Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

TIM UKMPPD FKU MALAHAYATI

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "TIM UKMPPD FKU MALAHAYATI"— Transcript presentasi:

1 TIM UKMPPD FKU MALAHAYATI
ILMU PENYAKIT KULIT & KELAMIN DAN PARASITOLOGI TIM UKMPPD FKU MALAHAYATI

2 Urtikaria Reaksi vaskular di kulit akibat bermacam-macam sebab, biasanya ditandai dengan edema setempat yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan berwarna pucat dan kemerahan, meninggi di permukaan kulit, sekitarnya dapat dikelilingi halo Etiologi: obat, makanan, gigitan serangga, bahan fotosensitizer, inhalan, kontaktan, trauma fisik, infeksi, psikis, genetik, atau penyakit sistemik

3 Klasifikasi urtikaria
Berdasarkan waktu Akut: Kurang dari 6 minggu Kronik: lebih dari 6 minggu Berdasarkan morfologi Papular: berbentuk papul Gutata: sebesar tetesan air Girata: ukurannya besar-besar Berdasarkan luas: Lokal Generalisata Angioedema: terkena lapisan yang lebih dalam daripada dermis atau submukosa Berdasarkan penyebab Karena reaksi imunologik Bergantung pada IgE (atopi, karena antigen spesifik) Ikut sertanya komplemen (reaksi sitotoksik, reaksi kompleks imun, defisiensi C1 esterase inhibitor) Reaksi alergi tipe IV Reaksi nonimunologik Langsung memicu sel mast Bahan yang menyebabkan perubahan metabolisme asam arakidonat Trauma fisik Idiopatik

4 Jenis Keterangan Urtikaria adrenergik Urtikaria yang berhubungan dengan kenaikan konsentrasi noradrenalin dan adrenalin plasma. Dapat dipicu dengan pemberian adrenalin atau noradrenalin Urtikaria kolinergik (bagian dari urtikaria fisik) Urtikaria yang dipicu karena kenaikan suhu tubuh sendiri dan keringat Urtikaria dingin Urtikaria yang dipicu karena rangsangan dingin Urtikaria fisik Kelompok urtikaria yang dipicu oleh rangsangan fisik dari luar. Gejala khas: dermografisme Urtikaria idiopatik Urtikaria yang tidak jelas penyebabnya

5 Gejala: Pengobatan: Gatal, rasa terbakar, atau tertusuk
Eritema atau edema berbatas tegas, kadang bagian tengah tampak lebih pucat Besarnya dapat lentikular, numular, plakat Pengobatan: Menghindari penyebab Antihistamin Betaadrenergik (untuk urtikaria kronik)

6 Pemeriksaan Penunjang
Cryoglobulin, Hemolysin THT, gigi, mencari fokus infeksi bila ada IgE, eosinofil, komplemen Prick test untuk alergen inhalan Eliminasi makanan Histopatologi Urtikaria fisik akibat sinar → foto tempel Mecholyl intradermal Ice cube test utk urtikaria dingin Tes dengan air hangat

7 Angioedema pada kelopak mata
Urtikaria

8 Skabies Penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var. hominis Transmisi: kontak langsung (skin to skin), tidak langsung (pakaian) Kelainan kulit akibat terowongan tungau atau karena garukan penderita Gejala: Pruritus nokturna Menyerang manusia secara kelompok Adanya terowongan (kunikulus) yang berwarna putih/keabuan, lurus/berkelok, panjang 1 cm, pada ujung didapatkan papul/vesikel. Predileksi: sela jari tangan, pergelangan tangan bag volar, siku luar, lipat ketiak depan, areola mammae, umbilikus, bokong, genitalia eksterna, perut bawah Ditemukan tungau Obat: sulfur presipitat 4-20%, benzil benzoat 20-25%, gameksan 1%, krotamiton 10%, permetrin 5% Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

