Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Morfologi 1 dirman, mpd. morfologi 2 dirman, mpd.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Morfologi 1 dirman, mpd. morfologi 2 dirman, mpd."— Transcript presentasi:

1 morfologi 1 dirman, mpd

2 morfologi 2 dirman, mpd

3 morfologi 3 dirman, mpd

4 morfologi 4 dirman, mpd

5 morfologi 5 dirman, mpd MATA KULIAH MORFOLOGI BAHASA INDONESIA MORFOLOGI BAHASA INDONESIA OLEH OLEH DIRMAN, M.Pd DIRMAN, M.Pd

6 morfologi 6 dirman, mpd Apakah Morfologi itu? Morfologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik (Ramlan, 1987: 21). Morfologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik (Ramlan, 1987: 21).

7 morfologi 7 dirman, mpd lanjutan Morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi- kombinasinya; bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian-bagian kata yakni morfem (Kridalaksana, 1993: 51). Morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi- kombinasinya; bagian dari struktur bahasa yang mencakup kata dan bagian-bagian kata yakni morfem (Kridalaksana, 1993: 51). Morfologi adalah bagian dari tatabahasa yang membicarakan bentuk kata (Keraf, 1984: 51). Morfologi adalah bagian dari tatabahasa yang membicarakan bentuk kata (Keraf, 1984: 51).

8 morfologi 8 dirman, mpd Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapatlah dinyatakan bahwa morfologi adalah bidang linguistik, ilmu bahasa, atau bagian dari tatabahasa yang mempelajari morfem dan kata beserta fungsi perubahan-perubahan gramatikal dan semantiknya. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapatlah dinyatakan bahwa morfologi adalah bidang linguistik, ilmu bahasa, atau bagian dari tatabahasa yang mempelajari morfem dan kata beserta fungsi perubahan-perubahan gramatikal dan semantiknya.

9 morfologi 9 dirman, mpd BAGAIMANAKAH RUANG LINGKUP MORFOLOGI Ruang Lingkup Morfologi Ruang Lingkup Morfologi morf morfem alomorf

10 morfologi 10 dirman, mpd Morfem Pengertian Morfem Pengertian Morfem Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna (Chaer, 1994: 146). Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna (Chaer, 1994: 146). Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil; misalnya (ter- ), (di-), (pensil), dan sebagainya adalah morfem (Kridalaksana, 1993: 141). Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan yang tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil; misalnya (ter- ), (di-), (pensil), dan sebagainya adalah morfem (Kridalaksana, 1993: 141).

11 morfologi 11 dirman, mpd lanjutan Morfem adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat dibedakan artinya (Keraf, 1984: 52). Morfem adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat dibedakan artinya (Keraf, 1984: 52).

12 morfologi 12 dirman, mpd simpulan Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapatlah disimpulkan bahwa morfem tidak lain adalah satuan bahasa atau gramatik terkecil yang bermakna, yang dapat berupa imbuhan atau pun kata. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapatlah disimpulkan bahwa morfem tidak lain adalah satuan bahasa atau gramatik terkecil yang bermakna, yang dapat berupa imbuhan atau pun kata.

13 morfologi 13 dirman, mpd Penentuan Morfem Menurut Ramlan (1985) morfem dapat ditentukan berdasarkan enam prinsip yaitu sebagai berikut: Menurut Ramlan (1985) morfem dapat ditentukan berdasarkan enam prinsip yaitu sebagai berikut: 1) Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis dan arti (leksikal) atau makna gramatikal) yang sama merupakan satu morfem, misalnya, satuan lihat dalam dilihat, melihat, penglihatan. Dengan demikian lihat merupakan morfem. 1) Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis dan arti (leksikal) atau makna gramatikal) yang sama merupakan satu morfem, misalnya, satuan lihat dalam dilihat, melihat, penglihatan. Dengan demikian lihat merupakan morfem.

