Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

 MAKALAH KELOMPOK  Disusun sebagai syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Pengantar Pendidikan”  (Dosen : Tri Yuliansah Bintaro,S.Pd)  Disusun oleh.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: " MAKALAH KELOMPOK  Disusun sebagai syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Pengantar Pendidikan”  (Dosen : Tri Yuliansah Bintaro,S.Pd)  Disusun oleh."— Transcript presentasi:

1  MAKALAH KELOMPOK  Disusun sebagai syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Pengantar Pendidikan”  (Dosen : Tri Yuliansah Bintaro,S.Pd)  Disusun oleh :  Kelas : 1/F  Kelompok 6  Riski Rahmawati  Ardi Nurrosid S.A  Moh Arri Huzzaka  Linda Riana Sari  Ragil Sugiarti   PROGRAN STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR  FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO  2012

2

3 1. Masalah Pemerataan Pendidikan 2. Masalah Relevensi Pendidikan 3. Masalah Kualitas Pendidikan 4. Masalah Efisiensi Pendidikan 5. Masalah Nilai Nasionalisme,Humanisme, dan TheistisReligius 6. Masalah Pembelajaran

4 1. Masalah Pemerataan Pendidikan Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat ditampung didalam sistem atau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia,yang meliputi :  Pemerataan kesempatan, berarti setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan  Aksesibilitas, berarti setiap orang tanpa memandang asal usulnya memiliki akses (kesempata masuk) yang sama kedalam pendidikan pada semua jenis, jenjang, maupun jalur pendidikan.  Keadilan, berarti perbedaan perilaku pada peserta didik sesuai dengan kondisi internal dan eksternal. Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD, maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca, menulis dan berhitung, sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media massa dan sumber belajar yang tersedia baik mereka itu nantinya berperan sebagai produsen maupun konsumen. Dengan demikian mereka tidak terbelakang dan menjadi penghambat derap pembangunan.

5 2. Masalah Relevensi Pendidikan yaitu begayut dengan kebutuhan, kebutuhan yang dimaksud adalah berkaitan dengan kebutuhan peserta didik, keluarga, dan pembangunan yang mencangkup berbagai sektor dan sub sector. Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan.Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sektor pembangunan yang beranekaragam. Seperti sektor produksi, jasa, dll baik dari segi jumlah maupun kualitas. Sektor pembangunan baik yang aktual (yang tersedia) maupun yang potensial yang memenuhi kriteria yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja, maka relevansi pendidikan pendidikan dianggap tinggi.Umumnya luaran yang diproduksi oleh sistem pendidikan (lembaga yang menyiapkan tenaga kerja) jumlahnya secara komulatif lebih besar daripada yang dibutuhkan dilapangan. Sebalikya ada jenis- jenis tenaga kerja yang dibutuhkan dilapangan kurang diproduksi /bahkan tidak diproduksi.

6 3.Masalah Kualitas Pendidikan Berarti menunjuk pada proses dan produk pendidikan. Di tinjau dari proses, pendidikan dikatakan berkualitas apabila proses belajar mengajar berlangsung secara efektif, dan peserta didik mengalami proses belajar yang lebih bermakna. Dan ada tiga indicator untuk menilai kualitas produk pendidikan, yaitu : Peserta didik mampu menunjukkan hasil belajar akademik yang ditunjukkan dalam prestasi belajar. Hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik Hasil pendidikan relevan dengan tuntutan lingkungan, terutama dunia kerja. Jika terjadi belajar yang tidak optimal menghasilkan skor hasil ujian yang baik, maka hampir dapat dipastikan bahwa hasil belajar tersebut adalah semu. Ini berarti bahwa pokok permasalahan kualitas pendidikan lebih terletak pada masalah pemrosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemrosesan pendidikan ditunjang oleh komponen pendidik yang terdiri dari peserta didik. Tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran bahkan juga masyarakat sekitar. Seberapa besar dukungan tersebut diberikan oleh komponen pendidikan, sangat tergantung pada kualitas komponen dan kerja samanya serta mobilitas komponen yang mengarah pada pencapaian tujuan.

7 yaitu upaya pendidikan disebut efisiensi apabila hasil yang dicapai bersifat maksimal dengan menggunakan biaya yang wajar. Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu sistem pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiensinya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya maka efisiensinya rendah. Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting adalah :  Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan  Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan  Bagaimana pendidikan diselenggarakan  Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga

8 5.Masalah Nilai Nasionalisme,Humanisme, dan TheistisReligius Menurut Wilds dan Lotttich,Pendidikan harus diartikan sebagai tujuan untuk menenmkan nilai-nilai kebijakan warga negara,dan bukan nilai kebijakan yang tradisional dan moral kemanusiaan.Para pemikir- pemikir ini mempercaya bahwa pengajaran adalah masalah sipil kewargaan negaraan yang bertujuan untuk mengembangkan jiwa-jiwa nasionalisme,hak dan kewajiban warga negara harus diletarikan,dan kemampuan mengabdi pada negara dalam lembaga-lembaga yang demokratis. Tentang masalah nilai-nilai pendidikan ini,Butts menyatakan bahwa tradisi mendasar barat dan ethos liberalisme,humanitarianisme,serta kebebasan berfikir telah ditentang dengan ethos titani,teror,dan perkosaan penalaran maupun kejasmanian.

