Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

2 Tujuan Modul Setelah mempelajari modul ini, pembaca diharapkan mampu untuk: - Memahami perilaku respons step pada kolom-kolom absorpsi - Menggunakan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "2 Tujuan Modul Setelah mempelajari modul ini, pembaca diharapkan mampu untuk: - Memahami perilaku respons step pada kolom-kolom absorpsi - Menggunakan."— Transcript presentasi:

1

2 2 Tujuan Modul Setelah mempelajari modul ini, pembaca diharapkan mampu untuk: - Memahami perilaku respons step pada kolom-kolom absorpsi - Menggunakan fungsi MATLAB initial dan step untuk simulasi-simulasi keadaan-ruang (state-space simulation) - Menggunakan analisa eigenvalues/eigenfactor untuk memahami kelakuan sistem tidak-paksa - Memahami bagaimana zero mempengaruhi perilaku respons step dari fungsi-fungsi alih

3 3 1. Latar Belakang Contoh umum suatu proses pemisahan adalah absorpsi gas, yang biasanya dipakai untuk memisahkan sebuah komponen terlarut (solut) dari suatu aliran gas. Proses ini ditunjukkan secara skematis pada Gambar 1.

4 4 Pada proses ini komponen-komponen dalam umpan gas yang masuk dari dasar kolom akan diabsorpsi oleh aliran cair, sehingga aliran produk gas yang keluar dari puncak kolom menjadi lebih “murni”. Contoh dalam praktek adalah pemakaian heavy oil (cair) untuk memindahkan benzene dari suatu aliran umpan gas benzene/udara. Kolom absorpsi memiliki tray-tray dimana lapisan cair mengalir di sepanjang masing-masing tray. Tray-tray ini seringkali dimodelkan sebagai tahap-tahap yang berada pada kesetimbangan. 1. Latar Belakang

5 5 2. Model Dinamik 2.1. Asumsi-asumsi dasar - Mayoritas komponen aliran cair adalah inert dan tidak terabsorpsi ke dalam aliran gas. - Mayoritas komponen aliran gas adalah inert juga dan tidak terabsorpsi ke dalam aliran cair. - Setiap tingkat dalam proses berada pada ketimbangan, yakni uap yang keluar dari suatu tingkat berada pada kesetimbangan termodinamik dengan cairan pada tingkat tersebut. 2.2 Definisi variabel

6 Tahap Kesetimbangan Konsep tahap kesetimbangan penting untuk mengembangkan suatu model dinamis kolom absorpsi. Gambar 2 adalah skema satu tahap kesetimbangan. i L x i-1 V y i L x i V y i+1 Gambar 2. Suatu tahap absorpsi gas

7 Neraca Solut Pada Tahap i Jumlah total solut pada tahap i adalah penjumlahan dari solut dalam fasa cair dan gas (yaitu Mx i + Wy i ). Maka laju perubahan jumlah solut adalah d(Mx i + Wy i )/dt. Neraca massa komponen di sekitar tahap i (dimana akumulasi=masuk-keluar): Karena densitas cairan jauh lebih besar dari gas maka diasumsikan bahwa penyumbang terbesar untuk suku akumulasi adalah suku Mx i. Maka: Asumsi selanjutnya adalah holdup molar cairan (M) selalu tetap, sehingga: Penyelesaian masalah akan lebih mudah dengan mengembangkan suatu hubungan eksplisit antara komposisi fasa uap dengan komposisi fasa cair. Selanjutnya akan diasumsikan bahwa uap pada setiap tahap berada dalam kesetimbangan dengan cairan pada tahap yang sama.

8 Hubungan Kesetimbangan Hubungan paling sederhana adalah hubungan kesetimbangan linier: Di mana y adalah komposisi fasa gas (mol solut/mol inert uap), x adalah komposisi fasa cair (mol solut/mol inert cairan), i menunjukkan tahap ke-i dan a adalah parameter kesetimbangan Persamaan Pemodelan Untuk Tahap i Substitusi hubungan uap/cair dari pers. (4) ke dalam neraca bahan pers. (3): atau: Pers. (6) akan menghasilkan suatu matriks dengan struktur tridiagonal.

