Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi Kasus BRONKOPNEUMONIA Disusun Oleh: Yasser Jayawinata 0906508535 Narasumber: dr. Agnes Yunie Purwitasari, SpA MODUL ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Presentasi Kasus BRONKOPNEUMONIA Disusun Oleh: Yasser Jayawinata 0906508535 Narasumber: dr. Agnes Yunie Purwitasari, SpA MODUL ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS."— Transcript presentasi:

1 Presentasi Kasus BRONKOPNEUMONIA Disusun Oleh: Yasser Jayawinata Narasumber: dr. Agnes Yunie Purwitasari, SpA MODUL ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA

2 ILUSTRASI KASUS

3 Identitas pasien  Nama : Bayi ny. F  NRM:  Jenis kelamin: Laki-laki  Usia: 4 hari  Tempat,tanggal lahir: Jakarta, 8 Februari 2014  Alamat : Cipinang, Jakarta Timur  Pendidikan: Belum sekolah  Agama: Islam  Identitas Orang tua: Tuan N dan Ny F

4 Anamnesis alloanamnesis dengani ibu kandung  Keluhan utama Ibu pasien mengeluhkan anaknya kuning sejak lahir

5 Riwayat Penyakit Sekarang 12 Jam SMRS Ibu pasien dirujuk ke Rumah Sakit Persahabatan karena tekanan darah yang tinggi (160/90 mmHg) Ibu pasien yang sedang mengandung 34 minggu lalu didiagnosis preeklamsia berat dan dinyatakan harus dilakukan operasi ceasar pada hari yang sama

6 Riwayat Penyakit Sekarang MRS Ibu pasien kemudian melahirkan anak kembar dengan berat badan lahir 2100 gram Menurut ibu pasien, kedua anaknya kuning di seluruh tubuh hingga telapak tangan dan kaki sejak lahir

7 Riwayat Penyakit Sekarang MRS Pasien tidak memiliki keluhan demam dan kulit biru Suara tangisan pasien normal, tidak nyaring dan lemah Pasien juga masih buang air kecil dan air mata masih keluar Warna air kencing tidak gelap.

8 Riwayat Penyakit Sekarang MRS BAB pasien tidak berwarna dempul dan tidak ada muntah Ibu pasien merupakan golongan darah A+ Pasien saat ini sudah menjalani hari perawatan ke-5 dan mendapatkan terapi sinar selama 3 hari Kuning pada tubuh pasien sudah tidak dikeluhkan lagi Pasien masih mau minum ASI dan susu formula yang diberikan.

9  Riwayat Penyakit Dahulu  Tidak ada  Riwayat Penyakit Keluarga  Ibu pasien memiliki hipertensi  Pasien merupakan anak kembar dengan monoplasenta  Kembaran pasien juga memiliki kuning pada kulit dan hiperbiliruminemia  Orang tua pasien tidak ada yang memiliki riwayat kuning diabetes mellitus, dan penyakit lainnya.

10 Riwayat Kehamilan  Ibu pasien mengandung selama 34 minggu  Ibu pasien rutin kontrol teratur ke bidan dan tidak memiliki riwayat penyakit atau konsumsi obat-obatan selama kehamilan.

11 Riwayat Kelahiran  Ibu melahirkan gemeli di RSP secara SC  Berat lahir pasien 2100 gram, panjang badan 48 cm  Pasien langsung menangis, tidak ada biru, pucat, maupun kejang. APGAR pasien 8/9.

12  Ibu pasien sebelumnya telah memiliki 1 orang anak dan tidak pernah keguguran  Anak pertama berjenis kelamin laki-laki dan tidak memiliki riwayat sakit kuning maupun sakit lainnya.

13 Riwayat Perkembangan  Pasien sudah dapat mengeluarkan suara, menoleh saat mendengarkan bunyi, dan gerakan seimbang.

14 Riwayat Nutrisi  Pasien saat ini konsumsi ASI dan susu pregestimil 8 kali sehari

15 Riwayat Imunisasi  Pasien baru mendapatkan imunisasi hepatitis B dan polio.

16 Pemeriksaan Fisik tanggal 11 februari 2014  Nadi : 144 kali/menit, reguler, isi cukup  Pernapasan: 55 kali/menit, reguler, dalam, abdominotorakal,  Suhu: 36,7 o C (aksila)  Berat Badan: 2100 gram  Berat badan lahir rendah  Panjang Badan: 48 cm  Normal

17  Lingkar Kepala: 34 cm  Berada pada Z score 0 s.d -1 kurva Nelhaus  normocephal  Skor Ballard pasien 39 (Usia gestasi 40 minggu)  Pada kurva lubchenco  berat badan pasien di bawah standar usia gestasi.

18  Kepala : normochepal, tidak ada deformitas, fontanel anterior tidak cekung atau cembung dengan ukuran 2X2 cm sepanjang sutura korona dan sutura sagittal. Fontanel posterior dengan ukuran 1X1 cm.