14 morfologi 14 dirman, mpd lanjutan 2) Satuan-stauan yang mempunyai struktur fonologis berbeda merupakan satu morfem apabila satuan-satuan itu mempunyai arti/makna yang sama, dan perbedaan satuan fonologisnya dapat dijelaskan secra fonologis. Sebagai contoh, mem-, men-, dan meng- dalam kata membawa, mendukung, menggali memiliki arti yang sama dan struktur fonologisnya dapat dijelaskan secara fonologis. Yaitu, satuan-satuan itu muncul karena mengikuti konsonan /b/, /d/, dan /g/. 2) Satuan-stauan yang mempunyai struktur fonologis berbeda merupakan satu morfem apabila satuan-satuan itu mempunyai arti/makna yang sama, dan perbedaan satuan fonologisnya dapat dijelaskan secra fonologis. Sebagai contoh, mem-, men-, dan meng- dalam kata membawa, mendukung, menggali memiliki arti yang sama dan struktur fonologisnya dapat dijelaskan secara fonologis. Yaitu, satuan-satuan itu muncul karena mengikuti konsonan /b/, /d/, dan /g/.

15 morfologi 15 dirman, mpd lanjutan 3) Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologis, masih dapat dianggap satu morfem apabila mempunyai arti/makna yang sama dan mempunyai distribusi komplementer (dapat diterapkan secara silih berganti). Misalnya, bel- dalam kata belajar merupakan satu morfem dengan satuan ber- dalam berkebun atau be- dalam bekerja, sebab mempunyai makna yang sama dan dapat diterapkan secara silih berganti.

16 morfologi 16 dirman, mpd 4) Apabila dalam dereten struktur suatu satuan berparalel dengan suatu kekosongan, kekosongan itu merupakan morfem. Sebagai contoh, dalam kalimat Dia makan kacang, kata makan dipakai tanpa menggunakan me-. Morfem yang tidak ada dalam struktur disebut morfem zero. 4) Apabila dalam dereten struktur suatu satuan berparalel dengan suatu kekosongan, kekosongan itu merupakan morfem. Sebagai contoh, dalam kalimat Dia makan kacang, kata makan dipakai tanpa menggunakan me-. Morfem yang tidak ada dalam struktur disebut morfem zero.

17 morfologi 17 dirman, mpd lanjutan Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda. Dikatakan morfem yang sama jika maknanya berhubungan walaupun letaknya dalam kalimat tidak sama, misalnya kata duduk dalam kalimat Ia sedang duduk dan duduk orang itu sangat sopan. Dikatakan morfem berbeda apabila artinya berbeda, misalnya kata buku berarti ‘kitab’ dan buku berarti “sendi’ atau kata mulut dalam kalimat Mulut gua itu lebar dan Mulut orang itu lebar. Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda. Dikatakan morfem yang sama jika maknanya berhubungan walaupun letaknya dalam kalimat tidak sama, misalnya kata duduk dalam kalimat Ia sedang duduk dan duduk orang itu sangat sopan. Dikatakan morfem berbeda apabila artinya berbeda, misalnya kata buku berarti ‘kitab’ dan buku berarti “sendi’ atau kata mulut dalam kalimat Mulut gua itu lebar dan Mulut orang itu lebar.

18 morfologi 18 dirman, mpd lanjutan 6) Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem, misalnya, di samping kata bersandar yang memiliki satuan ber- dan sandar terdapat kata sandaran yang memiliki satuan sandar dan –an. Oleh karena itu, ber-, sandar, dan –an merupakan morfem yang berbeda. 6) Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem, misalnya, di samping kata bersandar yang memiliki satuan ber- dan sandar terdapat kata sandaran yang memiliki satuan sandar dan –an. Oleh karena itu, ber-, sandar, dan –an merupakan morfem yang berbeda.

19 morfologi 19 dirman, mpd simpulan morfem bebas terikat Sandar, mulut, gua, punya, dll Ber-, di-, meng-, dll

20 morfologi 20 dirman, mpd Morf dan Alomorf Morf adalah anggota morfem yang belum ditentukan distribusinya. Misalnya/i/ pada kata kenai adalah morf; morf adalah ujud kongkret atau ujud fonemis dari morfem, misalnya men- adalah ujud konkret dari meN- yang bersifat abstrak (Kridalaksana, 1993: 141). Morf adalah anggota morfem yang belum ditentukan distribusinya. Misalnya/i/ pada kata kenai adalah morf; morf adalah ujud kongkret atau ujud fonemis dari morfem, misalnya men- adalah ujud konkret dari meN- yang bersifat abstrak (Kridalaksana, 1993: 141).

