Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pertemuan VIII - IX m.zainal abidin – a.fauzi Uht = umsida.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pertemuan VIII - IX m.zainal abidin – a.fauzi Uht = umsida."— Transcript presentasi:

1 Pertemuan VIII - IX m.zainal abidin – a.fauzi Uht = umsida

2 Pokok BahasanTeori tentang tes Sub pokok bahasan True Score Model (Teori Tes Klasik) Tujuan Instruksional Umum Mahasiswa memahami tentang teori dasar tentang teori dasar dalam menyusun alat ukut/tes psikologi Tujuan Instruksional Khusus Mahasiswa dapat membedakan alat tes psikologi produk teori kalsik atau teori modern

3 Macam teori tentang pengukuran psikologi 1. Teori Tes Klasik 2. Teori Tes Modern

4 TEORI TES KLASIK Unsur-unsur teori sudah dikembangkan dan diaplikasikan sejak lama, namun tetap bertahan, lebih-lebih jika dilihat dari arah penerapanya di berbagai bidang kehidupan Teori tes klasik tidak tersusun sekali jadi, melainkan berkembang sedikit demi sedikit melalui unsur-unsur yang kemudian secara akumulatif merupakan bangunan teori yang utuh. Inti : berupa asumsi-asumsi yag dirumuskan secara matematis Model skor murni (true score model)

5 Asumsi Teori Tes Klasik 1. X = T + E Keterangan : X = skor perolehan T = skor murni E = skor eror pengukuran

6 2. ε(X) = T Keterangan ε(X) = nilai harapan X (expected value of X) Jika seseorang dikenai tes berulang-ulang, dengan asumsi bahwa pengulangan tes itu dilakukan tidak terbatas dan setiap pengulangan independen satu sama lain, maka T adalah harga rata-rata distribusi teoritik skor X Asumsi Teori Tes Klasik

7 3. Ρ et = 0 Keterangan : Tidak ada korelasi antara eror pengukuran dengan skor murni. Dengan kata lain, skor murni yang tinggi tidak berhubungan dengan eror pengukuran yang rendah atau tinggi; dan sebaliknya Asumsi Teori Tes Klasik

8 4. Ρ e1e2 = 0 Keterangan : Tidak ada korelasi antara eror pengukuran pada tes pertama dengan eror pengukuran pada tes kedua. Misalnya : karena faktor kelelahan, latihan dan sebagainya. Asumsi Teori Tes Klasik

9 5. Ρ e1t2 = 0 Keterangan : Tidak ada korelasi antara eror pengukuran pada tes pertama dengan skor murni pada pengukuran kedua Asumsi Teori Tes Klasik

10 6. T = T’ dan σ e 2 = σ e’ 2 Rumus tes paralel : dimana memiliki mean dan varians skor tampak (perolehan) yang setara Asumsi Teori Tes Klasik

11

12 Asumsi Teori Tes Klasik 7. T 1 = T 2 + C essentialy τ-equivalent (pada dasarnya memiliki skor murni yang setara) Dua tes dikatakan mempunyai sifat essentialy τ-equivalent apabila perbedaan skor murni pada kedua tes tersebut, untuk setiap subyek, besarnya selalu tetap. Dua tes yang bersifat essentialy τ-equivalent dapat saja memiliki eror pengukuran yang berbeda, karena keduanya belum tentu merupakan tes yang paralel, akan tetapi setiap dua tes yang paralel tentu memiliki syarat mutlak untuk disebut tes yang bersifat essentialy τ-equivalent

13 Kelemahan Sample bound a. Item b. subyek

14 TEORI TES MODERN Asumsi : 1. latent trait model, kemampuan latent yang mendasari kinerja (performance) atau respon subyek terhadap butir soal tertentu 2. Hubungan antara performansi subyek pada suatu item, dan perangkat kemampuan (abilitas) laten dapat digambarkan oleh suatu fungsi yang menaik secara monotonik (item characteristic function = item characteristic curve = ICC)

15

16 Unsur-unsur

17 Asumsi

18 Unsur-unsur

19

20

21

22 Model


Download ppt "Pertemuan VIII - IX m.zainal abidin – a.fauzi Uht = umsida."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google