Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Ilmu Budaya Dasar. MENGAPA PERLU IBD? –Bangsa Indonesia adalah masyarakat majemuk (suku banyak, Budaya, Agama dan sebagainya). –Pembangunan yang dilaksanakan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Ilmu Budaya Dasar. MENGAPA PERLU IBD? –Bangsa Indonesia adalah masyarakat majemuk (suku banyak, Budaya, Agama dan sebagainya). –Pembangunan yang dilaksanakan."— Transcript presentasi:

1 Ilmu Budaya Dasar

2 MENGAPA PERLU IBD? –Bangsa Indonesia adalah masyarakat majemuk (suku banyak, Budaya, Agama dan sebagainya). –Pembangunan yang dilaksanakan menimbulkan perubahan dalam sistem nilai budaya. –Kemajuan dalam bidang Teknologi Komunikasi Massa dan Transportasi mempengaruhi intensitas kontak budaya antar suku-bangsa maupun dengan kebudayaan dari luar.

3 Ilmu Budaya Dasar Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu komponen mata kuliah dasar umum yang mempunyai tujuan mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran mahasiswa agar daya tanggap, persepsi dan penalaran yang berkenan dengan lingkungan budaya dapat dipertajam. Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu komponen mata kuliah dasar umum yang mempunyai tujuan mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran mahasiswa agar daya tanggap, persepsi dan penalaran yang berkenan dengan lingkungan budaya dapat dipertajam. Dengan mempelajari Ilmu Budaya Dasar diharapkan para lulusan perguruan tinggi menjadi sarjana yang sujana. Dengan mempelajari Ilmu Budaya Dasar diharapkan para lulusan perguruan tinggi menjadi sarjana yang sujana.

4 IBD BAGI MAHASISWA Ilmu Budaya Dasar juga penting bagi mahasiswa karena dalam kehidupan bermasyarakat acapkali orang tidak berfikir secara rasional, melainkan irrasional bahkan kontra-rasio. Ilmu Budaya Dasar juga penting bagi mahasiswa karena dalam kehidupan bermasyarakat acapkali orang tidak berfikir secara rasional, melainkan irrasional bahkan kontra-rasio. Pemikiran rasional, yang merupakan suatu proses berfikir menurut suatu logika tertentu (setiap budaya adalah “benar” menurut lingkupnya). Pemikiran rasional, yang merupakan suatu proses berfikir menurut suatu logika tertentu (setiap budaya adalah “benar” menurut lingkupnya). Pemikiran irrasional atau pemikiran yang berpangkal pada emosi. Pemikiran kontra-rasio yang merupakan suatu pemikiran yang berlawanan dengan suatu keputusan rasional yang sudah disepakati sebelumnya. Pemikiran irrasional atau pemikiran yang berpangkal pada emosi. Pemikiran kontra-rasio yang merupakan suatu pemikiran yang berlawanan dengan suatu keputusan rasional yang sudah disepakati sebelumnya. Dengan mempelajari Ilmu Budaya Dasar diharapkan seseorang akan menjadi lebih manusiawi, berbudaya, dan lebih halus dalam perilaku dan tutur bahasanya. Dengan mempelajari Ilmu Budaya Dasar diharapkan seseorang akan menjadi lebih manusiawi, berbudaya, dan lebih halus dalam perilaku dan tutur bahasanya.

5 IBD = Basic Humanities Pengertian Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah- masalah manusia dan kebudayaan. Pengertian Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah- masalah manusia dan kebudayaan.

6 HUMANIORA Ilmu Budaya Dasar (IBD) dikenal dengan istilah humaniora. Ilmu Budaya Dasar (IBD) dikenal dengan istilah humaniora. Kata humaniora berasal dari kata Latin humanus, yang berarti ‘manusiawi, berbudaya, dan halus’. Kata humaniora berasal dari kata Latin humanus, yang berarti ‘manusiawi, berbudaya, dan halus’. Dengan mempelajari Ilmu Budaya Dasar, diharapkan seseorang menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus karena memiliki akal budi yang baik. Dengan mempelajari Ilmu Budaya Dasar, diharapkan seseorang menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus karena memiliki akal budi yang baik.

7 Ada tiga konsep yang dimaksudkan dengan ilmu humaniora dalam mata kuliah IBD, sebagai basic humanities, the humanities dan humanities. IBD = basic humanities IBD yang diterjemahkan sebagai basic humanities, yaitu ilmu pengetahuan dasar yang membahas masalah- masalah kebudayaan dan kemanusiaan melalui kajian teori-teori kebudayaan. IBD yang diterjemahkan sebagai basic humanities, yaitu ilmu pengetahuan dasar yang membahas masalah- masalah kebudayaan dan kemanusiaan melalui kajian teori-teori kebudayaan. Konsep ini dimaksudkan untuk memberi kerangka pikir global agar mahasiswa peka dan dapat memahami serta menganalisis masalah-masalah kebudayaan dan kemanusiaan secara global sehingga dapat memahami orientasi budayanya. Konsep ini dimaksudkan untuk memberi kerangka pikir global agar mahasiswa peka dan dapat memahami serta menganalisis masalah-masalah kebudayaan dan kemanusiaan secara global sehingga dapat memahami orientasi budayanya.

8 IBD= the humanities IBD yang diterjemahkan sebagai the humanities, yakni ilmu pengetahuan dasar yang membahas masalah- masalah kebudayaan dan kemanusiaan melalui filsafat etika, ekonomi, moral, seni sastra, seni tari, dan seni rupa. IBD yang diterjemahkan sebagai the humanities, yakni ilmu pengetahuan dasar yang membahas masalah- masalah kebudayaan dan kemanusiaan melalui filsafat etika, ekonomi, moral, seni sastra, seni tari, dan seni rupa. Di dalam seni sebenarnya terkandung suatu pesan dan nilai kemanusiaan yang diungkapkan oleh penciptanya. Melalui seni diharapkan tumbuh kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan kemanusiaan. Di dalam seni sebenarnya terkandung suatu pesan dan nilai kemanusiaan yang diungkapkan oleh penciptanya. Melalui seni diharapkan tumbuh kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan kemanusiaan. Melalui sastra, mahasiswa dapat melakukan ungkapan verbal bahwa bahasa adalah lambang yang perlu dituturkan dan dikomunikasikan dengan baik dan halus. Melalui sastra, mahasiswa dapat melakukan ungkapan verbal bahwa bahasa adalah lambang yang perlu dituturkan dan dikomunikasikan dengan baik dan halus.

9 IBD= humanities IBD yang diterjemahkan sebagai humanities, yaitu bidang-bidang studi yang berusaha menafsirkan makna, martabat dan eksistensi kehidupan manusia melalui pengetahuan sejarah, bahasa, agama, sastra dan seni. IBD yang diterjemahkan sebagai humanities, yaitu bidang-bidang studi yang berusaha menafsirkan makna, martabat dan eksistensi kehidupan manusia melalui pengetahuan sejarah, bahasa, agama, sastra dan seni. Konsep ini bermaksud menunjukkan eksistensi kehidupan manusia dalam konteks dimensi kebangsaan dan kemanusiaan, bukan manusia pelamun yang memprivatisasikan segala kemampuannya. Konsep ini bermaksud menunjukkan eksistensi kehidupan manusia dalam konteks dimensi kebangsaan dan kemanusiaan, bukan manusia pelamun yang memprivatisasikan segala kemampuannya.

