Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Drs. ACHMAD NOOR FATIRUL,ST.MPd. Bangkalan, 9 Agustus 1960  S-1 Teknik Listrik  S-1 Teknik Elektro  S-2 Teknologi Pembelajaran  S-3 Teknologi Pembelajaran.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Drs. ACHMAD NOOR FATIRUL,ST.MPd. Bangkalan, 9 Agustus 1960  S-1 Teknik Listrik  S-1 Teknik Elektro  S-2 Teknologi Pembelajaran  S-3 Teknologi Pembelajaran."— Transcript presentasi:

1

2 Drs. ACHMAD NOOR FATIRUL,ST.MPd. Bangkalan, 9 Agustus 1960  S-1 Teknik Listrik  S-1 Teknik Elektro  S-2 Teknologi Pembelajaran  S-3 Teknologi Pembelajaran DI UNIPA Surabaya masuk Tahun 1985 HP: Flexy: (031)

3 Drs. ACHMAD NOOR FATIRUL, ST. MPd.

4 Mac Donald (1965) Sistem Persekolahan Terbentuk 4 Subsistem: Mengajar (Teaching) Mengajar (Teaching) Kegiatan profesional guru Kegiatan profesional guru Belajar (Learning) Belajar (Learning) Kegiatan yang dilakukan peserta didik sebagai respon kegiatan mengajar guru Pembelajaran (Intruction) Pembelajaran (Intruction) Segala kegiatan interaksi belajar mengajar Segala kegiatan interaksi belajar mengajar Kurikulum (Curriculum) Kurikulum (Curriculum) Rencana yang memberikan pedoman dalam proses belajar mengajar Rencana yang memberikan pedoman dalam proses belajar mengajar

5 KONSEP KURIKULUM Pandangan lama kurikulum :Pandangan lama kurikulum : Robert S.Zais: 1976,h:7 kumpulan mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh peserta didik yaitu kumpulan mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh peserta didik yaitu “...a racecourse of subject matters to be masteres” Sehingga orang awam kalau ditanya tentang kurikulum akan diartikan sebagai bidang studi / mata pelajaran atau orang awam kalau ditanya tentang kurikulum akan diartikan sebagai bidang studi / mata pelajaran atau isi pelajaran. isi pelajaran.

6 Caswel dan Campbell :Caswel dan Campbell : KURIKULUM : KURIKULUM : “....to be composed of all experiance children have under the guidance of teacher”. “....to be composed of all experiance children have under the guidance of teacher”. Ronald C.Doll :Ronald C.Doll : Penekanan isi pada proses yaitu dari konsep yang sempit kepada konsep yang lebih luas

7 HILDA TABA (1962) Kurikulum berkenaan dengan tujuan isi dan metode yang lebih luas/umum.Kurikulum berkenaan dengan tujuan isi dan metode yang lebih luas/umum. Kurikulum sebagai pedoman pelaksanaan pengajaran dan guru mempunyai tugas untuk menjabarkannya.Kurikulum sebagai pedoman pelaksanaan pengajaran dan guru mempunyai tugas untuk menjabarkannya.

8 BEAUCHAMP Mengemukakan : 1. Kurikulum sebagai rencana pengajaran 2.Kurikulum sebagai suatu sistem.

9 Kurikulum Sebagai Rencana Pengajaran  Tujuan yang ingin dicapai.  Bahan yang akan disajikan.  Kegiatan pengajaran.  Alat-alat pengajaran.  Jadwal waktu pengajaran.

10 Kurikulum Sebagai SISTEM  Penentuan segala kebijakan tentang kurikulum.  Susunan personalia.  Prosedur pengembangan kurikulum, penerapan, evaluasi dan penyempurnaan.

11 Fungsi Utama Kurikulum  Penerapan.  Evaluasi.  Penyempurnaan tertulis maupun aplikasi.  Menjaga kurikulum tetap dinamis

12 SIMPULAN Kurikulum sebagai suatu SUBSTANSI Rencana kegiatan belajar atau perangkat tujuan yang akan dicapai di sekolah. Rencana kegiatan belajar atau perangkat tujuan yang akan dicapai di sekolah. Dokumen rumusan tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal dan evaluasi. Dokumen rumusan tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal dan evaluasi. Dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan antara penyusun dan pemegang kebijakan dengan masyarakat. Dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan antara penyusun dan pemegang kebijakan dengan masyarakat. Kurikulum mencakup lingkup sekolah, kabupaten, propinsi atau seluruh negara. Kurikulum mencakup lingkup sekolah, kabupaten, propinsi atau seluruh negara.

13 Kurikulum Sebagai Suatu SISTEM Sebagai sistem sekolah, pendidikan dan masyarakat. Sebagai sistem sekolah, pendidikan dan masyarakat. Sistem mencakup struktur personalia dan prosedur kerja bagaimana cara menyusun kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi dan menyempurnakan. Sistem mencakup struktur personalia dan prosedur kerja bagaimana cara menyusun kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi dan menyempurnakan. Hasilnya adalah kurikulum dan Hasilnya adalah kurikulum dan Fungsinya adalah bagaimana memelihara kurikulum tetap dinamis. Fungsinya adalah bagaimana memelihara kurikulum tetap dinamis.

14 Kurikulum sebagai BIDANG STUDI Merupakan bidang kajian ahli kurikulum, pendidikan dan pengajaran. Merupakan bidang kajian ahli kurikulum, pendidikan dan pengajaran. Mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Melalui studi kepustakaan, penelitian dan percobaan untuk memperkuat bidang studi kurikulum. Melalui studi kepustakaan, penelitian dan percobaan untuk memperkuat bidang studi kurikulum.

15 Ahli Kurikulum Dituntut Mengembangkan definisi deskriptif dan istilah teknis. Mengklasifikasi pengetahuan yang telah ada dalam pengetahuan baru. Melakukan penelitian inferensial dan prediktif. Mengembangkan sub-sub teori kurikulum, mengembangkan dan melaksanakan model- model kurikulum.

16 PERTANYAAN ?  Apakah yang ingin dicapai dan peserta didik yang bagaimana yang diharapkan akan dibentuk ?  Apakah akan diutamakan kebutuhan peserta didik saat sekarang atau masa mendatang ?  Apakah hakekat peserta didik harus dipertimbangkan atau diperlakukan seperti orang dewasa ?  Apakah kebutuhan peserta didik tersebut ?  Apakah harus dipentingkan peserta didik sebagai individu atau kelompok ?  Apakah yang harus dipentingkan, mengajar kejujuran atau memberi pendidikan umum ?

17  Apakah pelajaran akan didasarkan pada disiplin ilmu atau dipusatkan pada masalah sosial dan pribadi ?  Apakah semua peserta didik harus mengikuti pelajaran yang sama ataukah diijinkan memilih pelajaran sesuai dengan minatnya ?  Apakah seluruh kurikulum sama bagi semua sekolah secara uniform atau diberi kelonggaran untuk menyesuaikan dengan keadaan daerahnya ?  Apakah hasil belajar anak akan diuji secara uniform atau diserahkan pada penilaian guru yang dapat mempelajari peserta didik delam segala aspek selama waktu yang panjang ?

18 Prinsip-prinsip / Asas-asas Ralph Tyler (1949)  Asas Filosofis: Disesuaikan dengan tujuan pendidikan ( filsafat bangsa, masyarakat, sekolah dan guru ) Disesuaikan dengan tujuan pendidikan ( filsafat bangsa, masyarakat, sekolah dan guru )  Asas Psikologis: Memperhitungkan peserta didik ( psikologi anak, perkembangan anak, psikologi belajar, bagaimana proses belajar peserta didik, perkembangan fisik, mental, psikologis, emosional, sosial dan cara belajar peserta didik) Memperhitungkan peserta didik ( psikologi anak, perkembangan anak, psikologi belajar, bagaimana proses belajar peserta didik, perkembangan fisik, mental, psikologis, emosional, sosial dan cara belajar peserta didik)

19  Asas Sosiologis: Disesuaikan dengan harapan / kebutuhan orang tua, masyarakat, pemerintah, perkembangan & perubahannya, kebudayaan manusia, hasil kerja manusia berupa pengetahuan, agama, ekonomi Disesuaikan dengan harapan / kebutuhan orang tua, masyarakat, pemerintah, perkembangan & perubahannya, kebudayaan manusia, hasil kerja manusia berupa pengetahuan, agama, ekonomi  Asas Organisatoris: Mempertimbangkan bentuk dan organisasi bahan pelajaran yang akan disajikan. Mempertimbangkan bentuk dan organisasi bahan pelajaran yang akan disajikan.

20 MODEL KONSEP KURIKULUM A. Kurikulum Subjek Akademis. A. Kurikulum Subjek Akademis. B. Kurikulum Humanistik. B. Kurikulum Humanistik. C. Kurikulum Rekonstruksi Sosial. C. Kurikulum Rekonstruksi Sosial. D. Teknologi dan Kurikulum. D. Teknologi dan Kurikulum.

