Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

BOOK REPORT : THE STRUCTURE OF SCIENTIFIC REVOLUTIONS PERAN PARADIGMA DALAM REVOLUSI SAINS BY : THOMAS SAMUEL KUHN Disusun Oleh Kelas B Angkatan Ke- V.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "BOOK REPORT : THE STRUCTURE OF SCIENTIFIC REVOLUTIONS PERAN PARADIGMA DALAM REVOLUSI SAINS BY : THOMAS SAMUEL KUHN Disusun Oleh Kelas B Angkatan Ke- V."— Transcript presentasi:

1 BOOK REPORT : THE STRUCTURE OF SCIENTIFIC REVOLUTIONS PERAN PARADIGMA DALAM REVOLUSI SAINS BY : THOMAS SAMUEL KUHN Disusun Oleh Kelas B Angkatan Ke- V : Agus Gunawan Normawaty Lubis Novi Satria Pradja Ramli Suhartono Ucep Riffaudin PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI PROGRAM PASCA SARJANA (S-2) UNIVERSITAS KUNINGAN

2 Thomas Samuel Kuhn dalam bukunya Structure Scientific Revolutions pada tahun 1962 mengawali sebuah zaman baru dalam memahami ilmu. Lahir di Cincinnati, Ohio, pada tahun 1922, Kuhn belajar fisika di Harvard University. Ia melanjutkan studi pasca sarjana dalam bidang fisika teoritis, namun kemudian memutuskan berpindah ke bidang sejarah ilmu hanya sesaat sebelum menyelesaikan disertasinya. Thomas Samuel Kuhn dalam bukunya Structure Scientific Revolutions pada tahun 1962 mengawali sebuah zaman baru dalam memahami ilmu. Lahir di Cincinnati, Ohio, pada tahun 1922, Kuhn belajar fisika di Harvard University. Ia melanjutkan studi pasca sarjana dalam bidang fisika teoritis, namun kemudian memutuskan berpindah ke bidang sejarah ilmu hanya sesaat sebelum menyelesaikan disertasinya.

3

4 Selama periode Kuhn mempelajari, memikirkan dan menyusun Structure, Harvard sedang bergolak dalam ideologi tertentu. Cambridge, Massachussees menjadi pusat para ilmuwan yang mencipta Big Science dan bekerja untuk Proyek Manhattan, dan mereka membawa ideologi beserta ilmunya, dalam skala industrial, kembali ke kampus. Secara khusus, Rektor Harvard, James Bryant conant, sangat berperan dalam mengarahkan model riset ilmiah Jerman yang “industrial” dan berskala besar menuju gaya akademis Amerika sesudah Perang Dunia I. Conant juga merupakan administrator bom atom AS yang menjembatani Kongres AS dengan tim Los Alamos, dan dialah orang yang meyakinkan Presiden Truman untuk berpendapat bahwa menjatuhkan bom atom di Hiroshima adalah sebuah “keharusan”, Conant menjadi mentor Kuhn dan dialah yang membujuk Kuhn agar mengajar untuk program Pendidikan Umum tentang Ilmu, dimana ia menyelesaikan tesis-tesis Structure, yang dipersembahkan untuk Conant. Jadi Kuhn tumbuh ketika ilmu telah terindustrialisasikan dan telah ditransformasikan menjadi karir daripada pengabdian. Madzhab filsafat ilmu yang dominan selama peeriode itu kebanyakan adalah produk dari Lingkaran Wina dan Karl Popper ( ). Lingkaran itu yang terdiri dari para filsuf, matematisi dan ilmuwan, didirikan pada tahun 1920-an. Leluhur atau para pendahulu intelektual mereka yang bermula dari Ernst Mach, dan beberapa anggota yang berpengaruh, seperti Rudolf Carnap dan Otto Neurath, memandang Lingkaran itu sebagai sarana untuk memajukan ide-ide yang anti-klerikal dan sosialis. Kendati Popper kadang dikaitkan dengan Lingkaran itu, ia bukanlah anggotanya dan ia sangat kritis terhadap beberapa aspek pendirian filsafatnya. Lingkaran itu menegaskan bahwa metafisika dan teologi tidak bermakna sebab keduanya berisi proposisi-proposisi yang tidak diverifikasi. Doktrinnya sendiri, yang dikenal dengan nama positivisme logis, mengkonsepsikan bahwa filsafat sepenuhnya bersifat analitis, didasarkan pada logika formal, dan itulah satu-satunya komponen wacana ilmiah yang benar, sesudah terjadinya pembunuhan atas salah satu anggotanya serta invasi Hitler ke Austria, para anggota Lingkaran itu pindah ke AS. Selama periode Kuhn mempelajari, memikirkan dan menyusun Structure, Harvard sedang bergolak dalam ideologi tertentu. Cambridge, Massachussees menjadi pusat para ilmuwan yang mencipta Big Science dan bekerja untuk Proyek Manhattan, dan mereka membawa ideologi beserta ilmunya, dalam skala industrial, kembali ke kampus. Secara khusus, Rektor Harvard, James Bryant conant, sangat berperan dalam mengarahkan model riset ilmiah Jerman yang “industrial” dan berskala besar menuju gaya akademis Amerika sesudah Perang Dunia I. Conant juga merupakan administrator bom atom AS yang menjembatani Kongres AS dengan tim Los Alamos, dan dialah orang yang meyakinkan Presiden Truman untuk berpendapat bahwa menjatuhkan bom atom di Hiroshima adalah sebuah “keharusan”, Conant menjadi mentor Kuhn dan dialah yang membujuk Kuhn agar mengajar untuk program Pendidikan Umum tentang Ilmu, dimana ia menyelesaikan tesis-tesis Structure, yang dipersembahkan untuk Conant. Jadi Kuhn tumbuh ketika ilmu telah terindustrialisasikan dan telah ditransformasikan menjadi karir daripada pengabdian. Madzhab filsafat ilmu yang dominan selama peeriode itu kebanyakan adalah produk dari Lingkaran Wina dan Karl Popper ( ). Lingkaran itu yang terdiri dari para filsuf, matematisi dan ilmuwan, didirikan pada tahun 1920-an. Leluhur atau para pendahulu intelektual mereka yang bermula dari Ernst Mach, dan beberapa anggota yang berpengaruh, seperti Rudolf Carnap dan Otto Neurath, memandang Lingkaran itu sebagai sarana untuk memajukan ide-ide yang anti-klerikal dan sosialis. Kendati Popper kadang dikaitkan dengan Lingkaran itu, ia bukanlah anggotanya dan ia sangat kritis terhadap beberapa aspek pendirian filsafatnya. Lingkaran itu menegaskan bahwa metafisika dan teologi tidak bermakna sebab keduanya berisi proposisi-proposisi yang tidak diverifikasi. Doktrinnya sendiri, yang dikenal dengan nama positivisme logis, mengkonsepsikan bahwa filsafat sepenuhnya bersifat analitis, didasarkan pada logika formal, dan itulah satu-satunya komponen wacana ilmiah yang benar, sesudah terjadinya pembunuhan atas salah satu anggotanya serta invasi Hitler ke Austria, para anggota Lingkaran itu pindah ke AS.

