Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

ETIKA PROFESI KETEKNIKAN PERTANIAN Oleh Prof. Dr. Ir. Sumardi HS, MS. Dr. Ir. Ruslan Wirosoedarmo, MS.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "ETIKA PROFESI KETEKNIKAN PERTANIAN Oleh Prof. Dr. Ir. Sumardi HS, MS. Dr. Ir. Ruslan Wirosoedarmo, MS."— Transcript presentasi:

1

2 ETIKA PROFESI KETEKNIKAN PERTANIAN Oleh Prof. Dr. Ir. Sumardi HS, MS. Dr. Ir. Ruslan Wirosoedarmo, MS.

3 Bismillahhirohmanirohim Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang Diantara kita disini jumlahnya ditambah sat yaitu Allah

4 Evaluasi diri dengan mengenal diri 1. Siapa saya 2. Dimana saya 3. Mau kemana saya

5 Fisik atau tubuh kita terdiri antara lain: 1. Kaki 2. Tangan 3. Mulut 4. Hidung 5. Mata 6. Telinga

6 Tingkatan kecerdasan manusia diantaranya: 1. IQ = Kecerdasan intelektual = fisik= Rogo 2. EQ=Kecercasan emosional=roso =jiwo 3. SQ= kecerdasan speritual = hati= sokmo

7 Nilai dasar menuju prestasi gemilang: 1. Jujur 2. Tanggung jawab 3. Visioner 4. Disiplin 5. Kerjasama 6. Adil 7. Peduli

8 Suara hati manusia diantaranya: 1.Ingin memberi 2.Kasih dan sayang 3. Ingin maju 4.Ingin tahu 5. Ingin bersih 6. Memelihara 7. Menolong 8. keindahan

9 Tangga Kepemimpinan: Tingkat 1: Pemimpin yang dicintai Tingkat 2: Pemimpin yang dipercaya Tingkat 3: Pembimbing Tingkat 4: pemimpin yang berkepribadian Tingkat 5: Pemimpin yang abadi

10 1. PENDAHULUAN

11 Apakah Etika? Kata Etika atau etik berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Dapat juga diartikan norma-norma, kaidah-kaidah dan ukuran- ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik. Profesi adalah kelompok sosial manusia.

12 Etika : dirupakan dalam bentuk aturan (kode) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika- rasional umum dinilai menyimpang dari kode etik.

13 Etika dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional diperlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dll.

14 Dengan demikian 1. etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosial. 2. etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “ self control” karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri

15 Profesional : merupakan kelompok yang berkeahlian dan berkemahiran yang diperoleh melalui proses pendidikan dan pelatihan yang berkualitas dan berstandar tinggi yang dalam menerapkan semua keahlian dan kemahiran yang tinggi itu hanya dikontrol dan dinilai dari dalam 0leh rekan sejawat, sesama profesi sendiri.

16 BEBERAPA PENGERTIAN DALAM ETIKA PROFESI 1.1 Pengertian Etika dan Etika Profesi Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik. Menurut Martin [1993], etika didefinisikan sebagai "the discipline which can act as the performance index or reference for our control system".

17 Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan "self control", karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri. Kehadiran organisasi profesi dengan perangkat "built-in mechanism" berupa kode etik profesi dalam hal ini jelas akan diperlukan untuk menjaga martabat serta kehormatan profesi, dan di sisi lain melindungi masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian (Wignjosoebroto, 1999). Sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari masyarakat, bilamana dalam diri para elit profesional tersebut ada kesadaran kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat yang memerlukannya.

18 1.2 Etika dan Estetika Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma dibagi lagi menjadi norma hukum,norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang undangan,norma agama berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika.

19 1.3 Etika dan Etiket Etika (ethics) berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun. Persamaan antara etika dengan etiket yaitu: etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket. Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan.

20 Perbedaan antara etika dengan etiket 1. Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu. Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan. 2. Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa. 3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar. 4. Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.

21 1.4 Etika dan Ajaran Moral Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia. Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya).

22 Pluralisme moral diperlukan karena: 1. pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup berdampingan; 2. modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional; 3. berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masing-masing dengan ajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup.

23 Menurut Ahli: 1. Drs. OP Simorangkir: etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. 2. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat: etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. 3. Drs. H Burhanudin Salam: etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan noma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.

24 Moralitas Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia. Norma moral adalah tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan moral dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja, misalnya sebagai suami atau isteri. Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber

25 Etika dan Moralitas Etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang mereflesikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai lima ciri khas yaitu rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif. Rasional berarti mendasarkan diri pada rasio atau nalar,pada argumentasi yang bersedia untuk dipersoalkan tanpa perkecualian. Kritis berarti filsafat ingin mengerti sebuah masalah sampai ke akar-akarnya, tidak puas dengan pengertian dangkal. Sistematis artinya membahas langkah demi langkah. Normatif menyelidiki bagaimana pandangan moral yang seharusnya.

26 Etika dan Agama Etika tidak dapat menggantikan agama. Agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukan ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar indoktrinasi. Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut: 1. Orang agama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapi ia juga ingin mengerti mengapa Tuhan memerintahkannya. Etika dapat membantu menggali rasionalitas agama. 2. Seringkali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengizinkan interpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan. 3. Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka agama menghadapi masalah moral yang secara langsung tidak disinggungsinggung dalam wahyu. Misalnya bayi tabung, reproduksi manusia dengan gen yang sama. 4. Adanya perbedaan antara etika dan ajaran moral. Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia.

27 1.5 Istilah berkaitan Kata etika sering dirancukan dengan istilah etiket, etis, ethos,iktikad dan kode etik atau kode etika. Etika adalah ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk. Etiket adalah ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia bergaul atau berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusia hidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah hutan. Etis artinya sesuai dengan ajaran moral, misalnya tidak etis menanyakan usia pada seorang wanita. Ethos artinya sikap dasar seseorang dalam bidang tertentu. Maka ada ungkapan ethos kerja artinya sikap dasar seseorang dalam pekerjaannya, misalnya ethos kerja yang tinggi artinya dia menaruh sikap dasar yang tinggi terhadap pekerjaannya. Kode atika atau kode etik artinya daftar kewajiban dalam menjalankan tugas sebuah profesi yang disusun oleh anggota profesi dan mengikat anggota dalam menjalankan tugasnya.

28 2.TEORI ETIKA

29 Teori etika sebenarnya cuma meningkatkan keamanan, kegembiraan dan kesejahteraan manusia. Peraturan etika melibatkan semua orang yang bertujuan untuk mencapai keputusan yang baik untuk manusia sejagat. Perilaku yang tidak beretika, walaupun tidak melanggar undang-undang boleh menjejaskan kerjanya dan reputasi kita. Etika juga merupakan satu disiplin ilmu yang mengkaji tentang moral, prinsip moral, kaedah moral dan tindakan serta kelakuan manusia yang betul.

30 Pengenalan : Teori Etika French dan Granrose (1995) : set panduan/peraturan bertingkahlaku- menyelesaikan konflik terhadap keinginan Buchnolz (1989) : sistem –panduan tingkahlaku Shea (1988 : 17) : prinsip bertingkahlaku yang mengawal individu atau profesion dan sebagai satu standard tingkahlaku

31 Perkembangan Teori Etika Etika bermula di zaman purba apabila ahli-ahli falsafah hanya memberikan tumpuan kepada kebaikan moral. Socrates ( B.C.) menggunakan pendekatan yang mencoba dan menggalakkan rekan-rakannya untuk berfikir tentang kebaikan dan kesehatan roh. Ide utama Socrates tentang etika adalah berhubung dengan menyakinkan orang agar berakhlak mulia. Socrates mengatakan bahwa kebahagian adalah mustahil diperoleh tanpa memiliki kebaikan moral dan tindakan yang tidak beretika akan mengganggu orang lain, beliau menganggap orang yang tidak beretika sebagai orang yang lemah dan mempunyai psikologi yang tidak sihat.

32 Plato ( B.C.) mengkaji hubungan etika dan personaliti manusia Kebaikan moral adalah suatu imbangan dan harmoni di kalangan perbedaan yang wujud dalam roh Kebaikan moral sebagai suatu keperluan terhadap kesihatan roh tetapi kebaikan yang sejati adalah sukar dicapai Mengikut Plato kebaikan moral adalah berada di bahagian dalaman intelektual

33 Aristotle ( B.C.) pula, beliau melihat kebaikan moral agak berbeda daripada Plato danSocrates di mana beliau menyatakan bahwa kebaikan moral mempunyai hubungan yang sedikit dengan intelektual tetapi lebih kepada sifat (character) atau personaliti. Plato dan Socrates pula mengatakan beretika itu mempunyai hubungan yang rapat antara kebaikan moral dan personaliti yang sehat. Bagaimanapun ketiga-tiga ahli falsafah ini berpendapat bahwa kebajikan seseorang itu bergantung sepenuhnya dan berada dalam tangan seseorang itu.

34 Sekiranya etika dahulu menekankan kebaikan moral dan rasionalnya, etika modern banyak menfokuskan kepada menentukan sifat-sifat beretika menerusi tindakan. Etika modern telah membentuk dua persaingan yaitu : 1.tindakan yang mempunyai sifat etika dalam dan memerlukan status moral dari pada akibat (consequences) yang dibuat 2. tindakan itu sama ada betul atau salah. Dahulunya ia dikenali sebagai Teologikal dan sekarang dikenali dengan Deontologikal yaitu pendekatan kepada etika.

35 Penyataan dalam Teori Etika 1. Etika deskriptif. Merupakan suatu disiplin yang membicarakan tentang sejarah sistem moral. Etika deskriptif memberitahu bagaimana ahli masyarakat harus bertingkahlaku, apakah peraturan yang digunakan dan dianuti dalam sebuah masyarakat dan sebagainya. Etika deskriptif menyadarkan manusia bahwa terdapat berbagai sistem moral yang bersifat relatif di muka bumi ini : etika Kristian, Buddha, Islam, Yahudi, Hindu etc Etika deskriptif menyatukan bentuk atau karektor sesuatu sistem moral yang ada tanpa membuat penilaian, pengadilan dan keputusan terhadap sistem tersebut.

36 ETIKA DESKRIPTIF: yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan perilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku atau sikap yang mau diambil.

37 Penyataan dalam Teori Etika 2. Etika normatif. Merujuk kepada panduan dan peraturan yang berkaitan dengan tingkahlaku yang baik dan jahat. Etika normatif juga menjurus kepada kenyataan yang memberitahu apa yang mesti dilakukan dan apa yang betul. Etika normatif menilai, mengkritik dan membuat keputusan terhadap sistem moral yang ada di samping menerangkan sesuatu undang-undang moral yang dianggap terbaik, bukan undang- undang moral yang sedia ada dan sedia diterima.

38 Etika normatif mengemukakan sistem moral yang piawai berpandukan sistem sedia ada. Etika normatif menyadarkan kita bahwa tidak semua nilai moral berubah mengikuti perubahan masa tetapi ada yang terus kekal dipelihara meskipun budaya mengalami perubahan. Inilah yang dikatakan sebagai nilai mutlak dan biasanya berkaitrapat dengan agama. Golden Rule merupakan contoh prinsip etika normatif klasik. Jika mau orang melakukan perkara yang baik kepada kita, kita perlu melakukan perkara yang baik juga kepada orang lain.

39 ETIKA NORMATIF: etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan

40 Etika Normatif: 1. Etika Umum: berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolok ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.

41 2. Etika Khusus: Merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan bisa: bagaimana mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar, atau bagaimana saya menilai perilaku sendiri atau orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis.

42 Etika Khusus: 1.Etika individual: yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. 2.Etika sosial: yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.

43 Etika Sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia dan idiologi- idiologi maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup.

44 Macam Etika Sosial: 1.Sikap terhadap sesama 2.Etika keluarga 3.Etika Profesi 4.Etika politik 5.Etika lingkungan 6.Etika idiologi

45 Variabel penilaian Etika: 1.Tujuan baik, tetapi cara untuk mencapainya tidak baik 2.Tujuan tidak baik, cara pencapaiannya kelihatannya baik 3.Tujuan tidak baik, cara pencapaiannya juga tidak baik 4.Tujuan baik, cara pencapaiannya juga terlihat baik

46 Teori dan Aliran Pemikiran 1. Teologi : Teori ini melihat kebaikan dan keburukan sesuatu tindakan. Sesuatu perbuatan itu tidak diketahui sama ada baik atau buruk sehinggalah melihat kepada kesannya. vs 2. Deontologi atau non consequentialist : Teori deontologi ini berasaskan kepada prinsip asas yaitu kewajipan manusia. Teori ini berasal daripada perkataan Greek, deon iaitu duty yang merujuk kepada kewajipan individu.

47 AVSH - EB MM IPB Teori Deontologi diperkenalkan oleh Immanuel Kant ( ). ◦ Berasaldari kata deon yang berarti: apa yang harus dilakukan atau KEWAJIBAN harus sesuai dengan prosedur dan teori. ◦ Menurut Kant hakekat sesuatu “YANG BAIK” adalah NIAT YANG BAIK  Deontologi Aturan: suatu tindakan dilakukan menurut kaidah yang dikehendaki dan dapat diberlakukan secara umum  Deontologi Situasi: suatu tindakan yang secara moral dibenarkan adalah jika tindakan itu dapat dijadikan aturan umum di mana semua orang akan bertindak sama dalam situasi itu.

48 AVSH - EB MM IPB Teori deontologi aturan menghadapi masalah ketika:  Ada dua norma bertentangan  Semua aturan moral kadang-kadang memunculkan pengecualian. SOLUSI  Kewajiban moral bersifat prime facie (WD Ross).  Melalui teori Deontologi situasi (Imannuel Kant) (dengan tiga kriteria):  Reversibility (able to be changed or undone)  Universability (relating to the universe or everything; relating to whole word)  Penghargaan terhadap martabat manusia.

49 AVSH - EB MM IPB  Teori Teleologi mengandung makna tentang adanya upaya membedakan tujuan, hasil, sasaran dan akibat dari suatu tindakan dari sudut pandang APA & SIAPA yang melakukan.  Dari sudut Apa dikenal dua versi teleologi, yaitu:  Hedonisme, yang merupakan gambaran suatu situasi dimana seseorang bertindak sedemikian rupa sehingga mencapai kenikmatan yang paling besar  Eudaimonisme, yaitu situasi dimana seseorang Bertindak sedemikian rupa sehingga mencapai kebahagiaan;  Dari sudut Siapa dikenal DUA versi egoisme etis yaitu:  Egoisme Hedonistik: bertindak sedemikian rupa sehingga mencapai kenikmatan yang paling besar  Egoisme Eudamonistik. bertindak sedemikian rupa sehingga mencapai kebahagiaan terbesar

50 Teori dan Aliran Pemikiran 3. Subjektif. Penilaian terhadap sesuatu etika berdasarkan kepada penilaian diri sendiri. Individu berhak meletakkan nilai sama ada baik atau sebaliknya. Perasaan peribadi terlibat dalam menilai dan menentukan baik buruk sesuatu tindakan. vs 4. Objektif. Kode moral adalah bebas dari kepentingan individu. Baik dan buruk tidak bersandar kepada sikap individu tetapi wujud dengan sendirinya

51 Teori dan Aliran Pemikiran 5. Naturalisme. Sesuatu perbuatan itu baik atau buruk bergantung kepada pengalaman keseronokan. ‘Baik’ perlu dijelaskan dalam bentuk kualiti fakta alam seperti memenuhi keperluan manusia, mendatangkan kebahagiaan, kenikmatan dan sebagainya kepada manusia. vs 6. Non Naturalisme. Moral adalah sesuatu yang unik dan tidak boleh dikelaskan. Sesuatu perlakuan itu baik kerana ianya memang baik.

52 Teori dan Aliran Pemikiran 7. Relativisme. Sesuatu yang dianggap baik oleh satu masyarakat tidak mungkin dianggap sedemikian oleh masyarakat yang lain. (barat-timur) Ini bererti masyarakat yang berlainan memberikan nilai moral yang berbeda bagi tingkahlaku yang serupa. vs 8. Absolutisme. Prinsip moral berbeda dari satu budaya dengan budaya yang lain. Bagaimanapun prinsip asas sejagat adalah sama. Misalnya, semua masyarakat meletakkan nilai yang tinggi kepada kebaikan.

53 Teori Utilitarianisme Teori ini merupakan suatu aliran atau dimensi di bawah teori etika Teologikal yang juga dikenali sebagai consequentialism. Utilitarianisme adalah doktrin moral yang mengkehendaki manusia supaya bertindak untuk menghasilkan kebaikan secara maksimum. Kebaikan ini termasuklah kegembiraan atau keseronokan kepada semua pihak. Tindakan dikatakan sebagai bermoral jika menghasilkan kegembiraan yang maksimum. Jeremy Bentham ( ) dan John Stuart Mill ( ) adalah dua orang tokoh yang dikaitkan dengan teori ini.

