Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Definisi : Ilmu yang mempelajari tentang vektor, kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh arthropoda. Siklus Hidup : Penting dipelajari dalam rangka.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Definisi : Ilmu yang mempelajari tentang vektor, kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh arthropoda. Siklus Hidup : Penting dipelajari dalam rangka."— Transcript presentasi:

1

2 Definisi : Ilmu yang mempelajari tentang vektor, kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh arthropoda. Siklus Hidup : Penting dipelajari dalam rangka intervensi pencegahan Penting dipelajari dalam rangka intervensi pencegahan Mengalami metamorfosis : Mengalami metamorfosis : –Metamorfosis sempurna : telur – larva – pupa – dewasa. –Metamorfosis tdk sempurna : telur – (larva) – nimfa – dewasa.

3 PERAN ARTHROPODA 1. Vektor dan hospes sementara (menularkan penyakit) Vektor penyakit protozoa : Malaria, Tripanosomiasis, Leismaniasis.Vektor penyakit protozoa : Malaria, Tripanosomiasis, Leismaniasis. Vektor penyakit cacing : Filariasis (Filariasis limfatik & Non limfatik).Vektor penyakit cacing : Filariasis (Filariasis limfatik & Non limfatik). Vektor penyakit virus, riketsia & bakteri.Vektor penyakit virus, riketsia & bakteri. Vektor mekanik : Musca domestika, Periplaneta.Vektor mekanik : Musca domestika, Periplaneta.

4 2. Parasit : Menyebabkan penyakit : skabies, dermodiosis, pedikulosis, ftiriasis, miasis.Menyebabkan penyakit : skabies, dermodiosis, pedikulosis, ftiriasis, miasis. 3. Menghasilkan toksin : Menimbulkan kelaianan pd tubuh manusia.Menimbulkan kelaianan pd tubuh manusia. Kontak : kupu-kupu, tungau debu.Kontak : kupu-kupu, tungau debu. Sengatan : lebah, kalajengking.Sengatan : lebah, kalajengking. Gigitan : kelabang, laba-laba, tarantula, sengkenit.Gigitan : kelabang, laba-laba, tarantula, sengkenit.

5 CARA PENULARAN 1. Penularan secara mekanik 2. Penularan secara biologik 3. Penularan transovarian

6 Arthropoda sebagai Vektor Penularan secara biologik : Penularan secara biologik : –Propagatif : parasit hanya membelah diri (Versinia pestis dalam pinjal Xenopsylla cheopis). –Sikliko propagatif : parasit berubah bentuk dan membelah diri (Plasmodium dalam nyamuk Anopheles). –Sikliko developmental : parasit hanya berubah bentuk (Wuchereria bancrofti dalam nyamuk Culex quinquefasiatus). Penularan Mekanik (lalat & kecoa) Penularan Mekanik (lalat & kecoa) Penularan secara transovarian (lalat) Penularan secara transovarian (lalat)

7 Arthropoda sebagai Parasit Endoparasit : arthropoda hidup dalam jaringan tubuh host (larva lalat  miasis) Endoparasit : arthropoda hidup dalam jaringan tubuh host (larva lalat  miasis) Ekstoparasit : arthropoda hidup pada permukaan tubuh host (serangga- serangga penyebab kelainan pada permukaan tubuh host) Ekstoparasit : arthropoda hidup pada permukaan tubuh host (serangga- serangga penyebab kelainan pada permukaan tubuh host) Parasit permanen : tungau kudis, tuma. Parasit permanen : tungau kudis, tuma. Parasit periodik : nyamuk, sengkenit lunak (dari host satu ke host lain). Parasit periodik : nyamuk, sengkenit lunak (dari host satu ke host lain).

8 Arthropoda pengandung Toksin Kontak langsung: Ulat Kontak langsung: Ulat Gigitan : Kelabang Gigitan : Kelabang Sengatan: Kalajengking Sengatan: Kalajengking Tusukan: Triatoma Tusukan: Triatoma

9 MORFOLOGI NYAMUK VEKTOR MALARIA Anophelini Anophelini  Stadium telur diletakkan satu persatu terpisah diatas permukaan air berbentuk seperti perahu, bagian bawah konveks dan bagian atas konkaf dengan sepasang pelampung berbentuk seperti perahu, bagian bawah konveks dan bagian atas konkaf dengan sepasang pelampung

10  Stadium Larva mengapung sejajar permukaan air mengapung sejajar permukaan air bagian badan yang khas : spirakel, tergal plate, bulu palma  Stadium Pupa tabung pernapasan yang lebar dan pendek  Stadium Dewasa Palpus sama panjang dengan probosis Palpus jantan : ujung berbentuk gada Sisik sayap membentuk gambaran hitam putih ; ujung sisik tumpul Posterior abdomen melancip

11 VEKTOR FILARIASIS Anophelini Anophelini Non Anophelini Culcini : Aedes, Culex, Non Anophelini Culcini : Aedes, Culex, Mansonia, Coquilettidia, Armigeres  Stadium Telur (Non Anophelini) - Diletakkan satu persatu di tepi pemukaan air (Aedes) - Diletakkan berkelompok membentuk rakit: Diatas permukaan air (Culex)Diatas permukaan air (Culex) Dibalik permukaan daun tanaman air (Mansonia)Dibalik permukaan daun tanaman air (Mansonia) - Bentuk lonjong dengan ujung lancip dengan dinding seperti anyaman kain kasa (Aedes) -Bentuk seperti peluru senapan -Bentuk seperti duri/sasaran bowling (mansonia)

12  Stadium Larva (Non Anophelini) - Menggantung pada permukaan air - Bagian badan yang khas : Sifon dengan bulu-bulu sifon dan pektenSifon dengan bulu-bulu sifon dan pekten Sisir dengan dengan gigi-gigi sisirSisir dengan dengan gigi-gigi sisir Segmen anal dengan pelanaSegmen anal dengan pelana  Stadium Pupa (Culicini) : - Tabung pernapasan yang sempit dan panjang

13  Stadium dewasa ( Culicini) - Betina : Palpus lebih pendek daripada probosis -Jantan : Palpus lebih panjang daripada probosis -Sisik sayap lebar asimetris (Mansonia) -Sisik sayap sempit dan panjang (Aedes, Culex) -Pada Aedes, sisik sayap membentuk kelompok sisik yang sewarna sehingga tampak bintik- bintik putih-kuning/putih-coklat/putih-hitam -Ujung abdomen Aedes lancip -Ujung abdomen Mansonia tumpul dan terpancung

14 VEKTOR PENYAKIT PROTOZOA 1. VEKTOR MALARIA Nyamuk Anopheles : dari 2000 spesies Anopheles, terdapat 60 spesies yang merupakan vektor malaria DAUR HIDUP Mengalami metamorfosis sempurna selama 2-5 mg bergantung pada spesies, makanan yang tersedia, suhu udara

15 TEMPAT PERINDUKAN Bergantung pada spesies, terdiri atas tiga kawasan : Pantai : An.sundaicus, An.subpictus Pantai : An.sundaicus, An.subpictus Pedalaman : An. aconitus, An. Barbirostris Pedalaman : An. aconitus, An. Barbirostris Kaki gunung & gunung : An. Balabacencis, Kaki gunung & gunung : An. Balabacencis, An maculatus