21 morfologi 21 dirman, mpd lanjutan Alomorf adalah anggota morfem yang telah ditentukan posisinya. Misalnya, /ber/, /be/, dan /bel/ adalah alomorf dari ber-, seperti pada kata bernyanyi, bekerja, dan belajar; meN- mempunyai alomorf meng-, men-, me-, mem-, meny-, dan menge-, seperti pada kata-kata mengajak, menulis, melukis, membawa, menyapa, dan mengecat. Alomorf adalah anggota morfem yang telah ditentukan posisinya. Misalnya, /ber/, /be/, dan /bel/ adalah alomorf dari ber-, seperti pada kata bernyanyi, bekerja, dan belajar; meN- mempunyai alomorf meng-, men-, me-, mem-, meny-, dan menge-, seperti pada kata-kata mengajak, menulis, melukis, membawa, menyapa, dan mengecat.

22 morfologi 22 dirman, mpd Klasifikasi Morfem Chaer (1994: 151) mengklasifikasikan morfem sebagai berikut ini. Chaer (1994: 151) mengklasifikasikan morfem sebagai berikut ini. a. Berdasarkan kebebasannya, dibedakan adanya: a. Berdasarkan kebebasannya, dibedakan adanya: Morfem bebas, yaitu morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam penuturan. Misalnya, bentuk pulang, makan, rumah, bagus, adalah termasuk morfem bebas. Morfem bebas, yaitu morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam penuturan. Misalnya, bentuk pulang, makan, rumah, bagus, adalah termasuk morfem bebas. Morfem terikat, aitu morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri dan yang selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk ujaran. Misalnya, bentuk juang, henti, gaul, dan semua bentuk afiks. Morfem terikat, aitu morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri dan yang selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk ujaran. Misalnya, bentuk juang, henti, gaul, dan semua bentuk afiks.

23 morfologi 23 dirman, mpd morfem Berdasarkan keutuhaannya, dibedakan adanya: Berdasarkan keutuhaannya, dibedakan adanya: Morfem utuh, yaitu morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Misalnya, meja, kursi, rumah henti, juang, dan sebagainya. Morfem utuh, yaitu morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Misalnya, meja, kursi, rumah henti, juang, dan sebagainya. Morfem terbagi, yaitu morfem yang merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi. Misalnya, pada kata satuan (satu) merupakan morfem utuh dan (ke-/-an) adalah morfem terbagi. Semua afiks dalam bahasa Indonesia termasuk morfem terbagi. Morfem terbagi, yaitu morfem yang merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi. Misalnya, pada kata satuan (satu) merupakan morfem utuh dan (ke-/-an) adalah morfem terbagi. Semua afiks dalam bahasa Indonesia termasuk morfem terbagi.

24 morfologi 24 dirman, mpd morfem Berdasarkan unsur pembentuknya, dibedakan adanya: Berdasarkan unsur pembentuknya, dibedakan adanya: Morfem segmental, yaitu morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem (lihat), (lah) dan semua morfem yang berujud bunyi. Morfem segmental, yaitu morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem (lihat), (lah) dan semua morfem yang berujud bunyi. Morfem suprasegmental, yaitu morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Contohnya, seperti dalam bahasa Cina, Burma, dan Tha. Morfem suprasegmental, yaitu morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Contohnya, seperti dalam bahasa Cina, Burma, dan Tha.

25 morfologi 25 dirman, mpd morfem Berdasarkan maknanya, dibedakan adanya: Berdasarkan maknanya, dibedakan adanya: 1. Morfem bermakna leksikal, yaitu morfem-morfem yang secara inher telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dengan morfem lain. Misalnya, morfem-morfem seperti (kuda), (pergi), (lari), dan sebagainya adalah morfem bermakna leksikal. Morfem- morfem seperti itu sudah dapat digunakan secara bebas dan mempunyai kedudukan yang otonom dalam pertuturan. 2. Morfem tak bermakna leksikal, yaitu morfem-morfem yang tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri sebelum bergabung dengan morfem lainnya dalam proses morfologis. Misalnya, morfem-morfem afiks (ber-), (me-), (ter-), dan sebagainya.

