Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Demila Syukrina Syarifah Uswatun Hasanah Ega Pamesa Tisri Yolandari Nurul Fatia.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Demila Syukrina Syarifah Uswatun Hasanah Ega Pamesa Tisri Yolandari Nurul Fatia."— Transcript presentasi:

1 Demila Syukrina Syarifah Uswatun Hasanah Ega Pamesa Tisri Yolandari Nurul Fatia

2 Apa itu periode post partum??? A A Postpartum adalah masa dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, berlangsung kira-kira 6 minggu. Periode postpartum Periode immediate postpartum atau kala 4 (1 jam pertama) Periode early postpartum (minggu pertama) Periode late postpartum (minggu ke 2 sampai ke 6) Periode postpartum Periode immediate postpartum atau kala 4 (1 jam pertama) Periode early postpartum (minggu pertama) Periode late postpartum (minggu ke 2 sampai ke 6)

3 Fisiologi Pada Periode Post Partum 1.Perubahan Fisik a. Sistem Reproduksi Dan Struktur Terkait Uterus Proses Involusi: proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Fundus turun sekitar 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari pasca partum keenam fundus normal akan berada dipertengahan antara umbilicus dan simfisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum. Kontraksi: Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir. Selama 1-2jam pertama pascapartum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Afterpains: Rasa nyeri setelah melahirkan ini lebih nyata setelah ibu melahirkan, ditempat uterus terlalu teregang 1.Perubahan Fisik a. Sistem Reproduksi Dan Struktur Terkait Uterus Proses Involusi: proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Fundus turun sekitar 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari pasca partum keenam fundus normal akan berada dipertengahan antara umbilicus dan simfisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum. Kontraksi: Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir. Selama 1-2jam pertama pascapartum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Afterpains: Rasa nyeri setelah melahirkan ini lebih nyata setelah ibu melahirkan, ditempat uterus terlalu teregang

4 Tempat Plasenta Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, konstriksi vascular dan thrombosis menurunkan tempat plasenta kesuatu area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. Regenerasi endometrium selesai pada akhir minggu ketiga masa pascapartum Lokia a)Lochea rubra (Cruenta ): berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dam mekonium, selama 2 hari post partum. b)Lochea serosa : berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke post partum c)Lochea alba : cairan putih, setelah 2 minggu Tempat Plasenta Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, konstriksi vascular dan thrombosis menurunkan tempat plasenta kesuatu area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. Regenerasi endometrium selesai pada akhir minggu ketiga masa pascapartum Lokia a)Lochea rubra (Cruenta ): berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dam mekonium, selama 2 hari post partum. b)Lochea serosa : berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke post partum c)Lochea alba : cairan putih, setelah 2 minggu Cont’

5

6 Topangan Otot Panggul Struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cedera sewaktu melahirkan. Penopang dasar panggul yang terobek atau teregang saat melahirkan memerlukan waktu sampai enam bulan untuk kembali ke tonus semula. Topangan Otot Panggul Struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cedera sewaktu melahirkan. Penopang dasar panggul yang terobek atau teregang saat melahirkan memerlukan waktu sampai enam bulan untuk kembali ke tonus semula. Cont’ b. Sistem Endokrin Hormone Plasenta Kadar estrogen dan progeteron menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pascapartum. Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan hormone human placental lactogen (hPL), estrogen, dan kortisol, serta placental enzyme insulinase

7 Hormone Hipofisis dan Fungsi Ovarium Pada wanita menyusui, kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah melahirkan. Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap kali menyusui, dan banyak makanan tambahan yang diberikan. Hormone Hipofisis dan Fungsi Ovarium Pada wanita menyusui, kadar prolaktin tetap meningkat sampai minggu keenam setelah melahirkan. Kadar prolaktin serum dipengaruhi oleh kekerapan menyusui, lama setiap kali menyusui, dan banyak makanan tambahan yang diberikan. c. Abdomen Dihari pertama setelah melahirkan, abdomennya akan menonjol Dalam dua minggu setelah melahirkan, dinding abdomen wanita itu akan rileks. Diperlukan sekitar enam minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hamil. Pengembalian tonus otot tergantung pada kondisi tonus sebelum hamil, latihan fisik yang tepat dan jumlah cairan lemak.

8 Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Diperlukan kira-kira 2-8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan sebelum hamil. BUN(blood urea nitrogen), yang meningkat selama masa pascapartum, merupakan akibat otolisis uterus yang berinvolusi. Pemecahan kelebihan protein di dalam sel otot uterus juga menyebabkan proteurinea ringan (+1) selama 1-2 hari setelah wanita melahirkan. d. Sistem Urinarius Komponen Urin

9 Dalam 12 jam setelah melahirkan, ibu mulai membuang kelebihan cairan yang tertimbun di jaringan selama ia hamil. Diuresis pascapartum yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tungkai bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, merupakan mekanisme lain tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Dalam 12 jam setelah melahirkan, ibu mulai membuang kelebihan cairan yang tertimbun di jaringan selama ia hamil. Diuresis pascapartum yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tungkai bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, merupakan mekanisme lain tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Trauma terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan, Dinding kandung kemih dapat mengalami hiperemesis dan edema, seringkali disertai daerah-daerah kecil hemoragi. Pada masa pascapartum tahap lanjut, distensi yang berlebihan ini dapat menyebabkan kandung kemih lebih peka terhadap infeksi sehingga mengganggu proses berkemih normal. Trauma terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan, Dinding kandung kemih dapat mengalami hiperemesis dan edema, seringkali disertai daerah-daerah kecil hemoragi. Pada masa pascapartum tahap lanjut, distensi yang berlebihan ini dapat menyebabkan kandung kemih lebih peka terhadap infeksi sehingga mengganggu proses berkemih normal. Uretra dan Kandung Kemih Diuresis Pascapartum

10 Nafsu Makan - Ibu biasanya lapar setelah melahirkan, sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan. Motilitas - Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Defekasi - Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum Nafsu Makan - Ibu biasanya lapar setelah melahirkan, sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan. Motilitas - Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Defekasi - Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum e. Sistem Cerna

11 f. Payudara Perubahan yang terjadi yaitu : Penurunan kadar progesteron secara cepat dengan peningkatan hormon prolaktin setelah persalinan Kolostrum sudah ada saat persalinan produksi Asi terjadi pada hari ke-2 atau hari ke-3 setelah persalinan. Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses laktasi f. Payudara Perubahan yang terjadi yaitu : Penurunan kadar progesteron secara cepat dengan peningkatan hormon prolaktin setelah persalinan Kolostrum sudah ada saat persalinan produksi Asi terjadi pada hari ke-2 atau hari ke-3 setelah persalinan. Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses laktasi g. Sistem Kardiovaskuler Volume darah Pada minggu ketiga dan keempat setelah bayi lahir, volume darah biasanya menurun sampai mencapai mencapai volume sebelum hamil. Cont’

