Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

BSMR LEVEL 1 T-2!! Nyoman Duari. Chapter 1, 2 & 3: Bank & Regulasi Perbankan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "BSMR LEVEL 1 T-2!! Nyoman Duari. Chapter 1, 2 & 3: Bank & Regulasi Perbankan."— Transcript presentasi:

1 BSMR LEVEL 1 T-2!! Nyoman Duari

2 Chapter 1, 2 & 3: Bank & Regulasi Perbankan

3 1-3 Industri jasa keuangan, bank, dan regulasi Bank adalah institusi yang memiliki lisensi perbankan, menerima deposit, membuat loan, menerima serta menerbitkan check. Risiko adalah kemungkinan hasil buruk atau negatif, dan kemungkinan hasil tersebut bisa diprediksi. Risk event adalah terjadinya suatu keadaan yang mengakibatkan adanya potensi kerugian (bad outcome) Risk loss adalah kerugian yang terjadi sebagai akibat dari risk event. Kerugian tersebut bisa berupa kerugian finansial atau kerugian non-finansial Bank di-regulasi pada institusinya, bukan hanya produk dan jasanya, karena kegagalan bank bisa menyebabkan systemic risk (dampak ke ekonomi dalam jangka panjang). Bank tidak bebas menentukan capital structure-nya : ada minimum capital requirement dan minimum liquidity. Basel II berhubungan dengan bank (internasional), kecuali di EU.

4 1-4 Mengapa diperlukan regulasi perbankan Systemic risk : kegagalan bank menyebabkan dampak lebih dari sekedar ke stakeholder langsung (karyawan, pemegang saham, pelanggan), namun juga ke seluruh ekonomi. Solvency bank menjadi concern bagi : karyawan, pemegang saham, nasabah, dan juga pengelola ekonomi negara Dahulu kebutuhan modal dinyatakan sebagai persentase dari kredit –Kebutuhan modal untuk bank dengan risiko rendah (memiliki banyak surat hutang pemerintah) dengan yang berisiko tinggi sama besarnya. Diperlukan regulasi yang menghubungkan kebutuhan modal dengan risiko yang diambil bank. –Semakin besar risiko yang diambil bank  semakin besar modal yang diperlukan

5 1-5 Regulasi Bank Basel Committee on Banking Supervision berusaha melakukan standarisasi perhitungan risk-based capital bagi bank –Basel Capital Accord yang pertama pada 1988 hanya mengcover credit risk. Hanya boleh menggunakan standardized approach. Hubungan modal dan risiko masih lemah –Market Risk Amendment (1996) ditujukan untuk memperbaiki sensitivitas risiko dari Basel I. Bank boleh menggunakan model internal untuk menghitung market risk, selain standardized approach. –New Accord (Basel II) diadopsi pada 2004 dan akan diimplementasikan pada 2006/7 Menghubungkan capital bank langsung dengan risiko yang dimilikinya Market risk tidak berubah dari Amendment 1996 dan revisi berikutnya Provisi untuk risiko lainnya ketika menghitung risk-based capital bank; namun ini tidak di-cover oleh pendekatan model (Pillar 2) Risiko yang dicover : credit risk, market risk, operational risk, ‘other’ risk

6 1-6 Basel I vs II Basel I AccordBasel II Accord Fokus pada ukuran tunggalFokus pada metodologi internal Memiliki pendekatan sederhana terhadap sensitivitas risiko Memiliki tingkat sensitivitas risiko yang lebih tinggi Menggunakan pendekatan ‘ satu ukuran untuk semua ’ untuk risiko dan capital Fleksibel terhadap kebutuhan berbagai bank Meng-cover credit risk dan market riskMengcover credit risk, market risk, operational risk, dan ‘ other ’ risk

7 1-7 Market risk Market risk adalah risiko kerugian pada posisi on- dan off- balance sheet yang timbul karena pergerakan harga pasar. –Kelompok risiko yang berasal dari perubahan suku bunga, nilai tukar, harga pasar untuk saham dan komoditas. Risiko pasar dapat berasal dari : –Traded market risk – dari perdagangan instrumen di pasar, seperti bond. –Interest rate risk in the banking book – karena struktur dari bisnisnya, misalnya pada aktivitas lending dan deposit taking.

8 1-8 RISIKO PASAR KELOMPOK (GENERAL MARKET RISK): –Kepala Suku, Punya Saham (TRADING BOOK) –Ditukar, Komoditi (TRADING dam BANKING BOOK) SUMBER : –Traded Market Risk (trading book) –Interest Rate Risk in the Banking Book (banking book) KOMPONEN: –General –Specific (rating)

9 1-9 Credit Risk Credit risk adalah risiko kerugian berhubungan dengan kemungkinan suatu counterparty akan gagal memenuhi kewajibannya Teknik dan kebijakan untuk mengelola risiko kredit guna meminimalkan kemungkinan atau akibat dari kerugian kredit disebut credit risk mitigation – Grading model untuk masing-masing loan Menentukan PD dari setiap debt Digunakan untuk pengukuran risiko kredit – Portfolio management dari loan Lending tidak terkonsentrasi pada satu industri atau area geografis Menggunakan cohort analysis – Securitization Mem ”package” dan menjual portfolio kredit sebagai sekuritas – Collateral – Cash flow monitoring – Recovery management

10 1-10 Operational risk Operational risk adalah risiko kerugian akibat kegagalan proses internal, akibat faktor manusia dan sistem, atau akibat kejadian eksternal Ada 5 subkategori : proses, manusia, sistem, kejadian eksternal, legal (hukum) Basel II mengharuskan bank mengkuantifikasi operational risk, mengukurnya dan mengalokasikan modal untuk operational risk sama dengan credit dan market risk. Kejadian high frequency/low impact diganti kejadian low frequency/high impact, karena –otomatisasi –ketergantungan pd teknologi –outsourcing –terorisme –meningkatnya globalisasi –insentif dan trading – ‘rogue trader’ –kenaikan nilai dan volume transaksi –kenaikan litigasi.

11 1-11 ‘Other’ risk Definisi operational risk Basel II tidak memasukan business, strategic, dan reputational risk. Dimasukkan dalam pilar 2 Risiko Bisnis (Business risk) : risiko berhubungan dengan posisi kompetitif bank, dan prospek bank untuk berhasil dalam pasar yang terus berubah –Misal, bank yang memberikan kredit kepada nasabah berkualitas rendah (Best Bank, Boulder) Strategic risk adalah risiko berhubungan dengan keputusan bisnis jangka panjang. Berhubungan dengan investasi, akuisisi, dan divestasi. –Contoh : kerugian ketika Midland Bank membeli Crocker Bank Reputational risk adalah risiko dari potensi kerugian bagi perusahaan karena opini publik yang negatif. –Contoh : masalah software pada internet bank yang menyebabkan nasabah bisa melihat account nasabah lainnya. Bisa menyebabkan ketakutan pada internet banking.

12 1-12 Konsekuensi kegagalan mengelola risiko bank Selain kerugian finansial secara langsung, risk event dapat menimbulkan dampak pada stakeholder bank – pemegang saham, karyawan, pelanggan – juga ekonomi. Kerugian pemegang saham (contoh kolapsnya BCCI, 1991) : –Kerugian total dari investasi apabila bank kolaps –Pengurangan nilai investasi –Kehilangan dividen karena penurunan profit perusahaan –Kewajiban dari kerugian – pemegang saham mungkin ikut bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi. Kerugian karyawan : –internal disciplinary proceedings –kehilangan pendapatan, misal pengurangan bonus atau gaji –kehilangan pekerjaan, misal bangkrutnya Orange County menyebabkan pemecatan sejumlah karyawan.

13 1-13 Konsekuensi kegagalan mengelola risiko bank Konsekuensi risk event bagi nasabah ikut meningkatkan kebutuhan akan regulasi bank secara spesifik, bukan regulasi untuk industri jasa keuangan secara keseluruhan Risiko yang langsung dirasakan dampaknya oleh nasabah adalah operational risk. Nasabah bisa merasakan melalui : –kualitas servis yang buruk atau salah –interupsi pelayanan parsial –persepsi kurangnya keamanan ataupun yang sesungguhnya –Menurunnya pelayanan secara keseluruhan.

14 1-14 Dampak ekonomi dari risk event Pro-cyclicality effect : banks ‘over lent’ pada saat boom dan ‘under lend’ pada saat resesi. –Menyebabkan bubble pada saat boom. –Basel II dikritik menyebabkan procyclicality karena menghu-bungkan regulatory capital dengan credit grading model. –Contoh dampak ke ekonomi : Long Term Capital Mgmt (LTCM) Krisis likuiditas jarang terjadi pada retail banking, namun lebih sering terjadi pada wholesale banking. Untuk mengurangi dampak dari krisis likuiditas diperlukan : –Meningkatkan kewaspadaan bagi supervisor –Reaksi yang cepat dari bank sentral –Monitoring ketat oleh manajemen bank. Sarbanes Oxley Act : tanggungjawab dan akuntabilitas korporat –Dikeluarkan karena kasus Enron, Worldcom

15 1-15 Regulasi bank di Indonesia Undang-undang perbankan (1992 dan 1998) : dua jenis bank –Bank komersial (commercial bank) : memberikan jasa keuangan lengkap termasuk jasa foreign exchange, memiliki akses ke sistem pembayaran dan memberi jasa perbankan yang umum. –Bank Perkreditan Rakyat, atau BPR, jauh lebih kecil dari bank komersial dan biasanya beroperasi secara lokal. Menerima deposit tapi tidak memiliki akses pada sistem pembayaran.

