Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Askep klien tidak sadar YULIATI, SKp,MM. Reviuw anatomi Serebral Lobus frontalis :  fungsi emosi, fungsi motorik. intektual  pusat bicara (area broca).

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Askep klien tidak sadar YULIATI, SKp,MM. Reviuw anatomi Serebral Lobus frontalis :  fungsi emosi, fungsi motorik. intektual  pusat bicara (area broca)."— Transcript presentasi:

1 Askep klien tidak sadar YULIATI, SKp,MM

2 Reviuw anatomi Serebral Lobus frontalis :  fungsi emosi, fungsi motorik. intektual  pusat bicara (area broca). Serebral gangguan Komunikasi Intelektual emosional

3 Pengertian Kondisi dimana fungsi serebral terdepresi, direntang dari stupor sampai koma. Kondisi dimana fungsi serebral terdepresi, direntang dari stupor sampai koma. Macam kondisi ketidak sadaran : Stupor  menunjukan gejala mengabaikan stimulasi sesuatu yg tidak mengenakan; cubitan atau tepukan tangan yang keras, dan dapat menarik atau membuat kerutan wajah atau bunyi yang tidak dimengerti. Stupor  menunjukan gejala mengabaikan stimulasi sesuatu yg tidak mengenakan; cubitan atau tepukan tangan yang keras, dan dapat menarik atau membuat kerutan wajah atau bunyi yang tidak dimengerti. Koma  Keadaan klinis tidak sadar dimana klien tidak tanggap terhadap dirinya dan lingkungan Koma  Keadaan klinis tidak sadar dimana klien tidak tanggap terhadap dirinya dan lingkungan

4 Lanjutan Mutisme akinetik  keadaan tidak responsif pada lingkungan dimana klien tidak membuat gerakan atau bunyi tetapi kadang membuka mata. Mutisme akinetik  keadaan tidak responsif pada lingkungan dimana klien tidak membuat gerakan atau bunyi tetapi kadang membuka mata. Vegetatif persisten  Salah satu dimana klien digambarkan sebagai terjaga tetapi tidak adanya isi kesadaran, tanpa fungsi mental atau kognitif yg efektif. Vegetatif persisten  Salah satu dimana klien digambarkan sebagai terjaga tetapi tidak adanya isi kesadaran, tanpa fungsi mental atau kognitif yg efektif.

5 Tingkat kesadaran ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran dibedakan menjadi : Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya..

6 Next Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.

7 Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.

8 Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya). Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).

9 Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala. Perubahan tingkat kesadaran dapat diakibatkan dari berbagai faktor, termasuk perubahan dalam lingkungan kimia otak seperti keracunan, kekurangan oksigen karena berkurangnya aliran darah ke otak, dan tekanan berlebihan di dalam rongga tulang kepala.

10 Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian). Adanya defisit tingkat kesadaran memberi kesan adanya hemiparese serebral atau sistem aktivitas reticular mengalami injuri. Penurunan tingkat kesadaran berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian).

11 Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign. Jadi sangat penting dalam mengukur status neurologikal dan medis pasien. Tingkat kesadaran ini bisa dijadikan salah satu bagian dari vital sign.

12 Penyebab Penurunan Kesadaran Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia); kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok); penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) ; pada keadaan hipo atau hipernatremia ; dehidrasi; asidosis, alkalosis; pengaruh obat- obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak); infeksi (encephalitis); epilepsi. Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. Tingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen (hipoksia); kekurangan aliran darah (seperti pada keadaan syok); penyakit metabolic seperti diabetes mellitus (koma ketoasidosis) ; pada keadaan hipo atau hipernatremia ; dehidrasi; asidosis, alkalosis; pengaruh obat- obatan, alkohol, keracunan: hipertermia, hipotermia; peningkatan tekanan intrakranial (karena perdarahan, stroke, tomor otak); infeksi (encephalitis); epilepsi.

13 Mengukur Tingkat Kesadaran Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, makan dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran.

14 Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata- kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive). Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata- kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive).

15 Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness). Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness).

