Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Nematoda Jaringan Oleh Nurhalina, SKM, M.Epid. 1-Cutaneous Larva Migrans (CLM) 1-Cutaneous Larva Migrans (CLM) 2-Visceral Larva Migrans (VLM) (Toxocaraiasis)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Nematoda Jaringan Oleh Nurhalina, SKM, M.Epid. 1-Cutaneous Larva Migrans (CLM) 1-Cutaneous Larva Migrans (CLM) 2-Visceral Larva Migrans (VLM) (Toxocaraiasis)"— Transcript presentasi:

1 Nematoda Jaringan Oleh Nurhalina, SKM, M.Epid

2 1-Cutaneous Larva Migrans (CLM) 1-Cutaneous Larva Migrans (CLM) 2-Visceral Larva Migrans (VLM) (Toxocaraiasis) Toxocariasis is caused by larvae of Toxocara canis (dog roundworm) and less frequently of T. cati (dog roundworm) and less frequently of T. cati (cat roundworm), two nematode parasites of animals. Larva Migrans

3 pengertian Larva migrans adalah larva cacing nematoda hewan yang mengadakan migrasi di dalam tubuh manusia tetapi tidak berkembang menjadi bentuk dewasa. Terdapat dua jenis larva migrans, yaitu cutaneous larva migrans atau creeping eruptions dan visceral larva migrans. Pada cutaneous larva migrans larva cacing masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit atau mulut dan larva mengadakan migrasi di dalam jaringan kulit saja. Pada visceral larva migrans telur cacing masuk melalui mulut penderita dan larva cacing yang menetas melakukan migrasi ke dalam organ-organ tubuh atau jaringan viseral tubuh manusia. Larva migrans adalah larva cacing nematoda hewan yang mengadakan migrasi di dalam tubuh manusia tetapi tidak berkembang menjadi bentuk dewasa. Terdapat dua jenis larva migrans, yaitu cutaneous larva migrans atau creeping eruptions dan visceral larva migrans. Pada cutaneous larva migrans larva cacing masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit atau mulut dan larva mengadakan migrasi di dalam jaringan kulit saja. Pada visceral larva migrans telur cacing masuk melalui mulut penderita dan larva cacing yang menetas melakukan migrasi ke dalam organ-organ tubuh atau jaringan viseral tubuh manusia.

4 Penyebab larva migrans Larva cacing nemotoda hewan yang menimbulkan cutaneous larva migrans adalah Ancylostoma braziliensis, Ancylostoma caninum, dan Gnathostoma spinigerum yang hidup pada kuing, anjing, dan sejenisnya. Penyebab visceral larva migrans adalah larva Toxocara canis, cacing askaris yang hidup pada anjing, dan Toxocara cati, cacing askais yang hidup pada kucing. Larva cacing nemotoda hewan yang menimbulkan cutaneous larva migrans adalah Ancylostoma braziliensis, Ancylostoma caninum, dan Gnathostoma spinigerum yang hidup pada kuing, anjing, dan sejenisnya. Penyebab visceral larva migrans adalah larva Toxocara canis, cacing askaris yang hidup pada anjing, dan Toxocara cati, cacing askais yang hidup pada kucing.

5 Gejala Klinis dan Diagnosis LarvaMigrans Gejala klinik visceral larva migrans berupa hepatomegali, asma dan demam. Sebagai penunjang diagnosis pemeriksaan pemeriksaan darah menunjukan hipereosinofilia yang berkisar antara 15% dan 80% serta leukositosis antara dan Gambaran creeping eruption yang khas disertai leukositosis dan eosinofilia menunjukkan terjadinya cutaneous larva migrans. Tes intradermal menggunakn antigen larva atau cacing Gnathostoma spinigerum membantu menegakkan diagnosis cutaneous larva migrans oleh cacing ini. Diagnosis pasti ditegakkan jika dapat ditemukan cacing penyebabnya. Gejala klinik visceral larva migrans berupa hepatomegali, asma dan demam. Sebagai penunjang diagnosis pemeriksaan pemeriksaan darah menunjukan hipereosinofilia yang berkisar antara 15% dan 80% serta leukositosis antara dan Gambaran creeping eruption yang khas disertai leukositosis dan eosinofilia menunjukkan terjadinya cutaneous larva migrans. Tes intradermal menggunakn antigen larva atau cacing Gnathostoma spinigerum membantu menegakkan diagnosis cutaneous larva migrans oleh cacing ini. Diagnosis pasti ditegakkan jika dapat ditemukan cacing penyebabnya.

