Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Teknologi farmasi Prof. Dr. Achmad Fudholi, DEA, Apt. Lab. Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Teknologi farmasi Prof. Dr. Achmad Fudholi, DEA, Apt. Lab. Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada."— Transcript presentasi:

1 Teknologi farmasi Prof. Dr. Achmad Fudholi, DEA, Apt. Lab. Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada

2

3 INDUSTRI FARMASI MENGUBAH BAHAN BAKU MENJADI PRODUK SEDIAAN FARMASI YANG BERKUALITAS MENGGUNAKAN PROSEDUR FABRIKASI YANG TELAH DITETAPKAN PRODUK SEDIAAN FARMASI YANG BERKUALITAS ? +

4 PARAMETERS OF DRUG QUALITY 1. SAFE (AMAN) TIDAK MENIMBULKAN EFEK SAMPING YANG TIDAK DIKEHENDAKI PADA PEMBERIAN DOSIS TERAPEUTIK 2. EFFECTIVE (BERKHASIAT) MENIMBULKAN EFEK FARMAKOLOGIS PADA HEWAN ATAU MANUSIA 3. ACCEPTABLE (NYAMAN) DAPAT DITERIMA OLEH PASIEN (PENGGUNA OBAT)

5

6

7 KANDUNGAN SEDIAAN OBAT R/ Bahan obat (Zat aktif) Bahan tambahan (Eksipien) SAFE BAHAN AKTIF EFFECTIVEBAHAN AKTIF ACCEPTABLEEKSIPIEN

8 Quality does not just happen Quality can not be analyzed into a product Quality has to be designed and built into a product during the entire manufacturing process This process has to be validated

9 MUTU HARUS DI DESAIN Realisasinya Menetapkan metode pembuatan Menetapkan proses pembuatan

10 1. Menetapkan metode pembuatan Misal : Pembuatan -- Tablet a. Metode Granulasi Basah, - Untuk zat aktif yang tahan pemanasan dan tahan air b. Metode Granulasi Kering - Untuk zat aktif yang tahan terhadap tekanan tinggi akibat pegempaan c. Metode Kempa Langsung - Untuk zat- zat yang mempunyai sifat alir dan kompresibilitas yang baik Misal : Tablet PARACETAMOL Metode Granulasi Basah

11 2. Menetapkan proses pembuatan Penimbangan Pencampuran Penambahan bahan pengikat - waktu pencampuran - volume penambahan Pengayakan kering Pengeringan Pengayakan basah - nomer ayakan - lama pengeringan - nomer ayakan Penambahan bahan eksternalPenabletan - lama pencampuran - tekanan kompresi

12 QUALITY IS NOT ACHIEVED BY ANALYZING A PRODUCT QUALITY HAS TO BE BUILT IN TO A PRODUCT DURING THE ENTIRE PRODUCTION PROCESS

13 MUTU HARUS DIBANGUN Realisasinya Mewujudkan apa yang direncanakan Mengerjakan apa yang tercatat Mencatat apa yang dikerjakan Melakukan kontrol sebelum, selama dan sesudah fabrikasi

14 1. Mewujudkan apa yang direncanakan Merealisasikan metode fabrikasi yang sudah ditetapkan dalam proses produksinya.

15 2. Do What Has Been Written Down ( Mengerjakan semua urutan proses fabrikasi yang sudah ditetapkan ) and 3. Write Down What Has To Be Done ( Pengisian laporan kerja dan pengamatan pada berkas kerja yang ada selama proses berlangsung )

16 4. Melakukan kontrol sebelum, selama dan sesudah fabrikasi Sebelum : - Ukuran partikel, bentuk partikel, kelarutan dalam solven, dan lain-lain Selama : - Kontrol homogenitas campuran, kadar air dalam granul Sesudah : - Kontrol keseragaman bobot tablet, kekerasan,kerapuhan, waktu hancur tablet, dan kontrol kandungan zat aktif

17 PETUNJUK UMUM YANG BERTUJUAN UNTUK MEMASTIKAN AGAR SIFAT DAN MUTU OBAT YANG DIHASILKAN SESUAI DENGAN YANG DIKEHENDAKI DAN BILA PERLU DAPAT DILAKUKAN PENYESUAIAN DENGAN SYARAT BAHWA STANDAR MUTU OBAT YANG TELAH DITETAPKAN TETAP TERCAPAI

