Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

STRATEGI BELAJAR MENGAJAR OLEH. MOH. YANI, S.AG, MM,M.Pd.I Pengertian Strategi Belajar Mengajar 1.Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "STRATEGI BELAJAR MENGAJAR OLEH. MOH. YANI, S.AG, MM,M.Pd.I Pengertian Strategi Belajar Mengajar 1.Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis."— Transcript presentasi:

1 STRATEGI BELAJAR MENGAJAR OLEH. MOH. YANI, S.AG, MM,M.Pd.I Pengertian Strategi Belajar Mengajar 1.Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan / ilmu dan seni menggunakan semua SDM untuk melksanakan kebijakan tertentu / Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. 2. Bila dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola – pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Pengertian Strategi Belajar Mengajar 1.Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan / ilmu dan seni menggunakan semua SDM untuk melksanakan kebijakan tertentu / Rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. 2. Bila dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola – pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

2 ADA EMPAT STRATEGI DASAR DALAM BELAJAR MENGAJAR 1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan. – Spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana yang diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan? – Apa yang dijadikan sebagai sasaran dari KBM ? – Sasaran yang dituju harus jelas dan terarah serta konkret – Rumusan tujuan dalam KBM haruslah tujuan yang operasional 1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan. – Spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana yang diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan? – Apa yang dijadikan sebagai sasaran dari KBM ? – Sasaran yang dituju harus jelas dan terarah serta konkret – Rumusan tujuan dalam KBM haruslah tujuan yang operasional

3 2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat. Contoh : Satu masalah yang dipelajari oleh dua orang dengan pendekatan yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan – kesimpulan yang berbeda. Norma – norma sosial seperti baik, benar, adil akan melahirkan kesimpulan yang berbeda dan bahkan mungkin bertentangan bila dalam cara pendekatannya menggunakan berbagai disiplin ilmu. 2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat. Contoh : Satu masalah yang dipelajari oleh dua orang dengan pendekatan yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan – kesimpulan yang berbeda. Norma – norma sosial seperti baik, benar, adil akan melahirkan kesimpulan yang berbeda dan bahkan mungkin bertentangan bila dalam cara pendekatannya menggunakan berbagai disiplin ilmu.

4 3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan tehnik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya. Metode atau teknik penyajian untuk memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, berbeda dengan cara atau metode supaya anak didik terdorong dan mampu berfikir bebas dan cukup keberanian untuk mengemukakan pendapatnya. Dengan sasaran yang berbeda guru hendaknya jangan menggunakan teknik penyajian yang sama. Bila beberapa tujuan ingin diperoleh maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan tentang penggunaan berbagai metode/ kombinasi berbagai metode. 3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan tehnik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya. Metode atau teknik penyajian untuk memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, berbeda dengan cara atau metode supaya anak didik terdorong dan mampu berfikir bebas dan cukup keberanian untuk mengemukakan pendapatnya. Dengan sasaran yang berbeda guru hendaknya jangan menggunakan teknik penyajian yang sama. Bila beberapa tujuan ingin diperoleh maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan tentang penggunaan berbagai metode/ kombinasi berbagai metode.

5 4. Menetapkan / menerapkan norma – norma dan batas minimal keberhasilan atau kritria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik dalam rangka membuat penyempurnaan sistem intruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.

6 KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR MENGAJAR Menurut Tabrani Rusyan, Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar ada empat sbb : 1. Konsep dasar Strategi belajar mengajar, meliputi : Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar Memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar Menerpkan norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Menurut Tabrani Rusyan, Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar ada empat sbb : 1. Konsep dasar Strategi belajar mengajar, meliputi : Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar Memilih prosedur, metode dan teknik belajar mengajar Menerpkan norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar.

