Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Created by VI Group Arrni Pratiwi Raharja Al Hafiz Ega Meldawati Fauzi Harmi Oktarina Meilani Sawitri Nurdiana Juseni Dewi Rahmad Kariadi Tri Handayani.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Created by VI Group Arrni Pratiwi Raharja Al Hafiz Ega Meldawati Fauzi Harmi Oktarina Meilani Sawitri Nurdiana Juseni Dewi Rahmad Kariadi Tri Handayani."— Transcript presentasi:

1 Created by VI Group Arrni Pratiwi Raharja Al Hafiz Ega Meldawati Fauzi Harmi Oktarina Meilani Sawitri Nurdiana Juseni Dewi Rahmad Kariadi Tri Handayani KONSULTASI TERHADAP GANGGUAN KEPRIBADIAN ABNORMAL

2 Pengertian Konsultasi Definisi konsultasi seperti yang dikemukakan oleh Zins (1993), bahwa konsultasi ialah suatu proses yang biasanya didasarkan pada karakteristik hubungan yang sama yang ditandai dengan saling mempercayai dan komunikasi yang terbuka, bekerja sama dalam mengidentifikasikan masalah, menyatukan sumber-sumber pribadi untuk mengenal dan memilih strategi yang mempunyai kemungkinan dapat memecahkan masalah yang telah diidentifikasi, dan pembagian tanggung jawab dalam pelaksanaan dan evaluasi program atau strategi yang telah direncanakan.

3 Konseling Konseling adalah bantuan kepada orang lain dalam bentuk wawancara oleh seorang ahli yang profesional kepada kliennya yang menuntut adanya komunikasi, interaksi yang mendalam dan usaha bersama antara konselor dengan konseli( klien ) untuk mencapai tujuan konseling yang dapat berupa pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan ataupun perubahan tingkah laku atau sikap agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal dan mampu mengatasi masalahnnya.

4 Konsultasi vs Konseling KONSULTASIKONSELING Konsultasi lebih banyak berhubungan dengan usaha pemberian informasi dan kegiatan pengumpulan data tentang siswa dan lebih menekankan pada fungsi pencegahan. Konseling adalah suatu bantuan yang dilakukan oleh konselor dalam pertemuan tatap muka dengan seorang klien. Dari segi tenaga bimbingan dapat dilakukan oleh semua orang dewasa (orang tua, guru, wali kelas, kepala sekolah) kepada individu (siswa) yang memerlukannya. Konseling hanya dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah terlatih dan terdidik karena sifat dan kegiatannya sangat khas sehingga tidak sembarang orang bisa melakukannya. Dari segi tujuan konsultasi merupakan suatu pelayanan khusus yang terorganisir untuk menunjang perkembangan klien secara optimal. Konseling merupakan usaha pemberian bantuan baik secara perorangan maupun kelompok.

5 Model Layanan Konsultasi Model Caplanian. Pelopor teori ini adalah Gerald A.Caplan. Dalam model ini, konsultan mengassesmen, mendiskusikan, dan memberikan saran tentang kasus tertentu. Model ini identik dengan tugas seorang dokter dan menunjukkan adanya aktivitas pemberdayaan bagi konsultee. Model Cunsulcube. Pelopor dari model ini adalah Blake dan Mouton, memberikan ciri konsultan sebagai campur tangan yang bertujuan untuk mengubah siklus tingkah laku alamiah manusia

6 Model ini memberikan kerangka dasar intervensi yang dilakukan konsultan sebagai berikut: Penerimaan, yaitu untuk memberikan perasaan aman kepada diri konseli agar mampu mengekpresikan masalahnya tanpa ada rasa takut. Catalytic, yaitu membantu konseli mengumpulkan data untuk diinterpretasikan kembali kepada suatu masalah. Konfrontasi, yaitu dirancang untuk membantu konseli agar menguji nilai yang ada dalam anggapannya.