19  Rambut: hitam, tidak mudah dicabut, dengan distribusi rambut di puncak kepala  Mata: konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, pupil isokhor, reflek cahaya langsung positif/positif, refleks cahaya tak langsung positif/positif, reflek mengedip ada, katarak tidak ada

20  Telinga: bentuk daun telinga normal, tidak ada low set ear  Hidung: tidak ada deformitas, septum nasi ditengah  Mulut: Mukosa bibir tidak tampang kering dan pucat, mukosa lidah dan mulut lembab, oral hygiene baik, tidak ada atrofi papil,  Leher: Kelenjar getah bening dan kelenjar tiroid tidak teraba membesar dan

21 Paru :  Inspeksi: bentuk dada normal, napas simetris saat statis dan dinamis,  Palpasi : tidak teraba benjolan, ekspansi dada simetris saat statis dan dinamis  Auskultasi : vesikular/vesikular, tidak ada rhonki dan wheezing Jantung :  Inspeksi: iktus kordis tidak terlihat  Palpasi:iktus kordis teraba medial linea midclavicula sinistra, tidak terdapat  tapping, thrill, ataupun heaving  Auskultasi: bunyi jantung 1 dan 2 normal, tidak terdapat murmur dan gallop

22 Abdomen  Inspeksi : datar, tidak buncit, venektasi tidak ada  Palpasi: tidak ada nyeri tekan superfisial, hati teraba 3 cm di bawah arcus costae dengan permukaan licin, tumpul, dan tidak berbenjol- benjol, turgor kulit cukup  Auskultasi : bising usus normal

23  Genitalia: OUE tidak hiperemis, sekret tidak ada, testis didalam skrotum  Ekstremitas: akral hangat, CRT < 2 detik, tidak ada edem dan sianosis

24 Pemeriksaan Refleks  Refleks berkedip (+)  Tonic neck (+)  Refleks moro (+)  Refleks menggenggam (+)  Refleks rooting (+)  Refleks menghisap (+)

25 Laboratorium tanggal 7 februari 2014 HematologiHasilNilai rujukan Hemoglobin 22,5 g/dl10 – 18 Hematokrit 63%31-55% Leukosit ribu/ul5-19,5 Trombosit 315 ribu/ul Eritrosit 5,99 juta/uL4,76-6,95 VER 104,3 fl HER 37,6 pg28-40 RDW 16,4 % Bilirubin Total15,3 mg/dL

26 Laboratorium tanggal 8 februari 2014 HematologiHasilNilai rujukan Hemoglobin 21,6 g/dl10 – 18 hematokrit 61%31-55% leukosit 11,81 ribu/ul5-19,5 trombosit 343 ribu/ul eritrosit 5,86 juta/uL4,76-6,95 VER 104,8 fl HER 36,9 pg28-40 RDW 16,4 %

27 Diagnosis Kerja  Neonatus cukup bulan kurang masa kehamilan dengan hiperbilirubinemia  Prognosis Ad vitam: bonam Ad funcionam: bonam Ad sanactional: bonam

28 Tatalaksana  Teruskan konsumsi ASI dan susu formula pada pasien 8-12 kali perhari  Kalori 352 KKal  Evaluasi klinis, DPL, bilirubin total, dan bilirubin direk pasien  Fototerapi

29 Tinjauan Pustaka

30  Ikterus pada bayi atau ikterus neonatarum  keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh pewarnaan kuning pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebih

31  hiperbilirubinemia patologis (Non Physiological Jaundice) apabila kadar serum bilirubin terhadap usia neonatus >95% menurut Normogram Bhutani.

32 Klasifikasi  Ikterus fisiologi  Timbul pada hari kedua dan ketiga  Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan.  Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5% per hari.  Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg%.  Ikterus menghilang pada 10 hari pertama.  Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis.

33  Ikterus Patologi  Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama.  Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5% pada neonatus kurang bulan.  Pengangkatan bilirubin lebih dari 5 mg% per hari.  Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama.  Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.  Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik.

34 Etiologi  Produksi yang berlebihan  misalnya pada hemolisis yang meningkat pada inkompatibilitas Rh, ABO, golongan darah lain, defisiensi G6PD, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis.  Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi hepar  imaturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukorinil transferase(Sindrom Criggler-Najjar)  Gangguan transportasi  Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, sulfarazole  Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.  Gangguan dalam eksresi  Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar  Kelainan di luar hepar biasanya diakibatkan oleh kelainan bawaan  Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain.

35 Faktor Resiko Hiperbiliruminemia  Inkompatibilitas darah ibu dan bayi  Infeksi : TORCH, sepsis  Perdarahan tertutup (trauma lahir)  Obat – obatan : ibu : diazepam, oxytocin bayi : erytromicin, chloramphenicol, sulfa  Polisitemia  Prematuritas  Riwayat hiperbilirubin pada anak sebelumnya

36 Patofisiologi HEME + Globin BILIVERDIN BILIRUBIN ligandin Alb konyugasi HATI CO (Heme Oksigenase) Bilirubin konyugasi Bilirubin bebas non konyugasi USAID. Hyperbilirubinemia pada neonatus. Dalam : Essential Neonatal Care, A Competency Based Training Module for Physicians. 2005

