# The Weighted Average Cost of Capital

## Presentasi berjudul: "The Weighted Average Cost of Capital"— Transcript presentasi:

The Weighted Average Cost of Capital
ICFI By : Else Fernanda, SE.Ak., M.Sc.

Cost of Capital Definitions
Capital Structure - The firm’s mix of long-term financing [debt and equity]. Cost of Capital - The return the firm’s investors could expect to earn if they invested in securities with comparable risk.

The Weighted Average Cost of Capital
The WACC is the weighted average of the returns on debt based financing and equity, with weights depending on the relative market values of the two securities. Use market values; not book values. Remember that margin expense is tax deductible.

The Weighted Average Cost of Capital
Three Steps to Calculating Cost of Capital 1. Calculate the value of each security as a proportion of the firm’s market value. 2. Determine the required rate of return on each security. Remember to use after-tax costs 3. Calculate a weighted average of these required returns. Example: A company has issued debt based Islamic financing, and common stock. The market value of these securities are \$4mil, and \$6mil, respectively. The required returns are 6%, and 18%, respectively. The tax rate is 35%. Determine the WACC for the company.

The Weighted Average Cost of Capital
Step 1: Firm value = V= D+E = 4+6 = 10 mil Step 2: rdebt = 6%; requity = 18% Step 3:

Measuring Capital Structure
Calculating Market Values The market value of a company’s bonds is the PV of all coupons and par value discounted at the benchmark rate. The market value of a company’s equity is the market price per share multiplied by the number of shares outstanding.

Market Value and Cost of Capital of Murabahah based-Financing
Market value of Murabahah Financing could be calculate as follow: Murabahah Payable – Margin Expense in Advance Use Equivalent rate when the murabahah financing made. Example: A company has \$209mio murabahah payable, and \$9 mio murabahah margin expencse in advance, equivalent rate of cost of financing is 9% effective. means: Market Value of Murabahah Financing is 209m-9m = \$200 mio with cost of murabahah 9%.

Market Value and Cost of Ijarah Sukuk
If the 12 yr ijarah sukuk pay fee for \$16 mio every coupon date (annual coupon) and pay the rest at the end for \$216 mio, what is their market value assuming a 9% YTM? If we combine murabahah payable and sukuk payable as debt based islamic financing, the total market value is \$ = \$ mio The average cost of debt-based financing is 9%

Calculating Required Rates of Return
The Expected Return on Sukuk For most large, healthy firms, financial managers use the yield to maturity on Sukuk as the expected return. But, if a firm is in financial difficulty, beware of assuming that the yield offered by the bonds is the return that investors expect to receive (benchmark rate).

Market Value and Cost of Equity
Market value of equity is is the market price per share multiplied by the number of shares outstanding. Assuming it is \$1200 mio. The Expected Return on Common Stock The required rate of return on a firm’s common equity can be computed using either the CAPM or the Dividend Discount Model. CPAM DDM: Assuming the cost of equity is 12%. E(rj) = rf + (rm - rf) Expected Return = dividend yield + growth rj = [DIV1/P0] + g

Calculating WACC Big Oil Book Value Balance Sheet (\$ mio)
Debt based financing \$385.70 24.32% 9.00% 5.85% 1.42% Common Stock \$1,200 75.68% 12.00% 9.08% TOTAL \$1,586 100.00% 10.50%

Teori Struktur Modal ICFI By : Else Fernanda, SE.Ak., M.Sc.

Teori Modigliani Miller (M&M)
Teori struktur modal modern yang pertama adalah teori Modigliani dan Miller (teori MM) di tahun Mereka berpendapat bahwa struktur modal tidak relevan atau tidak mempengaruhi nilai perusahaan. MM mengajukan beberapa asumsi untuk membangun teori mereka yaitu: Tidak terdapat agency cost Tidak ada pajak. Investor dapat berhutang dengan tingkat suku bunga yang sama dengan perusahaan Investor mempunyai informasi yang sama seperti manajemen mengenai prospek perusahaan di masa depan Tidak ada biaya kebangkrutan Earning Before Interest and Taxes (EBIT) tidak dipengaruhi oleh penggunaan dari hutang. Para investor adalah price-takers. Jika terjadi kebangkrutan maka aset dapat dijual pada harga pasar (market value).

Preposisi MM Tanpa Pajak
Preposisi I: nilai dari perusahaan yang berhutang sama dengan nilai dari perusahaan yang tidak berhutang. Implikasi dari preposisi I ini adalah struktur modal dari suatu perusahaan tidak relevan, perubahan struktur modal tidak mempengaruhi nilai perusahaan dan weighted average cost of capital (WACC) perusahaan akan tetap sama ,tidak dipengaruhi oleh bagaimana perusahaan memadukan hutang dan modal untuk membiayai perusahaan

Preposisi MM Tanpa Pajak
Preposisi II: biaya modal saham akan meningkat apabila perusahaan melakukan atau mencari pinjaman dari pihak luar. Risk of the equity bergantung pada resiko dari operasional perusahaan (business risk) dan tingkat hutang perusahaan (financial risk).

Preposisi MM Tanpa Pajak
Brealey, Myers dan Marcus (1999) menyimpulkan dari teori MM tanpa pajak ini yaitu tidak membedakan antara perusahaan berhutang atau pemegang saham berhutang pada saat kondisi tanpa pajak dan pasar yang sempurna. Nilai perusahaan tidak bergantung pada struktur modalnya. Dengan kata lain, manajer keuangan tidak dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan merubah proporsi debt dan equity yang digunakan untuk membiayai perusahaan.