26 morfologi 26 dirman, mpd Ujud Morfem Ujud morfem dapat berupa kata, akar, afiks, dan klitik. Berikut penjelasannya, Ujud Morfem kata akar afiks klitik

27 morfologi 27 dirman, mpd Ujud Morfem a. Kata, yaitu satuan bebas yang paling kecil; setiap satuan bebas adalah kata. Contohnya adalah rumah, perumahan, sekolah, mahasiswa, dan sebagainya. a. Kata, yaitu satuan bebas yang paling kecil; setiap satuan bebas adalah kata. Contohnya adalah rumah, perumahan, sekolah, mahasiswa, dan sebagainya. b. Akar, yaitu dasar dari segala kata, baik berbentuk bebas maupun terikat yang telah memiliki makna. Misalnya, bentuk bebas seperti buku, rumah, cantik, dan sebagainya; bentuk terikat seperti kendara, juang, temu, dan sebagainya. b. Akar, yaitu dasar dari segala kata, baik berbentuk bebas maupun terikat yang telah memiliki makna. Misalnya, bentuk bebas seperti buku, rumah, cantik, dan sebagainya; bentuk terikat seperti kendara, juang, temu, dan sebagainya.

28 morfologi 28 dirman, mpd Ujud morfem c. Afiks, yaitu bentuk terikat yang apabila ditempelkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya. Afiks mencakup prefiks, supiks, dan konfiks. c. Afiks, yaitu bentuk terikat yang apabila ditempelkan pada bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya. Afiks mencakup prefiks, supiks, dan konfiks. d. Klitik, yaitu satuan yang secara gramatikal tidak mempunyai kebebasan, tetap mempunyai makna leksikal meskipun tidak memiliki ciri-ciri sebagai akar atau kata, Klitik mencakup proklitik dan enklitik. Misalnya, proklitik: kutulis, kubaca, kutanya, dan sebagainya; enklitik: tulisanku, bukumu, suratnya, dan sebgainya. d. Klitik, yaitu satuan yang secara gramatikal tidak mempunyai kebebasan, tetap mempunyai makna leksikal meskipun tidak memiliki ciri-ciri sebagai akar atau kata, Klitik mencakup proklitik dan enklitik. Misalnya, proklitik: kutulis, kubaca, kutanya, dan sebagainya; enklitik: tulisanku, bukumu, suratnya, dan sebgainya.

29 morfologi 29 dirman, mpd Pengertian Kata Kata adalah kesatuan-kesatuan yang terkecil yang diperoleh sesudah sebuah kalimat dibagi atas bagian-bagiannya, dan yang mengandung suatu ide (Keraf, 1984: 53). Kata adalah kesatuan-kesatuan yang terkecil yang diperoleh sesudah sebuah kalimat dibagi atas bagian-bagiannya, dan yang mengandung suatu ide (Keraf, 1984: 53).

30 morfologi 30 dirman, mpd Pengertian Kata Kata adalah satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas; satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (misalnya: batu, rumah, datang, dan sebagainya), atau gabungan morfem (misalnya: pejuang, mengikuti, pancasila, mahakuasa, dan sebaghinya) (Kridalaksana, 1993: 98). Kata adalah satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas; satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal (misalnya: batu, rumah, datang, dan sebagainya), atau gabungan morfem (misalnya: pejuang, mengikuti, pancasila, mahakuasa, dan sebaghinya) (Kridalaksana, 1993: 98).

31 morfologi 31 dirman, mpd Kata ialah satuan gramatikal bebas yang terkecil. Kata bebas di sini dipakai dalam arti secara gramatikal, atau dengan kata lain dapat diisolasikan (Ramlan, 1991: 7). Kata ialah satuan gramatikal bebas yang terkecil. Kata bebas di sini dipakai dalam arti secara gramatikal, atau dengan kata lain dapat diisolasikan (Ramlan, 1991: 7).

32 morfologi 32 dirman, mpd simpulan Berdasarkan ketiga pendapat tersebut dapatlah ditegaskan di sini bahwa yang dimaksud dengan kata tidak lain adalah satuan bahasa terkecil yang bermakna yang memiliki sifat bebas atau berdiri sendiri dalam pengunaan bahasa. Dalam bentuknya, kata dapat berupa morfem tunggal dan gabungan morfem. Setiap kata adalah morfem, tetapi setiap morfem belum tentu sebuah kata karena morfem dapat berupa morfem terikat seprti afiks. Berdasarkan ketiga pendapat tersebut dapatlah ditegaskan di sini bahwa yang dimaksud dengan kata tidak lain adalah satuan bahasa terkecil yang bermakna yang memiliki sifat bebas atau berdiri sendiri dalam pengunaan bahasa. Dalam bentuknya, kata dapat berupa morfem tunggal dan gabungan morfem. Setiap kata adalah morfem, tetapi setiap morfem belum tentu sebuah kata karena morfem dapat berupa morfem terikat seprti afiks.

