Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Inventory Management M a c h f u d. 2 Persediaan: sejumlah item barang yang ditahan (“disimpan”) untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan internal/eksternal.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Inventory Management M a c h f u d. 2 Persediaan: sejumlah item barang yang ditahan (“disimpan”) untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan internal/eksternal."— Transcript presentasi:

1 Inventory Management M a c h f u d

2 2 Persediaan: sejumlah item barang yang ditahan (“disimpan”) untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan internal/eksternal industri. Sediaan : Produk akhir, Bahan utk proses produksi (langsung/tidak langsung), alat-peralatan dan perlengkapan produksi. Produktivitas : Output / Input (termasuk biaya Input adalah biaya persediaan)

3 3 Fungsi Persediaan Kelancaran proses produksi, karena masalah pasokan bahan baku (fluktuasi, musiman, gangguan transportasi/distribusi). Kelancaran proses produksi, karena masalah pasokan bahan baku (fluktuasi, musiman, gangguan transportasi/distribusi). Mendapatkan manfaat dari jumlah pembelian yang besar (diskon harga), biaya produksi per unit yang lebih efisien dengan produksi yang besar. Mendapatkan manfaat dari jumlah pembelian yang besar (diskon harga), biaya produksi per unit yang lebih efisien dengan produksi yang besar. Perlindungan terhadap perubahan harga (karena inflasi). Perlindungan terhadap perubahan harga (karena inflasi). Menjamin pemenuhan kebutuhan konsumen atas produk, karena sifat permintaan yang fluktuatif dan tidak pasti. Menjamin pemenuhan kebutuhan konsumen atas produk, karena sifat permintaan yang fluktuatif dan tidak pasti. Mengurang ketergantungan terhadap Vendors Mengurang ketergantungan terhadap Vendors Memberikan kebebasan penjadawalan produksi antar tahapan proses dan mencegah terhentinya produksi antar tahapan proses. Memberikan kebebasan penjadawalan produksi antar tahapan proses dan mencegah terhentinya produksi antar tahapan proses.

4 4 Different Views of Inventory Demand Type Independent Dependent Process stage Raw Material Work in Process Finished Goods Other Maintenance / Repair Operating Supplies Types of Inventory Cycle Pipeline Safety Stock Anticipation Annual $ Volume A B C

5 5 Two Forms of Demand  Dependent  Kebutuhan item bahan/barang yang digunakan untuk memproduksi produk.  Kebutuhan satu item tergantung kepada kebutuhan item yang lain  Tires stored at a Goodyear plant are an example of a dependent demand item  Independent  Kebutuhan suatu item barang yang digunakan oleh pelanggan (external)  Cars, appliances, computers, and houses are examples of independent demand inventory

6 6 Kelancaran Proses Produksi Kelancaran Proses Produksi Fluktuasi Harga / Inflasi Fluktuasi Harga / Inflasi Ketidakpastian pasokan (Musiman) Ketidakpastian pasokan (Musiman) Service level (Pemenuhan kebutuhan/permintaan) Service level (Pemenuhan kebutuhan/permintaan) Bahan Baku Produk Pemasok Bahan Baku WIPProduk AgroIndustri Distributor/Pengecer Jumlah Persediaan yang Besar ?? Sediaan: investasi (uang) yg terikat pada bahan Sediaan: investasi (uang) yg terikat pada bahan Biaya menahan/menyimpan dan pe(-) mutu Biaya menahan/menyimpan dan pe(-) mutu Inventory turn over yang tinggi Inventory turn over yang tinggi Kemubaziran Kemubaziran Jumlah Persediaan yang Kecil ?? Pengendalian Bahan Baku Petani

7 7 Pengelolaan / Pengendalian: Tingkat Sediaan (I t * ) QtQt DtDt Fisik Info Kapan : Waktu (t) Pada saat I t berapa ( r ) Berapa Banyak dilakukan pengadaan /order. (pemesanan bahan / perintah produksi) Total Biaya Persediaan Minimum 1.Biaya Pengadaan 2.Biaya holding / carrying 3.Biaya stock out Kebijakan / Keputusan Pengendalian Persediaan I t = f ( Q, D, saat pesan, service level, lead time,...., )

8 8 Cycle Inventory – result of lot size Cycle Inventory – result of lot size Pipeline Inventory – in transit Pipeline Inventory – in transit Safety Stock – held to protect against uncertainty Safety Stock – held to protect against uncertainty Anticipation Inventory – used to absorb uneven rates of demand or supply (e.g. seasonal demand) Anticipation Inventory – used to absorb uneven rates of demand or supply (e.g. seasonal demand) Average cycle inventory = Q2Q2 Pipeline inventory = dL