16 1-16 Regulasi Indonesian Banking Architecture (API) : menentukan arah, ringkasan, dan struktur kerja untuk industri perbankan dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan. Perubahan tersebut akan diimplementasikan secara bertahap meliputi obyektif berikut : –menguatkan struktur sistem perbankan nasional –meningkatkan kualitas regulasi perbankan –meningkatkan fungsi pengawasan –meningkatkan kualitas manajemen dan operasi bank –mengembangkan infrastruktur perbankan –mengembangkan proteksi pelanggan.

17 Risk Management dan Regulasi di Perbankan

18 1-18 Modal dan likuiditas Bank adalah spesial karena permasalahan di sektor perbankan bisa berdampak serius ke keseluruhan ekonomi –Masalah bank  kehilangan dana depositor  diperberat gearing yang tinggi dari bank (highly geared/highly leveraged). Sumber daya utama untuk memastikan solvency bank adalah kecukupan modal (capital). Insolvency adalah ketidakmampuan suatu perusahaan membayar klaim yang jatuh tempo Tanpa mekanisme manajemen likuiditas, kondisi illiquidity bisa menyebabkan insolvency –Diperlukan dukungan bank sentral sebagai ‘lender of last resort’ untuk menjaga kestabilan sistem finansial.

19 1-19 Stabilitas finansial dan moneter Financial stability adalah pemeliharaan kondisi dimana kapasitas institusi finansial dan pasar untuk memobilisasi dana secara efisien, menyediakan likuiditas, dan mengalokasikan investasi tidak terganggu –Financial stability bisa terjadi meski ada kegagalan periodik dari individu institusi keuangan. Stabilitas moneter (Monetary stability) : stabilitas nilai uang (yaitu inflasi yang rendah dan stabil). Meski keduanya sering terjadi pada saat bersamaan, kadang-kadang keduanya tidak terjadi secara bersamaan. –Satu alasan mengapa kebijakan moneter yang sukses tidak menciptakan financial stability adalah gelombang liberalisasi yang pada 1970-an dan 1980-an yg meningkatkan kompetisi Liberalisasi pasar keuangan meningkatkan tekanan kompetisi pada bank melalui : –mengurangi margin dari bisnis mereka –menciptakan gelombang pemain baru  meningkatkan kompetisi. Liberalisasi mendorong bank mencari risk yang lebih tinggi demi return yang tinggi. Regulator menyadari perlu regulasi yang baru.

20 1-20 Original Basel Accord Basel Committee terdiri dari perwakilan bank sentral dan supervisor perbankan dari 11 negara G10 ditambah Spanyol dan Luxemburg. Tujuan Basel I Accord : –Memperkuat daya tahan (soundness) dan stabilitas sistem perbankan internasional –Menciptakan framework yang adil untuk mengukur kecukupan modal pada bank yang aktif secara internasional –Mengupayakan framework yang bisa diaplikasikan secara konsisten dengan prinsip mengurangi ketidakadilan persaingan antar bank-bank yang aktif secara internasional Basel I menggunakan risk-weighted asset, yaitu kategori aset neraca dikalikan dengan risk-weight. –RWA digunakan untuk menghitung kebutuhan modal. –Risk weight (0%, 10%, 20%, 50%, 100%) didasarkan pada persepsi relatif credit risk yang terkait dengan tiap kategori aset.

21 1-21 Menghitung RWA & kebutuhan modal Bank A wajib mengikuti aturan Basel I, dan memberikan kredit sebesar USD 100 juta pada bank non OECD untuk jangka waktu enam bulan. Risk- weighed asset & kebutuhan modal dari kredit adalah : –Kredit yang diberikan USD 100m –Risk weight 20% –RWA USD 20m (100m * 20%) Target capital ratio adalah rasio capital yang memenuhi syarat terhadap risk-weighted asset (RWA) bagi bank internasional. Target capital ratio minimal = 8% –Kebutuhan modal USD 1.6m (USD20m x 8%) Basel tidak menetapkan bahwa ketentuan 8% harus diterapkan secara universal pada semua bank dalam jurisdiksi supervisor nasional, karena minimum regulatory capital ratio untuk bank harus merefleksikan risiko selain credit risk.

22 1-22 Credit risk equivalence Bank perlu memasukan eksposure off-balance sheet (OBS) dalam RWA Contingent liability, seperti misalnya guarantees, options, acceptances atau warranties –Neraca tidak mencatat kontrak, hanya hasilnya –Basel Committee menentukan konsep credit risk equivalence untuk meng-konversi OBS menjadi loan equivalent. Derivatif adalah instrumen finansial dimana jumlah pokok dari transaksi biasanya tidak dipertukarkan. Jenis-jenis derivatif. –interest rate swaps dan options, forward rate agreements, interest rate futures –exchange rate swaps dan options, forward foreign exchange contracts, currency futures (tidak termasuk kontrak dengan original maturity kurang dari 14 hari) –Kontrak terkait precious dan non-precious metals mirip dengan di atas –equity contracts mirip dengan di atas Perhitungan loan equivalent untuk derivatif menggunakan : (1) current exposure method, atau (2) original method

23 1-23 Menghitung Beban Modal (BM) POSISI DIRECT/ON BALANCE SHEET BM = RW X A X 8% (ATMR = RW X A) POSISI OFF BALANCE SHEET CONTINGENT: BM = CF X RW X A X 8% (ATMR = CF X RW X A) POSISI OFF BALANCE SHEET DERIVATIVES: BM = 50% X RW X CE X 8% (ATMR = 50% X RW X CE)

24 1-24 Menghitung Beban Modal (BM) POSISI OFF BALANCE SHEET DERIVATIVES: BM = 50% X RW X CE X 8% CREDIT EQUIVALENT (CE): –CURRENT EXPOSURES METHOD: CE = MTM + NOTIONAL AMOUNT X TABEL –ORIGINAL EXPOSURES METHOD: CE = NOTIONAL AMOUNT X TABEL ADD ON

25 1-25 Return on regulatory capital Return on regulatory capital adalah ukuran kinerja yang digunakan untuk memastikan bahwa suatu transaksi mendatangkan return yang cukup bagi bank untuk menghasilkan capital baru. ROEC = NI/RC

26 1-26 Struktur modal Dalam Basel I juga ditetapkan kerangka untuk struktur capital bank, sering disebut ‘eligible capital’ Untuk kebutuhan regulatory capital, bank dapat memiliki capital dalam dua tier : –Tier 1 – saham biasa yang diterbitkan dan dibayar penuh dan non-cumulative perpetual preferred stock dan disclosed reserves. –Tier 2 - undisclosed reserves, asset revaluation reserves, general provisions dan general loan loss reserves, hybrid capital instruments dan subordinated debt. Tier 2 capital tidak boleh lebih dari 50% total capital untuk credit risk. –Tier 3 capital : hanya bisa digunakan untuk market risk Capital base tidak boleh memasukan: –goodwill –investasi pada bank dan perusahaan keuangan yang tidak dikonsolidasi –investasi pada capital dari bank dan perusahaan keuangan lainnya (tergantung diskresi supervisor nasional) –investasi minoritas pada entitas tidak terkonsolidasi (misal associate bank)

27 1-27 T1, T2, T3 BASEL:BI (PBI):

28 1-28 Market risk amendment Basel I sering dikritik karena kurang sensitif terhadap risiko –Diperbaiki dengan Market Risk Amendment (1996) Pengukuran market risk boleh menggunakan internal model. –Pertama kali regulasi berdasarkan risiko yang sesungguhnya. –Yang boleh digunakan adalah model Value at Risk (VaR) –Model VaR memperkirakan kemungkinan kerugian maksimum pada portfolio yang terkena market risk dari bank untuk suatu periode waktu tertentu dengan suatu degree confidence statistik tertentu –Periode holding dari transaksi dikenal sebagai VaR Horizon : ukuran yang sering digunakan adalah daily value at risk (DVAR) –“Portfolio trading memiliki DVaR USD 5 juta pada level 95%” “Selama periode satu hari trading ada 5% kemungkinan (100% - 95%) kerugian portfolio melebihi USD 5 juta” Tidak ada perkiraan seberapa besar kerugian melewati $5 juta. Pendekatan twin-track menilai kelayakan bank dalam penerapan model kuantitatif, dan penilaian kualitas dari proses yang mendukung implementasi model di bank.

