Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Penyakit Degeneratif Lecture Muthiah Munawwarah. Ischemic Heart Disease / Coronary Artery Disease (CAD) Karena blok aliran darah ke jantung. Insidensi:

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Penyakit Degeneratif Lecture Muthiah Munawwarah. Ischemic Heart Disease / Coronary Artery Disease (CAD) Karena blok aliran darah ke jantung. Insidensi:"— Transcript presentasi:

1 Penyakit Degeneratif Lecture Muthiah Munawwarah

2 Ischemic Heart Disease / Coronary Artery Disease (CAD) Karena blok aliran darah ke jantung. Insidensi: taun = 40% >75 tahun =50% Pada provokasi aktifitas tinggi/stress emosi menyebabkan angina pectoris, akibat arteriosclerosis Dapat reversibel, tetapi bila ischemik menit dapat menyebabkan kematian, Kerusakan sebagian otot jantung karena penyempitan a. coronaria oleh emboli/ thrombus dapat menjadi pembuntuan total dan infark. Degenerasi myocard terjadi kekurangan oksigen ringan berulang- ulang sehingga otot menjadi lemah dan terjadi congestive heart failure, sirkulasi makin menurun menyebabkan kontraksi otot irregular sehingga menimbulkan arythmia. Pada aktifitas yang meningkat menyebabkan kebutuhan oksigen meningkat tetapi tidak terpenuhi akibat penyempitan vascular dan menyebabkan sesak nafas. Pada obstruksi yang luas, pada kerja fisik yang tinggi menyebabkan angina pectoris. Pada penuaan bila terdapat dyspnoe lebih menggambarkan ischemia.

3 Tretment Ischemic Heart Disease Pengobatan utama adalah menghindari faktor resiko seperti rokok, hipertensi dan cholesterol. Menurunkan kebutuhan metabolism dengan menurunkan tensi dan frekwensi nadi (beta blockers) dan meningkatkan kemampuan arteria untuk aliran darah (dilatansia). Latihan dapat merangsang sistem kolateral dengan peningkatan landai – waktu lama – dibawah level angina. Surgery dengan CABG (Coronary Artery By Graft). Rehabilitaasi unruk mencapai kemampuan fungsi fisik maksimal,

4 Cardiomyopathy Muscle hypertrophy jantung dengan gangguan fungsi/lemah, dapat sebagai akibat hipertensi, obstruksi, atau genetik. Kontraksi myocard makin lemah sehingga makin meningkatkan obstruksi terhadap keluarnya darah dari jantung. Exercise kadang kontra indikasi, rehabilitasi untuk mempertahankan kemampuan fungsi maksimal dan mencegah komplikasi immobilisasi. Pada cardiomyopathy terjadi kemampuan pemompaan jantung melemah sehingga akan menyebabkan pulmonary oedeme, gangguan pernafasan, oksigen dalam darah menurun. Treatment dengan medikasi: Notrats, Vasodilator perifer dan menurunkan tensi. Diuretik digunakan untuk menurunkan pulmonary ooedeme. Beta blocker dan calsium channel blocker untuk menurunkan intensitas dan kekuatan kontraksi myocard, menngaktifkan otot tonik (anaerobic muscle).

5 Conduction System Disease Koordinasi kontraksi otot jantung oleh dua pace maker, yang mengatur frekwensi dan irama kontraksi. CAD dan Cardiomyopathy menyebabkan tachycardi/brachycardi dan arythmia, akibatnya cardiac output (cop) turun dengan gejala confuse, fatique, exercise tolerance menurun, dan congestive heart failure. Tachycardi dan arythmia, seperti atrial fibrilasi, diatasi dengan medikasi. Bradychadi diobati dengan pembedahan untuk implant atrial pace maker.

6 Valvular Heart disease Dua jenis gangguan katup: Stenosis atau penyempitan yang menyebabkan restriks, dan insufficency atau pelebaran yang menyebabkan arus balik darah. Keduanya meningkatkan beban kerja jantung dan menyebabkan tidak efisien. Yang paling sering terkena : Mitral valve (antara atrium kiri dan ventrikel) dan aortic valve. Rheumatic valve disease sering dijumpai pada usila, sebagai penyebab nitral stenosis dan insufficiency. Komplikasi valve disease antara lain congestive heart failure, arrythmias, embolism otak. Treatment medikasi dengan anticoagulant untuk mencegah imboli, diuretic untuk mengontrol congestive heart failure, digitalis atau obat lain untuk mengontrol denyut nadi. Diit garam rendah, Fisioterapi untuk mengoptimalkan fungsi dengan exercise progresif lambat. Pembedahan untuk memperbaiki stenosis

7

8 Hypertension Tekanan sistolik lebih dari 160 mmHg dan diastolik > 95 mmHg resiko stroke, congestive heart failure, dan renal failure. Isolated systolic hypertension dan systolic- dyastolic hypertension meningkatkan resiko menurunkan performansi jantung, fungsi ginjal, aliran darah otak, aortic aneurysm ruptur dan dissection, dan cerebro vascular bleeding. Treatment untuk menurunkan tekanan darah usila sedikit dibawah 160/95 mmHg dengan diit dan medikasi sangat bermakna menurunkan faktor resiko. Efek samping obat antihipertensi antara lain orthostatic hypotension, pusing, hipokalemia, depressi, syncope, dan confuse. Exercise teranyata mampu menurunkan tensi periiferal secara mermakna.