6 Pengobatan Larva Migrans Cutteneous larva migrans diatasi dengan menyemprotkan larutan kloretil di ujung terowongan yang ditimbulkan oleh cacing penyebabnya. Selain itu dapat diberikan tiabendazol per oral untuk memberantas larva yang beredar. Terhadap larva migrans akibat Gnothtostoma spinigerum belum ada obat yang efektif, sehingga harus dilakukan tindakan pembedahan untuk mengeluarkan parasit ini. Sampai sekarang untuk mengobati visceral larva migrans belum dapat ditemukan obat-obat anti larva yang spesifik. Cutteneous larva migrans diatasi dengan menyemprotkan larutan kloretil di ujung terowongan yang ditimbulkan oleh cacing penyebabnya. Selain itu dapat diberikan tiabendazol per oral untuk memberantas larva yang beredar. Terhadap larva migrans akibat Gnothtostoma spinigerum belum ada obat yang efektif, sehingga harus dilakukan tindakan pembedahan untuk mengeluarkan parasit ini. Sampai sekarang untuk mengobati visceral larva migrans belum dapat ditemukan obat-obat anti larva yang spesifik.

7 pencegahan PENCEGAHAN LARVA MIGRANS Anjing dan kucing yang menjadi sumber penularan cutaneous larva migrans (Ancylostoma caninum dan A.braziliensis) maupun visceral migrans (Toxocara canis dan T.cati) harussegera diobati dengan baik. Juga harus dihindari kontak dengan larva cacing yang ada di tanah yang tercemar tinja anjing atau kucing untuk mencegah cutaneous larva migrans. Untuk membasmi telur infektif cacing, makana dan minuman harus dimasak dengan baik untuk mencegah terjadinya visceral larva migrans oleh Toxocara cati dan T.canis dan cutaneous larva migrans oleh G.spinigerum. PENCEGAHAN LARVA MIGRANS Anjing dan kucing yang menjadi sumber penularan cutaneous larva migrans (Ancylostoma caninum dan A.braziliensis) maupun visceral migrans (Toxocara canis dan T.cati) harussegera diobati dengan baik. Juga harus dihindari kontak dengan larva cacing yang ada di tanah yang tercemar tinja anjing atau kucing untuk mencegah cutaneous larva migrans. Untuk membasmi telur infektif cacing, makana dan minuman harus dimasak dengan baik untuk mencegah terjadinya visceral larva migrans oleh Toxocara cati dan T.canis dan cutaneous larva migrans oleh G.spinigerum.

8 Creeping Eruption Larva filariform cacing A.caninum dan A.braziliensis hidup di dalam tanah. Sesudah menembus kulit manusia, larva cacing mengadakan migrasi intrakutan dengan membentuk terowongan yang khas bentuknya. Di dalam tubuh manusia larva tidak dapat berkembang menjadi cacing dewasa. Dermatitis intrakutan yang berbentuk khas bentuknya, berupa garis berkelok-kelok mirip ular, dan garukan oleh penderita dapat menimbulkan infeksi sekunder. Diagnosis creeping eruption secara klinis mudah ditentukan, dan diagnosis pasti ditegakkan melalui biopsi kulit untuk menemukan larva cacing yang menjadi penyebabnya. Larva filariform cacing A.caninum dan A.braziliensis hidup di dalam tanah. Sesudah menembus kulit manusia, larva cacing mengadakan migrasi intrakutan dengan membentuk terowongan yang khas bentuknya. Di dalam tubuh manusia larva tidak dapat berkembang menjadi cacing dewasa. Dermatitis intrakutan yang berbentuk khas bentuknya, berupa garis berkelok-kelok mirip ular, dan garukan oleh penderita dapat menimbulkan infeksi sekunder. Diagnosis creeping eruption secara klinis mudah ditentukan, dan diagnosis pasti ditegakkan melalui biopsi kulit untuk menemukan larva cacing yang menjadi penyebabnya.