29 1-29 Kelemahan Basel I Basel I Accord tidak melihat bahwa modal yang dimiliki bank harus sebagian terkait dengan kualitas kredit dari debitur, penerbit sekuritas, dan counterparty penjamin. –Bank dengan lending ke perusahaan berkualitas kredit tinggi memerlukan modal yang sama dengan ke perusahaan yang berkualitas rendah. Pada tahun 1999, Basel Committee mulai bekerja dengan bank- bank utama dari negara anggota untuk pengembangan Capital Accord baru. Ada potensi bahwa EU akan mengadopsi Basel II Accord sebagai dasar bagi regulasi capital dari bank dan perusahaan jasa keuangan –Karena tidak adanya definisi mengenai bank yang seragam di antara negara-negara anggota –Basel II Accord akan menjadi dasar arahan bagi aturan kecukupan modal di EU – the Capital Requirement Directive (CRD).

30 BASEL II CAPITAL ACCORD PILLAR 1: ICAAP (KPMM) PILLAR 2: SPV. REVIEW PROCESS PILLAR 3: MARKET DISCIPLINE 1.Kepatuhan pada ketentuan modal minimum 2.Risiko-risiko di luar risiko di Pilar 1 (dan bukan risiko likuiditas 3.Kepatuhan pada ketentuan model internal PASAR: SA IMA KREDIT: SA FIRB AIRB OPERASIONAL: BIA SA AMA SREP (SUPERVISORY REVIEW AND EVALUATION PROCESS): DISCLOSURES 1.Diseminasi informasi material ke publik 2.Memungkinkan masyarakat mengevaluasi bank 3.Pasar ikut mendisiplinkan bank

31 1-31 Modal Minimum dan Modal aktual Dalam praktek banyak bank yang saat ini memiliki rasio permodalan minimum sebesar 10% sampai 12%, jauh di atas kebutuhan modal minimum. Ada beberapa alasan : –Regulatory ratio adalah batas minimum. Oleh karena itu pengelolaan bank pada umumnya memilih menjaga ratio capital berada di atas angka minimum yang ditentukan oleh supervisor –Di AS dan UK misalnya, supervisor menentukan rasio modal terhadap RWA secara spesifik untuk masing-masing bank, biasanya melebihi minimum dari yang ditetapkan Basel. Sehingga ‘surplus’ tsb tidaklah terlalu besar bila dibandingkan dengan ratio dari regulator. –Model ‘economic capital’ ini dapat saja menghasilkan kebutuhan modal yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diatur dalam Basel II. –Rencana pertumbuhan bank baik secara ‘organik’ maupun melalui akuisisi, kemungkinan akan membutuhkan modal yang lebih banyak untuk mendukung rencana pertumbuhan tersebut.

32 Chapter 4 - Konsep dasar dari Market risk dan Treasury risk

33 1-33 Market Risk Market risk = Risiko kerugian akibat posisi yang tercatat pada on- dan off-balance sheet karena pergerakan faktor pasar Komponen Market risk : –Risiko Spesifik (specific risk) –akibat faktor issuer dari sekuritas. Contoh: Harga turun karena rating dari issuer memburuk. Dampak: hanya pada sekuritas yang diterbitkan issuer ini. –Risiko pasar secara umum (general market risk) –pada kelompok jenis instrumen tertentu. Contoh: Kenaikan bunga SBI menyebabkan harga pasar bond turun General market risk dapat dibagi menjadi: risiko suku bunga (interest rate risk), risiko posisi ekuitas (equity position risk), risiko nilai tukar (foreign exchange risk), risiko posisi komoditas (commodity position risk). Interest rate risk : potensi kerugian akibat perubahan tingkat bunga, yang menyebabkan perubahan harga pasar dari posisi. Contoh : Orange County (1994) ketika berspekulasi bahwa bunga akan turun atau tetap rendah.

34 1-34 Market Risk Equity position risk : potensi kerugian akibat fluktuasi harga saham. Contoh : Morgan Grenfell Private Equity (2001) menderita kerugian dari saham EM.TV Foreign exchange risk : potensi kerugian akibat fluktuasi nilai tukar. Contoh : PT Telkom (1998) yang meminjam dalam $ kemudian dikonversi ke rupiah. Commodity position risk : potensi kerugian akibat fluktuasi harga komoditas. Contoh : Sumitomo (1996) merugi akibat perdagangan tembaga yang tidak sah oleh trader-nya. Harga pasar dipengaruhi oleh : –Supply dan demand –Liquidity –Intervensi pemerintah/BI –Arbitrage –Event ekonomi/politik dan bencana alam : berdampak jangka pendek –Fundamental ekonomi : berdampak jangka panjang

35 1-35 Perkembangan aktivitas trading: strategi trading Strategi ‘matched book’ strategy : posisi bank dibuat selalu square. Risiko yang tersisa: beda waktu saat transaksi dengan nasabah dilakukan dan saat upaya squaring dilakukan Strategi kedua: Mengelola posisi dengan melakukan ‘covering deals’ atau hedging, dengan wewenang trading desk, yang dapat melakukan trade kalau pasar sedang menguntungkan. –Ditetapkan ‘market risk limit’/ untuk membatasi risiko kerugian setiap saat –Posisi bank dapat untuk kepentingan nasabah, atau untuk kepentingan bank sendiri/ proprietary trading. Strategi ketiga: Bank menjadi ‘market maker’ untuk produk tertentu.

36 1-36 Manajemen posisi dan hedging Trader diberi wewenang untuk memelihara posisi, dan melakukan pengelolaan market risk pada trading book secara terus menerus pada dealing rooms. –Aktivitas ini memerlukan pengawasan melekat oleh pihak independen Traders dapat melakukan ‘hedge’ dengan mengambil posisi tertentu pada underlying instrument maupun instrumen yang berbeda. Hedging bisa dilakukan secara penuh atau sebagian (bila traders memiliki pandangan bahwa posisi akan menguntungkan). Bank melakukan hedging melalui transaksi derivative karena : credit risk lebih kecil, kebutuhan dana lebih kecil, kebutuhan modal lebih kecil, likuiditas lebih baik, dan biaya transaksi lebih murah. Biasanya akan selalu terdapat residual risk yang tidak terlindung yang harus dikelola dan dimonitor. Salah satu residual risk adalah basis risk. –Basis risk adalah risiko perubahan hubungan antara nilai pasar posisi risiko dan nilai pasar instrumen hedge Contoh basis risk : financing dengan LIBOR dan aset prime rate.

37 1-37 Pengembangan produk baru Unsur penting untuk mengawasi aktivitas trading adalah adanya unit independen yang menentukan prosedur persetujuan yang ketat yang melibatkan berbagai unit dalam bank kalau bank ingin meluncurkan produk baru.

38 1-38 Instrumen trading : transaksi valas ‘vanilla’ : instrumen yang paling sederhana Spot foreign exchange : transaksi yang akan menjadi efektif dua hari kemudian, yang disebut dengan spot date Forward foreign exchange adalah transaksi dengan settlement lebih dari dua hari. –Jangka waktu settlement sampai 1 tahun, beberapa lebih dari setahun –Risiko nilai tukar dan risiko suku bunga Foreign exchange rate swap adalah kombinasi dari transaksi spot dan forward. –Kedua pihak melakukan transaksi spot pada spot rate dan pada saat yang sama melakukan transaksi forward pada forward rate, dengan jumlah pokok yang sama dalam mata uang lokal –Beda antara rate spot dan forward mencerminkan beda suku bunga dari dua valuta

39 1-39 Instrumen Trading Loans dan deposits adalah transaksi antar bank dengan bunga fixed untuk periode sesuai perjanjian. –Jangka waktu mulai overnight s/d 5 th, sebagian besar < 1 th –Pasar uang antar bank adalah tempat dimana bank melakukan transaksi (pinjaman dan penempatan). Tujuan : 1) memperoleh likuiditas dan 2) spekulasi pergerakan bunga –Risiko suku bunga. Obligasi atau bond adalah surat hutang jangka panjang yang dapat diperdagangkan, diterbitkan oleh penerbit (issuer). –Investor (holder) membayar sebesar pokok obligasi tersebut. –Penerbit bond berkewajiban membayar holder bunga (coupon) secara periodik sebelum bond jatuh tempo, dan membayar pokok hutang pada saat bond jatuh tempo. –Risiko : interest rate risk, credit risk (kualitas rating dari issuer)

40 1-40 Instrumen trading: equity & commodity trading Equity trading adalah jual beli saham perusahaan yang diperdagangkan di bursa. –Saham biasa adalah bukti kepemilikan perusahaan. –Pemilik menerima dividen dan kenaikan harga saham (capital gain) –Risiko : risiko ekuitas umum (general equity risk), dan risiko spesifik Commodity trading adalah transaksi jual beli komoditas yang diperdagangkan pada pasar sekunder –Tersedia pasar spot dan forward untuk berbagai macam komodiitas –Posisi spot komoditas : risiko komoditas ; posisi forward : risiko komoditas + suku bunga.