5

6  Kuhn memandang ilmu dari perspektif sejarawan profesional tertentu. Ia mengeksplorasi tema-tema yang lebih besar, misalnya seperti apakah sesungguhnya ilmu itu di dalam praktiknya yang nyata, dengan analisis kongkrit dan empiris. Di dalam Structure menyatakan bahwa ilmuwan bukanlah para penjelajah berwatak pemberani yang menemukan kebenaran-kebenaran baru. Mereka lebih mirip para pemecah teka-teki yang bekerja di dalam pandangan dunia yang sudah mapan. Kuhn memakai istilah ‘paradigma’ untuk menggambarkan sistem keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu. Dengan memakai istilah ‘paradigma’, tulisnya, “Saya bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang telah diterima tentang praktik ilmiah nyata-contoh-contoh yang sekaligus meliputi hukum, teori, aplikasi, dan instrumentasi-yang menyediakan model-model yang menjadi sumber tradisi riset ilmiah tertentu yang kohern. Inilah tradisi-tradisi yang oleh sejarah ditempatkan di dalam rubrik-rubrik seperti ”Ptolemaic Astronomy” (atau “Copernican”), “Aristotelian dynamics” (atau “Newtonian”), “cospuscular optics” (atau “wave optics”) dan sebagainya. Istilah ‘paradigma’ berkaitan erat dengan ‘ilmu normal’. Mereka yang bekerja di dalam paradigma umum dan dogmatis menggunakan sumber dayanya untuk menyempurnakan teori, menjelaskan data-data yang membingungkan, menetapkan ketepatan ukuran-ukuran standar yang terus meningkat, dan melakukan kerja lain yang diperlukan untuk memperluas batas-batas ilmu normal.

7  Dalam skema Kuhn, stabilitas dogmatis ini diselingi oleh revolusi-revolusi yang sesekali terjadi. Ia menggambarkan bermulanya ilmu revolusioner secara gambling : Ilmu normal, sering menindas kebaruan-kebaruan fundamental karena mereka pasti bersifat subversif terhadap komitmen- komitmen dasarnya namun ketika profesi tidak bisa lagi mengelak dari anomali-anomali yang merongrong tradisi praktik ilmiah yang sudah ada, maka dimulailah investigasi yang berada di luar kelaziman. Suatu titik tercapai ketika krisis hanya bisa dipecahkan dengan revolusi dimana paradigma lama memberikan jalan bagi perumusan paradigma baru. Demikianlah ‘ilmu revolusioner’ mengambil-alih. Namun, apa yang sebelumnya pernah revolusioner itu sendiri akan mapan dan menjadi ortodoksi baru : ilmu normal yang baru. Jadi menurut Kuhn, ilmu berkembang melalui siklus-siklus yang diikuti lagi oleh ilmu normal dan kemudian diikuti lagi oleh revolusi. Setiap paradigma bisa menghasilkan karya khusus yang menentukan dan membentuk paradigma : Physics karya Aristoteles, Principia dan Optics karya Newton serta Geology karya Lyell adalah contoh-contoh karya yang menentukan paradigma cabang-cabang ilmu tertentu pada suatu masa tertentu.

8 Berbeda tajam dengan gambaran tradisional tentang ilmu sebagai penerimaan atas pengetahuan secara progresif, gradual dan kumulatif yang didasarkan pada kerangka eksperimental yang dipilih secara rasional, Kuhn menunjukkan ilmu normal sebagai upaya dogmatis. Jika kita menganggap teori-teori ilmiah yang sudah ketinggalan zaman seperti dinamika Aristotelian, kimia flogistis, atau termodinamika kalori sebegai mitos, menurut Kuhn, kita bisa sama-sama bersikap logis untuk menganggap teori-teori saat ini sebagai irasional dan dogmatis : Berbeda tajam dengan gambaran tradisional tentang ilmu sebagai penerimaan atas pengetahuan secara progresif, gradual dan kumulatif yang didasarkan pada kerangka eksperimental yang dipilih secara rasional, Kuhn menunjukkan ilmu normal sebagai upaya dogmatis. Jika kita menganggap teori-teori ilmiah yang sudah ketinggalan zaman seperti dinamika Aristotelian, kimia flogistis, atau termodinamika kalori sebegai mitos, menurut Kuhn, kita bisa sama-sama bersikap logis untuk menganggap teori-teori saat ini sebagai irasional dan dogmatis :

9  Jika keyakinan-keyakinan yang kadaluarsa itu hendak disebut mitos-mitos, maka mitos-mitos itu bisa dihasilkan lewat jenis-jenis metode yang sama dan berlaku untuk jenis-jenis rasio yang sama yang kini mengarahkan pengetahuan ilmiah. Jika, dilain pihak, mereka hendak disebut ilmu, maka ilmu telah mencakup bangunan-bangunan keyakinan yang sangat tidak sesuai dengan bangunan-bangunan yang kita percaya ini. Ini menyulitkan kita untuk melihat perkembangan ilmiah sebagai proses akumulasi.  Dalam seluruh buku ia menggunakan contoh-contoh historis untuk menjelaskan praktik masa kini, mengidentifikasi faktor-faktor umum dan menekankan sifat cacat metode ilmiah. Demikianlah, metode ilmiah-proses observasi, eksperimentasi, deduksi dan konklusi yang di idealisasikan yang menjadi dasar kebanyakan klaim ilmu obyektivitas dan universalisme, berubah menjadi ilusi. Kuhn menyatatakan bahwa paradigmalah yang menentukan jenis-jenis eksperimen yang dilakukan para ilmuuwan, jenis-jenis pertanyaan yang mereka ajukan, dan masalah yang mereka anggap penting. Tanpa paradigma tertentu, semua fakta yang mungkin sesuai dengan perkembangan ilmu tertentu tampaknya cenderung sama-sama relevan. Akibatnya, pengumpulan fakta tahap awal jauh lebih berupa kegiatan acak jika dibandingkan dengan kegiatan yang telah diakrabi dalam perkembangan ilmu yang lebih lanjut. Pergeseran paradigma mengubah konsep-konsep dasar yang melandasi riset dan mengilhami standar-standar pembuktian baru, teknik-teknik riset baru, serta jalur-jalur teori dan eksperimen baru yang secara radikal tidak bisa dibandingkan lagi dengan yang lama.