10 Sumbangan humaniora Sumbangan humaniora atau humanities atau pendidikan humaniora bagi Ilmu Budaya Dasar ada tiga hal sebagai berikut: (1) menyatukan pengembangan aspek pikiran (rasio) dengan hati (rasa); (2) memperkenalkan kepada anak didik nilai-nilai kemanusiaan yang universal; (3) memadukan kerja sama secara teoretis dan praktis antara pendidik dengan anak didik.

11 Manusia vs Binatang Ada tujuh pokok perbedaan dalam tingkah laku antara manusia dan binatang, yaitu: Sebagian besar kelakuan manusia dikuasai oleh akalnya, sedangkan binatang oleh nalurinya. Dengan akalnya manusia dapat menguasai alam sehingga dapat hidup di mana pun, sedangkan binatang hanya pada tempat tertentu saja. Sebagian besar kelakuan manusia dikuasai oleh akalnya, sedangkan binatang oleh nalurinya. Dengan akalnya manusia dapat menguasai alam sehingga dapat hidup di mana pun, sedangkan binatang hanya pada tempat tertentu saja. Secara fisik manusia itu lebih lemah daripada binatang, karena itu dengan akalnya manusia dapat menciptakan peralatan untuk mempertahankan hidupnya. Secara fisik manusia itu lebih lemah daripada binatang, karena itu dengan akalnya manusia dapat menciptakan peralatan untuk mempertahankan hidupnya. Sebagian besar kelakuan manusia diperoleh dan dibiasakan melalui proses belajar, sedangkan pada binatang melalui proses naluri. Sebagian besar kelakuan manusia diperoleh dan dibiasakan melalui proses belajar, sedangkan pada binatang melalui proses naluri. Manusia mempunyai bahasa lisan maupun tertulis. Manusia mempunyai bahasa lisan maupun tertulis. Pengetahuan manusia itu bersifat akumulatif (terus menerus bertambah). Sifat akumulatif pengetahuan manusia ini disebabkan karena masyarakatnya yang berkembang dan telah mempunyai sistem pembagian kerja. Pengetahuan manusia itu bersifat akumulatif (terus menerus bertambah). Sifat akumulatif pengetahuan manusia ini disebabkan karena masyarakatnya yang berkembang dan telah mempunyai sistem pembagian kerja. Sistem pembagian kerja dalam masyarakat manusia jauh lebih kompleks daripada dalam masyarakat BINATANG Pada masyarakat manusia didasarkan atas perhitungan akal dan kepentingannya, sedangkan pada masyarakat binatang berdasarkan nalurinya. Sistem pembagian kerja dalam masyarakat manusia jauh lebih kompleks daripada dalam masyarakat BINATANG Pada masyarakat manusia didasarkan atas perhitungan akal dan kepentingannya, sedangkan pada masyarakat binatang berdasarkan nalurinya. Masyarakat manusia sangat beraneka ragam, sedangkan masyarakat binatang tetap saja. Masyarakat manusia sangat beraneka ragam, sedangkan masyarakat binatang tetap saja.

12 Fungsi IBD Pendekatan Pengetahuan Budaya (The Humanities) digunakan sebagai pendekatan untuk mempelajari masalah manusia dan kebudayaan. Pendekatan Pengetahuan Budaya (The Humanities) digunakan sebagai pendekatan untuk mempelajari masalah manusia dan kebudayaan. Pengetahuan budaya dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disiplin) seni dan filsafat. Pengetahuan budaya dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disiplin) seni dan filsafat. Sehubungan dengan itu, beberapa kajian dalam IBD adalah manusia dan cinta kasih: manusia dan keindahan (keindahan, renungan, keserasian, kehalusan); manusia dan cinta kasih: manusia dan keindahan (keindahan, renungan, keserasian, kehalusan); manusia dan penderitaan (penderitaan, siksaan, rasa sakit, neraka, bunuh diri);. manusia dan penderitaan (penderitaan, siksaan, rasa sakit, neraka, bunuh diri);. manusia dan pandangan hidup (cita-cita, kebajikan, sikap hidup); manusia dan keadilan: mengenal dan melaksanakan tindakan- tindakan yang didasarkan keadilan serta mampu memerangi tindakan yang tidak didasarkan atas nilai-nilai keadilan. manusia dan pandangan hidup (cita-cita, kebajikan, sikap hidup); manusia dan keadilan: mengenal dan melaksanakan tindakan- tindakan yang didasarkan keadilan serta mampu memerangi tindakan yang tidak didasarkan atas nilai-nilai keadilan. manusia dan tanggung jawab (tanggung jawab, pengabdian, kesadaran, pengorbanan). manusia dan tanggung jawab (tanggung jawab, pengabdian, kesadaran, pengorbanan). manusia dan kegelisahan (kegelisahan, keterasingan, kesepian,ketidakpastian; manusia dan kegelisahan (kegelisahan, keterasingan, kesepian,ketidakpastian; manusia dan harapan (harapan, kepercayaan). manusia dan harapan (harapan, kepercayaan).

13 RUANG LINGKUP ILMU BUDAYA DASAR Ilmu Budaya Dasar bukan merupakan ilmu yang berkembang atas dasar berbagai pendekatan epistemologis dan ontologis. Ilmu Budaya Dasar bukan merupakan ilmu yang berkembang atas dasar berbagai pendekatan epistemologis dan ontologis. Komponen utama yang membentuk Ilmu Budaya Dasar itu ada empat, yakni: Filsafat, Teologi, Sejarah, dan Seni. Filsafat, seringkali disebut sebagai induk dari ilmu-ilmu, merupakan ilmu yang berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan manusia yang esensial, misalnya: siapakah manusia itu? dari manakah asalnya? dan sebagainya. Filsafat, seringkali disebut sebagai induk dari ilmu-ilmu, merupakan ilmu yang berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan manusia yang esensial, misalnya: siapakah manusia itu? dari manakah asalnya? dan sebagainya. Teologi atau ilmu agama, mengajarkan tentang manusia, sejarahnya, tujuannya, tugas, dan tanggung jawabnya di dunia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan. Teologi atau ilmu agama, mengajarkan tentang manusia, sejarahnya, tujuannya, tugas, dan tanggung jawabnya di dunia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan. Sejarah, menceritakan mengenai kehidupan manusia pada masa lampau, mengenai adat-istiadatnya, pandangan hidupnya, dan lain sebagainya. Sejarah, menceritakan mengenai kehidupan manusia pada masa lampau, mengenai adat-istiadatnya, pandangan hidupnya, dan lain sebagainya. Seni, merupakan wujud kekaguman dan sekaligus pernghargaan manusia terhadap keindahan dan nilai-nilai yang ditemuinya di dalam kehidupan manusia. Seni, merupakan wujud kekaguman dan sekaligus pernghargaan manusia terhadap keindahan dan nilai-nilai yang ditemuinya di dalam kehidupan manusia.