12 Curah jantung Segera setelah wanita melahirkan, curah jantung akan meningkat bahkan lebih tinggi selama menit karena darah yang biasanya melintasi sirkuit uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum. Nilai curah jantung normal ditemukan, bila pemerikasaan dilakukan 8-10 minggu setelah wanita melahirkan. Curah jantung Segera setelah wanita melahirkan, curah jantung akan meningkat bahkan lebih tinggi selama menit karena darah yang biasanya melintasi sirkuit uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum. Nilai curah jantung normal ditemukan, bila pemerikasaan dilakukan 8-10 minggu setelah wanita melahirkan. Komponen darah a.Ht dan Hb: Ht dan Hb↑ pada hari ketiga sampai hari ketujuh pascapartum. b.Hitung sel darah putih: Selama hari pertama setelah bayi lahir, nilai leukosit antara dan /mm³ merupakan hal umum. c.Factor koagulasi - Factor-faktor pembekuan dan fibrinogen biasanya meningkat pada awal peuerperium. Keadaan hiperkoagulasi, yang bisa diiringi kerusakan pembuluh darah dan mobilitas, mengakibatkan peningkatan risiko tromboembolisme, terutama setelah wanita melahirkan secara sesaria.

13 Varises Varises di tungkai dan di sekitar anus (hemoroid) sering dijumpai pada wanita hamil. Varises, bahkan varises vulva yang jarang dijumpai, akan mengecil dengan cepat setelah bayi lahir. h.Sistem Neurologi Rasa baal dan kesemutan (tingling) periodic pada jari yang dialami 5% wanita hamil biasanya hilang setelah anak lahir, Nyeri kepala pascapartum bisa disebabkan berbagai keadaan, termasuk hipertensi akibat kehamilan (HIP), stress, dan kebocoran cairan serebrospinalis ke dalam ruang ekstradural selama jarum epidural diletakkan di tulang punggung untuk anesthesia. h.Sistem Neurologi Rasa baal dan kesemutan (tingling) periodic pada jari yang dialami 5% wanita hamil biasanya hilang setelah anak lahir, Nyeri kepala pascapartum bisa disebabkan berbagai keadaan, termasuk hipertensi akibat kehamilan (HIP), stress, dan kebocoran cairan serebrospinalis ke dalam ruang ekstradural selama jarum epidural diletakkan di tulang punggung untuk anesthesia. Cont’

14 i. Sistem Muskuloskeletal Ambulasi pada umumnya dimulai 4 – 8 jam post partum. Ambulasi dini sangat membantu untuk mencegah komplikasi dan mempercepat proses involusi. i. Sistem Muskuloskeletal Ambulasi pada umumnya dimulai 4 – 8 jam post partum. Ambulasi dini sangat membantu untuk mencegah komplikasi dan mempercepat proses involusi. j. Sistem Integumen Kloasma pada masa hamil biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar, tetapi tidak hilang seluruhnya. Spider angioma (nevi), eritema palmar, dan epulis biasanya berkurang sebagai respons terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakhir. Rambut halus yang tumbuh lebat waktu hamil biasanya akan menghilang setelah wanita melahirkan, tetapi rambut kasar yang timbul sewaktu hamil biasanya akan menetap. j. Sistem Integumen Kloasma pada masa hamil biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir. Kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar, tetapi tidak hilang seluruhnya. Spider angioma (nevi), eritema palmar, dan epulis biasanya berkurang sebagai respons terhadap penurunan kadar estrogen setelah kehamilan berakhir. Rambut halus yang tumbuh lebat waktu hamil biasanya akan menghilang setelah wanita melahirkan, tetapi rambut kasar yang timbul sewaktu hamil biasanya akan menetap.

15 Perawatan Di Rumah Pada Pasien Post Partum Memulangkan pasien dalam waktu 48 jam atau kurang dari 48 jam setelah pasien melahirkan. B B Pemulangan post partum dini ???

16 IBUBAYIUMUM Kehamilan, persalinan,kelahiran, dan masa pascapartum tanpa komplikasi Tidak ada bukti ketuban pecah dini Tekanan darah normal, suhu tubuh <38ºC Mampu berjalan sendiri Mampu buang air kecil tanpa kesulitan Perineum utuh tanpa robekan perineum Hemoglobin >10 g Tidak ada perdarahan pervaginam yang berarti Bayi aterm (38-41 minggu) dengan berat g Temuan normal pengkajian fisik dilakukan oleh dokter Data laboratorium normal, termasuk Coombs negative dan hematokrit 40%-65% Tanda-tanda vital stabil Temperature stabil Makan dengan baik Nilai Apgar >7 pada menit pertama dan kelima Berkemih dan defekasi normal Tes skrining tiroid dan Fenilketonuria (PKU) telah dilakukan, tes PKU ulang dijdwalkan pada minggu kedua. Menghadiri kelas perawatan bayi dan ibu dgn menekankan masalah perawatan di rumah pada minggu pertama Kehadiran seseorang yang mendukung di rumah untuk membantu perawatan Ada strategi untuk tindak lanjut Kehamilan, persalinan, kelahiran, dan masa pascapartum tanpa komplikasi, baik pada ibu maupun pada bayi Ibu mendemonstrasikan keterampilan pemberian makan, perawatan kulit dan tali pusat, mengukur temperature dengan thermometer, memeriksa keadaan bayi dan tanda penyakit serta member perawatan kedaruratan.

