Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Kuliah Teknik Tata Sunting Surat Kabar Minggu 3.  DI balik sebuah tulisan yang enak dibaca terdapat editor (redaktur) yang hebat. “No writer can work.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Kuliah Teknik Tata Sunting Surat Kabar Minggu 3.  DI balik sebuah tulisan yang enak dibaca terdapat editor (redaktur) yang hebat. “No writer can work."— Transcript presentasi:

1 Kuliah Teknik Tata Sunting Surat Kabar Minggu 3

2  DI balik sebuah tulisan yang enak dibaca terdapat editor (redaktur) yang hebat. “No writer can work without a good editor”( Gorney dalam “Best Newspaper Writing 1980”)  Editor adalah orang yang bekerja di belakang layar. Dia menyeleksi dan memperbaiki naskah sebelum dipublikasikan.  Editor adalah hatinurani media, menyelaraskan sebuah naskah dengan visi, misi, dan rubrikasi media.  Secara teknis, ia tegas dalam penggunaan huruf besar dan singkatan, penggunaan gelar, tanda baca, ejaan, tata bahasa, pemilihan jenis huruf untuk judul dan sebagainya.

3  Editing adalah pekerjaan intelektual dan teknis.  Intelektual karena ia membutuhkan wawasan memadai untuk validasi fakta dalam sebuah naskah.  Teknis karena ia membutuhkan kecermatan dalam pilihan kata, kalimat, dan tanda baca.  Dengan intelektualitas dan kemampuan teknis, editor menjadikan sebuah naskah menjadi hebat, layak siar, layak muat, enak dibaca, serta mudah dicerna pembaca.  Editing efektif membutuhkan intelijensia, empati, fleksibilitas, kepercayaan diri, kemauan untuk bereksperimen, ketajaman, ketelitian, kesabaran, guna membantu penulis dalam mencapai tujuannya.

4  Tugas editor  editing: mengedit, menyunting (proses penentuan, seleksi, dan perbaikan (koreksi) naskah yang akan dimuat atau dipublikasikan).  Di media massa, editing adalah tugas redaktur.  Dalam proses penulisan naskah berita, editing merupakan bagian dari aktivitas pengolahan hasil liputan (news processing) setelah melewati tahap news planning (perencanaan berita), news gathering (peluputan peristiwa di lapangan), dan news writing (penulisan bahan-bahan berita menjadi sebuah tulisan berita).

5  PROSES EDITING  PENYUNTINGAN SECARA REDAKSIONAL  Editor memeriksa tiap kata dan kalimat agar logis, mudah dipahami, dan tidak rancu (benar ejaan, punya arti, dan enak dibaca).  PENYUNTINGAN SECARA SUBSTANSIAL  Editor memperhatikan dat dan fakta agar tetap akurat dan benar. Isi tulisan mudah dimengerti. Sistematika harus tetap terjaga.  MENYUNTING BUKAN SEKADAR MEMOTONG TULISAN AGAR PAS DENGAN SPACE, TAPI JUGA MEMBUAT TULISAN YANG ENAK DIBACA DAN MENARIK, DAN TIDAK MEMPUNYAI KESALAHAN FAKTUAL

6  TUJUAN EDITING  Memperbaiki struktur kalimat yang ruwet agar lebih lancar dan komunikatif,  Menjaga agar isi naskah dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan visi dan misi redaksi, serta menarik perhatian pembaca/audience.  Menyesuaikan naskah dengan gaya media bersangkutan, standar bahasa serta kelayakan naik cetak (fit to print) atau kelayakan siar (fit to broadcast).

7 TEKNIS  Mencari kesalahan- kesalahan faktual dan memperbaikinya, di antaranya kekeliruan salah tulis tentang nama, jabatan, gelar, tanggal peristiwa, nama tempat, alamat, dan sebagainya.  Memperbaiki kesalahan dalam penggunaan tanda-tanda baca.  Tegas dalam hal-hal seperti penggunaan huruf besar dan singkatan, penggunaan gelar, tanda baca, ejaan, tata bahasa, pemilihan jenis huruf untuk judul, dsb.  Mengetatkan tulisan atau menyingkat tulisan sesuai dengan ruang yang tersedia, termasuk membuang atau memotong (cutting) paragraf yang tidak penting.

8  Mengganti kata atau istilah yang tidak memenuhi prinsip ekonomi kata.  Melengkapi tulisan dengan bahan-bahan tipografi, seperti anak judul (subjudul), di mana diperlukan.  Menulis atau menentukan judul dan lead atau teras berita jika dipandang perlu.  Di beberapa suratkabar, editing juga termasuk menulis caption (keterangan gambar) untuk foto dan pekerjaan lain yang berhubungan dengan cerita yang disunting itu.