7 Preskripsi, yaitu konsultan meyampaikan pada konseli apa yang harus dikerjakannya. Teori-teori dua prinsip, yaitu konsultan memberikan teori kepada konseli agar mereka meninjau situasi yang menjadi sebab-akibat hubungan dan mengadakan diagnosis serta perencanaan situasi yang ideal.

8 Proses Layanan Konsultasi Menurut Kurpius (dalam Shetzer,1985), ada sembilan tahap pelaksanaan proses konsultasi. Tahap-tahap tersebut diuraikan sebagi berikut : Pre Entry (sebelum masuk). Konsultan menjelaskan nilai-nilai, kebutuhan, anggapan, dan tujuan tentang individu, kelompok, organisasi serta menilai kemampuan dan keterampilan konsultan sendiri. Entry (masuk). Pernyataan masalah diungkapkan, dihubungkan, dirumuskan dan menetapkan langkah-langkah yang perlu diikuti. Gathering Information (pengumpulan informasi). Untuk menjelaskan masalah dengan cara mendengarkan, mengamati, memberi pernyataan, pencatatan yang baku, interview dan pertemuan kelompok.

9 Defining Problem (merumuskan masalah). Penilaian informasi digunakan dalam menentukan tujuan untuk perubahan. Laporan masalah diterjemahkan kedalam suatu laporan dan disetujui oleh konsultan dan konsulti. Determining Problem Solution (menentukan solusi masalah). Informasi di analisis dan di sintesis untuk menemukan pemecahaan masalah yang paling efektif terhadap masalah yang dihadapi konsulti. Karakteristik dari tahap ini adalah pencurahan pikiran, memilih, dan menentukan prioritas. Tahap Stating Objectives (menetapkan sasaran). Hasil yang dicapai diukur dalam suatu periode waktu, kondisi tertentu, dan mendeskripsikan pemecahan masalah dan didukung oleh faktor-faktor lain untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

10 Implementing The Plan (mengimplementasikan rencana). Intervensi diimplementasikan dengan mengikuti garis pedoman / langkah, dengan cara memberitahukan semua bagian yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, siapa yang bertanggung jawab dan hasil-hasil yang diharapkan. Evalution (evaluasi). Aktivitas-aktivitas yang sedang berjalan dimonitor, proses, penaksiran hasil yang diperlukan untuk mengevaluasi aktivitas konsultan. Termination (pemberhentian). Kontak langsung dengan konsultan berhenti, tetapi pengaruh proses diharapkan berlanjut. Putusan dibuat untuk menunda perbuatan, perancangan kembali, dan melaksanakan kembali, serta mengakhirinya dengan sempurna.

11 Sikap Konselor Terhadap Klien Dalam A Helping Hand, klien atau orang yang mempunyai kebutuhan digambarkan sebagai pribadi yang memiliki kehormatan, keunikan, pribadi yang unik, dan bertanggung jawab. Pribadi yang Memiliki Kehormatan Sebagai pribadi yang memiliki kehormatan, klien harus diperlakukan penuh hormat dan layak sesuai dengan martabatnya. Bersikap sopan merupakan salah satu cara terbaik untuk melihatkan penghargaan kita.

12 Pribadi yang Unik Memandang seseorang dengan pribadi yang unik berarti sungguh- sungguh mengatakan padanya, “ Saya melihat Anda sebagai pribadi yang berbeda dan saya akan berusaha menolong Anda dengan cara yang istimewa”. Setiap orang harus diperlakukan sebagai pribadi istimewa yang dengan caranya sendiri mengatasi masalah- masalah hidup. Untuk alasan inilah Milton Erickson seringkali mengatakan bahwa setiap orang yang berbeda harus ditangani dengan pendekatan yang berbeda pula. Pribadi yang Dinamis Memperlakukan seseorang sebagai pribadi yang dinamis berarti berkata kepadanya bahwa ia menjadi seperti ini bukan karena ditentukan secara mutlak oleh masa lampaunya, peristiwa- peristiwa hidup, pengalaman- pengalaman masa kecil, lingkungan sekitar, ataupun faktor- faktor bawaan.