21 Kurikulum Subjek Akademis Praktis, mudah dan mudah digabung dengan konsep lain. Praktis, mudah dan mudah digabung dengan konsep lain. Berorientasi masa lalu yang mengutamakan isi pendidikan yang sesuai dengan bidang disiplinnya para ahli. Berorientasi masa lalu yang mengutamakan isi pendidikan yang sesuai dengan bidang disiplinnya para ahli. Pengembang cukup menyusun dan mengembangkan bahan sendiri dengan memilih bahan materi yang dikembangkan ahli, kemudian mengorganisasinya secara sistematis. Pengembang cukup menyusun dan mengembangkan bahan sendiri dengan memilih bahan materi yang dikembangkan ahli, kemudian mengorganisasinya secara sistematis. Guru harus menguasai semua pengetahuan dalam kurikulum, juga dituntut menjadi model. Guru harus menguasai semua pengetahuan dalam kurikulum, juga dituntut menjadi model. Karena kurikulum ini mengutamakan pengetahuan maka pendidikan lebih bersifat Intelektual. Karena kurikulum ini mengutamakan pengetahuan maka pendidikan lebih bersifat Intelektual.

22 CIRI-CIRI Kurikulum Subjek Akademis TUJUAN Memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik menggunakan ide-ide dan proses penelitian. Memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik menggunakan ide-ide dan proses penelitian. Peserta didik diharapkan: Memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Peserta didik harus belajar menggunakan pemikiran dan dapat mengontrol dorongan-dorongannya. Peserta didik harus belajar menggunakan pemikiran dan dapat mengontrol dorongan-dorongannya. Sekolah harus memberi kesempatan pada pserta didik untuk merealisasikan kemampuannya menguasai warisan budaya dan jika mungkin memperkayanya. Sekolah harus memberi kesempatan pada pserta didik untuk merealisasikan kemampuannya menguasai warisan budaya dan jika mungkin memperkayanya.

23 Metode Metode paling banyak digunakan Metode Ekspositori dan Inkuiri Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan) siswa sampai dikuasainya. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan) siswa sampai dikuasainya. Konsep utama disusun secara sistematis dengan ilustrasi yang jelas untuk selanjutnya dikaji. Konsep utama disusun secara sistematis dengan ilustrasi yang jelas untuk selanjutnya dikaji. Dalam materi disiplin ilmu yang diperoleh, dicari berbagai masalah penting kemudian dirumuskan dan dicari cara pemecahannya. Dalam materi disiplin ilmu yang diperoleh, dicari berbagai masalah penting kemudian dirumuskan dan dicari cara pemecahannya.

24 Dengan proses peserta didik akan menemukan kemampuan berfikir dan mengamati Ilmu kealaman, Ilmu kealaman, Logika digunakan dalam matematika, Logika digunakan dalam matematika, Perasaan digunakan dalam seni Perasaan digunakan dalam seni Koherensi dalam sejarah Koherensi dalam sejarah Mempelajari buku-buku untuk memperkaya pengetahuan, memahami budaya masa lalu dan mengerti keadaan masa kini. Mempelajari buku-buku untuk memperkaya pengetahuan, memahami budaya masa lalu dan mengerti keadaan masa kini.

25 Organisasi Pola-pola Organisasi Corelated Curriculum YAITU Materi atau konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.

26 Unified atau Concentrated Curriculum YAITU Bahan pelajaran tersusun dalam tema- tema pelajaran tertentu yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.

27 Integrated Curriculum YAITU Bahan pelajaran yang sudah tidak nampak disiplin ilmunya, bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan tertentu.

28 Problem Solving Curriculum YAITU Berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari barbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu.

29 Evaluasi Dalam bidang studi Humaniora lebih banyak digunakan bentuk Uraian (essay test) dari pada tes objektif. Bidang studi ini membutuhkan jawaban yang merefleksikan logika, koherensi, dan integrasi secara menyeluruh. Dalam bidang studi Humaniora lebih banyak digunakan bentuk Uraian (essay test) dari pada tes objektif. Bidang studi ini membutuhkan jawaban yang merefleksikan logika, koherensi, dan integrasi secara menyeluruh. Dalam bidang studi seni yang sifatnya ekspresi membutuhkan penilaian subjektif yang jujur, disamping standar keindahan dan cita rasa. Dalam bidang studi seni yang sifatnya ekspresi membutuhkan penilaian subjektif yang jujur, disamping standar keindahan dan cita rasa. Dalam bidang matematika, nilai tertinggi diberikan bila peserta didik menguasai landasan aksioma serta cara perhitungan yang benar. Dalam ilmu ini nilai tertinggi bukan hanya diberikan pada jawaban yang benar akan tetapi juga pada pola berfikir yang digunakan peserta didik. Dalam bidang matematika, nilai tertinggi diberikan bila peserta didik menguasai landasan aksioma serta cara perhitungan yang benar. Dalam ilmu ini nilai tertinggi bukan hanya diberikan pada jawaban yang benar akan tetapi juga pada pola berfikir yang digunakan peserta didik.

30 Kurikulum Humanistik John Dewey dan JJ. Rousseau ► Konsep pendidikan pribadi (personalized education) YAITU upaya menciptakan situasi yang permisif, rileks dan akrab ► Sehingga mendorong siswa untuk memperluas kesadaran diri sendiri ► Mengurangi kerenggangan dan ketersaingan dari lingkungan. ► Pendidikan tidak hanya pada fisik dan intelektual saja melainkan juga segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, nilai).

31 Yang Termasuk Humanistik adalah pendidikan: KONFLUEN Menekankan keutuhan pribadi, individu harus merespon secara utuh (baik segi pikiran, perasaan maupun tindakan) terhadap kesatuan yang menyeluruh dari lingkungan.

32 KRITIKISME RADIKAL Bersumber dari aliran naturalisme atau romantisme ► Pendidikan sebagai upaya untuk membantu peserta didik menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi yang dimilikinya. ► Pendidikan juga menciptakan situasi yang memungkinkan peserta didik berkembang secara optimal

33 MISTIKISME Aliran yang menekankan ► Latihan ► Pengembangan kepekaan perasaan ► Kehalusan budi pekerti, melalui sensitivity training, yoga, meditasi

34 Ciri-ciri Utama Kurikulum Konfluen Partisipasi ► Menekankan partisipasi siswa, belajar bersama dalam kelompok. SEHINGGA, Siswa dapat mengadakan perundingan persetujuan, pertukaran kemampuan, bertanggung jawab bersama. Integrasi ► Melalui partisipasi akan terjadi interaksi, interpenetrasi, dan integrasi dari pemikiran, perasaan dan juga tindakan.

35 Relevansi ► Isi pendidikan relevan dengan kebutuhan, minat dan kehidupan siswa. Pribadi Anak ► Pendidikan memberi tempat utama pada pribadi siswa yaitu sebagai pengembangan pribadi, peng- aktualisasikan segala potensi pribadi siswa secara utuh. Tujuan ► Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan pribadi yang utuh, serasi baik dalam dirinya maupun dalam lingkungan secara menyeluruh.

36 Karakteristik Kur. Humanistik Tujuan Diarahkan pada: Diarahkan pada: ► Perkembangan pribadi yang dinamis yang diarahkan pada pertumbuhan, integritas dan otonomi kepribadian, sikap yang sehat terhadap diri sendiri, orang lain dan belajar yang merupakan cita-cita perkembangan manusia yang teraktualisasi (self actalizing person). ► Seseorang yang telah mampu mengaktualisasikan diri adalah orang yang telah mencapai keseimbangan perkembangan seluruh aspek pribadinya baik kognitif, estetika maupun moral, karakter yang baik.

37 Metode Menuntut hubungan emosional yang baik antara guru dan peserta didik yaitu ► Mampu memberi materi yang menarik ► Mampu menciptakan situasi yang memperlancar proses belajar. ► Guru memberi dorongan pada siswa atas dasar saling percaya. ► Peran mengajar tidak hanya dilakukan oleh guru tetapi juga peserta didik. ► Guru tidak memaksakan sesuatu yang tidak disenangi peserta didik.

38 Organisasi Isi ► Menekankan integrasi yaitu kesatuan perilaku yang bersifat intelektual, emosi dan tindakan serta memberikan pengalaman yang menyeluruh bukan terpenggal-penggal. ► Kurikulum ini tidak menekankan Sekuens karena dengan sekuens siswa tidak mempunyai kesempatan untuk memperluas dan memperdalam aspek-aspek perkembangannya.

39 Evaluasi ► Dalam kurikulum ini mengutamakan proses dari pada hasil. jadi jadi kreteria, sasarannya adalah perkembangan siswa supaya menjadi manusia yang terbuka, lebih berdiri sendiri, sehingga penilaian bersifat subjektif baik dari guru maupun siswa.

40 Kurikulum Rekonstriksi Sosial  Difokuskan pada problema-problema yang dihadapi masyarakat.  Hakekatnya pendidikan bukan usaha sendiri akan tetapi merupakan interaksi antara siswa-guru, siswa- siswa, siswa-lingkungan, siswa-orang tua nantinya diharapkan siswa dapat memecahkan problema- problema yang dihadapi di masyarakat.  Harold Rug: Selama ini terjadi kesenjangan antara kurikulum dan masyarakat.  Harold berharap siswa dengan pengetahuan dan konsep-konsep baru yang diperolehnya dapat mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah sosial yang nantinya dapat menciptakan masyarakat baru yang lebih stabil.

