Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

INFLASI Oleh: Dr. A. Zainuri, M.Si. UNIVERSITAS JEMBER 2015.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "INFLASI Oleh: Dr. A. Zainuri, M.Si. UNIVERSITAS JEMBER 2015."— Transcript presentasi:

1 INFLASI Oleh: Dr. A. Zainuri, M.Si. UNIVERSITAS JEMBER 2015

2 Inflasi merupakan salah satu peristiwa moneter penting yg dijumpai di hampir semua negara didunia ini, negara besar atau kecil, tertutup apalagi terbuka Hasil sigi pd masyarakat di AS  inflasi & pengangguran lebih ditakuti dari pada vampir, hantu, pocong. Kandidat presiden AS sering menggunakan isue- isue makro termasuk inflasi (stab hrga)u/ mendongkrak perolehan suaranya, Stab harga penting u/: gairhakn Inv (kepercyaan Asing), tdk terjadi cap flight, tak kriss keprcyaan pd Inflasi tidak pernah bisa diberntas seperti api  ketika kecil:dibutuhkan, tapi jika besar (si jago merah) menakutkan dan membahayakan & sulit dikendalikan  spiral efek (Psicological effect)  tak percaya pd uang & lembaga keuangan  Dp thd brg meningkat  AD  harga (asumsi AS konstan)

3 Inflasi merupakan suatu proses (kecendrungan) kenaikan harga umum (bukan terhadap satu macam barang) dan terus menerus (bukan sesaat/musiman) Umum  Kenaikan dari satu atau dua jenis barang saja tidak menyeret (meluas pd) harga barang lain tidak bisa disebut inflasi. Krn jenis brg banyak  ada kemungkinan sejumlah brg harganya turun tapi lainnya naik. Kalau hs akhir dari komponen brg & js itu naik  tk harga umum naik  inflasi, kebalikannya deflasi. Terus menerus  bhw harga umum yg tinggi blm tentu inflasi  baru dikatakan inflasi jika ada proses kenaikan hrga  kenaikan yg musiman (hanya sekali naik, tidak punya pengaruh lanjutan  bukan inflasi  tak perlu kebij khusus u/ menanggulanginya Kecendrungan  Hasil interaksi Sp & Dp, bukan harga resmi di BPS  kalau seandainya harga dr sebag besar brg dikendalikan (ditekan) oleh pemerintah (sosialis), mk harga yg dicatat oleh BPS (harga resmi) tak naik  suppressed inflation  suatu ketika dpt muncul.

4 SUMBER-SUMBER DATA INFLASI 1. Nota keuangan dan APBN 2. Indikator Ekonomi 3. SEKI 4. SI 5. Laoran Tahunan BI 6. International Finance Statistic (IFS) 7. Lainnya (hasil kajian dll)

5 Di Indonesia, pada pemerintahan orde lama (th 1966), inflasi mencapai 635%, pd tahun 1994 sebesar 9,77%. Tahun 1998 kuartal ketiga (krisis ek) 78.65%, tetapi tahun berikutnya inflasi mulai dapat dikendalikan. Berdasarkan pengalaman terdahulu maka pemerintah menetapkan kebijakan moneter dan fiskal yang berhati-hati melalui pengendalian likuiditas perekonomian dan menciptakan surplus bagi cadangan anggaran pembangunan (Bank Indonesia, 1998). Inflasi jelas akan menambah jumlah KK miskin  grs kemiskinan dr Rp  Rp ,- per bulan (Bappenas, 2005)

6

7 .

8 Inflasi di Brasil tahun 1980 – 1987 rata-rata 166%. Tahun 1988 inflasi 400% (sedang suku bunga deposito 450%)  Perusahaan Milik Negara enggan Invest (karena sulitnya memprediksi harga)  investasi menurun  untuk mendorong kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi digunakan hutang luar negeri hingga pada saat itu untuk mengejar industrialisasi Brasil terjerat hutang US$ 125 M. Inflasi dibawah 5% masih tergolong sehat dan merangsang produksi. Justru kalau inflasi 0% bisa menimbulkan kecurigaan jangan-jangan indikasi ketidak mampuan masyarakat untuk membeli barang (AD rendah)  investasi menurun (enggan)  g lemah.