9 Toxocara canis

10

11

12 Toxocara cati egg

13 Toxocara cati

14

15

16

17

18 Clinical Features Many human infections are asymptomatic, with only eosinophilia and positive serology. Many human infections are asymptomatic, with only eosinophilia and positive serology. The two main clinical presentations of toxocariasis are visceral larva migrans (VLM) and ocular larva migrans (OLM). The two main clinical presentations of toxocariasis are visceral larva migrans (VLM) and ocular larva migrans (OLM). In VLM, which occurs mostly in preschool children, the larvae invade multiple tissues (liver, heart, lungs, brain, muscle) and cause various symptoms including fever, anorexia, weight loss, cough, wheezing, rashes, hepatosplenomegaly, and hypereosinophilia. Death can occur rarely, by severe cardiac, pulmonary or neurologic involvement. In VLM, which occurs mostly in preschool children, the larvae invade multiple tissues (liver, heart, lungs, brain, muscle) and cause various symptoms including fever, anorexia, weight loss, cough, wheezing, rashes, hepatosplenomegaly, and hypereosinophilia. Death can occur rarely, by severe cardiac, pulmonary or neurologic involvement. In OLM, the larvae produce various ophthalmologic lesions, which in some cases have been misdiagnosed as retinoblastoma, resulting in surgical enucleation. In OLM, the larvae produce various ophthalmologic lesions, which in some cases have been misdiagnosed as retinoblastoma, resulting in surgical enucleation. OLM often occurs in older children or young adults, with only rare eosinophilia or visceral manifestations. OLM often occurs in older children or young adults, with only rare eosinophilia or visceral manifestations.

19

20 OLM

21

22 Pulmonary granuloma

23 Laboratory Diagnosis Pada penyakit parasit ini diagnosis tidak tergantung pada identifikasi parasit. Karena larva tidak berkembang menjadi dewasa pada manusia, pemeriksaan tinja tidak akan mendeteksi telur Toxocara. Pada penyakit parasit ini diagnosis tidak tergantung pada identifikasi parasit. Karena larva tidak berkembang menjadi dewasa pada manusia, pemeriksaan tinja tidak akan mendeteksi telur Toxocara. Namun, kehadiran Ascaris dan Trichuris telur dalam tinja, menunjukkan paparan kotoran, meningkatkan kemungkinan Toxocara dalam jaringan Namun, kehadiran Ascaris dan Trichuris telur dalam tinja, menunjukkan paparan kotoran, meningkatkan kemungkinan Toxocara dalam jaringan Untuk kedua VLM dan OLM, diagnosis dugaan terletak pada tanda-tanda klinis, riwayat paparan anak anjing, temuan laboratorium ( termasuk eosinofilia ), dan deteksi antibodi terhadap Toxocara Untuk kedua VLM dan OLM, diagnosis dugaan terletak pada tanda-tanda klinis, riwayat paparan anak anjing, temuan laboratorium ( termasuk eosinofilia ), dan deteksi antibodi terhadap Toxocara

24 Eggs of Toxocara canis. These eggs are passed in dog feces, especially puppies' feces.

25 Antibody Detection Tes serologis saat ini dianjurkan untuk toxocariasis adalah immunoassay enzim ( EIA ) dengan antigen tahap larva diekstrak dari telur berembrio atau dirilis in vitro oleh larva infektif berbudaya. Tes serologis saat ini dianjurkan untuk toxocariasis adalah immunoassay enzim ( EIA ) dengan antigen tahap larva diekstrak dari telur berembrio atau dirilis in vitro oleh larva infektif berbudaya. ang terakhir, Toxocara ekskresi - sekresi ( TES ) antigen, yang lebih baik untuk ekstrak larva karena mereka mudah untuk memproduksi dan karena langkah penyerapan pemurnian tidak diperlukan untuk mendapatkan spesifisitas maksimal ang terakhir, Toxocara ekskresi - sekresi ( TES ) antigen, yang lebih baik untuk ekstrak larva karena mereka mudah untuk memproduksi dan karena langkah penyerapan pemurnian tidak diperlukan untuk mendapatkan spesifisitas maksimal

26 Treatment VLM diobati dengan obat antiparasit, biasanya dalam kombinasi dengan obat anti- inflamasi. Obat antiparasit direkomendasikan dalam Surat Medis adalah albendazole *, dengan mebendazole * sebagai alternatif. VLM diobati dengan obat antiparasit, biasanya dalam kombinasi dengan obat anti- inflamasi. Obat antiparasit direkomendasikan dalam Surat Medis adalah albendazole *, dengan mebendazole * sebagai alternatif.

