Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh : Ns. Rondhianto, M.Kep DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DAN KRITIS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2014/2015.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh : Ns. Rondhianto, M.Kep DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DAN KRITIS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2014/2015."— Transcript presentasi:

1 Oleh : Ns. Rondhianto, M.Kep DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DAN KRITIS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2014/2015

2  Mahasiswa dpt memahami konsep dasar asuhan keperawatan pd klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal

3  Orthopedic nursing practice focuses on the nursing care of patients who have a musculoskeletal disease or disorder.  Orthopedics adl bahasa yunani (th.1741) oleh Nicholas Andre : othopedia : “orthos” : lurus dan “paidos” : anak2 Meaning : “The Art of Correcting and Preventing Deformities in Children”  Abad 19 -Today : The treatment of musculoskeletal problems in patients of any age and has been a recognized specialty in medicine”  Institusi orthopedik pertama pada tahun : 1780 di Switzerland  Inggris : Praktisi othopedik yg terkenal : Hugh Owen Thomas (1834–1891) Liverpool, England :  Reduce fractures and dislocated joints.  USA : pioner bedah orhopedi : Virgil Gibney (New York)

4  Pioner orthopedic nuring adl Agnes Hunt (1862–1948) di Inggris dsb “Florence Nightingale of orthopedic nursing”  USA pd tahun 1980 : National Association of Orthopaedic Nurses (NAON)  Tujuan : promote the professional practice of orthopedic nursing and encourage continuing education  Jurnal : Orthopedic Nursing

5 1) Usia --- aging (proses penuaan)  Praktik ON adl pd semua tataran usia, namun mayoritas pasien adl pd usia middle-aged or elderly.  Perubahan transisi demografi penduduk --- lansia >>> : insidensi osteoporosis, arthritis, hip fractures, and total joint replacements >>>  peningkatan jumlah klien yang bermasalah dengan muskuloskeletal 2) Gaya hidup  Ketertarikan yg signifikan dlm physical fitness and sports activities  musculoskeletal injury, Anak2  traumatic musculoskeletal injuries  Obesity + stress to joints and the lack of calcium intake in the diet predisposes many individuals to the development of osteoporosis. 3) Early discharge of patients from acute care settings 4) Advances in technology are also impacting the practice of orthopedics

6

7  Tulang berasal dari embrionic hyaline cartilage melalui proses “Osteogenesis”. Tulang mengeras coz deposit garam kalsium.  Tulang tdr :  Sel :  Osteoblas : pembentukan tulang dengan mensekresikan matriks tulang  Osteosit : sel dewasa yg ber fx : pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteon (unit fngsional matriks tulang, tdpt pembuluh darah kapiler)  Osteoklas : sel multinuclear ( berinti banyak) ; berperan dalam penghancuran, resorpsi dan remosdeling tulang  Matriks (bahan organik) : 30 % 90% kolagen dan 10 % subtansi dasar (glukosaminoglikan, asam polisakarida dan proteoglikan). Matriks merupakan kerangka dimana garam-garam mineral anorganik ditimbun  Deposit mineral (bahan anorganik) : 70 % : tdr : Ca, PO4, sedikit Na, kalium karbonat, dan ion magnesium

8  Tulang diselimuti o/ membran fibrous padat dinamakan periosteum.  Fungsi periosteum : a. memberi nutrisi ke tulang dan memungkinkannya tumbuh b. T-4 perlekatan tendon dan ligamen. c. Periosteum mengandung saraf, pembuluh darah, dan limfatik. d. Didalam lapisan yang paling dekat dengan tulang mengandung osteoblast, yang merupakan sel pembentuk tulang.  Endosteum adalah membran vaskuler tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan rongga-rongga dalam tulang kanselus.  Osteoklast, yang melarutkan tulang untuk memelihara rongga sumsum, terletak dekat endosteum dan dalam lacuna Howship (cekungan pada permukaan tulang).

9 Tulang dikelompokkan berdasarkan bentuk dan lokasinya. Berdasarkan bentuknya : a. Tulang panjang (pada tangan, kaki, jari-jari, dan femur), tulang pendek (wirst dan ankle) b. Tulang datar (tengkorak, sternum, scapula) c. Tulang tak beraturan (spinal vertebra, pelvis) d. Tulang sesamoid (patella, knee caps), dan e. Tulang tengkorak. Berdasarkan lokasinya : a. Tulang axial : (80 tulang) terdiri dari tengkorak, cavum thorak, dan collum vertebra b. Tulang appendikular : (126 tulang), terdiri dari tulang pada bahu, pelvis, extremitas atas dan ekstremitas bawah.

10

11  Jaringan otot memiliki sifat khusus yaitu berkontraksi.  Ada 3 tipe jaringan otot yaitu: a. Otot skeletal b. Otot jantung dan c. Otot halus Ketiga otot tersebut memiliki karakteristik, fungsi dan lokasi yang berbeda-beda tergantung pada penggunaan dari jaringan otot tersebut.  Jaringan otot manusia mengalami pembesaran seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya.  Kekuatan dan ukuran otot dipengaruhi :  latihan, gizi, jenis kelamin dan genetika.