9 9 Taktik untuk mengurangi Tingkat Inventory Cycle inventory Pipeline inventory Safety Stock Anticipation inventory Reduce lot size Reduce lead time Various Reduce uncertainties Various

10 10 Model Pengendalian Persediaan: Permintaan /Penggunaan Sediaan: Permintaan /Penggunaan Sediaan: Deterministik (Statis atau Dinamis ) Vs Stokastik/Probabilistik Deterministik (Statis atau Dinamis ) Vs Stokastik/Probabilistik Dependent Vs Independent. Dependent Vs Independent. Fast moving Vs Slow moving Fast moving Vs Slow moving Lead Time: Lead Time: Deterministik (Statis atau Dinamis ) Vs Stokastik/Probabilistik Deterministik (Statis atau Dinamis ) Vs Stokastik/Probabilistik Pola (kecepatan) Kedatangan sediaan yg dipesan/diproduksi: Pola (kecepatan) Kedatangan sediaan yg dipesan/diproduksi: (infinit) (finit) (periodik) (infinit) (finit) (periodik) Kendala (space gudang, biaya, dll) Kendala (space gudang, biaya, dll) Karakteristik Biaya : Karakteristik Biaya : Komponen Biaya Stock out : infinit vs finit. Komponen Biaya Stock out : infinit vs finit. Bentuk fungsi biaya Bentuk fungsi biaya Ada/tidak ada Discount. Ada/tidak ada Discount. Karakteristik item sediaan (daya simpan). Karakteristik item sediaan (daya simpan). Lingkup Pengendalian: Lingkup Pengendalian: Multi Item vs Single item Multi Item vs Single item Multi level / echelon vs Single level. Multi level / echelon vs Single level.

11 11 Model Deterministik t ItIt 0 b ItIt 0 b ItIt 0 t ItIt 0 t t Model 1; P : finit & k`: finitModel II; P : finit & k`: infinit Model IV; P : infinit & k`: infinitModedl III: P : infinit & k`: finit Q* b* t,r Q* t,r Q* t,r Q* b* t,r

12 Types of Inventory Raw materials Purchased parts and supplies Work-in-process (partially completed) products (WIP) Items being transported Tools and equipment

13 Inventory and Quality Management Customers usually perceive quality service as availability of goods they want when they want them Customers usually perceive quality service as availability of goods they want when they want them Inventory must be sufficient to provide high-quality customer service in TQM Inventory must be sufficient to provide high-quality customer service in TQM

14 Inventory Control Systems  Continuous system (fixed- order-quantity)  constant amount ordered when inventory declines to predetermined level  Periodic system (fixed-time- period)  order placed for variable amount after fixed passage of time

15 ABC Classification Class A Class A 5 – 15 % of units 5 – 15 % of units 70 – 80 % of value 70 – 80 % of value Class B Class B 30 % of units 30 % of units 15 % of value 15 % of value Class C Class C 50 – 60 % of units 50 – 60 % of units 5 – 10 % of value 5 – 10 % of value

16 ABC Classification: Example 1$ PARTUNIT COSTANNUAL USAGE

17 ABC Classification: Example (cont.) Example $ PARTUNIT COSTANNUAL USAGE TOTAL% OF TOTAL% OF TOTAL PARTVALUEVALUEQUANTITY% CUMMULATIVE 9$30, , , , , , , , , , $85,400 AB C % OF TOTAL CLASSITEMSVALUEQUANTITY A9, 8, B1, 4, C6, 5, 10,

18 Economic Order Quantity (EOQ) Models EOQ EOQ optimal order quantity that will minimize total inventory costs optimal order quantity that will minimize total inventory costs Basic EOQ model Basic EOQ model Production quantity model Production quantity model

19 Assumptions of Basic EOQ Model Demand is known with certainty and is constant over time Demand is known with certainty and is constant over time No shortages are allowed No shortages are allowed Lead time for the receipt of orders is constant Lead time for the receipt of orders is constant Order quantity is received all at once Order quantity is received all at once

20 Inventory Order Cycle Demand rate Time Lead time Order placed Order receipt Inventory Level Reorder point, R Order quantity, Q 0

21 EOQ Cost Model C o - cost of placing orderD - annual demand C c - annual per-unit carrying costQ - order quantity Annual ordering cost = CoDCoDQQCoDCoDQQQ Annual carrying cost = CcQCcQ22CcQCcQ222 Total cost = + CoDCoDQQCoDCoDQQQ CcQCcQ22CcQCcQ222