9 Psoriasis vulgaris Bercak eritema berbatas tegas dengan skuama kasar berlapis-lapis dan transparan Predileksi: skalp, perbatasan skalp-muka, ekstremitas ekstensor (siku & lutut), lumbosakral Khas: fenomena tetesan lilin, Auspitz sign, Kobner sign Patofisiologi: Genetik: berkaitan dengan HLA Imunologik: diekspresikan oleh limfosit T, sel penyaji antigen dermal, dan proliferasi keratinosit → peningkatan turn over epidermis Pencetus: stress, infeksi fokal, trauma, endokrin, gangguan metabolisme, obat, alkohol, dan merokok Tata laksana: Sistemik: KS, sitostatik (metotreksat), levodopa, etretinat, dll Topikal: preparat ter, KS, ditranol, tazaroen, emolien, dll PUVA (UVA + psoralen) Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

10

11 93. Trikomoniasis Infeksi saluran urogenital bagian bawah oleh Trichomonas vaginalis, bisa bersifat akut/kronik, penularan biasanya melalui hubungan seksual (dapat juga melalui pakaian atau karena berenang) Gejala klinis: Pada wanita: Sekret vagina seropurulen berwana kekuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak, berbusa Dinding vagina kemerahan, terdapat abses yang tampak sebagai granulasi berwarna merah (strawberry appearance), dispareunia, perdarahan pascakoitus, perdarahan intermenstrual Pada laki-laki: gambaran klinis lebih ringan, mirip uretritis nongonore Pemeriksaan: Sediaan basah : tropozoit bergerak aktif Pemeriksaan pewarnaan Giemsa Pengobatan: Topikal: cairan irigasi (H2O, asam laktat), supositoria/gel trikomoniasudal Sistemik: metronidazol (2 g single dose atau 500 mg x 7 hari), tinidazol Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

12

13 Karakteristik beberapa IMS
Penyakit Karakteristik Gonorrhea Duh purulen kadang-kadang disertai darah. Diplokokus gram negatif. Trikomoniasis Duh seropurulen kuning/kuning kehijauan, berbau tidak enak, berbusa. Strawberry appearance. Vaginosis bakterial Duh berbau tidak enak (amis), warna abu-abu homogen, jarang berbusa. Clue cells. Kandidosis vaginalis Duh berwarna kekuningan, disertai gumpalan seperti kepala susu berwarna putih kekuningan. Sel ragi, blastospora, atau hifa semu.

14 Gonorrhea Penyakit yang disebabkan infeksi Neisseria gonorrhoeae
Masa tunas 2-5 hari Jenis infeksi: Pada pria: uretritis, tysonitis, parauretritis, littritis, cowperitis, prostatitis, vesikulitis, funikulitis, epididimitis, trigonitis Gambaran uretritis: gatal, panas di uretra distal, disusul disuria, polakisuria , keluar duh yang kadang disertai darah, nyeri saat ereksi Pada wanita: uretritis, oarauretritis, servisitis, bartholinitis, salpingitis, proktitis, orofaringitis, konjungtivitis (pada bayi baru lahir), gonorrhea diseminata Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

15 Gonorrhea Pemeriksaan: Pengobatan
Sediaan langsung: diplokokus gram negatif Kultur: agar Thayer-Martin Pengobatan Diagnosis Pilihan pengobatan Uncomplicated gonococcal infection of the cervix, urethra, pharynx, or rectum  First line: Ceftriaxone (250 mg IM, single dose) or Cefixime (400 mg PO, single dose) plus Treatment for Chlamydia if chlamydial infection is not ruled out: Azithromycin (1 g PO, single dose) or Doxycycline (100 mg PO bid for 7 days) Alternative: Ceftizoxime (500 mg IM, single dose) or Cefotaxime (500 mg IM, single dose) or Spectinomycin (2 g IM, single dose) or Cefotetan (1 g IM, single dose) plus probenecid (1 g PO, single dose) or Cefoxitin (2 g IM, single dose) plus probenecid (1 g PO, single dose) Longo DL. Harrison’s principles of internal medicine, 18th ed. McGraw-Hill; 2012.