18 MACAM BUKU PEDOMAN : GMP : GOOD MANUFACTURING PRACTICES BOG : BRITISH ORANGE GUIDE ASEAN GUIDLINES

19 KONSEP DASAR : UNTUK MENCAPAI ZERO DEFECT FAKTUAL : 1. PROSES FABRIKASI TERDIRI DARI BEBERAPA TAHAPAN YANG SALING TERKAIT 2. OBAT DIBUAT OLEH MANUSIA

20 If anything can go wrong it will, At the worst possible moment !

21 PERSONALIA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN KERJA SANITASI PERALATAN BAHAN AWAL PRODUKSI PENGAWASAN MUTU DOKUMENTASI INSPEKSI DIRI PENARIKAN PRODUK KEMBALI OBAT KEMBALI DAN OBAT YANG DISELAMATKAN

22 BAHAN BAKU : Semua bahan baik yang berkhasiat, maupun tidak berkhasiat, yang berubah maupun tidak berubah, yang digunakan dalam pengelolaan obat BAHAN AWAL : Semua bahan baku maupun bahan pengemas PRODUK ANTARA : Tiap bahan atau campuran bahan yang masih memerlukan satu atau lebih tahap pengolahan lebih lanjut untuk menjadi produk ruahan

23 PRODUK RUAHAN Tiap bahan olahan yang masih memerlukan tahap pengemasan untukmejadi produk jadi PRODUK JADI Suatu produk yang telah melalui seluruh tahap proses pembuatan

24 ZAT AKTIF + EKSIPIEN PRODUK ANTARA PRODUK RUAHAN BAHAN PENGEMAS PRODUK JADI BAHAN AWAL BAHAN BAKU

25 BATCH : Sejumlah produk obat yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan berdasarkan suatu formulasi yang mempunyai sifat yang seragam Esensi batch : HOMOGENITASNYA NOMER BATCH : Penandaan yang terdiri dari angka atau huruf atau gabungan dari keduanya yang merupakan tanda pengenal suatu batch, yang memungkinkan penelusuran dan peninjauan kembali riwayat lengkap pembuatan batch tersebut, termasuk tahap-tahap produksi, pengawasan dan distribusi

26 LOT : Sebagian tertentu dari suatu batch yang memiliki sifat dan mutu seragam dalam batas yang telah ditetapkan apabila suatu produk obat diproduksi dengan proses terus menerus NOMER LOT : Penandaan yang terdiri dari angka atau huruf atau gabungan dari keduanya yang merupakan tanda pengenal suatu lot, yang memungkinkan penelusuran dan peninjauan kembali riwayat lengkap pembuatan lot tersebut, termasuk tahap-tahap produksi, pengawasan dan distribusi

27 THERAPEUTIC AND TOXIC BLOOD LEVEL CONCENTRATION OF SOME DRUG SUBSTANCE DRUG SUBSTANCE CONCENTRATION (mg/l) DRUG SUBSTANCE THERAPEUTIC TOXIC LETHAL ACETAMINOPHEN 10 – AMITRIPTYLINE0,5 – 0,20 0,4 10 – 20 BARBITURATES Short acting Intermediate acting 1 – 5 10 – Long acting – – 150 DEXTROPROPOXYPHENE0,05 – 0,2 5 – DIAZEPAM 0,5 – 2,5 5 – 20 >50 DIGOXIN 0,0006 – 0,0013 0,002 – IMIPRAMIN 0,05 – 0,016 0,7 2 LIDOCAINE 1,2 – 5,0 6 - MORPHINE 0,1 - 0,05 – 4 PHENYTOIN 5 – THEOPHYLLINE 20 –

28 EXCIPIENTS ARE USED TO BRING DRUG(S) INTHE MOST SUITABLE DOSAGE FORMS THEY SHOULD IMPROVES THE PROPERTIES OF THE DRUG IN THE DOSAGE FORMS TO BRING THE DRUG IN THE MOST APPROPRIATE FORM TO THE OPTIMAL PLACE ABSORPTION AT THE RIGHT TIME AND THE RIGHT DOSE (INCUDING DRUG TARGETING) TO IMPROVE DRUG STABILITY TO MASK BITTER TASTE TO IMPROVE PATIENT COMPLIANCE