41 1-41 Instrumen Derivatif: Futures Fitur utama dari kebanyakan produk derivatif adalah bahwa tidak ada transaksi pada pokok instrumen. –Mengurangi risiko kredit dan risiko settlement –Kontrak mengenai selisih harga (‘contracts for difference’) Derivatives bisa diperdagangkan pada bursa (exchanges) dan over-the- counter (OTC) market Kontrak futures (janji penyerahan di masa depan) diperdagangkan di bursa –Jumlah fixed per contract –Tanggal penyerahan fixed –Syarat penyerahan sudah ditetapkan –Mark to market harian dan adanya sistim margin calls –Penyerahan fisik jarang dilakukan, biasanya settelement dilaksanakan secara tunai

42 1-42 Interest rate swap, currency swap & FRA Interest rate swap : kedua belah pihak saling menukar arus kas dari suku bunga tanpa perlu menukar pokoknya. –Vanilla swaps pada umumnya meliputi pembayaran bunga fixed yang dipertukarkan dengan floating rate index –Interest rate swaps menimbulkan risiko suku bunga Currency swap : bunga dalam US dollar ditukar dengan bunga dalam valuta euro (berbeda mata uang) –Pokok dipertukarkan pada spot rate –Menimbulkan interest rate risk pada kedua valuta dan risiko nilai tukar Forward rate agreements (FRAs) memungkinkan bank mengambil posisi pada forward interest rates. –Tidak ada pertukaran pokok, pada saat kontrak jatuh tempo, dilakukan cash settlement, yaitu selisih dari rate dalam kontrak dengan rate LIBOR rate

43 1-43 Option contract Option memberi hak pada pembeli, tapi bukan kewajiban –Transaksi dasar (underlying transaction) akan terlaksana apabila rate menguntungkan bagi pembeli opsi –Penjual mempunyai risiko tak terbatas, menerima premi callcall option memberikan pembeli hak untuk membeli underlying instrument putPut option memberikan pembeli hak untuk menjual underlying instrument premiumBiaya yang dibayar oleh buyer pada seller strike priceHarga dimana dilaksanakan eksekusi dari underlying transaction exercisePembeli options ‘ mengeksekusi ’ option dan melaksanakan underlying contract expiry dateTanggal terakhir option pelaksanaan eksekusi AmericanOption yang dapat dilakukan eksekusi setiap saat selama options belum jatuh tempo EuropeanOption yang hanya dapat dilakukan eksekusi pada saat jatuh tempo

44 1-44 Option contract Harga Option didasarkan pada kemungkinan option tersebut dilakukan eksekusi. Unsur utama dari nilai option adalah: –Tingkat strike price relatif terhadap harga pasar berlaku. –Jangka waktu berlakunya option : semakin panjang waktu ke maturity semakin tinggi nilai option –Volatilitas dari harga pasar. Semakin volatile harga, semakin tinggi harga option Pembeli option harus memilih Strike price dan jangka waktu option. Volatility adalah ukuran statistik yang diperoleh dari data historis perubahan harga, meski pasar sering menggunakan expected volatility. Volatilitas meningkat dengan peningkatan waktu ke maturity

45 1-45 Pricing mark-to-market Fungsi kontrol untuk mengelola operasional trading adalah memastikan bahwa terhadap posisi terbuka trading setiap hari dilakukan penilaian kembali sesuai dengan harga pasar yang berlaku : marking-to-market. Instrumen finansial dgn arus kas dimasa depan dinilai dengan cara menghitung present value dari future cash flows –Produk dengan cash flow dimasa depan sensitif terhadap perubahan satu atau lebih titik pada yield curve. Jenis utama dari yield curves terkait dengan bunga adalah: –Cash –Derivatives –Bond –Basis Bond, equity, spot foreign exchange dan transaksi spot commodity dinilai atas dasar selisih antara original traded price dan current market price Forward foreign exchange rates ditentukan dengan menyesuaikan current spot rate dengan suatu forward margin tertentu –Forward margin = spot x interest differential x (day / 360)

46 1-46 Proses mark-to-market Harga pasar bisa diperoleh dari : –Broker yang aktif di pasar –Harga resmi : LIBOR dari British Bankers Association –Futures dan options on futures diperoleh dari bursa berjangka (futures exchanges) Harga pasar dari transaksi digunakan untuk berbagai tujuan: –Perhitungan rugi laba –Perhitungan counterparty risk –Perhitungan collateral untuk transaksi OTC –Margin call oleh bursa berjangka –Settlement transaksi dengan counterparty

47 1-47 Nature treasury risk Treasury risk adalah risiko kerugian pada aktivitas Treasury dari bank. Treasury sebenarnya dapat mengelola berbagai risiko pada unit treasury risk management, tetapi program sertifikasi hanya akan mengcover: –interest rate risk pada banking book –liquidity risk –capital management. Risiko tersebut diatas dan masalah terkait (seperti konsentrasi asset dan liability, kemampuan akses pada dana bank sentral, payment systems, kebutuhan agunan dsb.) dicover oleh fungsi asset and liability management (ALM).

48 1-48 Asset Liability Management Tujuan utama dari asset and liability management : mengelola risiko pada neraca bank dan memastikan bahwa interest rate risk yang melekat pada aktifitas bisnis bank tidak menurunkan stabilitas pendapatan bank. Pendapatan bank terutama adalah Net Interest Income (NII) dari bank –Nilai tunai (net present value) dari arus NII selama periode tertentu merupakan komponen utama dari nilai pasar bank. –Stabilisasi NII  stabilisasi nilai bisnis (business value) bank ALM mencakup interest rate risk in the banking book dan liquidity risk. Interest rate risk in the banking book : risiko kerugian akibat bank memiliki posisi yang terpengaruh pergerakan suku bunga karena struktur bisnis bank, seperti aktifitas memberikan kredit dan menghimpun dana pihak ketiga Contoh : Savings and Loan : mark-up nilai properti dan mismatch antara kewajiban dan aset S&L. Interest rate risk in the banking book tidak dibahas secara detil pada Basel II, namun pada paper yang diterbitkan Juli 2004.

49 1-49 Aktivitas ALM Selain stabilisasi nilai bisnis, ALM juga memperhatikan: –Pemeliharaan struktur likuiditas dari bisnis –Masalah yang dapat mempengaruhi struktur neraca bank. –Masalah yang memberikan dampak pada stabilitas pendapatan pada periode mendatang. Bank International mempunyai struktur modal dengan dominasi valuta domestik, tapi pendapatan dan aset terdiri dari valuta lainnya. Kondisi ini menimbulkan risiko nilai tukar pada pendapatan bank. –Present dan future profits dari aktifitas internasional menjadi volatile ketika dihitung dalam mata uang domestik –Modal dalam valuta domestic yang dialokasikan pada aktifitas internasional menyebabkan rasio capital to assets menjadi volatile ketika nilai tukar berubah.

50 1-50 Aktivitas ALM (2) Pengelola aktiva passiva harus memahami: –Neraca bank komersial tidak terdiri dari kumpulan aktiva dan passiva yang stabil (kredit baru dan deposits terus berubah) –Repricing dari aktiva dan passiva pada neraca bank komersial tidak dapat dihitung secara kontraktual (ada perbedaan timing yang cukup besar antara perubahan rate pasar dan perubahan bunga kredit serta bunga dana). –Seringkali tidak terdapat korelasi antara produk retail dan wholesale rates untuk menetapkan pricing dari assets dan liabilities (sejumlah masalah pemasaran mempengaruhi keputusan repricing dari produk retail yang tidak mempengaruhi harga produk wholesale) –Produk retail sering termasuk unsur opsi yang melekat (embedded options) yang seringkali dilakukan exercise secara tidak rasional. (nasabah retail seringkali mempunyai hak untuk melakukan terminasi kontrak kapan saja)

51 1-51 Aktivitas ALM (3) Bank komersial dengan jumlah nasabah retail besar mempunyai struktur neraca yang sulit untuk dikelola, karena –Bank komersial seringkali lebih mementingkan unsur relationship dan mengabaikan kewajiban kontrak, antara lain terlalu fokus pada nasabah –Dalam upaya menarik dan mempertahankan nasabah seringkali produk retail memiliki fitur berbeda dengan produk wholesale, sehingga sulit untuk mengelola risiko dengan menggunakan produk wholesale. –Pricing pada produk retail seringkali menitikberatkan pada pertimbangan marketing daripada market price

52 Chapter 5 – Credit Risk

53 1-53 Credit Risk dan Sovereign risk Credit risk : risiko kerugian karena potensi counterparty gagal memenuhi kewajibannya ketika jatuh tempo. –Contoh : Peregrine (1998) yang meminjamkan 20% dari modalnya ke Steady Safe yang kemudian default. Sovereign risk adalah risiko kerugian karena potensi suatu negara gagal membayar kewajiban bunga atau pokok dari pinjaman nya –Negara penghutang meyatakan tidak mau membayar (Rusia 1917, 1998 dan Afrika dan Amerika Latin 1960 dan 1970-an) –Debt rescheduling : jalan yang banyak dipakai Pembedaan sovereign debt bond dilakukan antara : –hutang negara dalam mata uang domestik (jarang default, bisa cetak uang) –hutang dalam valuta asing

54 1-54 Sovereign risk : analisa rasio keuangan Debt service ratio : kewajiban bunga dan pokok pinjaman valuta asing dibagi income dari export dan capital inflow. Inward investment digabungkan dengan kebijakan ekonomi domestik bisa menciptakan ‘bubbles’ (valuasi terlalu tinggi untuk aset tertentu yang tidak bisa bertahan dalam jangka panjang), contoh property Tokyo (1990-an) dan saham Asia (mid – 1990). Kualitas data pemerintah yang buruk seringkali membuat proses penilaian sovereign risk sulit. –Pinjaman swasta dalam bentuk valuta asing, yang datanya seringkali buruk, bisa mempengaruhi total hutang yang menjadi kewajiban suatu negara.