41 Ciri-ciri Kurikulum Rekonstruksi Sosial Asumsi  Tujuan kurikulum menghadapkan siswa pada tantangan, ancaman, hambatan atau ganguan yang dihadapi manusia.  Tantangan tersebut merupakan bidang garapan studi sosial seperti ekonomi, sosiologi psikologi, estetika bahkan pengetahuan alam dan matematika.

42 Masalah-masalah Sosial Yang Mendesak.  Dapatkan kehidupan seperti yang sekarang ini memberi kekuatan untuk menghadapi ancaman yang akan mengganggu integritas kemanusiaan ?  Dapatkah tata ekonomi dan politik yang ada dibangun kembali agar setiap orang dapat memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia seadil mungkin ?

43 Pola-pola Organisasi  Pada tingkat sekolah menengah pola organisasi kurikulum disusun seperti roda yang ditengah-tengah sebagai poros dipilih tema utama dan dibahas secara pleno.  Dari tema dijabarkan menjadi topik-topik yang dibahas dalam diskusi kelompok, latihan-latihan kunjungan dan lain-lain.

44 Komponen Kurikulum Rekonstrusi Sosial Tujuan dan Isi Kurikulum Tujuan program pendidikan selalu berubah, kegiatan untuk mencapai tujuan adalah: Mengadakan survey secara kritis terhadap masyarakat. Mengadakan survey secara kritis terhadap masyarakat. Mengadakan studi tentang hubungan antara ekonomi lokal dan ekonomi nasional dan dunia. Mengadakan studi tentang hubungan antara ekonomi lokal dan ekonomi nasional dan dunia. Mengadakan studi tentang latar belakang historis dan kecenderungan perkembangan ekonomi, hubungannya dengan ekonomi lokal. Mengadakan studi tentang latar belakang historis dan kecenderungan perkembangan ekonomi, hubungannya dengan ekonomi lokal. Mengkaji praktik politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi. Mengkaji praktik politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi. Memantapkan rencana perubahan praktik politik. Memantapkan rencana perubahan praktik politik. Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria, apakah telah memenuhi kepentingan sebagian besar orang. Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria, apakah telah memenuhi kepentingan sebagian besar orang.

45 Metode Kurikulum berusaha mencari keselarasan antara tujuan nasional dengan tujuan siswa antara lain:  Guru membantu siswa menemukan minat dan kebutuhannya.  Setelah menemukan minat berusaha memecahkan masalah sosial yang dihadapinya.  Kerja dalam kelompok akan mewarnai metode rekonstruksi. Kerja kelompok ini juga terjadi antara siswa dengan sumber dari masyarakat. Siswa mengikuti survey kemasyarakatan dan kegiatan- kegiatan sosial.  Untuk kelas tinggi selain menghadapi masalah- masalah nyata juga diperkenalkan situasi-situasi ideal. Dengan demikian peserta didik diharapkan dapat menciptakan model-model kasar tentang situasi yang akan datang.

46 Evaluasi  Kegiatan evaluasi siswa dilibatkan dalam hal memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan.  Soal yang akan diujikan dinilai terlebih dahulu tentang ketepatan, keluasan isinya, keampuhan menilai pencapaian tujuan-tujuan masyarakat yang sifatnya kualitatif.  Evaluasi tidak hanya mengukur apa yang telah dikuasai siswa akan tetapi juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap masyarakat.  Pengaruh tersebut menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat.

47 Teknologi dan Kurikulum Teknologi yang diharapkan  Penggunaan audio dan video cassette, OHP, film slide dan motion film, mesin pengajaran komputer, CD-rom dan Insternet.  Seiring dengan kemajuan teknologi kurukulum di pusatkan pada penguasaan kompetensi.  Penerapan teknologi dalam pendidikan khususnya kurikulum ada 2 bentuk :  software yang dalam pendidikan dikenal sebagai Teknologi Alat (tools technology)  hardware yang dalam pendidikan dikenal sebagai Teknologi Sistem (System Technology).

48 Teknologi Pendidikan dalam arti Teknologi Alat menekankan pada:  Penggunaan alat teknologi untuk menunjang efisiensi dan efektifitas pendidikan.  Kurikulum berisi perencanaan penggunaan berbagai alat dan media.  Model-model pengajaran yang banyak melibatkan penggunaan alat.

49 Teknologi Pendidikan Dalam Arti Teknologi Sistem Menekankan pada: Penyusunan program pengajaran dengan menggunakan pendekatan sistem.  Program sistem artinya pengajaran tidak membutuhkan alat dan media tetapi bahan dan proses pembelajaran disusun secara sistem.  Ditunjang alat dan media artinya program pengajaran disusun secara integrasi dengan penggunaan alat dan media yang bersifat “on-off”.  Dipadukan dengan alat dan media artinya program pengajaran telah disusun secara terpadu antara bahan dan kegiatan pembelajaran dengan alat dan media. Bahan ajar telah disusun dalam kaset audio, video atau film maupun komputer.

50 Ciri-ciri Kurikulum Teknologi & Kurikulum Tujuan  Diarahkan pada penguasaan kompetensi yang dirumuskan dalam bentuk perilaku. Metode  Pengajaran bersifat individual

51 Pengetahuan Tentang Hasil Kemajuan segera diketahui oleh peserta didik sendiri, sebab dalam model kurikulum ini umpan balik selalu diberikan. Organisasi Bahan Ajar Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, didisain UNTUK mendukung penguasaan kompetensi. Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, didisain UNTUK mendukung penguasaan kompetensi.

52 Penegasan Tujuan  Peserta didik dijelaskan pentingnya bahan ajar yang harus dipelajari. Pelaksanaan Pengajaran  Peserta didik belajar secara individual melalui media buku atau media elektronik.  Peserta didik belajar dengan cara memberi respon dengan cepat terhadap persoalan- persoalan yang diberikan. Langkah-langkah Pelaksanaan Pengajaran

53 Evaluasi  Evaluasi dilakukan setiap saat pada akhir pelajaran, suatu unit atau semester.  Fungsi evaluasi sebagai umpan balik :  Penyempurnaan penguasaan satuan pelajaran (evaluasi formatif),  Umpan balik akhir program atau semester (evaluasi sumatif),  Umpan balik guru dan pengembang kurikulum untuk penyempurnaan kurikulum.

54 Kriteria Pengembangan Model Teknologis Prosedur pengembangan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain. Prosedur pengembangan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain. Hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang dan hendaknya memberikan hasil yang sama. Hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang dan hendaknya memberikan hasil yang sama.

55 Inti Pengembangan Kurikulum Ditekankan Pada Penguasaan kompetensi. Penguasaan kompetensi. Pengembangan dan penggunaan alat dan media bukan sekedar hanya alat bantu akan tetapi bersatu dengan program pengajaran dan ditujukan pada penguasaan kompetentsi tertentu. Pengembangan dan penggunaan alat dan media bukan sekedar hanya alat bantu akan tetapi bersatu dengan program pengajaran dan ditujukan pada penguasaan kompetentsi tertentu. Pengembangan kurikulum membutuhkan kerjasama dengan para penyusun program dan penerbit media elektronik dan media cetak. Pengembangan kurikulum membutuhkan kerjasama dengan para penyusun program dan penerbit media elektronik dan media cetak. Pemecahan masih dilakukan lebih menekankan pada teknologi sistem dan kurang menekankan pada teknologi alat, sehingga biaya akan lebih ditekan dengan demikian akan memberi kesempatan bagi guru untuk mengembangkan sendiri program pengajarannya. Pemecahan masih dilakukan lebih menekankan pada teknologi sistem dan kurang menekankan pada teknologi alat, sehingga biaya akan lebih ditekan dengan demikian akan memberi kesempatan bagi guru untuk mengembangkan sendiri program pengajarannya.

56 Pengembangan menekankan pada teknologi alat perlu mempertimbangkan hal-hal: a. Formulasi perlu dirumuskan dahulu apakah alat dan media tersebut betul-betul dibutuhkan ? b. Diperlukan adanya spesifikasi alat dan media yang akan dikembangkan, baik kegunaannya maupun ketepatan penggunaannya. Spesifikasi meliputi: 1. Lingkungan tempat belajar. 1. Lingkungan tempat belajar. 2. Standar perilaku belajar. 2. Standar perilaku belajar. 3. Ketrampilan-ketrampilan untuk mencapai tujuan. 3. Ketrampilan-ketrampilan untuk mencapai tujuan. c. Prototipe. Sekuens-sekuens pengajaran perlu diuji cobakan dalam bentuk prototipe- prototipe, juga format-format media dan organisasi. d. Percobaan pertama. Unit pengajaran diujicobakan pada sejumlah sampel untuk mengetahui keberhasilan dan kelemahannya. e. Mencoba hasil. Hasil pengembangan diterapkan. Proses pelaksanaan, hasil dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dicatat untuk umpan balik penyempurnaan selanjutnya.

57 Komponen-Komponen Kurikulum. 1.Tujuan. 2. Bahan Ajar. 3. Strategi Mengajar. 4. Media Mengajar. 5.Evaluasi Pengajaran. 6.Penyempurnaan Pengajaran.

58 TUJUAN  Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh peserta didik.  Menunjukkan mutu tingkah laku yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik dalam bentuk: Ketepatan atau ketelitian respons. Kecepatan, panjangnya dan frekuensi respon.  Menggambarkan kondisi atau lingkungan yang menunjang tingkah laku siswa, berupa: 1. Kondisi atau lingkungan fisik. 2. Kondisi atau lingkungan psikologis.