9 NON-TEKNIS  Memperhatikan apakah naskah berita sudah memenuhi nilai- nilai jurnalistik dan kriteria layak muat —aktual, faktual, penting, dan menarik.  Meneliti apakah naskah berita sudah menaati doktrin kejujuran (fairness doctrine) serta asas keberimbangan (cover both side). Jika belum, tugaskan kembali reporter untuk memenuhinya.  Memperhatikan apakah opini, interpretasi, atau penilaian wartawan lebih menonjol daripada fakta hasil liputan.  Menjaga jangan sampai terjadi kontradiksi dalam sebuah naskah.  Menjaga jangan sampai terjadi penghinaan, arti ganda, dan tulisan yang memuakkan (bad taste).

10  Sadar mengenai sifat-sifat umum tentang umur, taraf hidup, dan gaya hidup para pembaca utama korannya, dan menyunting naskah sesuai dengan sifat umum tersebut.  Memperbaiki tulisan opini (artikel) dengan segala upaya tanpa merusak cara penulisnya menyatakan pendapatnya. Karenanya, redaktur harus membaca lebih dahulu seluruh cerita/naskah untuk mendapatkan pengertian penuh tentang apa yang berusa dikatakan oleh si penulis.  Menjaga masuknya iklan terselubung sebagai berita. Dengan demikian, editing tidaklah semata-mata memotong (cutting) naskah agar sesuai atau pas dengan kolom yang tersedia, akan tetapi juga membuat naskah enak dibaca, menarik, dan tidak mengandung kesalahan faktual. Ia mengubah redaksional naskah tanpa mengubah makna atau substansinya. Jika perlu, editor melakukan penulisan ulang (rewriting).

11  KELENGKAPAN EDITOR  Style Book –buku pedoman gaya bahasa khas media tempat editor bekerja.  Kamus Bahasa.  Kamus singkatan (akronim).  Peta.  Buku biografi tentang tokoh-tokoh ternama.  Ensiklopedi.  Buku telefon.  Buku atau koleksi ucapan atau pepatah terkenal.

12  Fungsi  bahasa komunikasi massa  harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal.  Menurut JS Badudu (1988) bahasa jurnalistik memiliki sifat khas:  Singkat: menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.  Padat: singkat, mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Prinsip 5 W 1H, buang kata-kata mubazir, ekonomi kata.  Sederhana: memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)  Lugas: mampu menyampaikan pengertian/makna informasi secara langsung, menghindari bahasa yang berbunga-bunga.  Menarik: menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.

13  Bahasa Jurnalistik: kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu  menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruangan serta waktu yang relatif terbatas.  Bahasa jurnalistik yang efisien: lebih hemat dan lebih jelas. Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter dan editor.  HEMAT: Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata (2) unsur kalimat  Penghematan Unsur Kata  1a) Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tatabahasa dan jelasnya arti. Misalnya:  agar supaya agar, supaya akan tetapi tapi apabila bila sehingga hingga meskipun meski walaupun walau tidak tak (kecuali diujung kalimat atau berdiri sendiri).

14  1b) Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari.  Misalnya: ''Keadaan lebih baik dari pada zaman sebelum perang'', menjadi ''Keadaan lebih baik sebelum perang''. Tapi mungkin masih janggal mengatakan: ''Dari hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang''.  1c) Ejaan yang salahkaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf. Misalnya: sjah > Sah; khawatir > Kuatir; akhli > Ahli; tammat > Tamat; progressive > progresif; effektif > Efektif  Patokan: EYD!  1d) Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek. Misalnya: kemudian = lalu; makin = kian; terkejut = kaget; sangat = amat; demikian = begitu; sekarang = kini  Catatan: Dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.

15  Penghematan Unsur Kalimat/ penghematan melalui struktur kalimat.  2a) Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat:  - ''Adalah merupakan kenyataan, bahwa percaturan politik internasional berubah-ubah setiap zaman'‚. (Bisa disingkat: ''Merupakan kenyataan, bahwa ''). - ''Apa yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro sudah jelas'‚. (Bisa disingkat: ''Yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro '').  2b) Pemakaian apakah atau apa (mungkin pengaruh bahasa daerah) yang sebenarnya bisa ditiadakan:  - ''Apakah Indonesia akan terus tergantung pada bantuan luar negeri''? (Bisa disingkat: ''Akan terus tergantungkah Indonesia.....''). - Baik kita lihat, apa(kah) dia di rumah atau tidak'‚. (Bisa disingkat: ''Baik kita lihat, dia di rumah atau tidak'').  2c) Pemakaian dari sebagai terjemahan of (Inggris) dalam hubungan milik yang sebenarnya bisa ditiadakan; Juga daripada.  - ''Dalam hal ini pengertian dari Pemerintah diperlukan''. (Bisa disingkat: ''Dalam hal ini pengertian Pemerintah diperlukan''. - ''Sintaksis adalah bagian daripada Tatabahasa'‚. (Bisa disingkat: ''Sintaksis adalah bagian Tatabahasa'').