17 1. Memperkuat konsep kelahiran sebagai peristiwa fisiologis yang normal 4. Memberi rasa aman 5. Mengurangi pajanan pathogen yang tidak perlu di lingkungan rumah sakit 2. Mempersingkat masa pisah antara ibu dan anak yang lain 3. Memperluas kemampuan kontrol dan partisipasi pasangan setelah kelahiran

18 6. Membuat tempat tidur di layanan maternitas dipakai dengan lebih efektif 9. Menciptakan gangguan yang lebih sedikit dalam kehidupan sehari-hari keluarga 7. Meningkatkan jumlah kelahiran tanpa penggunaan obat 8. Membuat ibu/ayah/pasangan/bayi dan anggota keluarga lain memiliki lebih banyak waktu bersama Cont’

19 1. Ibu/pasangan tidak banyak mempelajari tentang perawatan bayi 2. Orang tua mengalami masa transisi kehidupan, dapat menimbulkan stress pada masa pascapartum 3. Adanya resiko komplikasi yang tidak terdeteksi dan serangan penyakit yang potensial dan potensi krisis Kerugian pemulangan dini

20 Alur perawatan menggambarkan apa yang harus terjadi pada rencana pengajaran/pemulangan pada waktu tertentu Alur perawatan memberi arah yang jelas untuk mengordinasi perawatan, mengajarkan informasi yang penting Alur perawatan menyiapkan ibu pascapartum untuk pulang, dan mendukung orangtua untuk bisa mandiri.

21 1.Demam dengan atau tanpa menggigil 2.Bau rabas vagina yang tidak enak atau mengiritasi 3.Lokia atau rabas vagina keluar secara berlebihan 4.Lokia kembali berwarna merah terang setelah setelah sebelumnya berwarna merah karat 5.Daerah tungkai bawah membengkak, nyeri, kemerahan, atau panas jika disentuh 6.Pembengkakan yang terlokalisasi atau rasa nyeri, panas di payudara 7.Suatu sensasi terbakar selama berkemih atau tidak bisa berkemih 8.Nyeri di pelvis atau perineum Tanda bahaya post partum (fisik)

22 1.Pengkajian post partum berfokus: Fisiologis dan psikologis ibu Tingkat kenyamanannya Kurangnya pengetahuan terkait kesiapan untuk belajar, perilaku bonding, dan penyesuaian terhadap transisi 2. Perawat bisa memakai data pengkajian untuk membantu menetapkan bahwa kriteria untuk pulang dini telah dipenuhi, sehingga dapat melindungi ibu dan bayi 1.Pengkajian post partum berfokus: Fisiologis dan psikologis ibu Tingkat kenyamanannya Kurangnya pengetahuan terkait kesiapan untuk belajar, perilaku bonding, dan penyesuaian terhadap transisi 2. Perawat bisa memakai data pengkajian untuk membantu menetapkan bahwa kriteria untuk pulang dini telah dipenuhi, sehingga dapat melindungi ibu dan bayi 1. Pengkajian

23 1.Perubahan pemeliharaan kesehatan b.d. kurang pengetahuan tentang tanda- tanda komplikasi 2.Ansietas b.d. merasa kurang siap untuk pulang dengan cepat 3.Menyusui tidak efektif b.d. pengetahuan tidak adekuat atau dukungan yang kurang 4.Koping keluarga tidak efektif b.d. disorganisasi dan perubahan peran setelah pulang dan menjadi orangtua 5.Keletihan b.d. kurang kesempatan untuk beristirahat selama periode inap yang singkat di rumah sakit 6.Risiko tinggi perubahan menjadi orangtua b.d. kurang pengetahuan dan harapan yang tidak realistis 2. Diagnosa

24 1.Ibu pascapartum akan mengalami pemulihan fisiologis tanpa komplikasi 2.Ibu tidak akan mengalami komplikasi dalam proses penyesuaian psikologis menjadi orangtua 3.Ibu pascapartum akan menyebutkan pengetahuan dasar yang akurat dan/atau mendemonstrasikan perawatan yang tepat untuk dirinya dan bayinya. 4.Ibu akan menyebutkan satu persatu sumber yang tersedia untuk memperoleh dukungan dan perawatan di rumah dan cara untuk memperolehnya 5.Orangtua yang baru akan mendemonstrasikan instruksi yang positif terhadap satu sama lain, dan anggota keluarga lain 6.Ibu pascapartum akan menghadiri kelas persiapan pulang dini dan akan dijadwalkan menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah 3. Hasil akhir yang diharapkan

25 a.Perawat melakukan peran sebagai perawat dan pengajar dalam mempersiapkan ibu dan keluarganya untuk pulang lebih cepat. b.Perawat mengetahui alternative perawatan lanjutan di rumah, yang tersedia untuk pasien pascapartum dan membuat rujukan yang tepat. c.Perawatan pascapartum di rumah melanjutkan kelangsungan perawatan setelah pasien pulang dalam berbagai bentuk dan cara: konseling suportif, pengajaran, perujukan, yang didasarkan pada tamabahan berkelanjutan ke dalam data dasar. 4. Perawatan kolaboratif

26 1. Wanita pascapartum mengalami pemulihan fisiologis tanpa komplikasi dan penyesuaian psikologis untuk menjadi orangtua 2. Ia mengemukakan suatu pengetahuan dasar yang akurat dan/atau mendemonstrasikan perawatan diri dan perawatan bayi yang memadai 3. Ia menyebutkan satu persatu sumber yang tersedia untuk memperoleh dukungan dan perawatan di rumah dan cara untuk memperolehnya 4. Orangtua baru menunjukkan interaksi positif terhadap satu sama lain, bayi baru lahir, dan anggota keluarga lain 5. Ibu pascapartum telah menghadiri kelas persiapan pulang dini dan telah dijadwalkan untuk mendapat pemeriksaan lanjutan di rumah 5. Evaluasi

27 a.Kunjungan rumah menjadi bagian dari layanan rumah sakit, dokter pribadi, departemen kesehatan masyarakat, atau suatu badan pribadi yang khusus memberi pelayanan di rumah untuk pasien maternitas. b.Kunjungan rumah direncanakan untuk bekerjasama dengan keluarga dan dijadwalkan berdasarkan kebutuhan. c.Kunjungan bisa dilakukan sejak 24 jam setelah pulang dan kontrak selanjutnya sesuai kebutuhan a.Kunjungan rumah menjadi bagian dari layanan rumah sakit, dokter pribadi, departemen kesehatan masyarakat, atau suatu badan pribadi yang khusus memberi pelayanan di rumah untuk pasien maternitas. b.Kunjungan rumah direncanakan untuk bekerjasama dengan keluarga dan dijadwalkan berdasarkan kebutuhan. c.Kunjungan bisa dilakukan sejak 24 jam setelah pulang dan kontrak selanjutnya sesuai kebutuhan 1. Kunjungan rumah