14 Tujuan Instruksional IBD Beberapa Tujuan Instruksional yang dapat dirumuskan berkaitan dengan tema-tema dalam IBD adalah melakukan kegiatan-kegiatan berdasarkan cinta kasih serta berani melawan tindakan-tindakan yang tidak didasarkan atas cinta kasih oleh diri sendiri maupun oleh lain. melakukan kegiatan-kegiatan berdasarkan cinta kasih serta berani melawan tindakan-tindakan yang tidak didasarkan atas cinta kasih oleh diri sendiri maupun oleh lain. Mengenal dan menghargai keindahan yang ada di sekitarnya dan ikut serta giat menjaga dan mencipta keseimbangan keindahan yang dibutuhkan untuk itu. Mengenal dan menghargai keindahan yang ada di sekitarnya dan ikut serta giat menjaga dan mencipta keseimbangan keindahan yang dibutuhkan untuk itu. Mengenal untuk mengerti agar dapat memikirkan dan menyusun rencana kemungkinan jalan keluar dari penderitaan yang ada dalam diri sendiri dan orang lain dalam lingkungannya. Mengenal untuk mengerti agar dapat memikirkan dan menyusun rencana kemungkinan jalan keluar dari penderitaan yang ada dalam diri sendiri dan orang lain dalam lingkungannya. Mengenal dan menentukan sikapnya bila menhadapi masalah-masalah pandangan hidup yang muncul dalam masyarakat budayanya sendiri serta menghormati pandangan hidup yang dianut orang. Mengenal dan menentukan sikapnya bila menhadapi masalah-masalah pandangan hidup yang muncul dalam masyarakat budayanya sendiri serta menghormati pandangan hidup yang dianut orang.

15 Tujuan Instruksional IBD Mengenal dan mampu menjelaskan serta membedakan tingkat jenis tanggung jawab dalam masyarakat budaya sendiri serta memikirkan penanggulangan masalah- masalah yang berakitan dengan tanggung jawab serta mampu memikirkan dan merencanakan pengabdian yang dibutuhkan oleh masyarakat budaya baik dalam maupun di luar lingkungannya. Mengenal dan mampu menjelaskan serta membedakan tingkat jenis tanggung jawab dalam masyarakat budaya sendiri serta memikirkan penanggulangan masalah- masalah yang berakitan dengan tanggung jawab serta mampu memikirkan dan merencanakan pengabdian yang dibutuhkan oleh masyarakat budaya baik dalam maupun di luar lingkungannya. Mengenal masalah-masalah di dalam dan di luar masyarakat budaya sendiri yang menimbulkan kegelisahan yang berlebihan serta mampu memikirkan dan merencanakan kemungkinan penanggulangannya. Mengenal masalah-masalah di dalam dan di luar masyarakat budaya sendiri yang menimbulkan kegelisahan yang berlebihan serta mampu memikirkan dan merencanakan kemungkinan penanggulangannya. Mengenal dan menguraikan hal-hal yang menyebabkan timbulnya harapan atau hilangnya harapan serta mampu memikirkan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merangsang timbulnya harapan atau menciptakan kegiatan-kegiatan yang mencegah hilangnya harapan. Mengenal dan menguraikan hal-hal yang menyebabkan timbulnya harapan atau hilangnya harapan serta mampu memikirkan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merangsang timbulnya harapan atau menciptakan kegiatan-kegiatan yang mencegah hilangnya harapan.

16 KEBUDAYAAN Kebudayaan dalam arti yang sebenarnya hanya dapat diandalkan pada kehidupan manusia sebagai kebersamaan. Kebersamaan itu menjadi penjamin cara dan pandangan hidup dari generasi ke generasi (Hassan,1988:15). Kebudayaan dalam arti yang sebenarnya hanya dapat diandalkan pada kehidupan manusia sebagai kebersamaan. Kebersamaan itu menjadi penjamin cara dan pandangan hidup dari generasi ke generasi (Hassan,1988:15). Proses pergeseran kebudayaan itu memungkinkan mendorong ke arah terjadinya rancangan, prakarsa dan karya baru. Seiring dengan kebutuhan ini, dalam perkembangan kebudayaan lumrah timbul hasrat untuk melakukan penyesuaian cara dan pandangan hidup sebagai tanggapan yang sepadan. Proses pergeseran kebudayaan itu memungkinkan mendorong ke arah terjadinya rancangan, prakarsa dan karya baru. Seiring dengan kebutuhan ini, dalam perkembangan kebudayaan lumrah timbul hasrat untuk melakukan penyesuaian cara dan pandangan hidup sebagai tanggapan yang sepadan. Dalam konteks arah pengembangan kebudayaan Indonesia, kebudayaan tidak sekadar dapat dibangun berhenti pada konsep melainkan harus dinyatakan secara konkrit berkelanjutan dan memiliki arah pengembangan ke masa depan. Dalam konteks arah pengembangan kebudayaan Indonesia, kebudayaan tidak sekadar dapat dibangun berhenti pada konsep melainkan harus dinyatakan secara konkrit berkelanjutan dan memiliki arah pengembangan ke masa depan.

17 Kebudayaan sebagai gejala manusiawi Kebudayaan sebagai gejala manusiawi serentak menjelma dan berkembang ” ada dan menjadi” dan bukan yang ”diada-adakan dan dijadi jadikan”. Arah pertama mengacu pada bentukan identitas sejati, sedangkan yang kedua hanya sekadar kosmetika yang bersifat sementara. Arah pertama mengacu pada bentukan identitas sejati, sedangkan yang kedua hanya sekadar kosmetika yang bersifat sementara. Secara eksistensial moralitas manusia Indonesia harus dikonsepsikan kembali dan diangkat dari yang dipersepsikan berdasarkan perkembangan kebudayaan dan pergeseran cara dan pandangan hidup. Secara eksistensial moralitas manusia Indonesia harus dikonsepsikan kembali dan diangkat dari yang dipersepsikan berdasarkan perkembangan kebudayaan dan pergeseran cara dan pandangan hidup.