59 BAHAN AJAR Cara menyusun sekuens bahan ajar Sekuens Kronologis Bahan ajar disusun berdasarkan urutan waktu seperti: peristiwa sejarah, perkembangan historis suatu institusi, penemuan ilmiah Sekuens Kausal Siswa dihadapkan pada peristiwa-peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau pendahuluan dari suatu peristiwa atau situasi lain. Dengan mempelajari hal tersebut peserta didik diharapkan akan mengetahui tentang akibat dari peristiwa tersebut Siswa dihadapkan pada peristiwa-peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau pendahuluan dari suatu peristiwa atau situasi lain. Dengan mempelajari hal tersebut peserta didik diharapkan akan mengetahui tentang akibat dari peristiwa tersebut Sekuens Struktural Bahan ajar disusun secara struktural dengan urutan awal sampai akhir, seperti: tidak mungkin menerjunkan peserta didik/mahasiswa untuk praktek mengajar sebelum diajarkan metode-metode mengajar. Bahan ajar disusun secara struktural dengan urutan awal sampai akhir, seperti: tidak mungkin menerjunkan peserta didik/mahasiswa untuk praktek mengajar sebelum diajarkan metode-metode mengajar.

60 Sekuens logis dan psikologis Sekuens logis disusun dari hal yang sederhana pada hal yang kongrit Sekuens psikologis bahan ajar disusun dari hal yang komplek pada hal yang sederhana. Sekuens psikologis bahan ajar disusun dari hal yang komplek pada hal yang sederhana. Sekuens Spiral Dikembangkan Bruner (1960): bahan ajar dikembangkan dari topik atau pokok bahan tertentu yang kemudian bahan diperluas dan diperdalam. Dikembangkan Bruner (1960): bahan ajar dikembangkan dari topik atau pokok bahan tertentu yang kemudian bahan diperluas dan diperdalam.

61 Thomas Gilbert (1962) Rangkaian ke Belakang (backward chaining), bahan ajar yang disusun mulai dengan langkah terakhir dan mundur ke belakang Rangkaian ke Belakang (backward chaining), bahan ajar yang disusun mulai dengan langkah terakhir dan mundur ke belakang Contoh proses pemecahan masalah ilmiah –Pembatasan masalah. –Penyusunan hipotesis. –Pengumpulan data. –Pengujian hipotesis. –Interpretasi hasil tes. Dalam mengajar guru dimulai dari 5 kemudian guru menyajikan data dari 1 sampai 4, pada kesempatan lain guru menyampaikan 1 sampai 3, kemudian peserta didik dimita untuk membuat interpretasi dan seterusnya. Dalam mengajar guru dimulai dari 5 kemudian guru menyajikan data dari 1 sampai 4, pada kesempatan lain guru menyampaikan 1 sampai 3, kemudian peserta didik dimita untuk membuat interpretasi dan seterusnya.

62 Sekuens berdasarkan Interaksi Belajar (Gagne (1965)) dengan prosedur: Tujuan khusus utama dianalisis. Tujuan khusus utama dianalisis. Kemudian dicari suatu hierarki urutan bahan ajar untuk mencapai tujuan tersebut. Hierarki menggambarkan urutan prilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik. Kemudian dicari suatu hierarki urutan bahan ajar untuk mencapai tujuan tersebut. Hierarki menggambarkan urutan prilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik. Gagne (1970:63-64) mengemukakan 8 tipe belajar yang tersusun secara hierarki yaitu mulai dari yang paling sederhana: Signal learning, Stimulus-respon learning, Motor-chain learning, Verbal association, Multiple descrimination, Concept learnig, Principles learning, dan problem solving learning. Gagne (1970:63-64) mengemukakan 8 tipe belajar yang tersusun secara hierarki yaitu mulai dari yang paling sederhana: Signal learning, Stimulus-respon learning, Motor-chain learning, Verbal association, Multiple descrimination, Concept learnig, Principles learning, dan problem solving learning.

63 STRATEGI MENGAJAR Reception/ Exposition-Discovery Learning Reception dan Exposition mempunyai makna yang sama hanya pelaku yang berbeda Reception dan Exposition mempunyai makna yang sama hanya pelaku yang berbeda Reception dilihat dari sisi siswa sedang Exposition dilihat dari sisi guru. Reception dilihat dari sisi siswa sedang Exposition dilihat dari sisi guru. Bahan ajar keduanya disusun dan diberikan dalam bentuk jadi atau dalam bentuk akhir baik secara lisan maupun tertulis. Bahan ajar keduanya disusun dan diberikan dalam bentuk jadi atau dalam bentuk akhir baik secara lisan maupun tertulis. Siswa tidak dituntut untuk mengolah atau melakukan aktivitas lain kecuali menguasainya. Siswa tidak dituntut untuk mengolah atau melakukan aktivitas lain kecuali menguasainya. Discovery learning bahan ajar disusun agar siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkatagorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan. Discovery learning bahan ajar disusun agar siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkatagorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan. Melalui kegiatan tersebut siswa akan dapat menguasai, menerapkan serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. Melalui kegiatan tersebut siswa akan dapat menguasai, menerapkan serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.

64 Rote Learning – Meaningful Learning Rote learning bahan ajar disampaikan tanpa memperhatikan arti atau maknanya bagi siswa, Siswa menguasai bahan ajar dengan menhafalnya. Rote learning bahan ajar disampaikan tanpa memperhatikan arti atau maknanya bagi siswa, Siswa menguasai bahan ajar dengan menhafalnya. Meaningful learning penyampaian bahan mengutamakan makna bagi Siswa. Meaningful learning penyampaian bahan mengutamakan makna bagi Siswa. Ausubel dan Robinson: mengemukakan bahwa Reception- Discovery Learning dan Rote – Meaningful Learning dapat dikombinasi satu sama lainnya sehingga membentuk 4 kombinasi, yaitu: Meaningful-receptionlearning, Rote- reception learning, Meaninful-discovery learning dan Rote- discovery learning. Ausubel dan Robinson: mengemukakan bahwa Reception- Discovery Learning dan Rote – Meaningful Learning dapat dikombinasi satu sama lainnya sehingga membentuk 4 kombinasi, yaitu: Meaningful-receptionlearning, Rote- reception learning, Meaninful-discovery learning dan Rote- discovery learning.

65 Group Learning – Individual Learning. Group Learning – Individual Learning. Pelaksanaan Discovery learning menuntut aktivitas belajar yang bersifat individual atau dalam kelompok kecil, karena kemampuan dan kecepatan belajar tidak sama maka kegiatan discovery hanya dilakukan oleh peserta didik yang pandai dan cepat, peserta didik yang kurang dan lambat akan mengikuti saja kegiatan dan menerima temuan-temuan peserta didik cepat. Peserta didik lambat akan kurang motif belajar, acuh tak acuh dan kemungkinan akan menjadi pengganggu kelas. Dalam kelas peserta didik dapat bekerja sama dengan baik, kerja sama akan dilakukan oleh peserta didik yang aktif yang lain hanya menanti atau menanti, sehinga dengan demikian akan terjadi perbedaan yang semakin jauh antara peserta didik yang pandai dengan yang kurang. Pelaksanaan Discovery learning menuntut aktivitas belajar yang bersifat individual atau dalam kelompok kecil, karena kemampuan dan kecepatan belajar tidak sama maka kegiatan discovery hanya dilakukan oleh peserta didik yang pandai dan cepat, peserta didik yang kurang dan lambat akan mengikuti saja kegiatan dan menerima temuan-temuan peserta didik cepat. Peserta didik lambat akan kurang motif belajar, acuh tak acuh dan kemungkinan akan menjadi pengganggu kelas. Dalam kelas peserta didik dapat bekerja sama dengan baik, kerja sama akan dilakukan oleh peserta didik yang aktif yang lain hanya menanti atau menanti, sehinga dengan demikian akan terjadi perbedaan yang semakin jauh antara peserta didik yang pandai dengan yang kurang.

66 MEDIA MENGAJAR Rowntree (1974: ) mengelompokkan media mengajar menjadi 5 macam yang disebut MODES Interaksi Insani Komunikasi verbal atau non-verbal secara langsung antara dua orang atau lebih. Komunikasi verbal memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif Komunikasi verbal atau non-verbal secara langsung antara dua orang atau lebih. Komunikasi verbal memegang peranan penting dalam perkembangan kognitif Komunikasi non-verbal untuk perkembangan afektif seperti perilaku, penampilan fisik, roman muka, gerak, sikap sebagai bukti nyata. Komunikasi non-verbal untuk perkembangan afektif seperti perilaku, penampilan fisik, roman muka, gerak, sikap sebagai bukti nyata.

67 Realita  Media bentuk perangsang nyata seperti orang, binatang, benda-benda, peristiwa sebagai objek pengamatan. Pictorial  Media bentuk gambar dan diagram nyata atau simbol, bergerak atau tidak dan dibuat diatas kertas, film, kaset, CD, komputer.

68 Simbol Tertulis  Media berupa buku teks, buku paket, paket program, modul, jurnal dan majalah-majalah yang juga dapat dilengkapi dengan media Pictorial. Rekaman Suara  Pesan yang disampaikan dalam pita rekaman suara, dapat tersendiri dapat juga digabung dengan Pictorial.