33 morfologi 33 dirman, mpd Kata benda (nomina ) Kata kerja (verba) Kata tugas Kata tugas Klasifikasi kata menurut GorysKeraf Kata sifat (adjektiva)

34 morfologi 34 dirman, mpd Klasifikasi Kata menurut Ramlan Ramlan (1991: 58) mengemukakan adanya dua belas golongan kata, yaitu sebagai berikut: Ramlan (1991: 58) mengemukakan adanya dua belas golongan kata, yaitu sebagai berikut: 1) kata verbal 1) kata verbal 2) Kata nominal 2) Kata nominal 3) Kata keterangan 3) Kata keterangan 4) Kata tambah 4) Kata tambah 5) Kata bilangan 5) Kata bilangan 6) Kata penyukat 6) Kata penyukat 7) Kata sandang 7) Kata sandang 8) Kata Tanya 8) Kata Tanya 9) Kata suruh 9) Kata suruh 10) Kata penghubung 10) Kata penghubung 11) kata depan 11) kata depan 12) Kata seruan 12) Kata seruan

35 morfologi 35 dirman, mpd Klasifikasi Kata menurut Kridalaksana Kridalaksana (1991: 49) membagi kelas kata berikut: 1) Verba 2) Ajektiva 3) nomina 4) Pronomina 5) Numeralia 6) Adverbia 7) Interogativa 8) Demonstrativa 9) Artikula 10) Preposisi 11) Konjungsi 12) kategori fatis 13) Interjeksi

36 morfologi 36 dirman, mpd Pembahasan Klasifikasi Kata a. Verba (Kata Kerja) a. Verba (Kata Kerja) Verba adalah kelas kata yang memiliki cirri-ciri sebagai berikut: 1) Berfungsi utama sebagai predikat atau inti predikat. 1) Berfungsi utama sebagai predikat atau inti predikat. contoh kalimat: contoh kalimat: Pencuri itu lari. Pencuri itu lari.

37 morfologi 37 dirman, mpd verba Mengandung makna dasar perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas, Mengandung makna dasar perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas, contoh kalimat: contoh kalimat: Mereka sedang belajar di kamar. (bermakna perbuatan) Mereka sedang belajar di kamar. (bermakna perbuatan) Bom itu seharusnya tidak meledak. (bermakna proses) Bom itu seharusnya tidak meledak. (bermakna proses) Dia suka makanan Indonesia (bermakna keadaan) Dia suka makanan Indonesia (bermakna keadaan)

38 morfologi 38 dirman, mpd verba Keraf (1984; 87) memberi batasan verba atau kata kerja, yaitu segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + kata sifat. Misalnya: Keraf (1984; 87) memberi batasan verba atau kata kerja, yaitu segala macam kata yang dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + kata sifat. Misalnya: Ia berjalan dengan cepat. Ia berjalan dengan cepat. Gadis itu menyanyi dengan nyaring. Gadis itu menyanyi dengan nyaring. Anak itu tidur dengan nyenyak. Anak itu tidur dengan nyenyak.

39 morfologi 39 dirman, mpd Nomina b. Nomina (Kata Benda) b. Nomina (Kata Benda) Nomina atau kata benda dapat dilihat dari dua segi, yaitu segi semantis dan segi sintaktis. Dari segi semantis, nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, benda, binatang, dan konsep atau pengertian. Misalnya, guru, kucing, meja, kebangsaan, dan sebagainya. Sari segi sintaktisnya, nomina memiliki ciri-ciri sebagai berikut; Nomina atau kata benda dapat dilihat dari dua segi, yaitu segi semantis dan segi sintaktis. Dari segi semantis, nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, benda, binatang, dan konsep atau pengertian. Misalnya, guru, kucing, meja, kebangsaan, dan sebagainya. Sari segi sintaktisnya, nomina memiliki ciri-ciri sebagai berikut;

40 morfologi 40 dirman, mpd 1) Dalam kalimat yang berpredikat verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap. 1) Dalam kalimat yang berpredikat verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap. Kata pemerintah dan perkembangan Kata pemerintah dan perkembangan Pemerintah akan memantapkan perkembangan (nomina) Pemerintah akan memantapkan perkembangan (nomina) Kata pekerjaan Kata pekerjaan Ayah mencarikan saya pekerjaan ( nomina). Ayah mencarikan saya pekerjaan ( nomina).