22 EOQ Cost Model TC = + CoDQCoDQ CcQ2CcQ2 = + CoDQ2CoDQ2 Cc2Cc2  TC  Q 0 = + C0DQ2C0DQ2 Cc2Cc2 Q opt = 2CoDCc2CoDCc Deriving Q opt Proving equality of costs at optimal point = CoDQCoDQ CcQ2CcQ2 Q 2 = 2CoDCc2CoDCc Q opt = 2CoDCc2CoDCc

23 EOQ Cost Model (cont.) Order Quantity, Q Annual cost ($) Total Cost Carrying Cost = CcQCcQ22CcQCcQ222 Slope = 0 Minimum total cost Optimal order Q opt Q opt Ordering Cost = CoDCoDQQCoDCoDQQQ

24 EOQ Example C c = $0.75 per yardC o = $150D = 10,000 yards Q opt = 2CoD2CoDCcCc2CoD2CoDCcCc 2(150)(10,000)(0.75) Q opt = 2,000 yards TC min = + CoDCoDQQCoDCoDQQQ CcQCcQ22CcQCcQ222 (150)(10,000)2,000(0.75)(2,000)2 TC min = $750 + $750 = $1,500 Orders per year =D/Q opt =10,000/2,000 =5 orders/year Order cycle time =311 days/(D/Q opt ) =311/5 =62.2 store days

25 Production Quantity Model An inventory system in which an order is received gradually, as inventory is simultaneously being depleted An inventory system in which an order is received gradually, as inventory is simultaneously being depleted AKA non-instantaneous receipt model AKA non-instantaneous receipt model assumption that Q is received all at once is relaxed assumption that Q is received all at once is relaxed p - daily rate at which an order is received over time, a.k.a. production rate p - daily rate at which an order is received over time, a.k.a. production rate d - daily rate at which inventory is demanded d - daily rate at which inventory is demanded

26 Production Quantity Model (cont.) Q(1-d/p) Inventorylevel (1-d/p) Q2 Time 0 Order receipt period BeginorderreceiptEndorderreceipt Maximum inventory level Average

27 Production Quantity Model (cont.) p = production rated = demand rate Maximum inventory level =Q - d =Q 1 - Qp dp Average inventory level = 1 - Q2 dp TC = dp CoDCoDQQCoDCoDQQQ CcQCcQ22CcQCcQ222 Q opt = 2C o D C c 1 - dp

28 Production Quantity Model: Example C c = $0.75 per yardC o = $150D = 10,000 yards d = 10,000/311 = 32.2 yards per dayp = 150 yards per day Q opt = = = 2,256.8 yards 2C o D C c 1 - dp 2(150)(10,000) TC = = $1,329 dp CoDCoDQQCoDCoDQQQ CcQCcQ22CcQCcQ222 Production run = = = days per order Qp2,

29 Production Quantity Model: Example (cont.) Number of production runs = = = 4.43 runs/year DQDQ 10,000 2,256.8 Maximum inventory level =Q 1 - = 2, =1,772 yards dpdp

30 Quantity Discounts Price per unit decreases as order quantity increases N0N0 Jumlah Pemesanan, Q Total Biaya Tidak Tetap (C j Q j ) N4N4 N3N3 N2N2 N1N1 Kasus Model IV, untuk harga C j tertentu, maka: TC j (Q) = AD/Q + C j D + ½.C j Q Q opt Carrying cost Ordering cost Inventory cost ($) Q( d 1 ) = 100 Q( d 2 ) = 200 TC ( d 2 = $6 ) TC ( d 1 = $8 ) TC = ($10 ) ORDER SIZE PRICE $ – ( d 1 ) ( d 2 )

31 31 Menentukan Jumlah Pengadaan Optimal Kasus Model IV, untuk harga C j tertentu, maka: TC j (Q) = AD/Q + C j D + ½.C j Q 1. Utk setiap C j, cari Q j o : jika N j-1 < Q j o < N j, maka Q j o = Q j * jika Q j o < N j-1 maka Q j * = N j-1 jika Q j o ≥ N j, maka Q j * = N j 2. Utk setiap Q j * hitung TC j (Q j * ). 3. Q * = Minimum [ TC j (Q j * ) ]

32 Quantity Discount: Example QUANTITYPRICE $1, , C o =$2,500 C c =$190 per computer D =200 Q opt = = = 72.5 PCs 2CoD2CoDCcCc2CoD2CoDCcCc2(2500)(200)190 TC = + + PD = $233,784 C o D Q opt C c Q opt 2 For Q = 72.5 TC = + + PD = $194,105 CoDCoDQQCoDCoDQQQ CcQCcQ22CcQCcQ222 For Q = 90