55 1-55 Sovereign risk : faktor kualitatif & country risk Ada sejumlah faktor kualitatif yang harus dipertimbangkan saat menilai sovereign risk : –efisiensi sistem perbankan –efisiensi sistem perpajakan –kemampuan bank sentral mempengaruhi kurs mata uang –peran suku bunga domestik yang tinggi yang mendorong pinjaman dalam valuta asing, dan mendorong tekanan inflasi. –transparansi ekonomi dan pemisahan yang jelas antara tugas pemerintah, bank sentral, supervisor, sistem hukum dan bisnis Sovereign risk adalah bagian dari country risk Country risk mencakup hukum, politik, lingkungan ekonomi domestik dan bagaimana semuanya ini mempengaruhi sektor swasta dalam ekonomi. Dalam Basel I Accord, sovereign risk diukur dengan menetapkan bobot risiko secara sederhana, yaitu berdasarkan kategori peminjam (misalnya pemerintah) dan jenis instrumen (misal, jaminan, kredit, dsb). Dalam Basel II, Standardised Approach menggunakan credit rating untuk menilai dan menetapkan sovereign risk

56 1-56 Corporate credit dan retail credit risk Corporate credit risk berhubungan default risk dari hutang yang diterbitkan perusahaan. –Lebih besar daripada sovereign risk –Analisa rasio laporan keuangan untuk proses keputusan kredit digunakan secara luas dikalangan perbankan. –Basel II memberi insentif bagi untuk meningkatkan kualitas keputusan kredit melalui penggunaan teknik metode statistik untuk kalibrasi dan ‘back testing’ thdp model credit grading –Juga mendorong bank untuk memperkaya informasi melalui penggunaan option- based model, bila data tersedia Teknik penilaian kredit perorangan telah berubah banyak Dari berdasarkan wewenang pada cabang menjadi sistim perkreditan tersentralisasi menggunakan credit scoring model Dua jenis credit personal finance : credit dengan agunan real estate (rumah) dan unsecured consumer finance (credit card). Perkembangan berbagai bentuk pinjaman yg dijamin properti didorong oleh Basel II yang memperhitungkan agunan sebagai pengurang risiko. Credit scoring model digunakan untuk kredit tanpa agunan.

57 1-57 Probability of default Model-model yang sudah dibahas digunakan bank untuk mendukung proses keputusan kredit dan berciri “bimodal” (setuju atau menolak). –Namun, bank ingin lebih memahami mengenai risiko, return (misal margin dan fee dari loan), dan modal yang dibutuhkan. Keputusan pemberian kredit dibuat dengan mempertimbangkan risiko dan return. –Basel II, melalui penggunaan “public credit grade” (Standardized Approach) atau grading model (Internal Rating-Based approach), mendorong bank menggunakan model credit appraisal dalam membuat keputusan risiko – imbal hasil.

58 1-58 Traded market counterparty credit risk Traded markets counterparty credit risk timbul apabila ketika counterparty tidak langsung membayar jumlah yang terhutang dalam satu transaksi. –Pada berbagai produk pasar, jumlah terhutang pada counterparty dapat terus berubah selama umur kontrak. Tingkat counterparty credit risk bisa dikurangi dengan : –membuat pembayaran regular diantara pihak dalam kontrak –pihak penghutang menjaminkan security untuk menjamin apa yang dihutangkan (collateral) –‘netting’ : offsetting keuntungan atau kerugian di antara sejumlah kontrak yang sejenis atau di antara berbagai jenis kontrak. Nilai mark-to-market merupakan dasar perhitungan counterparty credit risk.

59 1-59 Analisa sovereign risk & corporate credit risk Sovereign risk : –Dilakukan perusahaan pemeringkat seperti Standard & Poors, Moody's Investors Services dan Fitch, juga badan pemerintah seperti Export Credit Agencies (ECA). –Analisis sovereign risk dapat didasarkan dari perhitungan angka kuantitatif, maupun analisa kualitatif. Data kuantitatif bisa diperoleh dari BIS. Corporate risk : –Pendekatan tradisional menggunakan analisa laporan keuangan, disebut dengan analisa kredit. –Komponen laporan keuangan yang digunakan : neraca Laporan rugi laba (income statement) laporan arus kas (cash flow statement) laporan pajak (tax statement) –Analisa biasanya melihat kinerja historis tiga tahun terakhir –Ratio yang biasa digunakan : operating performance (ROE), debt service capability (cash flow/ interest), financial gearing (deb/equity), dan current ratio.

60 1-60 Teknik baru “options-based “ Dikembangkan Robert C. Merton. Kredit pada perusahaan : debitur membeli put option pada perusahaan, bila nilai perusahaan negatif (PV perusahaan < PV debt) ia akan menjual perusahaan ke kreditur senilai hutang-nya. Perbedaan nilai perusahaan dan nilai pasar hutang bisa digunakan sebagai dasar untuk menentukan probability of default.

61 1-61 Risiko kredit perorangan Beberapa hal yang dicermati dalam analisa kredit perorangan –Personal budgets : jumlah pemasukan tunai dan pembelanjaan tunai dari dan ke rumah tangga –Credit scoring models : sejarah kredit calon debitur, bersama detil lainnya yang disampaikan nasabah potensial, dimasukkan kedalam scoring model untuk memprediksi kualitas kredit –Credit reference agencies (agen pengelola data) : memelihara catatan sejarah kredit seseorang –Lifetime consumption : penilaian mengenai profil penerimaan dari income selama hidup dan profile pengeluaran dari debitur (usia 30 tahun vs 60 tahun untuk mortgage kredit) –Nilai aset Bersih : posisi aset dan kewajiban debitur juga turut menentukan kelayakan debitur –Peran lembaga asuransi : mempertahankan pembayaran pada saat debitur menderita sakit dan tidak bisa bekerja –Affordability assessment (analisis kemampuan membayar) : income/pembayaran

62 1-62 Kredit konsentrasi dan pengukuran Credit concentration risk : konsentrasi kredit pada berbagai area bisnis seperti geografis, sektor industri dan kualitas rating kredit. Risiko konsentrasi dimasukan dalam Pillar 2. Dibutuhkan tambahan modal bila ada concentration risk. Konsentrasi termasuk eksposur yang signifikan pada : –suatu counterparty atau grup –sektor ekonomi atau daerah geografis –ketergantungan pada suatu aktivitas atau komoditas –jenis agunan Cohort adalah pengelompokan aset berdasarkan kriteria tertentu untuk mengetahui konsentrasi kredit. Dalam Basel II, ada tiga pendekatan untuk menghitung kebutuhan modal untuk credit risk: standardized approach, IRB foundation, dan IRB advanced. Basel II juga menentukan kriteria yang harus dipenuhi bank untuk menggunakan pendekatan yang lebih advance. Persyaratan utama dari supervisor adalah bahwa bank menggunakan pendekatan IRB untuk memutuskan kredit secara internal.

63 Chapter 6 – Operational risk

64 HFHI F I LFLILFHI HFLI Tools: End to End Process Mapping Six Sigma PENINGKATAN EFISIENSI Insurance Business Continuity Planning Expected Loss Data Internal Unexpected Loss Data Eksternal Skenario Otomasi Teknologi Outsourcing Terorisme Globalisasi Insentif & Trading Volume Trasaksi Litigasi

65 1-65 Kategori Operational risk event, internal process Penting bagi bank untuk memahami mengenai event, dan tidak sekedar mencatat kerugian yang ditimbulkan (ingat kasus trader salah beli $). Event operational risk dapat dibagi dalam kategori sbb: –Risiko proses internal –Risiko SDM (people risk) –Risiko Kegagalan sistim (systems risk) –Risiko eksternal (external risk) –Legal risk Risiko proses internal : risiko terkait kegagalan proses dan prosedur bank. Diperbaiki dengan meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerumitan proses. Beberapa contoh kegagalan proses internal : –Dokumentasi – tidak memadai, tidak mencukupi atau salah –Kurang adanya sistim pengawasan –Kesalahan marketing –Kesalahan dalam menjual (misselling) –Pencucian uang (money laundering) –Laporan tidak akurat atau tidak cukup (contoh. Laporan BI) –Kesalahan transaksi (transaction error) Contoh kasus proses internal : trader Daiwa yang bisa melakukan transaksi ilegal selama 11 tahun tanpa terdeteksi.