28 2. Pengkajian 1.perawat melakukan pengkajian yang sistematis terhadap ibu dan bayi yang baru lahir untuk menentukan penyesuaian fisiologis dan untuk mengidentifikasi setiap komplikasi yang potensial. 2.Pengkajian difokuskan pada penyesuaian emosional ibu, termasuk faktor-faktor keseimbangan (persepsi, koping, dan dukungan) yang mencegah krisis dan pengetahuan ibu tentang perawatan diri sendiri dan perawatan bayi. 3.Idealnya, ayah juga hadir saat kunjungan rumah dilakukan, 4.Menjadi kesempatan bagi perawat untuk mengobservasi interaksi di antara anggota keluarga yang hadir di dalam rumah tangga mereka sendiri. 1.perawat melakukan pengkajian yang sistematis terhadap ibu dan bayi yang baru lahir untuk menentukan penyesuaian fisiologis dan untuk mengidentifikasi setiap komplikasi yang potensial. 2.Pengkajian difokuskan pada penyesuaian emosional ibu, termasuk faktor-faktor keseimbangan (persepsi, koping, dan dukungan) yang mencegah krisis dan pengetahuan ibu tentang perawatan diri sendiri dan perawatan bayi. 3.Idealnya, ayah juga hadir saat kunjungan rumah dilakukan, 4.Menjadi kesempatan bagi perawat untuk mengobservasi interaksi di antara anggota keluarga yang hadir di dalam rumah tangga mereka sendiri.

29 Cont’

30 Rahim Fundus keras, turun lebih randah dan umbilicus sekitar 1 cm/hari Usus dan kandung kemih Memulai kembali pola defekasi yang biasa Ukuran hemoroid (jika ada) berkurang, tidak menyebabkan nyeri Memulai berkemih yang biasa, tidak ada rasa seperti terbakar atau kesukaran untuk mulai berkemih Lokia Menunjukkan kemajuan involusi normal : jumlah rubra, serosa, alba berkurang- bau daging normal, tidak ada bekuan Insisi : di perineum atau abdomen Episiotomy (jika ada) dalam keadaan baik, tidak ada kemerahan, edema, ekinosis, nanah, atau nyeri bila ditekan Insisi sesaria (jika ada) bersih, kering, baik, staple kulit, jahitan, atau Strei- strips utuh (jika masih ada), bukti adanya proses pemulihan normal Tungkai Tidak nyeri tekan, tanda Homan negative pada kedua sisi Cont’

31 Adaptasi Fisiologis Bayi 1.Suhu Temperature (36,5ºC-37,2ºC) pada aksila 2. Denyut jantung x/menit, kuat, regular, variasi normal jika melakukan aktivitas 3.Pernapasan x/menit, bunyi pernapasan normal, ritme tidak regular, tidak ada retraksi atau rintihan, variasi normal saat melakukan aktivitas 4.Kulit Hangat, turgor baik, tidak ada ruam 5.Kepala Simetris, dengan fontanel datar, molase atau kaput berkurang, tidak ada hematoma 6.Abdomen Lunak, tidak distensi, bunyi usus terdengar 7.Warna Konsisten dengan latar belakangras, tidak ada ikterik 8.Aktivitas Sadar disertai tonus otot yang baik, menggerakkan semua anggota gerak dengan normal 1.Suhu Temperature (36,5ºC-37,2ºC) pada aksila 2. Denyut jantung x/menit, kuat, regular, variasi normal jika melakukan aktivitas 3.Pernapasan x/menit, bunyi pernapasan normal, ritme tidak regular, tidak ada retraksi atau rintihan, variasi normal saat melakukan aktivitas 4.Kulit Hangat, turgor baik, tidak ada ruam 5.Kepala Simetris, dengan fontanel datar, molase atau kaput berkurang, tidak ada hematoma 6.Abdomen Lunak, tidak distensi, bunyi usus terdengar 7.Warna Konsisten dengan latar belakangras, tidak ada ikterik 8.Aktivitas Sadar disertai tonus otot yang baik, menggerakkan semua anggota gerak dengan normal

32 9.Tali pusat Atrofi normal, dasar kering tanpa kemerahan, tidak ada bau yang tidak seharusnya 10.Sirkumsisi Bel terpasang (jika ada), bersih dan memulih, tidak ada darah, aliran urin normal 11.Eliminasi Mengompol setidaknya 6-10 popok/hari, warna, jumlah, dan konsistensi tinja sesuai makanan 12.Pola tidur Tidur dengan baik 13.Pemberian makan Mengisap dengan baik tanpa ada yang keluar Bersendawa dengan baik Lama menyusui (jika dilakukan) sesuai rekomendasi Jumlah formula tiap kali makan sesuai rekomendasi 9.Tali pusat Atrofi normal, dasar kering tanpa kemerahan, tidak ada bau yang tidak seharusnya 10.Sirkumsisi Bel terpasang (jika ada), bersih dan memulih, tidak ada darah, aliran urin normal 11.Eliminasi Mengompol setidaknya 6-10 popok/hari, warna, jumlah, dan konsistensi tinja sesuai makanan 12.Pola tidur Tidur dengan baik 13.Pemberian makan Mengisap dengan baik tanpa ada yang keluar Bersendawa dengan baik Lama menyusui (jika dilakukan) sesuai rekomendasi Jumlah formula tiap kali makan sesuai rekomendasi Cont’

33 Penyesuaian Efektif Menjadi Orangtua Orangtua berinteraksi dengan BBL dengan penuh kasih sayang Perilaku orangtua mencerminkan apresiasi sensoris dan kapasitas perilaku bayi Orangtua berespons terhadap tanda-tanda dan bayi Orangtua menyatakan percaya diri dan semakin terampil dalam merawat bayi Orangtua mengidentifikasi penyimpangan dari keadaan normal pada bayi, yang harus segera mendapat perhatian dokter

34 Orangtua berhubungan secara efektif dengan keluarga BBL Orangtua menjelaskan atau mendemonstrasikan prosedur dalam keadaan darurat dan menyebutkan tindakan untuk mengkaji keadaan kedaruratan Orangtua berinteraksi dengan cara yang suportif Orangtua bekerjasama secara efektif satu sama lain dalam merawat BBL dan anaka yang lain Orangtua tidak hanya menemukan faktor-faktor yang membuat stress dan menantang, tetapi juga yang positif atau yang menggembirakan Cont’

35 Intervensi perawatan selama kunjungan rumah berupa: konseling suportif, pedoman petunjuk, pengajaran atau rujukan, and perawatan fisik berupa program dokter, seperti mengangkat jahitan, mengganti kasa pembalut, fototerapi untuk bayi, dan sebagainya. 3. Intervensi