69 EVALUASI Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan yang telah ditentukan dalam proses pembelajaran sebagai umpan balik yang dpergunakan untuk berbagai penyempurnaan Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan yang telah ditentukan dalam proses pembelajaran sebagai umpan balik yang dpergunakan untuk berbagai penyempurnaan

70 Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur penguasaan siswa atau tujuan khusus juga untuk evaluasi hasil belajar mengajar (formatif dan sumatif). Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur penguasaan siswa atau tujuan khusus juga untuk evaluasi hasil belajar mengajar (formatif dan sumatif).

71 Evaluasi formatif digunakan Menilai penguasaan peserta didik dalam jangka waktu pendek setelah menyelesaikan satu pokok bahasan. Menilai penguasaan peserta didik dalam jangka waktu pendek setelah menyelesaikan satu pokok bahasan. Menilai proses pengajaran/proses belajar mengajar. Menilai proses pengajaran/proses belajar mengajar. Membantu mengatasi kesulitan belajar peserta didik. Membantu mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

72 Evaluasi Sumatif Digunakan Menilai penguasaan peserta didik terhadap tujuan yang lebih luas dalam jangka waktu yang lama (semester,tahun atau selama jentang pendidikan). Menilai penguasaan peserta didik terhadap tujuan yang lebih luas dalam jangka waktu yang lama (semester,tahun atau selama jentang pendidikan). Menilai kemajuan belajar peserta didik (kenaikan kelas,kelulusan ujian). Menilai kemajuan belajar peserta didik (kenaikan kelas,kelulusan ujian). Menilai efektifitas proggram secara menyeluruh. Menilai efektifitas proggram secara menyeluruh.

73 Evaluasi Pelaksanaan Mengajar Mengukur keberhasilan proses belajar mengajar mulai dari awal sampai akhir termasuk evaluasi itu sendiri. Mengukur keberhasilan proses belajar mengajar mulai dari awal sampai akhir termasuk evaluasi itu sendiri. Stufflebeam (1977: 243) mengutip model evaluasi EPIC bahwa komponen yang dievaluasi adalah Kognitif, afektif dan psikomotor (komponen tingkah laku). Kognitif, afektif dan psikomotor (komponen tingkah laku). Isi, metode, organisasi, fasilitas dan biaya (sub komponen) serta siswa, guru, administrator, spesialis pendidikan, keluarga dan masyarakat (komponen populasi) sebagai komponen mengajar. Isi, metode, organisasi, fasilitas dan biaya (sub komponen) serta siswa, guru, administrator, spesialis pendidikan, keluarga dan masyarakat (komponen populasi) sebagai komponen mengajar. Evaluasi dilakukan tes dan non tes seperti observasi, studi dokumenter, analisis hasil pekerjaan, angket dan check list oleh guru atau kepala sekolah atau pihak yang berwenang. Evaluasi dilakukan tes dan non tes seperti observasi, studi dokumenter, analisis hasil pekerjaan, angket dan check list oleh guru atau kepala sekolah atau pihak yang berwenang.

74 Penyempurnaan Pengajaran Dalam penyempurnaan dilakukan skala prioritas dilihat peranannya dan tingkahlaku kelemahannya Dalam penyempurnaan dilakukan skala prioritas dilihat peranannya dan tingkahlaku kelemahannya Rowntree (1974: ) Penyempurnaan dapat dilakukan langsung saat menerima umpan balik atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu oleh guru atau bantuan orang lain. Penyempurnaan dapat dilakukan langsung saat menerima umpan balik atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu oleh guru atau bantuan orang lain.

75 Disain Kurikulum Disain menyangkut pengorganisasian komponen kurikulum, dilihat dari 2 demensi: Dimensi Horisontal yang berkenaan dengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum yang selalu diintegrasikan dengan proses belajar dan mengajarnya. Dimensi Horisontal yang berkenaan dengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum yang selalu diintegrasikan dengan proses belajar dan mengajarnya. Dimensi Vertikal yang berkenaan dengan penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran. Dimensi Vertikal yang berkenaan dengan penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran.

76 Fokus Pengajaran ada 3 pola disain kurikulum Subject Centered Design Disain disusun berpusat pada bahan ajar yaitu isi atau materi (subject matter) yang akan diajarkan sehingga disebut juga subject academic curriculum Disain disusun berpusat pada bahan ajar yaitu isi atau materi (subject matter) yang akan diajarkan sehingga disebut juga subject academic curriculum

77 Kelebihan Desain Mudah disusun, dilaksanakan, dievaluasi dan disempurnakan. Mudah disusun, dilaksanakan, dievaluasi dan disempurnakan. Para pengajar tidak perlu dipersiapkan secara khusus, asal menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkan sering dipandang sudah dapat menyampaikannya. Para pengajar tidak perlu dipersiapkan secara khusus, asal menguasai ilmu atau bahan yang akan diajarkan sering dipandang sudah dapat menyampaikannya.

78 Kelemahan Desain Karena pengetahuan diberikan secara terpisah, hal ini bertentangan dengan kenyataan sebab pengetahuan merupakan satu kesatuan. Karena pengetahuan diberikan secara terpisah, hal ini bertentangan dengan kenyataan sebab pengetahuan merupakan satu kesatuan. Karena mengutamakan bahan ajar maka peran serta peserta didik pasif. Karena mengutamakan bahan ajar maka peran serta peserta didik pasif. Pengajaran lebih menekankan pada pengetahuan dan kehidupan masa lalu dengan demikian pengajaran lebih bersifat verbalistis dan kurang praktis. Pengajaran lebih menekankan pada pengetahuan dan kehidupan masa lalu dengan demikian pengajaran lebih bersifat verbalistis dan kurang praktis.

79 The Subject Design Merupakan desain paling murni dari Subject Centered Design.  Peserta didik dituntut untuk menguasai semua pengetahuan yang diberikan  Apakah menyenangi atai tidak, membutuhkan atau tidak.  Karena pelajaran diberikan secara terpisah-pisah maka penguasaan peserta didikpun terpisah-pisah, tak jarang peserta didik menguasai bahan hanya pada tahap hafalan saja  Bahan diskusi hanya secara verbalistis

80 Kelemahan Desain  Kurikulum memberikan penguasaan terpisah- pisah.  Isi kurikulum diambil dari masa lalu, terlepas dari kejadian-kejadian hangat yang sedang ada.  Kurikulum tidak memperhatikan minat, kebutuhan dan pengalaman peserta didik.  Isi kurikulum disusun berdasarkan sistematika ilmu, sring menimbulkan kesukaran dalam mempelajari dan menggunakannya.  Kurikulum lebih mengutamakan isi dan kurang memperhatikan cara penyampaian

81 Kelebihan Desain  Karena materi diambil dari ilmu yang sudah tersusun secara sistimatis logis, maka penyusunannya mudah.  Mudah dilaksanakan karena sudah dikenal oleh guru dan orang tua.  Peseta didik lebih mudah mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi karena Perguruan Tinggi menggunakan sistem ini.  Dapat dilaksanakan secara efisien, karena metode utamanya adalah metode ekspositori.  Bentuk ini ampuh sebagai alat untuk melestarikan dan mewariskan budaya masa lalu.

82 The Broad Fields Design  Model ini telah menyatukan beberapa mata pelajaran yang berdekatan atau berhubungan menjadi satu bida SEPERTI  Sejarah, Geografi dan Ekonomi digabung menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial. Aljabar, Ilmu Ukur dan berhitung menjadi Matematika

83 Kelebihan dari kurikulum  Karena pada dasarnya penyusunan bahan secara terpisah walaupun telah terjadi penyatuan, masih dimungkinkan penyusunan warisan budaya secara sistematis dan teratur.  Karena mengintegrasikan beberapa bidang studi, memungkinkan peserta didik melihat hubungan antara berbagai hal.

84 Kelemahan dari kurikulum  Kemampuan guru pada tingkat sekolah dasar dan menengah mampu menguasai bidang yang luas akan tetapi untuk Perguruan Tinggi sulit.  Karena bidang yang dipelajari luas, maka tidak bisa diberikan secara mendetail yang diajarkan hanya permukaan saja.  Pengintegrasian bahan ajar terbatas sekali, tidak menggambarkan kenyataan, tidak memberikan pengalaman sesungguhnya bagi peserta didik sehingga kurang mebangkitkan minar belajar.  Model ini tetap menekankan pada penguasaan bahan dan informasi, kurang menekannya proses pencapaian tujuan afektif daan kognitif tingkat tinggi.

85 Leaner-Centered Design Model ini bersumber dari pemikiran Rousseeau yang menekankan pada peserta didik, pengorganisasian kurikulum berdasarkan minat, kebutuhan dan tujuan peserta didik.