33 33 Jika biaya menahan persediaan merupakan proporsi tertentu dari harga/unit bahan (mis: i = 10%). Jika biaya menahan persediaan merupakan proporsi tertentu dari harga/unit bahan (mis: i = 10%). Untuk j, cari nilai optimum Q Untuk j, cari nilai optimum Q CjQojQojQ*jTC* j j= , j= , j= ,

34 Reorder Point Level of inventory at which a new order is placed R = dL where d = demand rate per period L = lead time

35 Reorder Point: Example Demand = 10,000 yards/year Store open 311 days/year Daily demand = 10,000 / 311 = yards/day Lead time = L = 10 days R = dL = (32.154)(10) = yards

36 Safety Stocks Safety stock Safety stock buffer added to on hand inventory during lead time buffer added to on hand inventory during lead time Stockout Stockout an inventory shortage an inventory shortage Service level Service level probability that the inventory available during lead time will meet demand probability that the inventory available during lead time will meet demand

37 Variable Demand with a Reorder Point Reorder point, R Q LT Time LT Inventory level 0

38 Variable Demand with a Reorder Point and Safety Stock Reorder point, R Q LT Time LT Inventory level 0 Safety Stock

39 Reorder Point With Variable Demand R = dL + z  d L where d=average daily demand L=lead time  d =the standard deviation of daily demand z=number of standard deviations corresponding to the service level probability z  d L=safety stock

40 Reorder Point for a Service Level Probability of meeting demand during lead time = service level Probability of a stockout R Safety stock dL Demand z  d L

41 Reorder Point for Variable Demand The carpet store wants a reorder point with a 95% service level and a 5% stockout probability d= 30 yards per day L= 10 days  d = 5 yards per day For a 95% service level, z = 1.65 R= dL + z  d L = 30(10) + (1.65)(5)( 10) = yards Safety stock= z  d L = (1.65)(5)( 10) = 26.1 yards

42 42 Model Probabilistik Permintaan/kebutuha n Permintaan/kebutuha n “Lead time” “Lead time” Probabilistik, dengan Nilai Tengah (μ) dan keragaman atau simpangan baku (σ) tertentu Buffer stock / Safety stock & “Service level” 1.Single Period, periode pemesanan hanya satu kali. 2.Multi Period, periode pemesanan beberapa kali dalam satu periode perencanaan. a.Model Continue (Q, r): Monitoring kondisi persediaan (I t ) kontinue. Q dan r sekali ditetapkan dan tetap sepanjang periode. Periode pemesanan (T) tidak tetap sepanjang periode. I t ≤ r, lakukan pemesanan sejumlah Q b.Model Periodic (T,R): Monitoring kondisi persediaan (I t ) pada periode T tertentu yang tetap. R (target tingkat persediaan) sekali ditetapkan dan tetap sepanjang periode. Jumlah yang dipesan (Q) bervariasi sepanjang periode. Pada saat T, lakukan pemesanan sejumlah Q, Q = R - r

43 43 s2s2 Q s3s3 Q 0 Q s1s1 r t  Tingkat Persediaan (Waktu) Model Continue ( Q,r) Kasus Backorder:  : nilai tengah permintaan selama masa tunggu. b (r) : tingkat kekurangan sediaan, jika tingkat sediaan (I t ) pada saat pemesanan = r.

44 44 Jika: biaya kekurangan (k) didasarkan kepada Jumlah kekurangan, maka Jika : biaya kekurangan (k) didasarkan pada lama waktu terjadinya kekurangan. F’ (r * ) : peluang terjadinya kekurangan sediaan F’ (r*) = 1- F(r * ) = 1 - F {(r -  ) /  } ; dan F (r*) = F {(r -  ) /  } : peluang tidak terjadinya kekurangan sediaan atau service level. Misalkan F(r * ) = 0,95 atau 95 %, pada Tabel normal dicari nilai Z  z= 1,68. Buffer stock atau Safety Stock =  + z.  r * dicari dari formula Kasus Backorder: r * dicari dari formula Kasus Lost Sale:

45 45 Model Periodic ( T,R) S2S2 r0r0 r2r2 S0S0 S1S1 t2t2 0 Tingkat persediaan R t   r1r1 t3t3 t0t0 t1t1 TT Kasus Backorder: b(R,T) : nilai ekspektasi ( rata-rata) kekurangan persediaan. : Q Q = R - I t