36 a.Intervensi prakunjungan 1.kontak keluarga untuk mengatur detil kunjungan rumah. Perkenalkan diri dan identitas dan lembaga yang diwakili Tinjau kembali tujuan tindak lanjut kunjungan rumah Jadwalkan waktu kunjungan yang membuat klien nyaman Pastikan lagi almat dan jalan kerumah keluarga tersebut 2. Tinjau kembali dan cari penjelasan tentang data yang ada Semua data pemeriksan yang ada untuk ibu dan bayi (misalnya, formulir rujukan, ringkasan keadaan ibu dan bayi selama di rumah sakit, hal-hal yang perlu dipelajari keluarga tersebut) a.Intervensi prakunjungan 1.kontak keluarga untuk mengatur detil kunjungan rumah. Perkenalkan diri dan identitas dan lembaga yang diwakili Tinjau kembali tujuan tindak lanjut kunjungan rumah Jadwalkan waktu kunjungan yang membuat klien nyaman Pastikan lagi almat dan jalan kerumah keluarga tersebut 2. Tinjau kembali dan cari penjelasan tentang data yang ada Semua data pemeriksan yang ada untuk ibu dan bayi (misalnya, formulir rujukan, ringkasan keadaan ibu dan bayi selama di rumah sakit, hal-hal yang perlu dipelajari keluarga tersebut) Tinjau kembali semua catatan kontak dengan perawat sebelumnya Kontak pemberi perawatan professional yang diperlukan untuk mencari penjelasan ata (misalnya, ahli kandungan, bidan, ahli anak, perawat) 3. Identifikasi sumber-sumber dalam masyarakat dan bahan- bahan pengajaran 4. Rencanakan kunjungan dan siapkan tas dan peralatannya, bahan-bahan yang diperlukan untuk pengkajian ibu dan bayi, dan pengajaran. Tinjau kembali semua catatan kontak dengan perawat sebelumnya Kontak pemberi perawatan professional yang diperlukan untuk mencari penjelasan ata (misalnya, ahli kandungan, bidan, ahli anak, perawat) 3. Identifikasi sumber-sumber dalam masyarakat dan bahan- bahan pengajaran 4. Rencanakan kunjungan dan siapkan tas dan peralatannya, bahan-bahan yang diperlukan untuk pengkajian ibu dan bayi, dan pengajaran.

37 b. Intervensi di rumah: membina hubungan Perkenalkan diri lagi dan sebutkan tujuan kunjungan rumah pascapartum untuk ibu, bayi, dan keluarga. Beri kesempatan kepada keluarga yang dikunjungi untuk menceritakan harapan mereka dari kunjungan ini Luangkan sedikit waktu untuk bersosialisasi dengan keluarga yang dikunjungi guna mengenal dan menjalin hubungan saling percaya.

38 1.Lakukan pengkajian sistematis ibu dan BBL untuk menentukan penyesuaian fisiologis dan setiap komplikasi yang ada 2.Selama kunjungan kumpulkan data untuk mengkaji penyesuaian emosional setiap anggota keluarga terhadap BBL dan perubahan gaya hidup. Catat bukti ikatan BBL dengan keluarga dan bukti pertengkaran antara saudara (sibling rivalry). Catat hubungan antara ibu, ayah, anak-anak, kakek- nenek. c. Intervensi di rumah: bekerjasama dengan keluarga

39 3. Tentukan keadekuatan system pendukung Sampai sejauh manakah bantuan orang yang membantu memasak, membersihkan rumah, dan melakukan tugas-tugas rumah tangga lain Sejauh mana bantuan diberikan untuk merawat BBL dan anak-anak lain Apakah orang yang membantu ini mendorong ibu yang baruuntuk merawat diri dan memperoleh cukup istirahat Siapa yang memberi informasi yang membantu dan bantuan emosional 3. Tentukan keadekuatan system pendukung Sampai sejauh manakah bantuan orang yang membantu memasak, membersihkan rumah, dan melakukan tugas-tugas rumah tangga lain Sejauh mana bantuan diberikan untuk merawat BBL dan anak-anak lain Apakah orang yang membantu ini mendorong ibu yang baruuntuk merawat diri dan memperoleh cukup istirahat Siapa yang memberi informasi yang membantu dan bantuan emosional Cont’

40 4. Selama kunjungan, perhatikan lingkungan rumah tangga utnuk menentukan apakah sumber- sumber yang ada cukup : Ruang privasi, tempat yang nyaman untuk anak- anak bermain dan untuk tidur Kebersihan umum dan perhatian yang dilakukan Jumlah anak tangga yang harus dinaiki ibu baru Keadekuatan pengaturan masak Keadekuatan lemari es dan lemari makan Keadaan kamar mandi dan tempat mencuci baju Pengaturan rumah untuk bayi: tidur, mandi, persiapan formula, popok, dan kebutuhan lain Cont’

41 5.Selama kunjungan perhatikan lingkungan rumah secara umum: apakah ada perbaikan dan aspek pengamanan Penyimpanan obat, pembersih rumah tangga, dan bahan-bahan lain yangberbahaya untuk anak-anak Cat terkelupas pada peralatan, tembok, atau tiang Faktor yang membuat anak jatuh, misalnya lampu kurang terang, anak tangga rapuh, karpet robek Adanya vermin (binatang kecil, misalnya kutu) Pemakaian tempat tidur atau bermain bayi yang tidak memenuhi standar keamanan Alat-alat darurat jika terjadi kebakaran 5.Selama kunjungan perhatikan lingkungan rumah secara umum: apakah ada perbaikan dan aspek pengamanan Penyimpanan obat, pembersih rumah tangga, dan bahan-bahan lain yangberbahaya untuk anak-anak Cat terkelupas pada peralatan, tembok, atau tiang Faktor yang membuat anak jatuh, misalnya lampu kurang terang, anak tangga rapuh, karpet robek Adanya vermin (binatang kecil, misalnya kutu) Pemakaian tempat tidur atau bermain bayi yang tidak memenuhi standar keamanan Alat-alat darurat jika terjadi kebakaran Cont’

