Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Gangguan Kepribadian. Gambaran Klinis Gangguan kepribadian, gambarannya: Pola perilaku dan pengalaman disfungsional yang terus bertahan Pola dimulai di.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Gangguan Kepribadian. Gambaran Klinis Gangguan kepribadian, gambarannya: Pola perilaku dan pengalaman disfungsional yang terus bertahan Pola dimulai di."— Transcript presentasi:

1 Gangguan Kepribadian

2 Gambaran Klinis Gangguan kepribadian, gambarannya: Pola perilaku dan pengalaman disfungsional yang terus bertahan Pola dimulai di masa remaja dan konsisten pada situasi apapun Fungsi kognisi, afeksi, kendali impuls, perilaku dan hubungan interpersonal sulit dilakukan Berulangkali terjadi masalah hubungan relasional dan/atau pekerjaan Tidak dapat berlajar dari pengalaman ataupun psikoterapi Diikuti dengan riwayat gangguan psikologik lainnya dan kriminalitas

3 Gambaran Klinis Gangguan kepribadian khas dengan pola perilaku dan pengalaman yang bertahan, menyimpang dari budaya dan membuat individu stres atau terganggu fungsi sosialnya. Dua atau lebih kesulitan utama pada fungsi : kognisi, afek, kendali impuls, perilakum hubungan antar orang. Kognisi : aneh atau sulit menginterpretasikan diri sendiri, oranglain ataupun situasi. Afeksi : Rentang respon emosi, intensitas, lanilitas, dan ketepatan diluar dugaan budaya yang berlaku s. Sulit mengendalikan impuls, terjadi kesalahan perilaku dan dalam kendali impuls, terlihatlah perilaku aneh atau terhambat Sangat sulit mengikat hubungan interpersonal, memelihara dan mengisinya.

4 Gambaran Klinis Dalam jangka panjang, orang-orang disekitar enggan berhubungan dengannya, mereka disingkirkan atau direspon negatif ; semua menimbulkan penderitaan baginya. Sulit mengubahnya, karena mereka tak dapat belajar dari pengalaman ataupun dari psikoterapi, pola perilaku makin kaku Kesalahan yang sama selalu terulang, tidak menyadari dampak dari perilakunya terhadap orang lain, atau berharap menutupi kesulitan interaksi sosial dan psikologik.

5 Gambaran Klinis Kepribadian antisosial, dibuat berdasarkan reputasi dan bukan pada presentasi Gangguan kepribadian muncul bersama gangguan psikologik lainnya atau perilaku kriminal. Secara klinis gangguan kepribadian sangat bermasalah bagi pelaku kesehatan dan pasien lainnya

6 Gambaran Klinis Gangguan personaliti ada 10 yang terbagi atas 3 klaster atau kelompok besar karena kesamaan gambaran klinisnya Klaster pertama :Gangguan kepribadian paranoid, schizoid dan schizotypal, dikelompokan bersama karena sama-sama aneh dan eksentrik perilakunya. Klaster kedua : Gangguan kepribadian antisocial, borderline, histrionic dan narcissistic, khas dengan perilaku impulsif dramatik, emosional atau erratik Klaster ketiga : Gangguan kepribadian menghindar, dependen, dan obsessive-compulsive, khas dengan anxietas dan ketakutan Dalam ICD 10 dibanding DSM IV ada perbedaan kecil dalam klasifikasinya. Sindroma schizotypal masuk dalam daftar kondisi psikotik bersama skizofrenia dalam ICD 10 dan gangguan kepribadian narcissistic dihilangkan Juga gangguan kepribadian obsessive compulsive merujuk pada gangguan kepribadian anankastik. Multiple personality disorder (MPD), tidak dimasukan dalam klasifikasi gangguan kepribadian dalam ICD 10. Sama halnya dengan gangguan dissociative identitas (terminologi DSM IV untuk MPD) diklasifikasikan dalam gangguan kepribadian pada DSM IV. Dalam kedua sistem klasifikasi kondisi ini masuk dalam gangguan lain dengan gambaran utama disosiasi

7 Klaster A. Kelompok aneh, eksentrik Gangguan kepribadian Paranoid Gangguan kepribadian Schizoid Gangguan kepribadian Schizotypal

