Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

ASPEK HUKUM BISNIS WARALABA. PENDAHULUAN Dalam rumusan definisi Waralaba (Franchise ), terkandung beberapa unsur dari waralaba, yaitu : 1. Merupakan suatu.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "ASPEK HUKUM BISNIS WARALABA. PENDAHULUAN Dalam rumusan definisi Waralaba (Franchise ), terkandung beberapa unsur dari waralaba, yaitu : 1. Merupakan suatu."— Transcript presentasi:

1 ASPEK HUKUM BISNIS WARALABA

2 PENDAHULUAN Dalam rumusan definisi Waralaba (Franchise ), terkandung beberapa unsur dari waralaba, yaitu : 1. Merupakan suatu perjanjian 2. Penggunaan merek dagang milik franchisor 3. Dukungan bantuan franchisor kepada franchisee 4. Franchisee membayar sejumlah fee atau royalti atas penggunaan merek pemilik waralaba

3  Ketentuan khusus yang mengatur tentang waralaba di Indonesia belum ada.  Rujukan hukum yang digunakan adalah : - KUHPerdata - Peraturan/UU Ketenagakerjaan - UU Pajak Pertambahan Nilai dan Penghasilan - UU tentang Wajib Daftar Perusahaan

4 PERJANJIAN WARALABA Perjanjian waralaba merupakan perjanjian khusus karena tidak dijumpai dalam KUHPerdata Dasar hukumnya adalah Pasal 1338 KUHPerdata : “Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya” Perjanjian sah artinya perjanjian itu telah memenuhi syarat- syarat yang ditentukan dalam UU : tidak bertentangan dengan agama, ketertiban umum dan tidak bertentangan dengan kesusilaan dan UU itu sendiri.

5 Pada dasarnya waralaba berkenaan dengan pemberian izin dari franchisor kepada franchisee Pemberian izin ini kadangkala disebut dengan pemberian izin lisensi Berbeda dengan lisensi biasa yang hanya meliputi pemberian izin lisensi bagi penggunaan merek tertentu. Lisensi Waralaba meliputi keseluruhan hak milik intelektual yang dimiliki franchisor.

6 PERJANJIAN-PERJANJIAN YANG BERKAITAN DENGAN WARALABA 1. Perjanjian tentang Hutang Piutang 2. Penyewaan tempat usaha 3. Perjanjian pembangunan tempat usaha 4. Penyewaan peralatan : a. Melibatkan lisensi nama perniagaan, logo, type dan merek jasa. b. Melibatkan Good will c. Melibatkan pemberian informasi

7 POKOK-POKOK PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN BISNIS WARALABA A. Berhubungan dengan hukum perjanjian Adanya syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagaimana tertera dalam KUH Perdata. Pasal 1320 KUH Perdata mensyaratkan : 1. Adanya kesepakatan dari pihak yang membuat perjanjian. 2. Para pihak harus cakap bertindak dalam hukum 3. Sesuatu hal tertentu 3. Sebab yang halal

8 A. Berhubungan dengan Hak Milik Intelektual Hak Milik Intelektual ( Intelectual Property Right ) disebut juga hak milik immaterial : Hal milik yang tercipta berdasarkan atau hadir dari karya, kreasi, daya pikir atau intelektualitas seseorang. Hak Milik Intelektual secara umum dikelompokkan kedalam dua kelompok : 1. Hak Milik Industri ( Industrial Property ) : a. Hak Paten (Patent) b. Hak Merek (Merk) c. Hak design produk industri 2. Hak Cipta (Copy right)

9 a) Hak Paten Acuan hukumnya UU No. 6 Tahun 1986 (UU Paten) Hak paten adalah hak khusus yang diberikan negara kepada penemu atas hasil penemuannya dibidang teknologi, untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri penemuannya tersebut atau memberikan persetujuan kepada orang lain untuk melaksanakannya (Pasal 1 ayat 1) Penemuan adalah kegiatan pemecahan masalah tertentu dibidang teknologi yang dapat berupa proses atau hasil produksi atau penyempurnaan dan pengembangan proses atau hasil produksi (Pasal1 angka 2)