29 PHYSICAL PROPERTIES dari BAHAN BAKU BERLAKU UNTUK ZAT AKTIF DAN EKSIPIEN CAKUPAN : - UKURAN PARTIKEL, DISTRIBUSI PARTIKEL - BENTUK PARTIKEL / KRISTAL - POLIMORFI, HIDRAT, SOLVAT - TITIK LEBUR, KELARUTAN - KOEFISIEN PARTISI, DISOLUSI - FLUIDITAS (SIFAT ALIR), KOMPAKTIBILITAS - PEMBASAHAN - PRODUKSI /FABRIKASI - KETERSEDIAAN FARMASETIK / HAYATI

30 KETETAPAN BAHAN BAKU DALAM CPOB 1.Harus sesuai dengan spesifikasinya 2.Tiap batch diberi nomer rujukan yang jelas 3.Harus diperiksa secara visual 4.Pengambilan sampel harus hati-hati untuk mencegah pencemaran 5.Harus ditahan di karantina sampai saat disetujui PERLU PENANGANAN YANG BAIK

31 PRINSIP DASAR PENANGANAN BAHAN BAKU YANG BAIK 1.PENGANGKUTAN JARAK PENDEK 2.WAKTU TUNGGU YANG PENDEK 3.TRANSPORTASI BOLAK-BALIK 4.HINDARI MUATAN YANG TIDAK PENUH 5.MEKANISASI 6.PENGANGKUTAN ARAH VERTIKAL 7.SELEKSI BARANG YANG DIANGKUT

32 AKIBAT PENANGANAN BAHAN BAKU YANG TIDAK BAIK 1.KERUSAKAN BAHAN BAKU 2.PENGANGGURAN ALAT PRODUKSI 3.KEMUNDURAN PRODUKSI 4.KENAIKAN BIAYA OPERASIONAL

33 BAHAN PENGEMAS 1.BAHAN PENGEMAS PRIMER 2.BAHAN PENGEMAS SEKUNDER BAHAN PENGEMAS PRIMER SELALU KONTAK DENGAN SEDIAAN OBAT DAPAT TERJADI INTERAKSI DENGAN BAHAN AKTIF (KUALITAS BAHAN PENGEMAS TERGANTUNG DARI PRODUK YANG DIKEMAS) Misal : Gelas, dapat membebaskan alkali Plastik, dapat mengabsorpsi obat

34 SYARAT BAHAN PENGEMAS : (PRIMER) 1.DAPAT MELINDUNGI SEDIAAN KARENA PENGARUH LINGKUNGAN 2.TIDAK BEREAKSI DENGAN PRODUK (ZAT AKTIF) 3.TIDAK BERPENGARUH TERHADAP RASA DAN BAU PRODUK 4.BERSIFAT NON TOKSIK 5.MEMENUHI SYARAT PERATURAN YANG ADA (FDA) 6.DAPAT DIAPLIKASIKAN PADA PENGGUNAAN ALAT PENGEMASAN DENGAN KECEPATAN TINGGI

35 MACAM BAHAN PENGEMAS : GELAS: TIPE I, II, III dan NP PLASTIK: NYLON, POLYCARBONAT, DLL KARET: ALAM DAN SINTETIS LOGAM: ALUMINIUM, TIMBAL KERTAS / KARTON: DERIVAT SELULOSA

36 GELAS Banyak digunakan dalam pengemasan, karena mempunyai keuntungan : 1.DAYA PERLINDUNGAN YANG BAIK 2.TERSEDIA BERBAGAI UKURAN DAN BENTUK 3.MURAH 4.UMUMNYA BERSIFAT INERT SECARA KIMIA 5.KERAS, TRANSPARAN DAN MENGKILAP 6.MUDAH DIBERSIHKAN 7.EFEKTIF UNTUK PENGGUNAAN BERULANG

37 KELEMAHAN GELAS SEBAGAI BAHAN PENGEMAS 1.MUDAH PECAH 2.BERAT ( BOBOT JENISNYA BERKISAR 2,25 – 2,5 ) MACAM TIPE GELAS 1.GELAS TIPE I : - Gelas netral, borosilicate glass 2.GELAS TIPE II : - Treated soda lime glass 3.GELAS TIPE III : - Regular soda lime glass 4.GELAS TIPE NP : - General purpose soda lime glass