10 Kebanyakan aktivitas ilmiah, menurut Kuhn, berlangsung di dalam rubrik ilmu normal; yakni ilmu yang kita jumpai dalam buku-buku teks, dan yang mensyaratkan agar riset didasarkan pada satu pencapaian iilmiah masa silam atau lebih, pencapaian-pencapaian yang diakui sementara waktu oleh komunitas ilmiah tertentu sebagai dasar bagi praktik selanjutnya. Ilmu yang restrikif dan bersifat pemecahan masalah secara tertutup ini memiliki kekurangan maupun kelebihannya. Di satu sisi ia memungkinkan komunitas ilmiah untuk mengumpulkan data berdasarkan suatu basis sistematis dan secara cepat memperluas batas-batas ilmu. Kebanyakan aktivitas ilmiah, menurut Kuhn, berlangsung di dalam rubrik ilmu normal; yakni ilmu yang kita jumpai dalam buku-buku teks, dan yang mensyaratkan agar riset didasarkan pada satu pencapaian iilmiah masa silam atau lebih, pencapaian-pencapaian yang diakui sementara waktu oleh komunitas ilmiah tertentu sebagai dasar bagi praktik selanjutnya. Ilmu yang restrikif dan bersifat pemecahan masalah secara tertutup ini memiliki kekurangan maupun kelebihannya. Di satu sisi ia memungkinkan komunitas ilmiah untuk mengumpulkan data berdasarkan suatu basis sistematis dan secara cepat memperluas batas-batas ilmu.

11 Pendekatan Kuhn terhadap ilmu pada dasarnya adalah reaksi tafsir Whig atas sejarah, bahwa sejarah adalah progresi kebebasan secara linier yang kian meningkat dan berpuncak pada masa kini. Sejarah Whig membaca masa silam dengan arah ke belakang dan menjelaskan masa kini sebagai produk kumulatif pencapaian-pencapaian masa silam. Penolakan terhadap sejarah Whig dalam bidang sejarah ilmu dimulai, antara lain, oleh Alexandre Koyre, yang terhadapnya Kuhn mengakui hutang intelektual yang besar. Kuhn menyadari bahwa untuk memahami bagaimana suatu tradisi historis berkembang, orang harus memahami perilaku sosial dari mereka yang terlibat dalam membentuk tradisi. Pemaham inilah menurut Barry Barnes, yang berpadu dengan kepekaan atau sensibilitas historisnya, yang menjadi sumber orisionalitas dan arti penting karya Kuhn. Pelestarian suatu bentuk kebudayaan mengandalkan mekanisme-mekanisme sosialisasi dan penyebaran pengetahuan, prosedur-prosedur untuk menunjukkan lingkup makna dan representasi yang diterima, metode-metode untuk meratifikasi inovasi-inovasi yang telah diterima dan memberi mereka cap legitimasi. Semua itu harus dijaga keberlangsungannya oleh para anggota kebudayaan itu sendiri, jika konsep-konsep dan representasi hendak dipertahankan eksistensinya. Jika ada bentuk budaya yang tetap bertahan, pasti ada pula sumber-sumber otoritas dan kontrol kognitif. Kuhn menampilkan riset ilmiah sebagai produk dari suatu interaksi yang kompleks antara komunitas peneliti, tradisi otoritatifnya, dan lingkungannya. Dalam keseluruhan proses itu rasio dan logika sama sekali bukan satu-satunya kriteria bagi kemajuan dalam pengetahuan ilmiah. Pendekatan Kuhn terhadap ilmu pada dasarnya adalah reaksi tafsir Whig atas sejarah, bahwa sejarah adalah progresi kebebasan secara linier yang kian meningkat dan berpuncak pada masa kini. Sejarah Whig membaca masa silam dengan arah ke belakang dan menjelaskan masa kini sebagai produk kumulatif pencapaian-pencapaian masa silam. Penolakan terhadap sejarah Whig dalam bidang sejarah ilmu dimulai, antara lain, oleh Alexandre Koyre, yang terhadapnya Kuhn mengakui hutang intelektual yang besar. Kuhn menyadari bahwa untuk memahami bagaimana suatu tradisi historis berkembang, orang harus memahami perilaku sosial dari mereka yang terlibat dalam membentuk tradisi. Pemaham inilah menurut Barry Barnes, yang berpadu dengan kepekaan atau sensibilitas historisnya, yang menjadi sumber orisionalitas dan arti penting karya Kuhn. Pelestarian suatu bentuk kebudayaan mengandalkan mekanisme-mekanisme sosialisasi dan penyebaran pengetahuan, prosedur-prosedur untuk menunjukkan lingkup makna dan representasi yang diterima, metode-metode untuk meratifikasi inovasi-inovasi yang telah diterima dan memberi mereka cap legitimasi. Semua itu harus dijaga keberlangsungannya oleh para anggota kebudayaan itu sendiri, jika konsep-konsep dan representasi hendak dipertahankan eksistensinya. Jika ada bentuk budaya yang tetap bertahan, pasti ada pula sumber-sumber otoritas dan kontrol kognitif. Kuhn menampilkan riset ilmiah sebagai produk dari suatu interaksi yang kompleks antara komunitas peneliti, tradisi otoritatifnya, dan lingkungannya. Dalam keseluruhan proses itu rasio dan logika sama sekali bukan satu-satunya kriteria bagi kemajuan dalam pengetahuan ilmiah.