86 2 Ciri Utama –Pengembangan berorientasi pada peserta didik –Bersifat not-preplaned (kurikulum tidak diorganisasi sebelumnya, tetapi dikembangkan bersama guru dan peserta didik dalam penyelesaian tugas-tugas pendidikan)

87 Ciri-ciri The Activity atau Experience Design 1. Struktur ditentukan oleh kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam mengimplementasikan ciri ini guru hendaknya: –Menemukan minat dan kebutuhan peserta didik –Membantu peserta didik mana yang lebih penting dan urgen. 2. Karena disusun guru dan peserta didik maka tujuan yang dicapai, sumber belajar, kegiatan belajar dan prosedur evaluasi juga dirumuskan bersama peserta didIk. 3. Kurikulum menekankan pada pemecahan masalah. Sehingga kesulitan-kesulitan yang ditemukan menunjukkan problema nyata yang dihadapi peserta didik, dan dalam menyelasaikan masalah tersebut siswa melakukan proses belajar yang nyata, sunguh-sunguh bermakna yang relevan dengan kehidupannya.

88 Kelebihan Motivasi belajar bersifat instrinsik dan tidak perlu dirangsang dari luar. Pengajaran memperhatikan perbedaan individual. Peserta didik juga memerlukan kerja kelompok akan tetapi juga bekerja secara individual. Kegiatan pemecahan masalah memberikan bekal kecakapan dan pengetahuan untuk menghadapi kehidupan diluar sekolah.

89 Kelemahan Walaupun penekanannya pada minat dan kebutuhan tetapi belum tentu dapat menghadapi kenyataan kehidupan sekarang. Dunia modern sangatlah kompleks, peserta didik belum tentu dapat merasakan kebutuhan-kebutuhan yang esensial. Sangat lemah dalam kontinuitas dan sekuens bahan. Untuk mengatasi kelemahan ini, dapat diatasi dengan: –Usaha untuk menemukan sekuens perkembangan kemampuan peserta didik, sperti perkembangan kemampuan konitif dari Piaget. –Mengadakan penelitian tentang pusat-pusat minat padaberbagai tingkat, yang kemudian dijadikan dasar untuk penyusunan sekuens. Kritik tidak dapat dilakukan oleh guru biasa akan tetapi oleh guru ahli general education dan ahli psikologi perkembangan dan human relation. Model ini sulit menemukan buku sumber karena buku disusun berdasarkan subject atau discipline design. Siswa sulit untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi karena Perguruan Tinggi menggunakan model subject atau discipline design.

90 Problem Centered Design Model desain kurikulum ini mengutamakan peranan manusia dalam kesatuan kelompok yaitu kesejahteraan masyarakat. Model desain kurikulum ini mengutamakan peranan manusia dalam kesatuan kelompok yaitu kesejahteraan masyarakat.ARTINYA isi kurikulum berupa masalah sosial yang dihadapi siswa sekarang dan yang akan datang. isi kurikulum berupa masalah sosial yang dihadapi siswa sekarang dan yang akan datang. Sekuens bahan disusun berdasarkan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan siswa Sekuens bahan disusun berdasarkan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan siswa

91 The Areas of Living Design ciri-ciri Prosedur belajar tujuan bersifat proses (process objective) dan yang bersifat isi diintegrasikan sedang penguasaan informasi lebih bersifat pasif tetap dirangsang. Prosedur belajar tujuan bersifat proses (process objective) dan yang bersifat isi diintegrasikan sedang penguasaan informasi lebih bersifat pasif tetap dirangsang. Menggunakan pengalaman dan situasi-situasi nyata dari siswa sebagai pembuka jalan dalam mempelajari bidang kehidupan. Menggunakan pengalaman dan situasi-situasi nyata dari siswa sebagai pembuka jalan dalam mempelajari bidang kehidupan. Pengalaman siswa sangat erat hubungannya dengan bidang kehidupan Pengalaman siswa sangat erat hubungannya dengan bidang kehidupan sehingga dapat dikatakan desain kurikulum bidang kehidupan yang dirumuskan dengan baik akan merangkum pengalaman sosial siswa, sihingga akan menarik minat siswa dan mendekatkannya pada pemenuhan kebutuhan hidupnya dimasyarakat. sehingga dapat dikatakan desain kurikulum bidang kehidupan yang dirumuskan dengan baik akan merangkum pengalaman sosial siswa, sihingga akan menarik minat siswa dan mendekatkannya pada pemenuhan kebutuhan hidupnya dimasyarakat.

92 Kebaikan Kurikulum The Areas of Living Design merupakan The subject matter design, tetapi dalam bentuk yang terintegrasi, pemisahan dalambentuk subject dihilangkan oleh problema-problema kehidupan sosial. The Areas of Living Design merupakan The subject matter design, tetapi dalam bentuk yang terintegrasi, pemisahan dalambentuk subject dihilangkan oleh problema-problema kehidupan sosial. Karena kurikulum diorganisasi disekitar problema siswa dalam kehidupan sosial maka desain ini mendorong penggunaan prosedur belajar pemecahan masalah. Prinsip- prinsip belajar aktif diterapkan dalam hal ini. Karena kurikulum diorganisasi disekitar problema siswa dalam kehidupan sosial maka desain ini mendorong penggunaan prosedur belajar pemecahan masalah. Prinsip- prinsip belajar aktif diterapkan dalam hal ini. Menyajikan bahan ajar dalam bentuk relevan untuk memecahkan maalah kehidupan. Menyajikan bahan ajar dalam bentuk relevan untuk memecahkan maalah kehidupan. Menyajikan bahan ajar dalam bentuk yang fungsional, karena dihadapkan pada pemecahan masalah peserta didik dan secara langsung dipraktekkan dalam kehidupan. Menyajikan bahan ajar dalam bentuk yang fungsional, karena dihadapkan pada pemecahan masalah peserta didik dan secara langsung dipraktekkan dalam kehidupan. Motivasi belajar datang dari dalam dan tidak perlu dirangsang dari luar. Motivasi belajar datang dari dalam dan tidak perlu dirangsang dari luar.

93 Kelemahan kurikulum Penentuan lingkup dan sekuens dari bidang kehidupan yang esensial sangat sulit, sehingga timbul organisasi kurikulum yang berbeda-beda. Penentuan lingkup dan sekuens dari bidang kehidupan yang esensial sangat sulit, sehingga timbul organisasi kurikulum yang berbeda-beda. Sebagai akibat dari kesulitan tersebut, maka lemahnya atau kurangnya integritas dan kontinuitas organisasi isi kurikulum. Sebagai akibat dari kesulitan tersebut, maka lemahnya atau kurangnya integritas dan kontinuitas organisasi isi kurikulum. Desain ini mengabaikan warisan budaya, padahal yang ditemukan masa lalu penting untuk memecahkan masalah masa kini. Desain ini mengabaikan warisan budaya, padahal yang ditemukan masa lalu penting untuk memecahkan masalah masa kini. Karena kurikulum dipusatkan pada pemecahan masalah sosial sekarang maka kecenderungan untuk mengidoktrinasi peserta didik tidak melihat alternatif lain. Disain ini akan mempertahankan status quo. Karena kurikulum dipusatkan pada pemecahan masalah sosial sekarang maka kecenderungan untuk mengidoktrinasi peserta didik tidak melihat alternatif lain. Disain ini akan mempertahankan status quo. Guru maupun buku dan media tidak banyak yang disiapkan, sehingga pelaksanaannya mengalami beberapa kesulitan. Guru maupun buku dan media tidak banyak yang disiapkan, sehingga pelaksanaannya mengalami beberapa kesulitan.

94 The Core Design ► Model kurikulum ini dipusatkan pada kebutuhan individual dan sosial. ► Banyak pendapat tentang pandangan core curriculum yaitu sebagai model program pendidikan yang memberikan pendidikan umum, ► Ada yang menyebutkan kelompok mata kuliah atau pelajaran dasar umum yang diarahkan pada pengembangan kemampuan pribadi dan sosial seperti kelompok matakuliah spesialisasi, kelompok penguasaan keahlian / kejuruan

95 Variasi Desain Core Curriculum The Saparate subject Core ► Salah satu usaha untuk mengatasi keterpisahan antar mata pelajaran, mata pelajaran yang dipandang mendasari atau menjadi inti mata pelajaran lainnya dijadikan core. The Correlated Core ► Model ini perkembangan dari The Saparate subject Core dengan mengintegrasikan beberapa mata pelajaran yang erat hubungannya.

96 The Fused Core. ► Berpangkal dari saparated core, pengintegrasian bukan hanya dua atau tiga pelajaran tetapi lebih, misalnya: sejarah, geografi, antropologi, sosiologi, ekonomi menjadi Studi Kemasyarakatan. The Activity/Experience Core. ► Model berkembang dari pendidikan progresif dengan leaner centered, the activity/experient core dipusatkan pada minat-minat dan kebutuhan peserta didik.

97 The Areas of Living Core. ► Juga berpangkal dari pendidikan progresif, tetapi organisasinya berstruktur dan dirancang sebelumnya. ► Berbentuk kepribadian umum yang isinya diambil dari masalah-masalah yang muncul di masyarakat. ► Bentuk ini ini yang paling cocok untuk program pendidikan umum.

98 The Social Problems Core ► Model ini merupakan produk dari pendidikan progresif. ► Dalam beberapa hal model ini sama dengan the areas of living core yang berdasarkan kegiatan manusia secara universal tetapi tidak berisi hal-hal yang kontroversial ► Sedang the social problems core didasarkan atas problema yang mendasar dan bersifat kontroversial. ► Penyusunan kurikulumini mengikuti pola seperti urutan pertanyaan berikut:  Bagaimana gambaran masyarakat yang ada dewasa ini ?  Apa akibatnya bila kita terus mempertahankan kondisi yang ada ini ?  Bagaimana gambaran keadaan masyarakat yang ideal ?  Jika gambaran pertanyaan ketiga berbeda dengan pertanyaan kedua, usaha apa yang akan dilakukan untuk mengatasinya, baiksecara kelompok maupun secara individual.