16 PERILAKU Aktivitas dipengaruhi oleh kelembaban udara dan suhu Aktivitas dipengaruhi oleh kelembaban udara dan suhu Umumnya aktif mengisap darah pada malam hari atau sejak senja sampai dini hari ( = night-biters) Umumnya aktif mengisap darah pada malam hari atau sejak senja sampai dini hari ( = night-biters) Jarak terbang 0,5 – 3 km, dipengaruhi oleh transportasibdan kecepatan angin Jarak terbang 0,5 – 3 km, dipengaruhi oleh transportasibdan kecepatan angin Kesukaan bervariasi : zoofilik, antropofilik, dst Kesukaan bervariasi : zoofilik, antropofilik, dst Tempat istirahat bervariasi : eksofilik, endofilik Tempat istirahat bervariasi : eksofilik, endofilik Aktivitas menggigit bervariasi : eksofilik, endofagik Aktivitas menggigit bervariasi : eksofilik, endofagik

17 EPIDEMIOLOGI Penentuan vektor malaria didasarkan atas penemuan sporozoid malaria di kelenjar liur nyamuk yang hidup di alam bebas ( dengan membedah nyamuk betina) Penentuan vektor malaria didasarkan atas penemuan sporozoid malaria di kelenjar liur nyamuk yang hidup di alam bebas ( dengan membedah nyamuk betina) Faktor yang perlu diketahui dalam menentukan vektor di suatu daerah endemi malaria : Faktor yang perlu diketahui dalam menentukan vektor di suatu daerah endemi malaria : Kebiasaan nyamuk mengisap darah manusia Kebiasaan nyamuk mengisap darah manusia Lama hidup nyamuk betina dewasa yang lebih dari 10 hari Lama hidup nyamuk betina dewasa yang lebih dari 10 hari Nyamuk Anopheles dengan kepadatan yang tinggi & dominan Nyamuk Anopheles dengan kepadatan yang tinggi & dominan Hasil infeksi percobaan di Lab yang menunjukkan kemampuan untuk mengembangkan Plasmodium menjadi stadium sporozoid Hasil infeksi percobaan di Lab yang menunjukkan kemampuan untuk mengembangkan Plasmodium menjadi stadium sporozoid

18 Prevalens kasus malaria tidak sama di antara daerah endemi malaria, bergantung pada perilaku spesies nyamuk yang menjadi vektor, misalnya : Prevalens kasus malaria tidak sama di antara daerah endemi malaria, bergantung pada perilaku spesies nyamuk yang menjadi vektor, misalnya : Di daerah Cilacap (vektor malaria: An.sundacus) kasus malaria di temukan lebih banyak pada musim kemarau, karena pembentukan tempat perindukan di muara sungai untuk nyamuk tsb meningkat Di daerah Cilacap (vektor malaria: An.sundacus) kasus malaria di temukan lebih banyak pada musim kemarau, karena pembentukan tempat perindukan di muara sungai untuk nyamuk tsb meningkat Di daerah jawa barat (vektor malaria: An. Aconitus) kasus malaria lebih banyak pada musim hujan, karena di sawah banyak terbentuk perindukan untuk nyamuk tsb. Di daerah jawa barat (vektor malaria: An. Aconitus) kasus malaria lebih banyak pada musim hujan, karena di sawah banyak terbentuk perindukan untuk nyamuk tsb.

19 Pemberantasan Malaria : Pengobatan Penderita Pengobatan Penderita Pencegahan kontak antara nyamuk & manusia Pencegahan kontak antara nyamuk & manusia Penyuluhan sanitasi Penyuluhan sanitasi

20 2. VEKTOR PENYAKIT CACING (FILARIASIS) 2.1. VEKTOR FILARIASIS LIMFATIK (NYAMUK)  Nyamuk Anophelini (Tribus Anopheles) dan Non Anophelini (TribusCulicini, terdiri atas genus Culex, Aedes,Mansonia,Coquilettidia; dan Tribus Taxorhytini, terdiri atas genus Taxorhynchites)  Di Indonesia ditemukan 3 jenis parasit nematoda penyebab filariasis limfatik pada manusia, yaitu Wucheria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori

21 Parasit-parasit tersebut disebarkan di seluruh kepulauan Indonesia oleh berbagai spesies nyamuk Aedes, Anopheles, Culex, Mansonia, Coquilettida dan Armigeres Parasit-parasit tersebut disebarkan di seluruh kepulauan Indonesia oleh berbagai spesies nyamuk Aedes, Anopheles, Culex, Mansonia, Coquilettida dan Armigeres Vektor utama filariasis bancrofti di perkotaan adalah Culex quinquefasciatus, sedangkan di pedesaan adalah berbagai spesies Anopheles, Aedes kochi, Cx. Bitaeniorrhynchuss, Cx. Annulirostris dan Armigeres obsturbans Vektor utama filariasis bancrofti di perkotaan adalah Culex quinquefasciatus, sedangkan di pedesaan adalah berbagai spesies Anopheles, Aedes kochi, Cx. Bitaeniorrhynchuss, Cx. Annulirostris dan Armigeres obsturbans Vektor utama filariasis malayi adalah berbagai spesies Anopheles, Mansonia dan Coquilettidia Vektor utama filariasis malayi adalah berbagai spesies Anopheles, Mansonia dan Coquilettidia Vektor utama filariasis timori adalah Anopheles barbirotris Vektor utama filariasis timori adalah Anopheles barbirotris

22 DAUR HIDUP Metamorfosis sempurna selama 1–2 minggu Metamorfosis sempurna selama 1–2 minggu Tempat perindukan : Tempat perindukan : Nyamuk Anophelini : kawasan pantai, pedalaman, kaki gunung dan gunung Nyamuk Anophelini : kawasan pantai, pedalaman, kaki gunung dan gunung Nyamuk Non anophelini : Tempat ber air jernih ataupun keruh (polluted): Permukaan air dapat ditumbuhi bermacam-macam tanaman air Nyamuk Non anophelini : Tempat ber air jernih ataupun keruh (polluted): Permukaan air dapat ditumbuhi bermacam-macam tanaman air

23 PERILAKU Nyamuk Non Anophelini mempunyai kebiasaan mengisap darah hospes yang berbeda-beda, yaitu : Nyamuk Non Anophelini mempunyai kebiasaan mengisap darah hospes yang berbeda-beda, yaitu : Culex : malam hari saja Culex : malam hari saja Mansonia : Siang dan malam hari Mansonia : Siang dan malam hari Aedes : Siang hari saja Aedes : Siang hari saja  Jarak terbang bervariasi : Culicini : biasanya pendek (rata-rata beberapa puluh meter) Culicini : biasanya pendek (rata-rata beberapa puluh meter) Aedes vexans +/- 30 km Aedes vexans +/- 30 km  Umur Nyamuk dewasa (di alam/di Lab):+/- 2 mg

