Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PERJANJIAN INTERNASIONAL DAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL EKONOMI LINGKUNGAN PERTEMUAN 13.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PERJANJIAN INTERNASIONAL DAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL EKONOMI LINGKUNGAN PERTEMUAN 13."— Transcript presentasi:

1 PERJANJIAN INTERNASIONAL DAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL EKONOMI LINGKUNGAN PERTEMUAN 13

2 PERJANJIAN INTERNASIONAL TENTANG LINGKUNGAN Bab-bab sebelumnya telah dibahas beberapa isu lingkungan global. Beberapa negara dunia telah menandatangai persetujuan internasional untuk mengurangi emisi zat kimia penyebab penipisan lapisan ozon. Kebijakan lingkungan internasional berbeda dengan kebijakan suatu negara. Perbedaan yang menonjol adalah pada tingkat internasional tidak terdapat lembaga pengawasan yang efektif. Kebijakan lingkungan pada pada tingkat ini terdiri dari perjanjian- perjanjian diantara beberapa negara  tiap negara sepakat untuk mengurangi emisi atau melakukan tahapan menjaga lingkungan

3 PERSETUJUAN INTERNASIONAL Persetujuan Lingkungan umumnya dipengaruhi oleh interaksi politik (kedaulatan nasional, ketegasan politik, diplomasi kreatif, dan sebagainya), beberapa faktor ekonomi yang mempengaruhi manfaat dan biaya yang dirasakan partisipan. Terdapat beberapa perjanjian internasional berhubungan dengan aspek lingkungan yang telah disepakati dan dilaksanakan, seperti perjanjian bidang nuklir, sungai, udara, floran dan fauna, lautan dll.

4 Tabel 1. Perjanjian Internasional Mengenai Polusi Lautan PERSETUJUAN INTERNASIONAL Nama PerjanjianTahun Pelaksanaan Jumlah Peserta International Convention for the Prevention of Pollution of the Sea by Oil (as amended 11/4/62 and 10/21/69) Agreement for Cooperation in Dealing with Pollution of the North Sea by Oil International Convention on Civil Liability for Oil Pollution Damage (as amended) International Convention Relating to Intervention on the High Sea s in Cases of Oil Pollution Causalities Convention on the Prevention of Marine Pollution from Land Based Sources Convention for the Protection of the Mediterranean Sea Against Pollution

5 PERSETUJUAN INTERNASIONAL Tabel 2. Perjanjian Internasional Mengenai Polusi Udara Nama PerjanjianTahun Pelaksanaan Jumlah Peserta Convention on Long-Range Transboundary Air Pollution Protocol to the 1979 Convention on Long-Range Transboundary Air Pollution on Long-Term Financing of hr Co-operative Programme for Monitoring and Evaluation of the Long Term Transmission of Air Pollutants in Europe (EMEP) Protocol to the 1979 Convention on Long Range Transboundary Air Pollution on the Reduction of Sulphur Emissions or Their Transboundary Fluxes by at Least 30 percent Protocol on the 1979 Convention on Long Range Transboundary Air Pollution Concerning the Control of Emissions of Nitrogen Oxides or their Transboundary Fluxes Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer Montreal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer

6 PERSETUJUAN INTERNASIONAL Nama PerjanjianTahun Pelaksanaan Jumlah Peserta Protocol Concerning the Constitution of an International Commission for the Protection of the Moselle Against Pollution Agreement Concerning the International Commission for the Protection of the Rhine Against Pollution Convention on the Protection of the Rhine Against Chemical Pollution Convention Creating the Niger Basin Authority and Protocol Relating to the Development Fund of the Niger Basin Tabel 3. Perjanjian Internasional Mengenai Polusi Sungai

7 PERSETUJUAN INTERNASIONAL Nama PerjanjianTahun Pelaksanaan Jumlah Peserta European Treaty on the Conservation of Birds Useful to Agriculture International Convention for the Regulation of Whaling (as amended) International Convention for the Protection of Birds International Plant Protection Convention International Convention for the Protection of New Varieties of Plants (as amended) Convention on the African Migratory Locust European Convention on the Conservation of Nature and Natural Resources Convention on International Trade in Endangered Species of Wils Fauna and Flora Agreement on Conservation of Polar Bears Tabel 4. Perjanjian Internasional Mengenai Flora dan fauna