7 2. Sasaran kegiatan belajar Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang operasional dan yang konkret, yaitu Tujuan intruksional umum ( TIU ) / Standart kompetensi ( SK ) dan tujun intruksional khusus ( TIK ) / Kompetensi dasar ( KD ), Tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang bersifat universal. Pada tingkat sasaran dan tujuan yang bersifat universal, manusia yang diidamkan harus memiliki kualifikasi sbb : Pengembangan bakat yang optimal Hubungan antar manusia Efisiensi ekonomi Tanggung jawab sebagai warga negara. 2. Sasaran kegiatan belajar Setiap kegiatan belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang operasional dan yang konkret, yaitu Tujuan intruksional umum ( TIU ) / Standart kompetensi ( SK ) dan tujun intruksional khusus ( TIK ) / Kompetensi dasar ( KD ), Tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada tujuan yang bersifat universal. Pada tingkat sasaran dan tujuan yang bersifat universal, manusia yang diidamkan harus memiliki kualifikasi sbb : Pengembangan bakat yang optimal Hubungan antar manusia Efisiensi ekonomi Tanggung jawab sebagai warga negara.

8 3. Belajar mengajar sebagai sistem Belajar mengajar sebagai suatu sisten intruksional mengandung poengertian Sebagai sepereangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Sedang sebagai sutu sistem belajar mengajar meliputi Suatu komponen antara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan berhasil maka seluruh komponen yang ada harus di organisasikan sehingga antar sesama sesama komponen terjadi kerja sama. Karena itu guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen – komponen tertentu saja misalnya, metode, bahan dan evaluasi saja, tapi harus mempertimbangkan komponen – kpmponen secara keseluruhan. Berbagai persoalan yang biasa dihadapi oleh guru antara lain adalah: Tujuan – tujuan apa yang mau dicapai Materi pelajaran apa yang diperlukan Metode, alat mana yang harus dipakai Prosedur apa yang akan diotempuh untuk melakukan evaluasi. 3. Belajar mengajar sebagai sistem Belajar mengajar sebagai suatu sisten intruksional mengandung poengertian Sebagai sepereangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Sedang sebagai sutu sistem belajar mengajar meliputi Suatu komponen antara lain tujuan, bahan, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan berhasil maka seluruh komponen yang ada harus di organisasikan sehingga antar sesama sesama komponen terjadi kerja sama. Karena itu guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen – komponen tertentu saja misalnya, metode, bahan dan evaluasi saja, tapi harus mempertimbangkan komponen – kpmponen secara keseluruhan. Berbagai persoalan yang biasa dihadapi oleh guru antara lain adalah: Tujuan – tujuan apa yang mau dicapai Materi pelajaran apa yang diperlukan Metode, alat mana yang harus dipakai Prosedur apa yang akan diotempuh untuk melakukan evaluasi.

9 Secara khusus dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dngan masyarakat, administrator dll. Untuk itu guru perlu memahami dengan segala aspek pribadi anak didik seperti : – Kecerdasan dan bakat khusus – Prestasi sejak permulaan sekolah – Perkembangan jasmani dan kesehatannya – kecendrungan emosi dan karakternya – Sikap dan minat belajar – Cita – cita – kebiasaan belajar dan bekerja – hobi dan penggunaan waktu senggang – Hubungan sosial di sekolah dan di rumah – L;atar belakang keluarga – Lingkungan tempat tinggal – Sifat – sifat khusus dan kesulitan anak didik. Secara khusus dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dngan masyarakat, administrator dll. Untuk itu guru perlu memahami dengan segala aspek pribadi anak didik seperti : – Kecerdasan dan bakat khusus – Prestasi sejak permulaan sekolah – Perkembangan jasmani dan kesehatannya – kecendrungan emosi dan karakternya – Sikap dan minat belajar – Cita – cita – kebiasaan belajar dan bekerja – hobi dan penggunaan waktu senggang – Hubungan sosial di sekolah dan di rumah – L;atar belakang keluarga – Lingkungan tempat tinggal – Sifat – sifat khusus dan kesulitan anak didik.

10 4. Hakikat proses belajar Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Maksudnya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan ( Kognitif ), ketrampilan ( Psikomotorik ) maupun sikap ( Afektif ). 4. Hakikat proses belajar Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Maksudnya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan ( Kognitif ), ketrampilan ( Psikomotorik ) maupun sikap ( Afektif ).