18 KEBUDAYAAN Menurut Koentjaraningrat (1974) kebudayaan itu mempunyai Menurut Koentjaraningrat (1974) kebudayaan itu mempunyai –Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide- ide, gagasan, nilai-nilai, norma, peraturan, dan sebagainya. Sebagian besar dari wujud kebudayaan ini lalu bersifat “mengharuskan” atau “melarang”. Budaya lalu menjadi budaya normatif yang menghendaki agar sesuatu pola perilaku tertentu dipatuhi dan dilaksanakan (baik sebagai “universe” atau “alternatif”), atau dijauhi dan tidak dilaksanakan. –Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. –Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

19 unsur kebudayaan Ada 7 (tujuh) unsur kebudayaan yang bersifat universal, dalam arti bahwa unsur-unsur tersebut pasti bisa didapatkan di semua kebudayaan di dunia, yaitu: Sistem religi dan upacara keagamaan Sistem religi dan upacara keagamaan Sistem dan organisasi kemasyarakatan Sistem dan organisasi kemasyarakatan Sistem pengetahuan Sistem pengetahuan Bahasa Bahasa Kesenian Kesenian Sistem mata pencaharian hidup Sistem mata pencaharian hidup Sistem teknologi dan peralatan Sistem teknologi dan peralatan

20 MASALAH POKOK KEHIDUPAN MANUSIA Masalah pokok dalam kehidupan manusia. Kelima masalah pokok itu adalah: Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia (Makna Hidup/ MH) Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia (Makna Hidup/ MH) Masalah mengenai hakekat dari karya manusia (Makna atau Fungsi Kerja/MK) Masalah mengenai hakekat dari karya manusia (Makna atau Fungsi Kerja/MK) Masalah mengenai hakekat dan kedudukan manusia dalam ruang dan waktu (Makna Ruang-Waktu/MW) Masalah mengenai hakekat dan kedudukan manusia dalam ruang dan waktu (Makna Ruang-Waktu/MW) Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya (Makna Alam/MA) Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya (Makna Alam/MA) Masalah mengenai hubungan manusia dengan sesamanya (Makna Manusia/MM) Masalah mengenai hubungan manusia dengan sesamanya (Makna Manusia/MM)

21 ORIENTASI NILAI BUDAYA Kerangka Kluchohn Kerangka Kluchohn

22 CIRI MENTALITAS BDRDASAR NILAI-NILAI BUDAYA MODERN Nilai-nilai budaya yang menjadi ciri-ciri suatu mentalitas modern adalah: Pandangan aktif terhadap hidup Tidak banyak tergantung kepada kaum kerabat Kecondongan orientasi terhadap kehidupan kota individualisme Kecondongan terhadap hubungan dan pergaulan yang demokratis Butuh media massa Pandangan sama rata terhadap kesempatan maju dalam hidup Kurang percaya dan bersandar kepada orang lain Tidak memandang rendah pekerjaan lapangan dan pekerjaan tangan Kesegaran terhadap pranata luar Mengutamakan mutu dan hasil dari karya Keberanian mengambil resiko dalam usaha karya Orientasi terhadap keluarga inti yang kecil Kebutuhan rendah terhadap aktivitas religi dalam hidup

23 Tahap Perkembangan Kebudayaan Tahap perkembangan kebudayaan oleh Peursen dibagi atas tiga tahap, pertama mitis, pertama mitis, kedua ontologis, dan kedua ontologis, dan ketiga fungsional. ketiga fungsional.

24 TAHAP MITIS Yang dimaksud tahap mitis adalah tahap di mana manusia merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi dalam kebudayaan primitif. Yang dimaksud tahap mitis adalah tahap di mana manusia merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi dalam kebudayaan primitif. Dalam kebudayaan masa kini sikap (kecenderungan bersikap) mitis masih sering dijumpai, terutama pada daerah-daerah yang tingkat modernitasnya masih rendah. Dalam kebudayaan masa kini sikap (kecenderungan bersikap) mitis masih sering dijumpai, terutama pada daerah-daerah yang tingkat modernitasnya masih rendah.

25 TAHAP ONTOLOGIS Tahap ontologis ialah sikap dimana manusia tidak lagi hidup dalam kepungan kekuasaan mitis, tetapi secara bebas ingin meneliti segala hal-ikhwal. Tahap ontologis ialah sikap dimana manusia tidak lagi hidup dalam kepungan kekuasaan mitis, tetapi secara bebas ingin meneliti segala hal-ikhwal. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang pada masa lalu (mitis) merupakan kepungan bagi dirinya. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang pada masa lalu (mitis) merupakan kepungan bagi dirinya. Manusia pada tahap ini mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar segala sesuatu (ontologi). Manusia pada tahap ini mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar segala sesuatu (ontologi). Tahap ini berkembang pada daerah-daerah pada kebudayaan kuno yang sangat dipengaruhi oleh filsafat dan ilmu. Tahap ini berkembang pada daerah-daerah pada kebudayaan kuno yang sangat dipengaruhi oleh filsafat dan ilmu.

26 TAHAP FUNGSIONAL Tahap fungsional, ialah sikap yang menandai manusia modern. Tahap fungsional, ialah sikap yang menandai manusia modern. Manusia pada tahap ini tidak lagi terpesona dengan lingkungannya dan kepungan kehidupan mitis, juga tidak lagi dengan kepala dingin mengambil jarak terhadap obyek yang menjadi penyelidikannya (sikap ontologis). Manusia pada tahap ini tidak lagi terpesona dengan lingkungannya dan kepungan kehidupan mitis, juga tidak lagi dengan kepala dingin mengambil jarak terhadap obyek yang menjadi penyelidikannya (sikap ontologis). Manusia pada tahap ini berusaha mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Manusia pada tahap ini berusaha mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya.

27 TAHAP BUDAYA

28 Realitas Budaya 1 Kebudayaan sebagai realitas khas manusia. Kebudayaan sebagai realitas khas manusia, berarti menunjuk pada keseluruhan cara hidup manusia, warisan yang diperoleh manusia dari kelompoknya, karena manusia merupakan bagian dari lingkungan budaya yang diciptakannya. Aktivitas manusia yang selalu berada dalam konteks kebudayaan menyebabkan kebudayaan itu sendiri menjadi realitas yang khas pada manusia. 2 Kebudayaan sebagai realitas yang sesuai dengan kodrat manusia Ada dua faktor hakiki yang membentuk kodrat manusia, yaitu karakter spesifik manusia dan akal budi 2.1 Karakter spesifik manusia Karakter spesifik manusia, sebagai faktor kodrat manusia pertama. Menurut Herder manusia itu dilahirkan terlalu cepat, manusia memiliki pertumbuhan yang lamban, manusia tidak dilengkapi dengan naluri khusus, tubuh manusia tidak mengalami spesialisasi, dan bentuk tubuh manusia mempunyai posisi tegak. 2.2 Akal budi Akal budi, adalah faktor kodrat manusia kedua yang memungkinkan munculnya kabudayaan. Akal budi menyebabkan manusia mampu mengolah alam. Manusia mampu mengubah lingkungan alam yang semula sangat mengancam menjadi lingkungan alam yang aman dan enak sebagai tempat tinggal. Hasil kegiatan manusia berdasarkan akal budinya dalam mengolah alam itulah yang disebut kebudayaan. Akal budi merupakan sumber kemampuan manusia yang memungkinkan menghasilkan kebudayaan.

29 Pewarisan budaya Pewarisan budaya dalam Ilmu Budaya dikenal istilah Cultural lag. Pewarisan budaya dalam Ilmu Budaya dikenal istilah Cultural lag. Cultural lag menggambarkan suatu keadaan masyarakat dengan mudah menyerap budaya yang bersifat material (misalnya peralatan elektronik, komputer, dan robot) tetapi belum mampu untuk mengadaptasi budaya yang bersifat nonmaterial (misalnya perilaku yang harus dikerjakan oleh seorang ahli yang menggunakan peralatan komputer). Cultural lag menggambarkan suatu keadaan masyarakat dengan mudah menyerap budaya yang bersifat material (misalnya peralatan elektronik, komputer, dan robot) tetapi belum mampu untuk mengadaptasi budaya yang bersifat nonmaterial (misalnya perilaku yang harus dikerjakan oleh seorang ahli yang menggunakan peralatan komputer).