8 PERSETUJUAN INTERNASIONAL Tabel 5. Perjanjian Internasional Mengenai Polusi Sungai Nama PerjanjianTahun Pelaksanaan Jumlah Peserta Convention on Third Party Liability in the Field of Nuclear Energy (as amended) Vienna Convention of Civil Liability for Nuclear Damage Treaty Banning Nuclear Weapon Tests in The Athmosphere, in Outer Space and Under Water Treaty on the Prohibition of the Emplacement of Nuclear Weapons of Mass Destruction on the Sea-Bed and the Ocean Floor and in the Subsoil Thereof Convention on Early Notification of a Nuclear Accident

9 Persetujuan Bilateral Persetujuan bilateral  persetujuan diantara dua negara yang terlibat dalam suatu dampak pencemaran lingkungan. Misalkan terdapat dua negara, A dan B. Negara B berada di sekitar (downwind) negara A  emisi SO2 negara A berkontribusi terhadap hujan asam di kedua negara. Di negara B  emisi SO2 hanya berkontribusi pada hujan asam di negara tersebut (karena pola angin), sehingga tidak ada timbal balik emisi SO2 dari B yang mempengaruhi A.

10 Persetujuan Bilateral MD T : agregat MD MD B = MD T – MD A (d+f) : tambahan biaya bagi A untuk mengurangi emisi, (c+d+f) : pengurangan total kerusakan f : pengurangan kerusakan di A (d+c): pengurangan kerusakan di B e1 : tingkat emisi efisien bagi A tanpa mempedulikan B e2 : tingkat efisiensi global MD T MD A MAC 0 e2e2 e1e1 c g d a f b Emisi Negara A $

11 Persetujuan Bilateral Grafik 1. menunjukkan marginal abatement cost (MAC) dan marginal damages (MD) dari negara A. Marginal damages total (MDT) adalah agregat MD, sehingga MDB = MDT – MDA. Jika emisi yang dihasilkan negara A tidak mempedulikan eksternalitas yang dihasilkan di negara B maka bagi negara A tingkat emisi yang efisien akan tercapai di e1. Emisi di negara A akan efisien secara internasional jika efek yang terjadi di negara B juga turut dihitung. Sehingga tingkat efisiensi global terjadi di e2.

12 Persetujuan Bilateral Daerah (d+f)  tambahan biaya negara A untuk mengurangi emisi, dan ini digantikan oleh pengurangan total kerusakan sebesar (c+d+f). Area f  pengurangan kerusakan di negara A dan area (d+c)  pengurangan kerusakan di negara B. Negosiasi antara polluters dan penerima kerusakan dapat menghasilkan tingkat emisi yang efisien, property right jelas sehingga biaya transaksi minimum.

13 Persetujuan Bilateral Negosiasi di antara otoritas politik dua negara memerlukan diplomasi. pengurangan emisi negara A (e1 ke e2)  net benefit negatif pada negara tersebut berupa penambahan biaya (d+f), pengurangan kerusakan hanya sebesar f. Hal ini terjadi terus menerus  Kelembagaan kebijakan menjadi lemah. Hal ini bergantung pada kemampuan diplomatik dan bagaimana sangsi internasional diberikan melalui moral, ekonomi dan politis.

14 Persetujuan Bilateral Berdasarkan hukum internasional, kasus di atas ditutupi oleh “Polluters Pays Principle” (PPP). Kasus The Trail Smelter tahun 1935 sumber penting prinsip ini. Trail Smelter  pembersih logam di British Columbia  Buangan SO2nya merusak pertanian hingga luar batas USA. Pengadilan menemukan bahwa petani berada pada hukum internasional  Tidak ada negara yang berhak/ mengizinkan penggunaan batas wilayah dengan cara yang menyebabkan kerusakan. Deklarasi diluncurkan tahun 1972 pada Konfrensi Lingkungan Hidup PBB  mengakomodir seluruh tipe transboundary pollution. Sebagian besar perjanjian ingin bergabung dalam Polluters Pays Principle