16 Herpes zoster Penyakit yang disebabkan virus varicella zoster yang menyerang kulit dan mukosa, merupakan reaktivasi setelah infeksi primer (varicella) Predileksi: daerah torakal, unilateral, bersifat dermatomal Gejala: Gejala prodromal sistemik (demam, pusing, malaise) & lokal (myalgia, gatal, pegal) Timbul eritema yang kemudian menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar eritematosa & edema, kemudian menjadi pustul dan krusta Pembesaran KGB regional Herpes zoster oftalmikus: infeksi n.V-1 Sindrom Ramsay-Hunt: gangguan n. fasialis & otikus Komplikasi: neuralgia pascaherpetik: nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah sembuh Pengobatan: acyclovir (pada herpes zoster oftalmikus dan pasien dengan defisiensi imun) Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

17

18 Kandidosis Kandidosis: penyakit jamur bisa bersifat akut/subakut disebabkan oleh genus Candida Klasifikasi Kandidosis mukosa: kandidosis oral, perleche, vulvovaginitis, balanitis, mukokutan kronik, bronkopulmonar Kandidosis kutis: lokalisata, generalisata, paronikia & onikomikosis, granulomatosa Kandidosis sistemik: endokarditis, meningitis, pyelonefritis, septikemia Reaksi id (kandidid) Faktor Endogen: perubahan fisiologik (kehamilan, obesitas, iatrogenik, DM, penyakit kronik), usia (orang tua & bayi), imunologik Eksogen: iklim panas, kelembaban tinggi, kebiasaan berendam kaki, kontak dengan penderita Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

19 Kandidosis kutis Bentuk klinis:
Kandidosis intertriginosa: Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, sela jari, glans penis, dan umbilikus berupa bercak berbatas tegas, bersisik, basah, eritematosa. Dikelilingi ileh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula Kandidosis perianal: Lesi berupa maserasi seperti dermatofit tipe basah Kandidosis kutis generalisata: Lesi terdapat pada glabrous skin. Sering disertai glossitis, stomatitis, paronikia Pemeriksaan: KOH (selragi, blastospora, hifa semu), kultur di agar Sabouraud Pengobatan: hindari faktor predisposisi, antifungal (gentian violet 0,5-1%, nistatin, amfoterisin B, grup azole) Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

20 Morfologi koloni C. albicans pada medium padat agar Sabouraud Dekstrosa
Bulat dengan permukaan sedikit cembung, halus, licin Warna koloni putih kekuningan dan berbau asam seperti aroma tape.

21 Pitiriasis rosea Dermatitis eritroskuamosa yang disebabkan oleh infeksi virus (self-limiting disease) Bentuk klinis: Dimulai dengan lesi inisial berbentuk eritema berskuama halus dengan kolaret (herald patch) Disusul dengan lesi yang lebih kecil di badan, paha dan lengan atas, tersusun sesuai lipatan kulit (inverted christmas tree appearance) Pengobatan: simtomatik Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

22 Herald patch

23 Kusta/morbus Hansen Penyakit infeksi kronik akibat infeksi Mycobacterium leprae Gejala klinis: Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

24 Tuberculoid Lepromatous
Few well-defined hypopigmented hypesthetic macules with raised edges and varying in size from a few millimeters to very large lesions covering the entire trunk. Erythematous or purple border and hypopigmented center. Sharply defined, raised; often annular; enlarge peripherally. Central area becomes atrophic/depressed. Advanced lesions are anesthetic, devoid of skin appendages (sweat glands, hair follicles).  test pinprick, temperature, vibration Any site including the face. May be a thickened nerve on the edge of the lesion; large peripheral nerve enlargement frequent (ulnar). Skin-colored or slightly erythematous papules/nodules. Lesions enlarge; new lesions occur and coalesce. Later: symmetrically distributed nodules, raised plaques, diffuse dermal infiltrate, which on face results in loss of hair (lateral eyebrows and eyelashes) and leonine facies (lion's face). Bilaterally symmetric involving earlobes, face, arms, and buttocks, or less frequently the trunk and lower extremities. More extensive nerve involvement Wolff K. Fitzpatrick’s color atlas & synopsis of clinical dermatology, 5th ed. McGraw-Hill; 2007.