10 Pengalihan Hak Paten : a. Pewarisan b. Hibah c. Wasiat d. Perjanjian e. Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh UU Syarat pengalihan harus dilakukan secara tertulis dan wajib didaftarkan pada Kantor Paten dan dicatat dalam Daftar Umum Penggunaan paten tanpa seijin pemegang hak paten dapat dituntut secara hukum (Pasal 121 dan Pasal 122 UU Paten)

11 b) Hak Merek Hak merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa (Pasal 1 No. 1 UU No. 19 tahun 1992 UU tentang Merek) Suatu merek dianggap sah apabila merek itu telah didaftarkan dalam Daftar Merek. Barang siapa yang pertama mendaftarkan, dialah yang berhak atas merek dan secara ekslusif dia dapat memakai merek tersebut. Kepemilikan merek dapat diperoleh dengan cara pewarisan, wasiat, hibah, perjanjian dan sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh UU.

12 c) Hak Cipta Landasan hukum hak cipta : UU No. 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta. Hak Cipta adalah hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan mengurangi pembatasan-pembatasan menurut UU yang berlaku. Pencipta adalah seorang ata beberapa orang secara bersama-sama yang atas inspirasi lahir suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran yang dituangkan dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi. Ciptaan adalah hasil setiap karya pencipta dakam bentuk khas apapun juga dalam lapangan ilmu, seni dan sastra (Pasal 2 ayat 1 UU Hak Cipta)

13 Hak Cipta dapat beralih pada orang/pihak lain dengan lima cara: 1. Warisan 2. Hibah 3. Wasiat 4. Dijadikan milik negara 5. Perjanjian yang harus dilakkan dengan akta Setiap orang yang mempergunakan ciptaan orang lain tanpa seizin pencipta dapat dituduh sebagai perbuatan kejahatan dan ditindak dengan ketentuan pidana.

14 Substansi/Muatan Materi dalam suatu Perjanjian Waralaba 1. Ketentuan umum ( general provisions ) 2. Prasyarat perjanjian ( conditions precedent ) 3. Pembelian waralaba (franchise grant ) 4. Pembatasan penggunaan hak waralaba ( limitation of franchise/intellectual property protection ) 5. Pembayaran biaya waralaba ( franchise price and payment terms ) 6. Jasa yang diberikanoleh franchisor ( services by franchisor ) 7. Keseragaman dan standarisasi operasi ( standard and uniformity of operation ) 8. Promosi ( marketing and advertising compaign ) 9. Pelatihan ( training ) 10. Eksklusivitas

15 11. Jangka waktu perjanjian ( terms ) 12. Pemilihan lokasi ( premises ) 13. Hak untuk memeriksa dan mengaudit ( rights of inspection and audit ) 14. Prosedur Pelaporan ( report procedures ) 15. Prinsip tanpa persaingan ( non-competition ) 16. Kerahasian produk atau sistem ( confidentiality/non disclosure ) 17. Perizinan dan administrasi ( government approval ) 18. Karyawan dan tenaga kerja ( employee ) 19. Asuransi ( insurance ) 20. Jaminan terhadap hukum dan kerugian ( indemnification )

16 21. Pajak (taxes ) 22. Pengalihan Hak 23. Kedudukan berdiri sendiri ( independent contractors atau no agency ) 24. Wanprestasi ( event of defaults/non performance ) 25. Perpanjangan perjanjian ( extention of agreement ) 26. Penghentian atau berakhirnya perjanjian ( termination of agreement ) 27. Pilihan forum dan jursdiksi hukum (forum and governing law ) 28. Amandemen perjanjian dan pelepasan hak ( modification and waiver ) 29. Ganti rugi ( damages ) 30. Force Majeur

17 31. Keterpisahan ( severability of provisions ) 32. Wewenag untuk terikat dalam kontrak ( binding authority ) 33. Penyelesaian sengketa ( settlement of disputes ) 34. Biaya jasa pengacara ( cost and fee ) 35. Surat menyurat ( notice ) 36. Interasi kontrak ( merger/entire agreement )


Download ppt "ASPEK HUKUM BISNIS WARALABA. PENDAHULUAN Dalam rumusan definisi Waralaba (Franchise ), terkandung beberapa unsur dari waralaba, yaitu : 1. Merupakan suatu."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google