16 Artikel yang Berhubungan : Artikel yang Berhubungan : Pemeriksaan GCS Pemeriksaan GCS Pemeriksaan GCS Pemeriksaan GCS Vital Sign Vital Sign Vital Sign Vital Sign Pengkajian Keperawatan Pengkajian Keperawatan Pengkajian Keperawatan Pengkajian Keperawatan Tags: apatis, avpu, composmentis, gcs, tingkat kesadaran Tags: apatis, avpu, composmentis, gcs, tingkat kesadaranapatisavpucomposmentisgcs tingkat kesadaranapatisavpucomposmentisgcs tingkat kesadaran

17

18 Macam-macam gangguan kesadaran 1. Pingsan atau sinkop : adalah suatu kondisi kehilangan kesadaran yang mendadak, dan biasanya sementara, yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. adalah suatu kondisi kehilangan kesadaran yang mendadak, dan biasanya sementara, yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Gejala ; adalah rasa pusing, berkurangnya penglihatan, tinitus, dan rasa panas. Selanjutnya, penglihatan orang tersebut akan menjadi gelap dan ia akan jatuh atau terkulai. Jika orang tersebut tidak dapat berganti posisi menjadi hampir horizontal, ia dapat mati karena efek trauma suspensi. Gejala ; adalah rasa pusing, berkurangnya penglihatan, tinitus, dan rasa panas. Selanjutnya, penglihatan orang tersebut akan menjadi gelap dan ia akan jatuh atau terkulai. Jika orang tersebut tidak dapat berganti posisi menjadi hampir horizontal, ia dapat mati karena efek trauma suspensi.

19 Penyebab bermacam-macam, diantaranya shock elektris, penyakit ayan, kena hawa sejuk / dingin terlalu lama, serangan jantung, banyak keluar darah, banyak hawa panas, lapar, keracunan, Sebagian besar kasus pingsan (selain kasus jantung) lebih disebabkan karena adanya hipersensitivitas vagus. Vagus adalah saraf otak ke sepuluh yang mensarafi organ bagian dalam tubuh dan sangat berpengaruh terhadap frekuensi detak jantung. bermacam-macam, diantaranya shock elektris, penyakit ayan, kena hawa sejuk / dingin terlalu lama, serangan jantung, banyak keluar darah, banyak hawa panas, lapar, keracunan, Sebagian besar kasus pingsan (selain kasus jantung) lebih disebabkan karena adanya hipersensitivitas vagus. Vagus adalah saraf otak ke sepuluh yang mensarafi organ bagian dalam tubuh dan sangat berpengaruh terhadap frekuensi detak jantung.

20 Mekanisme Pingsan berawal dari kecenderungan terkumpulnya sebagian darah dalam pembuluh vena bawah akibat gravitasi bumi. Hal itu menyebabkan jumlah darah yang kembali ke jantung berkurang sehingga curah darah ke jantung dan tekanan darah sistoliknya menurun. Guna mengatasi penurunan tersebut, otomatis timbul refleks kompensasi normal, berupa bertambahnya frekuensi dan kekuatan kontraksi jantung, dengan tujuan mengembalikan curah ke jantung ke tingkat semula. Pingsan berawal dari kecenderungan terkumpulnya sebagian darah dalam pembuluh vena bawah akibat gravitasi bumi. Hal itu menyebabkan jumlah darah yang kembali ke jantung berkurang sehingga curah darah ke jantung dan tekanan darah sistoliknya menurun. Guna mengatasi penurunan tersebut, otomatis timbul refleks kompensasi normal, berupa bertambahnya frekuensi dan kekuatan kontraksi jantung, dengan tujuan mengembalikan curah ke jantung ke tingkat semula.