66 1-66 Risiko SDM, sistem dan external events Risiko SDM (people risk) : risiko terkait dengan pegawai bank. –Contoh : trader dari UBS Warburg (2001) Tokyo menjual 610,000 saham Dentsu pada harga 16 yen per saham, padahal seharusnya 16 saham pada harga 610,000 yen System risk adalah risiko terkait dengan penggunaan sistim dan teknologi –Contoh Bank of Scotland (2000) mengalami kegagalan nyaris total pada sistem komputer yang menghambat ATM dan fasilitas internet banking. External risk : risiko terkait events yang berada diluar kemampuan kontrol secara langsung dari bank. Misal, perampokan, teroris. Biasanya low frequency/high impact dan menimbulkan unexpected loss. –Contoh : NatWest (1993) yang gedung-nya dibom teroris.

67 1-67 Risiko legal dan Boundary events Legal risk : risiko ketidakpastian melakukan tindakan hukum, atau ketidakpastian bahwa kontrak mempunyai kepastian interpretasi hukum atau regulasi –Meningkat dengan adanya KYC dan proteksi data nasabah dari penggunaan untuk marketing. –Bear Sterns (1999) membayar SEC USD 25 juta. Sebagai clearing agent A.R. Baron, pialang kecil yang bangkrut tahun 1996, Bear Sterns tidak memberi peringatan pada pengawas aktifitas trading Baron yang diidentifikasikan fraud. Boundary events : risiko kerugian timbul dari berbagai kombinasi jenis risiko dan bukan satu faktor tunggal. –Contoh : kasus Barings bisa operational risk (internal process: trader menyetujui trade-nya), market risk (rugi dari pergerakan harga pasar), business risk (manajemen di London masih melakukan ‘top up’ pada saat margin call). Akar penyebab adalah operational risk, karena bila proses internal benar, kerugian besar bisa terdeteksi awal dan Barings tidak collapse.

68 1-68 Basel II dan operational risk Basel II memasukkan operational risk dalam Pillar 1, dimana bank harus mengukur besarnya operational risk, dan mengalokasikan modal. Bank juga diharapkan mengelola operational risk untuk mengurangi peluang timbulnya event operational risk. Diperkirakan bahwa secara rata-rata sekitar 12% dari modal dialokasikan untuk mengcover risiko operasional. Basel II memperbolehkan bank menggunakan satu dari tiga pendekatan untuk menghitung modal untuk mengcover operational risk : basic indicator approach, standardized approach, dan advanced measurement approach.

69 Chapter 7 – Supervisory review dan disclosure

70 1-70 Pengawasan supervisor Supervisor mengawasi bank untuk memastikan kepatuhan bank pada ketentuan kecukupan modal, serta meyakinkan bahwa bank mengembangkan dan menggunakan teknik manajemen risiko yang terbaik. Pillar 2 membahas tiga area yang diluar lingkup Pillar 1 : –risiko konsentrasi kredit –risiko suku bunga pada banking book –faktor ekstern yang mempengaruhi operasional bank (mis. siklus bisnis). Pilar 2 juga menilai kepatuhan pada standar minimal bila bank menggunakan advanced methods dalam Pillar 1. Direksi dan senior manajemen bank bertanggung jawab memastikan bank mempunyai modal yang cukup, termasuk untuk risiko yang tidak dicover dalam Pillar 1. –Proses evaluasi tidak hanya pada kebutuhan modal sekarang namun juga memperkirakan kebutuhan modal yg akan datang.

71 1-71 Supervisory review dan action Supervisor akan mengevaluasi kualitas proses perhitungan kebutuhan modal intern. –Kelemahan dalam proses akan meningkatkan rasio modal sehingga mengurangi tingkat aktivitas yang dapat didukung oleh modal bank. Perlu dicatat bahwa peningkatan modal tidak menggantikan kewajiban bank untuk memperbaiki kelemahan sistim pengendalian kontrol yang tidak memadai atau gagal. Supervisor juga dapat menggunakan cara lain untuk memperbaiki kelemahan tersebut, yaitu: –menetapkan target untuk memperbaiki struktur manajemen risiko –mensyaratkan prosedur internal yang lebih ketat –memperbaiki kualitas staff melalui pelatihan atau penerimaan baru Dalam hal yg ekstrim, supervisor dapat membatasi tingkat risiko atau aktivitas bisnis bank hingga masalah diatasi.

72 Prinsip Utama Basel Committee menetapkan 25 prinsip utama pengawasan pada “Core Principles for Effective Banking Supervision”, yang dikeluarkan pada September Pilar 2 mengidentifikasikan empat prinsip utama dari sistim pengawasan bank untuk melengkapi 25 prinsip utama tersebut Prinsip 1 : bank harus mempunyai proses untuk menilai kecukupan modal sesuai dengan profil risiko bank, dan mempunyai strategi untuk mempertahankan tingkat kecukupan modalnya. –Manajemen bank bertanggung jawab memastikan bank memiliki modal cukup untuk mendukung kegiatan saat ini dan mendatang sesuai dengan profil risiko dan sistem kontrol bank –Lima fitur proses penilaian modal yang baik : pengawasan board dan manajemen senior, penilaian modal yang baik, penilaian risiko yang menyeluruh, pemantauan dan pelaporan, evaluasi pengendalian internal.

73 1-73 Prinsip 2 Prinsip 2 : supervisor harus mengevaluasi perhitungan dan strategi kecukupan modal, dan menilai kemampuan bank untuk memonitor dan mematuhi ketentuan kecukupan modal –Supervisor harus melakukan tindak lanjut apabila menilai proses tersebut di bank tidak berjalan dengan baik. –Proses pengawasan rutin supervisor harus: menguji perhitungan eksposur risiko bank dan konversinya ke kebutuhan modal, fokus pada kualitas proses dan kualitas pengawasan intern terhadap proses tersebut, menguji kerangka penilaian modal untuk mengdapatkan kekurangannya, tidak memberikan rekomendasi atas struktur kerangka kerja. –Evaluasi dimungkinkan melalui kombinasi metode pengumpulan data sbb : kunjungan lapangan, off-site reviews, pertemuan dengan manajemen bank, mengevaluasi hasil kerja pemantauan periodik oleh external auditor.

74 1-74 Prinsip 3 & 4 Prinsip 3 : supervisor mengharapkan bank beroperasi diatas kebutuhan modal minimum dan berwenang meminta bank mempertahankan modalnya diatas minimum. –Pillar 1 dirancang untuk menentukan kebutuhan modal minimum standar bank yang: mempunyai sistim pengendalian kuat mempunyai portofolio dengan risiko yang terdiversifikasi risiko kegiatan usahanya yang sudah dicover pada pillar 1 Prinsip 4 : supervisor harus segera mengintervensi untuk mencegah turunnya modal bank dibawah minimum, sesuai dengan risikonya. Ia harus meminta tindakan korektif secepatnya bila modal tidak dipertahankan atau ditambah. –Supervisor dapat meningkatkan syarat modal minimum bank sebagai pemecahan jangka pendek sambil mengatasi permasalahan yg ada.

75 1-75 Disclosure Disclosure adalah penyediaan informasi yang cukup material kepada publik untuk dapat mengevaluasi usaha perusahaan –Perusahaan publik memiliki syarat disclosure lebih ketat daripada non publik –Perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa harus memenuhi syarat keterbukaan yang ditetapkan oleh bursa. –Otoritas bursa juga bertanggung jawab agar emiten melaksanakan ketentuan keterbukaan yang diwajibkan oleh lembaga lain yang mengatur hal tersebut. US Sarbanes–Oxley Act 2002’ secara hukum menetapkan tanggung jawab perusahaan atas keterbukaan –CEO dan CFO dari perusahaan yang telah IPO, harus menyatakan secara terbuka (public disclosure) mengenai kebenaran laporan keuangannya. –Section 404 of the Act, juga mensyaratkan keterbukaan dokumentasi, verifikasi auditor extern terhadap kualitas pengendalian intern perusahaan dalam hal pelaporan keuangannya. –Ketentuan tersebut diimplementasikan melalui SEC, lembaga pengatur bursa saham di USA.

76 1-76 Disclosure : manajemen dan issue lain Aktivitas mana yang dipilih oleh manajemen untuk dilaporkan memberikan masukan kepada stakeholders mengenai bagaimana perusahaan dikelola –Bank-bank besar dunia menetapkan standar yang tinggi untuk memberikan gambaran bagaimana perusahaan dikelola. Di beberapa negara, misal UK, ketentuan mengenai transparansi perusahaan relatif lebih ringan. –Persyaratan hukum berfokus pada ketentuan pelaksanaan codes of practice, (The Combined Code, dan principles of disclosure). –Combine Code kurang, bila dilihat dari keseragaman dibandingkan aturan disclosure yang detail, namun ia lebih fleksibel dan mudah kalau diperlukan perubahan.