38 GELAS TIPE I TERMASUK HIGH HYDROLYTIC RESISTANCE BERSIFAT LEBIH INERT DIBANDING TIPE LAIN UNSUR ALKALI DALAM GELAS DINETRALISIR OLEH ASAM BORAT TITIK LEBURNYA SANGAT TINGGI : ± 1750 O C DIGUNAKAN UNTUK : - ampul (parenteral injection) - menyimpan larutan garam alkaloida TAHAN TERHADAP HIDROGEN FLUORIDA (HF)

39 GELAS TIPE II TERMASUK LIMITED HYDROLYTIC RESISTANCE DIBUAT DARI COMERCIAL SODA LIME GLASS YANG MENGALAMI DE-ALKALIZED, ATAU PERLAKUAN UNTUK MENGHILANGKAN ALKALI DI PERMUKAAN GELAS (DIKENAL DENGAN SULFUR TREATMENT) DIGUNAKAN SEPERTI GELAS TIPE I, NAMUN HANYA UNTUK SEKALI PAKAI. PENGGUNAAN BERULANG DAPAT MEMBEBASKAN ALKALI TIDAK TAHAN TERHADAP HIDROGEN FLUORIDA (HF)

40 GELAS TIPE III TERMASUK LIMITED HYDROLYTIC RESISTANCE DIBUAT DARI COMMERCIAL SODA LIME GLASS TIDAK TAHAN TERHADAP HIDROGEN FLUORIDA (HF) GELAS TIPE NP BANYAK DIGUNAKAN UNTUK NON PARENTERAL PRODUK TERUTAMA UNTUK PENGGUNAAN ORAL DAN TOPIKAL TIDAK TAHAN TERHADAP HIDROGEN FLUORIDA (HF)

41 CARA KONTROL KETAHANAN HIDROLISA 1.BOTOL GELAS DIISI AQUADEST, DAN DIPANASKAN PADA 120 O C DALAM AUTOCLAVE. ALKALI YANG TERLARUT LALU DITRITASI DENGAN LARUTAN STANDAR HCl, DENGAN MENGGUNAKAN INDIKATOR METIL MERAH. JUMLAH HCl YANG DIGUNAKAN DICATAT SEBAGAI a ml.

42 2. BOTOL GELAS DISERBUK HALUS DAN DITAMBAH AQUADEST, DAN DIPANASKAN PADA 120 O C DALAM AUTOCLAVE. ALKALI YANG TERLARUT LALU DITRITASI DENGAN LARUTAN STANDAR HCl, DENGAN MENGGUNAKAN INDIKATOR METIL MERAH. JUMLAH HCl YANG DIGUNAKAN DICATAT SEBAGAI b ml. Untuk gelas netral (tipe I) maka harga b - a = kecil Untuk gelas alkali ( tipe lain) maka harga b - a = besar

43 PLASTIK MACAMNYA : - THERMOPLAST - THERMOHARDER THERMOPLAST BENTUKNYA PADAT MOLEKUL TARIK MENARIK SECARA PHYSICAL ATTRACTION FORCE BILA DIPANASKAN IKATAN MELEMAH KONSISTENSI MELUNAK BILA DIDINGINKANKEMBALI KE BENTUK SEMULA LARUT DALAM BEBERAPA SOLVEN ORGANIK

44 THERMOHARDER BILA DIPANASKAN TIDAK MELELEH TIDAK LARUT DALAM SOLVEN ORGANIK DIGUNAKAN UNTUK TUTUP BOTOL, TUBE, DLL

45 BAHAN BAKU PLASTIK POLYVINYL CHLORIDE (PVC) MERUPAKAN POLIMERISASI GAS VINYL CHLORIDA ( CH 2 = CHCl ) - CH – CH 2 – CH – CH 2 – CH – CH 2 – Cl Cl Cl BANYAK DIPAKAI UNTUK CAIRAN INTRA VENA LEBIH BERSIFAT PERMEABEL TERHADAP GAS TRANSPARAN

46 POLY STYRENE (PS) MATERIAL TRANSPARAN, KERAS UNTUK MENYIMPAN TABLET DAN CAIRAN MUDAH PECAH

47 CELLOPHANE SUATU REGENERASI SELULOSA DIGUNAKAN UNTUK : - WADAH INFUS DAN BLOOD PRODUCT - DISPOSABLE SYRINGES - TUBE UNTUK SEDIAAN SALEP - WADAH SEDIAAN CAIR, DAN PADAT - UNTUK BLISTER