46 46 Apabila nilai T sudah ditetapkan, untuk kasus biaya kekurangan sediaan (k) atas dasar jumlah kekurangan, maka nilai R* yang optimal diperoleh dengan menyelesaikan: Kasus Backorder: F’(R*,T): peluang terjadinya kekurangan sediaan; F(R*,T) = 1 – F’(R*,T) adalah service level. Apabila nilai T sudah ditetapkan, untuk kasus biaya kekurangan sediaan (k) atas dasar lama terjadinya kekurangan, maka nilai R* yang optimal diperoleh dengan menyelesaikan:

47 47 Kasus Lost Sale: Apabila nilai T sudah ditetapkan, maka nilai R* yang optimal diperoleh dengan menyelesaikan: Untuk kasus biaya kekurangan sediaan (k) atas dasar jumlah kekurangan, Total biaya: Untuk kasus biaya kekurangan sediaan (k) atas dasar lama terjadinya kekurangan, Total biaya: Apabila nilai T sudah ditetapkan, maka nilai R* yang optimal diperoleh dengan menyelesaikan:

48 48 Contoh Kasus Contoh Kasus Suatu perusahaan Agroindustri membutuhkan bahan baku yang kebutuhan setiap minggunya bersifat tidak pasti tergantung kepada permintaan pasar. Berdasarkan data masa lalu diketahui bahwa kebutuhan mingguan bahan baku mengikuti sebaran Normal, dengan nilai tengah (  ) sebesar 800 unit, dengan simpangan baku (  ) sebesar 40 unit. Harga setiap unit bahan adalah Rp. 2,5 ribu (C), dan biaya tetap setiap kali pemesan (A) sebesar Rp. 50 ribu, dengan lama waktu tunggu (  ) selama 2 minggu. Setiap kekurangan bahan baku, perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp. 1,1 ribu (k), dan biaya menahan stok adalah 20% dari nilai persediaan (i) atau h= 0,2 x Rp. 2,5 ribu = Rp. 0,5 ribu. Berdasarkan kondisi tersebut, perusahaan akan menentukan berapa jumlah pemesanan yang optimal (Q*) jika ditetapkan bahwa service level adalah sebesar=95%.. Suatu perusahaan Agroindustri membutuhkan bahan baku yang kebutuhan setiap minggunya bersifat tidak pasti tergantung kepada permintaan pasar. Berdasarkan data masa lalu diketahui bahwa kebutuhan mingguan bahan baku mengikuti sebaran Normal, dengan nilai tengah (  ) sebesar 800 unit, dengan simpangan baku (  ) sebesar 40 unit. Harga setiap unit bahan adalah Rp. 2,5 ribu (C), dan biaya tetap setiap kali pemesan (A) sebesar Rp. 50 ribu, dengan lama waktu tunggu (  ) selama 2 minggu. Setiap kekurangan bahan baku, perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp. 1,1 ribu (k), dan biaya menahan stok adalah 20% dari nilai persediaan (i) atau h= 0,2 x Rp. 2,5 ribu = Rp. 0,5 ribu. Berdasarkan kondisi tersebut, perusahaan akan menentukan berapa jumlah pemesanan yang optimal (Q*) jika ditetapkan bahwa service level adalah sebesar=95%.. Misalkan suatu industri melakukan pemesanan bahan secara periodik. Kebutuhan bahan dalam setahun bersifat tidak pasti yang mengikuti sebaran normal dengan rata-rata atau nilai tengah kebutuhan per tahun (  ) adalah sebesar 500 unit per tahun dan ragam (  2) 800 unit. Oleh karena bahan masih diimpor maka waktu tunggu (  ) hingga pemesanan tiba adalah selama 3 bulan atau 0,25 tahun. Harga bahan adalah $ 10 per unit (C) dan biaya penyimpanan per unit (h) adalah sebesar $ 1,0 sedang setiap pemesanan memerlukan biaya sebesar $ 15,0 (A). Kekurangan persediaan bersifat Backorder dan biaya setiap unit kekurangan (  ) sebesar $ 30,0. Misalkan suatu industri melakukan pemesanan bahan secara periodik. Kebutuhan bahan dalam setahun bersifat tidak pasti yang mengikuti sebaran normal dengan rata-rata atau nilai tengah kebutuhan per tahun (  ) adalah sebesar 500 unit per tahun dan ragam (  2) 800 unit. Oleh karena bahan masih diimpor maka waktu tunggu (  ) hingga pemesanan tiba adalah selama 3 bulan atau 0,25 tahun. Harga bahan adalah $ 10 per unit (C) dan biaya penyimpanan per unit (h) adalah sebesar $ 1,0 sedang setiap pemesanan memerlukan biaya sebesar $ 15,0 (A). Kekurangan persediaan bersifat Backorder dan biaya setiap unit kekurangan (  ) sebesar $ 30,0.

