Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PEMERIKSAAN FISIK TORAKS Ani Sutriningsih. Teknik Pemeriksaan Fisik Toraks Observasi Ada tidaknya kelainan pada daerah kepala leher yang berkaitan dengan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PEMERIKSAAN FISIK TORAKS Ani Sutriningsih. Teknik Pemeriksaan Fisik Toraks Observasi Ada tidaknya kelainan pada daerah kepala leher yang berkaitan dengan."— Transcript presentasi:

1 PEMERIKSAAN FISIK TORAKS Ani Sutriningsih

2 Teknik Pemeriksaan Fisik Toraks Observasi Ada tidaknya kelainan pada daerah kepala leher yang berkaitan dengan kelainan pada paru dan saluran pernafasan, misalnya : Sianosis ujung lidah (hipoksemia). ”Bull Neck” pada Sindrom Vena Cava Superior. Deviasi trakea (biasanya ke sisi kanan). Pembengkakan KGB leher.

3 Observasi (pengamatan awal) Sindrom Vena Cava Superior (bull neck) Atrofi Otot Tangan (Sindrom Pancoast)

4 Teknik Pemeriksaan Fisik Toraks Observasi Ada tidaknya kelainan pada daerah ekstremitas yang berkaitan dengan kelainan pada paru dan saluran pernafasan : ”Clubbing Finger” Sianosis perifer pada kuku jari. Karat nikotin pada perokok. Atropi pada otot-otot tangan dan lengan, pada Sindrom Pancoast.

5 Teknik Pemeriksaan Fisik Toraks Observasi Terdengar, atau tidaknya suara-suara nafas abnormal suatu pasien datang : Mengi, atau wheezing. Stridor (suara mendengkur) terutama stridor inspiratoar. Suara serak, atau hoarseness.

6 Observasi (pengamatan awal) Clubbing Finger Karat Nikotin (perokok berat)

7 Inspeksi  Kelainan pada dinding toraks.  Kelainan pada bentuk toraks.  Kesimetrisan toraks pada saat bernafas.  Frekuensi pernafasan.  Jenis pernafasan.  Irama pernafasan.

8 Inspeksi  Kelainan pada dinding toraks :  Jaringan parut bekas operasi pada dada.  Pelebaran vena-vena superfisial pada dinding dada.  Massa abnormal pada dinding dada.  Pembesaran payudara pada pria.  Pelebaran, atau adanya retraksi otot-otot interkostalis.

9 Inspeksi  Kelainan bentuk toraks  Dada paralitikum.  Dada emfisema (barrel chest).  Pectus excavatum.  Pectus carinatum.  Kifosis.  Skoliosis.

10 Kelainan Bentuk Toraks Dada Emfisema (barrel chest) Skoliosis Toraks & Skoliosis Lumbar

11 Kelainan Bentuk Toraks Pectus Carinatum (pigeon chest) Pectus Excavatum

12 Kesimetrisan Toraks Pada Saat Bernafas  Amatilah apakah kedua lapangan toraks simetris saat bernafas. Pada keadaan normal kedua lapangan toraks simetris saat bernafas.  Apakah ada lapangan toraks yang tertinggal saat bernafas, misalnya pada :  Emfisema berat.  Pasien dengan ukuran tumor paru, atau mediastinum yang besar.  Efusi pleura yang masif.  Kolaps paru.  Perhatikan ada tidaknya pemakaian otot-otot bantu pernafasan, misalnya pada kasus PPOK berat.

13 Inspeksi Gambaran Pasien PPOK (Barrel Chest & Hipertrofi Otot Pernafasan)

14 Frekuensi Pernafasan  Hitunglah berapa banyak pasien bernafas dalam satu menit.  Orang dewasa normal bernafas kali per menit.  Pada bayi yang sehat frekuensi bernafas kali per menit.  Bandingkan frekuensi bernafas pasien, dengan nilai yang normal.  Apakah frekuensi bernafas pasien normal.  Frekuensi terlalu cepat (takipneu).  Frekuensi terlalu lambat (bradipneu).  Frekuensi tidak bernafas (apneu).

15 Jenis Pernafasan  Amatilah jenis pernafasan pasien (jenis pernafasan normal) :  Apakah torakoabdominal (terutama pada wanita).  Apakah abdominotorakal (terutama pada pria).  Amatilah apakah terdapat jenis pernafasan abnormal seperti : Pernafasan torakal. Pernafasan abdominal. ”Pursed Lips Breathing”. Pernafasan cuping hidung yang cepat dan dangkal.