42 6.Beri perawatan untuk ibu dan BBL sesuai program dokter keluarga atau protocol rumah sakit 7.Beri penyuluhan sesuai kebutuhan yang diidentifikasi 8.Rujuk keluarga ke sumber masyarakat yang sesuai: sambungan telepon penting dan kelompok pendukung 9.Pastikan ibu tahu masalah potensial yang perlu diperhatiikan dansiapa yang harus dihubungi bila terjadi. 10.Pastikan benda-benda sekali pakai bekas dibuang dengan benar dan benda yang dapat kembali dipakai dibersihkan dan disimpan dengan baik di dalam tas perawat. 6.Beri perawatan untuk ibu dan BBL sesuai program dokter keluarga atau protocol rumah sakit 7.Beri penyuluhan sesuai kebutuhan yang diidentifikasi 8.Rujuk keluarga ke sumber masyarakat yang sesuai: sambungan telepon penting dan kelompok pendukung 9.Pastikan ibu tahu masalah potensial yang perlu diperhatiikan dansiapa yang harus dihubungi bila terjadi. 10.Pastikan benda-benda sekali pakai bekas dibuang dengan benar dan benda yang dapat kembali dipakai dibersihkan dan disimpan dengan baik di dalam tas perawat. Cont’

43 1.Ulas secara ringkas aktivitas dan hal-hal penting kunjungan 2.Klasifikasi harapan untuk masa yang akan datang, termasuk jadwal kunjungan berikutnya 3.Tinjau kembali rencana penyuluhan, buat kerangka tulisan 4.Beri informasi cara mengunjungi perawat atau lembaga, jika diperlukan sebelum jadwal kunjungan berikutnya 1.Dokumentasikan kunjungan, gunakan formulir klinik sebagai catatn sah dan bukti penggantian biaya 2.Susun rencana pengajaran yang akan menjadi dasar pertemuan berikutnya dengan pasien/keluarga 3.Komunikasikan sesuai kebutuhan (melalui telepon, surat, catatan kemajuan, atau formulir rujukan) dengan dokter, professional kesehatan lain, atau lembaga rujukan sebagai perwakilan pasien/keluarga 1.Dokumentasikan kunjungan, gunakan formulir klinik sebagai catatn sah dan bukti penggantian biaya 2.Susun rencana pengajaran yang akan menjadi dasar pertemuan berikutnya dengan pasien/keluarga 3.Komunikasikan sesuai kebutuhan (melalui telepon, surat, catatan kemajuan, atau formulir rujukan) dengan dokter, professional kesehatan lain, atau lembaga rujukan sebagai perwakilan pasien/keluarga d. Intervensi di rumah: akhir kunjungan e. Intervensi pasca kunjungan

44 Perawat harus membuat dokumentasi hasil temuan pengkajian dan semua intervensi yang dilakukan. Termasuk konseling dan pengajaran. Dokumentasi semacam ini tidak hanya berfungsi sebgai catatan hukum pada setiap kunjungan, tetapi juga untuk mendapatkan penggantian dana yang sesuai. 4. Dokumentasi

45 Tindak lanjut melalui telepon berupa dialog terapeutik antara perawat dan pasien, dilakukan melalui telepon untuk memeriksa pasien, memberi penyuluhan kesehatan, mengidentifikasi komplikasi untuk memperoleh intervensi yang tepat. Selama tindak lanjut melalui telepon ini, perawat akan mengajukan pertanyaan dengan tujuan:  Untuk menentukan pemulihan fisiologis, rasa nyeri dan istirahat  Untuk menentukan kesehatan psikologi ibu, termasuk faktor- faktor keseimbangan pencegahan krisis  Untuk menentukan bukti-0bukti terpilih akibat adaptasi fisiologis pada BBL 5. Tindak lanjut melalui telepon

46  Untuk menegakkan tingkat penyesuaian orangtua terhadap keadaan menjadi orangtua dan stress yang timbul pada awal trimester keempat.  Untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran keluarga  Untuk menentukan sejauhmana suatu hubungan telah terjalin antara BBL, saudara kandung, orangtua dan kakek nenek  Untuk menggali hal-hal yang menimbulkan kekhawatiran atau tantangan khusus  Untuk menegakkan tingkat penyesuaian orangtua terhadap keadaan menjadi orangtua dan stress yang timbul pada awal trimester keempat.  Untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran keluarga  Untuk menentukan sejauhmana suatu hubungan telah terjalin antara BBL, saudara kandung, orangtua dan kakek nenek  Untuk menggali hal-hal yang menimbulkan kekhawatiran atau tantangan khusus Keuntungan dan kerugian pembicaraan telepon: Telepon lebih hemat dari kunjungan rumah, tetapi terbatas karena sifat pemeriksaan yang dilakukan tidak langsung. Jika persepsi ibu tentang keadaannya /bayinya tidak akurat atau salah dilaporkan, masalah yang timbul menjadii tidak diketahuidan intervensi tidak didukungdata yang relevan, Keuntungan dan kerugian pembicaraan telepon: Telepon lebih hemat dari kunjungan rumah, tetapi terbatas karena sifat pemeriksaan yang dilakukan tidak langsung. Jika persepsi ibu tentang keadaannya /bayinya tidak akurat atau salah dilaporkan, masalah yang timbul menjadii tidak diketahuidan intervensi tidak didukungdata yang relevan, Cont’

47 Infeksi adalah berhubungan dengan berkembang-biaknya mikroorganisme dalam tubuh manusia yang disertai dengan reaksi tubuh terhadapnya (Zulkarnain Iskandar, 1998 ). Infeksi pascapartum (sepsis puerperal atau demam setelah melahirkan) ialah infeksi klinis pada saluran genital yang terjadi dalam 28 hari setelah abortus atau persalinan (Bobak, 2004). Infeksi Puerperal adalah infeksi dari saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau aborsi. Infeksi adalah berhubungan dengan berkembang-biaknya mikroorganisme dalam tubuh manusia yang disertai dengan reaksi tubuh terhadapnya (Zulkarnain Iskandar, 1998 ). Infeksi pascapartum (sepsis puerperal atau demam setelah melahirkan) ialah infeksi klinis pada saluran genital yang terjadi dalam 28 hari setelah abortus atau persalinan (Bobak, 2004). Infeksi Puerperal adalah infeksi dari saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau aborsi. Infeksi Post Partum C C a. Apa itu infeksi post partum??

