi Perum Perhutani) maka proses pemisahan biaya-biaya yang tercampur dalam laporan keuangan Perum Perhutani (seperti biaya umum, biaya produksi kayu tebangan, biaya pemasaran, dan biaya penyusutan) digunakan alokasi penjualan dalam negeri terhadap penjualan dalam dan luar negeri. Sedangkan total aktiva maupun aktiva tetap kayu Jati menggunakan proporsi laba kayu Jati terhadap laba Perum Perhutani. ● Neraca moneter kayu merupakan neraca fisik yang dinilai dalam bentuk uang. Untuk mendapatkan nilai dibutuhkan harga, dan harga yang digunakan bukanlah harga jual komoditi kayu melainkan harga yang dinilai dalam besaran rente ekonomi hasil kayu tersebut. ● Rincian neraca moneter identik dengan neraca fisik, hanya saja pada neraca moneter muncuk rincian baru yaitu revaluasi. Rincian ini merupakan faktor koreksi terhadap adanya fluktuasi harga selama suatu periode waktu tertentu.

7 Komponen-komponen Neraca Fisik dan Moneter Kayu PerincianSatuan I. Neraca Fisik 1. Persediaan awal kayu ( begining stock ) 2. Pertambahan ( addition ) a. pertumbuhan ( growing ) b. penanaman ( planting ) 3. Penyusutan ( depletion ) a. pemotongan ( cutting ) b. perubahan ( convertion ) c. kerusakan ( destruction ) - oleh manusia ( human ) - oleh alam ( natural ) - penebangan ( log damaging ) 4. Perubahan neto ( net change ) 5. Persediaan akhir ( final stock ) II. Neraca Moneter 1. Persediaan awal 2. Pertumbuhan (+) 3. Penanaman (+) 4. Konversi & kerusakan (-) 5. Penebangan (-) 6. Revaluasi *)(+) 7. Persediaan akhir Catatan: Volume kayu dinyatakan dalam m 3, sedangkan nilai dinyatakan dalam rupiah *) Nilai revaluasi adalah selisih harga unit rent tahun ke-n dengan tahun n-1, kemudian dikalikan dengan kuantum persediaan awal tahun ke-n

8 DATA DASAR ● Data persediaan awal tahun kayu Jati diperoleh dari Perum Perhutani (BUMN Kehutanan). Angka tersebut didasarkan pada sebaran luas hutan produksi pohon Jati menurut kelompok umur, kemudian dilakukan dengan potensi kayu masing-masing pohon. ● Pertumbuhan kayu jati per tahun diperoleh melalui perkalian antara perkiraan luas area hutan produksi Jati dengan perkiraan riap pohon Jati per tahun. Riap per tahun kayu Jati adalah 4,3 m 3 /ha. ● Angka penanaman diperoleh melalui pendekatan banyaknya luas area penanaman tanaman reboisasi dikalikan dengan perkiraan rata-rata riap per tahun tanaman Jati usia muda. ● Angka penebangan diperoleh dari produksi Jati. ● Angka kerusakan Jati diestimasi dari perkiraan nilai kerugian kayu Jati dibagi dengan rata-rata harga kayu Jati.

9 SUMBER DATA ● Data sebaran luas area hutan produksi, luas area reboisasi, angka produksi kayu log Jati, dan nilai kerugian kayu Jati dari Perum Perhutani (BUMN Kehutanan). ● Angka riap pohon Jati per tahun dan riap pohon Jati usia muda per tahun diperoleh dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Kehutanan. ● Data laporan keuangan beserta rasio-rasio keuangan dari Laporan Tahunan Perum Perhutani.