54 Bentham mengenal 7 elemen yang perlu dipertimbangkan untuk mengukur keseronokan mencipta kalkulus Hedonistik Bentham yang memberi skala antara –10 hingga +10. Elemen yang dimaksudkan oleh Bentham ialah: intensiti, jangka masa, kepastian, kesegeraan, kesadaran, keberkesanan dan had atau batasan. 1. Intensiti bermaksud kedalaman. Sejauh manakah dalamnya kesan pengalaman terhadap seseorang. 2. Jangka masa. Berapa lamakah keseronokan atau kesengsaraan akan berakhir? 3. Kepastian. Adakah anda pasti sama ada mengalami keseronokan atau kesengsaraan akibat sesuatu yang berlaku.

55 4. Kesegeraan. Kepantasan anda mengalami rasa seronok atau sebaliknya. 5. Kesedaran. Apakah kemungkinan anda mengalami rasa seronok pada masa akan datang? 6. Keberkesanan. Apakah kemungkinan anda mengalami rasa sengsara pada masa hadapan? Mangsa tragedi selalunya senantiasa berasa takut dan risau 7. Had atau batasan. Berapa kerapkah kesengsaraan dan keseronokan dicetuskan dalam kehidupan orang lain? Jika jumlah skor kesengsaraan melebihi keseronokan maka sesuatu perbuatan tersebut adalah sememangnya salah dan tidak beretika.

56 Mill membedakan antara keseronokan dengan memasukkan aspek kualiti. Mill mengukur kualiti dan kuantiti sekaligus. Menurut Mill, petunjuk kualiti keseronokan adalah seperti tinggi/rendah, baik/buruk, objektif/subjektif, dan baru/lama. Faktor yang boleh mempengaruhi keseronokan pula ialah kecerdikan, pendidikan, sensitiviti, bermoral dalam tindakan dan kesihatan yang baik. Utilitarianisme pada peringkat paling rendah dipanggil ‘act utilitarinisme’. Kita harus bertanya kepada diri sendiri mengenai kesan akibat sesuatu tindakan dalam keadaan tertentu ke atas pihak-pihak yang terlibat sebelum sebarang tindakan diambil. Sekiranya tindakan tersebut menghasilkan kebaikan maka ia dianggap betul.

57 a. Anggapan bahwa klasifikasi kejahatan harus didasarkan atas kesusahan atau penderitaan yang diakibatkannya terhadap para korban dan masyarakat. b. Menurut kodratnya manusia menghindari ketidaksenangan dan mencari kesenangan. Kebahagiaan tercapai jika manusia memiliki kesenangan dan bebas dari kesusahan.

58 c. Karena menurut kodratnya tingkah laku manusia terarah pada kebahagiaan, maka suatu perbuatan dapat dinilai baik atau buruk, sejauh dapat meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan semua orang. d. Moralitas suatu tindakanharus ditentukan dengan menimbang kegunaannya untuk mencapau kebahagiaan umat manusia. (The greatest happiness of the greatest number)

59 Jenis-jenis Utilitarianism 1. Act utilitarianism Ciri yang pertama adalah merekadkan akibat sesuatu perbuatan sama ada bermoral atau sebaliknya berdasarkan kajian kes. Ciri ini dipanggil act utilitarianism. Misalnya aktiviti dengan menonton televisi mungkin dianggap tidak bermoral karena masa tersebut sepatutnya digunakan untuk melakukan kerja-kerja yang bermanfaat seperti kerja kebajikan

60 Jenis-jenis Utilitarianism 2. Hedonistic utilitarianism Ciri yang kedua pula ialah mengambilkira kegembiraan, kesan daripada suatu tindakan dianggap bermoral. Ini kerena Bentham berpendapat, untuk menentukan benar atau salah (moraliti) tingkah laku individu, ianya perlu mengambilkira kesan dan akibatnya. Misalnya tindakan atau perbuatan yang boleh meningkatkan ciri kesetiaan dan persahabatan, sehingga mencetuskan ciri kegembiraan. Memutuskan persahabatan tetapi membahagiakan kedua- dua pihak yang terlibat adalah suatu yang dianggap bermoral.

61 Doktrin etika yang mengajarkan bahwa hal terbaik bagi manusia adalah mengusahakan “kesenangan” (Hedone) 1. Aristipos dri Kyrene (433 – 355s.M):  Yang sungguh baik bagi manusia adalah kesenangan.  Kesenangan itu bersifat badani belaka, karena hakikatnya tidak lain dari pada gerak dalam badan.

62 1. Gerak yang kasar: Ketidaksenangan 2. Gerak yang halus: Kesenangan 3. Ketiadaan gerak: Netral Hedonisme: Yang baik dalam arti yang sebenarnya adalah kenikmatan (gerak yang halus) kini dan di sini.

63 2. Epikuros (341 – 270 s.M.) a. Kesenangan adalah tujuan hidup manusia. b. Menurut kodratnya setiap manusia mencari kesenangan. c. Kesenangan yang dimaksud bukanlah kesenangan inderawi, tetapi kebebasan dari rasa nyeri dalam tubuh kita dan kebebasan dari keresahan dalam jiwa.

64 1. Keinginan alamiah yang perlu. 2. Keinginan alamiah yang tidak perlu. 3. Keinginan yang sia-sia. Hedonisme: Hidup yang baik adalah memenuhi keinginan alamiah yang perlu

65 a. Ada kebenaran yang mendalam pada hedonisme: Manusia menurut kodratnya mencari kesenangan dan berupaya menghindari ketidaksenangan. Tetapi apakah manusia selalu mencari kesenangan? b. Hedonisme beranggapan bahwa kodrat manusia adalah mencari kesenangan sehingga kesenangan disetarakan dengan moralitas yang baik. Tetapi jika demikian, apakah ada jaminan bahwa kesenangan itu baik secara etis?

66 c.Para hedonis berpikir bahwa sesuatu adalah baik karena disenangi. Tetapi sesuatu belum tentu menjadi baik karena disenangi. d.Hedonisme mengatakan bahwa kewajiban moral saya adalah membuat sesuatu yang terbaik bagi diri saya sendiri. Karena itu ia mengandung paham egoisme karena hanya memperhatikan kepentingan dirinya saja.

67 Aristoteles (384 – 322): a. Bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan akhir yang disebut kebahagiaan. Tetapi apa itu kebahagiaan? b. Manusia mencapai kebahagiaan dengan menjalankan secara baik kegiatan-kegiatan rasionalnya dengan disertai keutamaan.

68  Adakah teori ini benar-benar boleh berfungsi? Teori ini meminta kita membuat pengiraan untuk unit kegembiraan/keseronokan yang terhasil daripada tindakan-tindakan alternatif. Adakah kita mempunyai kemampuan dari segi masa dan kebolehan untuk melakukan ini semua?

69  Bagaimana dengan tindakan yang sememangnya salah dari segi moral, tetapi dapat membawa kegembiraan/keseronokan yang tinggi?  Adakah fahaman utilitarianisme ini adil? Keputusan A membawa tiga unit kegembiraan kepada lima orang = 15 unit Keputusan B membawa 10 unit kepada seorang, 4 unit kepada dua orang dua orang lagi tidak memperoleh apa-apa. Jumlah kegembiraaan yang dibawa ialah 18 unit.

70  Terdapat tiga persoalan yang perlu dijawab untuk menentukan kemoralan sesuatu perlakuan  Persoalan pertama Apa yang menjadikan sesuatu perlakuan itu bernilai (worth) dari segi moral? Seseorang itu perlu bertanggungjawab dari segi moral terhadap motifnya Nilai sesuatu perlakuan boleh dilihat dari aspek intrumental dan intrinsik Nilai Instrumental: Perlakuan yang baik kerana akibatnya

71 Nilai baik secara intrinsik: Baik kerana perkara/perlakuan itu sendiri Fikirkan contohnya dalam konteks di sekolah!  Persoalan kedua Apakah motif yang betul? Sesuatu perlakuan itu akan dianggap mempunyai nilai moral sekiranya ia mempunyai niat (intention) yang betul.

72 Persoalan ketiga Apakah perkara yang betul untuk dilakukan? Motif dan perlakuan itu mestilah betul dan relevan Perlakuan yang harus kita lakukan (imperatives) yang bersifat individu dan bersyarat dikategorikan sebagai ‘hypothetical imperative’ Tuntutan moral yang tidak bersifat individu (universal) dan tidak bersyarat digelar ‘categorical imperative’ Perlakuan seperti ini mempunyai obligasi moral yang tinggi Apabila peraturan moral dianggap sebagai mutlak, manusia harus mematuhinya sebagai satu kewajipan dan ketepikan (Fikirkan contohnya)

73  Bukan semua teori boleh digolongkan kepada dua katogori di atas. Etika keperibadian mulia boleh tergolong ke dalam consequentialist atau nonconsequentialist  Ia menitikberatkan budi pekerti manusia. Kehidupan manusia perlu diasaskan kepada keunggulan (ideals)  Keperibadian mulia dapat dipelajari melaui pengulangan  Aristotle mengklasifikasikan keperibadian mulia sebagai pertengahan (min) di antara sesuatu yang murni (virtue) dan kejahatan (vice)

74  Bukan semua teori boleh digolongkan kepada dua katogori di atas. Etika keperibadian mulia boleh tergolong ke dalam consequentialist atau nonconsequentialist  Ia menitikberatkan budi pekerti manusia. Kehidupan manusia perlu diasaskan kepada keunggulan (ideals)  Keperibadian mulia dapat dipelajari melaui pengulangan  Aristotle mengklasifikasikan keperibadian mulia sebagai pertengahan (min) di antara sesuatu yang murni (virtue) dan kejahatan (vice)

75  Contoh untuk nilai kesederhanaan ialah seperti berikut: lokekkemurahan hatimembazir Rendahketabahanberlagak hati Sifat-sifat murni ini perlu bersifat sejagat walaupun ia kadangkala dipengaruhi oleh masyarakat dan budaya

76  Nilai etika dan kepercayaan adalah relatif kepada individu atau kumpulan yang mendukungnya  Jarang wujud kebenaran/kesalahan secara mutlak  Terdapat dua jenis kerelatifan: Kerelatifan etika individu Kerelatifan etika sosial atau budaya

77  Sebab-sebab wujudnya kerelatifan etika: Kepelbagaian pandangan moral Ketidaktentuan moral (moral uncertainty) Perbezaan situasi

78  Kerelatifan dari segi nilai (value relativism) Keliru mengenai prinsip betul dan salah Perbezaan dalam dunia perniagaan/korporat dengan dunia pendidikan Dunia pendidikan menitikberatkan nilai- nilai murni, penerapan nilai-nilai murni dalam pengajaran dan sebagainya Dunia perniagaan didasarkan kepada ‘kepentingan dan keuntungan’

79  Kepelbagaian pandangan Secara umum: isu pengguguran, euthanasia, pornografi, keadilan, diskriminasi dan sebagainya Aspek pendidikan: Tujuan pendidikan untuk perkembangan IQ, EO, SQ, VQ dan sebagainya Kesamaan peluang dalam mendapat pendidikan yang berkualiti Pealiran dalam pendidikan

80  Ketidaktentuan moral Apakah yang penting dari segi moral dalam keadaan tertentu?  Perbezaan situasi Isu dan standard nilai adalah berbeza untuk situasi yang berbeza. Contohnya hak asasi manusia

81  Hubungan antara teori etika dengan proses pembuatan keputusan moral Teori etika  Prinsip etika  Keputusan etika

82 Relativisme Etika Keadaan merupakan pertimbangan utama dalam menentukan suatu tindakan itu sama ada beretika atau tidak. Tindakan dinilai berdasarkan kesan atau akibatnya. Relativisme etika melihat kepada beberapa perspektif jika wujudnya pertentangan budaya dan pendapat antara individu. Perspektif tersebut melihat dari aspek :

83 1. Tiada nilai moral yang benar atau salah secara universal atau secara mutlak. Perbedaan ini berlaku apabila wujud pertentangan budaya dan amalan dalam diri individu terhadap sesuatu tindakan. 2. Kepelbagaian nilai budaya dan persekitaran memberikan penilaian yang berbeda terhadap tindakan individu sama ada bermoral atau sebaliknya. 3. Tiadanya skala penilaian yang piawai dan mutlak dalam menilai suatu perbuatan itu sama ada beretika atau sebaliknya

84 Kajian Mengenai Etika 1. Etika umum a. Etika Deskriptif b. Etika Normatif c. Metaetika 2. Etika Khusus a. Safsatah b. Bidang khusus

85 Metaetika: Kajian ini adalah hasil daripada etika deskriptif dan normatif, iaitu menyenaraikan ciri-ciri serta istilah yang berkaitan dengan tindakan bermoral atau sebaliknya seperti kebaikan, kejahatan, tanggungjawab dan kewajipan. Meta etika pula dibahagikan kepada dua iaitu : 1. Analitik yang berkaitan dengan menganalisis semua peraturan yang berkaitan tingkahlaku baik dan jahat 2. Kritikal yang berkaitan dengan mengkritik terhadap apa-apa yang telah dianalisis.

86 Etika khusus 1. Safsatah : Suatu seni dan teknik dalam penyelesaian masalah dan dilema yang mengaplikasikan prinsip-prinsip moral. 2. Bidang khusus: Mengaplikasikan kajian etika umum dalam bidang-bidang khas seperti bisnes,perubatan, politik dan sains.

87 Penilaian dalam etika Penilaian terhadap perbuatan yang baik adalah melalui peningkatan terhadap kesedaran dan pembangunan rohani individu hasil daripada perbuatannya Etika mengambilkira penilaian ke atas suatu tindakan itu berbanding hanya dengan : a.Melabelkan perbuatan yang baik jika ianya memenuhi kehendak dan keperluan manusia sahaja. b. Melabelkan perbuatan yang baik jika ianya meningkatkan kehidupan dan melabelkan sebaliknya jika perbuatan itu memusnahkan kehidupan.

88 Aspek dalam Etika Terdapat dua aspek dalam etika. Aspek pertama iaitu keupayaan menilai yang baik dan yang buruk, dosa dan pahala atau sesuai dan sebaliknya. Aspek yang kedua pula melibatkan komitmen dalam melakukan apa yang baik dan bersesuaian. Etika tidak lagi semata-mata satu topik perbualan dan isu yang diperdebatkan tetapi memerlukan tindakan dan susulan.

89 Subjektivisme Etika Subjektivisme etika adalah bergantung kepada faktor kemahuan sama ada individu atau pencipta sebagai subjeknya. Jika manusia merupakan kemahuannya, badan perundangan akan menentukan suatu keputusan itu dari segi undang-undang. Jika kemahuan itu menjadikan Tuhan sebagai subjeknya, maka hukuman lebih berbentuk kepada pembalasan Tuhan. Pengampunan dan pembalasan atas dosa yang dilakukan atau pahala atas kebaikan yang dibuat adalah antara manusia dan Tuhan.

90 Objektivisme Etika Menurut objektivisme etika, nilai-nilai moral merupakan suatu kebaikan. Undang-undang tidak dicipta dan tidak berasaskan subjek sama ada manusia atau Tuhan. Salah satu bentuk objektivisme etika ialah nilai mutlak moral (moral absolutism). Hukuman yang dikenakan adalah muktamad. Untuk mengelakkan hukuman, seseorang perlulah melengkapkan kehidupan masing –masing serta mematuhi undang-undang. Hukum Karma dan Kelahiran semula merupakan gambaran kehidupan dalam objektivisme etika yang mencapai sifat lengkapnya.

91 Kelas Teori Etika Ahli falsafah lazimnya membahagikan teori etika kepada tiga kelas am iaitu metaetika, etika normatif dan etika gunaan. Metaetika mengkaji asal prinsip-prinsip etika dan penggunaannya. Adakah prinsip etika merupakan suatu rekaan sosial? Adakah prinsip-prinsip etika ini merupakan gambaran hasil daripada emosi individu? Meta etika menjawab persoalan ini yang memfokuskan kebenaran universal, ketentuan Tuhan, alasan kepada penilaian etika dan definisi istilah-istilah berkaitan etika itu sendiri.

92 Etika normatif lebih kepada praktikal. Misalnya dalam menentukan piawaian moral terhadap tindakan yang betul atau salah. Perlukah saya mendapat keizinan daripada pemiliknya? Perlukah saya mencuri untuk sesuap nasi? Persoalan ini akan dijawab melalui panduan yang disediakan oleh etika normatif. Etika gunaan pula melibatkan penyelesaian ke atas isu- isu kontroversi seperti isu pengguguran, pembunuhan anak, pencemaran alam, homoseksual dan peperangan nuklear. Etika gunaan mengaplikasikan garis panduan konseptual dalam metaetika dan etika normatif untuk menyelesaikan isu-isu ini.