24 EPIDEMIOLOGI Faktor-faktor yang menentukan penyebarluasan filariasis dan timbulnya daerah-daeah endemi filariasis, yaitu : Faktor-faktor yang menentukan penyebarluasan filariasis dan timbulnya daerah-daeah endemi filariasis, yaitu :  Derajat infeksi alami hasil pembedahan nyamuk alam/liar yang tinggi  Sifat antropofilik dan zoofilik yang meningkatkan jumlah sumber infeksi  Umur nyamuk yang panjang sehingga mampu mengembangkan pertumbuhan larva mencapai stadium infektif untuk disebarkan/ditularkan  Dominasi terhadap spesies nyamuk lainnya yang ditunjukkan dengan kepadatan yang tinggi di daerah endemi  Mudahnya menggunakan tempat-tempat penampung air sebagai tempat perindukan yang sesuai

25 EPIDEMIOLOGI (Lanjutan) Pemberantasan : Pemberantasan :  Pengobatan semua penderita filariasis  Upaya pengendalian vektor dengan cara yang mudah dan biaya rendah  Perlindungan/pencegahan terhadap gigitan vektor  Meningkatkan pengetahuan penduduk mengenai filariasis dan penularannya partisipasi dalam pemberantasan partisipasi dalam pemberantasan

26 2.2. VEKTOR FILARIASIS NON LIMFATIK ( LALAT ) Lalat dari genus simulium (Black fly) dan Chrysops (Horse Flyl Deer fly) Lalat dari genus simulium (Black fly) dan Chrysops (Horse Flyl Deer fly) Yang mengisap darah biasanya hanya lalat betina, aktif pada pagi dan sore hari Yang mengisap darah biasanya hanya lalat betina, aktif pada pagi dan sore hari Simulium damnosum adalah vektor Onchocerca volvulus di Afrika : Simulium metalicum, S.ochraceum dan S. callidium adalah vektor Onchocerca volvulus di Amerika Simulium damnosum adalah vektor Onchocerca volvulus di Afrika : Simulium metalicum, S.ochraceum dan S. callidium adalah vektor Onchocerca volvulus di Amerika Chrysops silacea dan C. dimidiata adalah vektor Chrysops silacea dan C. dimidiata adalah vektor Loa-loa di Afrika

27 HOSPES PERANTARA Adalah jasad tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang dapat ditularkan kepada hospesnya (misalnya manusia) 1)Cyclops dan Diaptomus Adalah hospes perantara cacing Diphyllobathrium latum 2)Potamon dan Combarus Adalah hospes perantara cacing paragonimus westermani

28 3. VEKTOR PENYAKIT VIRUS, RIKETSIA, DAN BAKTERI 3.1. VEKTOR PENYAKIT VIRUS Penyakit Demam Berdarah Dengue (DHF= Dengue Hemorrhagic Fever) (DHF= Dengue Hemorrhagic Fever)  Merupakan penyakit virus yang sangat berbahaya  Sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat  Vektor utama adalah nyamuk kebun (Aedes aegypti), vektor potensial adalah Aedes albapictus

29 DAUR HIDUP Metamorfosis sempurna selama 9 hari Metamorfosis sempurna selama 9 hari Tempat perindukan : tempat-tempat berisi air bersih yang letaknya berdekatan dengan rumah penduduk (tidak lebih dari 500 m), meliputi tempat perindukan buatan manusia dan tempat perindukan alamiah Tempat perindukan : tempat-tempat berisi air bersih yang letaknya berdekatan dengan rumah penduduk (tidak lebih dari 500 m), meliputi tempat perindukan buatan manusia dan tempat perindukan alamiah

30 PERILAKU PERILAKU Nyamuk dewasa betina mengisap darah manusia pada siang hari (dari pagi hingga petang) dengan waktu puncak setelah matahari terbit( ) dan sebelum matahari terbenam ( ) Nyamuk dewasa betina mengisap darah manusia pada siang hari (dari pagi hingga petang) dengan waktu puncak setelah matahari terbit( ) dan sebelum matahari terbenam ( ) Pengisapan darah dilakukan didalam dan diluar rumah Pengisapan darah dilakukan didalam dan diluar rumah Tempat istirahat : Tempat istirahat :  Semak-semak/tanaman rendah dan rerumputan di halaman rumah atau kebun  Benda-benda yang tergantung didalam rumah  Umur Nyamuk betina dewasa dialam: 10 hari,di Lab: 2 bln  Jarak terbang +/- 40 m ; mampu terbang 2 km

31 EPIDEMIOLOGI EPIDEMIOLOGI  Ae aegypti tersebar luas di seluruh Indonesia  Ae aegypti ditemukan di kota-kota pelabuhan padat penduduk, juga di temukan di pedesaan sekitar kota pelabuhan  Penyebarab Ae. Aegypti dari pelabuhan ke desa dikarenakan larva yang terbawa melalui transportasi yang mengangkut benda-benda berisi air hujan

32 EPIDEMIOLOGI (Lanjutan) EPIDEMIOLOGI (Lanjutan) Pengendalian Pengendalian Perlindungan perorangan dari gigitan nyamuk (kawat kasa, kelambu, penyemprotan dinding rumah dengan insektisida, penggunaan repellent saat berkebun) Perlindungan perorangan dari gigitan nyamuk (kawat kasa, kelambu, penyemprotan dinding rumah dengan insektisida, penggunaan repellent saat berkebun) Pembuangan atau mengubur benda-benda yang dapat menampung air hujan Pembuangan atau mengubur benda-benda yang dapat menampung air hujan Mengganti air atau membersihkan tempat-tempat air seminggu sekali Mengganti air atau membersihkan tempat-tempat air seminggu sekali Abatisasi Abatisasi Fogging dengan malathion minimal dua kali dengan jarak 10 hari di daerah yang terkena wabah Fogging dengan malathion minimal dua kali dengan jarak 10 hari di daerah yang terkena wabah Pendidikan Kesehatan Masyarakat Pendidikan Kesehatan Masyarakat Memonitor kepadatan populasi Ae aegypti penting dalam upaya mengevaluasi adanya ancaman DHF dan untuk meningkatkan tindakan pengendalian vektor Memonitor kepadatan populasi Ae aegypti penting dalam upaya mengevaluasi adanya ancaman DHF dan untuk meningkatkan tindakan pengendalian vektor Pengukuran kepadatan populasi nyamuk yang belum dewasa : memeriksa tempat-tempat perindukan di dalam dan di luar rumah (sebanyak 100 rumah di daerah pemeriksaan) Pengukuran kepadatan populasi nyamuk yang belum dewasa : memeriksa tempat-tempat perindukan di dalam dan di luar rumah (sebanyak 100 rumah di daerah pemeriksaan)

33 EPIDEMIOLOGI (Lanjutan) EPIDEMIOLOGI (Lanjutan) Angka indeks yang perlu diketahui : Angka indeks yang perlu diketahui :  Angka rumah (house index): persentase rumah yang positif larva Ae. Aegypti  Angka tempat perindukan (container Index): persentase tempat perindukan yang positif larva Ae. Aegypti  Angka Breteau (Breteau Index): jumlah tempat perindukan yang positif larva Ae. Aegypti dalam tiap 100 rumah