15 Persetujuan Bilateral Persetujuan internasional dilangsungkan secara sukarela  tiap negara tidak akan menandatangai persetujuan yang akan membuat kondisi mereka lebih buruk. Mereka berupaya menghindar sebagai ‘victim pays principle” (VPP). Contoh kasus awal (negara A dan B), net loss yang dialami negara A akibat pengurangan emisi (e1 ke e2) harus dikompensasi negara B. Penambahan abatement cost oleh negara A (d+f)  pengurangan kerusakan sebesar f  biaya ekstra daerah d. Selama total pengurangan kerusakan di negara B (c+d), maka dapat digunakan untuk mengkompensasi pengeluaran biaya ekstra negara A, sehingga yang diterima negara B adalah c.

16 Persetujuan Bilateral Terdapat banyak isu mengenai tawar-menawar internasional. Tawar-menawar tergantung persepsi tiap negara terhadap MD dan MAC, serta bagaimana meyakinkan negara lain. Contoh: negara A dan B, negara A memiliki kepentingan untuk meyakinkan negara B bahwa tambahan abatement cost akibat pengurangan emisi sangat tinggi jika dibandingkan manfaat yang diterima negara A. Dilain pihak, negara B berkepentingan untuk meyakinkan A bahwa akan terjadi pengurangan kerusakan secara nyata dari pengurangan emisi A.

17 Persetujuan Multilateral Persetujuan multiral  persetujuan mengenai dampak lingkungan dengan banyak negara berkontribusi. Contoh: hujan asam dari emisi SO2, polusi dari kawasan laut yang disebabkan negara-negara yang berada di sisi sungai, depresi ozon akibat emisi CFC dan efek rumah kaca akibat emisi CO2. Pada kasus ini kerusakan yang dialami masing- masing negara berhubungan dengan dengan total emisi pada saat ini dan masa lampau dari seluruh negara.

18 Persetujuan Multilateral Dari sudut pandang ekonomi terdapat isu efisiensi dan pemerataan pada persetujuan internasional. Pertanyaan mendasar tentang efisiensi  bagaimana menyeimbangkan keseluruhan manfaat dan biaya  terdapat kesulitan dalam mengestimasi total manfaat global secara akurat. Pada sisi manfaat didasarkan pada perhitungan dampak fisik perubahan lingkungan dan sejumlah ide tentang bagaimana dampak ini didistribusikan di antara negara-negara. Artinya penekanan difokuskan pada abatement cost dan distribusinya.

19 Persetujuan Multilateral Dua isu utama terkait dengan biaya, yaitu : (1) Metode apa yang dapat diterapkan di sejumlah negara untuk mempertemukan kondisi yang diperlukan oleh suatu persetujuan, (2) bagaimana membagi keseluruhan biaya di antara negara- negara partisipan. Pertanyaan di atas saling terkait  pengukuran biaya efektif yang dilakukan oleh negara peserta akan mengurangi biaya program yang akan ditanggung secara keseluruhan.

20 Persetujuan Multilateral Contoh: Manfaat yang diterima dari pengurangan 20% CO2 akan dirasakan oleh banyak negara  setiap negara akan memiliki insentif untuk membawa negara lain memberikan total global abatement cost sejauh mereka bisa. Biaya yang dikeluarkan tiap negara dipengaruhi oleh: (1) memilih aturan dimana pengurangan keseluruhan emisi akan di distribusikan antar negara, (2) pembayaran dari suatu negara ke negara lain, untuk membantu kerugian biaya kontrol ( transfer payment )

21 Efektivitas Biaya Pada Persetujuan Multinasional Perjanjian antar negara dalam mengurangi emisi yang sama menghasilkan bias yang kuat. Protokol Montreal (perjanjian pengurangan CFC), terdapat perbedaan antara pengurangan emisi di negara berkembang versus di negara maju. Dalam aplikasi terdapat perbedaan MAC antar negara  pengurangan emisi cenderung lebih besar pada negara dengan kurva MAC lebih landai.