13 Pribadi yang Bertanggung Jawab Melihat seseorang yang memiliki pribadi yang bertanggung jawab berarti memiliki 3 implikasi lain, yang salah satunya kita memperlakukan mereka sebagai pribadi- pribadi yang mempunyai pengendalian atas hidup mereka, situasi, dan lingkungan sekitar mereka.

14 Sasaran Konselor Sasaran konseling seharusnya adalah membantu klien dalam mewujudkan satu perubahan dalam cara pandangnya dan mendapatkan kemampuan untuk menguasai situasi- situasi problemalitas dalam hidup. Ini tidak berarti bahwa masalah- masalah akan terpecahkan dengan sendirinya, tetapi bahwa klien dapat membuat suatu keputusan- keputusan tentang apa yang mereka ingin lakukan sendirinya.

15 Gangguan Kepribadian Abnormal Pengertian Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa. Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal atau psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.

16 Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal, pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2009), dinyatakan “Abnormal psychology is an academic and applied subfield of psychology involving the scientific study of abnormal experience and behavior (as in neuroses, psychoses and mental retardation) or with certain incompletely understood states (as dreams and hypnosis) in order to understand and change abnormal patterns of functioning”.

17 Definisi psikologi abnormal juga dapat dijumpai di Merriem- Webster OnLine (2009). Pada kamus online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology: a branch of psychology concerned with mental and emotional disorders (as neuroses, psychoses, and mental retardation) and with certain incompletely understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)”.

18 Konsultasi atau Konseling dan Terapi Penyembuhan Pada Klien Gangguan Kepribadian Dalam melakukan konsultasi atau konseling, seorang ahli yang professional melakukan serangkaian metode- metode assesment dalam psikologis klinis untuk memberikan data atau informasi yang lengkap apa yang menjadi masalah klien dan sangat menganggu kehidupan baik secara fisik ataupun mental.

19 Assesment Dalam Psikologi Klinis Assessment dalam psikologis adalah pengumpulan informasi untuk digunakan sebagai dasar bagi keputusan yang akan disampaikan oleh penilai ( Bernstein & Nietzel, 1980, hlm. 99 ).

20 1. Wawancara Klinis Wawancara klinis adalah sarana atau suatu bentuk layanan yang paling banyak digunakan. Wawancara ini biasanya merupakan kontak tatap muka pertama antara klien dengan klinisi ( psikiater ). Awalnya klinisi selalu meminta kepada klien untuk mengutarakan atau menyampaikan, serta menguraikan keluhan dengan kata- kata mereka sendiri.

21 Contoh: “ Dapakah Anda menceritakan kepada saya permasalahan yang Anda hadapi belakangan ini ?” ( terapis atau psikiater, berusaha untuk tidak menanyakan, “ apa yang membawa Anda kesini?” untuk menghindari jawaban, “mobil”, “bus”, atau “pekerja sosial saya”.) Apa gunanya seorang klien menguraikan masalahnya dengan kata- kata sendiri? Agar klinisi tahu dan memahami masalah klien dari sudut pandang mereka sendiri bukan teori.

22 Format proses wawancara lainnya meliputi topik sebagai berikut: Data Identifikasi, informasi mengenai karakteristik sosio - demografi klien: alamat dan nomor telefon, status perkawinan, umur, jenis kelamin, karakteristik ras/ etnik, agama, pekerjaan, susunan keluarga dan seterusnya. Deskripsi Permasalahan yang Ada, bagaimana klien mempresepsikan masalah? Perilaku, perasaan, atau pikiran yang mengganggu? Bagaimana hal tersebut mempengaruhi klien? Kapan hal itu dimulai? Riwayat Psikososial, informasi tentang riwayat perkembangan klien: bidang pendidikan, sosial, dan riwayat pekerjaan; hubungan keluarga pada masa kanak- kanak.