11 5. Entering behavior siswa Entering behavior siswa adalah karakteristik perilaku anak didik saat mereka mau masuk sekolah dan mulai dengan kegiatan belajar mengajar dilangsungkan, tingkat dan jenis karakteristik perilaku anak didik yang telah dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar. Menurut ABIN SYAMSUDIN Entering behavior siswa dapat di identifikasikan dengan cara : a. Cara tradisional, yaitu guru mulai dengan perntanyaan mengenai bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru. b. Cara Inovatif, yaitu guru tertentu diberbagai lembaga pendidikan yang memiliki / mampu mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan memenuhi syarat, mengadakan pretes sebelum mereka mulai mengikuti program belajar mengajar. 5. Entering behavior siswa Entering behavior siswa adalah karakteristik perilaku anak didik saat mereka mau masuk sekolah dan mulai dengan kegiatan belajar mengajar dilangsungkan, tingkat dan jenis karakteristik perilaku anak didik yang telah dimilikinya ketika mau mengikuti kegiatan belajar mengajar. Menurut ABIN SYAMSUDIN Entering behavior siswa dapat di identifikasikan dengan cara : a. Cara tradisional, yaitu guru mulai dengan perntanyaan mengenai bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru. b. Cara Inovatif, yaitu guru tertentu diberbagai lembaga pendidikan yang memiliki / mampu mengembangkan instrumen pengukuran prestasi belajar dengan memenuhi syarat, mengadakan pretes sebelum mereka mulai mengikuti program belajar mengajar.

12 6. Pola – pola belajar siswa ROBERT M. GAGNE membedakan pola – pola belajar siswa menjadi 8 type, yaitu : 1. SIGNAL LEARNING Signal lerning yaitu proses penguasaan pola – pola dasar perilaku yang bersifat involuntary atau tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya. Contoh : Aba – aba “siap “ merupakan suatu signal atau isyarat untuk mengambil sikap tertentu. 6. Pola – pola belajar siswa ROBERT M. GAGNE membedakan pola – pola belajar siswa menjadi 8 type, yaitu : 1. SIGNAL LEARNING Signal lerning yaitu proses penguasaan pola – pola dasar perilaku yang bersifat involuntary atau tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya. Contoh : Aba – aba “siap “ merupakan suatu signal atau isyarat untuk mengambil sikap tertentu.

13 2. STIMILUS – RENSPONS LEARNING Type ini digolongkan kedalam Instrumental conditioning yaitu belajar dengan Trial and Error ( Mencoba – coba ) termasuk proses belajar bahasa pada anak – anak. Kondisi yang dperlukan untuk berlangsungnya type belajar ini adalah faktor inforcement. Waktu antara stimulus pertama dqan berikutnya amat penting. Makin singkat S – R denga S – R berikutnya, semakin kuat Reinforcementnya. Contoh : Burung Beo dpat diajar memberi salam dengan mengangkat kaki, bila kita katakan “kasih tangan atau salam”. Ucapan kasih tangan merupakan stimulus yang menimbulkan respons memberi salama burung itu. Jadi jelaslah bahwa kemampuan itu tidak diperoleh secara tiba – tiba, akan tetapi melalui latihan – latihan. Respon dapat diatur dan dikuasai, respons bersifat spesifik, tidak umum dan kabur. 2. STIMILUS – RENSPONS LEARNING Type ini digolongkan kedalam Instrumental conditioning yaitu belajar dengan Trial and Error ( Mencoba – coba ) termasuk proses belajar bahasa pada anak – anak. Kondisi yang dperlukan untuk berlangsungnya type belajar ini adalah faktor inforcement. Waktu antara stimulus pertama dqan berikutnya amat penting. Makin singkat S – R denga S – R berikutnya, semakin kuat Reinforcementnya. Contoh : Burung Beo dpat diajar memberi salam dengan mengangkat kaki, bila kita katakan “kasih tangan atau salam”. Ucapan kasih tangan merupakan stimulus yang menimbulkan respons memberi salama burung itu. Jadi jelaslah bahwa kemampuan itu tidak diperoleh secara tiba – tiba, akan tetapi melalui latihan – latihan. Respon dapat diatur dan dikuasai, respons bersifat spesifik, tidak umum dan kabur.

14 3. CHAINING Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S – R yang satu dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya type beljar ini antara lain secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlahsatua S – R, baik psikomotorik maupun verbal. 3. CHAINING Chaining adalah belajar menghubungkan satuan ikatan S – R yang satu dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya type beljar ini antara lain secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlahsatua S – R, baik psikomotorik maupun verbal.