9 Tahap Paling Atas Neraca bahan di sekitar tahap yang paling atas (tahap 1): dimana x f diketahui (komposisi umpan cairan) Tahap Paling Bawah Neraca bahan di tahap paling bawah (tahap n): dimana y n+1 diketahui (komposisi umpan uap).

10 10 Contoh 1. Kolom Absorpsi Lima Tingkat Persamaan pemodelan (6) - (8) dapat ditulis sebagai berikut: Variabel keadaan (state variables) adalah x i (i=1 sampai 5), variabel input adalah x f (komposisi umpan cair) dan y 6 (komposisi umpan uap). Asumsi: laju alir cair dan uap tetap.

11 11 Persamaan-persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk matriks struktur tridiagonal: Matriks ini disebut berbentuk keadaan-ruang (state-space form) yaitu: Contoh 1. Kolom Absorpsi Lima Tingkat

12 12 3. Analisa Keadaan-tunak Di atas telah ditunjukkan bahwa bentuk persamaan dinamis untuk kolom absorpsi adalah: Saat keadaan-tunak derivatif/turunan waktu adalah nol, sehingga: Nilai x saat keadaan-tunak dapat ditentukan dengan menyelesaikan pers. (11) di mana:

13 13 Contoh 2. Parameter-parameter Untuk Kolom Tingkat Ke-lima Dalam kolom absorpsi yang diterangkan dalam contoh 1 dilangsungkan proses absorpsi dengan kondisi operasi yang ditunjukkan dalam tabel di bawah. Dalam proses ini parameter kesetimbangan, a=0.5 dan holdup molar cairan untuk masing-masing tingkat, M=20/3 kgmol. xf=0.04/380Heavy oil, L y6=0.15/3100Udara, V Komposisi BenzeneLaju alir, kgmol/menitLaju alir, kgmol/jamUmpan

14 14 Nilai-nilai Numeris Dinyatakan Dalam Bentuk Matriks Input keadaan-tunak adalah:

15 15 Untuk menentukan nilai x pada saat keadaan-tunak, Ini merupakan suatu vektor dari komposisi-komposisi fasa cair. Komposisi cairan produk (yang keluar dari tingkat 5) adalah x 5 = Komposisi produk uap ( yang keluar dari tingkat 1 ) diperoleh dari hubungan kesetimbangan, y 1 =0.5(x1)=0.5(0.0076)= lbmol benzene/lbmol udara.

16 16 4. Respons Step Disini akan digunakan fungsi MATLAB step untuk menentukan respons-respons terhadap sebuah perubahan jenis step dalam komposisi umpan. Fungsi step memerlukan suatu model keadaan-waktu (state space model) dalam bentuk variabel deviasi Perubahan Step Dalam Komposisi Umpan Uap Saat t=5 menit, komposisi aliran uap masuk kolom naik dari y 6 =0.1 menjadi y 6 =0.15 kgmol benzene/kgmol udara. Fungsi MATLAB step akan dipakai untuk menentukan bagaimana perubahan komposisi aliran cair dan uap yang (x 6 dan y 1 ) terhadap waktu. Bagaimana perbedaan respons komposisi cair di seluruh tingkat (x 1 sampai x 5 )? Step dipakai untuk menyelesaikan persamaan dan Dimana Δy adalah vektor output ( bentuk deviasi).

17 17 Respons Step Untuk masalah ini x 5 (komposisi cairan yang keluar dari dasar kolom) dan y 1 (komposisi aliran uap keluar dari puncak kolom) akan dianggap sebagai output. Sehingga matriks C dan D: [y,x,t]=step(A,B,C,D,u,2] Dimana angka 2 pada kolom terakhir berarti bahwa input kedua sedang diubah secara step. Perbandingan Gambar 3 dan 4 menunjukkan bahwa respons komposisi dasar kolom (x 6 ) terhadap perubahan uap umpan adalah lebih cepat dibandingkan respons komposisi uap puncak kolom (y 1 ). Ini masuk akal sebab gangguan harus bergerak melalui enam tingkat (dari dasar ke puncak kolom) untuk bisa mempengaruhi komposisi puncak.