99 The Unencapsulation design ► Desain yang menekankan pada kemampuan untuk mengamati dan memahami seluruh yang ada di dunia, akan tetapi terjadi kesulitan yaitu hanya sebagian kecil saja yang dapat dikuasai. ► Model diarahkan pada pengembangan manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang lebih lengkap, tepat dan seimbang ► Joseph Royce pencetus konsep ini mengatakan: Pengetahuan dan kemampuan akan tercapai melalui 4 cara yaitu:  Pemikiran (Rasionalisme).  Pengamatan (Emperisme).  Perasaan (Intuisisme).  Kepercayaan (Otoritarianisme).

100 Beckers’s Humanistik Design ► Disain pendidikan umum. ► Beckers’s mengambangkan model pendidikan yang dapat menghilangkan “ketersaingan “. ► Disain Beckers’s lebih menekankan pada isi dari pada proses. Isi kurikulum dipusatkan pada 3 bidang:  DemenSi individu yang membahas keadaan dan keberadaan manusia.  Demensi sosial dan historis yang membahas kehidupan kemasyarakatan dan sejarah perkembangan manusia.  Demensi teologis yang membahas keharusan manusia beragama dan bahaya-bahaya sekulerisme.

101 PENGEMBANGAN KURIKULUM Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum ► Kurikulum merangkum pengalaman belajar SISWA di sekolah. Sehingga kurikulum hendaknya: ► Kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan dan perbuatan pendidikan. ► Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, penguasaha serta unsur masyarakat lainnya. ► Kurikulum dirancang untuk memberikan pedoman pada pelaksana pendidikan dalam proses pembimbingan perkembangan siswa untuk mencapai cita-cita siswa, keluarga dan masyarakat.

102 Prinsip-prinsip Umum Relevansi Ada 2 relevansi yang harus dimiliki kurikulum: Ada 2 relevansi yang harus dimiliki kurikulum: ► Relevansi Keluar: maksudnya tujuan, isi dan proses belajar hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. ► Relevansi di Dalam Kurikulum itu sendiri: yaitu ada keseuaian atau konsistensi antara komponen kurikulum yaitu anata tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian.

103 Fleksibilitas Kurikulum hendaknya : ► Bersifat lentur. ► Mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, disini dan ditempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. ► Kurikulum berisikan hal-hal yang solid akan tetapi dalam pelaksanaannya hendaknya memungkinkan terjadi penyesuaian dengan kondisi daerah, waktu, kemampuan dan latar belakang anak.

104 Kontinuitas Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum hendaknya berkesinambungan ► Antara satu tingkat dengan kelas lainnya ► Antara satu jenjang pendidikan ke jenjang lainnya juga jenjang pendidikan dengan pekerjaan. ► Pengembangan kurikulum dilakukan bersama- sama dan perlu adanya koordinasi antara pengembang kurikulum sekolah dasar, sekolah menengah dan perguruan tinggi.

105 Praktis ► Prinsip ini berhubungan dengan efisiensi yaitu kurikulum hendaknya mudah dilaksanakan, digunakan alat-alat sederhana dan biaya yang murah. Efektifitas ► Walaupun kurikulum harus efektif akan tetapi keberhasilan harus tetap diperhatikan baik kuantitas maupun kualitas.

106 Prinsip-prinsip Khusus. Prinsip Berkenaan Dengan Tujuan Pendidikan ► Tujuan bersifat jangka panjang, Jangka menengah dan Jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada: ► Ketentuan dan kebijakan pemerintah. ► Survey mengenai persepsi orang tua / masyarakat tentang kebutuhan yang dikirim melalui angket atau wawancara. ► Survey tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu melalui angket, wawancara, observasi dan media massa. ► Survey tentang manpower. ► Pengalaman negara-negara lain dalam masalah yang sama. ► Penelitian.

107 Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Isi Pendidikan. ► Isi Pendidikan perlu mempertimbangkan: ► Perlu penjabaran tujuan pendidikan/pengajaran dalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. ► Isi pelajaran harus meliputi pengetahuan, sikap dan ketrampilan. ► Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sitematis. Ke 3 ranah belajar yaitu pengetahuan, sikap dan ketrampilan diberikan secara simultan dalam urutan situasi belajar. Untuk itu perlu pedoman guru tentang organisasi bahan dan alat pengajaran secara mendetail.

108 Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Proses Belajar Mengajar ► Pemilihan proses belajar mengajar hendaknya memperhatika: ► Apakah metode/teknik belajar mengajar yang digunakan cocok untuk mengajar bahan pengajaran ? ► Apakah metode/teknik memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual peserta didik ? ► Apakah metode/teknik memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat ? ► Apakah metode/teknik dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotor ?

109 ► Apakah metode/teknik lebih mengaktifkan peserta didk atau guru atau kedua-duanya ? ► Apakah metode/teknik mendorong berkembangnya kemampuan baru ? ► Apakah metode/teknik menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan dirumah, juga mendorong penggunaan sumber yang ada dirumah dan mdi masyarakat ? ► Untuk belajar ketrampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menkankan pada “learning by doing” disamping “learning by seeing and knowing”.

110 Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Media dan Alat Pengajaran ► Alat/media pengajaran apa yang diperlukan ? Apakah semuanya sudah tersedia ? Bila media tersebut tidak ada, apa penggantinya ? ► Kalau ada alat yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana pembuatannya, siapa, pembiayaan dan waktu pembuatannya. ► Bagaimana pengorganisasian alat dalam bahan pengajaran ?, apakah dalam bentuk modul, paket belajar atau yang lainnya ? ► Begaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan belajar ? ► Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media ?

111 Prinsip Berkenaan Dengan Pemilihan Kegiatan Peniliaian Dalam penyusunan alat penilaian (tes) hendaknya mengikuti langkah-langkah: ► Rumuskan tujuan pendidikan yang umum dalam ketiga ranah. ► Uraikan kedalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati. ► Hubungkan dengan bahan pelajaran. ► Tuliskan butir-butir tes.

112 Dalam merencanakan penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal: ► Berapa lama waktu dibutuhkan untuk pelaksanaan tes ? ► Apakah tes berbentuk uraian atau objektif ? ► Berapa banyak butir tes yang disusun ? ► Apakah tes tersbur diadministrasikan oleh guru atau murid ?

113 Dalam pengelolaan hasil niali hendaknya memperhatikan hal-hal: ► Norma apa yang digunakan dalam pengelolaan tes ? ► Apakah digunakan formula quessing ? ► Bagaimana pengubahan skor kedalam skor masak ? ► Skor standar apa yang digunakan ? ► Untuk apakah hasil-hasil tes digunakan ?

114 Pengembang Kurikulum Dalam mengembangan kurikulum banyak pihak yang terlibat yang turut berpartisipasi antara lain yaitu:  Administrator pendidikan,  Ahli pendidikan,  Ahli kurikulum,  Ahli bidang ilmu pengetahuan,  Guru-guru  Orang tua serta  Tokoh masyarakat.

115 Peranan Para Administrator Pendidikan. Para administrator terdiri dari: ► Direktur Bidang pendidikan. ► Pusat Pengembangan Kurikulum. ► Kepala kantor Wilayah. ► Kepala Kantor Kabupaten dan Kecamatan. ► Kepala Sekolah.

116 Peranan administrator ditingkat pusat (Direktur dan Kepala Pusat) dalam pengembangan kurikulum menyusun ► Dasar hukum, ► menyusun kerangka dasar ► program inti kurikulum. ► Administrator tingkat pusat bersama dengan ahli pendidikan dan ahli bidang studi di Perguruan Tinggi minta persetujuan dalam menyusun kurikulum sekolah. ► Atas dasar kerangka dasar dan program inti para administrator daerah (Kapala kantor wilayah) dan administrator lokal (kabupaten, kecamatan, kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah daerahnya sesuai dengan kebutuhan daerahnya.

117 ► Kepala sekolah secara terus menerus terlibat dalam pengembangan kurikulum dan implementasinya untuk memberikan dorongan pada guru-guru ► Walaupun guru dapat mengembangkan kurikulum sendiri akan tetapi dalam pelaksanaannya perlu didorong dan dibantu oleh administrator, Sehingga perlu ada kerjasama yang harmonis.

118 Peranan Para Ahli. ► Pengembangan kurikulum tidak saja didasarkan atas tuntutan kehidupan di masyarakat akan tetapi juga pengembangan konsep-konsep dalam ilmu, sehingga pengembangan kurikulum juga membutuhkan bantuan pemikiran dari ahli pendidikan, ahli kurikulum, maupun ahli bidang studi. ► Kurikulum bukan hanya sekedar meimilih dan menyusun bahan pelajaran dan metode akan tetapi juga menyangkut arah dan orientasi pendidikan, pemilihan sistem dan model kurikulum, baik model konsep, model desain, model pembelajaran, model media, model pengelolaan maupun model evaluasinya srta berbagai perangkat dan pedoman penjabarannya dan implementasi dari model-model tersebut.