93 3. KEBAIKAN, KEBAJIKAN DAN KEBAHAGIAAN

94 A. KEBAIKAN 1. Tidak semua kebaikan merupakan kebaikan akhlak. Secara umum kebaikan adalah suatu yang diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Contoh: Tembakan yang “baik” dalam pembunuhan merupakan perbuatan akhlak yang buruk.

95 2. Manusia menentukan tingkah lakunya untuk tujuan dan memilih jalan yang ditempuh. - Manusia harus mempunyai tujuan akhir untuk arah hidupnya - Jalan yang ditempuh mendapatkan nilai dari tujuan akhir - Tujuan harus ada, supaya manusia dapat menentukan tindakan pertama.

96 3. Setiap manusia, hanya terdapat satu tujuan akhir. - Seluruh manusia mempunyai sifat serupa dalam usaha hidupnya, yaitu menuntuk kesempurnaan. - Tujuan akhir selamanya merupakan kebaikan tertinggi, baik manusia itu mencarinya dengan kesungguhan atau tidak

97 4. Kesusilaan a. Kebaikan atau keburukan perbuatan manusia Objektif : keadaan perseorangan tidak dipandang Subjektif : keadaan perseorangan diperhitungkan Batiniah :berasal dari dalam perbuatan sendiri (kebatinan, intrisik) Lahiriah : Berasal dari perintah atau larangan hukum positif (ekstrisik)

98 b. Unsur-unsur yang menentukan kesusilaan 1.Perbuatan itu sendiri, yang dikehendaki pembuat ditinjau dari sudut kesusilaan 2. Alasan (motif). Apa maksud yang dikehendaki pembuat dengan perbuatannya. 3. Keadan, gejala tambahan yang berhubungan dengan perbuatan itu.

99 c. Penggunaan praktis 1. Perbuatan yang sendirinya jahat, tak dapat menjadi baik atau netral karena alasan dan keadaan. 2. Perbuatan yang baik, tumbuh dalam kebaikannya, karena kebaikan alasan dan keadaan. 3. Perbuatan netral memperoleh kesusilaan, karena alasan dan keadaan

100 d. Dalam praktek, tak mungkin ada perbuatan kemanusiaan netral, sebabnya perbuatan ini setidak-tidaknya secara implisit mempunyai tujuan.Kesusilaan tidak semata-mata hanya tergantung pada maksud dan kemauan baik, orang harus menghendaki kebaikan.

101 B. KEBAJIKAN 1. Kebiasaan (habit) merupakan kualitas kejiwaan, keadaan yang tetap, sehingga memudahkan pelaksanaan pelaksanaan perbuatan. 2. Kebiasaan disebut “kodrat yang kedua” Ulangan perbuatan memperkuat kebiasaan, sedangkan meninggalkan suatu perbuatan atau melakukan perbuatan yang bertentangan akan melenyapkan kebiasaan.

102 2. Kebiasaan yang dari sudut kesusilaan baik dinamakan kebijakan (virtue) sedangkan yanh jahat, buruk, dinamakan kejahatan (vice). Kebajikan adalah kebiasaan yang menyempurnakan manusia. Tidak ada orang berbuat jahat dengan sukarela (Socrates).

103 3. Kebajikan budi menyempurnakan akal menjadi alat yang baik untuk menerima pengetahuan 4. Kebajikan pokok, adalah kebajikan susila yang meliputi: a. Menuntut keputusan budi yang benar guna memilih alat-alat dengan tepat untuk tujuan yang bernilai (kebijaksanaan)

104 b. Pengendalian keinginan kepada kepuasan badaniah(pertahanan/pengendalian hawa nafsu inderawati) c. Tidak menyingkir dari kesulitan (kekuatan) d. Memberikan kepada yang memilikinya (keadilan)

105 C. KEBAHAGIAAN 1.Kebahagiaan subjektif. a. Manusia merasa kosong, tak puas, gelisah, selama keinginnannya tak terpenuhi. b. Seluruh manusia mencari kebahagiaan, karena tiap orang berusaha memenuhi keinginannya. c. Apakah kebahagiaan sempurna dapat dicapai.

106 Beberapa jalan fikiran yang perlu dipertimbangkan, yang menganggap kebahagiaan sempurna itu dapat dicapai adalah: 1. Manusia mempunyai keinginan akan bahagia sempurna. 2. Keinginan tersebut merupakan bawaan kodrat manusia, yang merupakan dorongan pada alah rohaniah yang bukan sedekan efek sampingan.

107 3. Keinginan tersebut berasal dari sesuatu Yang transenden. 4. Sifat bawaan tersebut dimaksudkan untuk mencapai kesempurnaan yang sesuai dengan harkat manusia. d. Pada manusia terdapat pula keinginan yang berasal dari nafsu-serakahnya. Sehingga seringkali menutup keinginan yang berasal dari sanubarinya.

108 2. Kebahagiaan Objektif a. Manusia berusaha melaksanakan dalam dirinya suasana kebahagiaan (sempurna) yang tetap. Apakah tujuan akhir manusia yang bersifat laheriah dan opjektif. Terdapat berbagai aliran: 1. Hedonisme Kebahagiaan adalah kepuasan jasmani, yang dirasa lebih insentif dari kepuasan rohaniah.

109 2. Epikurisme Suasana kebahagiaan, ketremtaman jiwa, ketenangan batin, sebanyak mungkin dinikmati, sedekit mungkin menderita. 3. Utilitarisme Kebahgiaan adalah faedah bagi diri sendiru maupun masyarakat. 4. Stoisisme Kebahagiaan adalah melepas diri dari tiap keinginan, kebutuhan, kebiasaaan atau ikatan. 5. Evolusionisme Tujuan akhir manusia sebagai evolusi ke arah puncak tertinggi yang belum diketahui bentuknya

110 b. Pandangan tentang objek kebahagiaan Apakah objek itu, sejajar, lebih rendah, atau lebih tinggi dari manusia? 1. Apa yang lebih rendah dari manusia, tergolong pada benda-benda yang tak dapat memenuhi seluruh kepuasan. 2. Kebutuhan hidup jasmani, sebagai kesehatan; kekuatan, keindahan, tergolong ketidaksempurnaan.

111 3. Kebutuhan jiwa adalah pengetahuan untuk kebaikan. 4. Apakah kenahagiaan sempurna terletak pada kepuasan seluruh orang, jasmani dan rohani?. Kepuasan, kegembiraan, selalu merupakan kesukaan, kegembiraan tentang sesuatu. 5. Pelaksanaan diri tidak pula membawa kebahagiaan sempurna, karena manusia yang berkembang selengkapnya tak juga seluruhnya merasa puas pada dirinya sendiri. 6. Kebahagiaan sempurna harus dicari pada sesuatu yang ada diluar manusia.

112 c. Di atas merupakan pembuktian dengan cara mengeliminasi objek yang tidak lengkap. d. Untuk pengertian yang benar orang harus memikirkan: 1. Kebahagiaan sempurna tidak berarti kebahagiaan yang tak terbatas, objek tak terhingga tidak dimiliki dengan cara yang tak terhingga.

113 2. Kodrat akal manusia terbatas, kekuatannya setiap saat juda terbatas. Tetapi datangnya kekuatan akal selalu tak terbatas, dan tak dapat terpenuhi dengan baik. 3. Objek kebahagiaan yang tarafnya rendah turut serta mengalami kebahagiaan dari yang bertaraf lebih tinggi. Intisari kebahagiaan terdiri dari kepuasan akal dan kepuasan kehendak karena memiliki Tuhan.

114 4. PROFESI

115 PROFESI Adalah suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan dan hubungannya antara teori dan penerapan dalam praktek

116 Menurut DE GEORGE: Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalan suatu keahlian. Perbedaan Profesi dan Profesional Profesi: 1.Mengandalkan suatu ketrampilan atau keahlian khusus 2.Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama 3.Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup 4.Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam

117 Profesional: 1. Orang yang tahu akan keahlian dan ketrampilannya 2. Meluangkan seluruh waktunya untuk pekerjaan atau kegiatan itu 3. Hidup dari situ 4. Bangga akan pekerjaannya

118 Ciri-Ciri Profesi 1.Adanya pengetahuan khusus 2.Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi 3.Mengabdi pada kepentingan masyarakat 4.Ada ijin khusus untuk menjalankan suatu profesi 5.Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi

119 Prinsip-Prinsip Etika Profesi: 1. Tanggung jawab: terhadap pelaksanaan pekerjaan dan terhadap hasil serta terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakan pada umumnya 2. Keadilan : Prinsip ini menuntut untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya 3. Otonomi: prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan diberi kebebasan dalam menjalankan profesinya.

120 Syarat-Syarat Suatu Profesi: 1. Melibatkan kegiatan intelektual 2. Menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus 3. Memerlukan persiapan profesional yang alam dan bukan sekedar latihan 4. Memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan 5. Menjajikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen 6. Mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi 7. Mempunyai organesasi profesi yang kuat dan terjalin erat 8. Menentukan baku standarnya sendiri dalam hal ini adalah kode etik

121 PERANAN ETIKA DALAM PROFESI 1. Nilai-nilai etika tidak milik satu dua orang atau golongan tetapi milik setiap kelompok masyarakat bahkan keluarga dan suatu bangsa 2. Salah satu golongan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai yang menjadi landasan dalam pergaulan adalah masyarakat profesional 3. Menjadi sorotan masyarakat baik dalam kondisi baik maupun buruk.

122 KODE ETIK PROFESI Kode: yaitu tanda-tanda atau simbul-simbul yang berupa kata-kata, tulisan atau benda yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan atau suatu kesepakatan suatu organesasi.

123 Kode Etik: Yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja. Menurut UU No. (Pokok-Pokok Kepegawaian) Kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari.

124 Sangsi Pelanggaran Kode Etik a. Sangsi moral b. Sangsi dikeluarkan dari organesasi Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh suatu dewan kehormatan atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu.

125 Profesionalisme Merupakan suatau tingkah laku, suatu tujuan atau suatu rangkaian kualitas yang menandai atau melukiskan curaknya suatu “ profesi” Profesionalisme mengandung pula pengertian menjalankan suatu profesi untuk keuntungan atau sebagai sumber kehidupan.

126 Ciri-ciri Profesionalisme: 1. Profesionalisme menghendaki sifat mengejar kesempurnaan hasil sehingga dituntut selalu mencari peningkatan mutu 2. Memerlukan kesungguhan dan ketelitian kerja yang hanya dapat diperoleh melalui pengalaman dan kebiasaan 3. Menuntut ketekunan dan ketabahan 4. Memerlukan integritas tinggi yang tidak tergoyahkan oleh” keadaan terpaksa” atau godaan iman seperti harta dan kenikmatan hidup 5. Memerlukan adanya kebulatan fikiran dan perbuatan,sehingga terjaga efektivitas kerja

127 Menurut TJERK HOOGHIEMSTRA Seorang yang dikatakan profesional adalah mereka yang sangat kompeten atau memiliki kompetensi-kompetensi tertentu yang mendasari kinerja. Kompetensi: adalah karakteristik pokok seseorang yang berhubungan dengan unjuk kerja yang efektif atau superior pada jabatan tertentu

128 Kompetensi meliputi: 1. Keterampilan melaksanakan tugas individu dengan efisien 2. Keterampilan mengelola beberapa tugas yang berbeda dalam pekerjaannya 3. Keterampilan merespon dengan efektif hal-hal yang bukan merupakan pekerjaan rutin dan kerusakan 4. Keterampilan menghadapi tanggung jawab dan tuntutan lingkungan termasuk bekerja dengan orang lain dan bekerja dalam kelompok

129 TUJUAN KODE ETIK PROFESIONAL 1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi 2. Menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota 3. Meningkatkan pengabdian para anggota 4. Meningkatkan mutu profesi 5. Meningkatkan mutu organesasi 6. Meningkatkan layanan diatas keuntungan pribadi 7. Mempunyai organesasi profesional yang kuat dan terjalin erat 8. Menentukan baku standarnya sendiri

130 Fungsi Kode Etik Profesional 1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan 2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan 3. Mencegah campur tangan pihak di luar organesasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi.

131  Etika Profesi Keteknikan adalah etika yang diterapkan dalam bidang keahlian teknik pertanian, yang memaparkan mengenai tatacara bekerja bagi seorang sarjana TEP dalam bekerja dan dituntut bertanggungjawab atas semua kewajiban yang ada dalam profesi yang ditekuni.

132  mengembangkan rangkaian kerja guna membangun kewaspadaan terhadap pandangan dari ethical issue.

133 1. Profesi o Memerlukan bidang Ilmu dan keterampilan o Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktek o Memerlukan keahlian Khusus dengan waktu yang panjang o Mempunyai kode etik o 2. Pekerjaan o Sesuatu yang dibuat untuk mata pencaharian o Tidak mempunyai Kode etik

134  Kode etik adalah norma-norma yang harus diperhatikan oleh setiap anggota profesi dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat.

135 Merupakan petunjuk-petunjuk bagi para anggota profesi tentang bagaimana mereka melaksanakan larangan-larangan, yaitu ketentuan-ketentuan tentang apa apa yang boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka, tidak saja dalam menjalankan tugas profesi, melainkan juga menyangkut tingkah laku pada umumnya dalam pergaulan sehari- hari dalam masyarakat.

136  Karena harus memiliki kompetensi dan latar belekang profesi yang diperoleh dari proses pendidikan dan pelatihan khusus  Harus memiliki semangat pengabdian didalam melaksanakan suatu kegiatan atas dasar panggilan profesi

137 1. Menggunakan pengetahuan dan ketrampilan untuk meningkatkan kesejahteraan amnusia 2. Bersikap jujur dan tidak memihak 3. Berusaha meningkatkan kompetensi dan gengsi profesi rekayasa 4. Mendukung organesasi profesi dan teknis dari disiplin ilmu

138 1. Menjaga keselamatan,kesehatan dan kesejahteraan dalam melaksanakan tugas profesional 2. Akan melakukan layanan hanya dibidang kompetensi 3. Mengeluarkan pernyataan publik hanya dalam hal obyektif dan jujur. 4. Harus bertindak profesional dan menghindari konflik kepentingan 5. Membangun reputasi profesional dan tidak akan bersaing secara tidak adil 5. Bertindak untuk menegakkan dan meningkatkan kehormatan, integritas dan martabat

139 1. Hak cipta: hak dari bembuat sebuah ciptaan terhadap ciptaannya dan salinannya. 2. Paten : hak untuk melindungi sebuah ide 3. Merek dagang: merek yang digunakan pebisnis untuk mengidentifikasikan sebuah prodak atau layanan 4. Rahasia dagang: sesuata hal yang dirahasiakan

140 Komponen yang perlu untuk Kompetensi Profesional: 1.Kompetensi Spesialis Kemampuan untuk: - Ketrampilan dan Pengetahuan - Menggunakan perkakas dan peralatan dengan sempurna - Mengorganisasikan dan menangani masalah

141 Kompetensi meliputi: 1. Ketrampilan melaksanakan tugas indifidu dengan efisien (Task skill) 2. Ketrampilan mengelola beberapa tugas yang berbeda dalam pekerjaannya (Task management skill) 3. Ketrampilan merespon dengan efektif hal-hal yang bukan pekerjaan rutin dan kerusakan (Contigency management skill) 4. Ketrampilan menghadapi tanggung jawab dan tuntutan lingkungan termasuk bekerja dengan orang lain dan bekerja dalam kelompok (Job/role environment skill)

142 2. Kompetensi Metodik Kemampuan untuk: - Mengumpulkan dan menganalisa informasi - Mengevaluasi informasi - Orientasi tujuan kerja - Bekerja secara sistematik

143 3. Kompetensi Individu Kemampuan untuk: - Inisiatif - Dipercaya - Motivasi - Kreativ

144 4. Kompetensi Sosisal Kemampuan untuk: - Berkomunikasi - Kerja kelompok - Kerjasama

145 5. Peran IQ, EQ, SQ, CQ, dan AQ

146 Peran IQ, EQ, SQ, CQ, dan AQ dalam perkembangan Profesi. Menurut Daniel Goleman (1996): Orang yang mempunyai IQ tinggi tetapi EQ rendah cenderung mengalami kegagalan yang lebih besar dibanding dengan orang yang IQ (15%) nya rata-rata tetapi EQ (85%) nya tinggi. Artinya bahwa penggunaan EQ atau olahrasa justru menjadi hal yang sangat penting

147 IQ = Intelegence Quotient (Kecerdasan mengerjakan atau melakukan) EQ= Emotional Quotient (Kecerdasan Emosi) SQ= Spiritual Quotient (Kecerdasan Spiritual) CQ= Creativity Quotient (Kecerdasan Kreativitas) AQ=Adversity Quotient (Kecerdasan menghadapi masalah)

148 Intellegensi (IQ) Menurut Marten Pali (1993) intellegensi adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara logis, terarah, serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.