8 Gangguan Kepribadian Paranoid Tak pernah akan mempercayai orang. Pada tingkat kognitif, motif orang lain senantiasa diartikan negatif, membahayakan, konspirasional atau eksplotatif. Asumsinya didasarkan data yang minim atau ambigu, intinya orang-orang akan mencelakakan mereka,disloyal, exploitasi, atau menggunakan data personal untuk mendiskreditkan mereka. Pada tingkat afektif, mereka marah, menyerang, tidak memaafkan orang- orang yang mereka lihat membahayakan diri mereka. Pada tingkat perilaku dan intersonal, senantiasa mempertanyakan loyalitas teman dekat, pasangan atau partner. Selalu tidak percaya, memeriksa ulang pasangan seksualnya atas kesetiaan tidak berselingkuh. Dendam akan terus menyala kepada kawan, pasangan yang menghina, mengejek, membajayakan atau mempecundangi mereka

9 Gangguan Kepribadian Skizoid Pola perilaku tidak melekatkan diri pada siapapun, penyendiri. Pada tingkat kognitif kegiatannya selalu sendiri, tidak ingin akrab dengan orang, tak ikut kegiatan keluarga, teman, atau pasangan seksual, bersikap acuh pada pujian dan kritik. Pada tingkat afektif emosinya terbatas. Mereka tidak depresi, tidak senang beraktivitas dengan kawan, tidak juga marah meski situasi ekstrim. Pada tingkat interpersonal sedikit kawan, terlihat dingin, dan berbeda. Tak ada perhatian pada konvensi sosial.

10 Gangguan Kepribadian Skizotipal Persepsi tidak biasanya, pikiran dan pembicaraan eksentrik, afek tak serasi atau terbatas, perilaku aneh atau eksentrik, sedikit relasi. Pada tingkat persepsi, mereka mempunyai pengalaman tidak biasa seperti melihat setan, kekuatan magis, mistik, atau getaran-getaran. Mengalami depersonalisasi (penonton bagi dirinya sendiri seperti dalam mimpi). Juga mengalami derealisasi (dunia seperti dalam mimpi). Pada tingkat kognitif : ideas of reference, yakin bahwa kejadian rutin mempunyai makna personal—misal bentuk dari awan membuat mereka melakukan aktivitas tertentu

11 Gangguan Kepribadian Skizotipal Berkeyakinan paranormal, tentang kekuatan magis, telepati, alien, dsb diluar norma budayanya. Juga paranoid dan curiga pada orang. Pembicaraannya aneh, tidak biasa, eksentrik. Pada tingkat afektif : orang dengan gangguan kepribadian schizotypal menunjukan emosi terbatas, kecemasan sosial berdasarkan ketakutan paranoidnya. Pada tingkat perilaku : aneh, eksentrik, ganjil. Misalnya berdandan tidak seperti layaknya orang dengan cara-cara diluar orang-orang lainnya Pada tingkat interpersonal : menarik diri, cemas pada orang, menghindar dari orang lain

12 Klaster B. Kelompok dramatik, emosional, erratik Kelompok gangguan kepribadian dramatik, emosional, erratik : Gangguan kepribadian antisosial Gangguan kepribadian ambang Gangguan kepribadian histrionik Gangguan kepribadian narsisistik

13 Gangguan Kepribadian Antisosial Secara pervasif mengganggu hak orang lain dan secara konsisten melanggar hak. Pola kepribadian ini juga disebut sebagai gangguan kepribadian psikopati, sosiopati, dan dissosial. Pada level behavioural, mereka dengan gangguan kepribadian antisosial bersikap aggresif, destruktif, deceitful dan sering terlibat dalam perkelahian, pencurian, penipuan, kebohongan Dalam praktek klinis, gangguan kepribadian antisosial seringkali dengan riwayat hidup berkali-kali dalam tahanan/penjara. Pada leverl kognitif, orang dengan gangguan kepribadian mengejar keuntungan dan kesenangan diri tanpa etik, moral dan mengabaikan hukum. Mereka berkeyakinan bahwa agresifitas, destruktivitas, pencurian, penipuan, kebohongan untuk mencapai tujuan adalah sah. Mereka mengembangkan rasio dan kognisi untuk menalarkan pelanggaran hak atas orang lain.