48 Gejalanya berupa: menggigil sakit kepala merasa tidak enak badan wajah pucat denyut jantung yang cepat peningkatan jumlah sel darah putih rahimnya lunak, membengkak dan nyeri bila ditekan cairan yang keluar dari rahim berbau busuk Gejalanya berupa: menggigil sakit kepala merasa tidak enak badan wajah pucat denyut jantung yang cepat peningkatan jumlah sel darah putih rahimnya lunak, membengkak dan nyeri bila ditekan cairan yang keluar dari rahim berbau busuk Komplikasi: Peritonitis (peradangan selaput rongga perut) Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul), dengan resiko terjadinya emboli pulmoner Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam darah Komplikasi: Peritonitis (peradangan selaput rongga perut) Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul), dengan resiko terjadinya emboli pulmoner Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam darah Cont’

49 Infeksi terjadi setelah persalinan, kuman masuk dalam tubuh pada saat berlangsungnya proses persalinan. Misalnya saat ketuban pecah sebelum maupun saat persalinan berlangsung sehingga menjadi jembatan masuknya kuman dalam tubuh lewat rahim. Jalan masuk lainnya adalah dari penolong persalinan sendiri, seperti alat-alat yang tidak steril digunakan pada saat proses persalinan. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah : Streptococcus haemoliticus anaerobic, Staphylococcus aureus, Escherichia Coli, Clostridium Welchi Infeksi terjadi setelah persalinan, kuman masuk dalam tubuh pada saat berlangsungnya proses persalinan. Misalnya saat ketuban pecah sebelum maupun saat persalinan berlangsung sehingga menjadi jembatan masuknya kuman dalam tubuh lewat rahim. Jalan masuk lainnya adalah dari penolong persalinan sendiri, seperti alat-alat yang tidak steril digunakan pada saat proses persalinan. Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah : Streptococcus haemoliticus anaerobic, Staphylococcus aureus, Escherichia Coli, Clostridium Welchi b. Etiologi

50 1.Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. 2.Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau petugas kesehatan lainnya. 3.Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman-kuman patogen 4.Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. 1.Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. 2.Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau petugas kesehatan lainnya. 3.Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman-kuman patogen 4.Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban. c. Cara terjadinya infeksi pasca partum

51 Anemia Kontaminasi bakteri Kehilangan darah Trauma Ketuban pecah dini d. Faktor predisposisi Rubor (kemerahan), kalor (demam setempat) akibat vasodilatasi, tumor (bengkak), dan nyeri (dolor). Nyeri dan pembengkan akan mengakibatkan gangguan faal, dan reaksi umum antara lain berupa sakit kepala, demam dan peningkatan denyut jantung (Sjamsuhidajat, R. 1997). e. Manifestasi klinis

52 Reaksi tubuh dapat berupa reaksi lokal dan dapat pula terjadi reaksi umum. Pada infeksi dengan reaksi umum akan melibatkan syaraf dan metabolik pada saat itu terjadi reaksi ringan limporetikularis diseluruh tubuh, berupa proliferasi sel fagosit dan sel pembuat antibodi (limfosit B). Kemudian reaksi lokal yang disebut inflamasi akut, reaksi ini terus berlangsung selama menjadi proses pengrusakan jaringan oleh trauma. Bila penyebab pengrusakan jaringan bisa diberantas, maka sisa jaringan yang rusak disebut debris akan difagositosis dan dibuang oleh tubuh sampai terjadi resolusi dan kesembuhan. Bila trauma berlebihan, reksi sel fagosit kadang berlebihan sehingga debris yang berlebihan terkumpul dalam suatu rongga membentuk abses atau bekumpul dijaringan tubuh yang lain membentuk flegman (peradangan yang luas dijaringan ikat). (Sjamsuhidajat, R, 1997 ). f. Patofisiologi

53 1.Infeksi uterus a.Endometritis Endometritis yaitu infeksi pada endometrium atau pelapis rahim yang menjadi peka setelah lepasnya plasenta, lebih sering terjadi pada proses kelahiran caesar, setelah proses persalinan yang terlalu lama atau pecahnya membran yang terlalu dini. Juga sering terjadi bila ada plasenta yang tertinggal di dalam rahim, mungkin pula terjadi infeksi dari luka pada leher rahim, vagina atau vulva. 1.Infeksi uterus a.Endometritis Endometritis yaitu infeksi pada endometrium atau pelapis rahim yang menjadi peka setelah lepasnya plasenta, lebih sering terjadi pada proses kelahiran caesar, setelah proses persalinan yang terlalu lama atau pecahnya membran yang terlalu dini. Juga sering terjadi bila ada plasenta yang tertinggal di dalam rahim, mungkin pula terjadi infeksi dari luka pada leher rahim, vagina atau vulva. g. Jenis-jenis infeksi post partum

54 Tanda dan gejalanya akan berbeda bergantung dari asal infeksi, sedikit demam, nyeri yang samar-samar pada perut bagian bawah dan kadang-kadang keluar dari vagina berbau tidak enak yang khas Infeksi endometrium dapat dalam bentuk akut dengan gejala klinis yaitu nyeri abdomen bagian bawah, mengeluarkan keputihan, kadang-kadang terdapat perdarahan dapat terjadi penyebaran seperti meometritis (infeksi otot rahim), parametritis (infeksi sekitar rahim) Untuk mengatasinya biasanya dilakukan pemberian antibiotik, tetapi harus segera diberikan sesegera mungkin agar hasilnya efektif. Tanda dan gejalanya akan berbeda bergantung dari asal infeksi, sedikit demam, nyeri yang samar-samar pada perut bagian bawah dan kadang-kadang keluar dari vagina berbau tidak enak yang khas Infeksi endometrium dapat dalam bentuk akut dengan gejala klinis yaitu nyeri abdomen bagian bawah, mengeluarkan keputihan, kadang-kadang terdapat perdarahan dapat terjadi penyebaran seperti meometritis (infeksi otot rahim), parametritis (infeksi sekitar rahim) Untuk mengatasinya biasanya dilakukan pemberian antibiotik, tetapi harus segera diberikan sesegera mungkin agar hasilnya efektif. Cont’

55 b.Miometritis (infeksi otot rahim) Miometritis adalah radang miometrium. Gejalanya berupa demam, uterus nyeri tekan, perdarahan vaginal dan nyeri perut bawah, lokhea berbau, purulen. Metritis akut biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi postpartum. b.Miometritis (infeksi otot rahim) Miometritis adalah radang miometrium. Gejalanya berupa demam, uterus nyeri tekan, perdarahan vaginal dan nyeri perut bawah, lokhea berbau, purulen. Metritis akut biasanya terdapat pada abortus septik atau infeksi postpartum. c. Parametritis (infeksi daerah di sekitar rahim). Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di dalam lig latum Tanda dan gejala suhu tinggi dengan demam tinggi, Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan peritoneum, seperti muntah. Penyebab Parametritis yaitu : Endometritis, dari robekan serviks, perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD ) c. Parametritis (infeksi daerah di sekitar rahim). Parametritis adalah radang dari jaringan longgar di dalam lig latum Tanda dan gejala suhu tinggi dengan demam tinggi, Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan peritoneum, seperti muntah. Penyebab Parametritis yaitu : Endometritis, dari robekan serviks, perforasi uterus oleh alat-alat ( sonde, kuret, IUD )