25 Tipe Lesi Batas Permukaan BTA Lepromin I Makula hipopigmentasi Jelas Halus agak berkilat, anestesi - + TT Makula eritematosa bulat/lonjong, bagian tengah sembuh Kering bersisik, anestesi + kuat BT Makula eritematosa tidak teratur, mula-mula ada tanda kontraktur +/- + lemah BB Plakat, dome-shaped, punched-out Agak jelas Agak kasar, agak berkilat BL Makula infiltrat merah Halus berkilat LL Makula infiltrat difus berupa nodus simetri, saraf terasa sakit Tidak jelas

26 Pemeriksaan Bakterioskopik: Ziehl-Neelsen
Pausibasilar Multibasilar Lesi kulit (makula datar, papul meninggi, nodus) 1-5 lesi Hipopigmentasi/eritema Distribusi tidak simetris Hilangnya sensasi yang jelas >5 lesi Distribusi lebih simetris Hilangnya sensasi kurang jelas Kerusakan saraf (menyebabkan hilangnya sensasi/kelemahan otot yang dipersarafi) Hanya satu cabang saraf Banyak cabang saraf Pemeriksaan Bakterioskopik: Ziehl-Neelsen Histopatologik: sel datia Langhans, atau sel Virchow Serologik: MLPA, ELISA, ML dipstick

27 Pemeriksaan sensibilitas
Jarum → nyeri Kapas → raba Rasa suhu bila belum jelas Dengan tabung reaksi panas dan dingin

28 Pitiriasis versikolor
Penyakit jamur superfisial yang kronik disebabkan Malassezia furfur Gejala: Bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat hitam, meliputi badan, ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka, kulit kepala yang berambut Asimtomatik – gatal ringan, berfluoresensi Pemeriksaan: lampu Wood (kuning keemasan), KOH 20% (hifa pendek, spora bulat: meatball & spaghetti appearance) Obat: selenium sulfida (shampoo), azole, sulfur presipitat Jika sulit disembuhkan atau generalisata, dapat diberikan ketokonazol 1x200mg selama 10 hari Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

29 Filariasis Penyakit yang disebabkan cacing Filariidae, dibagi menjadi 3 berdasarkan habitat cacing dewasa di hospes: Kutaneus: Loa loa, Onchocerca volvulus, Mansonella streptocerca Limfatik: Wuchereria bancroftii, Brugia malayi, Brugia timori Kavitas tubuh: Mansonella perstans, Mansonella ozzardi Fase gejala filariasis limfatik: Mikrofilaremia asimtomatik Adenolimfangitis akut: limfadenopati yang nyeri, limfangitis retrograde, demam, tropical pulmonary eosinophilia (batuk, mengi, anoreksia, malaise, sesak) Limfedema ireversibel kronik Grading limfedema (WHO, 1992): Grade 1 - Pitting edema reversible with limb elevation Grade 2 - Nonpitting edema irreversible with limb elevation Grade 3 - Severe swelling with sclerosis and skin changes Wayangankar S. Filariasis. WHO. World Health Organization global programme to eliminate lymphatic filariasis. WHO Press; 2010.

30

31

32 Pemeriksaan & tatalaksana filariasis limfatik
Pemeriksaan penunjang: Deteksi mikrofilaria di darah Deteksi mikrofilaria di kiluria dan cairan hidrokel Antibodi filaria, eosinofilia Biopsi KGB Pengobatan: Tirah baring, elevasi tungkai, kompres Antihelmintik (ivermectin, DEC, albendazole) Suportif Pengobatan massal dengan albendazole+ivermectin (untuk endemik Onchocerca volvulus) atau albendazole+DEC (untuk nonendemik Onchocerca volvulus) guna mencegah transmisi Bedah (untuk kasus hidrokel/elefantiasis skrotal) Diet rendah lemak dalam kasus kiluria

33 Panjang:lebar kepala sama
Inti teratur Tidak terdapat inti di ekor Wuchereria bancroftii Perbandingan panjang:lebar kepala 2:1 Inti tidak teratur Inti di ekor 2-5 buah Brugia malayi Perbandingan panjang:lebar kepala 3:1 Inti tidak teratur Inti di ekor 5-8 buah Brugia timori