22 Efektivitas Biaya Pada Persetujuan Multinasional Contoh: Emisi negara A $ Emisi negara B $ pajak MAC a b cd e Terdapat 2 negara yang memperoleh manfaat sama dari pengurangan emisi, (MAC berbeda)  MAC A lebih curam dibanding MAC B. Emisi awal A = 80 dan B =100, persetujuan mewajibkan pengurangan 50% emisi  emisi negara A = 40 dan negara B = 50. Biaya untuk mencapainya akan lebih besar di negara A (a+b+c) dibandingkan B (d+e). Ketika abatement cost antar negara berbeda, sulit mencapai biaya efektif jika terikat kuat pada aturan equiproportionate. Salah satu upaya mencapainya adalah dengan sistem TDF (Transferable Discharge Permit), dimana dengan perdagangan dan pendistribusian izin akan tercapai kondisi equimarginal

23 Perdagangan Internasional dan Lingkungan Isu-isu yang timbul antara lain “Pada negara yang melakukan perdagangan, bagaimana peningkatan perdagangan mempengaruhi kerusakan lingkungan?” dan “bagaimana upaya nasional untuk mencegah dampak lingkungan pada perdagangan internasional?” Perdagangan bebas dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan, perdagangan bebas memberikan peluang bagi setiap negara untuk memperluas pasar pada produkyang memiliki keunggulan komparatif. Masalah timbul ketika perdagangan bebas mempersulit suatu negara dalam melindungi sumberdaya alam dan lingkungannya.

24 Perdagangan Internasional dan Lingkungan Gambar 3 menunjukkan perilaku produsen dan konsumen suatu negara  terdapat impor yang besar pada penawaran. Tanpa impor  harga dan output akan tercapai ketika perpotongan kurva permintaan dan penawaran. Kurva penawaran impor (I) = garis horizontal karena diasumsikan output tersebut tersedia dalam jumlah yang sangat besar sehingga negara pengimpor dapat mengimpor tanpa mempengaruhi harga dunia. Akibat impor, negara tersebut akan mengkonsumsi sejumlah q0, sementara produksi domestik sebesar q1  impor sebesar (q0- q1), dengan harga domestik sama dengan harga dunia

25 Perdagangan Internasional dan Lingkungan D $ S S’ I I’ 0 q1q1 q2q2 q0q0 Jumlah barang

26 Hambatan Perdagangan untuk Mencapai Tujuan Lingkungan Internasional Beberapa perjanjian internasional mengenai lingkungan yang melibatkan perjanjian perdagangan: Montreal Protocol  upaya internasional untuk mengurangi depresi ozon, protokol montreal melarang ekspor CFC dari negara penandatangan ke negara lain di luar protokol. Berlaku sebaliknya. Tujuan dari regulasi perdaganganan ini untuk memastikan bahwa produksi CFC dan ozone depleting chemical tidak dengan mudah berpindah ke negara luar

27 Hambatan Perdagangan untuk Mencapai Tujuan Lingkungan Internasional London Guidelines on Chemical dilaksanakan tahun 1989 (74 negara menyetujui panduan dalam pertukaran informasi pada perdagangan internasional bahan kimia). Panduan ini mensyaratkan sejumlah negara memberi sanksi atau hambatan pada sejumlah bahan kimia dan juga mendorong transfer teknologi.

28 Hambatan Perdagangan untuk Mencapai Tujuan Lingkungan Internasional Convention International Trade Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). CITES dimulai thn 1975, dimana negara anggotanya diharapkan dapat menetapkan sistem izin untuk mengkontrol pergerakan expor impor makhluk hidup (flora dan fauna), dan juga diharapkan didesain suatu badan manajemen untuk mengendalikan sistem izin tersebut serta badan ilmiah untuk mengetahui sejauhmana perdagangan dapat merugikan keberadaan spesies.