56 2. Syok bakteremia Infeksi kritis, terutama yuang disebabkan oleh bakteri yang melepaskan endotoksin, bisa mempresipitasi syok bakteremia (septic). Demam yang tinggi dan mengigil adalh bukti patofisiologi sepsis yang serius. Kulit menjadi dingin dan lembab. Warna kulit menjadi pucat dan denyut nadi menjadi cepat. Hipotensi berat dan sianosis peripheral bisa terjadi. Begitu juga oliguria. Penatalaksanaan terpusat pada antimicrobial, dukungan oksigen untuk menghilangkan hipoksia jaringan dan dukungan sirkulasi untuk mencegah kolaps vascular. 2. Syok bakteremia Infeksi kritis, terutama yuang disebabkan oleh bakteri yang melepaskan endotoksin, bisa mempresipitasi syok bakteremia (septic). Demam yang tinggi dan mengigil adalh bukti patofisiologi sepsis yang serius. Kulit menjadi dingin dan lembab. Warna kulit menjadi pucat dan denyut nadi menjadi cepat. Hipotensi berat dan sianosis peripheral bisa terjadi. Begitu juga oliguria. Penatalaksanaan terpusat pada antimicrobial, dukungan oksigen untuk menghilangkan hipoksia jaringan dan dukungan sirkulasi untuk mencegah kolaps vascular.

57 3. Peritonitis Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Gejala-gejalanya adalah demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik Peritonitis umum disebabkan bakteri patogen menyebabkan suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin 3. Peritonitis Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Gejala-gejalanya adalah demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik Peritonitis umum disebabkan bakteri patogen menyebabkan suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin

58 4. Infeksi saluran kemih Infeksi saluran kemih (ISK) terjadi pada sekitar 10% wanita hamil, kebanyakan terjadi pada masa prenatal. Mereka yang sebelumnya mengalami ISK memiliki kecenderungan mengidap ISK lagi sewaktu hamil. Servisitis, vaginitis, obstruksi ureter yang flaksid, refluks vesikoureteral, dan trauma lahir mempredisposisi wanita hamil untuk menderita ISK 4. Infeksi saluran kemih Infeksi saluran kemih (ISK) terjadi pada sekitar 10% wanita hamil, kebanyakan terjadi pada masa prenatal. Mereka yang sebelumnya mengalami ISK memiliki kecenderungan mengidap ISK lagi sewaktu hamil. Servisitis, vaginitis, obstruksi ureter yang flaksid, refluks vesikoureteral, dan trauma lahir mempredisposisi wanita hamil untuk menderita ISK

59 5. Septicemia dan piemia Pada septicemia kuman-kuman yang ada di uterus, langsung masuk ke peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena diuterus serta sinus-sinus pada bekas tempat plasenta. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uterine, vena hipogastrika, dan/atau vena ovarii (tromboflebitis pelvika). Dari tempat- tempat thrombus itu embolus kecil yang mengandung kuman- kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus masuk keperedaran darah umum dan dibawa oleh aliran darah ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak, jantung, dan sebagainya, dan mengakibatkan terjadinya abses- abses ditempat-tempat tersebut. 5. Septicemia dan piemia Pada septicemia kuman-kuman yang ada di uterus, langsung masuk ke peredaran darah umum dan menyebabkan infeksi umum. Pada piemia terdapat dahulu tromboflebitis pada vena-vena diuterus serta sinus-sinus pada bekas tempat plasenta. Tromboflebitis ini menjalar ke vena uterine, vena hipogastrika, dan/atau vena ovarii (tromboflebitis pelvika). Dari tempat- tempat thrombus itu embolus kecil yang mengandung kuman- kuman dilepaskan. Tiap kali dilepaskan, embolus masuk keperedaran darah umum dan dibawa oleh aliran darah ketempat-tempat lain, antaranya ke paru-paru, ginjal, otak, jantung, dan sebagainya, dan mengakibatkan terjadinya abses- abses ditempat-tempat tersebut.

60 Gejala-gejala septicemia lebih mendadak dari piemia. Pada septicemia, dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah. Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar antara °C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat ( kali/menit atau lebih). Penderita meninggal dalam enam sampai tujuh hari postpartum. Pada piemia, penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri, dan suhu agak meningkat. Suatu ciri khusus pada piemia ialah berulang- ulang suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Gejala-gejala septicemia lebih mendadak dari piemia. Pada septicemia, dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah. Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar antara °C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat ( kali/menit atau lebih). Penderita meninggal dalam enam sampai tujuh hari postpartum. Pada piemia, penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri, dan suhu agak meningkat. Suatu ciri khusus pada piemia ialah berulang- ulang suhu meningkat dengan cepat disertai menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Cont’

61 Peritonitis (peradangan selaput rongga perut) Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul), dengan resiko terjadinya emboli pulmoner. Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam darah. Syok toksik bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang berat dan bahkan kematian. Peritonitis (peradangan selaput rongga perut) Tromboflebitis pelvika (bekuan darah di dalam vena panggul), dengan resiko terjadinya emboli pulmoner. Syok toksik akibat tingginya kadar racun yang dihasilkan oleh bakteri di dalam darah. Syok toksik bisa menyebabkan kerusakan ginjal yang berat dan bahkan kematian. h. Komplikasi

62 i. Pencegahan dan penanganan 1.Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati penyakit- penyakit yang diderita ibu. 2.Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu. 3.Koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. 4.Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin. 5.Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun perabdominam dibersihkan, dijahit sebaik- baiknya dan menjaga sterilitas. i. Pencegahan dan penanganan 1.Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati penyakit- penyakit yang diderita ibu. 2.Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu. 3.Koitus pada hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. 4.Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin. 5.Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun perabdominam dibersihkan, dijahit sebaik- baiknya dan menjaga sterilitas.

63 6.Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti dengan tranfusi darah. 7.Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker; yang menderita infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin. 8.Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama. 9.Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah. 6.Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti dengan tranfusi darah. 7.Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker; yang menderita infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin. 8.Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama. 9.Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah. Cont’

64 ASUHAN KEPERAWATAN (HOME CARE ) PADA KLIEN INFEKSI POSTPARTUM

65


Download ppt "Demila Syukrina Syarifah Uswatun Hasanah Ega Pamesa Tisri Yolandari Nurul Fatia."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google