14 Gangguan Kepribadian Antisosial Pada level afektif, mereka impulsif, ceroboh, hanya sedikit berencana, tak menunjukan kecemasan meski dalam situasi berbahaya sekalipun. Impulsivitas dan kesemberonoan terlihat dalam riwayat pekerjaan yang erratik, perencanaan keuangan buruk, mengebut ketika mengemudi, penggunaan napza, dan kegiatan berisiko lainnya sehingga membahayakan jiwa dan fisik orang lain dan diri sendiri. Orang dengan gangguan kepribadian antisosial seringkali terlibat dalam perkelahian karena kemudahan tersinggung dan aggresivitasnya Dalam level interpersonal mereka sulit mempertahankan hubungan intim dan akrab dengan teman maupun pasangan Biasanya mereka begitu manis meyakinkan orang bahwa mereka akan mencari hubungan akrab dan kemudian memutuskan hubungan dengan cara tidak bertanggung jawab, tidak setia, aggresi, destruksi, mencuri atau mnghianati Rasa penyesalan dan permintaan maaf hampir tidak ada. Jauh dari kesetiaan sebagai pasangan Diagnosis ini ditegakan ketika orang berusia diatas 18, dan biasanya dimulai dengan gangguan tingkah laku masa kanak

15 Gangguan Kepribadian Ambang Sangat impulsif, tidak stabil dalam hubungan interpersonal, citra diri dan mood. Pada level kognitif mereka tak akan terikat pertemanan, persahabatan dan pasangan. Pada level afektif, mereka takut terikat Mereka juga akan melepaskan aggresivitasnya pada orang- orang yang mengikat kebebasan mereka Ketakutannya akan keterikatan membuat mereka dengan tidak berhubungan akrab, sering menjauh dan mendekat, terutama pada pasangan seksual. Begitu mereka masuk dalam relasi, ketakutan keterikatannya membuat mereka menjadi terlihat memberi perhatian dan mengikat

16 Gangguan Kepribadian Ambang Ketika pasangan mereka gagal meyakinkan keterikatan atau memenuhi kebutuhan mereka akan perawatan dan pengasuhan, mereka menurunkan keintiman, menjauh, menjadi aggresif dan mengancam bunuh diri atau membunuh. Mereka akan aggresif pada orang dekatnya akibat frustasinya. Mereka akan merasa malu dan bersalah dan melukai diri sendiri, mutilasi diri untuk mendapatkan perhatian dari orang yang telah dilekatinya Sehingga mereka mungkin akan membunuh dirinya sendiri atau overdosis, kadang mereka memutilasi diri dalam status disosiatif. (Mungkin ada hubungan antara gangguan disosiatif seperti gangguan personaliti ganda )

17 Gangguan Kepribadian Ambang Perubahan pandangan overvalued and undervalued antara diri sendiri dan orang lainnya mengubah afek dan perilaku secara mendadak tanpa diduga. Rasa kekosongan, terlihat dari ketakutan dan keinginan terikat, marah dan takut, bersifat pervasif Orang dengan kepribadian ambang akan koping dengan menggunakan perilaku impulsif, aktivitas seksual, bingeing, penggunaan napza, mengemudikan kendaraan dengan ceroboh, melakukan tindakan berisiko Biasanya, mereka mempunyai pengalaman kekerasan seksual masa kanak, pengabaian, kematian orangtua pada usia dini Mempunyai riwayat banyak pasangan seksual, berganti- ganti sekolah dan pekerjaan.

18 Gangguan Kepribadian Histrionik Khas dengan pola emosi pervasif dramatik dan mencari perhatian yang berlebihan Pada level kognitif mereka berkeyakinan harus menjadi pusat perhatian, pujian, tanpa memandang kebutuhan orang lain Pada level afektif mereka haus perhatian dan sangat takut kehilangan perhatian. Pada level perilaku mereka secara rutin senantiasa membuat situasi sedemikian rupa sehingga mereka menjadi pusat perhatian. Guna mencapainya mereka bertindak seperti teater, dramatik, penuh emosi. Namun ketika hal ini dipertanyakan mereka tidak mempunyai jawaban kuat atas pilihan perilaku yang ditampilkan dan tidak mempedulikan jawabannya Mereka sangat mudah disegesti, perubahan pandangan sangat cepat tergantung kemana perhatian lebih mudah ditarik kearah dirinya. Karakteristik pandangan, opini dan relasi dangkal. Selalu mempertunjukan diri dekat/intim dengan siapapun termasu dengan dokternya; meski baru bertemu pertamakali Dandanan mereka biasanya menarik perhatian, seronok, agar orang memperhatikannya, juga sangat seduktif – erotik dan proovokatif. Bila ia laki-laki maka tampilan dirinya macho, tampil dengan bentuk tubuh yang mengagumkan, kuat atletis dan menarik secara seksual