12 anat_muskuloskeletal/ikun/200712

13  Tendo adl jaringan pengikat fibrosa  Fungsi : a. Mengkaitkan otot dengan periosteum (membran fibrosa yang menutupi tulang). b. Tendo menyebabkan tulang bergerak sewaktu otot-otot skeletal berkontraksi. LIGAMEN  Ligamen merupakan jaringan pengikat fibrous yang kuat dan padat  Fungsi : Mengikatkan : tulang dengan tulang yang lain yang membantu tulang untuk bergerak.

14 BURSA  Bursa adl kantong cairan sinovial yg terletak pd lokasi gesekan di sekitar persendian antara tendo, ligamen dan tulang.  Bursa b’peran utk mengurangi tekanan pada struktur yg saling bersinggungan. KARTILAGO  Kartilago mrpkan jaringan pengikat yg mengandung jaringan tulang rawan yang tersusun pada substansi yang kuat.  Kartilago berfungsi untuk menyokong dan memberikan bantuk pada beberapa bagian tubuh (misalnya saluran pendengaran dan bagian pada intervertebra).

15

16  Mrpkan pertemuan antara dua/lebih tulang-tulang.  Setiap persendian memiliki berbagai variasi dlm pergerakannya.  Tipe : a. Sendi synarthrosis (immovable joint) : tidak memungkinkan adanya gerakan misal sutura pada tengkorak. b. Sendi amphiarthrosis (slighty movable joint) memungkinkan pergerakan sedikit, misal hubungan antara simpisis pubis dan hubungan antara intervertebra pd ruas tulang belakang, hubungan antara tibia dan fibula. c. Sendi diarthrosis (freely movable joint) atau sendi sinovial, yang memungkinkan pergerakan bebas. Sendi sinovial dibagi : 1) Monoaxial (satu arah, misal elbow, ankle) 2) Biaxial (dua arah, misal ribs dan wirst) 3) Triaxial (tiga arah, misal shoulders, hip).

17 anat_muskuloskeletal/ikun/200717

18

19

20

21  Sistem muskuloskeletal merupakan sistem yang kompleks.  Pengkajian sistem muskoloskeletal meliputi :  pemeriksaan pada tulang,  persendian dan  otot.  Fungsinya : terintegrasi dengan sistem saraf dan integumen.  Perawat dapat belajar mengintegrasikan bagian-bagian pengkajian muskoloskeletal pada saat klien berjalan, bergerak di tempat tidur atau melakukan segala jenis aktivitas fisik  Pengkajian sering dilakukan bersama dgn pengkajian neurologik.

22  Langkah :  Kaji riwayat penyakit  Kaji riwayat nyeri  Assessment of Posture and Gait  Assessment of Joint Movement

23  Pemeriksaan Fisik : Pengumpulan data ttg kondisi system dan kemampuan fungsional  diperoleh melalui inspeksi, palpasi dan pengukuran a. Skeletal / tulang 1. Look : Penyimpangan dari structur normal DAN adanya deformitas tulang : perbedaan panjang, bentuk, amputasi 2. Identifikasi khusus : a. pergerakan abnormal (move) dan b. krepitasi (feel) b. Sendi 1. Identifikasi bengkak  inflamasi atau effuse 2. Catat deformitas b.d : kontraktur atau dislokasi 3. Evaluasi stabilitas sendi 4. Lakukan pengkajian : ROM aktif/pasif -  gambarkan kondisinya

24

25 1. Inspeksi :  Ukuran  Kontour otot  catat adanya abnormalitas  Kaji koordinasi gerakan : secara umum, bandingkan kiri-kanan 2. Palpasi  tonus otot  Kaji kekuatan otot baik : - evaluasi sepintas dengan jabat tangan atau - Ukur dgn skala criteria  Ukur peningkatan pembengkakan atau perdarahan atau pengecilan karena atropi  Identifikasi klonus yang abnormal

26 Tabel Pengukuran Kekuatan Otot

27 1. kaji status sirkulasi pada extremitas dengan mencatat :  warna kulit  Suhu  nadi perifer  capillary refill  nyeri 2. Kaji status neurology 3. Tes reflek 4. Catat penyebaran rambut dan keadaan kuku e. Kulit 1. inspeksi truma injury (luka, memar) 2. kaji kondisi kronis (dermatitis, stasis ulcer)

28 a. Radiologi dan imaging studies 1. X-ray a. pada tulang :  densitas, texture, erosion, dan perubahan sambungan b. pada cortex :  pelebaran, penyempitan, irregularity c. pada sendi :  menunjukkan cairan, irregularity, formasi, penyempitan, perubahan contour sendi 2. tomogram 3. computed tomogram 4. bone scan 5. arthrogram 6. myelogram 7. discogram

29

30 b. pemeriksaan sendi 1. arthrocentesis : aspirasi cairan sinovial untuk tujuan pemeriksaan dengan menggunakan jarum 2. arthroscopy c. otot dan saraf 1. electromyography 2. nerve conduction velocities d. Laboratorium e. biopsy tulang, densitometry