77 Chapter 8 – Corporate Governance in Banks

78 1-78 Konsep dasar corporate governance Tata kelola perusahaan didefinisikan sebagai hubungan antara manajemen, direksi, stake holder dan pemilik dari suatu perusahaan. Beberapa teknik dan strategi untuk menciptakan tata kelola perusahaan yang baik: –Tata nilai perusahaan (corporate values), code of conduct –Strategi perusahaan yang dijabarkan secara jelas –Pemberian wewenang dan tanggung jawab yang jelas dalam pengambilan keputusan –menetapkan mekanisme interaksi dan kerja sama diantara dewan komisaris, Direksi, manajemen senior dan auditor –sistim pemantauan yang kuat –pemantauan risiko khusus apabila diperkirakan akan terjadi benturan kepentingan –Imbalan berupa uang atau bersifat manajerial bagi pegawai yang berperilaku sebagaimana mestinya –arus informasi intern dan ekstern yang memadai

79 1-79 Struktur tata kelola perusahaan Struktur tata kelola pada bank bervariasi, tergantung dari kebiasaan, batasan hukum dan sejarah perkembangan masing-masing bank. Namun harus dipastikan ada sistem periksa silang dalam struktur. –Pengawasan oleh dewan komisaris, direksi dan badan pengawas –Pengawasan oleh individu yang tidak terlibat dalam menjalankan bisnis sehari-hari. –Supervisi langsung dari berbagai area bisnis. –Fungsi audit dan manajemen risiko yang independen –Personel kunci ‘fit dan proper’ untuk pekerjaannya –Pelaporan secara regular

80 1-80 Tujuan strategis, wewenang, tugas direksi Bank perlu menetapkan tujuan strategis yang jelas dan etos perusahaan. –Nilai-nilai perusahaan harus diterapkan disemua jajaran bank termasuk direksi. Melaporkan masalah secara tepat waktu dan melarang korupsi. Direksi harus menjamin proses pemantauan dan pelaporan terhadap kebijakan tersebut yang berfungsi dengan baik. Direksi harus menetapkan garis yang jelas antara kewenangan dan tanggung jawab. Direksi sendiri harus mengikuti proses ini. Direksi adalah penanggung jawab akhir atas pengelolaan dan kinerja bank. Maka seorang direktur harus : –memenuhi kualifikasi minimal sesuai jabatannya –memahami peranannya dalam kerangka tata kelola perusahaan –tidak terpengaruh oleh pihak dalam maupun luar perusahaan.

81 1-81 Tugas Direksi (1 Tier) Direksi yang kuat akan : –memahami peran pengawasannya dan loyal pada bank dan pemegang saham. –melakukan proses ‘check dan balance’ dalam manajemen sehari-hari –berani bertanya ke manajemen bank dan meminta penjelasan yang tuntas –merekomendasikan praktek perbankan yang lebih baik sesuai pengalamannya. –memberikan saran dan nasihat secara obyektif –tidak berlebihan dalam bertindak –komitmen menghindari benturan kepentingan dalam aktivitas dengan organisasi lain. –Bertemu secara berkala dengan manajemen senior dan internal audit untuk menetapkan dan menyetujui kebijakan, mengembangkan komunikasi organisasi, dan memantau kemajuan tujuan perusahaan. –tidak membuat keputusan apabila mereka tidak dapat memberikan saran yang objektif. –tidak terlibat pada pengelolaan bank sehari-hari.

82 1-82 Komite khusus, pengawasan manajer senior Komite dapat dibentuk untuk bidang: –Risk Management : mengawasi aktivitas manajemen senior dalam mengelola risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, legal dan risiko lainnya. –Audit : mengawasi auditor bank, internal dan external, serta memastikan manajemen sudah melakukan tindakan korektif terhadap kelemahan kontrol, tidak patuh pada kebijakan, hukum dan ketentuan regulasi. –remuneration : mengawasi kebijakan kompensasi bagi manajemen senior dan personal kunci lainnya, serta memastikan bahwa sistim kompensasi sesuai dengan budaya kerja bank, tujuan, strategi dan kontrol. Manajemen senior harus melakukan pengawasan komprehensif atas bawahannya, seperti yang dilakukan BOD. –Keputusan penting diputuskan oleh lebih dari satu manajer. –Perlu dihindarimanajer senior yang : Terlibat dalam keputusan manajer lini secara berlebihan Tidak memiliki keahlian Tidak berani mengendalikan karyawan kunci karena takut kehilangan.

83 1-83 Peran auditor intern dan ekstern Hasil pekerjaan auditor hendaknya digunakan sebagai validasi informasi yang diberikan oleh manajemen senior. Proses tersebut dapat ditingkatkan oleh Direksi : –mengakui pentingnya proses audit dan mengkomunikasikannya pada seluruh jajaran bank –meningkatkan independensi dan status dari auditor. –menggunakan temuan auditor secara efektif dan tepat waktu. –memastikan independensi dari kepala audit dengan pelaporan pada direksi atau pada komite audit. –menggunakan jasa auditor eksternal untuk menilai efektivitas kerja auditor internal –melakukan tindakan korektif segera terhadap setiap masalah yang ditemukan oleh auditor,

84 1-84 Kebijakan kompensasi, disclosure Kebijakan kompensasi harus mencerminkan budaya, tujuan, strategi dan fungsi kontrol. Direksi harus menetapkan kompensasi bagi manajemen senior dan personal kunci. –Kompensasi harus dibuat agar memotivasi manajemen senior bertindak bagi kepentingan bank. –Menghindari pengukuran kinerja jangka pendek yang akan membawa risiko pada jangka panjang Tata kelola perusahaan yang baik perlu keterbukaan yang mencakup : –struktur board (jumlah, keanggotaan, kualifikasi dan komite) –struktur manajemen senior (tanggung jawab, garis pelaporan, kualifikasi dan pengalaman) –struktur organisasi dasar (struktur usaha, struktur legal perusahaan) –informasi mengenai struktur insentif (kebijakan gaji, kompensasi eksekutif, bonus, opsi saham) –transaksi-transaksi dengan pihak-pihak terafiliasi.

85 Chapter 9 – Regulasi Indonesia

86 1-86 BI dan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) : bank sentral pada sistim perbankan Indonesia ; independen dari kontrol pemerintah. Tujuan BI adalah menciptakan stabilitas nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan ini, BI bertanggung jawab untuk: –Melakukan formulasi dan implementasi kebijakan moneter –Menyelenggarakan dan mengamankan sistim pembayaran –Mengatur dan melakukan pengawasan bank-bank. BI melaksanakan kebijakan moneter dengan menetapkan BI Rate, setiap 3 bulan sekali pada pertemuan gubernur dan deputy (bila dipandang perlu bisa dilakukan setiap bulan). Operasi pasar BI lainnya meliputi : –operasi pasar terbuka untuk mempengaruhi likuiditas pasar. –menetapkan giro wajib minimum (reserve requirements) –bertindak sebagai “lender of last resort” –melaksanakan kebijakan nilai tukar –mengelola cadangan devisa negara untuk mendukung perdagangan internasional..

87 1-87 Sistem pembayaran, pengawasan BI merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk menerbitkan dan mendistribusikan rupiah serta bertanggung jawab dalam kliring Bank Indonesia telah mengembangkan sistem pembayaran nasional, meliputi sub sistem : –Sistim kliring elektronik nasional –Sistim Skedul kliring T+0 –Sistim transaksi elektronik antar bank dan Sistim jasa informasi (Information Service System)/ (BI-LINE) –Sistim Real Time Gross Settlement System (RTGS) –Sistim transfer dana US Dollar (Fund Transfer System). BI membuat peraturan perbankan dan mengeluarkan ijin operasional bank. Selain itu BI juga : –menyetujui pembukaan atau penutupan kantor cabang bank –menyetujui kepemilikan dan manajemen bank –memberikan ijin untuk kegiatan tertentu bank. BI melakukan pengawasan melalui pengawasan langsung, yaitu ‘on-site examination’ dan ‘on-site presence (OSP)’ selain pengawasan secara ‘off-site” melalui laporan-laporan bank yang disampaikan ke BI

88 1-88 Ketentuan manajemen risiko Ketentuan manajemen risiko : PBI no 5/8/PBI/2003: “Pedoman Pelaksanaan manajemen Risiko untuk bank umum“. Menekankan pada risiko yang melekat pada aktivitas bank dan struktur kontrol untuk mengendalikan risiko tersebut, termasuk proses : identifikasi, pengukuran, pemantauan (monitor), dan pengendalian (kontrol). Pengelolaan risiko yang terintegrasi mengharuskan bank : mengelola risikonya dalam suatu struktur manajemen yang terintegrasi membangun sistem informasi dan struktur manajemen yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mengelola risiko diperlukan: Pengawasan aktif dewan Komisaris dan Direksi Kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko Sistim informasi yang memadai untuk pengelolaan risiko Sistim pengendalian intern yang menyeluruh

89 1-89 Struktur manajemen risiko Kebijakan manajemen risiko yang efektif harus memperhitungkan : –Tujuan dan kebijakan bank –kompleksitas dari model bisnis bank –kemampuan bank dalam mengelola risiko usaha. Bank yang mempunyai kegiatan usaha yang kompleks, harus memiliki struktur manajemen risiko yg lebih kompleks dibanding bank yang kegiatannya sederhana. Dalam struktur, setiap unit bisnis terpisah dari internal audit dan unit risk management.

