Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

STATISTIK NONPARAMETRIK Kuliah 12-1: Kasus k-Sampel Independen (Bebas): Uji Jonckheere Dosen: Dr. Hamonangan Ritonga, MSc Sekolah Tinggi Ilmu Statistik.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "STATISTIK NONPARAMETRIK Kuliah 12-1: Kasus k-Sampel Independen (Bebas): Uji Jonckheere Dosen: Dr. Hamonangan Ritonga, MSc Sekolah Tinggi Ilmu Statistik."— Transcript presentasi:

1 STATISTIK NONPARAMETRIK Kuliah 12-1: Kasus k-Sampel Independen (Bebas): Uji Jonckheere Dosen: Dr. Hamonangan Ritonga, MSc Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta Tahun 2013

2 Uji Jonckheere (1): Pengantar  Pada Uji Kruskal-Wallis kita menguji Ho bahwa k-sampel (kelompok) independen berasal dari populasi yang sama versus Ha bahwa satu atau lebih dari kelompok sampel berbeda dari yang lain. Ada kalanya, peneliti ingin menunjukkan Ha yang lebih spesifik. Misalnya: 1)Seorang peneliti ingin menguji apakah dosis obat yang bervariasi berdampak pada kinerja belajar, dimana peneliti ingin menguji Ho bahwa “tidak ada perbedaan” vs Ha bahwa meningkatnya dosis akan mengakibatkan pemburukan kinerja belajar 2) Seorang pendidik ingin tahu apakah tingkat-tingkat gangguan pada saat ujian yang diklasifikasikan dari ringan, sedang dan berat mengakibatkan makin turunnya nilai-nilai peserta ujian. Uji Jonckheere mirip dengan Uji Kruskal-Wallis, tetapi mempunyai Ha yang spesifik. Uji Jonclheere menguji Ho saat k-sampel diurutkan dalam suatu urutan berdasarkan teori.

3 Uji Jonckheere (2)  Asumsi Data yang dianalisis terdiri dari k sampel independen yang berurutan yang berasal dari populasi 1, 2,…,k dengan median masing-masing tidak diketahui Observasi independen baik dalam sampel maupun antar sampel  Syarat Data Data paling tidak berskala ordinal  Bentuk Hipotesis: H0: Sampel-sampel berasal dari populasi-populasi dengan median yang sama H1: Sampel-sampelberasal dari populasi-populasi dengan median yang berurutan

4 Untuk sampel-sampel dengan ukuran kecil Uji Jonckheere (3): Statistik Uji K : Banyak sampel yang digunakan U ij : Jumlah pasangan obeservasi (a, b) untuk setiap X ia yang lebih kecil dari X jb Dengan kata lain semua observasi pada sampel-i dibandingkan dengan semua observasi pada sampel ke-j. Jika nilai X ia lebih kecil dari nilai X jb maka pasangan tersebut diberi skor 1, namun ada catatan jika nilainya sama maka diberi skor 0,5 dan jika nilai X ia lebih besar dari X jb maka pasangan tersebut diberi skor 0. merupakan jumlah semua skor pasangan yang terjadi antara sampel ke-i dengan sampel ke-j. Untuk lebih jelasnya akan diperagakan pada contoh soal. Daerah tolak : J ≥Jα untuk k sampel dengan ukuran n 1, n 2, n 3 …..,n k (Jα lihat Tabel Nilai Kritis Jonchere /lihat tabel P buku Sidney Siegel Second Edition).

5 Uji Jonckheere (4): Statistik Uji (Lanjutan) Untuk sampel-sampel dengan ukuran besar Untuk sampel besar, distribusi nilai mendekati normal sehingga diterapkan pendekatan normal. Dimana: Daerah tolak : Z hit ≥ Z α (satu sisi)

6 Uji Jonckheere (5): Prosedur 1)Menentukan hipotesis H 0 : Populasi memiliki median yang sama H 1 : Populasi memiliki median yang berurutan Atau secara matematis dapat ditulis: H 0 : θ 1 = θ 2 =... = θ k H 1 : θ 1 < θ 2 <... < θ k 2)Menentukan taraf nyata (α) 3)Distribusi sampling: sesuai asumsi dan skala data digunakan Statistik Jonckheere a. Jika k=3 serta n 1, n 2, dan n 3 < 8