31 1) Loss mobility and fuction : Musculoskeletal disorders can lead to a loss of mobility due to a change in muscle strength, joint range of motion, or function 2) Muskuloskeletal pain :  Gejala tersering : musculoskeletal disorders is pain. Tjd pada : joint, muscle, or bone.  Joint pain is frequently due to inflammation or damaged joint structure and is aggravated by movement.  Bone pain tends to manifest itself as an aching or throbbing pain. It may be localized or more diffuse. If the bone pain is due to an infection, as in osteomyelitis, the pain is likely to be severe.  Muscle pain may manifest itself as an ache and be aggravated by movement, or it may be acute, as in a muscle sprain or spasm.  Pasien menentukan : the location, quality, severity, duration, and precipitating factors related to the pain (PQRST)

32

33 1. Activity intolerance related to decreased muscle strength and tone 2. Knowledge deficit about immobility and potential complications 3. Altered peripheral tissue perfusion related to immobility and constriction from immobilization devices (traction, casts, splints, braces, etc.) 4. Impaired skin integrity related to bedrest or pressure from immobilization devices (traction, casts, splints, braces, etc.) 5. Risk for infection related to immobility, possible surgical intervention 6. Self-care deficit (feeding, bathing, toileting,etc.) related to loss of mobility and functional ability

34  Pain related to pathophysiological alterations in the musculoskeletal system  Assess pain — location, location, quality, severity, duration, precipitating, aggravating and alleviating factors  Maintain patient in proper body alignment  Ensure that immobilization devices are correctly applied (casts, braces, traction,  slings, splints)  Apply heat and cold therapy safely  Administer pain medications as needed on a regularly scheduled basis  Teach patient how to effectively use patientcontrolled analgesia  Implement non-pharmacological means of pain control in conjunction with pain medication (mental imagery, massage, distraction, relaxation techniques, music therapy)  Evaluate patient’s response to pain medication and other interventions

35  Aplikasi Heat cold therapy Contoh : Heat therapy : 1) Muscle strain 2) Low back pain 3) Arthritis 4) Osteomyelitis 5) Joint pain 6) Edematous area Contoh : Cold therapy 1) Arthritis 2) Fractures 3) Sprains and strains* 4) Muscle spasms 5) Joint injury* *) Pada saat cedera pertama kali

36  Adl external fixation to immobilize a specific area of the body that has been injured  Most frequently used to immobilize fractures, casts may also be used to treat soft tissue injuries.  The application of a cast stabilizes the injured area and prevents movement so that healing can occur, while typically allowing the patient to retain mobility

37

38  Keep affected body part elevated to decrease swelling  Use analgesics as prescribed to control pain  Promptly report pain with passive movement or pain that is unrelieved by analgesics and elevation of the body part  Promptly report any changes in the pulse, sensation, movement, temperature, or color of the affected body part  Note any cast odors, warm/hot spots on the cast, drainage, or stained cast areas and report promptly  Report any elevated temperature or feelings of malaise  Inspect skin at cast edges regularly and report any signs of irritation  Do not insert anything down inside the cast  Do not get plaster of Paris casts wet Synthetic casts must be dried thoroughly after coming in contact with water  Do exercises to maintain muscle strength

39  Prinsip traksi :  Patient must be placed in correct body alignment in center of bed to maintain line of pull  Traction is maintained continuously, unless the physician prescribes otherwise  Countertraction is maintained continuously  All ropes must move freely on the pulley at all times  Rope knots should never touch the pulley  Ropes should be kept clear of bed linens and any other objects  Weights must hang freely at all times  Skeletal traction must never be released

40  Skin traksi diaplikasikan pada kulit  Merupakan traksi sementara ---coz breakdown skin, especially elderly patient  Biasanya digunakan sebelum tindakan definitif dilakukan (kasus fraktur) atau dilakukan untuk peghilang spasme otot pada low back pain (pelvic) atau nyeri leher (cervical traction)  Berat pemberat 5-7 pound  Jika pelvic traksion biasanya lebih berat, yaitu : pound.  Contoh :  Buck’s extension traction, Russell’s traction, pelvic, and cervical traction  Kontraindikasi :  Impaired circulation  skin irritations  wounds, or pressure sores are all potential contraindications.

41

42  In skeletal traction, the pulling force of the traction is applied directly to a metal pin or wire that has been inserted through the bone.  Contoh : Steinmann pin or Kirschner wire  Skeletal traction requires that the patient undergo a surgical procedure to insert the pin or wire into the bone (usually into the distal femur or proximal tibia) so that the traction weights can be applied.  Sering digunakan pd fraktur femur. Penggunanaan lainnya : Fx cervical spine, humerus, and tibia  Beban pemberat : pounds

43

44  Manual traction is applied by the hands and is used to maintain reduction of a fracture while a cast is being applied or other forms of traction are being applied or adjusted.

45


Download ppt "Oleh : Ns. Rondhianto, M.Kep DEPARTEMEN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH DAN KRITIS PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2014/2015."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google