9 Myocardial Degeneration Decline kinerja jantung dan berpengaruh inaktifitas yang menurunkan fungsi fisik maksimum. Pada penuaan terjadi penurunan fungsi jantung meliputi penurunan kerja ventrikel kanan dan variasi kerja ventrikel kiri menyebabkan penurunan cop dan peninggian tensi. Penurunan fungsi myocardial pada penuaan meliputi inefisiensi kerja otot jantung, elastisitas menurun dengan cardiac relaxation lamban, atheromatosus plaque dan scarr pada myocard, fibrotik katup jantung, dan amiloidosis (tissue proteinosis). Gejala yang muncul dyspoe dieffort, bisa disertai angina, akibat hypo oxygen pada myocardial. Dijumpai peripheral cyanotis setelah aktifitas karena aliran darah perifer tidak mencukupi karena saat aktifitas cardiac stroke volume tidak meningkat segera. Saat aktifitas kadang tensi turun. Pasien merasa capai dan bila terlentang sesak nafas hingga perlu semifowlar. Ankle oedeme terjadi karena kegagalan drainage venosus

10 Umumnya dikarenakan hypertensi yang tak diobati, rokok, DM, dan tingginya serum kolesterol. Juga karena arteriosclerosis atau bahkan terjadi obstruksi pembuluh utama.Akibatnya terjadi intermitten claudication. Treatment dengan menghilangkan faktor penyebab diatas, dibantu exercises seperti Buerger-Allen exercise. Intermitten claudication dapat berkembang menjadi gangrene. Disini vacuum and compression therapy diperlukan bersama tolerance exercise. Bila gagal perlu pendekatan pembedahan seperti amputasi. Postural hypotension (orthostatic hypertension) dapat diatasi dengan gradual tilting exercise. Peripheral vascular Disease

11 PERUBAHAN PULMONAL. Komponen utama paru adalah: ventilasi, diffusi dan sirkulasi paru, ketiganya menurun. Terjadi perubahan mekanis dinding dada dan recoil paru; penurunan maximun voluntary ventilation, maximun expiratory flow, dan force respiratory volume; penurunan kapasitas vital paru dengan volume residual meningkat; penebalan jaringan penyangga antara alveoli dan kapiler menurunkan pertukaran gas; Hilangnya jaringan elastik menimbulkan kolapsnya ekspirasi pada saluran nafas besar, kesulitan respirasi dan dilatasi bronchioli. Terjadi perubahan efisiensi diffusi system kapiler yang dimulai dari penurunan pertukaran gas sebagai: penurunan kapasitas diffusi CO, rendahnya resting arterial oxygen tension dan meningkatnya alveolar-arterial oxygen gradient. Luas permukaan alveolar dan volume darah capiler menurun. Pertahanan pulmonal juga menurun dengan turunnya reflex cilia akibat jumlah dan kekuatan cilia turun. ‘Mucus escalator’ dan alveolar macrophages kurang efektif dalam mengatasi parikel yang terhisap. Periode recovery setelah aktifitas fisik menjadi panjang sehingga cooling down phase perlu lebih lama.

12 Pneumonia Merupakan kasus infeksi yang sering dijumpai pada usila. Tingginya kasus pneumonia karena rendahnya pertahanan pulmonal pada usila. Gejala klasik pneumonia meliputi batuk, demam, pleuritic chest pain, dan gejala lain seperti gelisah, perubahan siklus tidur, anorexia, dll. Treatment dengan antibiotic yang tepat, disertai hydration, perbaikan nutrisi dan chest physiotherapy.

13 Chronic Obstructive Pulmonry Disease Atau dikenal sebagai COPD (PPOK) dimana dijumpai tahanan aliran udara paru meningkat. Astme bronchiale adalah obstruksi reversible sedangkan COPD irreversible, kerena kerusakan struktural permanen akibat rokok, infeksi, menghirup racun, atau kombinasi diatas. Emphysema: kerusakan alveoli dalam bentuk pelebaran, sehingga pertukaran gas terganggu dan dusertai kolaps brochiole. Chronic bronchitis merupakan peradangan kronis brochioli disertai peningkatan mucus, plaque dan kerusakan brochioli. Chest physiotherapy diperlukan dalam penanganan COPD.

14 Osteoporosis dan Osteomalacia Osteoporosi timbul karena produksi tulang baru lebih rendah dari absorbsi tulang, lebih disebabkan kurangnya konsumsi calsium dan terjadinya demineralisasi. Hilangnya trabeculae mulai usia 35 tahun dan tulang cortical mulai 40 tahun dengan pengurangan 0,5% pertahun. Pada wanita menopause meningkat menjadi 2 – 8% akibat rendahnya produksi estrogen. Faktor kurangnya absorbsi calsium dari intestinal karena: insufisiensi vit D karena nutrisi atau penyakit ginjal / hepar. Juga gangguan endokrin seperti hyperthyroidism, dan faktor penting karena immobilisasi. Tretment dengan menggunaka calsium supplement dan exercise diperlukan.

15 Degenerative Joint Disease Degenerasi yang diawali kerusakan tulang rawan sendi menimbulkan nyeri, stiffness, dan deformitas sendi. Sendi yang paling sering terkena adalah lutut, panggul, lumbal, cervical dan tangan.

16 Rheumatoid arthritis Ditandai dengan pembengkakan sendi secara simetris, erythema dan nyeri. Peradangan membrana synovialis akibat hilangnya enzym proteolitic yang menyebabkan peradangan dan kerusakan sendi.

17 Gout Umumnya mengenai beberapa sendi. Adanya penumpukan kristal asam urat berbentuk jarum pada sendi, tendon dan bursae yang menimbulkan peradangan cepat.

18 Polymyalgia Rheumatica Inflamasi pada arteri ukuran kecil dan sedang


Download ppt "Penyakit Degeneratif Lecture Muthiah Munawwarah. Ischemic Heart Disease / Coronary Artery Disease (CAD) Karena blok aliran darah ke jantung. Insidensi:"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google