30 Ada tiga kemampuan manusia, yaitu: (1) kemampuan transendensi; (2) kemampuan refleksi dan evaluasi, dan (3) kemampuan belajar. Kemampuan transendensi menyebabkan manusia mampu mengatasi lingkungan alam di mana dirinya bertempat tinggal, dan tidak terikat pada suatu lingkungan tertentu. Hal ini disebabkan karena manusia tidak memiliki naluri yang bersesuaian dengan habitat alam tertentu dan manusia selalu mempunyai alternatif untuk menentukan di mana ia akan tinggal untuk hidup. Dengan demikian, kemampuan transendensi memungkinkan manusia beradaptasi dengan kondisinya untuk hidup secara layak. Alam lingkungan inilah yang dinamakan kebudayaan. Kemampuan transendensi menyebabkan manusia mampu mengatasi lingkungan alam di mana dirinya bertempat tinggal, dan tidak terikat pada suatu lingkungan tertentu. Hal ini disebabkan karena manusia tidak memiliki naluri yang bersesuaian dengan habitat alam tertentu dan manusia selalu mempunyai alternatif untuk menentukan di mana ia akan tinggal untuk hidup. Dengan demikian, kemampuan transendensi memungkinkan manusia beradaptasi dengan kondisinya untuk hidup secara layak. Alam lingkungan inilah yang dinamakan kebudayaan. Kemampuan refleksi dan evaluasi menyebabkan manusia dapat mempertahankan hidupnya, dapat memperlihatkan suatu hasil dari kehidupannya dalam kualitas yang semakin sempurna sampai pada sebuah fenomena atau wujud kebudayaan yang lebih baik. Kokohnya dan berkembangnya suatu kebudayaan sangat tergantung pada kemampuan manusia merefleksi dan mengevaluasi kondisi kehidupan dan lingkungan di mana ia hidup dan bertempat tinggal. Kemampuan refleksi dan evaluasi menyebabkan manusia dapat mempertahankan hidupnya, dapat memperlihatkan suatu hasil dari kehidupannya dalam kualitas yang semakin sempurna sampai pada sebuah fenomena atau wujud kebudayaan yang lebih baik. Kokohnya dan berkembangnya suatu kebudayaan sangat tergantung pada kemampuan manusia merefleksi dan mengevaluasi kondisi kehidupan dan lingkungan di mana ia hidup dan bertempat tinggal. Kemampuan belajar dalam konteks ini dapat dilihat dari dua segi, yaitu kemampuan mewarisi apa yang telah dihasilkan oleh generasi sebelumnya (sikap pasif) dan kemampuan untuk mengubah dan menyempurnakan apa yang sudah diterima sebagai warisan dari generasi sebelumnya (sikap aktif). Kemampuan mewarisi menujukkan sikap belajar yang pasif dan kemampuan untuk mengubah dan menyempurnakan memperlihatkan sikap belajar yang aktif dan kreatif. Kebudayaam dapat dilihat sebagai warisan dan kegiatan kerja manusia. Kemampuan belajar dalam konteks ini dapat dilihat dari dua segi, yaitu kemampuan mewarisi apa yang telah dihasilkan oleh generasi sebelumnya (sikap pasif) dan kemampuan untuk mengubah dan menyempurnakan apa yang sudah diterima sebagai warisan dari generasi sebelumnya (sikap aktif). Kemampuan mewarisi menujukkan sikap belajar yang pasif dan kemampuan untuk mengubah dan menyempurnakan memperlihatkan sikap belajar yang aktif dan kreatif. Kebudayaam dapat dilihat sebagai warisan dan kegiatan kerja manusia.

31 Masyarakat tradisional masyarakat yang masih bersifat tradisional ada kecenderungan penilaian bahwa kebudayaan itu perlu dilestarikan, karena kebudayaan mengandung nilai-nilai luhur dan suci. Jadi kebudayaan tidak boleh berubah atau diubah. Bahkan dari cerita rakyat (baik mitos, legenda atau dongeng) diketahui bahwa masyarakat percaya ada semacam dewa pembawa kebudayaan (cultural hero) yang diturunkan dari langit kemudian disambut oleh umat manusia dengan perasaan suka cita karena kehadiran dewa tadi membawa pesan dan nilai-nilai baru sehingga tatanan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Dalam masyarakat Jawa dikenal cerita Aji Saka yang dianggap sebagai pencetus adanya sistem huruf, dan cerita Jaka Tarub dan Nawang Wulan, dimana Nawang Wulan adalah seorang bidadari sebagai wakil dunia atas yang kemudian memberi petunjuk dan nilai baru bagi kehidupan keluarga Jaka Tarub, sebagai wakil dari umat manusia pada umumnya. Selain cerita rakyat, ajaran agama memperkenalkan bahwa ada tokoh pembawa nilai-nilai baru yang dikenal dengan istilah nabi. masyarakat yang masih bersifat tradisional ada kecenderungan penilaian bahwa kebudayaan itu perlu dilestarikan, karena kebudayaan mengandung nilai-nilai luhur dan suci. Jadi kebudayaan tidak boleh berubah atau diubah. Bahkan dari cerita rakyat (baik mitos, legenda atau dongeng) diketahui bahwa masyarakat percaya ada semacam dewa pembawa kebudayaan (cultural hero) yang diturunkan dari langit kemudian disambut oleh umat manusia dengan perasaan suka cita karena kehadiran dewa tadi membawa pesan dan nilai-nilai baru sehingga tatanan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Dalam masyarakat Jawa dikenal cerita Aji Saka yang dianggap sebagai pencetus adanya sistem huruf, dan cerita Jaka Tarub dan Nawang Wulan, dimana Nawang Wulan adalah seorang bidadari sebagai wakil dunia atas yang kemudian memberi petunjuk dan nilai baru bagi kehidupan keluarga Jaka Tarub, sebagai wakil dari umat manusia pada umumnya. Selain cerita rakyat, ajaran agama memperkenalkan bahwa ada tokoh pembawa nilai-nilai baru yang dikenal dengan istilah nabi.

32 proses pewarisan budaya Sesungguhnya proses pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikut telah menyebabkan perubahan dalam tata nilai yang dianut oleh pewaris berikutnya. Sesungguhnya proses pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikut telah menyebabkan perubahan dalam tata nilai yang dianut oleh pewaris berikutnya. Perubahan itu terjadi ketika proses internalisasi, sosiolisasi dan enkulturasi pada diri individu. Perubahan itu terjadi ketika proses internalisasi, sosiolisasi dan enkulturasi pada diri individu.