41 morfologi 41 dirman, mpd Nomina 2) Nomina tidak dapat dijadikan bentuk ingkar dengan tidak. 2) Nomina tidak dapat dijadikan bentuk ingkar dengan tidak. Kata pengingkarnya ialah bukan dan tidak pernah berkontras dengan tidak. Kata pengingkarnya ialah bukan dan tidak pernah berkontras dengan tidak. Contoh kalimat: Contoh kalimat: Dia itu guru. harus dipakai kata bukan: Dia itu guru. harus dipakai kata bukan: Dia itu bukan guru. Dia itu bukan guru.

42 morfologi 42 dirman, mpd Nomina 3) Nomina lazimnya dapat diikuti oleh adjektiva baik secara langsung maupun dengan perantaraan kata yang. Dengan demikian buku dan rumah adalah nomina karena dapat bergabung menjadi buku baru, rumah mewah atau buku yang baru atau rumah yang merah. 3) Nomina lazimnya dapat diikuti oleh adjektiva baik secara langsung maupun dengan perantaraan kata yang. Dengan demikian buku dan rumah adalah nomina karena dapat bergabung menjadi buku baru, rumah mewah atau buku yang baru atau rumah yang merah.

43 morfologi 43 dirman, mpd Keraf (1984: 86) memberi batasan kata benda atau nomina adalah segala macam kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang + kata sifat. Misalnya: Keraf (1984: 86) memberi batasan kata benda atau nomina adalah segala macam kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang + kata sifat. Misalnya: Perumahan yang baru Perumahan yang baru Pelari yang cepat Pelari yang cepat Kehendak yang baik Kehendak yang baik Meja yang besar Meja yang besar Pohon yang tinggi Pohon yang tinggi

44 morfologi 44 dirman, mpd Dengan demikian kata-kata perumahan, pelari, kehendak, meja, dan pohon adalah kata benda karena dapat diperluas/diterangkan dengan yang + kata sifat. Dengan demikian kata-kata perumahan, pelari, kehendak, meja, dan pohon adalah kata benda karena dapat diperluas/diterangkan dengan yang + kata sifat.

45 morfologi 45 dirman, mpd Menurut Ramlan (1991: 60), kata benda atau nomina adalah kata- kata yang pada tataran frase tidak dapat dinegatifkan dengan kata tidak, melainkan dengan kata bukan, dapat diikuti kata itu, dan dapat mengikuti kata di atau pada sebagai aksisnya. Misalnya, *tidak buku, bukan buku, buku itu, di buku, pada buku. kata benda atau nomina adalah kata- kata yang pada tataran frase tidak dapat dinegatifkan dengan kata tidak, melainkan dengan kata bukan, dapat diikuti kata itu, dan dapat mengikuti kata di atau pada sebagai aksisnya. Misalnya, *tidak buku, bukan buku, buku itu, di buku, pada buku.

46 morfologi 46 dirman, mpd Pronomina c. Pronomina c. Pronomina Jika ditinjau dari segi artinya, pronominal adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. Nomina perawat diacu dengan pronominal dia. Bentuk-nya pada meja kakinya empat, mengacu ke kata meja. Jika dlihat dari segi fungsinya dapat dikatakan bahwa pronominal menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan dalam macam kalimat tertentu-juga predikat. Jika ditinjau dari segi artinya, pronominal adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke nomina lain. Nomina perawat diacu dengan pronominal dia. Bentuk-nya pada meja kakinya empat, mengacu ke kata meja. Jika dlihat dari segi fungsinya dapat dikatakan bahwa pronominal menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan dalam macam kalimat tertentu-juga predikat.