12 Ketika pertama kali diterbitkan, Structure memicu sejumlah besar kontroversi. Reaksi dari para ilmuwan tidak mengejutkan : bagaimanapun, Kuhn telah meruntuhkan anggapan yang telah diterima tentang ilmuwan sebagai pencari kebenaran dan interogator alam dan realitas yang heroik, berpikiran terbuka dan bebas kepentingan, dan sebagaimana ditampilkan lewat parodi-parodi dalam karyanya, ia telah mereduksi ilmu menjadi tak lebih dari periode-periode panjang aktivitas konformis yang membosankan, yang diselingi dengan munculnya penyimpangan-penyimpangan irasional. Namun para filsuf ilmu pun terlampau memusuhi Kuhn, karena mereka hingga saat itu, merasa bertanggung jawab untuk menghasilkan penjelasan-penjelasan tentang hakikat penelitian dan kemajuan ilmiah. Penjelasan Kuhn nyaris tidak diakui dibandingkan produk mereka yang telah diformulasikan dan diidealisasikan. Perbandingan-perbandingannya dengan teologi, perubahan agama dan revolusi politik menakutkan baik para ilmuwan maupun para filsuf ilmu. Para filsuf juga memandang relativisme Kuhn sangat mencemaskan. Dalam lingkungan sejarah dan filsafat ilmu (SFI), Sructure digambarkan sebagai tidak orisional, kering dan rancu. Stephen Toulmin pernah mengangkat gagasan tentang “kerangka-kerangka” sebagai tandingan terhadap citra pengumpulan fakta yang positivistic, dan sejarawan filsuf R.G. Collingwood sebelumnya pernah mengajukan gagasan serupa. Secara khusus, pemikir pragmatis Harvard, C.I. Lewis, mengantisipasi banyak pernyataan Kuhn yang paling radikal mengenali tak bisa diperbandingkannya pandangan-pandangan dunia. Ketika pertama kali diterbitkan, Structure memicu sejumlah besar kontroversi. Reaksi dari para ilmuwan tidak mengejutkan : bagaimanapun, Kuhn telah meruntuhkan anggapan yang telah diterima tentang ilmuwan sebagai pencari kebenaran dan interogator alam dan realitas yang heroik, berpikiran terbuka dan bebas kepentingan, dan sebagaimana ditampilkan lewat parodi-parodi dalam karyanya, ia telah mereduksi ilmu menjadi tak lebih dari periode-periode panjang aktivitas konformis yang membosankan, yang diselingi dengan munculnya penyimpangan-penyimpangan irasional. Namun para filsuf ilmu pun terlampau memusuhi Kuhn, karena mereka hingga saat itu, merasa bertanggung jawab untuk menghasilkan penjelasan-penjelasan tentang hakikat penelitian dan kemajuan ilmiah. Penjelasan Kuhn nyaris tidak diakui dibandingkan produk mereka yang telah diformulasikan dan diidealisasikan. Perbandingan-perbandingannya dengan teologi, perubahan agama dan revolusi politik menakutkan baik para ilmuwan maupun para filsuf ilmu. Para filsuf juga memandang relativisme Kuhn sangat mencemaskan. Dalam lingkungan sejarah dan filsafat ilmu (SFI), Sructure digambarkan sebagai tidak orisional, kering dan rancu. Stephen Toulmin pernah mengangkat gagasan tentang “kerangka-kerangka” sebagai tandingan terhadap citra pengumpulan fakta yang positivistic, dan sejarawan filsuf R.G. Collingwood sebelumnya pernah mengajukan gagasan serupa. Secara khusus, pemikir pragmatis Harvard, C.I. Lewis, mengantisipasi banyak pernyataan Kuhn yang paling radikal mengenali tak bisa diperbandingkannya pandangan-pandangan dunia.

13 Namun, pada akhir tahun 1960-an, Structure mulai diterima sebagai karya revolusioner dalam filsafat ilmu. Konsepnya tentang perubahan paradigma mulai dipakai dalam disiplin–disiplin seperti ilmu politik dan ekonomi. Dalam sosiologi, konsep itu diterima sepenuhnya. Disiplin barupun segera muncul: sosiologi ilmu kritis. Menurut sejarawan ilmu Ian Hacking, Structure memaklumatkan tamatnya gagasan-gagasan berikut ini : Namun, pada akhir tahun 1960-an, Structure mulai diterima sebagai karya revolusioner dalam filsafat ilmu. Konsepnya tentang perubahan paradigma mulai dipakai dalam disiplin–disiplin seperti ilmu politik dan ekonomi. Dalam sosiologi, konsep itu diterima sepenuhnya. Disiplin barupun segera muncul: sosiologi ilmu kritis. Menurut sejarawan ilmu Ian Hacking, Structure memaklumatkan tamatnya gagasan-gagasan berikut ini : Realisme bahwa ilmu adalah upaya untuk menemukan suatu dunia nyata; bahwa kebenaran tentang dunia adalah benar, terlepas dari apa yang dipikirkan oleh orang-orang bahwa kebenaran ilmu mencerminkan sejumlah aspek realitas. Realisme bahwa ilmu adalah upaya untuk menemukan suatu dunia nyata; bahwa kebenaran tentang dunia adalah benar, terlepas dari apa yang dipikirkan oleh orang-orang bahwa kebenaran ilmu mencerminkan sejumlah aspek realitas. Demarkasi bahwa terdapat perbedaan tajam antara teori ilmiah dari jenis-jenis sistem kepercayaan lainnya. Demarkasi bahwa terdapat perbedaan tajam antara teori ilmiah dari jenis-jenis sistem kepercayaan lainnya. Kumulasi bahwa ilmu bersifat kumulatif dan dibangun berdasarkan apa yang telah diketahui, misalnya bahwa Einstein adalah generalisasi dari Newton. Kumulasi bahwa ilmu bersifat kumulatif dan dibangun berdasarkan apa yang telah diketahui, misalnya bahwa Einstein adalah generalisasi dari Newton. Pembedaan observasi-teori bahwa terdapat perbedaan yang cukup tajam antara laporan-laporan observasi dan pernyataan-pernyataan teori. Pembedaan observasi-teori bahwa terdapat perbedaan yang cukup tajam antara laporan-laporan observasi dan pernyataan-pernyataan teori. Fondasi-fondasi bahwa observasi dan eksperimen menyediakan fondasi bagi, dan justifikasi atas, hipotesis dan teori. Fondasi-fondasi bahwa observasi dan eksperimen menyediakan fondasi bagi, dan justifikasi atas, hipotesis dan teori. Struktur deduktif teori-teori bahwa pengujian atas teori-teori berlangsung dengan mendeduksikan laporan- laporan observasi dari postulat-postulat teoritis. Struktur deduktif teori-teori bahwa pengujian atas teori-teori berlangsung dengan mendeduksikan laporan- laporan observasi dari postulat-postulat teoritis. Presisi bahwa konsep-konsep ilmiah cenderung tepat dan bahwa istilah-istilah yang dipakai dalam ilmu memiliki makna yang pasti. Presisi bahwa konsep-konsep ilmiah cenderung tepat dan bahwa istilah-istilah yang dipakai dalam ilmu memiliki makna yang pasti. Penemuan dan pembenaran bahwa terdapat konteks-konteks penemuan dan pembenaran yang terpisah- pisah, dan bahwa kita harus membedakan lingkungan psikologis atau sosial dima suatu penemuan dilakukan, dengan basis logika untuk membenarkan kepercayaan terhadap fakta-fakta yang telah ditemukan. Penemuan dan pembenaran bahwa terdapat konteks-konteks penemuan dan pembenaran yang terpisah- pisah, dan bahwa kita harus membedakan lingkungan psikologis atau sosial dima suatu penemuan dilakukan, dengan basis logika untuk membenarkan kepercayaan terhadap fakta-fakta yang telah ditemukan. Kesatuan ilmu bahwa semestinya hanya ada satu ilmu tentang satu dunia nyata; ilmu-ilmu yang kurang mendalam bisa direduksi menjadi ilmu-ilmu yang lebih mendalam; psikologi bisa direduksi menjadi ilmu- ilmu biologi, biologi menjadi kimia, kimia menjadi fisika. (Ziauddin Sardar, 2002 : 32) Kesatuan ilmu bahwa semestinya hanya ada satu ilmu tentang satu dunia nyata; ilmu-ilmu yang kurang mendalam bisa direduksi menjadi ilmu-ilmu yang lebih mendalam; psikologi bisa direduksi menjadi ilmu- ilmu biologi, biologi menjadi kimia, kimia menjadi fisika. (Ziauddin Sardar, 2002 : 32)