149 Pengukuran Intellegensi Very superior : 130 – Superior : 120 – 129 Brght normal : 110 – 119 Average : 90 – 109 Dull Normal : 80 – 89 Borderline : 70 – 79 Mental Defective : 69 dan kebawah

150 EQ (Emosi) dalah letupan perasaan seseorang Pengertian EQ (kecerdasan emosi: 1. Kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik dan berhubungan dengan orang lain 2. Kemampuan mengerti dan mengendalikan emosi 3. Kemampuan mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan, ketajaman, emosi sebagai sumber energi, informasi dan pengaruh 4. Bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial dan adaptasi sosial

151 Aspek EQ ada lima: 1. Kemampuan mengenal diri (kesadaran diri) 2. Kemampuan mengelola emosi( Penguasaan diri) 3. Kemampuan memotivasi diri 4. Kemampuan mengendalikan emosi orang lain 5. Kemampuan berhubungan dengan orang lain (empati)

152 Perilaku Cerdas Emosi 1. Menghargai emosi negatif orang lain 2. Sabar menghadapi emosi negativ orang lain 3. Sadar dan menghargai emosi diri sendiri 4. Emosi negatif untuk membina hubungan 5. Peka terhadap emosi orang lauin 6. Tidak bingung menghadapi emosi orang lain 7. Tidak menganggap lucu emosi orang lain 8. Tidak memaksa apa yang harus dirasakan 9. Tidak harus membereskan emosi orang lain 10.Saat emosional adalah saat mendengarkan

153 EQ tinggi adalah: - Berimpati - Mengungkapkan dan memahami perasaan - Mengendalikan amarah - Kemandirian - Kemampuan menyesuaikan diri - Disukai - Kemampuan memecahkan masalah antar pribadi - Ketekunan - Kesetiakawanan - Keramahan - sikap hormat

154 EQ mempunyai peranan penting dalam meraih kesuksesan pribadi dan profesional:D GOLEMAN - 90 % prestasi kerja ditentukan oleh EQ - Pengetahuan dan teknis hanya berkontribusi 4%

155 Hasil Penelitian menyatakan bahwa individu yang mempunyai IQ tinggi menunjukkan kinerja buruk dalam pekerjaan, sedangkan yang IQ rendah justru sangat berprestasi. IQ tinggi sering kali memiliki sifat2 menyesatkan sbagai berikut: - Yakin tahu semuanya - Sering menggunakan pikiran untuk menalar bukan untuk merasakan - Meyakini bahwa IQ lebih penting dari EQ - Sering membuat prioritas2 yang merusak kesehatan kita sendiri

156 Membangun benteng untuk mencapai ketrampilan emosional : Dr. Patricia Patton 1. Paham pentingnya peran emosi dan pemahaman yang memungkinkan anda merasakan perbedaan besar dalam bagaimana kita mengendalikan emosi 2. Mengekspresikan kenyataan bahwa tidak seorangpun memiliki perasaan yang sama tentang persoalan yang serupa 3. Mengekang emosi adalah tindakan tidak sehat dan dapat mengarah kita kedalam cara2 yang negatif

157 4. Mempertajam intuisi pemecahan masalah ketuika menghadapi suatu masalah yang kitra tidak mungkin dapat mengontrol 5. Mengetahui keterbatasan diri sendiri dan tahu kapan kita perlu mengubah strategi 6. Memungkinkan orang lain menjadi diri sendiri, tanpa memaksakan harapan kita pada mereka 7. Mengetahui diri sendiri dan menghargai potensi yang kita miliki bagi pertumbuhan pribadi 8.Mengetahui pentingnya kasih sayang, perhatian dan berbagai bersama.

158 SQ ( Spiritual Quotient) Spiritual adalah inti dari pusat diri sendiri Menurut Agus N. Germanto, 2001: Kecerdasan spiritual adalah sumber yang mengilhami, menyemangati dan mengikat diri seseorang kepada nilai-nilai kebenaran tanpa batas waktu.

159 Penemu Kecerdasan Spiritual (SQ) adalah Danah Zohar dan Lan Marshall, 2000 menyatakan bahwa SQ cenderung diperlukan bagi setiap hamba Tuhan untuk dapat berhubungan dengan Tuhannya. Gagasan, energi, nilai, visi, dorongan, dan arah panggilan hidup, mengalir dari dalam dari suatu keadaan kesadaran yang hidup bersama cinta.

160 Paul Edwar menyatakan bahwa SQ adalah bukti ilmiah. Ini adalah benar ketika anda merasakan keamanan (secure), kedamaian (peace), penuh cinta (Loved) dan bahagia (happy). Ketika dibedakan dengan suatu kondisi dimana anda merasakan ketidak amanan, ketidak bahagiaan, dan ketidak cintaan.

161 Victor Frank (Psikolog); Pencarian manusia akan makna hidup merupakan motivasi utamanya dalam hidup itu. Kearifan spiritual adalah sikap hidup arif dan bijak secara spiritual, yang cenderung lebih bermakna dan bijak, bisa menyikapi sesuatu secara lebih jernih dan benar sesuai hati nurani kita, kecerdasan spiritual

162 SQ dalam Penelitian Neurolog V.S. Ramachandran dan Timnya di Universitas California dari hasil penelitiannya menemukan adanya “ Titik Tuhan” (Got Spot) di dalam otak manusia. Pusat spiritual tersebut bersinar(bergetar) ketika seseorang terlibat dalam pembicaraan tentang topik-topik spiritual dan agama

163 Dalam buku yang berjudul “Seratus Tokoh” yang berpengaruh dalam sejarah penulis Michael H. Hart membuat peringkat enam teratas yaitu: 1. Nabi Muhammad SAW 2. Isaac Newton 3. Nabi Isa (Yesus) 4. Buda (Sidharta Gautama) 5. Kong Huchu 6. St Paul

164 Ciri-ciri SQ tinggi Menurut Dimitri Mahayana ciri-ciri orang ber SQ tinggi adalah: 1. Memiliki prinsip dan visi yang kuat 2. Mampu melihat kesatuan dalam keanekaragaman 3. Mampu memaknai setiap sisi kehidupan 4. Mampu mengelola dan bertahan dalam kesulitan dan penderitaan

165 Memiliki Prinsip dan visi yang kuat Prinsip: adalah suatu kebenaran yang hakiki dan fundamental berlaku secara universal bagi seluruh umat Prinsip merupakan pedoman berperilaku, yang berupa nilai-nilai yang permanen dan mendasar.

166 Tiga prinsip utama bagi orang yang tinggi spiritualnya: 1. Prinsip kebenaran Suatu yang paling nyata dalam kehidupan ini adalah kebenaran. Pelanggaran atas nilai kebenaran membuat kita kehilangan jati diri, hati nurani yang tidak jernih. 2. Prinsip keadilan Keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan hak yang seharusnya diterima, tidak mengabaikan, tidak mengurangi-mengurangi

167 3. Prinsip kebaikan Kebaikan adalah memberikan sesuatu lebih dari hak yang seharusnya. Contoh: seharusnya naik miklrolet sekali tiga ribu tapi kita membayar empat ribu

168 Visi yang kuat Visi adalah cara pandang bagaimana memandang sesuatu dengan visi yang benar. Dengan visi kita bisa melihat bagaimana sesuatu dengan apa adanya, jernih dari sumber cahaya kebenaran. Contoh: Belajar itu tidak sekedar mencari angka raport, ijazah atau bisa mencari kerja yang bergaji pantas.

169 Mampu melihat kesatuan dalam keanekaragaman. Para mahasiswa menuntut suasana kuliah yang menyenangkan. Dosen menginginkan semangat dan hasil kuliah yang optimal. Semua pihak berbeda tetapi sama- sama menginginkan kebaikan.

170 Mampu memaknai setiap sisi kehidupan. Semua yang terjadi di alam raya ini ada maknanya. Semua kejadian pada diri kita dan lingkungan adalah ada hikmah, semua diciptakan ada tujuannya. Dalam sakit, gagal. Jatuh, kekurangan dan penderitaan lainnya banyak pelajaran yang mempertajam kecerdasan spiritual kita. Demikian juga ketika berhasil kita bersyukur dan tidak lupa diri

171 Mampu bertahan dalam kesulitan dan penderitaan. Sejarah telah membuktikan, semua orang besar atau orang sukses telah melewati liku-liku dan ujian yang besar juga. Penderitaan dan kesulitanlah yang menumbuhkan dan mengembangkan dimensi spiritual.

172 Kecerdasan spiritual bagi pelaksana profesi SDM seabagai pelaksana dari suatu profesi dengan tingkat kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi adalah pemimpin yang tidak sekedar beragama, tetapi terutama beriman dan bertaqwa kepada Allah AWT. Seorang pelaksana profesi yang beriman adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada, Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa2 yang diucapkan, diperbuat bahkan isi hati atau niat manusia.

173 Selain dari pada itu SDM sebagai pelaksana suatu profesi yang beriman adalah seorang yang percaya adanya malaikat yang mencatat segala perbuatan yang baik maupun yang tercela dan tidak dapat diajak kolusi. SDM sebagai pelaksana profesi tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang halal dan mana yang haram, mana yang melanggar hukum dan mana yang sesuai dengan hukum

174 SDM sebagai pelaksana profesi harus selalu memegang amanah, konsisten (istiqomah) dan tugas yang diembannya adalah ibadah terhadap Tuhan, oleh karena itu semua sikap, ucapan dan tindakan selalu mengacu pada nilai-nilai moral dan etika agama, selalu memohon taufiq dan hidayah Allah SWT dalam melaksanakan amanah yang dipercayakan kepadanya. “ Sesungguhnya sholat itu dapat mencegah kamu dari perbuatan keji dan dan munkar”

175 CQ (creativity Quotient) / Kecerdasan Kreativitas: adalah potensi seseorang untuk memunculkan sesuatu yang penemuan- penemuan baru dalam bidang ilmu dan teknologi serta semua bidang dalam usaha lainnya.

176 Guil Ford mendiskripsikan 5 ciri kreativitas: 1. Kelancaran : Kemampuan memproduksi banyak ide 2. Keluwesan : Kemampuan untuk mengajukan bermacam- macam pendekatan jalan pemecahan masalah 3. Keaslian : Kemampuan untuk melahirkan gagasan yang orisinal sebagai hasil pemikiran sendiri

177 4. Penguraian : Kemampuan menguraikan sesuatu secara terperinci 5. Perumusan Kembali : Kemampuan untuk mengkaji kembali suatu persoalan melalui cara yang berbeda dengan yang sudah lazim.

178 Kreatifitas adalah kemampuan untuk mencipta dan berkreasi, tidak ada satupun pernyataan yang dapat diterima secara umum mengenai mengapa suatu kreasi itu timbul. Kreatifitas sering dianggap terdiri dari dua unsur: 1. Kepasihan yang ditunjukan oleh kemampuan menghasilkan sejumlah besar gagasan dan ide2 pemecahan masalah secara lancar dan cepat. 2. Keluwesan yang pada umumnya mengacu kepada kemampuan untuk menemukan gagasan dan ide yang berbeda-beda dan luar biasa untuk memecahkan suatu masalah.

179 Hambatan untuk menjadi lebih kreatif. Kebiasaan, waktu, dibanjiri masalah, tidak ada masalah, takut gagal, kebutuhan akan sebuah jawaban sekarang, kegiatan mental yang sulit diarahkan, takut bersenang-senang, kritik orang lain.

180 Beberapa cara memunculkan gagasan kreatif yaitu: 1. Kuantitas gagasan Teknik-teknik kreatif dalam berbagai tingkatan keseluruhannya bersandar pada pengembangan pertama sejumlah gagasan sebagai suatu cara untuk memperoleh gagasan yang baik dan kreatif. Akan tetapi, bila masalahnya besar dimana kita ingin mendapatkan pemecahan baru dan orisinil maka kita membutuhkan banyak gagasan untuk dipilih.

181 2. Teknik brainstorming Merupakan cara yang terbanyak, tetapi juga merupakan teknik pemecahan kreatif yang tidak banyak dipahami. Teknik ini cenderung menghasilkan gagasan baru yang orisinil untuk menambah jumlah gagasan konvensional yang ada.

182 3. Sinektik Suatu metode atau proses yang menggunakan metafora dan analogi untuk menghasilkan gagasan kreatif atau wawasan segar ke dalam permasalahan, maka proses sinektik mencoba membuat yang asing menjadi akrab dan juga sebaliknya.

183 4. Memfokuskan tujuan Membuat seolah – olah apa yang diinginkan akan terjadi besuk, telah terjadi saat ini dengan melakukan visualisasi yang kuat. Apabila proses ini dilakukan secara berulang-ulang, maka pemikiran anda akan terpusat ke arah tujuan yang dimaksud dan terjadi proses auto sugesti ke dalam diri maupun keluar.

184 AQ ( Adversity Quotient)= Kecerdasa dalam menghadapi masalah: Adalah kemampuan /kecerdasan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup.

185 Menurut Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan “ AQ merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta sejauh mana sikap, kemampuan dan kinerja Anda terwujut di dunia “ Pendek kata, orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingka orang yang AQ nya lebih rendah.

186 Paul G. Stoltz, merinci AQ berdasarkan penelitiannya ada 3: 1. AQ tingkat “Quitters” (orang-orang yang berhenti). Tingkat AQ yang paling rendah yakni orang yang langsung menyerah ketika menghadapai kesulitan hidup. Orang yang tidak berikhtiar dan hanya berkeluh kesah menghadapi penderitaan kemiskinan dan lain-lain.

187 2. AQ tingkat “ Cambers” (Orang yang berkemah”. Camber adalah AQ tingkat bawah. Awalnya giat mendaki/berusaha menghadapi kesulitan hidup, ditengah perjalanan mudah merasa cukup dan mengakiri pendakian atau usahanya. Contoh: orang yang sudah merasa cukup dengan menjadi sarjana, merasa sukse bila memiliki jabatan dan materi.

188 3. AQ tingkat “ Climbers” (orang yang mendaki). Climber adalah pendaki sejati. Orang yang seumur hidup mendaki mencari hakikat kehidupan menuju kemuliaan manusia dunia akhirat. Rentang AQ meliputi tiga golongan: 1. AQ rendah ( 0 – 50) 2. AQ sedang (95 – 134) 3. AQ tinggi (166 – 200) AQ dapat dipelajari dengan latihan-latihan untuk meningkatkan levelnya.

189 Analisa SWOT merupakan suatu teknik yang dapat digunakan untuk menelaah tingkat keberhasilan pencapaian cita-cuta/ karier’ “S” Streng (kekuatan), adalah sebuah potensi yang ada pada diri sendiri yang mendukung cita-cita/karier. “W” Weakness (kelemahan). Adalah seluruh kekurangan yang ada [pada diri sendiri dan kurang mendukung cita-cita/karier.

190 “O” Opportunity, (Peluang), adalah segala sesuatu yang dapat menunjang keberhasilan cita-cita (karier). “T” Traits (Ancaman), adalah segala sesuatu yang dapat menggagalkan rencana cita- cita/karier yang berasal dari diri sendiri atau lingkungan.

191 “ ……. Tidak ada suatu keputusan, melainkan bagi Allah> Dia menerangkan kebenaran dan dia sebaik-baiknya Pemberi Keputusan” (QS. Al An’aam 6: 57) Sekema Pengambilan Keputusan Keputusan Spiritual Masalah Kebebasan Keputusan Timbul Memilih Emosional Keputusan Persepsi

192 6. AKHLAK, MORAL DAN ERTKA

193 AKHLAK, MORAL DAN ETIKA Objektif : 1. Memahami perbedaan antara akhlak, moral dan etika 2. Memahami konsep akhlak menurut pandangan beberapa agama 3. Nilai positif akhlak yang diterima secara global 4. Hubungan etika dan undang-undang

194 PENGERTIAN AKHLAK Akhlak dari segi bahasa didefinisikan sebagai moral, tabiat, perangai, budi, adab, sifat semulajadi, maruah, watak, amalan agama atau rupa batin seseorang Akhlak berasal dari bahasa Arab iaitu Khuluqun yang bererti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Definisi ilmu akhlak menurut Prof. Omar Al Toumy Al Syaibani pula, ilmu yang mengkaji tentang hakikat perbuatan berakhlak, sifat kebaikan, kejahatan, kebenaran, kewajipan, kebahagiaan, hukum dan tanggungjawab akhlak, motif kelakuan dan asas-asas teori gagasan akhlak.