16 Irama Pernafasan  Amatilah irama pernafasan pasien. Irama pernafasan normal adalah, pernafasan yang silih berganti antara inspirasi dan ekspirasi, dengan frekuensi yang normal  Amatilah ada tidaknya irama pernafasan yang abnormal seperti :  Bradipneu.  Takipneu.  Hiperpneu.  Pernafasan Cheyne Stokes.  Pernafasan Biot.  ”Sighing Respiration”.

17 Palpasi  Palpasi kelenjar getah bening kepala & leher (di bahas lebih lanjut pada pemeriksaan fisik Blok Sistem Organ Khusus)  Palpasi trakea.  Palpasi statis dinding dada anterior.  Palpasi dinamis :  Pemeriksaan ekspansi paru.  Pemeriksaan tactile vocal fremitus.

18 Palpasi KGB Kepala & Leher Kelenjar Getah Bening Kepala & Leher

19 Palpasi Trakea  Pemeriksa berada di depan pasien.  Letakkanlah ujung jari telunjuk tangan kanan (dapat juga dengan ujung jari tengah dan jari manis) pada lekukan suprasternal.  Tekanlah jari ke arah trakea secara perlahan-lahan, kemudian geser jari perlahan-lahan ke arah atas untuk menilai ada tidaknya deviasi trakea.  Pada orang yang normal posisi trakea terletak pada garis tengah tubuh.  Terkadang dapat juga ditemukan adanya deviasi trakea ringan ke arah kanan pada orang normal.

20 Palpasi Trakea

21 Palpasi Dinding Toraks Anterior (palpasi statis)  Lakukan palpasi dinding toraks anterior, dengan telapak tangan untuk menentukan ada tidaknya kelainan pada dinding dada.  Tentukan ada tidaknya kelainan pada dinding dada, misalnya seperti :  Nyeri tekan pada dinding dada.  Krepitasi karena emfisema subkutis.  Tumor.

22 Pemeriksaan Ekspansi Paru (palpasi dinamis)  Letakkan kedua telapak tangan, dan ibu jari secara simetris pada masing-masing tepi iga, sedangkan jari- jari lainnya menjulur sepanjang sisi lateral lengkung iga.  Kedua ibu jari harus saling berdekatan di garis tengah, dan sedikit diangkat, agar dapat bergerak bebas secara simetris saat pasien menarik nafas (inspirasi).  Bila terdapat kelainan pada salah satu sisi toraks, ekspansi dada pada sisi tersebut akan berkurang, sehingga gerakan kedua ibu jari menjadi tidak simetris.

23 Pemeriksaan Ekspansi Paru (palpasi dinamis) Pemeriksaaan Ekpansi Paru Dinding Toraks Anterior & Posterior

24 Pemeriksaan Tactile Vocal Fremitus (palpasi dinamis)  Letakkan kedua telapak tangan pada permukaan dinding toraks.  Mintalah pasien menyebutkan kata-kata yang menimbulkan resonansi yang tinggi sehingga getaran suara yang teraba pada dinding toraks akan terasa lebih jelas seperti angka 77 atau 99.  Rasakanlah getaran suara yang timbul dengan seksama.

25 Cont…  Bandingkanlah tactile vocal fremitus pada yang dirasakan pada telapak tangan kanan dan kiri pada dinding toraks anterior maupun posterior, mulai dari bagian atas, tengah dan bawah. Apakah fremitus normal, melemah (pada emfisema atau pneumotoraks), atau mengeras (pada pneumonia atau Tb paru aktif).  Setiap melakukan pemeriksaan tactile vocal fremitus, kedua telapak tangan harus disilangkan secara bergantian untuk konfirmasi getaran suara yang dirasakan, bila terasa fremitus yang tidak sama pada telapak tangan kanan dan kiri.

26 Pemeriksaan Tactile Vocal Fremitus (palpasi dinamis) Pemeriksaan Tactile Vocal Fremitus

27 Perkusi  Teknik perkusi dasar dinding toraks.  Perkusi batas paru-hati.  Peranjakan hati.  Perkusi dinding toraks posterior.

28 Teknik Perkusi Dasar Dinding Toraks  Letakkan telapak tangan kiri pada dinding toraks.  Tekan sedikit jari telunjuk atau jari tengah tangan kiri (jari fleksimeter) pada sela iga daerah toraks yang akan diperiksa.  Ketuklah bagian tengah falang medial dari jari fleksimeter dengan ujung jari tengah kanan (jari fleksor) dengan menggunakan sendi pergelangan tangan sebagai poros.