7 Uji Jonckheere (6): Prosedur (Lanjutan) 3) Menentukan Statistik Uji: b. Jika k= 4, 5, atau 6 serta ukuran sampel (n j ’s) adalah sama dan <7 c. Jika banyaknya grup (k) dan banyaknya pengamatan dalam setiap grup sangat besar

8 4)Menentukan wilayah kritis. Lakukan penghitungan: a.Buat tabel dua arah dengan k kolom yang merepresentasikan grup yang urut berdasarkan hipotesis skor dari median paling kecil ke hipotesis median paling besar b.Hitung statistik Mann-Whitney count dengan rumus: di mana X ia,jb bernilai:  1 jika X ia < X jb  ½ jika X ia = X jb  0 jika X ia > X jb perlu diketahui bahwa:  i < j  Xia adalah nilai pengamatan ke-h pada kelompok ke-i  Xjb adalah nilai pengamatan ke-g pada kelompok ke-j c.Hitung statistik uji Jonckheere sesuai statistik uji yang digunakan 5) Keputusan Uji Jonckheere (7): Prosedur (Lanjutan)

9 Uji Jonckheere (8): Contoh Soal Svenningsen melaporkan hasil dari penelitian mengenai titrasi asam-basah dalam ginjal yang dilakukan pada 24 bayi yang dipilih secara acak dari populasi 516 bayi yang baru lahir. Bayi- bayi yang diteliti dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan analisis kimiawi pada tes urine yang dilakukan sebagai berikut: Kelompok I (bayi cukup bulan/normal) Kelompok II (bayi prematur) Kelompok III (bayi prematur dengan asidosis berumur 1-3 minggu)

10 Uji Jonckheere (9): Penyelesaian Contoh Soal

11 Kelompok I IIIII i11 2 j , , , , U ij Uji Jonckheere (10): PenyelesaianContoh Soal (Lanjutan) Hasil Analisis Kimiawi 24 Urine Bayi

12 Uji Jonckheere (11): Penyelesaian Contoh Soal (Lanjutan) Keputusan: Tolak Ho karena J*= 3.73 > Z 0,05 = 1,645 Kesimpulan Median kelompok-kelompok bayi berdasarkan analisis kimia urinenya ada kecenderungan menurun 2 = 18,75 = 3,73

13 STATISTIK NONPARAMETRIK Kuliah 12-2: Kasus k-Sampel Dependen (Berhubungan): Uji Page Dosen: Dr. Hamonangan Ritonga, MSc Sekolah Tinggi Ilmu Statistik Jakarta Tahun 2013

14 Uji Page (1): Pengantar Pada Uji Friedman kita menguji hipotesis bahwa k sampel berhubungan berasal dari populasi yang sama dengan hipotesis alternatif k sampel berhubungan berasal dari populasi berbeda. Ada kalanya peneliti menginginkan hasil yang lebih spesifik yaitu apakah sampel pertama, kedua, ketiga dan seterusnya memiliki median yang berurutan. Pengujian tentang k median populasi dengan hipotesis alternatif k median populasi berurutan dari k sampel yang berhubungan ini telah diteliti oleh E. B. Page pada tahun Oleh karena itu pengujiannya disebut Uji Page.

15 Uji Page (2): Asumsi 1)Data terdiri dari k (k > 3) sampel yang berhubungan atau terdapat k pengulangan. 2)Data diukur dengan skala ordinal, interval maupun rasio. 3)Peneliti harus menentukan sampel mana yang diprioritaskan yaitu sampel dengan jumlah nilai data terbesar.