49 49 FORMULASI MODEL PENGENDALIAN SEDIAAN (Model Deterministik)

50 50 ItIt 0 b I max D (P – D) T1T1 T2T2 T3T3 T4T4 TPTP T t T = lama periode antar pemesanan= periode 1 siklus T P = lama periode sejak pemesanan sampai dengan jumlah yg dipesan terpenuhi semua = T 1 +T 2. T 1 = lama periode sejak ke(-) sediaan sampai tkt sediaan = 0 T 2 = lama periode akumulasi sediaan sampai tkt sediaan maksimum. T 3 = lama periode penurunan tkt sediaan sampai mencapai tkt sediaan = 0 T 4 = lama periode sejak tkt sediaan =0 sampai saat pemesanan berikutnya. T 1 +T 4 = lama periode ke(-) sediaan. T 2 +T 3 = lama periode kelebihan sediaan.

51 51 ItIt 0 b I max D (P – D) T1T1 T2T2 T3T3 T4T4 TPTP T t Q = 100 unit dan P = 25 unit / hari; maka T P = 100:25 = 4 hari; atau T P = Q / P. Tg = ( P-D) = (I max + b) / T P  I max = (Q/P) (P-D) – b = Q (1 - D/P) - b Jumlah kelebihan sediaan selama 1 siklus T : luas = ½ x I max x (T 2 +T 3 ) Rata2 sediaan dalam 1 periode = 1/T x { ½ x I max x (T 2 +T 3 )} Jumlah kekurangan sediaan selama 1 siklus T : luas = ½ x b x (T 1 +T 4 ) Rata2 kekurangan sediaan dalam 1 periode = 1/T x { ½ x b x (T 1 +T 4 )}

52 52 Rata-rata Biaya Persediaan per Siklus (T) : Biaya Persediaan dalam 1 tahun.= Biaya per siklus x jumlah siklus/tahun Q* dan b* yang memberikan TC minimum:

53 53 MODEL I: P & k (finit) m: nilai integer terbesar dari τ/T MODEL III: P (infinit)& k (finit) TUGAS memformulasikan MODEL II dan IV

54 54 MODEL II: P (finit)& k (infinit) MODEL III: P (finit)& k (infinit) r =  D - mQ Contoh Kasus Contoh Kasus Suatu perusahaan sepatu dalam proses produksinya membutuhkan 200 ton kulit per tahun (D), yang dibeli dengan harga Rp. 50 juta per ton (C). Setiap kali pembelian, jumlah yang dibeli akan sampai di pabrik secara serempak atau sekaligus dengan waktu tunggu selama 3 bulan (  ) Biaya tetap untuk melakukan pengadaan kulit adalah Rp. 5 juta (A). Biaya menahan persediaan kulit diperkirakan sebesar 10 % dari nilai atau harga kulit yang disimpan (i). Perusahaan memperkirakan bahwa jika terjadi kekurangan kulit, perusahaan akan membeli dari pemasok lain yang harganya lebih tinggi sebesar Rp. 0,2 juta per tahun (k) serta mengganggu proses produksi dengan konsekuensi biaya sebesar Rp. 10 juta per tahun (k^). Suatu perusahaan sepatu dalam proses produksinya membutuhkan 200 ton kulit per tahun (D), yang dibeli dengan harga Rp. 50 juta per ton (C). Setiap kali pembelian, jumlah yang dibeli akan sampai di pabrik secara serempak atau sekaligus dengan waktu tunggu selama 3 bulan (  ) Biaya tetap untuk melakukan pengadaan kulit adalah Rp. 5 juta (A). Biaya menahan persediaan kulit diperkirakan sebesar 10 % dari nilai atau harga kulit yang disimpan (i). Perusahaan memperkirakan bahwa jika terjadi kekurangan kulit, perusahaan akan membeli dari pemasok lain yang harganya lebih tinggi sebesar Rp. 0,2 juta per tahun (k) serta mengganggu proses produksi dengan konsekuensi biaya sebesar Rp. 10 juta per tahun (k^). 1. Berapa jumlah pembelian yang optimal setiap kali pengadaan. 2. Berapa selang waktu antar pemesanan kulit. 3. Berapa jumlah kekurangan persediaan kulit yang diperkenankan. 4. Pada tingkat persediaan berapa pabrik harus sudah melakukan pemesanan kulit.