21 Next Pada seseorang yang hipersensitif, bertambahnya kekuatan kontraksi itu justru mengaktifkan reseptor mekanik pada dinding bilik jantung kiri, sehingga timbul refleks yang menyebabkan frekuensi detak jantung menjadi lambat, pembuluh darah tepi melebar, dan terjadi tekanan darah rendah (hipotensi) sehingga aliran darah ke susunan saraf terganggu. Ini terjadi karena timbulnya ketidakseimbangan refleks saraf otonom dalam bereaksi terhadap posisi berdiri yang berkepanjangan. Pada seseorang yang hipersensitif, bertambahnya kekuatan kontraksi itu justru mengaktifkan reseptor mekanik pada dinding bilik jantung kiri, sehingga timbul refleks yang menyebabkan frekuensi detak jantung menjadi lambat, pembuluh darah tepi melebar, dan terjadi tekanan darah rendah (hipotensi) sehingga aliran darah ke susunan saraf terganggu. Ini terjadi karena timbulnya ketidakseimbangan refleks saraf otonom dalam bereaksi terhadap posisi berdiri yang berkepanjangan.

22 Tanda dan gejala Gejala sebelum pingsan : Gejala sebelum pingsan : merasa takut, gemetar yang diikuti dengan sensasi lingkungan sekitar terasa berputar-putar. Selain itu mata mungkin berasa berkunang-kunang. Saat pingsan : wajah menjadi pucat, keluar ludah dan keringat dingin, badan lemas dan terjatuh. Kesadaran bisa menurun. lemah. Selain itu mata mungkin berasa berkunang-kunang. Saat pingsan : wajah menjadi pucat, keluar ludah dan keringat dingin, badan lemas dan terjatuh. Kesadaran bisa menurun. lemah.

23 Prinsip penanganan Adapun prinsip pertolongan terhadap kondisi tersebut adalah: 1. Korban harus dibaringkan dengan kepala dimiringkan 2. Hati-hatilah agar posisi kepala jangan ditinggikan. 3. Longgarkan pakaian yang ketat agar aliran darahnya tak terganggu. 4. Kepala dikompres dengan air dingin / kantong es, 5. Jangan memberikan apa pun lewat mulut apabila penderita belum sadar. 6. Kalau akan memindah ke tempat lain, diharapkan dalam keadaan bersandar Adapun prinsip pertolongan terhadap kondisi tersebut adalah: 1. Korban harus dibaringkan dengan kepala dimiringkan 2. Hati-hatilah agar posisi kepala jangan ditinggikan. 3. Longgarkan pakaian yang ketat agar aliran darahnya tak terganggu. 4. Kepala dikompres dengan air dingin / kantong es, 5. Jangan memberikan apa pun lewat mulut apabila penderita belum sadar. 6. Kalau akan memindah ke tempat lain, diharapkan dalam keadaan bersandar

24 next Dan bagi pingsan biasa, maka lakukan seperti diatas juga hanya badan diselimuti agar tidak kena hawa dingin. Dan ini bila ada tanda berdarah / luka di kepala, maka basahilah sapu tangan dengan aromatic spirits ammonia dan diletakkan dekat hidung agar dihisap. Adapun untuk pingsan biru, yakni pingsan yang kulit muka jadi agak membiru. Maka ini perlu pernapasan buatan. Dan bagi pingsan biasa, maka lakukan seperti diatas juga hanya badan diselimuti agar tidak kena hawa dingin. Dan ini bila ada tanda berdarah / luka di kepala, maka basahilah sapu tangan dengan aromatic spirits ammonia dan diletakkan dekat hidung agar dihisap. Adapun untuk pingsan biru, yakni pingsan yang kulit muka jadi agak membiru. Maka ini perlu pernapasan buatan.

25 Pada kasus dilapangan Menangkap tubuh korban sebelum jatuh ketanah. Merebahkannya pada posisi horisontal, dengan letak kepala lebih rendah dibanding tingkat jantung dan tangan diatas untuk mempompa aliran darah ke otak. (jika si korban bisa ditelentangkan sebelum jatuh, dia mungkin tidak sampai kehilangan kesadaran). Mengubah posisi kepala ke arah samping, sehingga lidah tidak tertarik ke tenggorokan. Mengendorkan semua pakaiannya. Memberikan handuk basah dan dingin pada wajah atau leher si korban. Menjaga si korban tetap hangat, khususnya jika keadaan sekitar dingin Menangkap tubuh korban sebelum jatuh ketanah. Merebahkannya pada posisi horisontal, dengan letak kepala lebih rendah dibanding tingkat jantung dan tangan diatas untuk mempompa aliran darah ke otak. (jika si korban bisa ditelentangkan sebelum jatuh, dia mungkin tidak sampai kehilangan kesadaran). Mengubah posisi kepala ke arah samping, sehingga lidah tidak tertarik ke tenggorokan. Mengendorkan semua pakaiannya. Memberikan handuk basah dan dingin pada wajah atau leher si korban. Menjaga si korban tetap hangat, khususnya jika keadaan sekitar dingin