29 Hambatan Perdagangan untuk Mencapai Tujuan Lingkungan Internasional Gambar 4 menunjukkan penawaran agregat dan permintaan ekspor untuk spesies liar. Fungsi penanawaran didasarkan pada biaya berburu, transportasi, proses dan pencatatan record. Fungsi agregat penawaran dibentuk oleh fungsi penawaran di sejumlah negara dimana spesies tersebut hidup. Fungsi permintaan menunjukkan kuantitas dimana pasar ekspor akan meminta pada sejumlah tingkat harga. Dua tipe hambatan perdagangan dapat diterapkan untuk mengurangi kuantitas spesies diperdagangkan: (1) kontrol ekspor dan (2) kontrol impor.

30 Hambatan Perdagangan untuk Mencapai Tujuan Lingkungan Internasional Kontrol penawaran dari S 0 ke S 1. Kontrol impor  mengurangi permintaan impor spesies. Pergeseran kurva penawaran ke kiri atas akan menurunkan jumlah perdagangan dan meningkatkan harga di P0 ke P1. Peningkatan harga tergantung pada hak kepemilikan. Jika private property right maka peningkatan harga menjadi sinyal untuk lebih peduli terhadap keselamatan dan kesejahteraan spesies tersebut. Jika common property right maka setiap orang berhak untuk ikut dan mengambil hewan serta tumbuhan dan otoritas tidak dapat mencegah pengambilan ilegal tersebut. Jika pengambilan tidak dapat dicegah maka tidak terdapat insentif untuk melakukan konservasi. D0D0 S1S1 S0S0 D1D1 q0q0 q1q1 Quantity of trade in an endangered species P1P1 P0P0 P2P2 $ S 0 ke S 1 : kontrol ekspor D 0 ke D 1 : kontrol impor

31 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Saat ini orang di seluruh dunia tengah berupaya untuk mengendalikan permasalahan lingkungan lokal dan memperbaiki kondisi lingkungan mereka. Beberapa permasalahan- permasalahan lingkungan global, yaitu: ♣Pengurangan Ozon ♣Pemanasan Global

32 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL PENGURANGAN OZON 1.Permasalahan fisik Kebanyakan ozon di atmosfer bumi terletak dalam stratosfer (kawasan membentang pada ketinggian km)  berfungsi dalam menjaga tingkat radiasi bumi dan menghalangi sejumlah besar radiasi ultraviolet dan gelombang pendek yang masuk. akhir 1970 sebuah lubang besar muncul pada lapisan ozon di atas Antartika.

33 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Diketahui kandungan kimiawi atmosfer telah berubah, hal ini terjadi secara cepat pada skala global. Konsentrasi CO2, CH4, N2O dan gas mengandung klor di atmosfer diperkirakan meningkat antara % tiap tahunnya. Hilangnya ozon ini terkait dengan akumulasi klor di dalam stratosfer Klor bersumber dr bermacam bhn kimia yg dihasilkan di bumi dan naik hingga mencapai atmosfer. Substansi yg paling berbahaya adalah halokarbon. Halokarbon utama disebut chlorofluorocarbons (CFCs). penggunaan CFCs menyebar dengan cepat sebagai bahan pendingin dan bahan dasar aerosol (penyemprot rambut, deodoran, dan obat pembasmi serangga), bahan industri pembuatan poliuretan dan karet sintetis berbusa, juga sebagai bahan pembersih dan pelarut dalam industri.

34 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL 2.Kerusakan Akibat Radiasi Ultraviolet Beberapa tahun yang lalu muncul anggapan bahwa pengurangan ozon hanya akan terbatas pada bagian-bagian kecil stratosfer saja, tapi belakangan menampakkan pengurangan ozon yang signifikan di atas kawasan-kawasan besar dunia berpenduduk padat. Setiap 1% lubang ozon di stratosfer akan menghasilkan 2 s/d 3% peningkatan radiasi ultraviolet di permukaan bumi.