34 3.1.2 PENYAKIT JAPANESE B. ENCEPHALITIS Di temukan di Asia Tenggara (Filipina, Kamboja, Muangthai, Malaysia, Singapura) Di temukan di Asia Tenggara (Filipina, Kamboja, Muangthai, Malaysia, Singapura) Di Indonesia penyakit tersebut belum banyak di pelajari, tetapi kemungkinan besar penyakit tsb juga ada di Indonesia karena : Di Indonesia penyakit tersebut belum banyak di pelajari, tetapi kemungkinan besar penyakit tsb juga ada di Indonesia karena :  Banyak kasus meninggal dengan gejala klinis yang sama dengan Jap. B. encephalitis  Kepadatan nyamuk vektor cukup tinggi dan telah dapat di isolasi virus Jap.B.encephalitis dari tubuh nyamuk yang di tangkap di sekitar Jakarta

35 Gejala Klinis : demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas, malaise, mental disorientation. Kematian terjadi 2-4 hari setelah terinfeksi virus Gejala Klinis : demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas, malaise, mental disorientation. Kematian terjadi 2-4 hari setelah terinfeksi virus Vektor : Culex tritaeniorhynchus & Cx. Gelidus Vektor : Culex tritaeniorhynchus & Cx. Gelidus Tempat peristirahatan : dekat kandang ternak (kerbau, sapi, babi) Tempat peristirahatan : dekat kandang ternak (kerbau, sapi, babi) Mengisap darah manusia dan darah binatang (kerbau, sapi,babi,burung, bebek) pada malam hari di dalam atau luar rumah Mengisap darah manusia dan darah binatang (kerbau, sapi,babi,burung, bebek) pada malam hari di dalam atau luar rumah

36 PENYAKIT CHIKUNGUYA Belum banyak dipelajari di indonesia, namun kemungkinan besar ditemukan penyakit tsb di Indonesia, karena virus Chikunguya telah dapat diisolasi dari nyamuk liar Ae. Aegypti di Jakarta Belum banyak dipelajari di indonesia, namun kemungkinan besar ditemukan penyakit tsb di Indonesia, karena virus Chikunguya telah dapat diisolasi dari nyamuk liar Ae. Aegypti di Jakarta Gejala klinis mirip Jap. B. encephalitis Gejala klinis mirip Jap. B. encephalitis Vektor : Ae aegypti Vektor : Ae aegypti

37 PENYAKIT DEMAM KUNING Vektor : Ae aegypti Vektor : Ae aegypti Belum pernah dilaporkan di Indonesia walaupun vektornya tersebar di seluruh Indonesia Belum pernah dilaporkan di Indonesia walaupun vektornya tersebar di seluruh Indonesia Di Amerika Selatan dan Afrika Selatan penyakit tsb dilaporkan ada sejak puluhan tahun Di Amerika Selatan dan Afrika Selatan penyakit tsb dilaporkan ada sejak puluhan tahun Gejala Klinis : pusing, sakit punggung, demam, muntah. Kematian terjadi 5-8 hari setelah terinfeksi Gejala Klinis : pusing, sakit punggung, demam, muntah. Kematian terjadi 5-8 hari setelah terinfeksi

38 3.2. VEKTOR PENYAKIT RIKETSIA Penyakit Demam Semak  Demam semak = Scrub typhus, tsutsugamushi disease, Delikoorts  Di temukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irja  Penyebab penyakit : Rikettsia tsutsugamushi  Gejala klinis : kepala pusing, apati, malaise, limfodenitis, adanya escar.  Angka kematian berkisar %  Vektor : Leptotrombidium akamusi, L. deliensis, L. fletsheri

39 DAUR HIDUP Metamorfosis tak sempurna (telur-larva- nimfa-dewasa) Metamorfosis tak sempurna (telur-larva- nimfa-dewasa) selama 1 – 2 bulan  Stadium larva mengisap darah manusia dan binatang mamalia  Penularan transovarian : sejak larva Leptotrombidium  mendapatkan infeksi Rickettsia sampai menjadi larva generasi berikutnya masih tetap infektif

40 EPIDEMIOLOGI R. tsutsugamushi biasanya hidup sebagai parasit tikus ladang R. tsutsugamushi biasanya hidup sebagai parasit tikus ladang Pencegahan Penularan : Pencegahan Penularan : Menghindari kontak dengan tungau saat bekerja di ladang/hutan di daerah endemi, yaitu membedaki kaos kaki dan sepatu yang dipakai dengan serbuk DDT 10% Menghindari kontak dengan tungau saat bekerja di ladang/hutan di daerah endemi, yaitu membedaki kaos kaki dan sepatu yang dipakai dengan serbuk DDT 10% Menelan kloramfenikol 500 mg sehari selama 10 hari selama bertugas di ladang/hutan Menelan kloramfenikol 500 mg sehari selama 10 hari selama bertugas di ladang/hutan

41 3.3. VEKTOR PENYAKIT BAKTERI Vektor Penyakit Sampar  Pernah di temukan secara endemi di Jawa Tengah Tahun 1968 terjadi epidemi di Boyolali dengan banyak kematian  Di sebabkan oleh bakteri Yersinia pestis  Vektor : Pinjal Xenopsylla cheopis, Stivalius cognatus, Neopsylla sondaica  Manusia terinfeksi melalui gigitan pinjal atau tinja pinjal yang mengandung Y. pestis  Gejala Klinis : peradangan dan pembesaran kelenjar limfe terbentuk benjolan/bubo (disebut pes bubo/bubonic plague) Y. pestis masuk ke dalam peredaran darah (disebut pes septikimia/septichemic plague) masuk kedalam paru (disebut pes paru/pulmonic plague). Penderita dapat meninggal dalam 2-3 hari setelah terinfeksi  Cara penularan : Propagatif

42 DAUR HIDUP DAUR HIDUP Pinjal hidup sebagai parasit tikus ladang dan bersarang di antara bulu tikus Pinjal hidup sebagai parasit tikus ladang dan bersarang di antara bulu tikus Mengalami metamorfosis sempurna selama 18 hari Mengalami metamorfosis sempurna selama 18 hari

43 EPIDEMIOLOGI Penyakit pes sebenarnya adalah penyakit tikus (zoonosis) Penyakit pes sebenarnya adalah penyakit tikus (zoonosis) Pemberantasan: Pemberantasan: Menangkap tikus dengan perangkap dan membunuhnya Menangkap tikus dengan perangkap dan membunuhnya Memberantas tikus dengan insektisida DDT dan BHC (bensin heksaklorida) Memberantas tikus dengan insektisida DDT dan BHC (bensin heksaklorida)  Upaya pemberantasan tsb berbahaya, yaitu bila pinjal kehilangan hospesnya (tikus), pinjal mencari hospes baru.  Jalan keluar: Tikus yang tertangkap dibersihkan pinjalnya kemudian dilepas dan ditangkap kembali pada penangkapan berikutnya Tikus yang tertangkap dibersihkan pinjalnya kemudian dilepas dan ditangkap kembali pada penangkapan berikutnya Mempertahan populasi tikus di daerah endemi pada jumlah minimal ttt dan di pantau dengan indeks pinjal Mempertahan populasi tikus di daerah endemi pada jumlah minimal ttt dan di pantau dengan indeks pinjal