90 1-90 Risiko Bank yang perlu dikelola Struktur manajemen setiap bank mencakup risiko : –risiko pasar (market risk) : beda dengan Basel ada dua variabel : suku bunga dan nilai tukar –risiko kredit –risiko operasional –risiko likuiditas Bank mempunyai kegiatan usaha yang beragam dan kompleks diharapkan mengelola risiko : –risiko hukum –risiko reputasi –risiko strategis –risiko kepatuhan.

91 1-91 Pengawasan Aktif Dewan Komisaris dan Direksi Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab menetapkan risiko yang perlu dikelola dikaitkan dengan kompleksitas kegiatan bank. Mereka juga harus menetapkan pembagian wewenang dan tanggung jawab pengelolaan risiko tersebut diantara Direksi dan manajemen senior. Kewenangan dan tanggung jawab Dewan Komisaris dan Direksi meliputi : –Menyetujui dan mengevaluasi kebijakan Manajemen Risiko. –Pembagian tanggung jawab manajemen untuk pelaksanaan Manajemen Risiko. –Menentukan transaksi-transaksi yang memerlukan persetujuan Direksi atau komisaris.

92 1-92 Penetapan limit Kebijakan Manajemen Risiko harus memuat penilaian risiko yang berhubungan dengan setiap produk dan transaksi. Direksi dan manajemen senior harus menciptakan proses untuk menetapkan toleransi risiko (risk appetite) dari bank, yang selanjutnya menjadi dasar penetapan limit risiko. Limit risiko harus ditetapkan : –secara keseluruhan, misalnya toleransi risiko –masing-masing jenis risiko, (misalnya risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, risiko likuiditas dsb) –berdasarkan fungsi, (misalnya Treasury, cabang, Unit Manajemen Risiko dan Direksi).

93 1-93 Identifikasi, implementasi dan pemantauan Direksi mempunyai tugas umum untuk memastikan bahwa: –semua risiko (risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko likuiditas, dsb) dapat diidentifikasi –semua risiko utama dapat diukur, dimonitor dan dikendalikan dengan baik. –pengukuran risiko tersebut ditunjang oleh sistim informasi yang up to date, akurat dan lengkap. Proses analisa risiko harus mengidentifikasi semua karakteristik risiko bank (biasanya dimulai dengan menguraikan semua jenis usaha yang dilakukan) dan apa saja risiko yang melekat pada setiap produk dan kegiatan usaha bank tersebut. Pengukuran risiko atas dasar produk dan aktivitas bisnis harus : –dilaporkan berdasarkan periode waktu (apabila relevan) –menjelaskan sumber data yang digunakan –menjelaskan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko –dapat menunjukan kapan setiap perubahan profil risiko bank terjadi.

94 1-94 Manajemen dan kontrol, sistem informasi Proses manajemen risiko harus menciptakan struktur yang dapat mengelola setiap risiko yang diperkirakan berpotensi mengancam kelangsungan usaha bank. Akhir nya proses kontrol risiko harus meliputi proses manajemen aset dan liability (ALM) untuk mengelola : risiko nilai tukar, risiko suku bunga, risiko likuiditas. Sistim informasi manajemen risiko harus mampu memberi informasi: –semua eksposur risiko –eksposur risiko yang terjadi dibandingkan dengan limit yang ditetapkan –kerugian aktual yang terjadi akibat mempertahankan posisi risiko dibandingkan dengan tingkat kerugian yang ditetapkan atas dasar toleransi risiko (risk appetite).

95 1-95 Pengawasan intern Sistim pengawasan intern harus dapat mengidentifikasikan setiap kegagalan pengawasan dan setiap penyimpangan Sistim pengawasan intern harus : –memenuhi ketentuan Bank Indonesia –memenuhi ketentuan intern bank yang telah ditetapkan oleh direksi. –menyediakan informasi keuangan untuk keperluan pelaporan yang lengkap, akurat, tepat guna, dan tepat waktu. –cukup memadai untuk mendukung manajemen dalam proses pengambilan keputusan pengambilan risiko. –menciptakan budaya risiko pada organisasi bank secara menyeluruh. Internal Audit merupakan fungsi independen pada bank.

96 1-96 Pengawasan intern dalam manajemen risiko Internal audit menilai secara terus menerus, melalui laporan, analisa metodologi, prosedur dan proses pada organisasi manajemen risiko bank. Pelaporan Internal Audit langsung ke Direktur Utama dan tidak kepada Chief Risk Officer Laporan Internal Audit pada umumnya meliputi : –kesesuaian Sistim Pengendalian Intern dengan risiko yang dihadapi oleh bank –penilaian kepatuhan terhadap kebijakan, prosedur dan limit yang telah dibuat dan disetujui oleh Bank Indonesia –fungsi pengendalian manajemen risiko yang independen/terpisah dari fungsi manajemen bisnis.

97 1-97 Organisasi manajemen risiko Struktur organisasi untuk mengelola risiko bank meliputi Komite Manajemen Risiko dan Unit Manajemen Risiko. Keanggotaan Komite Manajemen Risiko harus terdiri dari mayoritas Direksi dan senior manajemen yang terlibat.. Komite Manajemen Risiko harus memberikan rekomendasi kepada Direktur Utama mengenai hal sebagai berikut : –Kebijakan risiko, strategi dan implementasi. –setiap perubahan proses yang direkomendasikan oleh Internal Audit atau evaluasi proses manajemen risiko lainnya. –menjelaskan kepada Bank Indonesia dan kepada Direksi setiap keputusan bank yang bertentangan dengan kebijakan manajemen risiko yang telah ditetapkan. Persyaratan utama struktur unit manajemen risiko : –cukup memadai dibandingkan kompleksitas dan risiko –unit operasional dan pelaporan yang terpisah dari unit bisnis –melapor kepada direktur manajemen risiko ( Chief Risk Officer).

98 1-98 Tanggung jawab unit manajemen risiko Unit Manajemen Risiko bertanggung jawab untuk : –memantau pelaksanaan strategi manajemen risiko yang telah ditetapkan Direksi dan disetujui oleh BI. –memantau seluruh risiko yang dihadapi bank dan membandingkan dengan toleransi risiko (appetite). –memantau tingkat risiko yang terjadi dibandingkan dengan limit risiko untuk setiap jenis risiko. –melaksanakan stress tests –melakukan evaluasi secara periodik atas prosedur dan proses manajemen risiko (e.g. proses persetujuan kredit, proses pengelolaan piutang macet, dsb) –menganalisa usulan untuk produk dan jasa baru –secara periodik melakukan analisa kemampuan model untuk memprediksi risiko dibandingkan dengan kenyataan yang terjadi, (mis. Memantau kredit macet yang terjadi dibandingkan dengan yang diprediksi oleh model yang digunakan (grading models) –merekomendasikan kepada Komite Manajemen Risiko mengenai semua aspek proses manajemen risiko. –melaporkan secara rutin, profile risiko bank kepada Kepala Manajemen Risiko dan Komite Manajemen Risiko.

99 1-99 Produk dan jasa baru Banks harus mendokumentasikan proses dan prosedur produk dan jasa baru yang akan diluncurkan, termasuk otorisasi manajemen. Dokumentasi tersebut harus meliputi: –sistem dan prosedur serta kewenangan dalam pengelolaan produk dan aktivitas baru –identifikasi seluruh risiko yang terkait dengan produk dan aktivitas baru. –analisa aspek hukum yang berhubungan dengan produk dan jasa baru tersebut –sistim informasi akuntansi untuk produk dan aktivitas baru

100 1-100 Pelaporan Bank harus melaporkan profile risikonya kepada Bank Indonesia. Laporan tersebut harus memuat informasi yang sama dengan laporan Unit Manajemen Risiko kepada Direksi dan Komite Manajemen Risiko. –Laporan dibuat per-triwulan dan disampaikan kepada Bank Indonesia selambat-lambatnya 7 hari setelah akhir triwulan. Bank harus melaporkan produk dan aktivitas baru kepada Bank Indonesia setiap triwulan dalam waktu 7 hari setelah triwulan berakhir. Setiap kerugian yang dialami dan jumlahnya material harus dilaporkan kepada Bank Indonesia segera. Bank harus menerbitkan laporan yang memadai mencakup kebijakan manajemen risiko dan strategi, serta ketaatan terhadap limit risiko, sebagai tambahan laporan mengenai kondisi keuangan. Laporan harus disetujui oleh BI.


Download ppt "BSMR LEVEL 1 T-2!! Nyoman Duari. Chapter 1, 2 & 3: Bank & Regulasi Perbankan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google