19 Gangguan Kepribadian Narcissistic Jika berbicara: ide grandious pervasif, haus pujian, miskin empati. Pada tingkat kognitif, mereka merasa dirinya istimewa, paling bagus, karena itu harus mendapat perlakuan istimewa Mereka senantiasa berpikir besar, merasa sangat penting posisinya dan berkawan dengan orang-orang penting, karena itu mereka harus dipentingkan dan dihormati serta menjadi perhatian. Preokupasi fantasi sukses, kekuasaan dan cinta romantik Pada level afektif, mereka haus pujian, perhatian, dan layanan dari orang lain

20 Gangguan Kepribadian Narcissistic Pada level interpersonal mereka mengalami kesulitan mempertahankan relasi jangka panjang karena kemampuan terbatas untuk empati, dampak grandiositas mereka pada orang sekitarnya, dan kebutuhan untuk penghargaan/pujian. Mereka juga meninggalkan relasi lama karena kebutuhannya dari relasi lama tidak terpenuhi, tak menemui ‘perfect love’. Mereka meninggalkan teman-teman kelompok, karena kesombongan mereka, kecemburuan, keirian, posesifitas membuat temannya jengah dan teman-teman tak lagi kagum atau cemburu atas diri mereka Dalam pekerjaan mereka tak mau bekerja lagi karena takut gagal. Mereka sangan sensitif atas kritik, ketika pasangan atau orang lain mengeluhkan diri mereka atau tak lagi dapat menghargain atau memberi pujian, self esteem mereka jatuh. Mereka merasa rendah diri, terhina, kosong, yang sangat mungkin merupakan ekspresi kejengkelan dan kemarahan atau depresinya

21 Klaster C. Kelompok Cemas, ketakutan Kelompok gangguan kepribadian ini, merupakan kelompok pencemas dan ketakutan : Gangguan kepribadian Menghindar Gangguan kepribadian Dependen Gangguan kepribadian Obsesif-kompulsif

22 Klaster C. Kelompok Cemas, ketakutan Gangguan Kepribadian Menghindar Pola pervasif penghambatan hubungan sosial, pemalu, sejak masa remaja atau dewasa muda. Pada level kognitif, mereka merasa rendah diri, tidak disukai orang, dan tidak terampil, merasa bodoh. Mereka yakin, ketika mereka bertemu dengan orang baru mereka sangat takut dikritik, ditolak, dibodohi, dipermalukan atau dihina Pada level afektif mereka merasa sangat cemas dalam situasi sosial. Pada level perilaku, mereka menghindarkan diri dari situasi, pekerjaan, promosi baru, dan kontak dengan orang bermakna yang menurut pengalaman akan mengkritiknya; atau orang yang belum dikenalnya Pada level interpersonal mereka membatasi pergaulan, gaya hidup, menghindari hubungan dengan ikatan intim untuk menghindar dari hinaan dan memalukan.

23 Klaster C. Kelompok Cemas, ketakutan Gangguan Kepribadian Dependen Pola pervasif submisif dan keterlekatan. Pada level kognitif, mereka berkeyakinan mereka harus dilayani oleh orang lain (seperti orangtua, dan pasangan ) dan jika mereka dipisahkan akan menimbulkan kekacauan besar dalam dirinya) Pada level afektif, mereka merasa sangat cemas hketika terpisah dari orangtua atau pasangan, tempat mereka merasa aman dan nyaman Pada level behavioural, mereka sulit mengambil keputusan tanpa bertanya dan menerima saran serta dukungan dari orang lain Mereka sulit tidak setuju pada orang tua atau pasangan,, karena taku kehilangan dukungan. Mereka mengatur sedemikian rupa agar oranglain mengambil tanggung jawab atas pokok kehidupan mereka dan jarang mengajukan usul Mereka sangat meminta dukungan, meski mereka merasa tidak nyaman sekalipun. Pada level interpersonal, ketika hubungan intim berakhir, mereka segera mencari pasangan baru, agar tidak sendiri dan tidak membuat keputusan.

