Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Absorptive Capacity:A New Perspective On Learning And Innovation Wesley M. Cohen - Carnegie Mellon University Daniel A. Levinthal - University of Pennsylvania.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Absorptive Capacity:A New Perspective On Learning And Innovation Wesley M. Cohen - Carnegie Mellon University Daniel A. Levinthal - University of Pennsylvania."— Transcript presentasi:

1 Absorptive Capacity:A New Perspective On Learning And Innovation Wesley M. Cohen - Carnegie Mellon University Daniel A. Levinthal - University of Pennsylvania Administrative Science Quarterly, Vol. 35, No. 1, Special Issue: Technology, Organizations, and Innovation (Mar., 1990), pp Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri

2 PENDAHULUAN Beberapa riset menunjukkan bahwa source of knowledge merupakan hal yang penting dalam proses inovasi pada setiap tingkat organisasi dimana unit inovasi itu ada. Ini berasal dari unit internal dan eksternal perusahaan. (Westney&Sakakibara, 1986; Mansfield, 1988, Rosenberg&Steinmuller, 1988; Brock, 1975; Peck, 1962; Mansfield, 1968) 2Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri

3 Lanjutan... Komponen yang penting dalam kapabilitas inovasi adalah kemampuan untuk mengeksploitasi pengetahuan eksternal Kemampuan dalam mengenali nilai dari informasi baru, mengasimilasinya dan mengaplikasikannya hingga mengkomersialkannya disebut dengan kapasitas absorbsi(absorptive capacity). 3Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri

4 Lanjutan... Pada tingkat perusahaan, yang menjadi fokus unit inovasi yaitu absorptive capacity yang dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya melalui divisi R&D(Tilton, 1971; Allen, 1977; Mowery, 1983), produk dari perusahaan manufaktur (Abernathy, 1978; Rosenberg, 1982) dan pengiriman karyawannya untuk training. 4Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri

5 Cognitive Structures Asumsi absorptive capacity adalah organisasi perlu pengetahuan(yang diperoleh/terkait sebelumnya) untuk mengasimilasi dan menggunakan pengetahuan baru. Berdasarkan riset pengembangan memori diketahui bahwa akumulasi prior knowledge meningkatkan kemampuan dalam menggunakan pengetahuan baru ke dalam memori dan kemampuan dalam mengingat dan menggunakannya. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri5

6 Lanjutan.. Beberapa ahli psikologi juga berpendapat bahwa prior knowledge dapat meningkatkan belajar karena associative learning yang direkam dalam memori akan menghubungkan konsep-konsep yang sudah ada. Kondisi bahwa prior knowledge memfasilitasi the learning related knowledge dapat diperluas hingga mencakup pertanyaan knowledge itu merupakan set of learning skill. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri6

7 Lanjutan... Mungkin ada transfer learning skills diantara pengetahuan-pengetahuan itu yang diorganisasikan dan diekspresikan dengan cara yang sama. Konsekuensinya, pengalaman atau performance dari tugas seseorang dalam belajar mungkin mempengaruhi dan meningkatkan performance dalam belajar berikutnya. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri 7

8 Lanjutan... Demikian pula halnya dalam pengembangan problem solving skills. Dimana problem solving skills menunjukkan kapasitas dalam menciptakan pengetahuan baru. Dalam mengembangkan absortive capacity yang efektif baik untuk general knowledge, problem solving skills dan learning skills memerlukan tidak cukup dengan mengekspos kemampuan seorang individu dengan pengetahuan yang relevan. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri 8

9 Lanjutan... Kemampuan untuk mengasimilasi informasi merupakan fungsi dari kekayaan dari struktur pengetahuan yang sudah ada: belajar itu kumulatif dan learning performance yang terbaik itu ketika obyek belajar berkaitan dengan apa yang sudah diketahui. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri9

10 From Individual to Organizational Absortive Capacity Absortive capacity itu bukan sekedar jumlah kapasitas absorpsi dari karyawannya. Absorptive capacity tidak hanya mengacu pada akuisisi atau asimilasi informasi organisasi tetapi juga kemampuan organisasi untuk mengeksploitasinya. Absorptive capacity organisasi tidak hanya tergantung pada interface langsung organisasi dengan lingkungan eksternal tetapi juga pada transfer pengetahuan diantara unit-unit yang mungkin cukup dipindahkan dari titik poin asalnya. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri10

11 Lanjutan... Kesulitan mungkin akan muncul ketika terjadi perubahan teknis yang cepat dan tidak menentu, sedangkan fungsi interface nya tersentralisasi. Ketika informasi mengalir secara random, dan informasi itu tidak jelas dimana a piece of outside knowledge itu paling baik bisa diaplikasikan dalam perusahaan atau sub unit nya. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri11