18 18 Gambar 3. Respons dari komposisi di dasar kolom terhadap suatu step kenaikan dalam komposisi umpan uap sebesar 0.05, saat t= t(min) x 5 Respons Step

19 19 Gambar 4. Respons dari komposisi uap di puncak kolom terhadap suatu step kenaikan dalam komposisi uap umpan sebesar 0.05, saat t= x t(min) y v ap Respons Step

20 20 Gambar 5. Menunjukkan bahwa juka dibandingkan dengan tingkat lain maka perubahan komposisi yang terbesar adalah pada tingkat dasar kolom. Disini variabel deviasi (x i (t)-x i (0)) dipakai untuk memudahkan pembandingan. Gambar 5. Respons terhadap komposisi tiap tingkat terhadap suatu step kenaikan dalam umpan uap sebesar 0.05 saat t= t(min) x s tage Respons Step

21 21 “Kecepatan respons” relatif akan semakin cepat jika suatu tingkat semakin dekat dengan dasar kolom, seperti ditunjukkan pada Gambar 6. Disini variabel deviasi berskala (x i (t) - x i (0)) / (x i (t=100)-x i (0)) dipakai untuk memudahkan pembandingan.. Gambar 6. Respons komposisi di tiap tingkat terhadap suatu step kenaikan komposisi uap umpan sebesar 0.05 saat t=0. Disini diplotkan variabel deviasi-yang dinormalkan t(min) x s caled Respons Step

22 Perubahan Step Dalam Komposisi Aliran Umpan Cair Saat t=0, komposisi aliran cair yang masuk ke kolom berubah dari x f = 0.0 menjadi X f = kgmol benzene/kgmol inert minyak. Disini akan ditentukan bagaimana komposisi aliran cair dan uap (x 5 dan y 1 ) yang keluar dari kolom berubah terhadap waktu, bagaimana perbedaan respons komposisi komposisi cair tiap-tiap tingkat (x 1 sampai x 6 ). Pembandingan pada Gambar 7 dan Gambar 8 menunjukkan bahwa respons komposisi dasar (x 5 ) terhadap perubahan pada umpan cair lebih lambat daripada komposisi uap di puncak kolom (y 1 ).

23 23 Gambar 7. Respons komposisi pada dasar kolom terhadap suatu kenaikan step dalam komposisi umpan cair sebesar saat t = t(min) x Perubahan Step Dalam Komposisi Aliran Umpan Cair

24 24 Gambar 8. Respons komposisi uap di puncak kolom terhadap suatu step kenaikan dalam komposisi umpan cair sebesar saat t = t(min) y Perubahan Step Dalam Komposisi Aliran Umpan Cair

25 25 Gambar 9 menunjukkan bahwa perubahan terbesar komposisi tingkat terdapat di puncak kolom. Disini variabel deviasi (x i (t)-x i (0)) dipakai untuk memudahkan pembandingan. Gambar 9. Respons komposisi tiap tingkat terhadap suatu kenaikan step dalam Komposisi umpan cair sebesar 0,025 saat t= t(min) x s tage Perubahan Step Dalam Komposisi Aliran Umpan Cair

26 26 “Kecepatan respons” relatif akan semakin besar jika suatu tingkat semakin mendekati puncak kolom, seperti ditunjukkan dalam Gambar 10. Disini digunakan variabel deviasi terskala (x i (t)- x i (0))/(x i (t=150)-x i (0)) dipakai untuk memudahkan pembandingan. Gambar 10. Respons komposisi tiap tingkat terhadap suatu step kenaikan sebesar dalam komposisi umpan cair saat t = 0 menit. Disini diplotkan variabel deviasi yang dinormalkan t(min) x s caled Perubahan Step Dalam Komposisi Aliran Umpan Cair


Download ppt "2 Tujuan Modul Setelah mempelajari modul ini, pembaca diharapkan mampu untuk: - Memahami perilaku respons step pada kolom-kolom absorpsi - Menggunakan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google