9 Cara Penghitungan Inflasi Indonesia mulanya tidak punya alat ukur kenaikan harga umum, mk pd th diadakan survey u/ tahu brg & js apa saja yg di C rakyat kecil  dipilih 300 responden buruh industri dengan 4 periode dl 1 th (jadi total ada 1200 responden)  diminta u/ isi buku harian selama 1 ronde (3 bl) diulang 4 kali  mk ditemukan 62 jenis kelompok brg yg dpt dibagi menjadi 4 kelompok: Makanan 29 macam Perumahan 6 macam Pakaian 12 macam Lain-lain 15 macam

10 Harga ke 62 jenis brg & jasa tersebut di catat 1 bulan sekali  mula2 di JKT saja, kemudian disusul dg Aceh, medan, Pekanbaru, Jambi, Palembang, Bandung…. (23 kota)-  disebut angka “INDEKS BIAYA HIDUP“(IBH) — menggunakan indeks laspeyres dimana th dasarnya diambilakn th 1957/1958, pd th 1978, th dsnya diubah th 1966  set 20 th angka indeks tsb dianggap usang  diadakan survey Anggaran rumah Tangga th 1969  hasilkan “INDEKS HARGA KONSUMEN” (IHK)  jumlah sampel 8000 keluarga dr berbagai golongan pendapatn rendah dan sedang (bukan buruh pabrik)  ada 100 jenis:

11 Ditemukan ada 100 jenis brg: Makanan 41 macam Perumahan 16 macam Pakaian 20 macam Lain-lain 23 macam Sejak April 1990, IHK mencakup 224 barang u/ 27 Propinsi (seluruh propinsi wktu itu)

12 Lebih detail ada berapa cara u/ menghitung inflasi, yaitu : 1. Dengan menggunakan harga umum Cara yang umum digunakan untuk menghitung inflasi adalah menggunakan angka harga umum (general prices). Rumus yang digunakan adalah : Dimana LI t merupakan laju inflasi periode t; HU t adalah harga umum periode t; sedangkan HU t-1 adalah harga umum periode t-1.

13 2. Angka deflator produk nasional bruto dimana AD adalah angka deflator PNB; Yb adalah PNB menurut harga berlaku dan Yk adalah PNB menurut harga konstan. Kemudian laju inflasi dihitung dengan cara : dimana LI t merupakan laju inflasi periode t; AD t adalah angka deflator PNB periode t; AD t-1 adalah angka deflator PNB periode t-1. dimana LI t merupakan laju inflasi periode t; IHK t merupakan Indeks Harga Konsumen tahun t; IHK t-1 merupakan Indeks Harga Konsumen tahun t-1.

14 3. Harga yang diharapkan dimana LIe t merupakan laju inflasi yang diharapkan pada periode t; He i+1 adalah harga pengharapan pada periode t; H t adalah harga yang berlaku pada periode t. 4. Indeks harga dalam negeri dan luar negeri. IHU = αIHDN + (1-α) IHLN dimana IHU adalah indeks harga umum; α merupakan besarnya sumbangan atau pengaruh indeks harga dalam negeri terhadap indeks harga umum; IHDN adalah Indeks Harga Dalam Negeri; dan IHLN adalah Indeks Harga Luar Negeri.

15 Penyebab Inflasi a. Berbagai golongan ekonomi dalam masyarakat berusaha memperoleh tambahan pendapatan relatif lebih besar dari pada kenaikan produktivitas mereka. Sebab- sebab terjadinya inflasi dikarenakan oleh : b. Adanya harapan (ekspektasi) yang berlebihan dari masyarakat sehingga permintan barang-barang dan jasa naik lebih cepat dari pada pertambahan output yang mungkin dicapai oleh perekonomian c. Pengaruh alam seperti musim, banjir dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kenaikan harga secara terus menerus d. Pengaruh kebijaksanaan pemerintah yg ekspansif, baik yang bersifat ekonomi atau non ekonomi yang mendorong terjadinya inflasi