44 4. VEKTOR MEKANIK 4. VEKTOR MEKANIK 4.1. MUSCA  Musca domestika (lalat rumah) berperan sebagai vektor mekanik amebiasis, disentri basilaris dan penyakit cacing usus di Indonesia  Mudah berkembang biak  Tempat perindukan : timbunan sampah sekitar rumah, tinja manusia dan binatang  Jarak terbang : 10 km  Umur lalat dewasa: 2-4 minggu  Mengurangi populasi lalat:  Membersihkan rumah dan pekarangan dari sampah  Memasang kawat kasa  Menutup makanan  Mengadakan samijaga

45 PENGENDALIAN VEKTOR Pengendalian vektor terdiri atas :  Pengendalian secara alami : yang berperan adalah faktor-faktor ekologi yang bukan merupakan tindakan manusia, yaitu topografi, ketinggian, iklim, musuh alami vektor  Pengendalian secara buatan : dilakukan atas usaha manusia, yaitu : 1)Pengendalian lingkungan (enviromental control) terdiri atas :  Modifikasi lingkungan (environmental modification)  Manipulasi lingkungan (environmental manipulation)

46 PENGENDALIAN VEKTOR (Lanjutan) 2) Pengendalian Kimiawi : menggunakan bahan kimia pembunuh serangga (insektisida) ataupun penghalau serangga (repellent) 3) Pengendalian Mekanik Menggunakan alat yang langsung dapat membunuh, menangkap atau menghalau, menyisir, mengeluarkan serangga dari jaringan tubuh 4) Pengendalian Fisik Meliputi pemanasan, pembekuan, hembusan angin,penyinaran Tujuan: mengganggukehidupan serangga  Pengendalian Biologik Menggunakan pemangsa dan parasit sebagai musuh alami serangga 6) Pengendalian Genetika Bertujuan mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang tidak merugikan, melalui pengubahan kemampuan reproduksi dengan cara memandulkan serangga jantan 7) Pengendalian Legislatif Tujuan mencagah tersebarnya serangga berbahaya dari satu daerah lain atau dari luar negeri ke Indonesia

47 ANTROPODA PENYEBAB ALERGI DAN REAKSI TOKSIK 1. KONTAK 1.1. Kupu-kupu  Larva kupu-kupu (ulat bulu) mengandung toksin, bila kontak dengan manusia kelainan erusisme (urtikaria, nyeri,gatal)  Kontak dengan bulu pada abdomen kupukupu dewasa Lepidopterisme (dermatitis mirip giant urticaria)  Epidemiologi : Terdapatnya kasus di suatu daerah dipengaruhi oleh spesies kupu-kupu, keadaan daerah dan kebiasaan masyarakat sebagai petani/pekerja kebun

48 1.2. Tungau Debu ( Dematophagoides pteronyssimus ) Ditemukan pada debu rumah di tempat tidur,karpet,lantai dan luar rumah seperti sarang burung dan permukaan kulit binatang Ditemukan pada debu rumah di tempat tidur,karpet,lantai dan luar rumah seperti sarang burung dan permukaan kulit binatang Penyebab asma alergi karena seluruh tubuh tungau mengandung alergen Penyebab asma alergi karena seluruh tubuh tungau mengandung alergen Epidemiologi : Populasi tungau debu dalam rumah tergantung pada : Epidemiologi : Populasi tungau debu dalam rumah tergantung pada : Ketinggian tempat tinggal dari permukaan lautKetinggian tempat tinggal dari permukaan laut IklimIklim Binatang yang ada dalam rumahBinatang yang ada dalam rumah SanitasiSanitasi Suhu dan kelembaban udaraSuhu dan kelembaban udara

49 2. SENGATAN 2.1. Lebah  Memiliki alat penyengat yang mengeluarkan toksin  Akibat sengatan : ringan (nyeri,gatal) dan berat (mual,demam,sesak napas,kolaps) 2.2. Kalajengking  Memiliki alat penyengat yang mengeluarkan toksin  Akibat sengatan:nyeri, dapat menimbulkan keracunan sistemik kematian karna syok dan paralisis pernapasan

50 3. GIGITAN 3.1. Kelabang Menimbulkan nyeri dan eritema karena toksin yang keluar Menimbulkan nyeri dan eritema karena toksin yang keluar 3.2. Laba-laba Menyebabkan kelainan yang disebut araknidisme (arachnidisme) ; menurut sifat toksinnya terdiri atas araknidisme nekrotik dan araknidisme sistemik Menyebabkan kelainan yang disebut araknidisme (arachnidisme) ; menurut sifat toksinnya terdiri atas araknidisme nekrotik dan araknidisme sistemik 3.3. Sengkenit Mengandung toksin yang dapat menyebabkan paralisis Mengandung toksin yang dapat menyebabkan paralisis Epidemiologi : Di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara, banyak terdapat peternakan sapi dapat ditemukan kasus paralisis karena sengkenit Epidemiologi : Di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara, banyak terdapat peternakan sapi dapat ditemukan kasus paralisis karena sengkenit

51 ANTROPODA PENYEBAB PENYAKIT 1. SKABIES  Adalah penyakit kudis, yaitu penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis  Gejala klinis; gatal-gatal terutama pada malam hari (pruritus nokturna) didahului dengan timbulnya bintik- bintik merah (rash)  Tungau hidup dalam terowongan kulit (berwarna putih abu) di jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, pada bayi menyerang telapak tangan dan kaki  Epidemiologi : Penyakit ini dapat terjadi pada satu keluarga, tetangga yang berdekatan, bahkan bisa terjadi di seluruh kampung

52 2. DEMODIASIS Infestasi oleh tungau folikel rambut (Demodex follicularum) Infestasi oleh tungau folikel rambut (Demodex follicularum) Hidup di folikel rambut dan kelenjar keringat terutama disekitar hidung dan kelopak mata sebagai parasit permanen, kadang-kadang ditemukan dikulit kepala Hidup di folikel rambut dan kelenjar keringat terutama disekitar hidung dan kelopak mata sebagai parasit permanen, kadang-kadang ditemukan dikulit kepala Menyebabkan kelainan:blefaritis,akne rosasea,impetigo kontangiosa disertai gatal dan dapat terjadi infeksi sekunder Menyebabkan kelainan:blefaritis,akne rosasea,impetigo kontangiosa disertai gatal dan dapat terjadi infeksi sekunder Epidemiologi: bersifat kosmopolit dan tidak berbahaya Epidemiologi: bersifat kosmopolit dan tidak berbahaya