24 Klaster C. Kelompok Cemas, ketakutan Gangguan Kepribadian Obsesif-kompulsif Pola preokupasi dengan keteraturan, kesempurnaan, etika, kendali interpersonal dan ekonomi Pada level kognitif, berkeyakinan bahwa agar aman dan nyaman dalam semua aspek kehidupan maka harus ditegakan aturan yang harus dipatuhi dengan standar tinggi. Keyakinan ini berlaku untuk semua aktivitas rutin harian ; semua bidang tanggung jawab pekerjaan, kejujuran atas kesepakatan bersama, kerjasama dengan lainnya dalam pekerjaan dan pengaturan keuangan Pada level emosi, mereka menggunakan standar tinggi atas ektivitas sehari-hari dan harus diikuti dengan tepat, jika tidak maka kecemasan akan sangat tinggi Pada level behavioural, terjadi berbagai masalah dalam kehidupan

25 Klaster C. Kelompok Cemas, ketakutan Gangguan kepribadian Obsesif-kompulsif Kesulitan mutlak dalam menyelesaikan tugas tepat waktu, sesuai tenggat, pada beberapa tugas tidak pernah selesai sebab standar sempurna tidak pernah tercapai Sulit menyelesaikan berbagai hal dengan fleksibel, karena mereka sangat kaku pada perencanaan awal, meski terlihat dengan jelas ada masalah, tetap berpegang pada rencana awal. Sangat jarang mengambil aktivitas santai, hubungan dengan keluarga terabaikan karena mengabdi pada pekerja dan tidak selalu menimbang nilai ekonomi.

26 Klaster C. Kelompok Cemas, ketakutan Gangguan kepribadian Obsesif-kompulsif Sering menimbulkan konflik dan isolasi sosial pada lingkungan kerja dan santai atas alasan kekakuan pada aturan. Mereka senantiasa menghitung uang dan posesivitas sebagai antisipasi jika kelak terjadi kesulitan ekonomi. Pada level interpersonal, mereka terisolasi karena sangat menuntut orang lain atas terpenuhinya standar dan juga karena mereka sulit mengekspresikan perasaan lembut, karena menurut mereka semua orang tidak dapat memenuhi standar

27 Epidemiologi dan klasifikasi DSM IV Axis I. Gangguan Klinis (misal depresi) Axis II. Gangguan Kepribadian (misal gangguan kepribadian ambang) Axis III. Kondisi medis umum Axis IV. Masalah Psikososial dan lingkungan (misal maslah pekerjaan) Axis V.Global assessment of functioning (ada nilai skor/skala sampai 100)

28 Epidemiologi dan klasifikasi Prevalensi gangguan kepribadian berada dalam kisaran 10 sampai 13.5 % (Crits-Christoph, 1998). Gangguan kepribadian dalam klaster B, kelompok dramatik- erratik, lebih banyak daripada klaster A, kelompok aneh- eksentrik, dan lebih sering daripada kelompok klaster C, gangguan kepribadian cemas dan ketakutan Dimasyarakat sering telihat gangguan kepribadian paranoid, schizotypal, antisocsal, ambang, histrionik dan dependen. Dalam tatanan klinis lebih banyak gangguan kepribadian ambang, dependen, histrionik, schizotypal dan menghindar

29 Epidemiologi dan klasifikasi Kelompok klaster A lebih banyak dialami laki- laki. Dalam klaster B, gangguan kepribadian antisosial dan narsisistik sering terlihat pada laki-laki, gangguan kepribadian ambang lebih banyak pada perempuan Dalam klaster C, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif lebih banyak pada laki-laki.

30 Teori Etiologi Diathesis-stress, psychodynamic, dan cognitive-behavioural Teori trait.

31 Teori Etiologi Teori trait Terbukti adanya faktor herediter sesuai Five Factor Model (Costa and Widiger, 1994). Teori Trait sedikit implikasinya dalam terapi namun sangat berarti dan valid dalam asesmen. Pertanyaan struktur pada perangkat asesmen dan skrining kepribadian mempunyai reliabilitas baik (Pervin, 1990).