48 POLYETHYLENE MERUPAKAN POLIMERISASI ETHYLEN CH 2 = CH 2 - CH 2 – CH 2 - CH 2 – CH 2 – CH 2 – ADA DUA MACAM YANG DIEDARKAN BERDASARKAN PEMBUATANNYA : - TEKANAN TINGGI : 200 o C – 1500 atm - TEKANAN RENDAH - dapat disterilisasi pada max. 120 o C - untuk cairan infus

49 ZAT ADITIF DALAM pLASTIK DIGUNAKAN PADA SAAT PEMBUATAN PLASTIK BERTUJUAN UNTUK MENDAPATKAN SIFAT PLASTIK YANG DIKEHENDAKI Misal : - Benzoil peroksida ; BF 3 ; AlCl 3 ; dan SnCl 2 yang berguna untuk memacu proses polimerisasi - Glycol ; ester asam ftalat yang berfungsi sebagai softener, atau plasticizer

50 - CaCO 3 ; TiO 2 ; dan Kaolin ditambahkan untuk meningkatkan kekuatan mekanik plastik - Benzofenon ; derivat asam salisilat berguna untuk melindungi obat terhadap sinar UV - Zat warna, untuk memberi warna yang diinginkan pada plastik

51 KELEMAHAN PLASTIK SEBAGAI BAHAN PENGEMAS PERMEABEL TERHADAP GAS DAN UAP AIR DAPAT MENGABSORPSI ZAT AKTIF DAN EKSIPIEN Misal : - Mentol, kamfer dapat diabsorpsi plastik DAPAT MEMBEBASKAN ALKALI DAN BEREAKSI DENGAN OBAT PLASTIK YANG HIDROFOBIK, MEMPUNYAI AFINITAS TERHADAP SUBSTANSI LIPOFILIK, PRESERVATIF DAN EMULSIFYING AGENT, SEHINGGA MENGGANGGU STABILITAS SEDIAAN EMULSI

52 KARET ADA DUA MACAM : KARET ALAM DAN KARET SINTETIK KARET ALAM MEMPUNYAI KONSISTENSI YANG KERAS MERUPAKAN DERIFAT METHYLBUTADIENE CH 2 CH 2 – CH = C – CH 2 KARET SINTETIK YANG BANYAK DIGUNAKAN MERUPAKAN POLIMER ISOBUTANE CH 3 (CH 3 ) 2 C = CH 2 C – CH 2 CH 3 n n = – n

53 UNTUK PENGGUNAAN DALAM BIDANG FARMASI, PADA PROSES PEMBUATANNYA DITAMBAH BAHAN PENGISI TALK DAN CaCO 3, UNTUK MAKSUD MENGURANGI PERMEABILITAS TERHADAP GAS BIASA DIGUNAKAN SEBAGAI PENUTUP VIAL

54 DISAIN dan KONSTRUKSI BANGUNAN untuk PRODUKSI HARUS MEMILIKI ASPEK yang DAPAT MENCEGAH BAHAYA yang DAPAT MERUGIKAN KUALITAS OBAT PERLU DIPERHATIKAN ADANYA SUMBER PENCEMARAN LINGKUNGAN

55 SUMBER PENCEMARAN yang BERASAL DARI LINGKUNGAN UDARA DEBU JALAN, DEBU INDUSTRI LAIN DAN PARTIKEL PESTISIDA PERLU VENTILASI UDARA dengan FILTER AWAL dan AKHIR yang MEMPUNYAI EFISIENSI 35% dan 80 %

56 TANAH BEKAS TIMBUNAN SAMPAH DAN BAHAN KIMIA KONSTRUKSI BANGUNAN HARUS KOKOH DAN KEDAP AIR AIR TANAH BEKAS TIMBUNAN BAHAN KIMIA, ADANYA KUMAN yang PATOGEN dan MASALAH AIR SADAH PERLU SISTEM PENGOLAHAN LIMBAH YANG BAIK