15 5. DISCRIMINATION LEARNING Discrimination learning yaitu belajar mengadakan pembeda. Dalam type ini anak didik mengadakan seleksi dan pengujian diantara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola – pola respon yang diaggap paling sesuai. Anak didik dalam pola ini sudah mempunyai kemahiran melakukan chaining, association dan pengalaman (pola S–R ) Contoh : Anak dapat mengenal berbagai merek mobil besrta namanya, walaupun mobil itu banyak bersamaan. 5. DISCRIMINATION LEARNING Discrimination learning yaitu belajar mengadakan pembeda. Dalam type ini anak didik mengadakan seleksi dan pengujian diantara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola – pola respon yang diaggap paling sesuai. Anak didik dalam pola ini sudah mempunyai kemahiran melakukan chaining, association dan pengalaman (pola S–R ) Contoh : Anak dapat mengenal berbagai merek mobil besrta namanya, walaupun mobil itu banyak bersamaan.

16 6. CONCEPT LEARNING Concept learning adalah belajar poengertian. Dengan berdasarkan kesamaan ciri – ciri dari sekumpulan stimulus dan obyek – obyeknya, ia membentuk suatu pengertian/ konsep, kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya. Contoh : Ia dapat menggolongkan dunia skitarnya menurut konsep, misalnya menurut warna, bentuk,jumlah. Ia dapat menggolongkan manusia menurut hubungankeluarga seperti: bapak, ibu, paman, saudara. 6. CONCEPT LEARNING Concept learning adalah belajar poengertian. Dengan berdasarkan kesamaan ciri – ciri dari sekumpulan stimulus dan obyek – obyeknya, ia membentuk suatu pengertian/ konsep, kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya. Contoh : Ia dapat menggolongkan dunia skitarnya menurut konsep, misalnya menurut warna, bentuk,jumlah. Ia dapat menggolongkan manusia menurut hubungankeluarga seperti: bapak, ibu, paman, saudara.

17 7. RULE LEARNING ( BELAJAR ATURAN ) Rule learning adalah belajar membuat generalisasi, hukum dan kaidah. Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah – kaidah logika formal ( induktif, kondukti, analisis, sintesis, asosiasi, diferiensi, komparasi dan kausalitas ) sehingga anak didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang senagai “ Rule “. Belajar aturan adalah Type belajar yang banyak terdapat dalam pelajaran sekolah. Aturan ini terdapat dalam tiap mata pelajaran, misalnya, benda yang dipanaskan memuai, angin berhembus dari daerah yang maksimum ke daerah minimum, (a+b) (a-b) = a2 – b2, untuk menjamin keselamatan negara harus diadakan pertahanan yang ampuh 7. RULE LEARNING ( BELAJAR ATURAN ) Rule learning adalah belajar membuat generalisasi, hukum dan kaidah. Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah – kaidah logika formal ( induktif, kondukti, analisis, sintesis, asosiasi, diferiensi, komparasi dan kausalitas ) sehingga anak didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang senagai “ Rule “. Belajar aturan adalah Type belajar yang banyak terdapat dalam pelajaran sekolah. Aturan ini terdapat dalam tiap mata pelajaran, misalnya, benda yang dipanaskan memuai, angin berhembus dari daerah yang maksimum ke daerah minimum, (a+b) (a-b) = a2 – b2, untuk menjamin keselamatan negara harus diadakan pertahanan yang ampuh