14 Paradigma I Normal Scienc e AnomaliesCrisisRevolutionNew Normal Science Paradigma II Proses peralihan dari paradigma I ke paradigma II menurut Thomas Kuhn dapat digambarkan sebagai berikut :

15 Menurut Kuhn, filsafat ilmu sebaiknya berguru pada sejarah ilmu yang baru. Katanya, Popper yang sudah disebut di atas, membalikkan kenyataan dengan terlebih dulu menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui jalan hipotesa yang disusul upaya falsifikasi. Padahal perubahan-perubahan mendalam selama sejarah ilmu justru tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah satu teori atau system, melainkan terjadi melalui revolusi-revolusi ilmiah. Kemajuan ilmiah adalah bersifat revolusioner, dan tidak seperti anggapan sebelumnya, yaitu bersifat kumulatip, dengan kata lain evolusioner. Mengapa tidak disadari bahwa kemajuan itu bersifat revolusioner? Oleh karena hanya terasa revolusioner bagi mereka yang terkena dampaknya, atau lebih baik, mereka yang paradigmanya terkena dampak dari perubahan revolusioner ini. “Paradigma” menjadi konsep sentral dalam pemikiran Kuhn. Ilmu yang sudah matang dikuasai oleh sebuah paradigma tunggal. Tetapi salah satu masalah dalam tesis Kuhn adalah pemahaman mengenai pengertian paradigma itu sendiri, yang ternyata tidak begitu jelas. Di satu pihak, Kuhn mengatakan bahwa “paradigma” yang ia maksudkan tidak sama dengan “model” atau “pola” melainkan lebih daripada itu. Tetapi kemudian dalam penerapan teori Kuhn ke bidang-bidang di luar sains, istilah “model”, “pola” dan “tipe” kerap dicampurkan saja dengan “paradigma”. Di dalam postscript, Kuhn mengakui bahwa ia menggunakan istilah “paradigma” dalam dua arti, pertama sebagai keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik, dsb yang dimiliki bersama oleh anggota komunitas ilmiah tertentu dan kedua, sejenis unsur dalam konstelasi itu, pemecahan teka-teki yang kongkret, yang jika digunakan sebagai model atau contoh, dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan teka- teki sains yang normal, yang masih tersisa. Menurut Kuhn, kedua makna ini bisa dipakai, namun yang lebih mendalam secara filsafati adalah yang kedua. yahoo.com) Menurut Kuhn, filsafat ilmu sebaiknya berguru pada sejarah ilmu yang baru. Katanya, Popper yang sudah disebut di atas, membalikkan kenyataan dengan terlebih dulu menguraikan terjadinya ilmu empiris melalui jalan hipotesa yang disusul upaya falsifikasi. Padahal perubahan-perubahan mendalam selama sejarah ilmu justru tidak pernah terjadi berdasarkan upaya empiris untuk membuktikan salah satu teori atau system, melainkan terjadi melalui revolusi-revolusi ilmiah. Kemajuan ilmiah adalah bersifat revolusioner, dan tidak seperti anggapan sebelumnya, yaitu bersifat kumulatip, dengan kata lain evolusioner. Mengapa tidak disadari bahwa kemajuan itu bersifat revolusioner? Oleh karena hanya terasa revolusioner bagi mereka yang terkena dampaknya, atau lebih baik, mereka yang paradigmanya terkena dampak dari perubahan revolusioner ini. “Paradigma” menjadi konsep sentral dalam pemikiran Kuhn. Ilmu yang sudah matang dikuasai oleh sebuah paradigma tunggal. Tetapi salah satu masalah dalam tesis Kuhn adalah pemahaman mengenai pengertian paradigma itu sendiri, yang ternyata tidak begitu jelas. Di satu pihak, Kuhn mengatakan bahwa “paradigma” yang ia maksudkan tidak sama dengan “model” atau “pola” melainkan lebih daripada itu. Tetapi kemudian dalam penerapan teori Kuhn ke bidang-bidang di luar sains, istilah “model”, “pola” dan “tipe” kerap dicampurkan saja dengan “paradigma”. Di dalam postscript, Kuhn mengakui bahwa ia menggunakan istilah “paradigma” dalam dua arti, pertama sebagai keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik, dsb yang dimiliki bersama oleh anggota komunitas ilmiah tertentu dan kedua, sejenis unsur dalam konstelasi itu, pemecahan teka-teki yang kongkret, yang jika digunakan sebagai model atau contoh, dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan teka- teki sains yang normal, yang masih tersisa. Menurut Kuhn, kedua makna ini bisa dipakai, namun yang lebih mendalam secara filsafati adalah yang kedua. yahoo.com)

16 Popper berpendapat bahwa suatu teori ilmu pengetahuan yang memadai adalah teori yang bersifat konsisten, koheren serta selalu dapat difalsifikasi. Tidak ada teori ilmiah yang selalu dapat cocok secara logis dengan bukti – bukti yang ada. Dengan kata lain, teori yang tidak dapat ditolak bukanlah teori ilmu pengetahuan. Sedangkan Thomas Khun, ia memahami tentang kemajuan di dalam ilmu pengetahuan dengan berpijak pada teori falsifikasi Popper. Ia merumuskan teori baru yang didasarkan pada penelitian historis bagaimana ilmu pengetahuan mengalami perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya. Ia menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak secara otomatis menyingkirkan suatu teori ketika ada bukti – bukti yang berlawanan dengan teori tersebut, melainkan perubahan tersebut terjadi melalui proses yang bersifat gradual dan kumulatif. (tqz yahoo.co.id (www.scientist- strategist.blogspot.com). Popper berpendapat bahwa suatu teori ilmu pengetahuan yang memadai adalah teori yang bersifat konsisten, koheren serta selalu dapat difalsifikasi. Tidak ada teori ilmiah yang selalu dapat cocok secara logis dengan bukti – bukti yang ada. Dengan kata lain, teori yang tidak dapat ditolak bukanlah teori ilmu pengetahuan. Sedangkan Thomas Khun, ia memahami tentang kemajuan di dalam ilmu pengetahuan dengan berpijak pada teori falsifikasi Popper. Ia merumuskan teori baru yang didasarkan pada penelitian historis bagaimana ilmu pengetahuan mengalami perubahan dan perkembangan dalam sejarahnya. Ia menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan tidak secara otomatis menyingkirkan suatu teori ketika ada bukti – bukti yang berlawanan dengan teori tersebut, melainkan perubahan tersebut terjadi melalui proses yang bersifat gradual dan kumulatif. (tqz yahoo.co.id (www.scientist- strategist.blogspot.com).