Teori MM dengan Pajak Teori MM tanpa pajak dianggap tidak realistis. Kemudian MM memasukkan faktor pajak ke dalam teorinya. Pajak dibayarkan kepada pemerintah, yang berarti merupakan aliran kas keluar. Hutang bisa digunakan untuk menghemat pajak, karena bunga bisa dipakai sebagai pengurang pajak. Preposisi I: nilai dari perusahaan yang berhutang sama dengan nilai dari perusahaan yang tidak berhutang ditambah dengan penghematan pajak karena bunga hutang. Implikasi dari preposisi I ini adalah pembiayaan dengan hutang sangat menguntungkan dan MM menyatakan bahwa struktur modal optimal perusahaan adalah seratus persen hutang

Teori MM dengan Pajak Preposisi II: biaya modal saham akan meningkat dengan semakin meningkatnya hutang, tetapi penghematan pajak akan lebih besar dibandingkan dengan penurunan nilai karena kenaikan biaya modal saham. Implikasi dari preposisi II ini adalah penggunaan hutang yang semakin banyak akan meningkatkan biaya modal saham. Menggunakan hutang yang lebih banyak, berarti menggunakan modal yang lebih murah (biaya modal hutang lebih kecil dibandingkan dengan biaya modal saham), sehingga akan menurunkan biaya modal rata-rata tertimbangnya (meski biaya modal saham meningkat).

Teori MM dengan Pajak Teori MM tersebut sangat kontroversial. Implikasi teori tersebut adalah perusahaan sebaiknya menggunakan hutang sebanyak-banyaknya. Dalam praktiknya, tidak ada perusahaan yang mempunyai hutang sebesar itu, karena semakin tinggi tingkat hutang suatu perusahaan, akan semakin tinggi juga kemungkinan kebangkrutannya. Inilah yang melatarbelakangi teori MM mengatakan agar perusahaan menggunakan hutang sebanyak-banyaknya, karena MM mengabaikan biaya kebangkrutan.

Trade-off Theory Menurut trade-off teory yang diungkapkan oleh Myers (2001), “Perusahaan akan berhutang sampai pada tingkat hutang tertentu, dimana penghematan pajak (tax shields) dari tambahan hutang sama dengan biaya kesulitan keuangan (financial distress)” (p.81). Biaya kesulitan keuangan (Financial distress) adalah biaya kebangkrutan (bankruptcy costs) atau reorganization, dan biaya keagenan (agency costs) yang meningkat akibat dari turunnya kredibilitas suatu perusahaan.

Pecking Order Theory Menurut Myers (1984), pecking order theory menyatakan bahwa ”Perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi justru tingkat hutangnya rendah, dikarenakan perusahaan yang profitabilitasnya tinggi memiliki sumber dana internal yang berlimpah.” Dalam pecking order theory ini tidak terdapat struktur modal yang optimal

Pecking Order Theory Menurut pecking order theory dikutip oleh Smart, Megginson, dan Gitman (2004, p ), terdapat skenario urutan (hierarki) dalam memilih sumber pendanaan, yaitu : Perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sumber dana dari dalam atau pendanaan internal daripada pendanaan eksternal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba ditahan yang dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan. Jika pendanaan eksternal diperlukan, maka perusahaan akan memilih pertama kali mulai dari sekuritas yang paling aman, yaitu hutang yang paling rendah risikonya, turun ke hutang yang lebih berisiko, sekuritas hybrid seperti obligasi konversi, saham preferen, dan yang terakhir saham biasa.

Pecking Order Theory ….:
Terdapat kebijakan deviden yang konstan, yaitu perusahaan akan menetapkan jumlah pembayaran deviden yang konstan, tidak terpengaruh seberapa besarnya perusahaan tersebut untung atau rugi. Untuk mengantisipasi kekurangan persediaan kas karena adanya kebijakan deviden yang konstan dan fluktuasi dari tingkat keuntungan, serta kesempatan investasi, maka perusahaan akan mengambil portofolio investasi yang lancar tersedia.

Pecking Order Theory Pecking order theory menjelaskan urut-urutan pendanaan. Manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat hutang yang optimal. Kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuhan investasi. Pecking order theory ini dapat menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang kecil.

Pecking Order Theory Dalam kenyataannya, terdapat perusahaan-perusahaan yang dalam menggunakan dana untuk kebutuhan investasinya tidak sesuai seperti skenario urutan (hierarki) yang disebutkan dalam pecking order theory. Penelitian yang dilakukan oleh Singh dan Hamid (1992) dan Singh (1995) menyatakan bahwa “Perusahaan-perusahaan di negara berkembang lebih memilih untuk menerbitkan ekuitas daripada berhutang dalam membiayai perusahaannya.” Hal ini berlawanan dengan pecking order theory yang menyatakan bahwa perusahaan akan memilih untuk menerbitkan hutang terlebih dahulu daripada menerbitkan saham pada saat membutuhkan pendanaan eksternal.

Equity Market Timing Teori yang diungkapkan oleh Baker dan Wurgler (2002) ini mengemukakan bahwa “Perusahaan-perusahaan akan menerbitkan equity pada saat market value tinggi dan akan membeli kembali equity pada saat market value rendah” (p.1) Praktik inilah yang kemudian disebut sebagai equity market timing. Baker dan Wurgler menemukan bahwa perusahaan dengan tingkat hutang rendah adalah perusahaan yang menerbitkan equity pada saat market value tinggi dan perusahaan dengan tingkat hutang tinggi adalah perusahaan yang menerbitkan equity pada saat market value rendah.

Presentasi serupa