195 Prof. Dr. Ahmad Amin dalam bukunya ‘Al- Akhlaq’ merumuskan pengertian akhlak sebagai : Akhlak ialah suatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada yang lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat

196 Manakala menurut Dr. Miqdad Yalchin akhlak ialah: “ Prinsip-prinsip dan dasar atau kaedah yang ditentukan oleh wahyu untuk mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupannya. Ia membentuk dan menentukan hubungan dengan orang lain agar misi kehidupan manusia terlaksana dengan sempurna ”

197 Keseluruhannya Akhlak adalah sains yang mengkaji soal kebaikan dan keburukan serta cara untuk mempraktikkan kebaikan dan menolak keburukan. Akhlak juga berkait rapat dengan kejiwaan. Oleh itu ada yang mentafsirkan akhlak sebagai ilmu yang menyarankan cara-cara membersihkan jiwa dengan tumpuan kepada apakah itu kebaikan dan keburukan; apakah kriteria yang dapat menilai sesuatu itu sebagai baik dan buruk; dan apakah motif dan nilai di sebalik sesuatu perlakuan tersebut.

198 Jenis Akhlak Islam telah membagikan akhlak kepada dua iaitu: akhlak yang mulia atau akhlak terpuji (Al-Akhlak Mahmudah) dan akhlak yang buruk atau akhlak tercela (Al-Akhlak Mazmumah). Menurut Imam Ghazali, akhlak yang mulia mempunyai empat perkara iaitu bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan hawa nafsu) dan bersifat adil.

199 Seperti kata pepatah seorang penyair Mesir, Syauqi Bei "hanya saja bangsa itu kekal selama berakhlak, bila akhlaknya telah lenyap, makalenyap pulalah bangsa itu” Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Orang Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya."(Hadith Riwayat Ahmad).

200 AKHLAK DARI SUDUT PANDANGAN BEBERAPA AGAMA 1. Agama Islam 2. Agama Hindu 3. Agama Buddha 4. Agama Kristian 5. Ajaran Confusionisme

201 Agama Islam Para Rasulullah dipertanggungjawabkan memikul tugas membawa akhlak yang mulia-memperbaiki dan mengajar akhlak terpuji yang perlu diikuti oleh umat Islam adalah akhlak Nabi Muhammad s.a.w. Menurut hadis riwayat Bukhari “Akhlak Rasulullah s.a.w. adalah Al-Quran”. Menurut hadis riwayat Muslim “Sesempurna iman seseorang mukmin adalah mereka yang paling bagus akhlaknya”

202 Agama Hindu Agama Hindu berdasarkan kepada kitab weda yang mengandungi dasar-dasar ketuhanan dan prinsipprinsip etika yang wajib dipegang teguh oleh pengikutnya. Prinsip tersebut ialah sifat patuh dan disiplin dalam melaksanakan upacara keagamaan. Tanda-tanda kebaikan dalam agama Hindu ialah kemerdekaan, kesihatan, kekayaan dan kebahagiaan. Tanda-tanda kejahatan pula ialah perhambaan, sakit, fakir dan kecelakaan.

203 Prinsip etika Hindu ialah peraturan agama itu dipandang sebagai sumber segala kemuliaan akhlak manusia Etika dalam agama Hindu bergantung kepada prinsip “Brahma” yang menjadi dasar kepada norma yang teratur dan bermartabat. Ia bermaksud keadilan, kebaikan, kesucian, benar, sederhana dan suci. Brahma ini menjadi kode etika yang merangkumi semua aspek kehidupan manusia. Brahma merupakan salah satu matlumat hidup yang mesti diikuti berdasarkan kelas dan status seseorang..

204 Agama Buddha Pengajaran Buddha diasaskan oleh Siddartha Gautama. Menurut ajaran Buddha, terdapat Empat Kebenaran Mulia atau etika yang diperjuangkan iaitu: 1. Hidup manusia penuh penderitaan. 2. Manusia menderita kerana nafsu. 3. Manusia perlu menghapuskan nafsunya untuk melepaskan diri daripada penderitaan dan mencapai nirwana. 4. Penderitaan dapat dihapuskan dengan  mengamalkan Jalan Lapang Lapis Mulia.

205 Jalan Lapang Lapis Mulia menurut ajaran Buddha ialah pengetahuan yang baik, pemikiran yang baik,pertapaan yang baik, perkataan yang baik, keinginan yang baik, kelakuan yang baik, usaha yang baik dan kehidupan yang baik Kerangka dasar ajaran Buddha ialah: 1. Ajaran tentang Sradha (keyakinan). Penganut Buddha harus memiliki keyakinan terhadap Tuhan, adanya para Buddha, kitab suci dan nirwana..

206 2. Ajaran tentang sila (etika). Sila atau budi pekerti manusia dititikberatkan supaya manusia boleh mencapai suatu kebijaksanaan yang sempurna. Kesempurnaan ini dapat diperoleh dengan mengamalkan enam jalan sempurna iaitu pemberian dalam bentuk kebendaan dan moral; keseimbangan,keteguhan dan kebersihan perbuatan, perkataan dan pemikiran; pemikiran yang tenang dan seimbang;semangat yang berkobar-kobar dan penuh perjuangan untuk mencapai tujuan; dan niat untuk mempersatukan pemikiran. 3. Ajaran tentang rituil (bhakti). Rasa hormat dan sujud kepada sesuatu yang harus dihormati

207 Agama Kristian Agama Kristian diasaskan oleh Jesus Christ- kitab Injil. Ajaran agama Kristian menitikberatkan unsur kasih sayang dan belas kasihan antara sesama manusia. Ajaran asasnya ialah mencintai Tuhan dengan sepenuh hati dan mencintai jiran seperti mencintai diri sendiri.

208 Old Testament (Perjanjian Lama) ada menyebutkan undang-undang yang berupa The Ten Commandments yang diperkenankan Tuhan melalui para nabi bertujuan supaya manusia mengamalkan cara hidup yang baik, di antaranya jgn berzina,menghormati kedua ibubapa, jgn membunuh, mencuri, etc Old Testament juga menekankan keadilan,kejujuran dan berbuat baik. Dalam New Testament prinsip etika turut ditekankan. Tujuan hidup bukan hanya untuk mengumpul kebendaan, kedudukan dan pangkat kerana itu tidak kekal.

209 Ajaran Confusionisme Ajaran Confusionisme dibawa oleh Kung Fu Tse,seorang ahli falsafah China yang terkenal membawa nilai-nilai murni dalam ajarannya. Ajaran etika beliau termasuklah: 1. Orang yang bijaksana mampu untuk mencapai kesempurnaan berbanding dengan orang biasa. 2. Kebijaksanaan boleh dicapai melalui proses berfikir, menaakul, menganalisis, meneliti dan belajar mencari kebenaran. Hanya kebenaran dapat menghasilkan etika yang baik.

210 3. Mengasingkan diri dengan tujuan mengabdikan diri kepada Tuhan. Perbuatan mengasingkan diri untuk beribadat dianggap beretika 4. Sentiasa gemarkan majlis ilmu. Sentiasa menghadiri dan menganjurkan perbincangan yang berkaitan dengan ilmu secara terbuka. 5. Membimbing dan menyebarluaskan ilmu berkaitan dengan etika kepada ahli masyarakat. 6. Masyarakat digalakkan mengamalkan etika yang baik dan mengelakkan etika yang jahat supaya hidup selesa dan bahagia.

211 Apakah akhlak yang perlu dimiliki ?

212 FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUKAN AKHLAK MULIA 1. AGAMA 2. DIRI SENDIRI 3. KELUARGA 4. PENDIDIKAN 5. PERSEKITARAN

213 Pengertian Moral Moral merupakan persoalan yang praktikal namun tidak semua persoalan praktikal adalah moral. Moral membicarakan persoalan yang betul atau salah, apa yang perlu dilakukan dan ditinggalkan atas sebab-sebab tertentu dan dalam keadaan tertentu. Pertimbangan moral bergantung kepada suasana atau keadaan yang membentuk individu. Misalnya sistem sosial, kelas sosial dan kepercayaan yang dianuti.

214 Moral merupakan cara melihat dan menilai sesuatu isu berhubung dengan sesuatu tingkah laku berdasarkan pandangan jagat dan budaya sesuatu masyarakat. Perbuatan yang serupa dilihat dari sudut yang berlainan berdasarkan nilai yang dipegang oleh masyarakat yang berbeza. Dalam aspek ini kerap moral disamakan dengan etika. Peter Baelz dalam bukunya Ethics and Belief menyatakan bahawa “moral dan etika selalunya mempunyai makna yang sama. Apakah faedah membezakan di antara keduanya kerana selalunya kita gagal untuk membezakannya.”

215 Berdasarkan kenyataan Peter Baelz, moral dan etika mempunyai persamaan. Moral bersifat praktikal kerana ia merupakan disiplin yang memberitahu apakah sistem moral yang dihayati oleh sesuatu masyarakat. Manakala etika bersifat teoretikal kerana ia mengkaji, menganalisis dan mengkritik sistem moral tersebut. Moral merupakan bahan yang dikaji oleh etika manakala etika adalah ilmu yang mengkajinya.

216 Pengertian Etika Perkataan etika berasal dari perkataan Inggeris ethics. Ethics pula berasal dari perkataan Greek ethos bermaksud watak atau budaya. Ia merujuk kepada sikap dan adat yang menentukan tingkah laku sesuatu golongan. Etika adalah sains menilai dan memahami proses penilaian. Ia berkaitan dengan perlakuan mentafsirkan sesuatu perbuatan tersebut baik ataupun sebaliknya.

217 Dua perkara asas yang menjadi tumpuan dalam etika ialah akhlak individu seperti takrifan individu yang baik dan peraturan-peraturan sosial seperti peraturan mengenai benar atau salah (moraliti) yang menghadapkan tingkah laku individu (Mohamad Mohsin & Hamdzun 2002). Sidi Gazalba dalam buku beliau Sistematika Filsafat merumuskan bahawa etika ialah teori mengenai laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk dan sejauh mana pula dapat ditentukan oleh akal. Menurut Abdul Fatah Hassan (2001) pula, etika menyelidik, memikirkan dan mempertimbangkan mengenai yang baik dan yang buruk. Etika melihat secara universal perbuatan manusia.

218 Etika juga merujuk kepada falsafah tingkah laku manusia yang dilihat dari aspek lahiriah dan batiniah. Ini tidak serupa dengan moral yang merupakan ajaran, kumpulan peraturan dan ketetapan, lisan atau bertulis mengenai bagaimana manusia perlu bertindak supaya menjadi manusia yang baik. Moral memandu manusia tentang cara bagaimana manusia harus bertingkah laku (tingkah laku baik) manakala etika pula mengenai mengapakah manusia mesti mengikuti arahan moral tersebut.

219 Etika merupakan tingkah laku dan kelakuan moral yang dijangka diikuti oleh manusia sejagat manakala ilmu etika merupakan satu disiplin ilmu yang mengkaji tentang moral,prinsip moral,kaedah moral dan tindakan serta kelakuan manusia yang betul. Fungsi etika menggariskan beberapa prinsip atau ukuran asas untuk menentukan apakah tingkah laku yang betul, apakah yang salah, apakah tingkah laku yang bertanggungjawab dan apakah yang tidak.

220 Adakah Etika dan Moral Itu Sama? Etika dan moral sering disalahfahami. Misalnya, penggodaman bukan masalah etika tetapi adalah kesalahan moral untuk mendapatkan capaian yang tidak mendapat kebenaran. Masalah etika adalah berkaitan dengan sesuatu yang membuahkan hasil yang salah atau sesuatu yang tidak adil. Ruang lingkup perbincangan etika adalah lebih luas berbanding dengan moral.

221 Fokus etika lebih luas mencakupi estetika, etika profesional, tingkah laku dan logik. Etika mempunyai peranan yang besar dalam kehidupan manusia bagi menyediakan prinsip tanggungjawab dan menilai tindakan yang berkaitan dengan kemanusiaan. Moral merujuk kepada cara berfikir, bertindak dan bagaimana mereka harus bertindak, manakala etika adalah falsafah moral berkaitan dengan masalah betul atau salah. Moral adalah sebahagian daripada etika.

222 Terdapat pelbagai teori etika dan teori-teori ini mengandung penyataan : Deskriptif Teori etika dengan penyataan deskriptif memberitahu dan menerangkan bagaimana tingkahlaku manusia atau sesuatu masyarakat serta peraturan etika mereka. Normatif Teori etika dengan penyataan normatif memberitahu kita apakah tindakan yang patut dibuat dan apakah tindakan yang betul.

223 Adakah etika bersifat relatif? Perbuatan 1. Mencuri 2. Perempuan tua miskin mencuri kerana anaknya kelaparan 3. Perhambaan 4. Pengguguran anak 5. Homoseksual dan lesbian

224 Jelas apa yang kita fikir benar tidak semestinya benar bagi orang lain. Benar dan salah adalah konsep yang relatif. Ahli etika relatif menolak kebenaran dan kesalahan yang universal. Mereka berpendapat tidak wujud moral benar dan salah secara universal. Benar dan salah adalah relatif bagi sesuatu masyarakat bergantung kepada budaya dan pemikiran mereka.

225 Membuat Keputusan Etika Membuat keputusan etika memberi panduan untuk membantu seseorang menganalisa keadaan dengan melihat dari beberapa sudut iaitu : 1. Hubungan keadaan etika dengan undangundang 2. Alasan-alasan formal dan informal 3. Berlandaskan prinsip-prinsip, teori etika.

226 5. HUBUNGAN KEADAAN ETIKA DENGAN UNDANG-UNDANG

227 Perbedaan antara etika dan undang-undang 1. Dikuat kuasakan oleh hati sendiri. Hukuman melanggar etika ialah rasa bersalah dalam diri sendiri Penentuan batas perlakuan adalah jelas. Dianggapmelakukan jenayah jika melampaui batas tersebut. Bentuk perlakuan boleh bersifat global. Misalnya, mencuri adalah jenayah dalam semua masyarakat 2. Menentukan batas adat, idealisme,keyakinan dan nilai. Batas tersebut adalah relatif dan abstrak mengikut masyarakat. Dikuatkuasakan oleh mahkamah. Hukuman melanggar undang-undang adalah seperti yang diperuntukkan dalam undangundang bertulis negara  1. Dikuatkuasakan oleh hati sendiri. Hukuman  melanggar etika ialah rasa bersalah dalam diri sendiri  Etika Undang-undang

228 ALASAN-ALASAN FORMAL DAN INFORMAL INFORMAL FORMAL 1. Siapakah yang 1. Adakah tindakan melanggar polisi? merahsiakan keadaan? 2. Apakah pendapat 2. Adakah perbuatan ini melanggar keluarga? Kode etika profesional? 3. Adakah umum tahu? 3. Adakah beliau melanggar peraturan 4. Adakah aktiviti syarikat ? tersebut diiklan untuk tujuan keuntungan?

229 Prinsip-Prinsip Teori Etika Prinsip-prinsip etika juga menyumbang dalam membuat keputusan etika. Berdasarkan prinsip ini individu mempunyai tanggungjawab seperti: 1. Memupuk kepercayaan 2. Memperbaiki moral diri dan berusaha tidak mengulangi perbuatan yang tidak bermanfaat 3. Menghormati keputusan dan menghargai orang lain 4. Berlaku adil, amanah dan jujur 5. Membantu mereka yang dalam kesusahan

230 Hubungan antara hak dan tanggungjawab TGJWB ‘A’ HAK ‘A’ Menghasilkan perisian Menerima ganjaran yang baik sewajarnya HAK ‘B’ TGJWB ‘B’ Mengharapkan produk Membayar harga perisian & Yang berkualitas tidak menggunakan perisian cetak rompak,

231 2.TEORI ETIKA

232 ETIKA DESKRIPTIF: yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan perilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang perilaku atau sikap yang mau diambil.

233 Penyataan dalam Teori Etika 2. Etika normatif. Merujuk kepada panduan dan peraturan yang berkaitan dengan tingkahlaku yang baik dan jahat. Ia juga menjurus kepada kenyataan yang memberitahu apa yang mesti dilakukan dan apa yang betul. Ia menilai, mengkritik dan membuat keputusan terhadap sistem moral yang ada di samping menerangkan sesuatu undang-undang moral yang dianggap terbaik, bukan undang-undang moral yang sedia ada dan sedia diterima.

234 Etika normatif mengemukakan sistem moral yang piawai berpandukan sistem sedia ada. Etika normatif menyadarkan kita bahawa tidak semua nilai moral berubah mengikuti perubahan masa tetapi ada yang terus kekal dipelihara meskipun budaya mengalami perubahan. Inilah yang dikatakan sebagai nilai mutlak dan biasanya berkaitrapat dengan agama. Golden Rule merupakan contoh prinsip etika normatif klasik. Jika mau orang melakukan perkara yang baik kepada kita, kita perlu melakukan perkara yang baik juga kepada orang lain.

235 ETIKA NORMATIF: etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup sebagai sesuaru yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan

236 Etika Normatif: 1. Etika Umum: berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolok ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.

237 2. Etika Khusus: Merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan bisa: bagaimana mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar, atau bagaimana saya menilai perilaku sendiri atau orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis.