16  2d) Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (Inggris) yang sebenarnya bisa ditiadakan:  - ''Uni Soviet cenderung untuk mengakui hak-hak India''. (Bisa disingkat: ''Uni Soviet cenderung mengakui ''). - ''Pendirian semacam itu mudah untuk dipahami''. (Bisa disingkat: ''Pendirian semacam itu mudah dipahami''). - ''GINSI dan Pemerintah bersetuju untuk memperbaruhi prosedur barang-barang modal''. (Bisa disingkat: ''GINSI dan Pemerintah bersetuju memperbaruhi '').  Catatan: Dalam kalimat: ''Mereka setuju untuk tidak setuju'', kata untuk demi kejelasan dipertahankan.  2e) Pemakaian adalah sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu:  - ''Kera adalah binatang pemamah biak''. (Bisa disingkat ''Kera binatang pemamah biak'').

17  2f) Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan, kalau ada keterangan waktu:  - ''Presiden besok akan meninjau pabrik ban Good year''. (Bisa disingkat: ''Presiden besok meninjau pabrik ''). - ''Tadi telah dikatakan '' (Bisa disingkat: ''Tadi dikatakan.''). - ''Kini Clay sedang sibuk mempersiapkan diri''. (Bisa disingkat: ''Kini Clay mempersiapkan diri'').  2g) Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan:  - ‘’Gubernur membantah desas-desus yang mengatakan bahwa ia akan diganti''. - ''Tidak diragukan lagi bahwa ialah orangnya yang tepat''. (Bisa disingkat: ''Tak diragukan lagi, ialah orangnya yang tepat''.).  Catatan: Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:), bila perlu.  2h) Yang, sebagai penghubung kata benda dengan kata sifat, kadang- kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu:  - ''Indonesia harus menjadi tetangga yang baik dari Australia''. (Bisa disingkat: ''Indonesia harus menjadi tetangga baik Australia''). - ''Kami adalah pewaris yang sah dari kebudayaan dunia''.

18  2i) Pembentukan kata benda (ke an atau pe an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, kadang, kadang, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dgn kata yg sebenarnya tak perlu:  - ''Tanggul kali Citanduy kemarin mengalami kebobolan'‚.  ''Tanggul kali Citanduy kemarin bobol''). - ''PN Sandang menderita kerugian Rp 3 juta'‚.  ''PN Sandang rugi Rp 3 juta''). - ''Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya‚‘  ''Ia telah tiga kali menipu saya''). - Ditandaskannya sekali lagi bahwa DPP kini sedang memikirkan langkah-langkah untuk mengadakan peremajaan dalam tubuh partai'‚.  ''Ditandaskannya sekali lagi, DPP sedang memikirkan langkah-langkah meremajakan tubuh partai'').  2j) Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat & boros. Dimana sebagai kataganti penanya yang berfungsi sebagai kataganti relatif muncul dlm bahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa Barat.  Misalnya: ''Rumah dimana saya diam'', yang berasal dari ''The house where I live in'', dalam bahasa Indonesia semula sebenarnya cukup berbunyi: ''Rumah yang saya diami''. Misal lain: ''Negeri dimana ia dibesarkan'', dalam bahasa Indonesia semula berbunyi: ''Negeri tempat ia dibesarkan'‘.

19  Pemakaian Kata, Kalimat dan Alinea  Bahasa jurnalistik mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku. Namun pemakaian bahasa jurnalistik lebih menekankan pada daya kekomunikatifannya.  Pemakaian kata-kata yang bernas.  Kata merupakan modal dasar dalam menulis. Semakin banyak kosakata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan yang dikuasainya dan sanggup diungkapkannya.  Dalam penggunaan kata, ada dua persoalan: ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Ketepatan mempersoalkan apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis dan pembaca. Sedangkan kesesuaian mempersoalkan pemakaian kata yang tidak merusak wacana.

20  Penggunaan kalimat efektif.  Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung sempurna. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam pikiran si pembaca, persis apa yang ditulis. Keefektifan kalimat ditunjang antara lain oleh keteraturan struktur atau pola kalimat. Selain polanya harus benar, kalimat itu harus pula mempunyai tenaga yang menarik.  Penggunaan alinea/paragraf yang kompak.  Alinea merupakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Setidaknya dalam satu alinea terdapat satu gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas. Pembuatan alinea bertujuan memudahkan pengertian dan pemahaman dengan memisahkan suatu tema dari tema yang lain.


Download ppt "Kuliah Teknik Tata Sunting Surat Kabar Minggu 3.  DI balik sebuah tulisan yang enak dibaca terdapat editor (redaktur) yang hebat. “No writer can work."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google