55 55 Perusahaan sepatu dengan kapasitas produksi unit sepatu per tahun (P) mempunyai tingkat permintaan sebesar unit per tahun. Harga sepatu adalah Rp. 50 ribu per unit (C). Setiap kali produksi, biaya tetap produksi adalah sebesar Rp. 15 ribu (A). Biaya menahan persediaan sepatu diperkirakan sebesar 20 % dari nilai atau harga sepatu yang disimpan (i). Perusahaan menggunakan kebijakan memperkenankan terjadi kekurangan persediaan, akan tetapi setiap kali terjadi kekurangan perusahaan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan sebesar Rp 0,3 ribu (  ) dan biaya backorder sebesar Rp ribu per unit per tahun (k^). Seandainya perusahaan berproduksi dalam bentuk batch (1000 unit per batch) dengan waktu produksi per batch selama 10 hari atau 0,03 tahun (  ), Perusahaan sepatu dengan kapasitas produksi unit sepatu per tahun (P) mempunyai tingkat permintaan sebesar unit per tahun. Harga sepatu adalah Rp. 50 ribu per unit (C). Setiap kali produksi, biaya tetap produksi adalah sebesar Rp. 15 ribu (A). Biaya menahan persediaan sepatu diperkirakan sebesar 20 % dari nilai atau harga sepatu yang disimpan (i). Perusahaan menggunakan kebijakan memperkenankan terjadi kekurangan persediaan, akan tetapi setiap kali terjadi kekurangan perusahaan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan sebesar Rp 0,3 ribu (  ) dan biaya backorder sebesar Rp ribu per unit per tahun (k^). Seandainya perusahaan berproduksi dalam bentuk batch (1000 unit per batch) dengan waktu produksi per batch selama 10 hari atau 0,03 tahun (  ), 1. Berapa jumlah produksi setiap kali berproduksi. 2. Berapa jumlah kekurangan persediaan sepatu yang diperkenankan. 3. Berapa lama terjadi kekurangan kekurangan persediaan. 4. Pada tingkat persediaan berapa pabrik harus sudah melakukan produksi sepatu.

56 56 Model Probabilistik Permintaan/kebutuhan Permintaan/kebutuhan “Lead time” “Lead time” Probabilistik, dengan Nilai Tengah (μ) dan keragaman atau simpangan baku (σ) tertentu Buffer stock / Safety stock & “Service level” 1.Single Period, periode pemesanan hanya satu kali. 2.Multi Period, periode pemesanan beberapa kali dalam satu periode perencanaan. a.Model Continue (Q, r): Monitoring kondisi persediaan (I t ) kontinue. Q dan r sekali ditetapkan dan tetap sepanjang periode. Periode pemesanan (T) tidak tetap sepanjang periode. I t ≤ r, lakukan pemesanan sejumlah Q b.Model Periodic (T,R): Monitoring kondisi persediaan (I t ) pada periode T tertentu yang tetap. R (target tingkat persediaan) sekali ditetapkan dan tetap sepanjang periode. Jumlah yang dipesan (Q) bervariasi sepanjang periode. Pada saat T, lakukan pemesanan sejumlah Q, Q = R - r

57 57 s2s2 Q s3s3 Q 0 Q s1s1 r t  Tingkat Persediaan (Waktu) Model Continue ( Q,r) Kasus Backorder:  : nilai tengah permintaan selama masa tunggu. b (r) : tingkat kekurangan sediaan, jika tingkat sediaan (I t ) pada saat pemesanan = r.

58 58 Jika: biaya kekurangan (k) didasarkan kepada Jumlah kekurangan, maka Jika : biaya kekurangan (k) didasarkan pada lama waktu terjadinya kekurangan. F’ (r * ) : peluang terjadinya kekurangan sediaan F’ (r*) = 1- F(r * ) = 1 - F {(r -  ) /  } ; dan F (r*) = F {(r -  ) /  } : peluang tidak terjadinya kekurangan sediaan atau service level. Misalkan F(r * ) = 0,95 atau 95 %, pada Tabel normal dicari nilai Z  z= 1,68. Buffer stock atau Safety Stock =  + z.  r * dicari dari formula Kasus Backorder: r * dicari dari formula Kasus Lost Sale:

59 59 Model Periodic ( T,R) S2S2 r0r0 r2r2 S0S0 S1S1 t2t2 0 Tingkat persediaan R t   r1r1 t3t3 t0t0 t1t1 TT Kasus Backorder: b(R,T) : nilai ekspektasi ( rata-rata) kekurangan persediaan. : Q Q = R - I t

60 60 Apabila nilai T sudah ditetapkan, untuk kasus biaya kekurangan sediaan (k) atas dasar jumlah kekurangan, maka nilai R* yang optimal diperoleh dengan menyelesaikan: Kasus Backorder: F’(R*,T): peluang terjadinya kekurangan sediaan; F(R*,T) = 1 – F’(R*,T) adalah service level. Apabila nilai T sudah ditetapkan, untuk kasus biaya kekurangan sediaan (k) atas dasar lama terjadinya kekurangan, maka nilai R* yang optimal diperoleh dengan menyelesaikan:

61 61 Kasus Lost Sale: Apabila nilai T sudah ditetapkan, maka nilai R* yang optimal diperoleh dengan menyelesaikan: Untuk kasus biaya kekurangan sediaan (k) atas dasar jumlah kekurangan, Total biaya: Untuk kasus biaya kekurangan sediaan (k) atas dasar lama terjadinya kekurangan, Total biaya: Apabila nilai T sudah ditetapkan, maka nilai R* yang optimal diperoleh dengan menyelesaikan:

62 62 Contoh Kasus Contoh Kasus Suatu perusahaan Agroindustri membutuhkan bahan baku yang kebutuhan setiap minggunya bersifat tidak pasti tergantung kepada permintaan pasar. Berdasarkan data masa lalu diketahui bahwa kebutuhan mingguan bahan baku mengikuti sebaran Normal, dengan nilai tengah (  ) sebesar 800 unit, dengan simpangan baku (  ) sebesar 40 unit. Harga setiap unit bahan adalah Rp. 2,5 ribu (C), dan biaya tetap setiap kali pemesan (A) sebesar Rp. 50 ribu, dengan lama waktu tunggu (  ) selama 2 minggu. Setiap kekurangan bahan baku, perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp. 1,1 ribu (k), dan biaya menahan stok adalah 20% dari nilai persediaan (i) atau h= 0,2 x Rp. 2,5 ribu = Rp. 0,5 ribu. Berdasarkan kondisi tersebut, perusahaan akan menentukan berapa jumlah pemesanan yang optimal (Q*) jika ditetapkan bahwa service level adalah sebesar=95%.. Suatu perusahaan Agroindustri membutuhkan bahan baku yang kebutuhan setiap minggunya bersifat tidak pasti tergantung kepada permintaan pasar. Berdasarkan data masa lalu diketahui bahwa kebutuhan mingguan bahan baku mengikuti sebaran Normal, dengan nilai tengah (  ) sebesar 800 unit, dengan simpangan baku (  ) sebesar 40 unit. Harga setiap unit bahan adalah Rp. 2,5 ribu (C), dan biaya tetap setiap kali pemesan (A) sebesar Rp. 50 ribu, dengan lama waktu tunggu (  ) selama 2 minggu. Setiap kekurangan bahan baku, perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp. 1,1 ribu (k), dan biaya menahan stok adalah 20% dari nilai persediaan (i) atau h= 0,2 x Rp. 2,5 ribu = Rp. 0,5 ribu. Berdasarkan kondisi tersebut, perusahaan akan menentukan berapa jumlah pemesanan yang optimal (Q*) jika ditetapkan bahwa service level adalah sebesar=95%.. Misalkan suatu industri melakukan pemesanan bahan secara periodik. Kebutuhan bahan dalam setahun bersifat tidak pasti yang mengikuti sebaran normal dengan rata-rata atau nilai tengah kebutuhan per tahun (  ) adalah sebesar 500 unit per tahun dan ragam (  2) 800 unit. Oleh karena bahan masih diimpor maka waktu tunggu (  ) hingga pemesanan tiba adalah selama 3 bulan atau 0,25 tahun. Harga bahan adalah $ 10 per unit (C) dan biaya penyimpanan per unit (h) adalah sebesar $ 1,0 sedang setiap pemesanan memerlukan biaya sebesar $ 15,0 (A). Kekurangan persediaan bersifat Backorder dan biaya setiap unit kekurangan (  ) sebesar $ 30,0. Misalkan suatu industri melakukan pemesanan bahan secara periodik. Kebutuhan bahan dalam setahun bersifat tidak pasti yang mengikuti sebaran normal dengan rata-rata atau nilai tengah kebutuhan per tahun (  ) adalah sebesar 500 unit per tahun dan ragam (  2) 800 unit. Oleh karena bahan masih diimpor maka waktu tunggu (  ) hingga pemesanan tiba adalah selama 3 bulan atau 0,25 tahun. Harga bahan adalah $ 10 per unit (C) dan biaya penyimpanan per unit (h) adalah sebesar $ 1,0 sedang setiap pemesanan memerlukan biaya sebesar $ 15,0 (A). Kekurangan persediaan bersifat Backorder dan biaya setiap unit kekurangan (  ) sebesar $ 30,0.


Download ppt "Inventory Management M a c h f u d. 2 Persediaan: sejumlah item barang yang ditahan (“disimpan”) untuk memenuhi kebutuhan atau permintaan internal/eksternal."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google