47 morfologi 47 dirman, mpd Pronomina Ciri lain yang dimiliki pronominal ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan. Ada tiga macam pronominal dalam bahasa Indonesia, yakni (1) pronomina persona, (2) pronominal penunjuk, dan (3) pronominal penanya. Ciri lain yang dimiliki pronominal ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan. Ada tiga macam pronominal dalam bahasa Indonesia, yakni (1) pronomina persona, (2) pronominal penunjuk, dan (3) pronominal penanya.

48 morfologi 48 dirman, mpd Pronomina Ciri lain yang dimiliki pronominal ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan. Ada tiga macam pronominal dalam bahasa Indonesia, yakni (1) pronomina persona, (2) pronominal penunjuk, dan (3) pronominal penanya. Ciri lain yang dimiliki pronominal ialah acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan. Ada tiga macam pronominal dalam bahasa Indonesia, yakni (1) pronomina persona, (2) pronominal penunjuk, dan (3) pronominal penanya.

49 morfologi 49 dirman, mpd Pronomina 2) Pronomina persona kedua, yang bermakna tunggal adalah engkau, kamu, anda, dikau, kau-, -mu. Yang bermakna jamak adalah kalian, kamu (sekalian), anda (sekalian). 2) Pronomina persona kedua, yang bermakna tunggal adalah engkau, kamu, anda, dikau, kau-, -mu. Yang bermakna jamak adalah kalian, kamu (sekalian), anda (sekalian).

50 morfologi 50 dirman, mpd Pronomina 3) Pronomina persona ketiga, yang bermakna tunggal adalah ia, dia, beliau, -nya. Yang bermakna jamak adalah mereka, -nya. 3) Pronomina persona ketiga, yang bermakna tunggal adalah ia, dia, beliau, -nya. Yang bermakna jamak adalah mereka, -nya.

51 morfologi 51 dirman, mpd Numeralia d. Numeralia (Kata Bilangan) d. Numeralia (Kata Bilangan) Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Frase seperti lima hari, setelah abad, orang ketiga, dan beberapa masalah mengandung numeralia, yakni masing-masing lima, setengah, ketiga, dan berbagai. Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Frase seperti lima hari, setelah abad, orang ketiga, dan beberapa masalah mengandung numeralia, yakni masing-masing lima, setengah, ketiga, dan berbagai.

52 morfologi 52 dirman, mpd Numeralia Pada dasarnya dalam bahasa Indonesia ada dua macam numeralia: (1) numeralia pokok yang memberi jawab atas pertanyaan “Berapa?” dan (2) numeralia tingkat yang memberi jawab atas pertanyaan “Yang keberapa?” Pada dasarnya dalam bahasa Indonesia ada dua macam numeralia: (1) numeralia pokok yang memberi jawab atas pertanyaan “Berapa?” dan (2) numeralia tingkat yang memberi jawab atas pertanyaan “Yang keberapa?”

53 morfologi 53 dirman, mpd 1) Numeralia Pokok 1) Numeralia Pokok Numeralia pokok mencakup bagian-bagian sebagai berikut: Numeralia pokok mencakup bagian-bagian sebagai berikut: (1) Numeralia pokok tentu, yaitu yang mengacu ke bilangan pokok: 0 – nol, 1 – satu, 2 – dua, 3 – tiga, 4 – empat, 5 – lima, 6- enam, 7 – tujuh, 8 – delapan, 9 – sembilan. (1) Numeralia pokok tentu, yaitu yang mengacu ke bilangan pokok: 0 – nol, 1 – satu, 2 – dua, 3 – tiga, 4 – empat, 5 – lima, 6- enam, 7 – tujuh, 8 – delapan, 9 – sembilan. (2) Numeralia pokok tentu klitika, yaitu yang umumnya brbentuk proklitika yang berasal dari bahasa Jawa Kuno: ekamatra, dwiwarna, triwulan, caturwulan, pancasila, saptamarga, dasalomba. (2) Numeralia pokok tentu klitika, yaitu yang umumnya brbentuk proklitika yang berasal dari bahasa Jawa Kuno: ekamatra, dwiwarna, triwulan, caturwulan, pancasila, saptamarga, dasalomba.