18 Ada dua cara dalam metode ini : – Anak menemukan sendiri aturan – aturan itu – Anak diberitahukan atuaran – aturan yang dipelajari dengan memberikan contoh – contoh, dan cara ini lebih efektif. Mengenal aturan tanpa memahaminya akan merupakan “ verbal chain “ saja dan ini hanya menunjukkan cara belajar yang salah. Kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar seperti ini adalah : Kepada anak didik diberitahukan bentuk performance yang diharapkan, kalau yang bersangkutan menjalani proses belajar Anak didik diberikan sejumlah perntanyaan yang merangsang, mengingatkannya ( recall ) terhadap konsep yang dipelajarinya dan dimilikinya untuk mengungkapkan perbendaharaan pengetahuannya. Anak didik diberitahukan kata kunci yang menyarankan anak didik ke arah pembentukan kaidah tertentu yang diharapkan. Diberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengekspresikan dan menyatakan kaidah tersebut dengan kata – katanya sendiri. Anak didk diberikan kesempatan untuk menyusun rule dalam bentuk statement formal. Ada dua cara dalam metode ini : – Anak menemukan sendiri aturan – aturan itu – Anak diberitahukan atuaran – aturan yang dipelajari dengan memberikan contoh – contoh, dan cara ini lebih efektif. Mengenal aturan tanpa memahaminya akan merupakan “ verbal chain “ saja dan ini hanya menunjukkan cara belajar yang salah. Kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar seperti ini adalah : Kepada anak didik diberitahukan bentuk performance yang diharapkan, kalau yang bersangkutan menjalani proses belajar Anak didik diberikan sejumlah perntanyaan yang merangsang, mengingatkannya ( recall ) terhadap konsep yang dipelajarinya dan dimilikinya untuk mengungkapkan perbendaharaan pengetahuannya. Anak didik diberitahukan kata kunci yang menyarankan anak didik ke arah pembentukan kaidah tertentu yang diharapkan. Diberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengekspresikan dan menyatakan kaidah tersebut dengan kata – katanya sendiri. Anak didk diberikan kesempatan untuk menyusun rule dalam bentuk statement formal.

19 8. PROBLEM SOLVING ( PEMECAHAN MASALAH ) Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Langkah – langkah pemecahan masalah adalah sbb : Merumuskan dan megaskan masalah Mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis. Mengevaluasi alternatif pemecahan yang di kembangkan. Mengadakan pengujian dan verifikasi. 8. PROBLEM SOLVING ( PEMECAHAN MASALAH ) Problem solving adalah belajar memecahkan masalah. Langkah – langkah pemecahan masalah adalah sbb : Merumuskan dan megaskan masalah Mencari fakta pendukung dan merumuskan hipotesis. Mengevaluasi alternatif pemecahan yang di kembangkan. Mengadakan pengujian dan verifikasi.

20 7. Memilih sistem belajar mengajar. Para ahli teori belajar mengembangkan berbagai cara pendekatan atau sistem pengajaran atau proses belajar mengajar antara lain : a. INQUIRY – DISCOVERY LEARNING Adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar ini guru menyajikan bahan prngajaran tidak dalam bentuk final, tetapi anak diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah. 7. Memilih sistem belajar mengajar. Para ahli teori belajar mengembangkan berbagai cara pendekatan atau sistem pengajaran atau proses belajar mengajar antara lain : a. INQUIRY – DISCOVERY LEARNING Adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar ini guru menyajikan bahan prngajaran tidak dalam bentuk final, tetapi anak diberi peluang untuk mencari dan menemukannya sendiri dengan mempergunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.

21 Prosedur I NQUIRY – DISCOVERY LEARNING sebagai berikut : – Simulation, Guru bertanya dengan mengajukan persoalan/ anak disuruh membaca, mendengarkan uraian yang memuat permasalahan. – Problem statement.Anak didik diberi kesempatan untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan. Permasalahan yang dipilih harus dirimuskan dalam bentuk pentanyaan/hipotesis yakni penyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. – Data Collection. Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis anak diberi kesempatan untuk mengumpulkan ( collection ) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber, melakukanuji cobasendiri dan sebagainya. – Data processing. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingakatr kepercayaan tertentu. – Verification/pembuktian. Berdasarkan hasil pengolaan dan tafsiran atau informasi yang ada, penyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan, di cek, apakah terjawab/tidak, apakah terbukti/tidak. – Generalization. Berdasarkan hasil verifikasi, anak didik belajar menarik kesimpulan/ generalisasi tertentu. Prosedur I NQUIRY – DISCOVERY LEARNING sebagai berikut : – Simulation, Guru bertanya dengan mengajukan persoalan/ anak disuruh membaca, mendengarkan uraian yang memuat permasalahan. – Problem statement.Anak didik diberi kesempatan untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan. Permasalahan yang dipilih harus dirimuskan dalam bentuk pentanyaan/hipotesis yakni penyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. – Data Collection. Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis anak diberi kesempatan untuk mengumpulkan ( collection ) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber, melakukanuji cobasendiri dan sebagainya. – Data processing. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingakatr kepercayaan tertentu. – Verification/pembuktian. Berdasarkan hasil pengolaan dan tafsiran atau informasi yang ada, penyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan, di cek, apakah terjawab/tidak, apakah terbukti/tidak. – Generalization. Berdasarkan hasil verifikasi, anak didik belajar menarik kesimpulan/ generalisasi tertentu.