12 Lanjutan... The firm’s absortive capacity tergantung pada individu- individu yang berada diantara perusahaan dengan lingkungan eksternal atau antara sub-sub unit perusahaan dengan perusahaan. Komunikasi yang efektif dengan gatekeeper membutuhkan pengetahuan dan bahasa bersama. Ada trade-off antara absorptive capacities inward-looking dan outward-looking. Kemampuan bahasa internal dan eksternal yang diperlukan. Hindari not invented here (NIH) syndrome. Tingkat komunikasi eksternal menurun seiring dengan masa proyek-kelompok. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri12

13 Lanjutan... Ada juga manfaat bagi keragaman seluruh absorptive capacities individu. Struktur pengetahuan yang beragam dalam pikiran yang sama menimbulkan pembelajaran dan problem solving yang menghasilkan inovasi. Hal ini meningkatkan kemungkinan hubungan baru yang lebih banyak. Pengetahuan kritis hanya bagian dari kebutuhan - kemampuan untuk mengetahui dimana keahlian komplementer (siapa yang tahu apa) juga penting. Pembangunan jaringan hubungan internal dan eksternal yang kuat meningkatkan kesadaran kemampuan dan pengetahuan lain. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri13

14 Lanjutan... Ada trade-off organisasional antara keragaman dan kesamaan pengetahuan diantara seluruh individu. Menjadi terlalu khusus akan merusak komunikasi, terlalu banyak komunikasi bisa merusak keragaman. Belajar dengan melakukan peningkatan keahlian di satu area dan mengurangi eksperimen dan mencari ide-ide alternatif. Cross-function absorptive capacities dapat berguna. Penciptaan pengetahuan melalui rotasi pekerjaan juga dapat bekerja/berhasil. Seseorang juga dapat membelinya dengan mempekerjakan pekerja baru, tetapi efek mungkin terbatas. Yang sulit untuk melatih orang-orang baru untuk memahami kebutuhan organizaitons. Keragaman struktur pengetahuan harus hidup berdampingan untuk beberapa derajat dalam pikiran yang sama. Banyak dari keterampilan R & D itu diam-diam. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri14

15 Path Dependence and Absorptive Capacity Accumulating absorptive capacity dalam satu periode akan membantu akumulasi lebih efisien pada berikutnya. Juga, possesion dari keahlian terkait dapat membenarkan perusahaan untuk lebih memahami dan mengevaluasi impor teknologi menengah. Jika seseorang berhenti menyerap, mungkin tidak akan pernah mengejar ketinggalan. Ketika peluang baru muncul, perusahaan tertinggal mungkin tidak mengenali mereka. Investasi awal yang rendah akan membuat lebih mahal untuk memperolehnya pada masa berikutnya. Perusahaan bisa menperoleh “locked-out". Ide mungkin terlalu jauh dari basis pengetahuan yang ada, baik dihargai atau dinilai. NIH mungkin perilaku patologis hanya dalam retrospeksi. Kinerja teknis tidak selalu bergantung pada kinerja masa lalu atau referensial, tetapi pada absorptive capacity. Perusahaan dengan absorptive capacity tinggi akan memanfaatkan ide-ide baru terlepas dari kinerja masa lalu. Perusahaan hanya pada tingkat sederhana akan lebih reaktif. Tingkat aspirasi yang tinggi juga penting. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri15

16 Lanjutan... Perusahaan yang sangat reaktif dengan absorptive capacities tinggi tidak menunggu untuk gagal dalam memacu pembangunan. kapasitas self-reinforcing ini dapat menciptakan perubahan teknis competency- destroying Tushman. Sebuah perusahaan membutuhkan beberapa absorptive capacity untuk menghargainya dengan tepat. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri16

17 Absorptive Capacity and R&D Investment R & D tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi memberikan kontribusi terhadap absorptive capacity perusahaan. Dengan demikian respon dari kegiatan R & D insentif belajar sebagai indikasi pentingnya absorptive capacity empiris. Penelitian ini mengukur intensitas R & D dengan R&D/penjualan. Ekonom mendefinisikan tiga faktor penentu intensitas R & D - demand, appropriability (kemampuan untuk mengeksploitasi peluang keuntungan dan mencegah spillover), dan kondisi technology opportunity (seberapa besar biaya untuk mencapai kemajuan teknis dalam suatu industri tertentu). Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri17

18 Lanjutan.. Mereka menegaskan bahwa absorpitive capacity akan menengahi efek dari faktor penentu ekonomi. Dua faktor yang mempengaruhi insentif perusahaan untuk belajar - kuantitas pengetahuan dan kesulitan (biaya) belajar. Untuk tingkat tertentu R&D, tingkat absorptive capacity berkurang dalam lingkungan dimana R&D lebih sulit untuk belajar. Efek marjinal R & D lebih tinggi pada lingkungan menuntut lebih. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri18