16 e. Pengaruh inflasi luar negeri, khususnya apabila negara yang bersangkutan mempunyai sistem perekonomian yang terbuka f. Kenaikan harga input (bahan baku, BBM) g. Depresiasi rupiah  penurunan rupiah dari 8000 ke 12000, akan membuat brg impor& brg buatan DN yg sebag di impor & substitusi impor menjadi lebih mahal  kenaikan harga h. dll

17 Menurut Iswardono, 1990:214), berdasrkan pengalaman di berbagai negara beberapa penyebab inflasi adalah: 1. terlalu banyaknya JUB, 2. Kenaikan upah, 3. krisis energi, 4. paceklik, kekeringan dan 5.defisit anggaran

18 Macam-Macam Inflasi 1. Menurut sebab-sebabnya inflasi dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: a.Demand Pull Inflation (DPI) Inflasi krn AD>AS. AD meningkat  krn kenaikan permintaan masyarakat akan barang-barang dan jasa  Hal ini krn: - bertambahnya pengeluaran Pemerintah (anggaran defisit) yang dibiayai dengan mencetak uang baru, - Inv. meningkt krn kredit murah  JUB meningkat  LM  AD  P -bertambahnya permintaan LN akan barang-barang ekspor (akibat depresiasi Rupiah/devaluasi, kenaikan pendapatan negara importir dan lain sebagainya) -Sementara di AS tidak meningkat secepat kenaikan AD.

19 Jenis inflasi dari sudut permintaan ini melahirkan 2 pendapat: a. Kenaikan harga tersebut diakibatkan krn  excess demand  akibat kenaikan JUB  LM b. Inflasi dapat juga terjadi akibat adanya peningkatan konsumsi, investasi (PMA dan PMDN) dan pengeluaran Pemerintah, walaupun jumlah sirkulasi JUB tidak meningkat. Peningkatan konsumsi mungkin diakibatkan pencairan tabungan masyarakat, sedangkan pengeluaran Pemerintah dan investasi diakibatkan oleh berubahnya PP seperti kebijaksanaan /PP No. 17 Tahun 1992  IS

20 S D3 D2 D1 P3 P2 P1 0 Q1Q2Q3Q (Unit) Rp

21 P DEMAND PULL INFLATION P1 0 Q1Q P Keteranagan : Kenaikan permintaan mengakibatkan kurva DD bergeser D1D1 Titik keseimbangan pada E menjadi E1 Harga naik dari OP menjadi OP1 dan Permintaan/penawaran naik OQ menjadi OQ1 D D E D1 E1 S S Q

22

23 Permintaan masyarakat akan barang bertambah, hal ini karena:  Bertambahnya pengeluaran pemerintah yg dibiayai dg percetakan uang baru  Bertambahnya infestasi swasta karna adanya kredit murah  Bertambahnya permintaan barang-barang ekspor dan lain sebagainya. Penyebab Demand pull inflation

24 b. Cost Push Inflation (CPI) Yang dimaksud dengan Cost Push Inflation (inflasi dorongan biaya/ongkos) adalah inflasi yang disebabkan oleh adanya kenaikan ongkos produksi (upah, bahan baku, BBM). S3S3 D P3 P2 P1 0 Q1Q2Q3 S2S2 S1S1 P Q (Unit)

25 P COST PUSH INFLATION (CPI) P1 0 Q1 Q P Keteranagan : Kenaikan biaya produksi mengakibatkan kurva SS bergeser S1S1 Titik keseimbangan pada E menjadi E1 Harga naik dari OP menjadi OP1 dan Permintaan/penawaran turun dr OQ menjadi OQ1 D D E S1 E1 S S Q