17 Karya Kuhn telah memungkinkan berkembangnya kritik yang amat luas terhadap ilmu sejak pertengahan tahun1960-an, bahkan dipandang dan kerap ditampilkan, sebagai pemikir yang subversif terhadap ilmu. Namun sepak terjang Kuhn yang radikal itu cenderung hanya penampakannya saja daripada suatu kenyataan. Kita bisa mengatakan bahwa analisis yang mana-pun tentang kegiatan ilmiah akan bersifat subversif terhadap ilmu, dan kerap dianggap dan dicurigai demikian itu. Sejauh Structure merangsang analisis tentang ilmu, ia merupakan teks yang radikal, tetapi bukan kebetulan jika pengajaran ilmu, seperti yang dikatakan Kuhn, sama dogmatisnya dengan teologi, atau bahwa sejarah ilmu yang tersedia dalam buku-buku teks lebih mirip novel Orwell Nineteen Eighty-Four. Sesungguhnya Kuhn bereaksi terhadap bagian dari kesadaran diri ilmu yang skizofrenik, namun itulah yang justru tidak dianalisis. Demikianlah terdapat keterbukaan dan banyak perdebatan pada tataran riset, namun muncul pula keyakinan dan dogmatisme dalam pengajaran dan propaganda. Dualitas ini adalah produk dari tradisi ilmu yang terus menerus berperang, bertarung melawan teologis sebagai sumber kebenaran yang tak tergoyahkan. Namun ia juga sangat mudah dipakai sebagai sarana untuk mengontrol wilayah kekuasaan ilmu itu sendiri. Sebab mengakui ketidakpastian akan berarti membagikan legitimasi dan kekuasaan dan siapa yang bersedia melakukan itu dengan sukarela. Jelas bahwa Kuhn berupaya mempertahankan legitimasi ilmu; minat dia yang sesungguhnya adalah menunjukkan bahwa semua proses terpenting dalam ilmu termasuk tahap penemuannya yang ruwet bisa dijelaskan berdasarkan prinsip pengorganisasian diri dari ilmu itu sendiri. Kendati Kuhn berupaya menyingkap sifat problematis ilmu sebagai proses historis, ia sangat peduli untuk menjaga kemurnian internal dan kepercayaan terhadap prinsip-prinsip pengorganisasiannya. Mereka yang terpanggil untuk melakukan reformasi dalam ilmu mengakui bahwa banyak ilham perubahan itu bersumber dari luar ilmu itu sendiri. Kuhn ingin menyangkal hal ini dan menunjukkan bahwa ilmu itu sendiri mampu melakukan pembaharuan dan perubahan secara internal. Karya Kuhn telah memungkinkan berkembangnya kritik yang amat luas terhadap ilmu sejak pertengahan tahun1960-an, bahkan dipandang dan kerap ditampilkan, sebagai pemikir yang subversif terhadap ilmu. Namun sepak terjang Kuhn yang radikal itu cenderung hanya penampakannya saja daripada suatu kenyataan. Kita bisa mengatakan bahwa analisis yang mana-pun tentang kegiatan ilmiah akan bersifat subversif terhadap ilmu, dan kerap dianggap dan dicurigai demikian itu. Sejauh Structure merangsang analisis tentang ilmu, ia merupakan teks yang radikal, tetapi bukan kebetulan jika pengajaran ilmu, seperti yang dikatakan Kuhn, sama dogmatisnya dengan teologi, atau bahwa sejarah ilmu yang tersedia dalam buku-buku teks lebih mirip novel Orwell Nineteen Eighty-Four. Sesungguhnya Kuhn bereaksi terhadap bagian dari kesadaran diri ilmu yang skizofrenik, namun itulah yang justru tidak dianalisis. Demikianlah terdapat keterbukaan dan banyak perdebatan pada tataran riset, namun muncul pula keyakinan dan dogmatisme dalam pengajaran dan propaganda. Dualitas ini adalah produk dari tradisi ilmu yang terus menerus berperang, bertarung melawan teologis sebagai sumber kebenaran yang tak tergoyahkan. Namun ia juga sangat mudah dipakai sebagai sarana untuk mengontrol wilayah kekuasaan ilmu itu sendiri. Sebab mengakui ketidakpastian akan berarti membagikan legitimasi dan kekuasaan dan siapa yang bersedia melakukan itu dengan sukarela. Jelas bahwa Kuhn berupaya mempertahankan legitimasi ilmu; minat dia yang sesungguhnya adalah menunjukkan bahwa semua proses terpenting dalam ilmu termasuk tahap penemuannya yang ruwet bisa dijelaskan berdasarkan prinsip pengorganisasian diri dari ilmu itu sendiri. Kendati Kuhn berupaya menyingkap sifat problematis ilmu sebagai proses historis, ia sangat peduli untuk menjaga kemurnian internal dan kepercayaan terhadap prinsip-prinsip pengorganisasiannya. Mereka yang terpanggil untuk melakukan reformasi dalam ilmu mengakui bahwa banyak ilham perubahan itu bersumber dari luar ilmu itu sendiri. Kuhn ingin menyangkal hal ini dan menunjukkan bahwa ilmu itu sendiri mampu melakukan pembaharuan dan perubahan secara internal.

18 Jika ilmu mampu mereformasi dirinya sendiri, melalui sejumlah revolusi, kebutuhan akan campur tangan dari luar seperti apakah yang ada pada ilmu. Argumen-argumen Structure dengan demikian bisa dipakai dengan sangat baik untuk menyingkirkan kekuatan-kekuatan penentang dan kontaminasi, seperti agama, etika dan teknologi. Dengan demikian Kuhn sangat berperan dalam meminggirkan semua pengritik ilmu yang telah menentang keterlibatan ilmu yang semakin meningkat di dalam kompleks militer-industri. Structure menyumbang upaya pelestarian dikotomi internal/eksternal dalam ilmu. Pembedaan ini menjadi meluas ke mana- mana, terutama dalam pengajaran tentang sejarah ilmu, dan dalam penumbuhan sikap-sikap historiografis yang aman dan nyaman dalam diri para sejarawan ilmu, dan ia akhirnya menjadi strategi umum untuk melakukan riset dalam bidang sejarah ilmu. Selain itu, ciri utama dalam penjelasan Kuhn memungkinkan dia menjauhkan hakikat ilmu dari perwujudan kontemporernya yang sangat destruktif yakni penghilangan dimensi-dimensi ilmu yang teknologis, ekonomis dan kultural dimanfaatkan oleh para ilmuwan sosial untuk beranggapan bahwa mereka bisa mencipta ulang diri mereka sendiri sebagai ilmuwan sebenarnya. Jika ilmu mampu mereformasi dirinya sendiri, melalui sejumlah revolusi, kebutuhan akan campur tangan dari luar seperti apakah yang ada pada ilmu. Argumen-argumen Structure dengan demikian bisa dipakai dengan sangat baik untuk menyingkirkan kekuatan-kekuatan penentang dan kontaminasi, seperti agama, etika dan teknologi. Dengan demikian Kuhn sangat berperan dalam meminggirkan semua pengritik ilmu yang telah menentang keterlibatan ilmu yang semakin meningkat di dalam kompleks militer-industri. Structure menyumbang upaya pelestarian dikotomi internal/eksternal dalam ilmu. Pembedaan ini menjadi meluas ke mana- mana, terutama dalam pengajaran tentang sejarah ilmu, dan dalam penumbuhan sikap-sikap historiografis yang aman dan nyaman dalam diri para sejarawan ilmu, dan ia akhirnya menjadi strategi umum untuk melakukan riset dalam bidang sejarah ilmu. Selain itu, ciri utama dalam penjelasan Kuhn memungkinkan dia menjauhkan hakikat ilmu dari perwujudan kontemporernya yang sangat destruktif yakni penghilangan dimensi-dimensi ilmu yang teknologis, ekonomis dan kultural dimanfaatkan oleh para ilmuwan sosial untuk beranggapan bahwa mereka bisa mencipta ulang diri mereka sendiri sebagai ilmuwan sebenarnya.