26 Tanda-tanda kehilangan kesadaran Gelisah Gelisah Disorientasi Disorientasi Lethargi Lethargi

27 Patologi kehilangan kesadaran KORTEKS FORMASIO RETIKULARIS TALAMUS

28 Evaluasi diagnostik Untuk mengidentifikasi penyebab ketidaksadaran Glukosa Glukosa Elektrolit Elektrolit Amonia serum Amonia serum Nitrogen urea darah ( BUN ) Nitrogen urea darah ( BUN ) Kalsium Kalsium Kandungan keton serum Kandungan keton serum Alkohol, Obat-obatan Alkohol, Obat-obatan AGD AGD

29 Komplikasi Gangguan pernapasan/ gagal napas Gangguan pernapasan/ gagal napas Pneumonia Pneumonia Dekubitus Dekubitus Aspirasi Aspirasi

30 Penatalaksanaan medis Memberikan dan mempertahankan jalan napas  intubasi/ trakheostomi Memberikan dan mempertahankan jalan napas  intubasi/ trakheostomi Pemasangan kateter intravena  mempertahankan keseimbangan cairan Pemasangan kateter intravena  mempertahankan keseimbangan cairan Pemasangan NGT/ gastrostomi  pemeberian nutrisi Pemasangan NGT/ gastrostomi  pemeberian nutrisi Status sirkulasi  untuk mengetahui perfusi tubuh yg adekuat, dan perfusi otak Status sirkulasi  untuk mengetahui perfusi tubuh yg adekuat, dan perfusi otak

31 Pengkajian keperawatan GCS GCS Pola napas Pola napas Mata: ukuran pupil, gerakan, refleks Reflek menelan Mata: ukuran pupil, gerakan, refleks Reflek menelan Respon ekstremitas Respon ekstremitas Refleks patologik Refleks patologik Refleks tendon profunda Refleks tendon profunda

32 Persiapan pemeriksaan fisik Refleks patela/ hamer Refleks patela/ hamer Kapas Kapas Jarum Jarum Jam Jam

33 Hal yang harus diperhatikan Mempertahankan jalan napas : Posisi tidur miring, Pasien tidak boleh telentang terus menerus Posisi tidur miring, Pasien tidak boleh telentang terus menerus Kepala ditinggikan 30 derajat Kepala ditinggikan 30 derajat Suction K/P Suction K/P Fisioterapi Fisioterapi

34 Mempertahankan keamanan Pasang pagar tempat tidur dan beri bantal Pasang pagar tempat tidur dan beri bantal Hindari restrain fisik Hindari restrain fisik Mempertahankan keseimbangan cairan: Cairan IV dan transfusi diberikan perlahan Cairan IV dan transfusi diberikan perlahan Cairan tidak boleh diberikan peroral Cairan tidak boleh diberikan peroral Mempertahankan kes. Membran mukosa: Perawatan oral Perawatan oral Mempertahankan integritas kulit :Atur posisi

35 Mempertahankan integritas kornea Mata dibersihkan dng normal saline Mata dibersihkan dng normal saline Pasang tameng mata Pasang tameng mata Kompres dingin Kompres dingin Mencegah retensi urine; Pasang Poly Cath Mencegah retensi urine; Pasang Poly Cath Meningkatkan stimulasi sensori; menyentuh dan mengajak berkomunikasi Meningkatkan stimulasi sensori; menyentuh dan mengajak berkomunikasi Mempertahankan integritas kulit : mobilisasi Mempertahankan integritas kulit : mobilisasi

36


Download ppt "Askep klien tidak sadar YULIATI, SKp,MM. Reviuw anatomi Serebral Lobus frontalis :  fungsi emosi, fungsi motorik. intektual  pusat bicara (area broca)."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google