9 permasalahan belajar yang ditinjau dari segi akademis, gangguan simbolik dan ganguan nonsimbolik.Sebagai contoh, sering kita dengar kecemasan seorang anak pada saat menempuh ujian. Tuti sangat cemas dan takut apabila ujiannya gagal. Keberhasilan dan kegagalan seorang anak belajar di SD sangat erat terkait dengan tingkat kemampuan anak. Ada tiga jenis kesulitan belajar yang seringkali ditemui dalam perkembangan seorang anak.

10 Kesulitan belajar akademis siswa sekolah dasar sering dinamakan kesulitan “CALISTUNG” (membaca, menulis, berhitung). Kesulitan membaca dapat disebabkan karena gangguan pertumbuhan psikologisdan juga hambatan didaktik-metodik. Acapkali anak SD mengenal bunyi huruf, tetapi mereka kesulitan membacanya apabila huruf itu dirangkaikan menjadi kata. Disamping itu, anak SD juga mengalami ketidakmampuan membaca yang disebabkan karena faktor-faktor psikologis (gagap). Anak merasa malu ditertawakan teman-temannya, sehingga terjadi kesulitan pada saat membaca. Gangguan dalam membaca karena anak kehilangan kemampuan membaca disebut aphasia. Ketidakmampuannya untuk membaca karena gangguan fungsi saraf (neurologisnya rusak) disebut dyslexsia.

11 Ketidakmampuan motorik melakukan encoding atau menyandikan lambang atau bentuk-bentuk huruf tertentu, menyebabkan anak mengalami ketidakmampuan untuk menulis. Seorang anak SD yang tulisannya buruk, sulit untuk dibaca dan tidak rapi akibat ganguan syaraf disebut Disgraphia. Gerakan yang berlebih dan tidak normal misalnya menghentak-hentakan kaki, bergoyang–goyang terus, berkedip-kedip menggaruk-garuk kepala secara tidak teratur disebut hyperkenesis.

12 kuantitatif. Mungkin ia pandai menyebutkan lambang-lambang bilangan. Tetapi, mereka kesulitan kalau lambing- lambang bilangan itu diterapkan dalam konteks penjumlahan, perkalian, pengurangan dan pembagian. Kesulitan untuk mengerjakan bilangan pada saat berhitung disebut discalculia.

13 siswa itu mampu mendengar, tetapi tidak mengerti apa yang didengar. Ia juga mampu mengaitkan objek yang dilihat, namun mengalami gangguan pengamatan (visual reseptive). Anak juga mengalami gangguan gerak-gerik (motoraphasia). Siswa yang seperti ini sulit untuk dapat memahami suatu objek sekali pun ia memiliki pendengaran yang normal.

14 ia mengalami kesulitan untuk mengenal kembali apa yang telah dipelajarinya pada pelajaran sebelumnya. Ketidakmampuan pengamatan akan menimbulkan gangguan keliru karena ia tidak mampu memanipulasi benda walaupun indra motornya normal. Kesulitan belajar yang telah dipaparkan tersebut sangat berdampak pada proses belajar. Namun, ada pula siswa SD yang karena proses kelahiran atau musibah mengalami cidera otak, sehingga siswa itu tidak mampu untuk belajar. Ketidakmampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu yang tidak dapat dilakukan anak-anak yang sebaya seperti: mandi sendiri, sikat gigi, menulis, membaca disebut learning disability. Anak yang mengalami kerusakan saraf yang berat disebut learning disorder. Anak yang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata, namun prestasi akademiknya rendah disebut underachiever. Sedangkan anak yang lamban belajar dan tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat serta waktu belajarnya lebih lama dibandingkan rata-rata anak seusianya disebut slow learner.

15 Solusi Dalam Permasalahan Pendidikan  Solusi Pemerataan Kesempatan  Solusi Relevansi Pendidikan  Solusi Kualitas Pendidikan  Solusi Efisiensi Pendidikan  Solusi masalah nilai-nilai

16 1.Solusi Pemerataan Kesempatan. Pemecahan masalah pemerataan pendidikan.Banyak macam pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Langkah-langkah ditempuh melalui cara kon vensional dan cara inovatif. Cara konvensional antara lain : 1. Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan ruangan belajar 2. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore) Sehubungan dengan itu yang perlu di galakan utamanya untuk pendidikan dasar ialah membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat atau keluarga yang kurang mampu agar mau menyekolahklan anaknya.