19 Kuhn terutama mencurahkan upaya untuk menjaga wajah publik dari ilmu. Apapun masalah internal dan kebenaran dari ilmu itu, kepercayaan publik terhadap ilmu sebagai sesuatu yang baik dan benar harus dipertahankan, sebab konsekuensi sosialnya jika tidak melakukan hal itu akan sangat berbahaya. Bahkan hilangnya kepercayaan publik terhadap ilmu akan bisa mengarah pada berakhirnya peradaban yang kita kenal saat ini. Doktrin tentang kebenaran ganda itu sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang, bersumber pada Plato dan ketidaksetujuannya terhadap penyingkapan rasio kritis secara publik sesudah runtuhnya Athena. Steve Fuller pernah memakai istilah penakaran untuk menggambarkan kecemasan terhadap pendapat yang dianggap bertentangan secara publik karena potensinya yang mengundang kensekuensi sosial yang bisa menggoyahkan. ”Penakaran” bertanggung jawab atas munculnya gagasan bahwa artefak-artefak kultural yang penting dibubuhi tanda secara ganda, dimana pesan yang satu ditujukan untuk menjinakan massa dengan cara memperkuat prasangka mereka, sementara yang lain hanya ditujukan bagi para penyelidik elite yang secara mental siap berasimilasi dengan kebenaran yang sangat bertentangan dengan intuisi. ”Penakaran” Kuhn sendiri merupakan produk dari latar belakangnya di dalam lingkungan akademis Harvard yang sesudah mendukung diciptakannya Bom lantas memainkan peran penting dalam Perang Dingin yang berlarut-larut dan sejarah pribadinya dengan Conant. Semua itu mengarahkan dia untuk berkesimpulan bahwa di dunia yang berubah-ubah dan berkutub ganda ini otonomi ilmu harus diperthankan dan dilindungi dari pihak-pihak luar yang merusak seperti kalangan Marxis dan New Age. Upaya Kuhn untuk menjaga citra publik dari ilmu mengarahkan dia, dikemudian hari, untuk menyangkal bahwa ia adalah Kuhnian. Kuhn terutama mencurahkan upaya untuk menjaga wajah publik dari ilmu. Apapun masalah internal dan kebenaran dari ilmu itu, kepercayaan publik terhadap ilmu sebagai sesuatu yang baik dan benar harus dipertahankan, sebab konsekuensi sosialnya jika tidak melakukan hal itu akan sangat berbahaya. Bahkan hilangnya kepercayaan publik terhadap ilmu akan bisa mengarah pada berakhirnya peradaban yang kita kenal saat ini. Doktrin tentang kebenaran ganda itu sesungguhnya memiliki sejarah yang panjang, bersumber pada Plato dan ketidaksetujuannya terhadap penyingkapan rasio kritis secara publik sesudah runtuhnya Athena. Steve Fuller pernah memakai istilah penakaran untuk menggambarkan kecemasan terhadap pendapat yang dianggap bertentangan secara publik karena potensinya yang mengundang kensekuensi sosial yang bisa menggoyahkan. ”Penakaran” bertanggung jawab atas munculnya gagasan bahwa artefak-artefak kultural yang penting dibubuhi tanda secara ganda, dimana pesan yang satu ditujukan untuk menjinakan massa dengan cara memperkuat prasangka mereka, sementara yang lain hanya ditujukan bagi para penyelidik elite yang secara mental siap berasimilasi dengan kebenaran yang sangat bertentangan dengan intuisi. ”Penakaran” Kuhn sendiri merupakan produk dari latar belakangnya di dalam lingkungan akademis Harvard yang sesudah mendukung diciptakannya Bom lantas memainkan peran penting dalam Perang Dingin yang berlarut-larut dan sejarah pribadinya dengan Conant. Semua itu mengarahkan dia untuk berkesimpulan bahwa di dunia yang berubah-ubah dan berkutub ganda ini otonomi ilmu harus diperthankan dan dilindungi dari pihak-pihak luar yang merusak seperti kalangan Marxis dan New Age. Upaya Kuhn untuk menjaga citra publik dari ilmu mengarahkan dia, dikemudian hari, untuk menyangkal bahwa ia adalah Kuhnian.