22 b. EKP0SITORY LEARNING. Sistem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, siematis dan lengkap, sehingga anak didik tinggal menyimak dan mencernanya secara tertib dan teratur. Prosedurnya sebagai berikut : – Preparasi. Guru mempersiapkan (bahan) selengkapnya secara sistematis dan rapi – Appersepsi. Guru bertanya atau memberikan uaraian singkat untuk mengarahkan perhatian anak didik kepada materi yang akan diajarkan. – Presentasi. Guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah/menyuruh anak didik membacabahan yang telah dipersiapkan – Resitasi. Guru bertanya dan anak didik menjawab sesuai dengan bahan yang dipelajari / anak didik disuruh menyatakan kembali dengan kata – katanya sendiri tentang pokok masalah yang telah dipelajari secara lisan maupun tulisan. b. EKP0SITORY LEARNING. Sistem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, siematis dan lengkap, sehingga anak didik tinggal menyimak dan mencernanya secara tertib dan teratur. Prosedurnya sebagai berikut : – Preparasi. Guru mempersiapkan (bahan) selengkapnya secara sistematis dan rapi – Appersepsi. Guru bertanya atau memberikan uaraian singkat untuk mengarahkan perhatian anak didik kepada materi yang akan diajarkan. – Presentasi. Guru menyajikan bahan dengan cara memberikan ceramah/menyuruh anak didik membacabahan yang telah dipersiapkan – Resitasi. Guru bertanya dan anak didik menjawab sesuai dengan bahan yang dipelajari / anak didik disuruh menyatakan kembali dengan kata – katanya sendiri tentang pokok masalah yang telah dipelajari secara lisan maupun tulisan.

23 c. MASTERY LEARNING Dalam sistem balajar ini guru harus mengusahakan upaya – upaya yang dapat mengantarkan kegiatan anak didik ke arah tercapainya penguasaan penuh terhadap bahan pelajaran yang diberikan. Dalam hal ini ada dua buah kegiatan antara lain : – Kegiatan Pengayaan, yaitu kegiatan yang diberikan siswa –siswa kelompok cepat sehingga siswa tersebut menjadi lebih kaya pengetahuan dan ketrampilan /lebih mendalami bahan pelajaran yang dipelajari. – Kegiatan Perbaikan, yakni kegiatan yang diberikan kepada sisw – siswa yang belum menguasai bahan pelajaran yang diberikan oleh guru dengan mahsud mempertinggi tingkat penguasaan terhadap bahan pelajaran tersebut. c. MASTERY LEARNING Dalam sistem balajar ini guru harus mengusahakan upaya – upaya yang dapat mengantarkan kegiatan anak didik ke arah tercapainya penguasaan penuh terhadap bahan pelajaran yang diberikan. Dalam hal ini ada dua buah kegiatan antara lain : – Kegiatan Pengayaan, yaitu kegiatan yang diberikan siswa –siswa kelompok cepat sehingga siswa tersebut menjadi lebih kaya pengetahuan dan ketrampilan /lebih mendalami bahan pelajaran yang dipelajari. – Kegiatan Perbaikan, yakni kegiatan yang diberikan kepada sisw – siswa yang belum menguasai bahan pelajaran yang diberikan oleh guru dengan mahsud mempertinggi tingkat penguasaan terhadap bahan pelajaran tersebut.

24 Kegiatan pengayaan dibagi menjadi dua macam : – Kegiatan pengayaan yang berhubungan dengan topik madul pokok. – Kegiatan pengayaan yang tidak berhubungan dengan topik modul pokok. Langkah – langkahnya : Memberikan kegiatan yang tidak berhubungan dengan topik modul tetapi masih dalam ruang lingkup bidang study yang sama. Memberikan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan topik modul dan juga tidak dalam bidang study yang sama. Kegiatan pengayaan dibagi menjadi dua macam : – Kegiatan pengayaan yang berhubungan dengan topik madul pokok. – Kegiatan pengayaan yang tidak berhubungan dengan topik modul pokok. Langkah – langkahnya : Memberikan kegiatan yang tidak berhubungan dengan topik modul tetapi masih dalam ruang lingkup bidang study yang sama. Memberikan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan topik modul dan juga tidak dalam bidang study yang sama.