34 Schistosoma Penyakit : skistosomiasis= bilharziasis
Morfologi dan Daur Hidup Hidup in copula di dalam pembuluh darah vena-vena usus, vesikalis dan prostatika. Di bagian ventral cacing jantan terdapat canalis gynaecophorus, tempat cacing betina. Telur tidak mempunyai operkulum dan berisi mirasidium, mempunyai duri dan letaknya tergantung spesies. Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di jaringan dan akhirnya masuk ke lumen usus atau kandung kencing Telur menetas di dalam air mengeluarkan mirasidium

35

36 Schistosoma japonicum
TELUR BENTUK : BULAT AGAK LONJONG DNG TONJOLAN DI BAGIAN LATERAL DEKAT KUTUB UKURAN : 100 x 65 µm TELUR BERISI EMBRIO TANPA OPERKULUM SERKARIA Schistosoma sp EKOR BERCABANG

37 Gejala klinis Efek patologis tergantung jumlah telur yang dikeluarkan dan jumlah cacing . Keluhan : demam, malaise, berat badan menurun Pada infeksi berat → Sindroma disentri Hepatomegali timbul lebih dini disusul splenomegali; terjadi 6-8 bulan setelah infeksi.

38 Infeksi cacing tambang
Disebabkan Ancylostoma duodenale & Necator americanus Gejala: Pruritus lokal pada tempat yang mengalami invasi Nyeri abdomen, diare, muntah Anemia defisiensi besi Infeksi berat menyebabkan pneumonitis (Loefflerlike syndrome) Haburchak DR. Hookworms.

39

40 http://www. cdc. gov/parasites/hookworm/health_professionals/index

41 Nama cacing Cacing dewasa Telur Obat Ascaris lumbricoides Mebendazole, pirantel pamoat Taenia solium Albendazole, prazikuantel, bedah Enterobius vermicularis Pirantel pamoat, mebendazole, albendazole Ancylostoma duodenale Necator americanus Mebendazole, pirantel pamoat, albendazole Schistosoma haematobium Prazikuantel Trichuris trichiura Mebendazole, albendazole Brooks GF. Jawetz, Melnick & Adelberg’s medical microbiology, 23rd ed. McGraw-Hill; 2004.

42 Cutaneous larva migrans (creeping eruption)
Peradangan berbentuk linear, berkelok-kelok, menimbul dan progresif Penyebab: Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum Larva masuk kulit, menimbulkan rasa gatal dan panas, diikuti lesi linear berkelok-kelok, menimbul, serpiginosa membentuk terowongan Gatal hebat pada malam hari Pengobatan: tiabendazole, albendazole, cryotherapy, kloretil Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

43 Fascioliasis Human fascioliasis is usually recognized as an infection of the bile ducts and liver, but infection in other parts of the body can occur. In the early (acute) phase, symptoms can occur as a result of the parasite's migration from the intestine to and through the liver. Symptoms can include gastrointestinal problems such as nausea, vomiting, and abdominal pain/tenderness. Fever, rash, and difficulty breathing may occur.

44 Fasciola Hepatica life cycle

45 A, B, C: Telur Fasciola hepatica. Pengecatan: iodine.
Microscopy A, B, C: Telur Fasciola hepatica.  Pengecatan: iodine.  A,B bentuk membulat; C. Terlihat operculum pada terminal

46 Cutaneous Anthrax 95% of all cases globally Incubation: 2 to 3 days
Spores enter skin through open wound or abrasion Papule → vesicle → ulcer → eschar Case fatality rate 5 to 20% Untreated – septicemia and death The cutaneous form of anthrax accounts for 95% of all cases globally. Incubation is typically 2 to 3 days, but can be longer. Spores typically enter the skin via abrasions or other open wounds. A papule develops and progresses into a vesicle. The vesicle ruptures, becomes necrotic, and enlarges, forming an ulcer covered by a characteristic black eschar in 7 to 10 days. The eschar may be surrounded by moderate to severe non pitting, gelatinous edema. Low-grade fever and malaise are frequent. The eschar dries and tails of within one to two weeks. The case fatality rate for cutaneous anthrax is 5 to 20%. If left untreated it can lead to septicemia and death. Death can occur through asphyxiation from the edema if the lesion is around the head or neck. Center for Food Security and Public Health, Iowa State University, 2011