238 Etika Khusus: 1.Etika individual: yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. 2.Etika sosial: yaitu berbijara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.

239 Etika Sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara langsung maupun secara kelembagaan (keluarga, masyarakat, negara), sikap kritis terhadap pandangan-pandangan dunia dan idiologi- idiologi maupun tanggung jawab umat manusia terhadap lingkungan hidup.

240 Macam Etika Sosial: 1.Sikap terhadap sesama 2.Etika keluarga 3.Etika Profesi 4.Etika politik 5.Etika lingkungan 6.Etika idiologi

241 Variabel penilaian Etika: 1.Tujuan baik, tetapi cara untuk mencapainya tidak baik 2.Tujuan tidak baik, cara pencapaiannya kelihatannya baik 3.Tujuan tidak baik, cara pencapaiannya juga tidak baik 4.Tujuan baik, cara pencapaiannya juga terlihat baik

242 Teori dan Aliran Pemikiran 1. Teologi : Teori ini melihat kebaikan dan keburukan sesuatu tindakan. Sesuatu perbuatan itu tidak diketahui sama ada baik atau buruk sehinggalah melihat kepada kesannya. vs 2. Deontologi atau non consequentialist : Teori deontologi ini berasaskan kepada prinsip asas yaitu kewajipan manusia. Teori ini berasal daripada perkataan Greek, deon iaitu duty yang merujuk kepada kewajipan individu.

243 Teori dan Aliran Pemikiran 3. Subjektif. Penilaian terhadap sesuatu etika berdasarkan kepada penilaian diri sendiri. Individu berhak meletakkan nilai sama ada baik atau sebaliknya. Perasaan peribadi terlibat dalam menilai dan menentukan baik buruk sesuatu tindakan. vs 4. Objektif. Kode moral adalah bebas dari kepentingan individu. Baik dan buruk tidak bersandar kepada sikap individu tetapi wujud dengan sendirinya

244 Teori dan Aliran Pemikiran 5. Naturalisme. Sesuatu perbuatan itu baik atau buruk bergantung kepada pengalaman keseronokan. ‘Baik’ perlu dijelaskan dalam bentuk kualiti fakta alam seperti memenuhi keperluan manusia, mendatangkan kebahagiaan, kenikmatan dan sebagainya kepada manusia. vs 6. Non Naturalisme. Moral adalah sesuatu yang unik dan tidak boleh dikelaskan. Sesuatu perlakuan itu baik kerana ianya memang baik.

245 Teori dan Aliran Pemikiran 7. Relativisme. Sesuatu yang dianggap baik oleh satu masyarakat tidak mungkin dianggap sedemikian oleh masyarakat yang lain. (barat-timur) Ini bererti masyarakat yang berlainan memberikan nilai moral yang berbeza bagi tingkahlaku yang serupa. vs 8. Absolutisme. Prinsip moral berbeda dari satu budaya dengan budaya yang lain. Bagaimanapun prinsip asas sejagat adalah sama. Misalnya, semua masyarakat meletakkan nilai yang tinggi kepada kebaikan.

246 Teori Utilitarianisme Teori ini merupakan suatu aliran atau dimensi di bawah teori etika Teologikal yang juga dikenali sebagai consequentialism. Ia adalah doktrin moral yang mengkehendaki manusia supaya bertindak untuk menghasilkan kebaikan secara maksimum. Kebaikan ini termasuklah kegembiraan atau keseronokan kepada semua pihak. Tindakan dikatakan sebagai bermoral jika ia menghasilkan kegembiraan yang maksimum. Jeremy Bentham ( ) dan John Stuart Mill ( ) adalah dua orang tokoh yang dikaitkan dengan teori ini.

247 Bentham mengenalpasti 7 elemen yang perlu dipertimbangkan untuk mengukur keseronokan mencipta kalkulus Hedonistik Bentham yang memberi skala antara –10 hingga +10. Elemen yang dimaksudkan oleh Bentham ialah: intensiti, jangka masa, kepastian, kesegeraan, kesedaran, keberkesanan dan had atau batasan. 1. Intensiti bermaksud kedalaman. Sejauh manakah dalamnya kesan pengalaman terhadap seseorang. 2. Jangka masa. Berapa lamakah keseronokan atau kesengsaraan akan berakhir? 3. Kepastian. Adakah anda pasti sama ada mengalami keseronokan atau kesengsaraan akibat sesuatu yang berlaku.

248 4. Kesegeraan. Kepantasan anda mengalami rasa seronok atau sebaliknya. 5. Kesedaran. Apakah kemungkinan anda mengalami rasa seronok pada masa akan datang? 6. Keberkesanan. Apakah kemungkinan anda mengalami rasa sengsara pada masa hadapan? Mangsa tragedi selalunya senantiasa berasa takut dan risau 7. Had atau batasan. Berapa kerapkah kesengsaraan dan keseronokan dicetuskan dalam kehidupan orang lain? Jika jumlah skor kesengsaraan melebihi keseronokan maka sesuatu perbuatan tersebut adalah sememangnya salah dan tidak beretika.

249 Mill membedakan antara keseronokan dengan memasukkan aspek kualiti. Mill mengukur kualiti dan kuantiti sekaligus. Menurut Mill, petunjuk kualiti keseronokan adalah seperti tinggi/rendah, baik/buruk, objektif/subjektif, dan baru/lama. Faktor yang boleh mempengaruhi keseronokan pula ialah kecerdikan, pendidikan, sensitiviti, bermoral dalam tindakan dan kesihatan yang baik. Utilitarianisme pada peringkat paling rendah dipanggil ‘act utilitarinisme’. Kita harus bertanya kepada diri sendiri mengenai kesan akibat sesuatu tindakan dalam keadaan tertentu ke atas pihak-pihak yang terlibat sebelum sebarang tindakan diambil. Sekiranya tindakan tersebut menghasilkan kebaikan maka ia dianggap betul.

250 Jenis-jenis Utilitarianism 1. Act utilitarianism Ciri yang pertama adalah merekodkan akibat sesuatu perbuatan sama ada bermoral atau sebaliknya berdasarkan kajian kes. Ciri ini dipanggil act utilitarianism. Misalnya aktiviti dengan menonton televisi mungkin dianggap tidak bermoral karena masa tersebut sepatutnya digunakan untuk melakukan kerja-kerja yang bermanfaat seperti kerja kebajikan

251 Jenis-jenis Utilitarianism 2. Hedonistic utilitarianism Ciri yang kedua pula ialah mengambilkira kegembiraan, kesan daripada suatu tindakan dianggap bermoral. Ini kerana Bentham berpendapat, untuk menentukan benar atau salah (moraliti) tingkah laku individu, ianya perlu mengambilkira kesan dan akibatnya. Misalnya tindakan atau perbuatan yang boleh meningkatkan ciri kesetiaan dan persahabatan, sehingga mencetuskan ciri kegembiraan. Memutuskan persahabatan tetapi membahagiakan kedua- dua pihak yang terlibat adalah suatu yang dianggap bermoral.

252 Relativisme Etika Keadaan merupakan pertimbangan utama dalam menentukan suatu tindakan itu sama ada beretika atau tidak. Tindakan dinilai berdasarkan kesan atau akibatnya. Relativisme etika melihat kepada beberapa perspektif jika wujudnya pertentangan budaya dan pendapat antara individu. Perspektif tersebut melihat dari aspek :

253 1. Tiada nilai moral yang benar atau salah secara universal atau secara mutlak. Perbedaan ini berlaku apabila wujud pertentangan budaya dan amalan dalam diri individu terhadap sesuatu tindakan. 2. Kepelbagaian nilai budaya dan persekitaran memberikan penilaian yang berbeda terhadap tindakan individu sama ada bermoral atau sebaliknya. 3. Tiadanya skala penilaian yang piawai dan mutlak dalam menilai suatu perbuatan itu sama ada beretika atau sebaliknya

254 Kajian Mengenai Etika 1. Etika umum a. Etika Deskriptif b. Etika Normatif c. Metaetika 2. Etika Khusus a. Safsatah b. Bidang khusus

255 Metaetika: Kajian ini adalah hasil daripada etika deskriptif dan normatif, iaitu menyenaraikan ciri-ciri serta istilah yang berkaitan dengan tindakan bermoral atau sebaliknya seperti kebaikan, kejahatan, tanggungjawab dan kewajipan. Meta etika pula dibahagikan kepada dua iaitu : 1. Analitik yang berkaitan dengan menganalisis semua peraturan yang berkaitan tingkahlaku baik dan jahat 2. Kritikal yang berkaitan dengan mengkritik terhadap apa-apa yang telah dianalisis.

256 Etika khusus 1. Safsatah : Suatu seni dan teknik dalam penyelesaian masalah dan dilema yang mengaplikasikan prinsip-prinsip moral. 2. Bidang khusus: Mengaplikasikan kajian etika umum dalam bidang-bidang khas seperti bisnes,perubatan, politik dan sains.

257 Penilaian dalam etika Penilaian terhadap perbuatan yang baik adalah melalui peningkatan terhadap kesedaran dan pembangunan rohani individu hasil daripada perbuatannya Etika mengambilkira penilaian ke atas suatu tindakan itu berbanding hanya dengan : a.Melabelkan perbuatan yang baik jika ianya memenuhi kehendak dan keperluan manusia sahaja. b. Melabelkan perbuatan yang baik jika ianya meningkatkan kehidupan dan melabelkan sebaliknya jika perbuatan itu memusnahkan kehidupan.

258 Aspek dalam Etika Terdapat dua aspek dalam etika. Aspek pertama iaitu keupayaan menilai yang baik dan yang buruk, dosa dan pahala atau sesuai dan sebaliknya. Aspek yang kedua pula melibatkan komitmen dalam melakukan apa yang baik dan bersesuaian. Etika tidak lagi semata-mata satu topik perbualan dan isu yang diperdebatkan tetapi memerlukan tindakan dan susulan.

259 Subjektivisme Etika Subjektivisme etika adalah bergantung kepada faktor kemahuan sama ada individu atau pencipta sebagai subjeknya. Jika manusia merupakan kemahuannya, badan perundangan akan menentukan suatu keputusan itu dari segi undang-undang. Jika kemahuan itu menjadikan Tuhan sebagai subjeknya, maka hukuman lebih berbentuk kepada pembalasan Tuhan. Pengampunan dan pembalasan atas dosa yang dilakukan atau pahala atas kebaikan yang dibuat adalah antara manusia dan Tuhan.

260 Objektivisme Etika Menurut objektivisme etika, nilai-nilai moral merupakan suatu kebaikan. Undang-undang tidak dicipta dan tidak berasaskan subjek sama ada manusia atau Tuhan. Salah satu bentuk objektivisme etika ialah nilai mutlak moral (moral absolutism). Hukuman yang dikenakan adalah muktamad. Untuk mengelakkan hukuman, seseorang perlulah melengkapkan kehidupan masing –masing serta mematuhi undang-undang. Hukum Karma dan Kelahiran semula merupakan gambaran kehidupan dalam objektivisme etika yang mencapai sifat lengkapnya.

261 Kelas Teori Etika Ahli falsafah lazimnya membahagikan teori etika kepada tiga kelas am iaitu metaetika, etika normatif dan etika gunaan. Metaetika mengkaji asal prinsip-prinsip etika dan penggunaannya. Adakah prinsip etika merupakan suatu rekaan sosial? Adakah prinsip-prinsip etika ini merupakan gambaran hasil daripada emosi individu? Meta etika menjawab persoalan ini yang memfokuskan kebenaran universal, ketentuan Tuhan, alasan kepada penilaian etika dan definisi istilah-istilah berkaitan etika itu sendiri.

262 Etika normatif lebih kepada praktikal. Misalnya dalam menentukan piawaian moral terhadap tindakan yang betul atau salah. Perlukah saya mendapat keizinan daripada pemiliknya? Perlukah saya mencuri untuk sesuap nasi? Persoalan ini akan dijawab melalui panduan yang disediakan oleh etika normatif. Etika gunaan pula melibatkan penyelesaian ke atas isu- isu kontroversi seperti isu pengguguran, pembunuhan anak, pencemaran alam, homoseksual dan peperangan nuklear. Etika gunaan mengaplikasikan garis panduan konseptual dalam metaetika dan etika normatif untuk menyelesaikan isu-isu ini.

263

264

265

266

267

268

269

270

271

272

273

274

275

276

277

278

279

280

281

282

283

284

285

286

287

288  SERTIFIKAT PROFESIONAL  (SERTIFIKAT KOMPETENSI)  DIBERIKAN PADA SESEORANG  BERDASARKAN PENILAIAN ATAS  KEMAMPUAN BEKERJANYA  MELALUI PENGUKURAN PADA  PENGALAMAN KERJANYA

289 PENDIDIKAN KESARJANAAN PADA PROFESINYA  MEMPUNYAI DASAR PENGETAHUAN PROFESI (KNOWLEDGE BASE) PENGALAMAN KERJA PROFESI  MEMPUNYAI PENGALAMAN MEMENUHI BAKUAN KOMPETENSI  MEMPUNYAI KOMPETENSI

290  PENDIDIKAN KESARJANAAN  Kur-Sila Harus Mencakup Pengajaran Yang Menghasilkan Kecendekiawanan  Mutu Pendidikan Harus Tinggi  Akreditasi “A” dan “B” Atau Pendidikan Tambahan  JALUR ARTIKULASI  Akan Dimungkinkan IP Dari Politeknik, D3, STM, IKIP, dsb. Dengan Syarat Ketat  PENDIDIKAN BERKELANJUTAN  Selalu Memutakhirkan Pengetahuan

291  BERUPA PENUGASAN YANG MENGEMBAN  TANGGUNGJAWAB (WALAU SEDERHANA)  HARUS LUAS SERTA TERSUSUN DENGAN  SEMESTINYA (APPROPRIATELY STRUCTURED)  LAZIMNYA MINIMUM 5 TAHUN (UNIVERSAL)  DAPAT DIPERSINGKAT HANYA 3 TAHUN  DALAM LINGKUNGAN KERJA YANG KHAS  SEYOGYANYA TERCATAT DENGAN BAIK  (INI KELEMAHAN KITA BUDAYAKAN LOG BOOK)

292  TOLOK UKUR (BENCHMARK)  YANG MENJADI ACUAN BAGI PENGUKURAN KESEIMBANGAN MENYELURUH ANTARA PENGETAHUAN KEMAMPUAN KETRAMPILAN KEARIFAN (JUDGMENT) PENGALAMAN SIKAP KERJA  YANG DIPERLUKAN SEORANG PROFESIONAL

293  MENGISI FAIP  DENGAN MENGACU PADA  BAKUAN KOMPETENSI

294 ELEMEN KOMPETENSI URAIAN KEGIATAN UNIT KOMPETENSI BAKUAN KOMPETENSI PENGALAMAN KERJA YANG MEMBUKTIKAN KEMAMPUAN PADA ELEMEN YBS KOMPETENSI PROFESI KOMPETENSI PADA SUB-PROFESI YBS KEMAMPUAN YANG HARUS DIKUASAI PADA UNIT YBS INSINYUR “PEMBUDIDAYAAN SUMBERDAYA HAYATI”

295 UNIT KOMPETENSI kode etik profesi & tatalaku profesional kemampuan kerja perencanaan dan perancangan manajemen kerja dan komu- nikasi pendidikan dan pelatihan penelitian & pengembangan jasa konstruksi produksi/manufaktur bahan material & komponen manajemen usaha dan pemasaran teknik manajemen pembangunan & pemeliharaan asset ELEMEN KOMPETENSI mampu menjelaskan dan merumuskan kebutuhan perencanaan/perancangan mampu membuat usulan utk memenuhi kebutuhan perencanaan/perancangan mampu melaksanakan pekerjaan perencanaan/ perancangan sesuai dengan usulan yang dipilih mampu melaksanakan kaji nilai (evaluasi) atas hasil rancangan mampu menyiapkan doku- men penunjang mampu menjaga tata-keu- tuhan identitas rancangan KEGIATAN memaparkan rancangan secara manual atau dengan model komputer menyiapkan jadwal penguji-an rancangan untuk uji kinerja dan uji lingkup fisik mengawasi pengujian ran- cangan, analisis hasil peng- ujian, dan menyampaikan saran perbaikan mengkaji dampak rancangan pada kondisi sekeliling memaparkan hasil kajian dampak rancangan kepada pihak-pihak yg bersangkutan Catatan: Dalam Contoh Ini, Dan Contoh-contoh Selanjutnya, Dipakai Kalimat Bakuan Kompetensi Yang Ringkas