16 Uji Page (3): Bentuk Hipotesis Bentuk Hipotesis H 0 : Populasi memiliki median yang sama H 1 : Populasi memiliki median yang berurutan Atau secara matematis dapat ditulis: H 0 : θ 1 = θ 2 =... = θ k H­ 1 : θ 1 < θ 2 <... < θ k

17 Uji Page (4): Statistik Uji S

18 Uji Page (5): Wilayah Kritis – N < 20 ketika k = 3 atau N < 12 untuk 4 < k < 10 Tolak H 0 jika L hitung > L α;k,n ( lihat Tabel N pada Buku Sidney Siegel Second Edition) – N > 20 ketika k = 3 Tolak H 0 jika z L > z α

19 Uji Page (6) Prosedur: 1)Menentukan hipotesis 2)Menentukan taraf nyata : α 3)Menentukan statistik uji 4)Menentukan wilayah kritis lakukan perhitungan Data dibuat dalam tabel dua arah dengan N baris (subjek) dan k kolom (kondisi atau variabel). Pengurutan kondisi-kondisi tersebut harus disusun berdasarkan kriteria yang spesifik. Data di setiap baris diberi peringkat sendiri-sendiri dari 1 sampai k. Data dengan nilai paling kecil diberi ranking 1 dan nilai terbesar diberi ranking k. Jumlahkan peringkat setiap kolom (R j ) Hitung statistik Uji Page 5)Keputusan

20 Uji Page (7): Contoh Soal Seorang pekerja laboratorium di suatu rumah sakit mengadakan suatu penelitian tentang serum bilirubin pada 10 orang bayi normal. Data petugas itu ada pada Tabel dibawah ini. Dengan  = 5 %, apakah data ini sudah memberikan cukup bukti untuk menunjukkan adanya tingkat penurunan level serum bilirubin dari waktu ke waktu untuk bayi antara usia 4-10 hari? Kasus Umur (Hari)

21 Uji Page (8): Penyelesaian Contoh Soal

22 Uji Page (9): Penyelesaian Contoh Soal (Lanjutan) Ranking Pengurutan Level Serum Bilirubin Pada 10 Bayi Normal Kasus Umur (Hari) , , , RiRi 6461,549,540,528,523,512,5

23 Uji Page (10): Penyelesaian Contoh Soal (Lanjutan)

24 LATIHAN SOAL 1.Seorang peneliti ingin mengetahui apakah seorang perokok dapat disembuhkan dengan melihat berapa lama mereka dapat menahan untuk tidak merokok. Diketahui jeda waktu menghisap rokok setelah yang pertama selesai kemudian menghisap rokok berikutnya (kemampuan menahan diri untuk tidak merokok). Pengamatan ini dibedakan menurut perokok ringan, sedang dan berat. Interval waktu telah dicatat dalam satuan menit untuk setiap subyek. Penghitungan waktu dimulai setelah rokok yang pertama selesai dihisap sampai perokok menyalakan rokok berikutnya. Data pengamatan sebagai berikut: Pertanyaan: Dengan taraf nyata 5 % apakah ada perbedaan waktu antara 3 kelompok perokok tersebut untuk menghabiskan 1 batang rokok. RinganSedangBerat

25 2.Dilakukan penelitian untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap ketersediaan barang-barang kebutuhan di warung, minimarket dan supermarket. responden diambil sebanyak 11 orang untuk masing-masing tempat. Jawaban para responden terdapat dalam tabel. Hasil Survei sebagai berikut: Pertanyaan: Dengan taraf nyata 1 %, apakah median tingkat kepuasan pelanggan terhap ketersediaan barang-barang kebutuhan di warung, minimarket dan supermarket memiliki median yang berurutan sehingga dapat diketahui tempat manakah yang memiliki ketersediaan barang-barang paling baik. Taraf nyata = 5 %. No. KelompokWarungMinimarketSupermarket

26 3.Dilakukan penelitian untuk mengetahui dampak keefektifan serum Hepatitis baru terhadap pasien selama 7 hari terhadap 15 orang pasien. Hasil sebagai berikut Pasien Hari Dengan taraf nyata 5 %, apakah data ini sudah memberikan cukup bukti untuk menunjukkan apakah serum telah menunjukan keefektifan terhadap virus hepatitis (jumlah virus dalam ribu).


Download ppt "STATISTIK NONPARAMETRIK Kuliah 12-1: Kasus k-Sampel Independen (Bebas): Uji Jonckheere Dosen: Dr. Hamonangan Ritonga, MSc Sekolah Tinggi Ilmu Statistik."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google