53 3. PEDIKULOSIS Adalah gangguan yang disebabkan infestasi tuma, misalnya gangguan pada rambut kepala disebabkan oleh tuma kepala (pediculus humanus var.capitis) Adalah gangguan yang disebabkan infestasi tuma, misalnya gangguan pada rambut kepala disebabkan oleh tuma kepala (pediculus humanus var.capitis) Menimbulkan papula merah dan rasa gatal karena air liur tuma Menimbulkan papula merah dan rasa gatal karena air liur tuma Epidemiologi : Epidemiologi : Infestasi mudah terjadi dengan kontak langsung Infestasi mudah terjadi dengan kontak langsung Pencegahan : Menjaga kebersihan kulit kepala Pencegahan : Menjaga kebersihan kulit kepala Pemberantasan : Menggunakan tangan,sisir serit, insektisida golongan klorin (benzen heksa klorida) Pemberantasan : Menggunakan tangan,sisir serit, insektisida golongan klorin (benzen heksa klorida)

54 4. FTIARIASIS Ftiariasis (pedikulosis pubis) adalah gangguan pada daerah pubis disebabkan oleh infestasi tuma phtirus pubis Ftiariasis (pedikulosis pubis) adalah gangguan pada daerah pubis disebabkan oleh infestasi tuma phtirus pubis Gangguan utama adalah rasa gatal didaerah pubis Gangguan utama adalah rasa gatal didaerah pubis Epidemiologi : Penularan dapat terjadi bila ada kontak langsung, terutama pada waktu hubungan seksual Epidemiologi : Penularan dapat terjadi bila ada kontak langsung, terutama pada waktu hubungan seksual

55 5. MIASIS Adalah infestasi larva lalat ke dalam jaringan atau alat tubuh manusia Adalah infestasi larva lalat ke dalam jaringan atau alat tubuh manusia Merupakan penyakit yang biasanya dianggap sebagai kontaminasi larva lalat ke dalam luka Merupakan penyakit yang biasanya dianggap sebagai kontaminasi larva lalat ke dalam luka Secara klinis miasis dibagi menjadi : Secara klinis miasis dibagi menjadi : 1)Miasis Kulit/subkutis: larva diletakkan pada kulit utuh atau luka dan membuat terowongan berkelok-kelok sehingga terbentuk ulkus yang luas 2)Miasis Nasofaring: Terjadi pada anak dan bayi, khususnya yang mengeluarkan sekret dari hidungnya dan yang tidur tanpa kelambu larva yang diletakkan mampu menembus kulit lunak bayi dan membuat ulkus

56 5. MIASIS (Lanjutan) 3)Miasis Intestinal ; terjadi secara kebetulan karena menelan makanan yang terkontaminasi telur atau larva lalat, Lalat menetas di lambung dan menyebabkan mual, muntah, diare, spasme abdomen, dapat pula menimbulkan luka pada dinding usus 4)Miasis Urogenital ; Larva lalat ditemukan pada vagina dan urine. Menyebabkan piuria, uretritis, sistitis 5)Miasis Mata (oftalmomiasis) : Belum banyak di temukan di Indonesia  Pencegahan : menghindari kontak dengan lalat; memusnahkan tempat perindukan lalat; menutup makanan dengan baik

57 MORFOLOGI UMUM ANTROPODA Antopoda mempunyai 4 tanda morfologi yang jelas : 1) Badan beruas-ruas 2) Umbai-umbai; beruas-ruas; tumbuh menurut fungsinya, - Pada kepala antena dan mandibula - Pada Toraks kaki dan sayap - Pada abdomen kaki pengayuh 3) Eksoskelet : sebagai penguat tubuh, pelindung alat dalam, tempat melekat otot, pengatur penguapan air, penerus rangsang yang berasal dari luar badan 4) Bentuk badan simetris bilateral

58 NYAMUKMorfologi Berukuran kecil (4-13 mm) dan rapuh Berukuran kecil (4-13 mm) dan rapuh Kepala memiliki probosis halus dan panjang: pada betina berfungsi sebagai alat penghisap darah, pada jantan sebagai alat penghisap bahan-bahan cair seperti cairan tumbuh- tumbuhan, buah-buahan dan keringat Kepala memiliki probosis halus dan panjang: pada betina berfungsi sebagai alat penghisap darah, pada jantan sebagai alat penghisap bahan-bahan cair seperti cairan tumbuh- tumbuhan, buah-buahan dan keringat Di kiri kanan probosis terdapat palpus (5ruas) dan antena (15 ruas) Di kiri kanan probosis terdapat palpus (5ruas) dan antena (15 ruas) Antena pada nyamuk jantan berambut lebat (plumose) dan pada betina berambut jarang (pilose) Antena pada nyamuk jantan berambut lebat (plumose) dan pada betina berambut jarang (pilose) Sebagian besar toraks yang tampak (mesonatum) dilputi bulu halus, berwarna putih/kuning dan membentuk gambaran yang khas untuk masing-masing spesies Sebagian besar toraks yang tampak (mesonatum) dilputi bulu halus, berwarna putih/kuning dan membentuk gambaran yang khas untuk masing-masing spesies Memiliki 3 pasang kaki (hexapoda) yang melekat pada toraks Memiliki 3 pasang kaki (hexapoda) yang melekat pada toraks

59 Daur Hidup Mengalami metamorfosis sempurna: telur – larva – pupa – dewasa; stadium telu-larva-pupa hidup dalam air, stadium dewasa hidup beterbangan Mengalami metamorfosis sempurna: telur – larva – pupa – dewasa; stadium telu-larva-pupa hidup dalam air, stadium dewasa hidup beterbangan Nyamuk dewasa mengisap darah manusia dan binatang untuk pembentukan telur Nyamuk dewasa mengisap darah manusia dan binatang untuk pembentukan telur Telur diletakkan diatas permukaan air (Anopheles,Aedes,Culex) atau dibalik permukaan daun tumbuh-tmbuhan air (Mansonia) Telur diletakkan diatas permukaan air (Anopheles,Aedes,Culex) atau dibalik permukaan daun tumbuh-tmbuhan air (Mansonia) Tempat perindukan (breeding place); tempat nyamuk meletakkan telur-telurnya untuk kemudian telur-telur tsb menetas menjadi larva pupa dewasa Tempat perindukan (breeding place); tempat nyamuk meletakkan telur-telurnya untuk kemudian telur-telur tsb menetas menjadi larva pupa dewasa Tempat perindukan untuk masing-masing spesies berlainan Tempat perindukan untuk masing-masing spesies berlainan

60 Perilaku Umur nyamuk tidak sama; betina hidup lebih lama daripada jantan. Biasanya umur nyamuk sekitar 2 minggu, namun ada yang dapat hidup hingga 2-3 bulan (Anopheles punctipennis) Umur nyamuk tidak sama; betina hidup lebih lama daripada jantan. Biasanya umur nyamuk sekitar 2 minggu, namun ada yang dapat hidup hingga 2-3 bulan (Anopheles punctipennis) Hospes yang disukai nyamuk berbeda-beda : Hospes yang disukai nyamuk berbeda-beda : - Nyamuk hanya mengisap darah manusia = antropofilik - Nyamuk hanya mengisap darah binatang = zoofilik - Nyamuk lebih suka mengisap darah binatang daripada manusia= Antropopozoofilik  Nyamuk istirahat setelah mengisap darah : - Nyamuk lebih suka beristirahat di dalam rumah = endofilik - Nyamuklebih suka beristirahat diluar rumah = eksofilik