23 Riwayat Medis/ Psikiater Serta Hopitalisasi: apakah permasalahan saat ini adalah suatu episod terulang dari masalah sebelumnya? Bagaimana ditangani pada masa lalu? Apakah pengobatan berhasil? Mengapa ya, mengapa tidak? Problem- Problem Medis atau Pengobatan, deskripsi tentang problem medis yang ada sekarang, termasuk obat- obatnya. Klinisi waspada tentang kemungkinan pengaruh masalah medis terhadap masalah psikologis sekarang. Contoh, obat untuk kondisi medis tertentu dapat mempengaruhi mood dan level umum dari keterangsangan seseorang.

24 Bentuk- Bentuk Wawancara Wawancara Tidak Terstruktur ( Unstructured Interview ). Klinisi mengadopsi gaya bertanya sendiri, tidak mengikuti bentuk standar. Wawancara Semi- Terstruktur ( Semi- Structured Interview ). Mengikuti bentuk standar yang menjadi garis besar untuk mengumpulkan data atau informasi, tetapi bebas untuk bertanya dengan cara sendiri dan urutan pertanyaan apa saja dan pindah ke arah lain dalam rangka mengikuti informasi secara klinis. Wawancara Terstruktur ( Structured Interview ). Wawancara yang mengikuti serangkaian prtanyaan yang di tetapkan lebih dulu dengan urutan tertentu.

25 2. Pemberian Tes Dalam Pemeriksaan Tes ini digunakan sebagai alat bantu utama untuk dapat lebih mengerti keadaan klien selain wawancara klinis yang dilakukan. Tes baru bisa terlaksana jika sudah ada kontak atau sudah ada hubungan baik yang terjalin antara klien dan klinisi ( psikolog atau psikiater ), lalu cukup adanya informasi yang terkumpul dari anamnesis, dan adanya ketersediaan klien untuk dites.

26 Tes intelegensi adalah tes yang diberikan untuk mengetahui kecerdasan klien saat sekarang untuk membandingkan dengan keadaan sebelum sakit. Misal tes Weschler Bellevue ( WB ) dapat dihitung deterioration rate untuk melihat ada tidaknya kemunduran intelegensi. Tes proyeksi yang dilakukan untuk pemeriksaan klinis dengan tujuan mengungkapkan hal- hal yang kurang atau tidak disadari. tes ini menggunakan sistem scoring yang berasal dari tes Rorschach sehingga dapat diperoleh gambaran struktur kepribadian.

27 Tes grafis merupakan tes yang sangat digemari oleh psikolog di Indonesia karena tidak perlu menggunakn sistem skoringkuantitatif, lalu waktunya relatif singkat dan kebanyakan menggunakan analisis kuantitatif. Kelemahan dari tes ini adalah psikolog sering terkecoh dengan keindahan gambar atau keterampilan menggambar klien tanpa memperhatikan segi – segi formal gambar seperti: ukuran gambar, jenis garis yang digunakan, tekanan garis, penempatan gambar, dan sebagainya.

28 Terapi- Terapi Penanganan Abnormal Terapi atau psikoterapi dapat digunakan dalam menangani pasien yang mengalami gangguan kepribadian abnormal. Karena psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara klien dengan terapis yang menyertakan prinsip-prinsip psikologis untuk melakukan perubahan pada perilaku, pikiran, dan perasaan klien, dengan tujuan untuk membantu klien mengatasi perilaku abnormal, memecahkan masalah dalam kehidupan, atau perkembangan sebagai individu.

29 Ada beberapa macam terapi – terapi yang digunakan dalam menangani klien- klien yang mengalami gangguan kepribadian. Terapi – terapi tersebut diantaranya: Terapi Psikodinamika Terapi psikodinamika membantu idividu untuk memperoleh insight mengenai masalahnya, dan mengatasi konflik bawah sadar yang dipercaya merupakan akar dari perilaku abnormal. Freud merangkum tujuan dari psikoanalisis dengan mengatakan dimana ada id, seharusnya disitu juga ada ego. Tujuannya lebih pada menggantikan perilaku defensive dengan perilaku adaptif. Dengan demikian, klien dapat menemukan kepuasan tanpa memperoleh hukuman sosial atau menghukum diri sendiri.