57 BANGUNAN PERLU SARANA PERLINDUNGAN TERHADAP : 1.CUACA : - DENGAN MEMBERI CAT TAHAN CUACA - DILENGKAPI DENGAN DEHUMIDIFIER 2.BANJIR :- MEMBUAT LETAK BANGUNAN CUKUP TINGGI - MEMBUAT SALURAN AIR YANG BAIK 3.PEREMBESAN AIR TANAH : - PONDASI YANG BAIK 4.SERANGGA DAN HEWAN KECIL LAIN: - PEMASANGAN KAWAT KACA - PEMASANGAN PENCEGAH RAYAP

58 MACAM BANGUNAN 1.WHITE ZONE a) KELAS I / KELAS 100 b) KELAS II / KELAS GREY ZONE - KELAS III / KELAS BLACK ZONE – KELAS IV / KELAS > UNSPECIFIED CLASSE

59 KELAS I / KELAS 100 SYARAT : MAKSIMUM DALAM SATU KAKI KUBIK UDARA TERDAPAT 100 PARTIKEL YANG BERUKURAN 0,5 µm FUNGSI : TEMPAT PRODUKSI SEDIAAN STERIL YANG ASEPTIS SISTEM PENDUKUNG :- AIR HANDLING UNIT - LAMINAR AIR FLOW TEKANAN UDARA RUANG : POSITIF

60 KELAS II / KELAS SYARAT : MAKSIMUM DALAM SATU KAKI KUBIK UDARA TERDAPAT PARTIKEL YANG BERUKURAN 0,5 µm FUNGSI : TEMPAT PRODUKSI SEDIAAN STERIL YANG NON ASEPTIS SISTEM PENDUKUNG : AIR HANDLING UNIT TEKANAN UDARA RUANG : POSITIF

61 KELAS III / KELAS SYARAT : MAKSIMUM DALAM SATU KAKI KUBIK UDARA TERDAPAT PARTIKEL YANG BERUKURAN 0,5 µm FUNGSI : TEMPAT PRODUKSI SEDIAAN NON STERIL SISTEM PENDUKUNG : AIR HANDLING UNIT TEKANAN UDARA RUANG : - UMUMNYA POSITIF - NEGATIF UNTUK PRODUKSI DERIVAT PENISILIN

62 KELAS IV / KELAS > SYARAT : DALAM SATU KAKI KUBIK UDARA BOLEH TERDAPAT LEBIH DARI PARTIKEL YANG BERUKURAN 0,5 µm FUNGSI : TEMPAT NON PRODUKSI, SEPERTI : - KANTOR - KANTIN - GUDANG - BENGKEL, DLL

63 PERSONALIA QUALITY DRUGS ARE MADE BY PEOPLE Unfortunately, poor quality drugs are also made by people! Therefore, The quality of the personnel is of utmost importance! Personnel is asset no.1 on pharmaceutical production

64 Personnel There should be an adequate number of personnel of all levels having - Knowledge - Skill - Capabilities relevant to their functions - Good mental health - Good physical health - Able to execute their duties professionally and properly - The attitude to achieve the goals of GMP

65 Key Personnel Production Manager Quality Control Manager

66 They should Be different persons Be not responsible to each other Have their own, well defined responsibilities Have no interest outside the company that prevent or restrict their devotion to the assigned responsibilities

67 MANAJER PRODUKSI Uraian tugas secara umum Manajer Produksi bertanggungjawab atas terlaksananya pembuatan obat agar obat tersebut memenuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan dan dibuat dengan memperhatikan pelaksanaan CPOB, dalam batas waktu dan biaya produksi yang telah ditetapkan

68 Pengetahuan, Ketrampilan dan Kemampuan Manajer Produksi hendaklah seorang apoteker dengan pengalaman praktis paling sedikit 2 tahun bekerja di bagian produksi pabrik farmsi, memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang pembuatan obat dan perencanaan produksi, pengetahuan mengenai mesin, CPOB dan kepemimpinan

69 BAGIAN KONTROL KUALITAS (QC) BERTUGAS UNTUK MELAKUKAN PENGUJIAN TERHADAP PRODUK, MENCAKUP : BAHAN AWAL PRODUK JADI IN PROCESS CONTROL (IPC) SAMPEL PERTINGGAL (RETAINED SAMPLE) KONTROL MIKROBIOLOGI (UNTUK PRODUK TERTENTU) UJI STABILITAS PEMANTAUAN LINGKUNGAN KERJA VALIDASI DOKUMENTASI