32 Teori Etiologi Teori Stres Diathesis Faktor biologik dan lingkungan yang membuat stress, terutama didalam keluarga, berkontribusi pada perkembangan gangguan kepribadian Teori ini menunjukan bahwa faktor genetik tertentu seperti temperamen dan faktor kerentanan atas paparan tekanan dalam keluarga, sistem sosial mempunyai kontribusi terhadap gangguan kepribadian

33 Teori Etiologi Perlu dipertimbangkan beberapa faktor genetik pada varian trait kepribadian utama seperti extroversi, neurotisisme, terbuka pada pengalaman, kehati-hatian (Paris,1996; Crits- Cristoph, 1998). Mekanisme pengaruh faktor genetik sangat kompleks, mungkin sekali banyak gen terlibat, berinteraksi dengan lingkungan pada perkembangan pembentukan kepribadian. Anak yang banyak aktivitas dan afek positif menjadi ekstrovert. Anak yang mudah tersinggung dan ketakutan menunjukan neurotisisme dalam perkembangan kemudian. Anak yang sangat atentif kemudian berkembang menjadi sangat berhati-hati (Rothbart and Ahadi, 1994)

34 Teori Etiologi Dalam klaster A, terbukti faktor biologik berperan dalam perkembangan gangguan kepribadian schizotypal Gangguan kepribadian Schizotypal merupakan spektrum dari gangguan psikotik atau gangguan mirip psikjotik termasuk schizophrenia. Gangguan kepribadian schizotypal ternyata mempunyai anggota keluarga dengan riwayat schizophrenia; terganggunya pengaturan sistem dopamine seperti gangguan perhatian dan pemrosesan proses pikir pada schizophrenia (Siever andDavis, 1991).

35 Teori Etiologi Dalam klaster B, faktor biologik ikut berperan dalam gangguan kepribadian antisosial. Orang dengan gangguan kepribadian antisosial mempunyai level sangat rendah bangkitan fisiologiknya dan gagal mengembangkan respon terkondisi atas stimuli yang menimbulkan rasa takut (Mednick and Moffit, 1985). Pada gangguan kepribadian ambang faktor genetik menimbulkan perdebatan. Namun secara konsisten terbukti bahwa mereka yang mempunyai gangguan kepribadian ambang mempunyai riwayat masa kanak dengan kekerasan, terutama kekerasan seksual (Paris, 1996).

36 Teori Etiologi Dalam klaster C, temperamennya cemas dan kecenderungan kepribadian neurosisme (yang 50% diturunkan) merupakan predisposisi gangguan kepribadian menghindar dan dependen. Orang yang hidup dalam keluarga kacau dengan kendali tinggi orangtua dan sedikit mendorong kemandirian dalam perkembangan akan mengembangkan seseorang menjadi gangguan kepribadian menghindar dan dependen. (Paris, 1996).

37 Terapi Psikofarmaka Pengobatan antipsikotik akan menurunkan sebagian simtom gangguan kepribadian klaster A, terutama gangguan kepribadian skizotipal. Gangguan kepribadian dalam klaster B, terutama gangguan kepribadian ambang, antidepresan akan memperbaiki mood, maka fluoxetine, lithium dan carbamezapine akan menurunkan impulsivitas. Dalam gangguan kepribadian klaster C, terutama gangguan kepridian menghindar obat antidepresan MAOI menurunkan simtom

38 Intervensi Terapi Marital dan keluarga fokus pada membantu pasangan dan keluarga dan mengubah pola interaksi dalam keluarga Juga sekaligus membantu keluarga mengenali dan berdaya mengubah faktor keluarga yang membuat interaksi kaku. Terapi marital dan keluarga menyertakan pasangan dan seluruh anggota keluarga, untuk mengubah kecenderungan dan pengalaman keluarga yang mendorong terjadinya atau mempertahankan gangguan kepribadian