10 Contoh Penghitungan Neraca Fisik Kayu Jati di Jawa Timur No.UraianSatuanJumlah 1 Persediaan Awal Tahun M ,6 2 Pertumbuhan:000 M ,6 - Luas area hutan produksiHa Rata-rata kemampuan riap per haM 3 /Ha4,3 3 Penanaman:000 M 3 13,3 - Luas area reboisasi (rutin + pembangunan)Ha Rata-rata kemampuan riap per ha jati usia mudaM 3 /Ha1,0 4 Konversi dan Kerusakan:000 M 3 998,8 - Estimasi nilai kerugian atas kerusakan & konversi hutan kayu jati Perum Perhutani Juta Rp Harga rata-rata Kayu jatiRp/M Penebangan:000 M 3 329,9 - Produksi kayu jati A - E Perum PerhutaniM3M Perubahan Neto:000 M ,8 - Pertumbuhan + Penanaman – Konversi & Kerusakan - PenebanganM3M Persediaan Akhir Tahun M ,8 - Persediaan Awal Perubahan NetoM3M

11 Contoh Penghitungan Unit Rent Kayu Jati di Jawa Timur No.UraianSatuanJumlah 1 Penjualan Dalam Negeri (Kayu Log) Tahun 1999Juta Rp ,5 2 Biaya-biaya:Juta Rp ,0 - Biaya UmumJuta Rp48.875,1 - Biaya Produksi Kayu TebanganJuta Rp86.287,4 - Biaya PemeliharaanJuta Rp6,7 - Biaya EksploitasiJuta Rp103,1 - Biaya PemasaranJuta Rp7.155,5 - Biaya PenyusutanJuta Rp5.410,3 3 Laba Usaha (Sebelum Pajak)Juta Rp Total AktivaJuta Rp ROI (Baris 3 : Baris 4)-1,31 6 Aktiva TetapJuta Rp Aktiva Tetap x ROIJuta Rp Economic Rent Kayu Jati (Baris 3 – Baris 7) Juta Rp Total Produksi Kayu JatiM3M Unit Rent Kayu Jati (Baris 8 : Baris 9)Rp/M

12 Tahapan tentang Penghitungan Unit Rent Kayu Jati ● Laba usaha kayu Jati sebelum pajak diperoleh dengan mengurangkan biaya-biaya terkait dengan hasil penjualan dalam negeri kayu Jati. Biaya-biaya seperti biaya umum, biaya produksi kayu tebangan, biaya pemasaran, dan biaya penyusutan menggunakan alokasi penjualan dalam negeri terhadap total penjualan dalam negeri dan luar negeri. Sedangkan biaya pemeliharaan dan biaya eksploitasi menggunakan proporsi terhadap harga pokok penjualan. ● Total aktiva kayu Jati diperoleh dari proporsi laba kayu Jati terhadap laba Perum Perhutani dikalikan dengan total aktiva Perum Perhutani. ● Return on Investment (ROI) adalah laba sebelum pajak dibagi dengan total aktiva. ● Aktiva tetap kayu Jati diperoleh dari proporsi laba kayu Jati terhadap laba Perum Perhutani dikalikan dengan aktiva tetap Perum Perhutani. ● Economic rent diperoleh dari laba usaha dikurangi dengan hasil kali aktiva tetap dengan ROI. ● Unit rent kayu Jati adalah economic rent dibagi dengan total produksi kayu Jati Perum Perhutani Jawa Timur.

13 Contoh Penghitungan Neraca Moneter Kayu Jati di Jawa Timur No.UraianSatuanJumlah Diketahui: - Unit Rent Kayu Jati Tahun 1999Juta Rp Unit Rent Kayu Jati Tahun 1998Juta Rp Persediaan Awal Tahun 1999Juta Rp ,5 2 PertumbuhanJuta Rp ,9 3 PenanamanJuta Rp3.906,5 4 Konversi dan Kerusakan:Juta Rp ,9 5 PenebanganJuta Rp96.962,4 6 Perubahan NetoJuta Rp ,9 7 RevaluasiJuta Rp7.533,6 8 Persediaan Akhir Tahun 1999Juta Rp ,2

14 Sekian


Download ppt "Penyusunan Neraca Fisik dan Moneter Hutan Oleh Direktorat Neraca Produksi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google