20 Kendati tampak adanya potensi revolusioner dalam Structure, ia telah banyak dipakai untuk memperkuat citra ilmu yang sudah kuno dan basi. Dalam biografinya yang cemerlang. Steve Fuller menunjukkan bahwa sebagian besar pemanfaatan atas pemikiran Structure secara legitimatoris seluruhnya bersifat konservatif, dan pemanfaatan oleh Daniel Bell atas teori Kuhn untuk memperkuat peran berbagai disiplin di dalam riset interdisipliner di universitas-universitas yang diserbu pada akhir ahun 1960-an, hingga pemanfaatannya yang mutakhir oleh Francis Fukuyama untuk menyokong pandangan bahwa perkembangan ilmu secara otonom telah memungkinkannya menjadi penggerak produksi kesejahteraan global. Pengaruh Structure terhadap filsafat ilmu sama sekali tidak meningkatkan sikap kritisnya terhadap ilmu. Kini para filsuf telah puas dengan hanya mengikuti norma-norma yang terkandung secara implisit di dalam ilmu- ilmu tertentu yang mereka pelajari, yang dianggap telah berjalan dengan arah yang secara normatif dikehendaki. Sebagaimana yang bisa diduga dalam dunia yang bercorak Kuhnian, menurut Fuller, banyak perubahan orientasi filosofis ini yang disertai dengan penulisan-ulang sejarah bidangnya sendiri. Sesudah tamatnya positivisme, Kuhn menyediakan fokus baru bagi perdebatan filsafat, sehingga lebih mudah untuk meminggirkan Ravetz, Feyerabend, tradisi ilmu radikal, dan sejumlah besar kritik pasca kolonial terhadap ilmu Barat. Redefinisi Structure atas agenda kefilsafatan mengandung arti bahwa konstruksionisme menjadi fokus kritik ilmu dengan mengorbankan sisi-sisi argumentatif dan retoris dari penyelidikan ilmiah. Istilah-istilah seperti ”rasio” dan ”rasionalitas” mengalami revisi terus menerus, sehingga kini kritik radikal atas ilmu lantas dikaitkan dengan irasionalisme.(Ziauddin Sardar, 2002 : 60). Kendati tampak adanya potensi revolusioner dalam Structure, ia telah banyak dipakai untuk memperkuat citra ilmu yang sudah kuno dan basi. Dalam biografinya yang cemerlang. Steve Fuller menunjukkan bahwa sebagian besar pemanfaatan atas pemikiran Structure secara legitimatoris seluruhnya bersifat konservatif, dan pemanfaatan oleh Daniel Bell atas teori Kuhn untuk memperkuat peran berbagai disiplin di dalam riset interdisipliner di universitas-universitas yang diserbu pada akhir ahun 1960-an, hingga pemanfaatannya yang mutakhir oleh Francis Fukuyama untuk menyokong pandangan bahwa perkembangan ilmu secara otonom telah memungkinkannya menjadi penggerak produksi kesejahteraan global. Pengaruh Structure terhadap filsafat ilmu sama sekali tidak meningkatkan sikap kritisnya terhadap ilmu. Kini para filsuf telah puas dengan hanya mengikuti norma-norma yang terkandung secara implisit di dalam ilmu- ilmu tertentu yang mereka pelajari, yang dianggap telah berjalan dengan arah yang secara normatif dikehendaki. Sebagaimana yang bisa diduga dalam dunia yang bercorak Kuhnian, menurut Fuller, banyak perubahan orientasi filosofis ini yang disertai dengan penulisan-ulang sejarah bidangnya sendiri. Sesudah tamatnya positivisme, Kuhn menyediakan fokus baru bagi perdebatan filsafat, sehingga lebih mudah untuk meminggirkan Ravetz, Feyerabend, tradisi ilmu radikal, dan sejumlah besar kritik pasca kolonial terhadap ilmu Barat. Redefinisi Structure atas agenda kefilsafatan mengandung arti bahwa konstruksionisme menjadi fokus kritik ilmu dengan mengorbankan sisi-sisi argumentatif dan retoris dari penyelidikan ilmiah. Istilah-istilah seperti ”rasio” dan ”rasionalitas” mengalami revisi terus menerus, sehingga kini kritik radikal atas ilmu lantas dikaitkan dengan irasionalisme.(Ziauddin Sardar, 2002 : 60).

21 Kuhn telah berjasa besar, terutama dalam mendobrak citra filsafat ilmu sebagai logika ilmu, dan mengangkat citra bahwa ilmu adalah suatu kenyataan yang memiliki kebenaran seakan-akan sui-generis, obyektif. Di samping itu teori yang dibangun Kuhn memiliki implikasi yang luas dalam bidang-bidang keilmuan yang beraneka ragam. Selama lebih dari dua dekade, gagasan Kuhn tentang paradigma menjadi bahan diskusi dalam wacana intelektual, sejumlah kajian kritis, baik yang mendukung maupun yang menentang, berkembang dalam berbagai kancah disiplin keilmuan, hampir semua cabang keilmuan menyampaikan respon lewat berbagai versi yang dianggap cukup mewakili nuansa pemikiran yang selama ini berkembang dalam disiplin ilmu masing-masing. Paradigma sebagai kosa kata, menjadi wacana tersendiri, baik pada level teori maupun praksis. Kata tersebut seolah menjadi sesuatu yang hidup, tumbuh dan berkembang sedemikian rupa, sehingga penggagasnya sendiri seperti kebingungan untuk menjinakkannya. (Aan Najib, Kuhn telah berjasa besar, terutama dalam mendobrak citra filsafat ilmu sebagai logika ilmu, dan mengangkat citra bahwa ilmu adalah suatu kenyataan yang memiliki kebenaran seakan-akan sui-generis, obyektif. Di samping itu teori yang dibangun Kuhn memiliki implikasi yang luas dalam bidang-bidang keilmuan yang beraneka ragam. Selama lebih dari dua dekade, gagasan Kuhn tentang paradigma menjadi bahan diskusi dalam wacana intelektual, sejumlah kajian kritis, baik yang mendukung maupun yang menentang, berkembang dalam berbagai kancah disiplin keilmuan, hampir semua cabang keilmuan menyampaikan respon lewat berbagai versi yang dianggap cukup mewakili nuansa pemikiran yang selama ini berkembang dalam disiplin ilmu masing-masing. Paradigma sebagai kosa kata, menjadi wacana tersendiri, baik pada level teori maupun praksis. Kata tersebut seolah menjadi sesuatu yang hidup, tumbuh dan berkembang sedemikian rupa, sehingga penggagasnya sendiri seperti kebingungan untuk menjinakkannya. (Aan Najib,

22 Daftar Pustaka Daftar Pustaka Thomas Samuel Kuhn The Structure Of Scientific Revolutions Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains, (Terjemahan Tjun Surjaman). Bandung : PT. Remaja Rosda Karya. Thomas Samuel Kuhn The Structure Of Scientific Revolutions Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains, (Terjemahan Tjun Surjaman). Bandung : PT. Remaja Rosda Karya. Ziauddin Sardar Thomas Kuhn dan Perang Ilmu. Yogyakarta : Jendela. Ziauddin Sardar Thomas Kuhn dan Perang Ilmu. Yogyakarta : Jendela. Aan Najib, 34.html. Aan Najib, 34.html. Tqz yahoo.co.id (www.scientist- strategist.blogspot.com). Tqz yahoo.co.id (www.scientist- strategist.blogspot.com). yahoo.com. yahoo.com.

23 Pak Hendi Pak Hendi Kurang jelas ttg Buku dan kesimpulan berikan gambaran Kurang jelas ttg Buku dan kesimpulan berikan gambaran Pak Amal Pak Amal Bingung ttg paradigma tsb dari Buku Kuhn Bingung ttg paradigma tsb dari Buku Kuhn

24

25

26

27


Download ppt "BOOK REPORT : THE STRUCTURE OF SCIENTIFIC REVOLUTIONS PERAN PARADIGMA DALAM REVOLUSI SAINS BY : THOMAS SAMUEL KUHN Disusun Oleh Kelas B Angkatan Ke- V."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google