33 proses pewarisan budaya Internalisasi adalah prores berbagai pengetahuan yang berada di luar individu masuk menjadi bagian dari individu Internalisasi adalah prores berbagai pengetahuan yang berada di luar individu masuk menjadi bagian dari individu sosialisasi adalah proses seorang individu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok di mana individu itu berada agar kehairannya dapat diterima oleh anggota kelompok lain, sosialisasi adalah proses seorang individu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok di mana individu itu berada agar kehairannya dapat diterima oleh anggota kelompok lain, enkulturasi adalah ketika indiviu memilih nilai-nilai mana yang dianggap baik dan pantas dalam hidup bermasyarakat sebagai pedoman bertindak. Ketiga proses itu dapat bervariasi dari individu yang satu ke individuyang lain, walau mereka hidup dalam masyarakat dan kebudayaan yang sama. Variasi yang muncul akan diteruskan dari generasi yang tua ke generasi yang lebih muda, demikian seterusnya. enkulturasi adalah ketika indiviu memilih nilai-nilai mana yang dianggap baik dan pantas dalam hidup bermasyarakat sebagai pedoman bertindak. Ketiga proses itu dapat bervariasi dari individu yang satu ke individuyang lain, walau mereka hidup dalam masyarakat dan kebudayaan yang sama. Variasi yang muncul akan diteruskan dari generasi yang tua ke generasi yang lebih muda, demikian seterusnya. Variasi budaya sering juga disebut dengan istilah sub-culture (cabang kebudayaan). Jadi kebudayaan adalah suatu proses belajar anggota masyarakat.

34 Proses Belajar Budaya Proses belajar kebudayaan baik dalam generasi sama maupun dari generasi terdahulu (nenek moyang), dapat berlangsung melalui simbol-simbol terutama bahasa. Hanya mahkluk manusialah yang mengenal sistem simbol berbentuk bahasa untuk saling berkomunikasi antara satu orang dengan orang yang lain. Bahasa adalah suatu sistem komunikasi dengan menggunakan suara yang dihubungkan satu sama lain menurut seperangkat aturan, sehingga mempunyai makna. Bahasa adalah sistem lambang yang diciptakan manusia secara sukarela. Melalui bahasa manusia dapat menyampaikan gagasan, emosi, dan keinginannya kepada sesamanya. Sedangkan lambang adalah bunyi atau gerakan yang mengandung arti alamiah atau biologis. Proses belajar kebudayaan baik dalam generasi sama maupun dari generasi terdahulu (nenek moyang), dapat berlangsung melalui simbol-simbol terutama bahasa. Hanya mahkluk manusialah yang mengenal sistem simbol berbentuk bahasa untuk saling berkomunikasi antara satu orang dengan orang yang lain. Bahasa adalah suatu sistem komunikasi dengan menggunakan suara yang dihubungkan satu sama lain menurut seperangkat aturan, sehingga mempunyai makna. Bahasa adalah sistem lambang yang diciptakan manusia secara sukarela. Melalui bahasa manusia dapat menyampaikan gagasan, emosi, dan keinginannya kepada sesamanya. Sedangkan lambang adalah bunyi atau gerakan yang mengandung arti alamiah atau biologis.

35 Perubahan kebudayaan Perubahan kebudayaan terjadi disebabkan oleh berbagai faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, dan faktor yang berasal dari luar masyarakat. faktor dari dalam masyarakat misalnya munculnya ide baru (inovasi), konflik atau persaingan, dan bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk. Ide baru muncul karena orang merasa kurang, ingin meningkatkan mutu, atau dengan adanya sistem hadiah bagi penemu ide baru tadi. Nilai-nilai lama dapat berubah dengan adanya konflik atau persaingan antar anggota masyarakat, karena proses perdamaian akan memunculkan nilai-nilai baru. Jumlah penduduk juga berpengaruh terhadap perubahan dari nilai lama ke nilai baru, misalnya program keluarga berencana adalah membawa nilai-nilai baru bagi masyarakat pesertanya, misalnya masyarakat Bali mengenal istilah untuk urut- urutan anak yang lahir, Wayan atau Putu untuk anak pertama, Made untuk anak ke dua, Nyoman atau Nengah untuk anak ke tiga dan Ketut atau Komang untuk anak ke empat. Bila keluarga Bali hanya memiliki dua anak sesuai dengan nilai yang berkembang/ dikembangkan dalam program keluarga berencana maka istilah untuk anak ke tiga dan ke empat di masa mendatang akan hilang dengan sendirinya atau tinggal menjadi catatan sejarah. Perubahan kebudayaan terjadi disebabkan oleh berbagai faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, dan faktor yang berasal dari luar masyarakat. faktor dari dalam masyarakat misalnya munculnya ide baru (inovasi), konflik atau persaingan, dan bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk. Ide baru muncul karena orang merasa kurang, ingin meningkatkan mutu, atau dengan adanya sistem hadiah bagi penemu ide baru tadi. Nilai-nilai lama dapat berubah dengan adanya konflik atau persaingan antar anggota masyarakat, karena proses perdamaian akan memunculkan nilai-nilai baru. Jumlah penduduk juga berpengaruh terhadap perubahan dari nilai lama ke nilai baru, misalnya program keluarga berencana adalah membawa nilai-nilai baru bagi masyarakat pesertanya, misalnya masyarakat Bali mengenal istilah untuk urut- urutan anak yang lahir, Wayan atau Putu untuk anak pertama, Made untuk anak ke dua, Nyoman atau Nengah untuk anak ke tiga dan Ketut atau Komang untuk anak ke empat. Bila keluarga Bali hanya memiliki dua anak sesuai dengan nilai yang berkembang/ dikembangkan dalam program keluarga berencana maka istilah untuk anak ke tiga dan ke empat di masa mendatang akan hilang dengan sendirinya atau tinggal menjadi catatan sejarah.

36 Difusi Faktor dari luar masyarakat yakni masuknya unsur-unsur budaya asing (difusi). Adanya media massa seperti surat kabar, majalah, dan televisi mempercepat menyebarnya unsur budaya dari luar. Selain media massa, kemajuan dalam bidang sarana transportasi menyebabkan semakin banyaknya anggota masyarakat yang bepergian dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah, ikut membawa pengaruh cepatnya penyebaran unsur budaya baru. Faktor dari luar masyarakat yakni masuknya unsur-unsur budaya asing (difusi). Adanya media massa seperti surat kabar, majalah, dan televisi mempercepat menyebarnya unsur budaya dari luar. Selain media massa, kemajuan dalam bidang sarana transportasi menyebabkan semakin banyaknya anggota masyarakat yang bepergian dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah, ikut membawa pengaruh cepatnya penyebaran unsur budaya baru.

37 Sikap Budaya Unsur-unsur budaya dalam suatu kelompok masyarakat ada yang mudah berubah dan ada pula yang sulit berubah, demikian pula individunya ada yang cepat dan ada yang lambat dalam proses menerima perubahan, bahkan ada individu yang cenderung menolak perubahan. Sikap menerima dapat dipengaruhi oleh faktor kebutuhan (needs), keuntungan langsung yang dapat dinikmati, senang pada suatu hal yang baru (novelty), dan sifat inovatif yang selalu ingin berkreasi. Unsur-unsur budaya dalam suatu kelompok masyarakat ada yang mudah berubah dan ada pula yang sulit berubah, demikian pula individunya ada yang cepat dan ada yang lambat dalam proses menerima perubahan, bahkan ada individu yang cenderung menolak perubahan. Sikap menerima dapat dipengaruhi oleh faktor kebutuhan (needs), keuntungan langsung yang dapat dinikmati, senang pada suatu hal yang baru (novelty), dan sifat inovatif yang selalu ingin berkreasi.