35 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Dua sumber utama kerusakan: pada kesehatan manusia dan kerugian pada hasil pertanian. Kerusakan kesehatan dalam hal ini adalah meningkatnya kanker-kanker kulit dan penyakit mata. Setiap 1% peningkatan pada radiasi UV, sel basal dan kasus- kasus kanker sel bersisik akan meningkat 1 hingga 2 persen, sedangkan kanker kulit melanoma akan meningkat kurang dari 1 persen dan katarak sekitar 2 persen. Peningkatan radiasi UV juga dapat menyebabkan peningkatan biaya produksi makanan karena kerusakan secara fisik yang terjadi selama proses pertumbuhan. Kerusakan dapat juga terjadi pada bagian lain dari ekosistem fisik bumi.

36 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL 3.Tanggapan-tanggapan Kebijakan Awalnya beberapa negara mengambil tindakan sepihak. Pada 1978, Amerika dan beberapa lain (Kanada, Swedia, Norwegia dan Denmark) melarang penggunaan CFCs dalam penyegar udara kalengan, tetapi tidak untuk bahan pendingin. 1987, 24 negara menandatangani Protokol Montreal (bahan yang dapat mengurangi lapisan ozon). Kesepakatan ini mengikat anggotanya untuk mengurangi penggunaan CFC dan halon hingga 50% dari yang gunakan tahun Sedangkan bagi negara dengan penggunaan CFCs pada tingkat rendah diberi masa tenggang selama 10 tahun.

37 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Setelah Persetujuan Montreal disepakati  pengurangan belum cukup. Karena riset selanjutnya menunjukkan permasalahan menjadi lebih buruk, dan karena beberapa negara penghasil CFC dalam jumlah besar tidak menandatangani persetujuan yang asli. Tahun 1990 negara] yang terlibat Montreal Protocol setuju menghapus setahap demi setahap produksi CFC dan sepenuhnya berhenti tahun 2000, juga menambahkan karbon tetraklorida dan metil cloroform ke dalam daftar. Tahun 1991, Cina akhirnya turut menyetujui protokol ini

38 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Dalam banyak hal, Protokol Montreal telah berhasil memperbaiki keadaan. Melalui kesepakatan itu, sudah dicapai persetujuan antar negara-negara dunia. Hal menarik dalam persetujuan CFC adalah kita sebetulnya dihadapkan pada permasalahan yang tidak banyak menyediakan jalan keluar. Di berbagai negara terkait, CFC dihasilkan dari industri/ perusahaan kimia berskala besar. Permasalahannya, tidak ada koordinasi langsung yang mungkin untuk dilaksanakan oleh otoritas internasional, baik dalam protokol atau persetujuan lain. Masing-masing negara oleh karenanya harus melaksanakan sendiri pengurangan jumlah produksi CFC.

39 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL 4.Permasalahan Ekonomi di Balik Pengendalian CFC Masalah mendasar adalah bagaimana cara mengangkat masalah penghapusan bertahap penggunaan zat kimia ke berbagai negara dengan kondisi yang berbeda. Dalam permasalahan ekonomi, fokus utama adalah pengembangan bahan kimia pengganti yang berfungsi seperti CFC (bahan pendingin, zat pembersih, dll) tetapi hanya berdampak sedikit pada penghabisan ozon. CFC-11, -12 dan -13 memiliki tingkat potensi penghabisan ozon yang tinggi (Ozone Depletion Potential - ODP).

40 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Riset yang ada mengembangkan hydrochlorofluorocarbons (HCFCS) dan hydrofluorocarbons (HFCS) yang mempunyai umur hidup di atmosfer lebih pendek dan memiliki tingkat ODP yang lebih rendah, bahkan nol. Hal yang utama secara ekonomi dalam penurunan tingkat CFC adalah biaya pengembangan komponen pengganti, serta biaya- biaya perubahan sistem kerja dari bahan kimia lama ke baru. Di Amerika, pendekatan yang dilakukan telah merujuk kepada EPAdengan mengalokasikan kuota produksi CFC kepada lima produsen CFC domestik.