37 Bilirubin terikat albumin Ligandin Glukoronil transferase Bilirubin glukuronid (+) makanan Bilirubin indirek Sirkulasi entero hepatik Sterkobilin Urobilinogen (minimal) β -glukuronidase dalam usus (-) makanan

38 Zona Bagian tubuh yang kuning Rata-rata bilirubin indirek serum (mg/dL) 1Kepala dan leher5,9 2Pusat – leher8,8 3Pusat – paha11,8 4Leher + tungkai14,6 5Tangan + kaki> 14,6

39 Waktu Diagnosis banding  Hari ke-1  Penyakit hemolitik, inkompatibilitas darah(Rh,ABO), sferositosis, anemia hemolitik, nonsferositosis(defisiensi G6PD)  Hari ke-2 s.d ke-5  kuning fisiologik, sepsis, polisitemia, sferositosis kongenital,  Hari ke-5 s.d ke-10  Sepsis, kuning karena ASI, defisiensi G6PD, hipotiroidisme, galaktosemia, obat-obatan  Hari ke-10 atau lebih  Atresia biliaris, Hepatitis neonatal, Kista koledokusm, Sepsis(terutama infeksi saluran kemih), Stenosis pilorik

40 Tatalaksana  Terapi sinar

41 Transfusi Tukar

42 Pembahasan

43  Hiperbiliruminemia ditegakkan dengan kulit yang kuning pada seluruh tubuh dan nilai bilirubin total 15,3 mg/dL  termasuk high risk

44  Ikterus pada anak ini tergolong icterus patologis karena:  terjadi pada usia di bawah 24 jam  nilai bilirubin total pada anak ini melebihi 12,5 mg/dL

45 Diagnosis banding  Sepsis  Dehidrasi  Hipoglikemia  proses hemolitik seperti G6PD, spherositosis, dan inkompabilitas ABO dan rhesus  prematuritas

46 sepsis Pasien ini tidak ada fokus infeksi, demam, takikardia, takipneu, dan leukositosis. Dehidrasi Tidak adanya tanda-tanda dehidrasi seperti anak tidak terlihat lemah, masih dapat buang air kecil, UUB tidak cekung, dan turgor kulit baik.

47 Hipoglikemia Pasien ini tidak memiliki keluhan seperti letargi, menagis lemah, high pitch cry Belum ada pengukuran GDS Inkompabilitas ABO dan rhesus Golongan darah ibu pasien A+ Pada pendeita inkompabilitas, biasanya anak kedua atau seterusnya akan mengalami IUFD.

48 Hemolitik Tidak ada riwayat keluarga yang menderita penyakit hemolisis dan air seni yang tidak gelap. Obat- obatan Tidak ada riwayat konsumsi obat-obatan pada ibu (saat hamil) dan anak Atresia bilier, hepatitis neonatal, dan hipotiroidisme kemungkinan kecil karena pasien sudah kuning sejak hari pertama

49  Penyebab ikterus adalah  prematuritas pada pasien  jumlah eritrosit lebih banyak  usia eritrosit lebih singkat  sel hati yang masih imatur  uptake dan konyugasi lebih lambat

50  Pasien merupakan kembar dengan monoplasenta dan riwayat ibu yang memiliki pre eklampsia berat (PEB)  Polisitemia vera  Pada pasien ini masih belum dapat didiagnosis polisitemia vera karena nilai hematokrit masih kurang dari 65%  hemoglobin dan hematokrit tinggi dan fungsi liver yang masih imatur  nilai bilirubin pada pasien ini menjadi lebih tinggi

51  Tatalaksana pasien adalah terapi sinar karena nilai bilirubuin total melebihi 85 mikromol/L  Namun, pasien ini masih belum diterapi dengan transfuse tukar karena nilai bilirubin pasien masih di bawah 275 mikromol/L  Kalori yang dibutuhkan pada pasien ini adalah RDA X Berat badan ideal  110 X 3,2 Kg = 352 Kkal  Pada pasien ini, kalori didapatkan melalui susu pregestimil (1 Kkal/cc) dengan jumlah sekitar 12 X 30 cc.

52 Daftar Pustaka  Kosim M, Yunanto A, Dewi R, Santosa G, Usman A. Buku Ajar Neonatologi Ed : Jakarta; Balai Penerbit IDAI  Behrman RE, Kliegman RM, Jenson Hal B. Nelson textbook of pediatrics. Ed : Philaddelphia; Saunders.  Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, Harmoniati ED. Pedoman pelayanan medis ikatan dokter anak indonesia Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.  WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit Jakarta: WHO..  American Academy of Pediatrics Guidelines. Pediatrics. 2004: 114;  Sondheimer JM. Chronic Diarrhea. In:William W. Hay Jr, et al (Editor). Current Pediatric Diagnosis & Treatment 16th Ed.2002.Europe.McGraw-Hill Education.

53 Terima kasih


Download ppt "Presentasi Kasus BRONKOPNEUMONIA Disusun Oleh: Yasser Jayawinata 0906508535 Narasumber: dr. Agnes Yunie Purwitasari, SpA MODUL ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google