38 Perubahan Kebudayaan Perubahan kebudayaan dapat menimbulkan krisis sosial, munculnya gerakan yang bersifat keagamaan mengiringi terjadinya krisis sosial yang dimaksud. Gerakan keagamaan itu dikenal dengan istilah cargo cults, messianic movement, nativistic movement, gerakan ratu atau raja adil. Gerakan keagamaan semacam itu memiliki ciri-ciri yang antara lain adalah sebagai berikut: Perubahan kebudayaan dapat menimbulkan krisis sosial, munculnya gerakan yang bersifat keagamaan mengiringi terjadinya krisis sosial yang dimaksud. Gerakan keagamaan itu dikenal dengan istilah cargo cults, messianic movement, nativistic movement, gerakan ratu atau raja adil. Gerakan keagamaan semacam itu memiliki ciri-ciri yang antara lain adalah sebagai berikut: Aspek keagamaan, karena gerakan-gerakan biasanya disiarkan oleh seorang guru yang berlaku sebagai pesuruh dewa atau Tuhan, dan karena gerakan-gerakan itu biasanya memang berpusat kepada upacara-upacara keagamaan, Aspek keagamaan, karena gerakan-gerakan biasanya disiarkan oleh seorang guru yang berlaku sebagai pesuruh dewa atau Tuhan, dan karena gerakan-gerakan itu biasanya memang berpusat kepada upacara-upacara keagamaan, Aspek psikologis, karena di dalam upacara yang diselenggarakan oleh gerakan itu para anggota masyarakat yang mereka anggap kacau itu, dengan cara mengarahkan batinnya kepada alam fantasi, Aspek psikologis, karena di dalam upacara yang diselenggarakan oleh gerakan itu para anggota masyarakat yang mereka anggap kacau itu, dengan cara mengarahkan batinnya kepada alam fantasi, Aspek raja adil, karena dalam alam fantasi tadi para anggota gerakan menunggu akan datangnya seorang raja adil, yang akan membawa kebahagiaan kepada masyarakat manusia, Aspek raja adil, karena dalam alam fantasi tadi para anggota gerakan menunggu akan datangnya seorang raja adil, yang akan membawa kebahagiaan kepada masyarakat manusia, Aspek keaslian kebudayaan, karena raja adil tadi diharapkan akan membawa kebahagiaan dengan mengembalikan adat istiadat nenek moyang atau adat istiadat lama yang sudah dikacaukan oleh pengaruh zaman baru. Aspek keaslian kebudayaan, karena raja adil tadi diharapkan akan membawa kebahagiaan dengan mengembalikan adat istiadat nenek moyang atau adat istiadat lama yang sudah dikacaukan oleh pengaruh zaman baru.

39 Kesamaan dan Perbedaan Budaya : perbandingan budaya (cross cultural) Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kebudayaan suatu masyarakat itu sama atau berbeda yakni: –Lingkungan alam (geografis) yang tidak sama, –Kemungkinan dan kesempatan berhubungan dengan masyarakat lain (historis), –Sikap dan pandangan hidup orang banyak di dalam masyarakat. sikap ini menentukan penolakan atau penerimaan terhadap unsur-unsur kebudayaan baru (psikis).

40 KESADARAN BUDAYA Kesadaran budaya itu akan tumbuh dan berkembang apabila manusianya memiliki kompetensi berupa (1) pengetahuan adanya berbagai kebudayaan, (2)sikap terbuka untuk memahami dan menghargai kebudayaan dan memiliki kesediaan untuk saling mengenal kebudayaan yang berbeda-beda, (3) pengetahuan tentang riwayat perkembangan kebudayaan, (4) pengertian untuk merawat warisan budaya dan pengertian untuk mengembangkan kebudayaan baru (kebudayaan nasional) yang bersumber dari mana pun, termasuk kebudayaan asing yang dianggap meningkatkan harkat dan martabat bangsa Kesadaran budaya itu akan tumbuh dan berkembang apabila manusianya memiliki kompetensi berupa (1) pengetahuan adanya berbagai kebudayaan, (2)sikap terbuka untuk memahami dan menghargai kebudayaan dan memiliki kesediaan untuk saling mengenal kebudayaan yang berbeda-beda, (3) pengetahuan tentang riwayat perkembangan kebudayaan, (4) pengertian untuk merawat warisan budaya dan pengertian untuk mengembangkan kebudayaan baru (kebudayaan nasional) yang bersumber dari mana pun, termasuk kebudayaan asing yang dianggap meningkatkan harkat dan martabat bangsa

41 Nilai Nilai artinya harga. Nilai dapat melekat pada benda atau di luar benda (Praja,2003:59). Ada banyak nilai dan semua nilai berbeda. Nilai artinya harga. Nilai dapat melekat pada benda atau di luar benda (Praja,2003:59). Ada banyak nilai dan semua nilai berbeda. Menurut Scheler (2006:16) yang baik itu adalah nilai. Secara fenomenologis, nilai-nilai ditata dan dikelompokkan menurut kaitan- kaitannya. Menurut Scheler (2006:16) yang baik itu adalah nilai. Secara fenomenologis, nilai-nilai ditata dan dikelompokkan menurut kaitan- kaitannya. Scheler membagi empat gugus nilai yang masing-masing berbeda berdasarkan tatarannya (1) nilai-nilai sekitar, yakni nilai-nilai yang enak dan tidak enak, (2) nilai-nilai vital, yakni nilai-nilai yang berhubungan dengan kesehatan, keluhuran, keberanian dan kehinaan, (3) nilai rohaniah, di dalamnya meliputi (a) nilai estetis, yakni nilai yang indah dan yang jelek, (b) nilai keadilan, nilai yang benar, yang tidak benar, dan yang dibenarkan, dan (c) nilai pengetahuan, dianggap sebagai nilai kebenaran murni, dan (4) nilai yang dianggap profan atau khudus, yakni nilai yang tidak mempunyai acuan apa pun dalam tataran fisik dan tubuh atau lingkungan sekitar. Scheler membagi empat gugus nilai yang masing-masing berbeda berdasarkan tatarannya (1) nilai-nilai sekitar, yakni nilai-nilai yang enak dan tidak enak, (2) nilai-nilai vital, yakni nilai-nilai yang berhubungan dengan kesehatan, keluhuran, keberanian dan kehinaan, (3) nilai rohaniah, di dalamnya meliputi (a) nilai estetis, yakni nilai yang indah dan yang jelek, (b) nilai keadilan, nilai yang benar, yang tidak benar, dan yang dibenarkan, dan (c) nilai pengetahuan, dianggap sebagai nilai kebenaran murni, dan (4) nilai yang dianggap profan atau khudus, yakni nilai yang tidak mempunyai acuan apa pun dalam tataran fisik dan tubuh atau lingkungan sekitar.