119 Peranan Guru ► Peranan guru adalah dalam perencana dan pelaksana dan pengembangan kurikulum di kelasnya, sekalipun bukan pencetus sendiri konsep-konsep tentang kurikulum akan tetapi guru sebagai penterjemah kurikulum. ► Guru merupakan barisan pengembang kurikulum dalam lingkup yang lebih luas yang menilai dan menyempurnakannya. ► Hasil penilaian untuk memahami hambatan-hambatan dalam implementasi kurikulum dan mencari cara untuk mengoptimalkan kegiatan guru. ► Guru juga tidak hanya sebagai guru kelas melainkan juda sebagai komunikator, pendorong kegiatan belajar, pengembang alat belajar, penyusunan organisasi, pencoba, menejer sistem pengajaran, pembimbing baik siekolah maupun di masyarakat. ► Sehingga guru juga perlu dipersiapkan dalam berbagai situasi dan kegiatan pendidikan, sehingga pula dapat meningkatkan kreativitas peserta didik.

120 Peranan Orang Tua Murid. ► Dalam penyusunan kurikulum tidak semua orang tua yang terlibat hanya terbatas beberapa orang yang mempunyai cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. ► Pelaksanaan kurikulum orang tua mengamati pelaksanaan kurikulum di rumah, dimana juga orang tua menerima laporan tentang kemajuan belajar anaknya. ► Orang tua juga ikut berperan serta dalam kegiatan-kegiatan: seminar, diskusi, lokakarya, pertemuan orang tua-guru, pameran sekolah dan lain sebagaimnya.

121 Proses Pengembangan Kurikulum. Pedoman Kurikulum ► Latar belakang, yang berisi rumusan falsafah dan tujuan lembaga pendidikan, populasi yang menjadi sasaran, rasional bidang studi atau matakuliah, struktur organisasi bahan pelajaran. ► Silabus, yang berisi matapelajaran secara lebih terinci yang diberikan yaitu scope (ruang lingkup) dan sequence (urutan penyajian) ► Disain Evaluasi, termasuk strategi revisi atau perbaikan kurikulum mengenai: a. Bahan Pelajaran (scope dan sequence) a. Bahan Pelajaran (scope dan sequence) b. Organisasi bahan dan strategi instruksionalnya. b. Organisasi bahan dan strategi instruksionalnya.

122 Pedoman Kurikulum disusun untuk menentukan dalam garis besar: ► Apa yang akan diajarkan (ruang lingkup, scope). ► Kepada siapa diajarkan. ► Apa sebab diajarkan. ► Dalam urutan yang bagaimana (sequence).

123 Selanjutnya perlu diuraikan ► Falsafah dan misi lembaga pendidikan, sekolah, akademi atau universitas/institut. Di Perguruan Tinggi perlu juga dikemukakan falsafat dan misi tiap Fakultas/ Jurusan. ► Alasan atau rasional kurikulum berhubungan dengan populasi yang dijadikan sasaran, yaitu untuk apa peserta didik dipersiapkan. ► Tujuan filosofis mengenai bahan yang akan diajarkan, alasan memilihnya. ► Organisasi bahan pelajaran secara umum.

124 Langkah-langkah dalam Pengembangan Pedoman kurikulum ► Kumpulkan keterangan mengenai faktor-faktor yang turut menentukan kurikulum serta latar belakangnya. ► Pertanyaan yang perlu dijawab adalah:  Apakah difinisi kurikulum yang akan dikembangkan ?  Apakah faktor-faktor utama yang mempengaruhi kurikulum tersebut ?  Apa, kepada siapa, apa sebab, bagaimana organisasi bahan yang akan diajarkan ?  Adakah alternatif lain ?

125 ► Tentukan matapelajaran atau matakuliah yang akan diajarkan.  Berhubung dengan pertimbangan di atas, matapelajaran apakah yang dianggap paling serasi untuk diberikan ?  Bagaimana scope dan sequencenya ?

126 ► Rumuskan tujuan tiap matapelajaran.  Apakah pada umumnya diharapkan dari siswa ?  Tentukan hasil belajar yang diharapkan dari siswa dalam tiap matapelajaran.  Apakah standar hasil belajar peserta didik dalam tiap matapelajaran dalam aspek kognitif, afektif dan psokomotor ?

127 ► Tentukan topik tiap matapelajaran.  Bagaimanakan menentukan topik tiap matapelajaran, beserta luas dan urutan bahannya berhubung dengan tujuan yang telah dirincikan ?  Bagaimanakah organisasi yang serasi bagi topik-topik tersebut ? ► Tentukan syarat yang ditentukan dari peserta didik.  Bagaimanakah tingkat perkembangan dan pengetahuan siswa ?  Apakah syarat agar peserta didik dapat mengikuti pelajaran ?  Kegiatan-kegiatan apakah yang harus dapat dilakukan peserta didik agar dapat mencapai tujuan pelajaran ?

128 ► Tentukan Bahan yang harus dibaca peserta didik.  Sumber bahan apa yang tersedia antara lain di perpustakaan ?  Sumber bacaan apa yang dapat disediakan ?  Bacaan apa yang esensial dan bacaan apa sebagai pelengkap atau sebagai rujukan ?

129 ► Tentukan strategi mengajar yang serasi serta sediakan berbagai sumber / alat peraga proses belajar mengajar.  Berhubung dengan bahan pelajaran dan tarap perkembangan dan pengetahuan peserta didik strategi mengajar yang bagaimana akan paling efektif ?  Alat instruksional / alat peraga apakah yang telah ada dan alat serta sumber apakah yang dapat disediakan ?

130 ► Tentukan alat evaluasi hasil belajar peserta didik serta skala penilaiannya.  Alat apa, kegiatan apa yang akan digunakan untuk mengukur taraf kemajuan peserta didik ?  Aspek-aspek apa yang akan dinilai ?  Bagaimana cara memberi nilai peserta didik ?  Apakah akan dibeeri weight yang berbeda untuk aspek tertentu ?

131 ► Buat disain rencana penilaian kurikulum secara keseluruhan dan strategi perbaikannya.  Kapan dan berapa kali harus diadakan evaluasi kurikulum serta revisinya ?  Alat, proses atau prosedur apakah yang dapat digunakan ? ► Menyusun silabus yang berisi pokok-pokok bahasan atau topik dan sub-topik tiap matapelajaran/matakuliah termasuk tanggung jawab pengajar.

132 Pedoman Instruksional ► Untuk tiap matapelajaran yang dikembangkan berdasarkan silabus. ► Pedoman dibuat untuk memudahkan mempersiapkan pengajaran. ► Pedoman dibuat dan dilakukan oleh tim. ► Pedoman dibuat terinci menentukan tujuan instruksional yang spesifik dan bahan yang khusus pula.

133 Langkah Mendisain Pedoman Instruksional: ► Tentukan satu atau tujuan untuk tiap topik yang telah disebut dalam silabus matapelajaran (Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan Instruksional Khusus) ► Rumuskan Tujuan Instruksional Khusus untuk dapat diamati dan diukur hasilnya. ► Tentukan 2 atau 3 macam kegiatan belajar bagi tiap Tujuan Khusus. ► Sediakan sumber dan alat belajar mengajar yang sesuai. ► Buat disain penilaian hasil dan kemajuan belajar, cara menilai, alat menilai untuk tiap tujuan khusus.

134 Model-model Pengembangan Kurikulum ► a. The Administrative Model. ► b. The Grass Roots Model. ► c. Beauchamp’s System ► d. The demonstration Model. ► e. Taba’s Inverted Model. ► f. Roger’s Interpersonal relations Model ► g. The Systematic Action-Research Model. ► h. Emerging Technical Models.

135 Daftar Pustaka ► Beauchamp, George A. (1975), Cuuriculum Theory, Wolmette, Illinois: The KAGG Press. ► Chambers, John H. (1983), The Achievement of Education, New York: Harper & Roe Pub. ► Davies, Ivor K (1981), Instructional Techniques. New York: McGraw Hill Books,Co. ► Gagne, Robert M. (1965), The Condition of Learning. New York: Holt, Renehart & Winston. ► Hamalik, Oemar, (2006), Manajemen Pengembangan Kurikulum, Penerbit: Kerjasama Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia & PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. ► Mac Donald, James B. (1965), Educational Models for Instruction. Washington DC: The Association for Supervision and Curriculum Development.

136 ► McNeil John D (1977), Curriculum a Comprehenshiv Introduction, Boston: Little Brown & Co.Inc. ► Nasution, S (2005), Asas-asas Kurikulum, PT. Bumi Aksara, Jakarta. ► Nasution, S (2006), Kurikulum dan Pengajaran, PT. Bumi Aksara, Jakarta. ► Sukamadinata, Syaodiq, Nana (2006), Pengembangan Kurikulum, Teori dan Praktek, Penerbit: PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. ► Suryosubroto B, (2005), Tata Laksana Kurikulum, Penerbit: Rineka Cipta, Jakarta. ► Suderadjat, Hari (2004), Kurikulum Berbasis Kompetensi, CV. Cipta Cekas Grafika, Bandung.


Download ppt "Drs. ACHMAD NOOR FATIRUL,ST.MPd. Bangkalan, 9 Agustus 1960  S-1 Teknik Listrik  S-1 Teknik Elektro  S-2 Teknologi Pembelajaran  S-3 Teknologi Pembelajaran."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google