27 Causal Agents: Trichinellosis ( trichinosis ) disebabkan oleh nematoda ( cacing gelang ) dari genus Trichinella. Selain klasik agen T. spiralis ( ditemukan di seluruh dunia dalam banyak hewan karnivora dan omnivora ), beberapa spesies lain dari Trichinella kini diakui. Causal Agents: Trichinellosis ( trichinosis ) disebabkan oleh nematoda ( cacing gelang ) dari genus Trichinella. Selain klasik agen T. spiralis ( ditemukan di seluruh dunia dalam banyak hewan karnivora dan omnivora ), beberapa spesies lain dari Trichinella kini diakui.

28 Trichinella spp. 1- T. pseudospiralis (mammals and birds) worldwide), 1- T. pseudospiralis (mammals and birds) worldwide), 2- T. nativa (Arctic bears) 2- T. nativa (Arctic bears) 3- T. nelsoni (African predators and scavengers) 3- T. nelsoni (African predators and scavengers) 4- T. britovi )carnivores of Europe and western Asia). 4- T. britovi )carnivores of Europe and western Asia).

29

30 Trichinella-adult

31 Trichinella nativa

32 Life cycle

33

34 Geographic Distribution Worldwide. Most common in parts of Europe and the United States.

35 Clinical Features Light infections may be asymptomatic. Light infections may be asymptomatic. Intestinal invasion can be accompanied by gastrointestinal symptoms (diarrhea, abdominal pain, vomiting). Intestinal invasion can be accompanied by gastrointestinal symptoms (diarrhea, abdominal pain, vomiting). Larval migration into muscle tissues (one week after infection) can cause periorbital and facial edema, conjunctivitis, fever, myalgias, splinter hemorrhages, rashes, and blood eosinophilia. Larval migration into muscle tissues (one week after infection) can cause periorbital and facial edema, conjunctivitis, fever, myalgias, splinter hemorrhages, rashes, and blood eosinophilia. Occasional life-threatening manifestations include myocarditis, central nervous system involvement, and pneumonitis. Occasional life-threatening manifestations include myocarditis, central nervous system involvement, and pneumonitis. Larval encystment in the muscles causes myalgia and weakness, followed by subsidence of symptoms. Larval encystment in the muscles causes myalgia and weakness, followed by subsidence of symptoms.

36 Splinter hemorrhages 2 Swollen eyes

37 A, B: Encysted larvae of Trichinella in pressed muscle tissue sample. The coiled larvae can be seen inside the cysts BA

38 Trichinella spiralis encysted larva

39 C, D: Larvae of Trichinella, freed from their cysts, typically coiled; length: 0.8 to 1 mm. C, D: Larvae of Trichinella, freed from their cysts, typically coiled; length: 0.8 to 1 mm. DC

40 Laboratory Diagnosis The suspicion of trichinellosis (trichinosis), based on clinical symptoms and eosinophilia, can be confirmed by specific diagnostic tests, including antibody detection, muscle biopsy, and microscopy. The suspicion of trichinellosis (trichinosis), based on clinical symptoms and eosinophilia, can be confirmed by specific diagnostic tests, including antibody detection, muscle biopsy, and microscopy.

41 Antibody Detection Immunodiagnostic tests currently available in the U.S. include enzyme immunoassays (EIA). Immunodiagnostic tests currently available in the U.S. include enzyme immunoassays (EIA). Antigen preparations may be crude antigens prepared from homogenates of Trichinella spiralis muscle larvae or excretory-secretory (ES) products produced by cultured larvae.


Download ppt "Nematoda Jaringan Oleh Nurhalina, SKM, M.Epid. 1-Cutaneous Larva Migrans (CLM) 1-Cutaneous Larva Migrans (CLM) 2-Visceral Larva Migrans (VLM) (Toxocaraiasis)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google