42 Gugus Nilai Nilai Sekitar Nilai enak Nilai tidak enak Nilai Vital Nilai kesehatan Nilai keberanian Nilai keluhuran Nilai kehinaan Nilai Ruhaniah Nilai estetis Nilai keadilan Nilai pengetahuan Nilai Profan/ Khudus

43 Manusia Sumber Nilai Manusia merupakan sumber nilai (Murdoch,2006:132). Manusia merupakan sumber nilai (Murdoch,2006:132). Sepanjang sejarah manusia, manusia telah menunjukkan kreativitas dan tingkah lakunya. Baik secara material maupun nonmaterial kreativitas dan tingkah laku manusia itu mengikutsertakan seluruh nilai. Sepanjang sejarah manusia, manusia telah menunjukkan kreativitas dan tingkah lakunya. Baik secara material maupun nonmaterial kreativitas dan tingkah laku manusia itu mengikutsertakan seluruh nilai. Nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dibentuk sejak masa paling awal, masa prasejarah, zaman sejarah, misalnya secara berangsur-angsur zaman kerajaan-kerajaan Hindhu-Budha, zaman kerajaan-kerajaan Islam, zaman perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan Jepang, era kebangkitan nasional, era Orde Lama, era orde Baru, era Reformasi (atau seterusnya sampai pada kurun waktu yang lebih dekat dengan kekinian), nilai-nilai luhur itu pantas diwariskan dan dipelajari oleh generasi berikutnya. Nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dibentuk sejak masa paling awal, masa prasejarah, zaman sejarah, misalnya secara berangsur-angsur zaman kerajaan-kerajaan Hindhu-Budha, zaman kerajaan-kerajaan Islam, zaman perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan Jepang, era kebangkitan nasional, era Orde Lama, era orde Baru, era Reformasi (atau seterusnya sampai pada kurun waktu yang lebih dekat dengan kekinian), nilai-nilai luhur itu pantas diwariskan dan dipelajari oleh generasi berikutnya. Nilai-nilai yang dibanggakan itu antara lain nilai-nilai kegotongroyongan, saling menolong, musyawarah, pengabdian, kemanusiaan, keadilan, hormat-menghormati, kepercayaan, percaya diri, yakin dan teguh terhadap pendirian, dan kejujuran (Latief,2006:58). Nilai-nilai yang dibanggakan itu antara lain nilai-nilai kegotongroyongan, saling menolong, musyawarah, pengabdian, kemanusiaan, keadilan, hormat-menghormati, kepercayaan, percaya diri, yakin dan teguh terhadap pendirian, dan kejujuran (Latief,2006:58).

44 Nilai dan Sikap Nilai merupakan suatu keyakinan yang relatif stabil tentang model-model perilaku yang diinginkan secara spesifik dan keadaan eksistensial sebagai keinginan atau pilihan pribadi atau masyarakat. Nilai merupakan suatu keyakinan yang relatif stabil tentang model-model perilaku yang diinginkan secara spesifik dan keadaan eksistensial sebagai keinginan atau pilihan pribadi atau masyarakat. Nilai menduduki posisi tengah dalam kebudayaan sebagai anteseden dan konsekuensi perilaku manusia. Sikap dan kebutuhan-kebutuhan yang berdampak luas terhadap perilaku manusia dalam konteks sosial merupakan fungsi psikis dari nilai. Nilai menduduki posisi tengah dalam kebudayaan sebagai anteseden dan konsekuensi perilaku manusia. Sikap dan kebutuhan-kebutuhan yang berdampak luas terhadap perilaku manusia dalam konteks sosial merupakan fungsi psikis dari nilai. Sebagai hasil pembentukan dari faktor-faktor kebudayaan, pranata dan pribadi-pribadi dalam masyarakat dalam hidupnya merupakan variabel nilai yang dipengaruhi. Sebagai hasil pembentukan dari faktor-faktor kebudayaan, pranata dan pribadi-pribadi dalam masyarakat dalam hidupnya merupakan variabel nilai yang dipengaruhi.

45 Fungsi Nilai Nilai memiliki beberapa fungsi, antara lain (1) fungsi standar tingkah laku, misalnya dari cara (a) membawa individu untuk mengambil posisi khusus dalam masalah sosial, (b) mempengaruhi individu dalam memilih ideologi, (c) menunjukkan gambaran diri kepada orang lain, (d) merupakan pusat pengkajian proses pembandingan untuk menentukan individu bermoral dan berkompetensi, (e) untuk mempengaruhi orang lain dengan gambaran nilai, (f) standar proses rasionalisasi yang terjadi dalam setiap tindakan yang dapat diterima, (2) fungsi rencana umum dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan konflik, (3) fungsi motivasional, (4) fungsi penyesuaian diri dengan nilai yang berbeda, (5) fungsi ego defensif, dalam prosesnya nilai mewakili konsep- konsep yang tersedia sehingga dapat mengurangi ketegangan dengan mudah, dan (6) fungsi sebagai pengetahuan atau aktualisasi diri, sebagai sebuah pengertian yang cenderung menyatu dalam persepsi dan keyakinan yang lebihbaik untuk melengkapi kejelasan konsepsi.

46 MANUSIA DAN CINTA KASIH A. Arti Cinta Kasih - Ungkapan perasaan yang didukung oleh unsur karsa yang berupa tingkah laku dengan pertimbangan akal yang menimbulkan tanggungjawab. - Perasaan kasih sayang, kemesraan, belas kasihan, dan pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggungjawab.

47 B. Macam Cinta Kasih 1. Cinta kasih antara orang tua dan anak 2. Cinta kasih antara orang pria dan wanita 3. Cinta kasih antara sesama manusia 4. Cinta kasih antara manusia dan tuhan 5. Cinta kasih antara manusia dan lingkungannya.

48 C. Ungkapan Cinta Kasih Ungkapan cinta kasih bisa diwujudkan dengan kata-kata, tulisan, tingkahlaku, gerak, atau media yang lain. Setiap insan memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkan cinta kasihnya pada orang lain.

49 UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP 2010/2011 STIE WIDYA DHARMA MALANG BUATLAH DESKRIPSI SINGKAT MENURUT PEMAHAMAN ANDA TENTANG HAKEKAT : 1. MANUSIA DAN CINTA KASIH 1. MANUSIA DAN CINTA KASIH 2. MANUSIA DAN PENDERITAAN 2. MANUSIA DAN PENDERITAAN 3. MANUSIA DAN KEBAHAGIAAN 3. MANUSIA DAN KEBAHAGIAAN 4. MANUSIA DAN KEMISKINAN 4. MANUSIA DAN KEMISKINAN


Download ppt "Ilmu Budaya Dasar. MENGAPA PERLU IBD? –Bangsa Indonesia adalah masyarakat majemuk (suku banyak, Budaya, Agama dan sebagainya). –Pembangunan yang dilaksanakan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google