61 Perilaku (Lanjutan) Aktivitas menggigit berbeda-beda : Aktivitas menggigit berbeda-beda : Nyamuk menghisap darah pada malam hari : Night- biters Nyamuk menghisap darah pada malam hari : Night- biters Nyamuk menghisap darah pada siang hari : Day-biters Nyamuk menghisap darah pada siang hari : Day-biters Nyamuk menghisap darah didalam rumah : Endofagik Nyamuk menghisap darah didalam rumah : Endofagik Nyamuk menghisap darah diluar rumah : Eksofagik Nyamuk menghisap darah diluar rumah : Eksofagik  Jarak terbang nyamuk berbeda-beda menurut spesies: Jarak terbang nyamuk betina lebih jauh daripada jantan Jarak terbang nyamuk betina lebih jauh daripada jantan Aedes aegypti jarak terbangnya pendek : Anopheles dapat terbang sampai 1,6 km, Aedes vexans dapat mencapai 30 km Aedes aegypti jarak terbangnya pendek : Anopheles dapat terbang sampai 1,6 km, Aedes vexans dapat mencapai 30 km

62 1.2. VEKTOR TRIPANOSOMIASIS AFRIKA Tripanosomiasis Afrika : Penyakit tidur afrika atau African sleeping sickness Tripanosomiasis Afrika : Penyakit tidur afrika atau African sleeping sickness Vektor : lalat tse tse (Glossina) Vektor : lalat tse tse (Glossina) Terdapat 2 spesies yang berperan sbg vektor biologik tripanosomiasis ; Glossina morsitans (menularkan Tripanosoma rhodesiense si Afrika bag timur) & Glossina palpalis (menularkan trypanosoma gambiense di Afrika bagian barat) Terdapat 2 spesies yang berperan sbg vektor biologik tripanosomiasis ; Glossina morsitans (menularkan Tripanosoma rhodesiense si Afrika bag timur) & Glossina palpalis (menularkan trypanosoma gambiense di Afrika bagian barat) Mengalami metamorfosis sempurna Mengalami metamorfosis sempurna Jantan dan betina menghisap darah terutama pada pagi hari Jantan dan betina menghisap darah terutama pada pagi hari Habitat : Habitat :  Glossina morsitans; daerah terbuka dengan tanah yang keras  Glossina palpalis : daerah berpasir atau tanah disekitar sungai/danau yang banyak ditumbuhi pohon

63 1.3. VEKTOR TRIPANOSOMIASIS AMERIKA Tripanosomiasis Amerika (penyakit Chagas) disebabkan oleh Tripanosoma cruzi Tripanosomiasis Amerika (penyakit Chagas) disebabkan oleh Tripanosoma cruzi Vektor : Triatoma rubrofasciata & Rhodnius prolixus Vektor : Triatoma rubrofasciata & Rhodnius prolixus (vektor biologik Mengalami metamorfosis tidak sempurna (telur- nimfa-dewasa) Mengalami metamorfosis tidak sempurna (telur- nimfa-dewasa) Stadium telur, nimfa, dewasa berada pada satu habitat yaitu celah-celah dinding rumah yang retak Stadium telur, nimfa, dewasa berada pada satu habitat yaitu celah-celah dinding rumah yang retak

64 1.4. VEKTOR LEISMANIASIS Leismaniasis disebabkan oleh Leishmania donovani, Leishmania tropika & Leismania brasiliense Leismaniasis disebabkan oleh Leishmania donovani, Leishmania tropika & Leismania brasiliense Vektor : Phlebotamus longipalpis (lalat pasir= sand fly) Vektor : Phlebotamus longipalpis (lalat pasir= sand fly) Mengalami metamorfosis sempurna Mengalami metamorfosis sempurna Jantan dan betina mengisap darah Jantan dan betina mengisap darah

65 PENGENDALIAN VEKTOR TUJUAN  Mengurangi/menekan populasi vektor serendah- rendahnya  Menghindarkan terjadinya kontak antara vektor dan manusia TERDIRI ATAS : 1) Pengendalian secara alami : yang berperan adalah faktor-faktor ekologi yang bukan merupakan tindakan manusia, yaitu topografi, ketinggian, iklim, musuh alami vektor

66 2) Pengendalian secara buatan : dilakukan atas usaha manusia yaitu : Pengendalian lingkungan (environmental control) Pengendalian lingkungan (environmental control) Pengendalian kimiawi Pengendalian kimiawi Pengendalian Fisik Pengendalian Fisik Pengendalian Biologik Pengendalian Biologik Pengendalian Genetik Pengendalian Genetik Pengendalian Legislatif Pengendalian Legislatif

67 PENGENDALIAN SECARA ALAMI Rintangan penyebaran serangga : gunung, lautan, danau, sungai yang luas Rintangan penyebaran serangga : gunung, lautan, danau, sungai yang luas Daerah ketinggian : ketidakmampuan mempertahankan hidup didaerah ketinggian tertentu Daerah ketinggian : ketidakmampuan mempertahankan hidup didaerah ketinggian tertentu Pengaruh cuaca dan iklim : Pengaruh cuaca dan iklim :  Perubahan musim gangguan pada serangga  Iklim panas, udara kering, tanah tandus atau iklim dingin tidak memungkinkan perkembangbiakanserangga  Angin besar dan curah hujan yang tinggi mengurangi jumlah populasi serangga  Pemangsa serangga : burung, katak, cicak  Penyakit serangga

68 PENGENDALIAN LINGKUNGAN Mengelola lingkungan sehingga terbentuk lingkungan yang tidak cocok yang dapat mencegah/membatasi perkembangan vektor A. Modification Lingkungan Tidak merusak keseimbangan alam, tidak mencemari lingkungan, harus dilakukan terus menerus  Pengaturan sistem irigasi  Penaganan sampah  Pengaliran air tergenang hingga kering

69 B. Manipulasi Lingkungan Pembersihan/pemeliharaan sarana fisik yang telah ada Agar tidak terbentuk perindukan atau peristirahatan Serangga Membersihkan tanaman air Membersihkan tanaman air Melestarikan tanaman bakau Melestarikan tanaman bakau Melancarkan aliran air got Melancarkan aliran air got

70 PENGENDALIAN KIMIAWI  Menggunakan bahan kimia untuk membunuh (insektisida) atau mengusir serangga (repellent).  Keuntungan : Dapat dilakukan segera, meliputi daerah luas, hasil diperoleh dalam waktu singkat  Kerugian:  Hasil bersifat sementara  Potensi mencemari lingkungan  Potensi menimbulkan resistensi serangga  Dapat membunuh pemangsa serangga  Penolakan oleh penduduk  Menuangkan solar/minyak tanah pada permukaan tempat perindukan  Penggunaan larvisida untuk larva nyamuk; herbisida untuk tanaman air tempat berlindungnya larva nyamuk, insektisida untuk nyamuk dewasa