296  CONTOH DARI  SUB PROFESI  JASA KONSTRUKSI

297 UNIT KOMPETENSI kode etik profesi & tatalaku profesional Kemampuan kerja perencanaan dan perancangan manajemen kerja dan komu-nikasi pendidikan dan pelatihan penelitian & pengembangan jasa konstruksi produksi/manufaktur bahan material & komponen manajemen usaha dan pemasaran teknik manajemen pembangunan & pemeliharaan asset ELEMEN KOMPETENSI mampu melaksanakan perencanaan dan penjadwalan proyek mampu menyiapkan, melaksanakan dan memantau pelelangan dan kontrak proyek mampu melaksanakan pekerjaan di project site mampu melaksanakan pengelolaan kerja lapangan (MK) mampu melaksanakan uji kinerja untuk serah-terima pekerjaan (handling-over) KEGIATAN menyiapkan spesifikasi dan pentahapan pekerjaan di project site menyusun penjadwalan pekerjaan di project site menyusun spesifikasi sarana dan jasa-jasa yang dibutuhkan untuk pekerjaan di project site mengawasi pelaksanan pekerjaan di project site mentuntaskan pelaksanan pekerjaan di project site dengan memuaskan untuk dapat di-berita-acara-kan UNIT WAJIB : harus semua (4) unit. UNIT PILIHAN : cukup pilih 2 unit. ELEMEN cukup dibuktikan kompeten pada 50% elemen KEGIATAN cukup dibuktikan pengalaman pada 1 kegiatan

298  RUMUSAN BAKUAN KOMPETENSI IP PII  BERSIFAT GENERIK (‘SERAGAM’)  UNTUK SEMUA KEJURUAN  (Teknik Sipil, Elektro, Mesin, Kimia, dsb.)  KEKHASAN MASING-MASING KEJURUAN  DITERAPKAN DALAM PEMBERIAN NILAI  KRITERIA PENILAIAN  JENIS PENGALAMAN  TOLOK UKUR PENILAIAN

299 INSINYUR PROFESIONAL INSINYUR PROFESIONAL PROSES PENILAIAN BAKUAN KOMPETENSI BAKUAN KOMPETENSI MAJELIS PENILAI MAJELIS PENILAI (ASSESSMENT-nya) (ASSESSMENT-nya) CALON IP (FAIP-nya) CALON IP (FAIP-nya)

300  PEER-TO-PEER ASSESSMENT  PENILAIAN  ANTAR REKAN SE-PROFESI  Bukan Penilaian Akademis  PENILAIAN KELOMPOK  (MENCEGAH SUBYEKTIVITAS)  TIAP CALON DINILAI OLEH 3 ASESOR  - Sub-Kejuruan Yang Sama Dengan Calon  - Bidang Pekerjaan Yang Sama Dengan Calon  - Menguasai Sistem Sertifikasi IP PII

301  PENILAIAN DIRI SENDIRI  (SELF ASSESSMENT)  Calon Kemukakan Sendiri Kompetensinya  NILAI DIBERIKAN PADA  “URAIAN KEGIATAN”  Yang Berkode 3 Angka (3 Digit)  SATU PENGALAMAN (AKTIFITAS)  Dapat Dipakai Untuk Meng-’Klaim’  BEBERAPA “URAIAN KEGIATAN”

302 P 9 Bahan Material dan Komponen P 9.1 Merumuskan Kebutuhan & Pemakaian Bhn. Mat.&Komp. P 9.2 Menemukan Sumber Bhn. Mat.&Komp. P 9.3 Mengawasi Penyiapan / Pengadaan Bhn Mat.&Komp. P Kenali ciri-ciri kelemahan bahan mat. & komp. dan kemungkinan penggantinya P Kaji penggunaan bahan material dan komponen yang tepat P Jalin kerjasama dengan Kejuruan lain untuk memperoleh bantuan kepakaran P Pelajari peluang untuk daur ulang P Pelajari bahaya terhadap lingkungan dalam penggunaan dan pembuangan bhn. mat. &komp. / sisa bahan / limbah P Mencari lokasi sumber bahan baku P Memilih bahan material / komponen yang biaya pengadaannya terjangkau P Kaji tatacara penyiapan bahan material dan komponen P Kaji interaksi antara bhn.mat. & komp. P Adakan kegiatan pengendalian proses kerja dlm hubgn dgn bhn.mat.&komp.

303 UNIT KOMPETENSI kode etik profesi & tatalaku profesional Kemampuan kerja perencanaan dan perancangan manajemen kerja dan komu-nikasi pendidikan dan pelatihan penelitian & pengembangan P-7 jasa konstruksi produksi/manufaktur bahan material & komponen manajemen usaha dan pemasaran teknik manajemen pembangunan & pemeliharaan asset ELEMEN KOMPETENSI mampu melaksanakan perencanaan dan penjadwalan proyek mampu menyiapkan, melaksanakan dan memantau pelelangan dan kontrak proyek P-7.3 mampu melaksa- nakan pekerjaan di project site mampu melaksanakan pengelolaan kerja lapangan (MK) mampu melaksanakan uji kinerja untuk serah-terima pekerjaan (handling-over) KEGIATAN menyiapkan spesifikasi dan pentahapan pekerjaan di project site menyusun penjadwalan pekerjaan di project site P menyusun spesifikasi sarana dan jasa-jasa yang dibutuhkan untuk pekerjaan di project site mengawasi pelaksanan pekerjaan di project site mentuntaskan pelaksanan pekerjaan di project site dengan memuaskan untuk dapat di-berita-acara-kan

304 W 4 Pengelolaan Kerja dan Komunikasi W 4.4 Berkomunikasi Dengan Baik Dan Penguasaan Bahasa W Melakukan Komunikasi Lisan/Tertulis W Menyiapkan & Memaparkan Informasi W Melakukan Komunikasi Kepakaran Se-Profesi dan Antar Profesi W Menjabarkan Instruksi Keinsinyuran W Memberikan Instruksi Dengan Jelas W Memilih Sarana Komunikasi dan Berkomunikasi dengan Efisien W Memberikan Paparan, Briefing, dsb. W Membuat Karya Tulis atau Dokumen Elektronik Yang Dimuat di Media W Memberikan Instruksi Pada Bawahan W Memberikan Informasi Pada Atasan W Melaksanakan Perundingan/Negosiasi W Menyiapkan Laporan Hasil Kerja W Menyiapkan Dokumen Spesifikasi W Menyiapkan Analisis Lingkungan W Menafsirkan Gambar Keinsinyuran W 4.5 Mempertahan- kan Pendapat, Gagasan, dan Hasil Karya

305  HARUS DENGAN JELI MENCERMATI  BAKUAN KOMPETENSI  JUMLAH ‘KLAIM’ URAIAN KEGIATAN  DAPAT JUGA DITINGKATKAN  DENGAN ‘MEMECAH’ SUATU AKTIFITAS  ATAS SUB-SUB AKTIFITAS  YANG KOMPETENSINYA BERBEDA-BEDA  UNIT-UNIT KOMPETENSI WAJIB  JUGA BANYAK MENCAKUP HAL TEKNIS

306  SETIAP NILAI  MERUPAKAN GABUNGAN DARI :  BANYAKNYA PENGALAMAN  DALAM MELAKSANAKAN  PEKERJAAN (PROYEK)  PERANAN  KETIKA MELAKSANAKAN  PEKERJAAN (PROYEK)  TINGKAT KESULITAN  UNTUK MELAKSANAKAN  PEKERJAAN (PROYEK)

307  DINILAI DARI SEBERAPA JAUH PENGALAMAN MELAKSANAKAN AKTIFITAS/PEKERJAAN/PROYEK  YANG SAMA/SERUPA/SEJENIS  MAKIN BANYAK AKTIFITAS  YANG DILAKSANAKAN  DENGAN LAYAK/BAIK  MAKIN TINGGI NILAINYA

308  DINILAI DARI PERANAN  DALAM MELAKSANAKAN AKTIFITAS/PROYEK KEIKUT-SERTAAN :  Turut Serta (Participate)  Berperan Serta (Contribute)  Bermitra (Collaborate) JABATAN :  Anggota Kelompok (Team Member)  Pimpinan Kelompok (Team Leader)  Pakar Kelompok (Team Expert) TUGAS :  Merumuskan (Conceptual)  Merencanakan (Plan)  Melaksanakan (Execute)

309  DINILAI DARI KOMPLEKSITAS  AKTIFITAS/PEKERJAAN/PROYEK  TERLIHAT DARI : SPESIFIKASI TEKNIS KONDISI TEMPAT KEGIATAN DAN LINGKUNGANNYA NILAI BIAYA JUMLAH DAN SKILL TENAGA KERJA CARA MENYELESAIKAN PERSOALAN

310  KEGIATAN, PRESTASI, GELAR, JABATAN  YANG BUKAN PEKERJAAN (NON-PROYEK)  DIKLAT (SEBAGAI PESERTA/PELATIH) SEMINAR (SEBAGAI PESERTA/PEMAPAR) SEKOLAH PASCA-SARJANA (S2, S3) ‘GELAR’ (GURU BESAR, PENELITI UTAMA) JABATAN (DINAS, SWASTA, MASYARAKAT)  TIDAK MEMPUNYAI NILAI KOMPETENSI  TETAPI DAPAT DIJELASKAN  APA YANG DILAKUKAN DALAM KEGIATAN ITU  LALU DI-KLAIM SEBAGAI KOMPETENSI

311  BERDASARKAN NILAI (ASSESSMENT SCORE)  YANG BERHASIL DIPEROLEH SEORANG CALON  DITETAPKAN KUALIFIKASI (JENJANG) IP YBS IP Pratama ( P E ) MELAKSANAKAN KERJA PROFESI KEINSINYURAN SECARA MANDIRI (SIAP DIGUGAT) UTK TUGAS RUMIT DIBIMBING IPM IP Madya (Senior PE) MELAKSANAKAN KERJA PROFESI KEINSINYURAN SECARA SEPENUHNYA MANDIRI (SIAP DIGUGAT) IP Utama (Executive PE) MELAKSANAKAN KERJA PROFESI KEINSINYURAN :  YG SANGAT KHAS  YG SANGAT RUMIT  MEMIMPIN TEAM IP ANTAR KEJURUAN IPP: MIN. 600IPM: MIN. 3000IPU: MIN. 6000

312   Secara normal : Jumlah aktifitas per tahun : 3 aktifitas, Jumlah kegiatan dalam sebuah aktifitas adalah kegiatan  IP  pengalaman yang diperlukan : tahun jumlah aktifitas : 4 tahun x 3 aktifitas/tahun = 12 aktifitas jumlah kegiatan : 12 aktifitas x 4 kegiatan/aktifitas = 48 kegiatan  kriteria nilai minimum bagi IP : 4/kegiatan  (katakanlah: 1 x 2 x 2)  nilai kegiatan yang dapat diperoleh: 48 kegiatan x 4/kegiatan  = 192 (dibulatkan: 200)  nilai kegiatan pilihan adalah 30% dari jumlah nilai jumlah nilai yang diperlukan : 3 x 200 = 600

313  TEKNIK SIPIL, TEKNIK MESIN, TEKNIK LISTRIK, TEKNIK KIMIA,  TEKNIK FISIKA, TEKNIK GEODESI, TEKNIK LINGKUNGAN, TEKNIK INDUSTRI, TEKNIK TAMBANG, TEKNIK PERTANIAN  LAZIMNYA SESUAI PENDIDIKANNYA  (TETAPI DALAM KEADAAN TERTENTU DAPAT BERBEDA)

314  UNIT KOMPETENSI PILIHAN  (P5) PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEINSINYURAN  (P6) PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN KOMERSIALISASI PRODUK  (P7) KEINSINYURAN DALAM JASA KONSTRUKSI  (P8) KEINSINYURAN DALAM PRODUKSI / MANUFAKTUR  (P9) BAHAN MATERIAL & KOMPONEN PEKERJAAN KEINSINYURAN  (P10) MANAJEMEN USAHA KEINSINYURAN DAN PEMASARAN TEKNIK  (P11) KEINSINYURAN PEMBANGUNAN DAN PEMELIHARAAN ASSET  BOLEH > 2 UNIT TETAPI NILAI 600 LEBIH DAHULU  TERKUMPUL DARI 2 UNIT PILIHAN ITU DAN UNIT WAJIB

315  DOKUMEN PENUNJANG/PENDUKUNG  YANG DILAMPIRKAN PADA FAIP  DIUSAHAKAN SELENGKAP MUNGKIN  SEBERAPA HARUS LENGKAPNYA  TERGANTUNG PENILAIAN ANDA  SEBERAPA JAUH DOKUMEN ITU  MEMBANTU ASESOR MENILAI ANDA

316 W1 Kode Etik W.1.1 Mewujudkan Kepedulian Profresi Kepada Masyaraakat 1. Menjunjung Pancasila dan UUD Mengamalkan Pancasila dalam menjalankan profesi 3. Berpedoman UUD’45, GBHN & Perundangan berlaku 4. Menjunjung Kesetiakawanan & Kepedulian Sosial dan perkonomian masyarakat menuju cita-cita negara 5. Membangun Kemandirian Nasional & Kerjasama Intn’l 1. Menempatkan nilai Luhur Profesi 2. Menjunjung Tanggung Jawab Pelayanan Masy. Profesi sesama Insinyur 3. Bekerja pada Lingkup Kemampuan 4. Mengembangkan Nama Baik 5. Menerapkan Ketrampilan Secara Profesional 6. Bertindak Objective 7. Melakukan Pengembangan Profesi Berkelanjutan 8. Memajukan Pengetahuan W.1.2 Menghayati Kode Etik

317 W1 Kode Etik W.1.3 Memahami / Menerapkan Wawasan Kelestarian Lingkungan 1. Menyadari kelangsungan hidup 2. Menyadari keterbatasan daya dukung lingkungan 3. Memperbaiki lingkungan 4. Mempromosikan SDA tak terinci & daur ulang limbah 5. Pengelolaan lingkungan berkelanjutan 6. Memperhatikan dampak produk & proyek 7. Memperhitungkan pengaruh budaya & warisan 1. Memperhitungkan/menjaga tanggungan perdata 2. Menerapkan keselamatan kerja 3. Menyelidiki kebutuhan & menjaga keselamatan masyarakat 4. Pencegahan bencana alam 5. Pemulihan bencana alam W.1.4 Mengemban Tanggung Jawab Profesional

318 W2 Ketrampilan W.2.1 Melaksanakan Olah Karsa Beragam (Intelektual) W.2.2 Menguasai & mengembangkan Keahlian 1. Menggunakan kajian sendiri masalah keinsinyuran 2. Menggunakan kearifan membuat keputusan 3. Menerapkan tindakan kreatif dan inovatif 4. Menyelesaikan masalah keinsinyuran 5. Memperluas pengetahuan kejuruan & bidang terkait 6. Memanfaatkan peluang/kebutuhan dalam bidang 1. Gunakan ketrampilan menambah keahlian 2. Gunakan ketrampilan peroleh informasi teknologi 3. Memperluas wawasan membaca majalah, seminar dan kerjasama profesi 4. Memperdlm. Pengetahuan dasar secara sistimatik 5. Mengembangkan dari pengalaman 6. Melakukan pencatatan pengembangan profesi 1. Menemu-kenali berbagai rekayasa & standard praktis 2. Mengusulkan konsep pelaksana rekayasa tepat guna 3. Mengawasi uji dan rancangan rekayasa tepat guna 4. Mengendalikan kemutahiran dokumen 5. Mengkaji persyaratan persetujuan memberi tugas W.2.3 Metode Perekayasaan

319 W2 Ketrampilan W.2.4 Menerapkan Kaidah Penjaminan Mutu W.2.5 Perangkat Rekayasa Teknologi Tepat Guna W.2.6 Uji Coba dan Kaji Nilai 1. Menerapkan Sistem Mutu 2. Mendorong di Lingkungan Kerja 3. Melakasakan Sesuai Baku Mutu 4. Menerapkan Teknik Kendali Mutu & Jaminan Mutu 1. Menggunakan Analisa Matematika 2. Menggunakan Komputer 3. Menggunakan Perangkat Lunak 4. Menggunakan alat bantu teknologi dan memantau kinerja 1. Merumuskan Tujuan 2. Menyusun Tatacara & Jadwal 3. Mengembangkan Tatacara dan Alat 4. Melaksanakan Uji Coba dan Pengukuran 5. Mengawasi Uji Coba 6. Mengkaji Hasil Uji Coba & Pengukuran

320 W3 Perencanaan/ Perancangan W.3.1 Merumuskan Kebutuhan Acuan Rekayasa W.3.2 Membuat Usulan Kebutuhan/ Kerangka Rekayasa W.3.3 Melaksanakan Pekerjaan Perencanaan 1. Merundingkan spesifikasi awal, acuan rancangan 2. Melakukan analisa rancangan fungsional 3. Menggarap konsep rekayasa, kinerja, keandalan dan ergonomic 4. Menentukan dampak rancangan 5. Menentukan kendala spt. tanggung jawab perdata 6. Menggunakan bakuan rancangan codes standard 1. Menggunakan kreatifitas dan inisiatif 2. Mengkaji dampak kinerja 3. Menemu-kenali masalah, metode, teknologi 4. Menyiapkan analisis biaya-manfaat 5. Menyiapkan pelaksanaan usulan 1. Melaksanakan perancangan 2. Melaksanakan analisis bahan 3. Memeriksa spesifikasi