70 KONTROL BAHAN AWAL : BAHAN OBAT DAN EKSIPIEN - UKURAN PARTIKEL, BENTUK PARTIKEL, KELARUTAN, TITIK LEBUR, KERAPATAN JENIS, DLL - KADAR ZAT AKTIF, DISOLUSI - CARA PENGAMBILAN SAMPEL : METODE MILITARY STANDARD = Vn TEMPAT PENGAMBILAN DI RUANG KHUSUS - SAMPEL DENGAN NOMER BATCH YANG TIDAK JELAS LANGSUNG DITOLAK

71 BAHAN PENGEMAS - MISALNYA : KETEBALAN BAHAN PENGEMAS, KELENTURAN, PERMEABILITAS - PENGAMBILAN SAMPEL UNTUK ALUMINIUM FOIL : DIAMBIL SEKITAR 3 METER PADA AWAL GULUNGAN - BILA LEBIH DARI SATU ROL, JUMLAH ROL DIAMBIL DENGAN RUMUS Vn + 1 BROSUR, LABEL, ETIKET, FOLDING BOX - DITENTUKAN DENGAN PEDOMAN TERTENTU ( MIS. TIAP 500 LEMBAR/PCS SAMPELNYA SEJUMLAH 15 LEMBAR /PCS )

72 PENENTUAN JUMLAH SAMPEL (selain dinyatakan dengan military standart) - MAKIN BESAR JUMLAH SAMPEL MENDEKATI POPULASI, PELUANG KESALAHAN GENERALISASI SEMAKIN KECIL DAN DEMIKIAN SEBALIKNYA - CARA PENENTUAN UKURAN SAMPEL YANG PRAKTIS : - DENGAN TABEL, YAITU MENGGUNAKAN TABEL KREJCIE - DENGAN NOMOGRAM HARRY KING

73 PENETAPAN JUMLAH SAMPEL DENGAN TABEL KREJCIE KETERANGAN : N – POPULASI S - SAMPEL

74 PENETUAN UKURAN SAMPEL DENGAN NOMOGRAM HARRY KING

75 CONTOH PENENTUAN SAMPEL DENGAN TABEL KREJCIE Bahan baku berupa serbuk yang dikemas dalam drum JUMLAH POPULASI (drum) : 1000 buah BILA KESALAHAN 5%  UNTUK POPULASI = 1000, JUMLAH SAMPEL = 278 drum DENGAN NOMOGRAM HARRY KING Bahan baku berupa serbuk yang dikemas dalam drum JUMLAH POPULASI (drum) : 800 buah BILA KESALAHAN 10% ---  UNTUK POPULASI = 800, JUMLAH SAMPEL = 9/100 x 800 = 72 drum

76 2. KONTROL PRODUK JADI - KESERAGAMAN BOBOT, KEKERASAN, KERAPUHAN, WAKTU HANCUR, DISOLUSI TABLET - PH, KEKENTALAN SUSPENSI, EMULSI,SIRUP - PH, KEJERNIHAN INJEKSI 3. IN PROCESS CONTROL (IPC) - KONTROL HOMOGENITAS, KADAR AIR

77 CONTOH PERTINGGAL ( RETAINED SAMPLE ) - ADALAH SEBAGIAN PRODUK HASIL PRODUKSI YANG DITINGGAL DIPABRIK DAN TIDAK DIDISTRIBUSIKAN / DIPASARKAN - FUNGSINYA SEBAGAI PEMBANDING / KONTROL TERHADAP PRODUK YANG DIPASARKAN (APABILA TERJADI COMPLAIN DAN - UNTUK UJI STABILITAS PRODUK JADI

78 KONTROL MIKROBIOLOGI - DILAKUKAN TERUTAMA UNTUK PRODUK TERTENTU, SEPERTI PRODUK STERIL, SIMPLISIA NABATI DLL UJI STABILITAS - DAPAT DILAKUKAN DENGAN DUA METODE : a. METODE TEMPERATUR KAMAR b. METODE TEMPERATUR YANG DINAIKKAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN KERJA - DENGAN MENEMPATKAN PLATE MEDIA BAKTERI PADA TEMPAT DAN WAKTU YANG TELAH DITENTUKAN DIBAGIAN PRODUKSI


Download ppt "Teknologi farmasi Prof. Dr. Achmad Fudholi, DEA, Apt. Lab. Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google