17 C ARA I NOVATIF ANTARA LAIN : Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua dan guru) atau inpacts system (Instructional management by parent, community and teacher).sistem tersebut dirintis di Solo dan diseminasikan ke beberapa provinsi. SD kecil pada daerah terpencil. Sistem guru kunjung. SMP Terbuka (ISOSA – In school out of school approach). Kejar paket A dan B. Belajar jarak jauh seperti UT. Pelaksanaan wajib belajar 9 tahun melalui jalur sekolah dan luar sekolah. Peningkatan perhatian kepada populasi khusus (anak dari daerah terpencil, kurang berunung, cacat dan berkemampuan luar biasa). Perluasan investasi untuk infrastruktur dan tenaga kependidikan.

18 Umumnya luaran yang diproduksi oleh sistem pendidikan (lembaga yang menyiapkan tenaga kerja) jumlahnya secara komulatif lebih besar daripada yang dibutuhkan dilapangan. Sebalikya ada jenis-jenis tenaga kerja yang dibutuhkan dilapangan kurang diproduksi /bahkan tidak diproduksi.Dari masalah diatas pemecahannya adalah hasil pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarkat dan pembangunan,diantarnya: 1. Pemenuhan kebutuhan individu peserta didik dan tenaga kerja melalui “coop erative education/dua system”. 2. Penguatan program pendidikan kejuruan menengah dan tinggi. 3. Penguatan pendidikan ketrampilan sebagai bagian integral dari kurikulum SLTP. 4. Peningkatan program ketrampilan diluar sekolah melalui kejar paketB dan pemanfaatan BLK/KLK bekerjasama dengan Depnaker. 5. Penguatan program pendidikanprofesional di perguruan tinggi (Diploma dan poltiteknik).

19 1. Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan management sebagai berikut : 2. Seleksi yang lebih rasional terhadap pasukan mentah, khususnya untuk SLTA dan PT. 3. Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut misalnya berupa pelatihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG dll. 4. Penyempurnaan kurikulum, misalnya dengan memberi yang lebih esensial dan mengandung muatan lokal, metode yang menantang dan menggairahkan belajar dan melaksanakan evaluasi yang beracuan PAP. 5. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tentram untuk belajar. 6. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran, dan peralatan laboratorium. 7. Peningkatan administrasi management khususnya yang mengenai anggaran.

20 1. Tenaga kependidikan khususnya guru dipersiapkan juga untuk pendidikan berwirausaha 2. Dibangunnya unit baru yang disebut PSB (Pusat Sumber Belajar) Pada perguruan tinggi sebelum tahun 19980, unit tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan pendidikan tenaga pendidikan. 3. Pemrosesan pendidikan sesuai rancangan dan tujuan yang ditulis dalam rancangan. 4. Meninkatkan koordinasi, intergrasi, sinkronisasi (KIS) di dalam Depdikbud dan antara Depdikbutdengan departemen yang lain dan para users. 5. Peningkatan profesionalisme meliputi keahlian, cost effectivess, dan penggunaan secara efektif seluruh sumberdaya pendidikan. 6. Dan lain-lain.

21 5.Solusi masalah nilai-nilai Cara bagaimana merumuskan nilai-nilai pendidikan atau isi moral pendidikan dan yang akan merupakan pedoman,kriteria atas dasar mana kita akan mengadakan penilain terhadap kegiatan pendidikan dan pengajaran kita.Suatu sistem nilai atau ethos yang mendasari tingkah laku perbuatan manusia baik sebagai makhluk individu,makhluk anggota masyarakat sampai tugas tanggung jawabnya,sebagai warganegara tinggi rendahnya moral kesusilaan individu dan masyarakat ditentukan oleh tingkat terapan. Sekolah harus berusaha dengan segala daya upaya untuk mengembangkan dalam setiap murid lima cinta yang terdiri atas cinta pada tanah air,rakyat,masyarakat,kerja,ilmu pengetahuan dan memilik bersama.Jelas dalam rumusan sistem nilai diatas tidak mengakui segala suatu yang ada kaitanya dengan kebebasan pribadi dan hak milik pribadi,apalagi dengan masalah agama,moral maupun bakat,minat yang erat hubunganya dengan masalah hak-hak asasi manusia yang bermatabat dengan manusia.

22


Download ppt " MAKALAH KELOMPOK  Disusun sebagai syarat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Pengantar Pendidikan”  (Dosen : Tri Yuliansah Bintaro,S.Pd)  Disusun oleh."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google