26 CPI yg disebut inflasi dorongan ongkos adalah inflasi yg disebabkan oleh adanya kenaikan ongkos produksi

27 Persamaan dan perbedaan antara Demand Pull Inflation dengan Cost Push Inflation 1.Persamaan : Baik Demand Pull Inflation maupun Cost Push Inflation kedua- duanya menunjukkan adanya kenaikan harga 2. Perbedaan : Kenaikan harga dalam Demand Pull Inflation diikuti oleh naiknya jumlah porduksi, sedangkan dalam Cost Push Inflation ternyata naiknya harga diikuti oleh turunnya jumlah produksi. Jadi secara makro dapat menggambarkan bahwa pada Demand Pull Inflation dapat menaikkan Produk National Bruto (PDB) sedangkan pada Cost Push Inflation mengakibatkan turunnya PDB (stagnasi). Mengatasi CPI lebih sulit dp DPI  CPI dpt dg cara mengekamg serikat buruh

28 c. Inflasi Permintaan dan Penawaran. Berdasarkan pengertian pada inflasi tarikan permintaan dan inflasi dorongan penawaran, ada kemungkinan lain bahwa kedua inflasi itu dapat terjadi secara bersama-sama. Maksudnya bahwa terjadinya kenaikan permintaan diikuti dengan terjadinya kenaikan ongkos produksi sehingga adanya kedua peristiwa ini mengakibatkan harga akan naik terus-menerus. D1 P3 P2 P1 0 Y1Y1 Y2Y2 S2S2 S1S1 P D2

29 3. Menurut Lajunya. a.Creeping Inflation. Jenis inflasi ini sering tidak begitu dirasakan, karena prosentasenya relatif kacil dan besarnya dibawah 10% pertahun. Creeping inflation disebut juga inflasi merayap adalah inflasi yang terjadi dalam masyarakat yang tidak terlalu besar dan biasanya tidak mengganggu jalannya perekonomian. b.Hyper Inflation. Jenis inflasi ini sangat dirasakan karena terjadi secara besar-besaran, misalnya diatas 100%. Jadi hyper Inflation adalah inflasi yang terjadi secara besar-besaran.

30 5. Berdasar kecepatannya: (1) inflasi lunak / mild inflation; (2) inflasi cepat / galloping inflation; (3) inflasi meroket/ sky rocketting inflation dan (4) hyper inflation

31 6. Berdasarkan parah tidaknya, terbagi menjadi : a. Inflasi ringan : < 10 % b. Inflasi sedang : % c. Inflasi Berat : % d. Inflasi Hyer : > 100 %

32 Berdasarkan sumbernya 7. Berdasarkan sumbernya, terbagi menjadi : a. Domestic Inflation adalah inflasi yang disebab-kan dari faktor-faktor dalam negeri, biasanya timbul akibat : - Defisit APBN yang dibiayai dengan mencetak uang. - Kenaikan harga input dalam negeri (BBM misalnya). - Kegagalan panen b. Ipmorted Inflation adalah inflasi yang timbul karena kenaikan harga luar negeri yang merembes ke dalam negeri. Penularan inflasi dari luar negeri dapat terjadi pada negara-negara yang perekonomiannya terbuka, misalnya karena kenaikan harga barang-barang impor maupun harga barang-barang ekspor.

33 Proses Imported Inflation A. Lewat Impor 1. Langsung yaitu dengan meningkatnya IHK DN sebagai akibat sebagian barang-barang yang tercover dalam IHK berasal dari Mp. ex: - semen - suku cadang 2. Tidak langsung B. Lewat Export 1.Jika P barang Xp meningkat (akibat kenaikanP di LN  IHK meningkat  P meningkat (kopi, sawit) 2.Jika P brg Xp yg menjadi bahan baku industri lain meningkat (ex: kayu, karet, timah)  cost produksi (dr brg/output yg mengg brg tsb sebgai inputnya) meningkt (ex: perumhn, sepatu, kleng) akan meningkat  HPP meningkat  P meningkat 3.Jika P brg Xp meningkat  Y Xpir mengkt  AD mengkt  P meningkt ( jika Sp brg tak berubah)

34 C. Teori Inflasi 1. Teori Kuantitas a. Inti teori ini adalah sebagai berikut (Sinungan, 1995:56- 59): inflasi  krn penambahan volume JUB dan apabila JUB tidak bertambah maka inflasi akan berhenti dengan sendirinya. b. laju inflasi ditentukan oleh penambahan JUB dan psikologi (harapan masyarakat) akan kenaikan harga-harga masa mendatang. Ada tiga kemungkinan keadaan yaitu:

35 a. bila masyarakat tidak atau belum mengharapkan harga- harga untuk naik pada masa mendatang  Adanya penambahan JUB akan digunakan untuk menambah likuiditasnya, hal ini berarti bahwa sebagian dari kenaikan JUB tidak dibelanjakan untuk pembelian barang sehingga tidak akan terjadi kenaikan harga-harga barang. b. keadaan dimana masyarakat mulai menyadari terjadinya inflasi. Masyarakat mulai mengharapkan kenaikan harga. Penambahan JUB tidak lagi digunakan masyarakat untuk menambah likuiditas-nya tetapi digunakan untuk membeli barang-barang, akibat selanjutnya terjadi kenaikan harga- harga barang. c. Keadaan ketiga terjadi pada tahap inflasi yang lebih parah yaitu hiperinflasi. Masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap mata uang, adanya keengganan untuk memegang uang kas dan keinginan membelanjakan untuk membeli barang. Hiperinflasi menghancurkan perekonomian dan kehidupan sosial politik kemudian struktur masyarakat baru akan muncul menggantikan struktur masyarakat yang lama.

36 Teori Keynes 2. Teori Keynes Inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi krn perebutan rejeki di antara kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar daripada yang disediakan oleh masyarakat sehinggga permintaan masyarakat akan barang-barang (AD) akan melebihi jumlah uang yang tersedia (AS)  terjadi inflationary gap. Bila jumlah dari permintaan-permintaan efektif (pada harga-harga yang berlaku) > jumlah maksimum dari barang-barang yang bisa dihasilkan oleh masyarakat (AS) maka akan timbul adanya inflationary gap. Pada periode berikutnya semua golongan akan berusaha memperoleh dana tambahan yang lebih besar lagi (dari pencetakan uang baru atau kredit yang diberikan bank). Proses inflasi akan terus berlangsung selama jumlah permintaan efektif dari semua golongan masyarakat melebihi jumlah output yang dihasilkan masyarakat. Inflasi akan berhenti jika permintaan efektif total tidak melebihi jumlah output yang tersedia pada harga yang berlaku (Sinungan, 1995:59-62).

37 3. Teori Strukturalis - didasarkan pada pengalaman di negara Amerika Latin. - tekanan pada ketegaran (inflexibilities) dari struktur perekonomian negara sedang berkembang.  ada dua ketegaran utama dalam perekonomian negara yang sedang berkembang yang bisa menimbulkan inflasi (Sinungan, 1995:63.66): a. “ketidakelastisitasan” penerimaan ekspor  ekspor tumbuh lebih lamban dibanding dengan pertumbuhan sektor lain. Kelambanan ini disebabkan karena: (1) harga di pasar dunia barang2 ekspor tidak menguntungkan dibandingkan dg harga impor yg hrs dibayar atau TOT memburuk  Xp brg primer tak sebanding dg P Mp brg inds (2) supply (produksi) barang ekspor tidak responsif terhadap kenaikan harga;  akibat melambtnya g Xp, mk Pemerintah akan mengambil kebijakan substitusi impor  seringkali ongkos produksinya lebih tinggi daripada barang-barang diimpor. (tak efisien)  harga tinggi  semakin meluas ke berbagai macam barang  sehingga semakin banyak harga barang-barang yang naik  terjadi inflasi.