41 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Masalah utama mengenai pengaturan batas maksimal produksi dengan cara ini menjurus kepada peningkatan keuntungan yang tak terkendali pada pabrik penghasill CFC. Kebijakan ini memberi kesempatan bagi perusahaan yang saling bersaing dalam industri yang sama untuk bertindak layaknya pelaku monopoli. Gambar 5  model pasar sederhana, menunjukkan kurva permintaan CFC dengan garis mengarah ke bawah, dengan kurva biaya marginal datar. Kondisi kompetitif mengarahkan tingkat produksi q1 dan biaya setara harga produksi marginal. Jika otoritas publik membatasi produksi pada q2, harga  p2, di atas biaya produksi  nilai yang setara a akan menjadi potensi pendapatan tambahan dalam industri akibat adanya pembatasan output CFC.

42 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Pendekatan dalam pembatasan CFC adalah mengenakan pajak produksi CFC. Nilai pajak = (p2-p1) akan memindahkan semua pajak keuntungan tambahan kepada publik  dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan (penambahan pendapatan umum/ menggunakannya sebagai biaya konversi CFC). Sistemnya dibangun dengan menetapkan sebuah tarif pajak dasar, lalu menetapkan pajak yang berbeda di berbagai perusahaan kimia sesuai tingkatan produksi CFC mereka. Tarif Pajak = Tarif Dasar x Potensi Penghancuran Ozon

43 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL PEMANASAN GLOBAL 1.Permasalahan fisik Pemanasan global dikenal sebagai "global warming" atau "efek rumah kaca/greenhouse effect." Pada kondisi "normal" (sebelum berkembang industri), diketahui jumlah berbagai gas rumah kaca secara global dalam kondisi seimbang. Gas ini muncul dari pembusukan jasad tumbuhan dan binatang yang diserap oleh hutan-hutan dan samudra.

44 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Adanya revolusi industri  peningkatan yang sangat cepat dalam pengambilan energi dari bahan bakar fosil (batubara dan minyak tanah kemudian gas alam). Pembakaran bahan bakar fosil, dibarengi dengan penebangan hutan dan aktivitas lainnya, menimbulkan peningkatan jumlah kandungan CO2 di atmosfer sebanyak 20 persen pada awal revolusi industri. GasEfek (%)Sumber Utama CO 2 49Deforestasi, produksi semen, dll CH 4 18Landfills, pertanian N2ON2O6Pupuk, pembukaan lahan, pembakaran lahan, dll Lainnya (CO, NO,...)13Berbagai macam penyebab

45 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL 2. Dampaknya terhadap Manusia dan Ekosistem Kenaikan permukaan laut berdampak pada kehancuran masyarakat tertentu, seperti yang berada di Kepulauan Pasifik, atau yang tinggal di kawasan delta sungai yang rendah. Dampak pemanasan global akan terasa relatif lebih sedikit di negara yang pembangunannya mengarah ke bagian dalam dan menjauhi tepi pantai. Sebuah studi terbaru oleh EPA menyimpulkan bahwa dampak terhadap dunia pertanian karena adanya pemanasan udara akan lebih terasa di negara berkembang  negara-negara di Afrika hampir semuanya akan merasakan dampak pemanasan global ini.

46 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL 3.Tanggapan Teknis terhadap Efek Rumah Kaca Efek rumah kaca  hasil peningkatan produksi gas rumah kaca berbanding kemampuan ekosistem bumi dalam menyerap gas tersebut. Tujuan utama pengurangan pemanasan global  pengurangan keluaran gas rumah kaca/ meningkatkan kapasitas penyerapan CO2 oleh ekosistem bumi. CO2 merupakan gas utama pemicu efek rumah kaca, maka focus diarahkan kepada pengurangan emisi CO2 pada skala global.

47 PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL Untuk mendapatkan gambaran total dari tingkat produksi CO2 di dunia saat ini dan bagaimana perhitungan itu didapat, digunakan persamaan berikut: Jumlah emisi CO2 tergantung pada interaksi dari empat faktor. Yang pertama adalah penduduk, (semakin banyak penduduk penggunaan energi tinggi, dan akan menghasilkan lebih banyak CO2. Faktor yang kedua adalah pendapatan kotor per kapita, sebuah ukuran keluaran domestik atas barang dan jasa per kapita.


Download ppt "PERJANJIAN INTERNASIONAL DAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN GLOBAL EKONOMI LINGKUNGAN PERTEMUAN 13."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google