30 Metode utama yang digunakan Freud untuk mencapai tujuan ini Analisis Bebas Analisis bebas merupakan proses pengungkapan tanpa sensor dari pikiran- pikiran terlebih dahulu setelah pikiran masuk kebenak kita. Analisis bebas dipercaya secara bertahap akan menghancurkan pertahanan yang menghambat kesadaran tentang proses bawah sadar. Analisis Mimpi Selama tidur, pertahanan ego melemah dan impuls yang tidak dapat diterima menemukan ekspresinya dalam mimpi. Karena pertahanan tidak seluruhnya dihapuskan, impuls mengambil bentuk yang disamarkan atau disimbolisasikan. Meskipun mimpi memiliki arti psikologis, seperti yang diyakini oleh Freud, masih belum ada acara independen untuk menentukan arti dari mimpi.

31 Transference Proses analisis dan penanganan hubungan transference dianggap komponen penting dalam psikoanaliss. Freud percaya bahwa hubungan transference memberikan alat untuk menghidupkan kembali konflik - konflik dengan orang tua pada masa kanak- kanak. Freud menyebut proses ini sebagai neurosis transference. Neurosis ini harus dianalisis dan ditangani dengan berhasil agar klien dapat berhasil dalam psikoanalisis.

32 Terapi Perilaku Terapi perilaku seperti terapi lainnya, mencoba mengembangkan hubungan terapeutik yang hangat dengan klien, tetapi mereka percaya bahwa kemampuan khusus dari terapi perilaku berasal dari teknik-teknik yang berbasis pembelajaran, bukan dari sifat hubungan terapeutik.

33 Terapi humanistik Terapi ini berfokus pada pengalaman klien yang subjektif dan disadari. Seperti terapi perilaku, terapi humanistik juga lebih berfokus pada apa yang dialami klien pada saat ini, disini dan sekarang, daripada masa lalu. Bentuk utama dari terapi humanistik adalah terapi terpusat pada individu yang dikembangkan oleh psikolog Carl Rogers. Terapi menggunakan refleksi, pengulangan atau perumusan kembali dari perasaan-perasaan yang diekspresikan klien tanpa memberi penilaian. Cara ini mendorong klien untuk mengeksplorasi lebih jauh perasaannya dan berhubungan dengan perasaan yang lebih dalam bagian dari diri yang tidak diakui karena kritikal sosial.

34 Terapi Kognitif Terapi Perilaku Rasional-Emotif Terapi perilaku rasional-emotif juga membantu klien untuk mengganti perilaku menyerang diri sendiri atau maladaptif dengan perilaku interpersonal yang lebih efektif. Terapi Kognitif Beck Terapis kognitif meminta klien untuk merekam pikiran-pikiran yang muncul akibat kejadian mengecewakan yang mereka alami dan memperhatikan hubungan antara pikiran dengan respons emosional mereka. Hal itu kemudian akan membantu mereka membantah pikiran yang terdistorsi dan menggantikannya dengan alternatif yang rasional.

35 Terapi Kognitif-Behavioral Terapi ini berusaha untuk mengintegrasikan teknik-teknik terapeutik yang berfokus untuk membantu individu melakukan perubahan, tidak hanya pada perilaku nyata tetapi juga dalam pikiran, keyakinan, dan sikap yang mendasarinya. Tetapi kognitif behavioral memiliki asumsi bahwa pola berpikir dan keyakinan mempengaruhi perilaku, dan perubahan pada kognisi ini dapat menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan.

36 Terapi Eklektis Eklektik teknik, pendekatan pragmatis yang mengambil teknik-teknik dari aliran terapi berbeda tanpa merasa perlu menggunakan posisi teoretis yang diwakili aliran –aliran ini, dan eklektif integratif, suatu pendekatan yang mencoba mempersatukan dan mengintegrasikan pendekatan teoretis berbeda dalam suatu model terapi integratif.

37


Download ppt "Created by VI Group Arrni Pratiwi Raharja Al Hafiz Ega Meldawati Fauzi Harmi Oktarina Meilani Sawitri Nurdiana Juseni Dewi Rahmad Kariadi Tri Handayani."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google