54 morfologi 54 dirman, mpd Numeralia (3) Numeralia pokok kolektif, yaitu yang dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan di muka nomina yang diterangkan. Misalnya: ketiga pemain – semua pemain dari nomor satu sampai ke nomor tiga, kedua gedung – baik gedung pertama maupun kedua, dan sebagainya. (3) Numeralia pokok kolektif, yaitu yang dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan di muka nomina yang diterangkan. Misalnya: ketiga pemain – semua pemain dari nomor satu sampai ke nomor tiga, kedua gedung – baik gedung pertama maupun kedua, dan sebagainya.

55 morfologi 55 dirman, mpd Numeralia (4) Numeralia distributif, yaitu yang dibentuk denga cara mengulang kata bilangan. Misalnya, satu – satu-satu, dua – dua-dua, dan sebagainya. (4) Numeralia distributif, yaitu yang dibentuk denga cara mengulang kata bilangan. Misalnya, satu – satu-satu, dua – dua-dua, dan sebagainya. (5) Numeralia pokok taktentu, yaitu yang mengacu ke jumlah yang tidak tentu dan pada umumnya tidak dapat menjadi jawaban atas pertanyaan yang memakai kata tanya berapa. Misalnya, banyak, berbagai, eberapa, pelbagai, semua, seluruh, segala, dan segenap. (5) Numeralia pokok taktentu, yaitu yang mengacu ke jumlah yang tidak tentu dan pada umumnya tidak dapat menjadi jawaban atas pertanyaan yang memakai kata tanya berapa. Misalnya, banyak, berbagai, eberapa, pelbagai, semua, seluruh, segala, dan segenap.

56 morfologi 56 dirman, mpd 2) Numeralia Tingkat 2) Numeralia Tingkat Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat yang menyatakan tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Khusus untuk bilangan satu dipakai pula istilah pertama. Contoh: kesatu atau pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat yang menyatakan tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Khusus untuk bilangan satu dipakai pula istilah pertama. Contoh: kesatu atau pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

57 morfologi 57 dirman, mpd 2) Numeralia Tingkat 2) Numeralia Tingkat Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat yang menyatakan tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Khusus untuk bilangan satu dipakai pula istilah pertama. Contoh: kesatu atau pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat yang menyatakan tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Khusus untuk bilangan satu dipakai pula istilah pertama. Contoh: kesatu atau pertama, kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.

58 morfologi 58 dirman, mpd Adjektiva e. Adjektiva e. Adjektiva Adjektiva atau kata sifat adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan orang, benda, atau binatang dan mempunyai cirri sebagai berikut: Adjektiva atau kata sifat adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan orang, benda, atau binatang dan mempunyai cirri sebagai berikut:

59 morfologi 59 dirman, mpd Adjektiva 1) Adjektiva dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan paling: lebih besar, kurang baik, paling mahal. 1) Adjektiva dapat diberi keterangan pembanding seperti lebih, kurang, dan paling: lebih besar, kurang baik, paling mahal. 2) Adjektiva dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, amat, benar, sekali, dan terlalu: sangat indah, amat tingi, pandai benar, murang sekali, terlalu murah. 2) Adjektiva dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, amat, benar, sekali, dan terlalu: sangat indah, amat tingi, pandai benar, murang sekali, terlalu murah. 3) Adjektiva dapat diingkari dengan kata ingkar tidak; tidak bodoh, tidak salah, tidak benar. 3) Adjektiva dapat diingkari dengan kata ingkar tidak; tidak bodoh, tidak salah, tidak benar.

60 morfologi 60 dirman, mpd 4) adjektiva dapat diulang dengan awalan se- dan akhiran –nya: sebaik-baiknya, serendah- rendahnya, sejelek-jeleknya. 4) adjektiva dapat diulang dengan awalan se- dan akhiran –nya: sebaik-baiknya, serendah- rendahnya, sejelek-jeleknya. 5) Adjektiva pada kata tertentu dapat berakhir antara lain dengan –er, -(w) i, -iah, -if, -al, dan –ik: honorer, duniawi, ilmiah, negatif, formal, elektronik. 5) Adjektiva pada kata tertentu dapat berakhir antara lain dengan –er, -(w) i, -iah, -if, -al, dan –ik: honorer, duniawi, ilmiah, negatif, formal, elektronik. f. Adverbia f. Adverbia Adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat. Adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat.

61 morfologi 61 dirman, mpd TERIMA KASIH


Download ppt "Morfologi 1 dirman, mpd. morfologi 2 dirman, mpd."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google