38 b. “ketidakelastisitasan” dari supply (produksi) bahan makanan dalam negeri dimana produksi tidak tumbuh secepat pertambahan penduduk dan penghasilan perkapita  harga di dalam negeri naik > harga barang-barang lain  tuntutan para karyawan untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi  kenaikan ongkos produksi  HPP  kenaikan harga barang- barang & seterusnya. Proses ini akan berhenti dengan sendirinya jika tidak terjadi kenaikan harga-harga barang. Mengenai teori strukturalis ini ada 3 hal yang perlu ditekankan: (1) teori ini menerangkan proses inflasi jangka panjang di negara-negara yang sedang berkembang; (2) asumsi (secara imsplisit) bhw JUB bertambah terus mengikuti kenaikan harga-harga tersebut, jadi jika JUB tak bertambah mk proses tsb berhenti dg sendirinya; (3) tidak jarang faktor strukturalis yang dikatakan sebagai penyebab terjadinya inflasi tsb, bukan murni 100% “struktural”, karena sering dijumpai bahwa ketegaran yang ada disebabkan kebijakan harga/moneter pemerintah.

39 E. Cara Mengatasi Inflasi Untuk mengatasi inflasi ada 3 cara yang bisa ditempuh yaitu : 1. Kebijakan moneter menyempitkan pemberian kredit atau mengurangi JUB baik dilakukan oleh bank sentral sendiri maupun oleh bank- bank umum, dengan cara : a. Menaikkan cash ratio (reserve requirement). Cash ratio adalah perbandingan antara uang tunai bank-bank ditambah dengan demand deposit masyarakat terhadap bank yang bersangkutan. Menaikkan cash ratio bank-bank merupakan tindakan anti inflasi, karena dapat mengurangi kemungkinan permintaan kredit yang berlebihan dari masyarakat. b. Politik Diskonto, artinya menaikkan tingkat suku bunga. c. Politik pasar terbuka. Politik pasar terbuka untuk mengatasi inflasi kadang-kadang disebut juga tight money policy  dg menjual SBI d. Selective Credit  sektoral maupun spatial

40 2. Kebijakan Fiskal Ada 3 aspek dalam kebijakan fiskal, yaitu : a. Penurunan pengeluaran pemerintah.  penurunan G. b. Menaikkan pajak.  penghasilan menurun  menurunnya daya beli  C menurun  harga-harga tertahan c. Mengeluarkan surat pinjaman pemerintah  SUP. 3. Kebijakan non moneter Kebijakan non moneter untuk mengatasi inflasi: a. Peningkatan hasil produksi(AS naik) b. Kebijakan upah  sesuaikan dg produktivitas c. Pengawasan harga dan distribusi barang-barang. d. Mengatasi inflasi dengan program bersegi banyak. e. mendorong investasi  dg one day service, kepastian regulasi (durasi, cost, prosedure)

41 Secara khusus Kebijaksanan dalam Memerangi Inflasi: Secara khusus Kebijaksanan dalam Memerangi Inflasi: a. untuk menghadapi inflasi demand pull inflation (DPI), - KM dilakukan dengan cara melakukan pembatasan JUB - KF dengan pembatasan perbelanjaan pemerintah atau memperbesar pemasukan pajak. b. cost push inflation (CPI)  dihadapi dengan campur tangan pemerintah dalam penentuan UMK. Kalau UMK naik sebanding dengan kenaikan produktivitas buruh  tekanan inflasi dapat diminimumkan. Jika kenaikan Umk tidak diimbangi kenaikan produktivitas maka timbul inflastionary gap karena AD > AS.

42 Pelaksanaan kebijaksanaan memerangi inflasi mengalami trade off karena selalu meningkatkan pengangguran. Penurunan AD jelas membatasi pertambahan pembiayaan investasi  pertumbuhan kesempatan kerja juga dibatasi. OKI kebijaksanaan-kebijaksanaan anti inflasi biasanya juga dibarengi dengan kebijaksanaan yang mendorong investasi. Misalnya dibarengi dengan kebijaksanaan perpajakan yang lebih menggairahkan kegiatan usaha. Pada tingkat tertentu, inflasi ditolerir agar usaha-usaha meluaskan kesempatan kerja terganggu.