321 W3 Perencanaan/ Perancangan W.3.4 Melaksanakan Kaji Nilai Hasil W.3.5 Menyiapkan Dokumen Pendukung W.3.6 Menjaga Keutuhan Tata Idenfikasi 1. Memaparkan Rancangan atau dg. Komputer 2. Menyiapkan Jadwal Uji 3. Mengawasi Uji dan Mengajulkan Saran 4. Mengkaji Dampak Rancangan 5. Memaparkan pada Pihak Terkait 1. Menyiapkan Dokumen Pendukung Konstruksi / Produksi 2. Memeriksa Dokumen Pendukung 1. Menerapkan Tata Identifikasi 2. Merekomendasikan Perubahan 3. Mengatur Tata Indentifikasi terjaga

322 1. Mengembangkan Profesional Manajemen 2. Menentukan Sasaran 3. Mengelola Waktu 4. Mengembangkan Kepemimpinan dan Kerjasama Kelompok 5. Mengembangkan Wawasan Luas, Analisis, Kreatif W4 Pengelolaan/ Komunikasi W.4.1 Menerapkan Kaidah Manajemen Diri Sendiri W.4.2 Menerapkan Kaidah Pengelolaan Pekerjaan W.4.3 Menerapkan Kaidah Kepemimpinandl m Pekerjaan 1. Memantau dan Merencanakan Proyek 2. Mengembangkan rincian pekerjaan terstruktur 3. Menyiapkan Jadwal Pekerjaan & Jalur Kritis 4. Memantau Kemajuan Pekerjaan 1. Menilai Kinerja Bawahan 2. Mematuhi Persamaan Bekerja 3. Mematuhi Keadilan dan Kebersamaan 4. Menciptakan Lingkungan Kerja Kondusif 5. Mengorganisasi Tim Kecil 6. Melatih Kepemimpinan 7. Mematau Hasil Pelaksanaan Tugas

323 W4 Pengelolaan / Komunikasi W.4.4 Komunikasi Baik & Bahasa Internasional W.4.5 Mempertahan -kan Karsa dan Karya Keinsinyuran 1. Melakukan komunikasi Lisan/Tertulis 2. Menyiapkan/memaparkan Informasi 3. Melakukan Hub. Pakar dalam & luar Profesi 4. Menjabarkan Instruk-si Keinsinyuran 5. Memberikan Instruksi Jelas 6. Memilih Sarana & Komunikasi Tepat Guna 1. Menyampaikan Ceramah 2. Menulis untuk Majalah 3. Menyampaikan Informasi 4. Meneruskan Informasi kepada Atasan 5. Melakukan Perundingan 6. Menyiapkan Laporan 7. Menyiapkan Dokumen Spesifikasi 8. Menyiapkan AMDAL 9. Menafsirkan Gambar Teknik

324 P5 Pendidikan & Pelatihan P5.1 Mengembangkan Diklat P.5.2 Melaksanakan Diklat 1. Menetapkan Kebutuhan Pengajaran 2. Merencanakan Pengajaran 3. Mengembangkan Program Pelatihan 4. Mengembangkan Kurikulum 1. Mengembangkan proses belajar mengajar 2. Mengembangkan Renc. Pengembangan 3. Mengelola Program 4. Melaksanakan Kegiatan Pengajaran 5. Melaksanakan Teknologi Pendidikan 6. Mengembangkan Kandungan Khas 7. Menguji Peserta 8. Mernilai Kedaya-gunaan Program 9. Mengkaji Ulang

325 P6 Penelitian, Pengembangan & Komersialisasi Melakukan Penelitian Merumuskan Konsep Menemu-kenali Sumber Daya Kaji Pasar Litbang Komersialisasi Litbang 1. Mengidentifikasi Kebutuhan Penelitian 2. Melaksanakan Kajian Pustaka 3. Melakukan Penelitian Dasar 4. Mencari Pengetahuan Baru 5. Menyampaikan Hasil Penelitian 1. Menemu-kenali Kebth. Pengembangan 2. Memeriksa Konsep - konsep 3. Memilih Konsep 1. Merumuskan Kebutuhan Akhir 2. Menyiapkan Usulan 3. Menyiapkan Perkiraan Biaya 1. Merumuskan Ciri - ciri Produk 2. Mengumpulkan Informasi 3. Membuat Rekomendasi Distribusi Produk 4. Membuat Rekomendasi Membuat Produk 1. Melakukan Kaji Nilai Ekonomis 2. Memilih Mekanisme 3. Menyiapkan Model Peragaan 4. Mengembangkan Ren. Prod. Percontohan

326 P7 Konsultansi Rekayasa, Konstruksi & Instalasi P.7.1 Tugas Konsultansi P.7.2 Melaksanakan Pelelangan & Kontrak Kerja 1. Memberikan Konsultansi kpd. Pimpro. 2. Membuat Studi Kelayakan & Renc. Dasar 3. Pedoman Perancangan 4. Rancangan Pendahuluan, pengembangan dan rancangan terperinci 5. Pemantauan Kemajuan Proyek 6. Rincian Pekerjaan Terstruktur 1. Menyiapkan Jadwal Pelelangan 2. Mengkaji Nilai Jadwal Pelelangan 3. Menyiapkan Pelelangan 4. Mengkaji-nilai Penawaran 5. Menyiapkan Kontrak 6. Pemenuhan Syarat Kontrak 7. Kemajuan Pekerjaan & Selidiki Penyimpangan 8. Memantau Kinerja Kontraktor 9. Menyelidiki Kinerja Kontraktor 10. Menyiapkan Laporan Kemajuan Pekerjaan

327 P7 Konsultansi Rekayasa, Konstruksi & Instalasi P.7.4 Pengelolaan Kerja Lapangan P.7.5 Pekerjaan Uji Kinerja & Comissioning 1. Tugas Pengelolaan Kerja Lapangan 2. Tugas Pemesanan Bahan Material 3. Mengembangkan Tatalaksana Kerja 4. Mengawasi Penanganan Bahan Material 1. Tugas Pengembangan hasil pekerjaan 2. Program “commissioning” & pengawasan 3. Memastikan “commissioning” selesai dengan memuaskan P.7.3 Pekerjaan Kontruksi/ Instalasi 1. Spesifikasi dan Jadwal konstruksi 2. Susunan Pentahapan Konstruksi 3. Susun Spesifikasi Sarana dan Jasa 4. Mengawasi Pekerjaan Konstruksi 5. Memastikan pekerjaan selesai dengan baik

328 P8 Produksi/ Manufaktur P.8.2 Pengawasan Program Penjaminan Mutu P.8.3 Pengoperasian Pengendalian & Optimasi Proses 1. Mengatur kinerja produksi 2. Melaksanakan cara baru terus menerus atas proses Manufaktur 3. Terapkan kaidah kendali mutu 4. Memulai langkah perbaikan 5. Mengembangkan tata laksana kerja yg khas 6. Menilai mutu Pemasok P.8.1 Mererencakan Proses Manu- faktur/Produk si/Operasi 1. Analisis Sistem dan aliran Kerja 2. Menerapkan Kaidah Perencanaan Manajemen 3. Memantau Proses untuk Perbaikan Hasil 4. Analisis Lintasan Kritis, Garis Kesimbangan dan Program Linier 5. Hubungan Kerja Perencanaan dgn Perancang 6. Membangun Barisan Kerja 7. Analisis Biaya thd proses Manufaktur 1. Optimasi kendali operasi & proses 2. Laksanakan operasi dan kendali proses 3. Laksanakan tugas analisis nilai kerja 4. Pemiriksaaan & penyelesaian manufaktur 5. Laksanakan proses produksi manufatur 6. Melaksanakan tatalaksana ergonomi & keselamatan pabrik

329 P8 Produksi/ Manufaktur P.8.5 Mengukur Kinerja Produksi P.8.4 Tugas Kelola Persediaan 1. Tatacara penyediaan/penanganan bahan baku 2. Spesifikasi, mengadakan & alokasi bahan baku 3. Program penghematan bahan baku 1. Mengukur keluaran proses manufaktur dari segi jumlah & harga 2. Analisis produktifitas 3. Analisis penggunaan bahan baku dan bahan habis pakai untuk efisiensi

330 P9 Bahan Material dan Komponen P.9.2 Sumber Bahan Baku pengadaan komponen P.9.1 Kebutuhan dan Penggunaan Bahan Material 1. Kenali ciri-ciri kel. bahan material dan kemungkinan bahan pengganti 2. Kaji penggunaan bahan yang tepat 3. Bentuk hubungan dg. Kejuruan lain memperoleh bantuan kepakaran 4. Pelajari peluang untuk daur ulang 5. Pelajari bahaya lingkungan dalam penggunaan atau pembuangan bahan material/sisa limbah 1. Mencari lokasi sumber bahan baku 2. Memilih bahan atau komponen yang biaya pengadaannya terjangkau P.9.3 Mengawasi Penyiapan/Peng adaan Material 1. Tatacara penyiapan bahan material 2. Tentukan interaksi antara bahan material 3. Mengadakan kegiatan pengendalian proses

331 P9 Bahan Material dan Komponen P.9.5 Menjaga Mutu Bahan/Materia l/Komponen P.9.4 Menilai Sifat Bahan Material 1.Kenali rona lingkungan operasi 2. Kenali persyaratan pengujian 3. Pengawasan dan kaji nilai hasil pengujian 4. Pengarahan pemeliharaan dan kalibrasi alat 5. Menyiapkan, setujui, sahkan laporan pengujian 6. Rekomendasi material untuk Pemakain yg khas 1. Kenali penyebab penurunan mutu 2. Gunakan teknik untuk perkecil penurunan mutu 3. Gunakan teknik melihat gejala kemungkinan kegagalan 4. Perlakuan bahan material yang tepat

332 P10 Manajemen Usaha dan Pemasaran Teknik P.10.1 Mengelola sumber- daya keinsinyuran 1.Tujuan dan prioritas kerja. 2.Merumuskan metoda pendekatan. 3.Menganalisis pekerjaan untuk menyediakan dasar bagi perhitungan kebutuhan sumber daya. 4.Perkiraan waktu, sumber daya dan biaya. P.10.2 Mengelola sumber- daya manusia 1.Mematuhi ketentuan kesehatan dan keselamatan kerja. 2.Menentukan kebutuhan pelatihan. 3.Mengembangkan rencana pelatihan bawahan. 4.Pengembangan pengalaman untuk bawahan, termasuk pelatihan ulang tenaga kerja, penyesuaian teknologi baru dan pengembangan ketrampilan. 5.Mengkaji efektifitas program pelatihan di tempat kerja. 6.Merumuskan kebutuhan pelatihan tenaga non-insinyur.

333 1.Kaji-nilai ekonomis atas pekerjaan 2.Memahami dampak hukum dari tiap pekerjaan yang dilaksanakan. 3.Memahami, menafsirkan dan menerapkan peraturan yang tepat. 4.Menilai kebutuhan pemasaran dan saran untuk strategi pemasaran. 5.Mengerjakan tugas pengelolaan risiko. 6.Memahami kebutuhan kewira-usahaan dan sesuai kebutuhan dalam hal biaya, waktu dll. 7.Mengkaji dan menyiapkan rencana usaha. P10 Manajemen Usaha dan Pemasaran Teknik P.10.3 KewirausahaanK euangan dan Hukum Kontraktual P.10.4 Memutakhirkan barang/jasa keinsinyuran 1.Menyiapkan teknis produk barang/jasa keinsinyuran untuk keperluan pemasaran. 2.Menyiapkan bahan-bahan untuk operasi, pemeliharaan, penyetelan dan perbaikan atas produk barang/jasa oleh konsumen. 3.Pengamatan kebutuhan pasar/pelanggan masa-depan terhadap perbaikan dan menemu-kenali perubahan/pembaharuan atas produk barang/jasa. 4.Memantau kinerja barang/peralatan dan jasa yang dipakai pelanggan dan melakukan perbaikan dan penyempurnaan

334 1.Kajian kebutuhan pasar akan barang/jasa keinsinyuran yang hendak dipasarkan 2.Strategi dan program pentahapan pemasaran untuk menarik minat pasar/pelanggan 3.Promosi dan paparan pengenalan produk barang/jasa keinsinyuran 4.Usulan penawaran barang/jasa keinsinyuran secara mandiri atau tim proposal meliputi proposal teknis, komersial dan kontraktuil. 5.Klasifikasi, negosiasi dan beri saran, batasan tanggungjawab sampai terlaksana kontrak. P10 Manajemen Usaha dan Pemasaran Teknik P.10.5 Kaidah Pemasaran barang/jasa keinsinyuran P.10.6 Kaidah Pelayanan Purna Jual 1.Batasan syarat tanggungjawab jaminan kinerja dan perbaikan kerusakan purna jual. 2.Pelayanan teknis purna jual dan atasi masalah teknis, sesuai tanggungjawab kontraktuil. 3.Pelatihan pengembangan keahlian tenaga pemakai dan pemeliharaan produk. 4.Memelihara persediaan barang dan mengelola sumber daya untuk pelayanan purna jual. 5.Pemantauan ke pelanggan untuk tingkatkan keandalan pemakai produk dan kepuasan pelanggan.

335 1.Siapkan kebijakan umum melalui pendekatan pengembangan wilayah. 2.Siapkan kebijakan umum dengan mengacu pada kelestarian lingkungan. 3.Kebijakan umum melalui peningkatan kemampuan rancang bangun dan rekayasa produk strategis untuk pacu ekspor 4.Susun rancangan teknologi yang mendorong peningkatan keterpaduan antar sektor pembangunan. 5.Susun master plan, perencanaan jangka panjang dan pendek mendukung pengembangan daerah termasuk perkotaan. P11 Manajemen Pembangunan & Pemeliharaan Aset P.11.1 Kebijakan Umum Untuk Mendorong Sektor Pembangunan P.11.2 Kebijakan/ Strategi Investasi Teknis 1.Kebijakan teknis mendorong peran serta swasta dan masyarakat dalam pembanguna sektor-sektor publik. 2.Kembangkan sistem manajemen teknis efektif & efisien 3.Upaya penajaman prioritas pelaksanaan pembangunan guna memanfaatkan sumber-sumber daya yang terbataas

336 1.Peraturan/pedoman pembangunan & penggunaan prasarana bagi peningkatan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat 2.Rancang teknologi tepat guna, kelangsungan operasi dan pemeliharaan 3.Rancang teknologi sederhana sesuai untuk daerah pedesaan dalam upaya pengentasan kemiskinan, serta ciptakan lapangan kerja baru. 4.Rancang teknis untuk membuka dan tingkatkan pertumbuhan daerah terpencil P11 Manajemen Pembangunan & Pemeliharaan Aset P.11.3 Rumus Kebijakan & Pengaturan Teknis untuk keselamatan & kesejahteraan masy P.11.4 Pengadaan Aset 1.Menyelidiki kebutuhan akan aset baru 2.Siapkan spesifikasi uraian pengadaan aset baru 3.Laksanakan kegiatan pengadaan aset 4.Laksanakan pengujian untuk penerimaan pada saat penyerahan P.11.5 Laksanakan & Awasi Tugas Pemeliharaan Aset 1.Kembangkan falsafah pemeliharaan dan parameter kinerja aset. 2.Siapkan jadwal pemeliharaan pencegahan. 3.Menyiapkan panduan untuk pemeliharaan. 4.Menetapkan / bila perlu merancang alat bantu uji pemeliharaan. 5.Awasi tugas pemeliharaan. 6.Tentukan kebutuhan persediaan suku cadang. 7.Laksanakan pemeriksaan atas kegagalan 8.Analaisa terhadap modus kegagalan & akibatnya

337 1. Mendefinisikan parameter kinerja aset. 2. Menyiapkan petunjuk operasi dan melatih operator. 3. Merencanakan/melakukan pemantauan kondisi aset. 4. Mengawasi pengoperasian sistem-sistem aset. 5. Mengatur pengoperasian aset menjamin pelayanan. 6. Mempelajari kemungkinan perpanjang umur aset. P11 Manajemen Pembangunan & Pemeliharaan Aset P.11.6 Melaksanakan tugas pengendalian dan optimasi aset P.11.7 Merencanakan dan melaksanakan penghapusan aset 1.Mempelajari penentuan umur ekonomis aset. 2.Menyelidiki penghapusan aset secara ekonomis. 3.Merekomendasikan langkah penghapusan aset. 4.Melakukan pemulihan lahan bekas lokasi aset.


Download ppt "ETIKA PROFESI KETEKNIKAN PERTANIAN Oleh Prof. Dr. Ir. Sumardi HS, MS. Dr. Ir. Ruslan Wirosoedarmo, MS."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google