19 Lanjutan... Belajar juga ditentukan oleh karakteristik pengetahuan. Kompleksitas dan kecocokan pada perusahaan penting. Pengetahuan yang kurang bertarget membutuhkan lebih banyak pekerjaan dari R & D. Semakin banyak bidang yang didasarkan pada pengetahuan sebelumnya, maka semakin penting adalah R & D. Semakin cepat laju pembangunan pengetahuan, maka lebih banyak staf yang diperlukan untuk menjaga. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri19

20 Lanjutan... Dalam model itu, pengetahuan R&D perusahaan sendiri berasal dari R&D kompetitornya, spillover, dan berasal dari luar industribya. Perusahaan memulai dengan R&D nya dan menambahkan pengetahuannya dari sumber lain. Absorptive capacity tergantung pada R & D perusahaan sendiri. Eksploitasi tersebut direalisasikan melalui interaksi daya serap perusahaan dengan spillovers pesaing. Untuk memanfaatkan penelitian di luar, perusahaan harus aktif menggunakan R & D dan dibatasi oleh kapasitas penyerapan sendiri. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri20

21 Lanjutan... Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri 21

22 Lanjutan... Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri22

23 Direct Effect of Ease of learning Karena belajar menjadi sulit, pengeluaran R & D meningkat untuk menyesuaikan absorptive capacity. Tapi R & D juga menjadi unit yang lebih baik karena kemampuan kompetitor untuk memasuki spillover berkurang. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri23

24 Technological opportunity Lebih banyak kesempatan akan membuat R&D memperoleh lingkungan sulit untuk meningkatkan absorptive capacity dalam memanfaatkan lingkungan eksternal berlimpah. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri24

25 Approbriability Negative approriability incentive berkaitan dengan spillover yang merupakan lawan dari positive absorptive capacity incentive. Semakin banyak spillover kompetitor, semakin banyak pula insentif perusahaan untuk harus berinvestasi pada R & D nya, sehingga mengijinkan perusahan melakukan spilloever tersebut. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri25

26 Lanjutan... Ketika absorptive incentive itu besar, dan learning itu sulit, spillovers dapat mendorong R & D. Daya tarik relatif absorptive incentive yang lebih besar terjadi ketika perusahaan dalam industri kurang interdependen(dalam situasi dimana teknik yang terkemuka rival memiliki efek yang rendah bagi perusahaan untuk memperoleh keuntungan Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri26

27 Methods Penelitian ini mengukur technological opportunity dan kondisi approbriatility di laboratorium R & D. Intensitas R & D adalah R & D / penjualan. Technological opportunity adalah 7 titik skala Likert yang mana relevansi bidang dasar adalah pentingnya sumber eksternal. Spillovers diukur sebagai nilai efektivitas dalam melindungi keunggulan kompetitif. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri27

28 Results Technological Opportunity Hasil penelitian menegaskan bahwa ketika belajar itu sulit, peningkatan relevansi memacu intensitas R & D. Approbribility Ketika belajar sulit, absorptive capacity tinggi menjadi lebih penting. Karena pasar menjadi lebih kompetitif, sebuah approbriability tinggi menjadi penting juga. Hal ini juga tampaknya bahwa insentif penyerapan positif terkait dengan spillovers dapat mengatasi insentif approbriability negatif. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri28

29 Implications for Innovative Activity Perusahaan dapat terlibat dalam penelitian dasar yang memiliki spillover tinggi karena juga memberi mereka keterampilan untuk mengeksploitasi inovasi cepat (atau copy orang lain dengan cepat). Karena kemajuan perusahaan menjadi lebih terikat dengan penelitian dasar, mereka akan melakukan penelitian yang lebih mendasar. Karena bidang yang relevan menjadi lebih beragam, pengeluaran R & D akan meningkat untuk memahami masing-masing bidang dan meningkatkan daya serap di masing-masing. Dengan demikian difusi inovasi akan terjadi lebih cepat di perusahaan-perusahaan yang sudah memiliki pengetahuan sebelumnya di bidang yang relevan. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri29

30 Conclusion Jika perusahaan berharap untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan yang tidak berkaitan dengan aktivitas yang sedang dilakukan, maka perusahaan harus mengembangkan absorptive capacity. Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri30

31 TERIMA KASIH Organizational Learning 2 - Andriani Samsuri31


Download ppt "Absorptive Capacity:A New Perspective On Learning And Innovation Wesley M. Cohen - Carnegie Mellon University Daniel A. Levinthal - University of Pennsylvania."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google