71 PENGENDALIAN MEKANIK Menggunakan alat yang langsung dapat membunuh, menangkap, menghalau atau mengeluarkan serangga dari jaringan tubuh Menggunakan alat yang langsung dapat membunuh, menangkap, menghalau atau mengeluarkan serangga dari jaringan tubuh Baju pelindung, kawat kasa, sisir serit, ovitrap Baju pelindung, kawat kasa, sisir serit, ovitrap

72 PENGENDALIAN FISIK Pemanasan (suhu 60°C dapat membnuh serangga) Pemanasan (suhu 60°C dapat membnuh serangga) Pembekuan (membunuh serangga) Pembekuan (membunuh serangga) Pengadaan hembusan angin keras (mengganggu aktivitas serangga) Pengadaan hembusan angin keras (mengganggu aktivitas serangga) Penyinaran (membunu atau mengganggu kehidupan serangga; sinar lampu kuning dapat menghalau nyamuk) Penyinaran (membunu atau mengganggu kehidupan serangga; sinar lampu kuning dapat menghalau nyamuk)

73 PENGENDALIAN BIOLOGIK  Mengembangbiakkan dan memanfaatkan pemangsa dan parasit sebagai musuh secara alami serangga  Pengendali larva nyamuk :  Nematoda: Ramanomermis iyengari & Ramanomermis culiciforax menembus tubuh larva dan hidup sebagai parasit sehingga larva mati  Bakteri : Bacillus thuringiensis untuk Anopheles Bacillus sphaerincus untuk Cx. quinquefasciatus Bacillus sphaerincus untuk Cx. quinquefasciatus  Protozoa : Pleistophora culicis dan Nosema algerae  Jamur : Langenidium giganticum dan Coelomyces stegomydae untuk larva nyamuk stegomydae untuk larva nyamuk Tolypocladium cylindrosporum utk larva nyamuk & larva lalat Tolypocladium cylindrosporum utk larva nyamuk & larva lalat  Virus : Cytoplasmic polyhidrosis untuk larva kupu-kupu

74 PENGENDALIAN BIOLOGIK (Lanjutan) Pengendali nyamuk dewasa : Pengendali nyamuk dewasa : Antropoda Arrenurus madarazzi ( Parasit nyamuk dewasa  Predator/pemangsa larva nyamuk: Ikan : Panchax panchax (ikan kepala timah) Ikan : Panchax panchax (ikan kepala timah) Lebistus reticularis (Guppy/water ceto) Lebistus reticularis (Guppy/water ceto) Gambusia affinitis (ikan gabus) Gambusia affinitis (ikan gabus) Larva nyamuk yang lebih besar : Toxorrhynchites amboinensis, Culex fuscanus Larva nyamuk yang lebih besar : Toxorrhynchites amboinensis, Culex fuscanus Larva capung Larva capung Crustaceae (udang-udangan) : mesocyclops Crustaceae (udang-udangan) : mesocyclops

75 PENGENDALIAN GENETIKA Tujuan: Mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang tidak merugikan Tujuan: Mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang tidak merugikan Cara : Cara :  Memandulkan serangga jantan dengan bahan kimia atau radiasi  Mengawinkan antara strain nyamuk sehingga sitoplasma telur tidak dapat ditembus sperma  Mengawinkan serangga antar spesies terdekat sehingga di dapatkan keturunan jantan yang steril  Kekurangan : Pengendalian genetika baru dalam skala laboratorium, belum berhasil baik di lapangan

76 PENGENDALIAN LEGISLATIF Tujuan : Mencegah tersebarnya serangga berbahaya dari satu daerah ke daerah lain atau dari luar negeri ke Indonesia Tujuan : Mencegah tersebarnya serangga berbahaya dari satu daerah ke daerah lain atau dari luar negeri ke Indonesia Cara : Menegakkan peraturan dengan sanksi pelanggaran oleh pemerintah Cara : Menegakkan peraturan dengan sanksi pelanggaran oleh pemerintah Contoh : Contoh : Karantina di pelabuhan laut dan udara untuk mencegah masuknya hama tanaman dan vektor penyakit Karantina di pelabuhan laut dan udara untuk mencegah masuknya hama tanaman dan vektor penyakit Penyemprotan insektisida di kapal yang berlabuh atau pesawat yang mendarat Penyemprotan insektisida di kapal yang berlabuh atau pesawat yang mendarat

77 INSEKTISIDA Bahan yang mengandung persenyawaan kimia untuk membunuh serangga Bahan yang mengandung persenyawaan kimia untuk membunuh serangga Syarat inektisida yang baik : Syarat inektisida yang baik : Daya bunuh besar dan cepat, namun tidak membahayakan Daya bunuh besar dan cepat, namun tidak membahayakan Hewan vertebrata dan manusia Hewan vertebrata dan manusia Murah dan mudah di dapat Murah dan mudah di dapat Susunan kimia stabil dan tidak mudah terbakar Susunan kimia stabil dan tidak mudah terbakar Mdah digunakan dan dapat dicampurkan dengan berbagai pelarut Mdah digunakan dan dapat dicampurkan dengan berbagai pelarut Tidak berwarna dan tidak berbau menyengat Tidak berwarna dan tidak berbau menyengat

78 Efektivitas insektisida bergantung pada : Efektivitas insektisida bergantung pada : Bentuk insektisida Bentuk insektisida Cara masuk kedalam badan serangga Cara masuk kedalam badan serangga Jenis kandungan bahan kimia Jenis kandungan bahan kimia Konsentrasi dan dosis insektisida Konsentrasi dan dosis insektisida  Faktor yang harus diperhatikan untuk mengendalikan serangga dengan insektisida : Species serangga Species serangga Ukuran dan susunan badan serangga Ukuran dan susunan badan serangga Stadium serangga Stadium serangga Sistem pernapasan dan bentuk mulut Sistem pernapasan dan bentuk mulut Habitat serangga Habitat serangga Perilaku serangga termasuk kebiasaan makannya Perilaku serangga termasuk kebiasaan makannya

79 VEKTOR & HOSPES PERANTARA VEKTOR : Suatu jasad (biasanya serangga) yang dapat menularkan parasit pada manusia dan hewan. Vektor harus selalu ada dalam rantai penularan penyakit-penyakit tertentu. VEKTOR : Suatu jasad (biasanya serangga) yang dapat menularkan parasit pada manusia dan hewan. Vektor harus selalu ada dalam rantai penularan penyakit-penyakit tertentu. HOSPES PERANTARA : Hospes tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang siap ditularkan kepada manusia (hospes). HOSPES PERANTARA : Hospes tempat parasit tumbuh menjadi bentuk infektif yang siap ditularkan kepada manusia (hospes). HOSPES : Species yang dihinggapi parasit, yang mungkin menderita berbagai kelainan fungsi organ sehingga menjadi sakit. HOSPES : Species yang dihinggapi parasit, yang mungkin menderita berbagai kelainan fungsi organ sehingga menjadi sakit.

80


Download ppt "Definisi : Ilmu yang mempelajari tentang vektor, kelainan dan penyakit yang disebabkan oleh arthropoda. Siklus Hidup : Penting dipelajari dalam rangka."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google