47 Day 6 Day 2 Day 4 This slide shows the progression of a cutaneous case. Head, forearms, and hands are most often affected. [Images from CDC: Day 6 Day 6 Day 10 Center for Food Security and Public Health, Iowa State University, 2011

48 The Organism Bacillus anthracis Large, gram-positive, non-motile rod
Two forms Vegetative, spore Over 1,200 strains Nearly worldwide distribution Bacillus anthracis is a gram-positive rod that exists in two forms: the vegetative bacillus and the spore. Within an infected host, spores germinate to produce the vegetative forms which eventually kill the host. These bacilli are released by the dying or dead animal into the environment (usually soil under the carcass). There they sporulate, ready to be taken up by another animal. Although vegetative forms of B. anthracis grow and multiply readily in normal laboratory nutrient agars or broths, they are more "fragile" than the vegetative forms of other Bacillus species, dying in simple environments such as water or milk. B. anthracis is dependent on sporulation for species survival making it an obligate pathogen. Anthrax can be found nearly worldwide and has roughly 1,200 various strains. [Top image: non-hemolytic Bacillus anthracis on sheep blood agar with “Medusa head” appearance (non-pigmented, dry, ground glass surface, edge irregular with comma projections). Bottom image: Gram stained B. anthracis bacilli. Both images from CDC Public Health Image Library.] Center for Food Security and Public Health, Iowa State University, 2011

49 108. Vektor

50

51

52 Pemfigus

53 Kelainan Penjelasan Pemfigus vulgaris Penyakit kulit autoimun berbula kronik, menyerang kulit dan membran mukosa yang secara histologik ditandai dengan bula intraepidermal akibat proses akantolisis dan secara imunopatologik ditemukan antibodi terhadap komponen desmosom pada permukaan keratinosit jenis IgG, baik terikat maupun beredar dalam darah. Khas: bula kendur, bila pecah menjadi krusta yang bertahan lama, nikolsky sign (+) Pemfigoid bulosa Perbedaan dengan pemfigus vulgaris: keadaan umum baik, dinding bula tegang , bula subepidermal, terdapat IgG linear

54 Cicatricial Pemphigoid Paraneoplastic Pemphigus e.c Castleman tumor
Pemphigus Vulgaris Pemphigus Vulgaris Bullous Pemphigoid Pemphigus Foliceus Cicatricial Pemphigoid Paraneoplastic Pemphigus e.c Castleman tumor Cleared when the tumor removed

55 Balantidiasis

56 Balantidium coli ~70 x 45 m (up to 200 m) ~55 m

57 Most people who are infected with Balantidium coli remain asymptomatic
Most people who are infected with Balantidium coli remain asymptomatic. An infected individual may have cysts or trophozoites in their feces, but be free of any other symptoms or complaints Common symptoms of Balantidiasis include chronic diarrhea, occasional dysentery (diarrhea with passage of blood or mucus), nausea, foul breath, colitis, abdominal pain

58

59 Amoebiasis

60

61

62 Immature Entamoeba histolytica cyst (mature cysts have 4 nuclei)
Trophozoites of Entamoeba histolytica with ingested erythrocytes

63 METRONIDAZOLE Mixed amoebicide. Drug of choice for intestinal &
extraintestinal amoebiasis. Acts on trophozoites. Has no effect on cysts. Nitro group of metronidazole is reduced by protozoan leading to cytotoxic reduced product that binds to DNA and proteins resulting into parasite death.

64 Malaria

65

66 Definitive host (final h
Definitive host (final h.) is a host in which a parasite attains sexual maturity; harbours the adult or sexually mature parasite (where the sexual reproductive cycle take place). Intermediate host harbours the immature or asexual stages of the parasite. Reservoir host an animal that harbours the same species of parasites as man and constitute a source of infection to him. Vector is an arthropod that carriers a parasite to its host

67 Malaria Human: asexual stage (intermediate host)
Anopheles mosquito : sexual reproduction (definitive host)


Download ppt "TIM UKMPPD FKU MALAHAYATI"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google