29 Cont…  Lakukanlah perkusi secara bergantian pada sela iga dinding toraks sebelah kanan ke sela iga dinding toraks sebelah kiri, dimulai dari toraks sebelah atas, tengah dan bawah pada dinding toraks anterior.  Lakukanlah teknik perkusi yang sama, pada dinding toraks posterior.  Lakukanlah penilaian terhadap suara perkusi yang timbul pada dinding toraks pasien apakah sonor (normal), hipersonor (pada PPOK), redup (pada efusi pleura) dan beda (pada efusi pleura masif)

30 Teknik Perkusi Dinding Toraks Lokasi Titik Perkusi Dinding Toraks Anterior & Posterior

31 Perkusi Dinding Toraks Posterior  Mintalah penderita untuk menyilangkan kedua lengannya di dada, dengan kedua telapak tangan diletakkan pada masing- masing bahu secara kontralateral.  Lakukanlah perkusi secara bergantian pada sela iga dinding toraks sebelah kanan, ke sela iga dinding toraks sebelah kiri, dimulai dari toraks sebelah atas, tengah dan bawah pada dinding toraks posterior.

32 Teknik Auskultasi  Letakkanlah stetoskop pada seluruh dinding toraks secara sistematis dan bergantian, pada sela iga dinding toraks sebelah kanan ke sela iga dinding toraks sebelah kiri, dimulai dari toraks sebelah atas, tengah dan bawah pada dinding toraks anterior.  Mintalah pasien untuk melakukan inspirasi dan ekspirasi, lalu dengarkanlah dengan seksama suara nafas yang terdengar.  Lakukanlah teknik pemeriksaan auskultasi yang sama, pada dinding toraks posterior.

33 Teknik Auskultasi Lokasi Pemeriksaan Auskultasi Dinding Toraks Anterior & Posterior

34 Suara Nafas  Suara nafas normal :  Vesikuler.  Bronkial.  Bronkovesikuler.  Suara nafas tambahan :  Ronkhi basah.  Ronkhi kering dan ”wheezing”.  Bising gesek pleura.  Bising krepitasi.

35 Penilaian Auskultasi  Lakukanlah penilaian terhadap suara pernafasan normal (terutama vesikuler), yang terdengar dari stetoskop :  Intensitas (normal, melemah, atau mengeras)  Letaknya, apakah terdengar pada tempat yang seharusnya, atau tidak (misalnya terdengarnya suara bronkial pada lapangan perifer paru, karena adanya penghantar seperti infiltrat atau tumor).  Dengarkanlah dengan seksama ada tidaknya suara nafas tambahan, seperti ronkhi basah, ronkhi kering, mengi, dan krepitasi.

36 Suara nafas normal : 1.Bronchial : sering juga disebut dengan “Tubular sound” karena suara ini dihasilkan oleh udara yang melalui suatu tube (pipa), suaranya terdengar keras, nyaring, dengan hembusan yang lembut. Fase ekspirasinya lebih panjang daripada inspirasi, dan tidak ada henti diantara kedua fase tersebut. Normal terdengar di atas trachea atau daerah suprasternal notch.

37 Cont… 2.Bronchovesikular : merupakan gabungan dari suara nafas bronchial dan vesikular. Suaranya terdengar nyaring dan dengan intensitas yang sedang. Inspirasi sama panjang dengan ekspirasi. Suara ini terdengar di daerah thoraks dimana bronchi tertutup oleh dinding dada. 3.Vesikular : terdengar lembut, halus, seperti angin sepoi-sepoi. Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi, ekspirasi terdengar seperti tiupan.

38 Suara nafas tambahan 1.Wheezing : terdengar selama inspirasi dan ekspirasi, dengan karakter suara nyaring, musikal, suara terus menerus yang berhubungan dengan aliran udara melalui jalan nafas yang menyempit. 2.Ronchi : terdengar selama fase inspirasi dan ekspirasi, karakter suara terdengar perlahan, nyaring, suara mengorok terus-menerus. Berhubungan dengan sekresi kental dan peningkatan produksi sputum

39 Cont… 3. Pleural friction rub : terdengar saat inspirasi dan ekspirasi. Karakter suara : kasar, berciut, suara seperti gesekan akibat dari inflamasi pada daerah pleura. Sering kali klien juga mengalami nyeri saat bernafas dalam.

40 Cont… 4.Crackles a.Fine crackles : setiap fase lebih sering terdengar saat inspirasi. Karakter suara meletup, terpatah- patah akibat udara melewati daerah yang lembab di alveoli atau bronchiolus. Suara seperti rambut yang digesekkan. b.Coarse crackles : lebih menonjol saat ekspirasi. Karakter suara lemah, kasar, suara gesekan terpotong akibat terdapatnya cairan atau sekresi pada jalan nafas yang besar. Mungkin akan berubah ketika klien batuk.

41 Next…


Download ppt "PEMERIKSAAN FISIK TORAKS Ani Sutriningsih. Teknik Pemeriksaan Fisik Toraks Observasi Ada tidaknya kelainan pada daerah kepala leher yang berkaitan dengan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google