43 Strategi pengendalian inflasi di Peru (Amerika Latin) sejak dipimpin Presiden Alan Garcia (1985) intinya terletak pada: 1.Control  terutama pada komoditi/jasa strategis 2.Spanding  pengeluaran pemerintah terutama diberikan pada kelompok miskin, peningkatan upah riil  AD meningkat  skala produksi nasional optimal  AC menurun  harga menurun. Untuk mendukung spanding pada kelompok miskin, pemerintah melakukan devisit spanding  output meningkat harga turun. Hal ini dapat menurunkan inflasi dari 250% (1985) menjadi tinggal 2 digit  Presiden Garcia jadi populer. Di Indonesia P. Harto pernah melakukan pengeluaran buat ekonomi lemah melalui koperasi yang diambilkan dari konglomerat. Hal ini lumayan dapat menekan inflasi.

44 Efektifitas Kebijakan moneter dl mengendalikan inflasi tergantung: 1. tingkat monetisasi uang 2. parah tidaknya tingkat inflasi 3. Ekspektasi masyarakat 4. time lag

45 F. Efek Sosial Ekonomi Yang Ditimbulkan Inflasi 1. Distorsi dalam pola investasi. a. Inflasi menyebabkan  mempertahankan saldo uang jadi lebih mahal oleh karena daya belinya menurun  shg saldo uang dikonversikan dalam bentuk pembelian barang, harta tetap, perhiasan dan bentuk harta-harta lain yang umumnya tidak produktif  investasi bergeser ke yg tak produktif b. Inflasi juga menyebabkan banyak pihak lebih menyukai investasi dalam harta-harta keuangan (financial investment) yang dapat lebih cepat menghasilkan pendapatan dari pada investasi fisik yang pendapatannya mungkin lebih rendah/lambat. Adanya ekspektasi bahwa harga-harga akan terus naik sebagai akibat proses inflasi, kecenderungan spekulatif berkembang sehingga kegiatan-kegiatan untuk investasi yang produktif menjadi berkurang  portofolio bergeser ke yg spekulatif

46 2. Redistribusi Pendapatan (income) Terjadi redistribusi pendapatan dari pihak-pihak berpendapatan tetap ke pihak-pihak yang berpendapatan naik akibat inflasi yaitu pemodal-pemodal dan pengusaha-pengusaha yang memperoleh pendapatan dari keuntungan usaha.Org yg berpendapatn tetap rugi krn harga2 meningkat sesuai dg Sp & Dp sedang upah tetap.Orang yg menyimpan aset likuid juga mengalami penurunan dy beli riil, sed org yg pegang aset fisik untung 3. Redistribusi Kekayaan (asset) Inflasi menyebabkan terjadinya redistribusi kekayaan dari kreditur kedebitur yaitu dari pihak yang memberikan utang kepada pihak yang berutang, atas dasar asumsi bahwa tingkat bunga tidak sejajar kenaikannya dengan kenaikan tingkat harga (yg lebih tinggi). Pemegang-pemegang obligasi pemerintah yang diberikan bunga yang tetap pada saat inflasi mengalami penurunan nilai riil harga keuangan mereka sedangkan pihak pemerintah yang telah menggunakan pinjaman obligasi ini dan telah menggunakan pinjaman ini untuk membiayai investasi fisik memperoleh kenaikan nilai kekayaan.

47 Jika harga2 dl sektor industri meningkat (gula, pupuk), sed harga di pertanian tetap  TOT pertanian menurun Jika harga2 dl sektor industri meningkat lebih cepat dp sektor pertanian  kekayaan org yg bekerja di sektor meningkat scr relatif thd org yg bekerja di pertanian.

48 4. Mengganggu Neraca Pembayaran. Inflasi menyebabkan harga-harga barang ekspor naik sehingga kurang bersaing di pasaran internasional. Kalau ekspor turun disebabkan hal ini, cateris paribus, maka posisi neraca pembayaran luar negeri akan menjadi terganggu (defisit).

49 Dampak lain dari inflasi Inflasi tinggi dpt menyebabkn balas jasa riil thd aset finansiil domestik menjadi lebih rendah Daya saing brg Xp menurun Defisit transaksi berjalan Meningktkn utang LN Memperburuk distribusi pendapatn Capital flght Kenaikan tingkt bunga nominal


Download ppt "INFLASI Oleh: Dr. A. Zainuri, M.Si. UNIVERSITAS JEMBER 2015."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google