Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh : ANO09501244003 SYAFIUL ANAM09501244015. + Lifeskill + produksi = TEFA.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh : ANO09501244003 SYAFIUL ANAM09501244015. + Lifeskill + produksi = TEFA."— Transcript presentasi:

1 Oleh : ANO SYAFIUL ANAM

2 + Lifeskill + produksi = TEFA

3 Teaching Factory (TEFA) adalah pembelajaran yang berorientasi bisnis dan produksi. Atau suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill) dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen.

4  Wadah pelatihan dan praktik berbasis produksi secara langsung bagi siswa yang berorientasi pada pasar;

5

6

7

8

9  Membantu pendanaan untuk pemeliharaan, penambahan fasilitas dan biaya-biaya operasional pendidikan dan peningkatan kesejahteraan warga sekolah;

10  Menumbuhkan dan mengembangkan jiwa entrepreneurship guru dan siswa pada SMK;  Mengembangkan sikap mandiri dan percaya diri dalam pelaksanaan kegiatan praktik siswa;  Menjalin hubungan yang lebih baik dengan dunia usaha dan industri serta masyarakat lain atas terbukanya fasilitas untuk umum dan hasil-hasil produksinya;.

11  UU Nomor 20 Tahun 2003 (Sisdiknas), Penjelasan Pasal 15: Pendidikan kejuruan mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu.

12  PP Nomor 19 Tahun 2005 (SPN), Pasal 26: SKL pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

13  Prioritas PRESIDEN bidang pendidikan (INPRES Nomor 1 Tahun 2010): Peningkatan akses pendidikan yang berkualitas, terjangkau, relevan, dan efisien menuju terangkatnya kesejahteraan hidup rakyat, kemandirian, keluhuran budi pekerti, dan karakter bangsa yang kuat. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang didukung keselarasan antara ketersediaan tenaga terdidik dengan kemampuan: 1) menciptakan lapangan kerja atau kewirausahaan 2) menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja

14 Guna tercapainya penerapan teaching factory perlu adanya Implementasi pembelajaran kewirausahaan di SMK antara lain: 1) Sebagai salah satu Mata Pelajaran. 2) Menjadi bagian integral dari materi Bimbingan Karir dan Pengembangan Kreativitas pada Komponen Program Pengembangan Diri 3) Pengembangan SMK sebagai Business Centre (Pengembangan Industri Berbasis SMK ⇒ Teaching Factory).

15 MAPEL SMK Produktif Adaptif Normatif Praktikum IPA, IPS Pkn, seni budaya, dll

16 SMK mempunyai kekhususan yang terletak pada kelompok mata pelajaran produktif. Mata pelajaran produktif ini dikembangkan dengan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Berkaitan dengan struktur kurikulum, penambahan mata pelajaran pada kelompok normatif (Seni Budaya) dan pada kelompok adaptif (IPS dan IPA) berdampak pada beban pembelajaran SMK di satu sisi, di sisi lain berkurangnya alokasi waktu untuk mata pelajaran produktif.

17 PASAR GUDANG BARANG PRAKTEK MENERAPKAN TEFA TAK MENERAPKAN TEFA

18  Sebagai contoh : SMKN 5 Surabaya menggunakan Kurikulum Nasional 2004 (KBK) dan KTSP (kurikulum sekolah) untuk normatif dan adaptif sedangkan untuk produktif menggunakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Program Keahlian Mekanik Otomotif menggunakan standar astra internasional dan penyusunan kurikulum melibatkan industri pasangan.

19  Demikian juga di SMK Mikael Solo, kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Nasional 2004 dan KTSP untuk normatif dan adaptif sedangkan untuk produktif menggunakan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan pangsa pasar yang dilakukan sekolah bersama dengan perusahaan dan sekolah partner Akademi Teknik Mesin dan Industri (ATMI), sehingga sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

20 kemandirian

21 akuntabilitas

22 transparan

23 kemitraan

24 partisipasi

25 efektif

26 efisien

27 Dengan jalan penempatan siswa pada industry yang berkerjasama dengan SMK melalui Program Kerja Lapangan (PKL) atau On The Job Training(OJT). Disamping itu industry dapat mengembangkan proses produksi di SMK dengan system kurikulum berbasis industry dan didapat keuntungan diantara industry,SMK maupun siswa yang merupakan peran SMK sebagai kepanjangan tangan mitra industry.

28 Kita kok belum bisa ya ?

29  Aspek Lembaga  Aspek murid atau warga sekolah  Sarana dan prasarana  Pembiayaan  Aspek peran serta masyarakat  Aspek lingkungan dan kultur sekolah  Aspek unit produksi

30 SUMBER DAYA ALAM Terbarukan Tidak terbarukan INDUSTRI MATERIAL DASAR Petrokimia Baja Semen, dll INDUSTRI KOMPONEN Basis IKM INDUSTRI BARANG MODAL Mesin Perkakas, dll INDUSTRI BARANG KONSUMSI Pakaian Sepatu Makanan, dll INDUSTRI AGRO Pra panen Pasca panen INDUSTRI TELEMATIKA Telekomunikasi Komputer INDUSTRI ALAT ANGKUT Darat, Laut & Udara Basis Industri Manufaktur Industri Andalan Masa Depan

31 BHP SMK MITRA INDUSTRI MARKETINGPERAKITAN SPARE PART BHP SMK AFTER SALES SERVICES BHP SMK SMK GURU MURID UMUM

32 1.Lini produk manufaktur  Lini produk manufaktur meliputi:  Industri Mesin perkakas  Perakitan Komputer,Notbook dan perangkat yang terkait  Perakitan Sepeda Motor  Perakitan Mobil  Perakitan Alat Pertanian.

33 2.Lini layanan perdagangan dan jasa  Lini layanan jasa dan perdagangan meliputi: - Layanan perdagangan - Produk pangan (Buah,Telor,Daging,Susu,Ikan,Sayuran) - Jasa Perhotelan,Kecantikan,Seni,Kontruksi dan Catering atau Restaurant

34 91

35 95

36

37  Dirjen Pembinaan SMK, 2007  UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL  Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional

38 SEKIAN & TERIMAKASIH


Download ppt "Oleh : ANO09501244003 SYAFIUL ANAM09501244015. + Lifeskill + produksi = TEFA."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google