25 Sedang kegiatan perbaikan dapat dilakukan dengan jalan : 1. Mengganti metode mengajar dengan metode mengajar yang lain 2.Menyuruh membaca buku – buku sumber yang mengandung konsep yang sama. 3.Peer tutor ( tutor sebaya ). Dalam pelaksanaan program perbaikan kadangkala guru disibukkan dengan berbagai kegiatan di kelas karena banyaknya siswa yang gagal menguasai bahan pelajaran. Akan tetapi karena banyanya siswa yang di tangani, maka guru dapat meminta bantuan kepada siswa yang semestinya ikut pengayaan untuk menjadi tutoring, manfaatnya : Ada kalanya hasilnya lebih baik bagi anak yang enggan/ takut kepada gurunya. Bagi tutor, pekerjaan tutoring akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang sedang dibahas. Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban tugas dan melatih kesabaran. mempererat hubungan antar sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial. Sedang kegiatan perbaikan dapat dilakukan dengan jalan : 1. Mengganti metode mengajar dengan metode mengajar yang lain 2.Menyuruh membaca buku – buku sumber yang mengandung konsep yang sama. 3.Peer tutor ( tutor sebaya ). Dalam pelaksanaan program perbaikan kadangkala guru disibukkan dengan berbagai kegiatan di kelas karena banyaknya siswa yang gagal menguasai bahan pelajaran. Akan tetapi karena banyanya siswa yang di tangani, maka guru dapat meminta bantuan kepada siswa yang semestinya ikut pengayaan untuk menjadi tutoring, manfaatnya : Ada kalanya hasilnya lebih baik bagi anak yang enggan/ takut kepada gurunya. Bagi tutor, pekerjaan tutoring akan mempunyai akibat memperkuat konsep yang sedang dibahas. Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban tugas dan melatih kesabaran. mempererat hubungan antar sesama siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.

26 d. HUMANISTIK EDUCATION Karakteristik pokok dalam metode ini antara lain bahwa guru hendaknya jangan membuat jarak terlalu tajam dengan siswanya. Ia harus menempatkan diri berdampingan dengan siswa sebagai siswa senior yang selalu siap menjadi sumber/ konsultan berbicara. Taraf akhir dari proses ini adalah Self actualization. d. HUMANISTIK EDUCATION Karakteristik pokok dalam metode ini antara lain bahwa guru hendaknya jangan membuat jarak terlalu tajam dengan siswanya. Ia harus menempatkan diri berdampingan dengan siswa sebagai siswa senior yang selalu siap menjadi sumber/ konsultan berbicara. Taraf akhir dari proses ini adalah Self actualization.

27 e. PENGORGANISASIAN KELOMPOK BELAJAR. Pengorganisasian kelompok belajar anak didik disarankan : – Kelompok belajar tunggal ( N 1 ), metode yang sesuai adalah tutorial, pengajaran berprogram, studi individual ( independent study) – Kelompok kecil ( N 2 – 20 ) metode belajarnya : Diskusi, seminar, klasikal (class room teaching) dengan teknik bervariasi sesuai dengan kempuan guru. – Kelompok belajar besar ( N Lebih 40 orang ), metode belajarnya : Kuliah/ceramah e. PENGORGANISASIAN KELOMPOK BELAJAR. Pengorganisasian kelompok belajar anak didik disarankan : – Kelompok belajar tunggal ( N 1 ), metode yang sesuai adalah tutorial, pengajaran berprogram, studi individual ( independent study) – Kelompok kecil ( N 2 – 20 ) metode belajarnya : Diskusi, seminar, klasikal (class room teaching) dengan teknik bervariasi sesuai dengan kempuan guru. – Kelompok belajar besar ( N Lebih 40 orang ), metode belajarnya : Kuliah/ceramah


Download ppt "STRATEGI BELAJAR MENGAJAR OLEH. MOH. YANI, S.AG, MM,M.Pd.I Pengertian Strategi Belajar Mengajar 1.Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google