39 Teori Psikoanalitik Teori psikoanalitik Kernberg tentang relasi-obyek mengasumsikan bahwa selama masa perkembangan dini, individu berjalan melalui suatu seri tahap perkembangan yang membangun ‘self’ agar menjadi canggih. Dalam teori relasi-obyek, diasumsikan bahwa anak belajar tentang orang lain melalui relasi diri mereka dengan orang lain melalaui ibunya atau pengasuhnya ‘Object’ adalah istilah teknik untuk orang lain (beda dengan diri individu), yang utamanya adalah ibunya selama masa perkembangan Pada masa sangat awal kehidupannya bayi tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain (ibunya)

40 Teori Psikoanalitik Dalam pengalamannya anak belajar perasaan nyaman dan tidak, yang diartikan sebagai baik dan buruk. Dalam masa awal perkembangannya anak mengembangkan symbiotic fused self-object yang merepresentasikan ‘baik atau buruk” Pada tahap dua perkembangan, anak belajar bahwa ternyata dirinya dan ibunya merupakan dua obyek terpisah Pada tahap perkembangan ini terepresentasi ‘all-good self and ‘all-bad self’; dan ‘allgood object’ and ‘all-bad object’. Begitu anak matang masuk dalam tahap perkembangan ketiga representasi ‘all-good’ and ‘all-bad’ dengan self terintegrasi. Anak berkembang menjadi lebih berpandangan sempurna, diri mempunyai dua sisi impuls dan harapan : baik positif dan negatif

41 Teori Psikoanalitik Seiring dengan itu berkembang ‘all-good’ dan ‘all-bad’ representasi orang lain (orangtua, saudara kandung, teman) terintegrasi. Anak berkembang pandangannya terhadap orang lain yang mempunyai sisi baik dan buruk. Ketika mengenali sisi ‘baik dan buruk’ pada diri sendiri dan orang lain maka relasi menjadi realistik dalam mana kedua sisi perasaan atas orang lain telah di cititrakan dan dapat ditoleransi. Dengan demikian anak dapat mencintai orangtua dalam sisi baik dan buruknya, dengan sedikit rasa kecewa yang dapat diatasi. Pada keadaan orangtua sangat memanjakan anak atau sangat mengabaikannya, atau sangat mengendalikan atau aggresif, kematangan anak dalam relasi dapat menemui kegagalan Gangguan kepribadian Klaster A dan B merupakan luaran dari pola asuh miskin perhatian, rejeksi atau kekerasan; sementara klaster C merupakan luaran dari pola asuh sangat terkendali atau overprotection. Mekanisme defensi merupakan strategi psikologi yang digunakan untuk penyesuaian diri dengan konflik antara impuls yang tidak dapat diterima (biasanya id-nafsu seks dan aggresivitas-) melawan nurani (super ego). Karena itu jika seorang mengalami impuls yang tak dapat diterima nuraninya, ia menjadi gelisah dan cemas, sebagai akibat perlawanan nurani terhadap nafsu. Mekanisme degensi digunakan untuk menurunkan kecemasan

42 Pikoterapi Psikodinamik Pertama, identifikasi dan interpretasi meliputi bagian dari relasi obyek dalam transferensi dan representasi lainnya sebagai bagian relasi obyek. Misal, terapis menerima transferensi, maka ia perlu memikirkan hal itu terkait hubungan anak dengan orangtua dimasa perkembangannya Kedua, interpretasi hubungan antara relasi obyek negatif saat transferensi, dan positif atau orangtua idealis teraktivasi muncul sesekali

43 Teori kognitif-behavioural Orang dengan gangguan kepribadian mengembangkan siklus berulang perkembangan pervasif, self-perpetuating cognitive interpersonal cycles yang sangat buruk disfungsinya (Pretzer and Beck, 1996) Dalam masa kehidupan dini, termasuk dalam interaksi rutin dengan anggota keluarga, juga kejadian traumatik, akan membentuk persepsi individu bahwa dunia dan terutama hubungan interpersonal itu buruk Kemudian berkembang menjadi reaksi emosi marah atau konfrontatif atau oposisi. Reaksi ini berkembang menjadi penarikan diri atau perlawanan terselubung atas dasar ‘didunia ini tak seorangpun patut dipercaya’

44 Teori kognitif-behavioural Untuk setiap jenis gangguan kepribadian, ada mood dan perilaku yang menonjol, karena itu ada strategi terpilih yang dapat digunakan dalam situasi hubungan interpersonal. Kumpulan asumsi dasar, pembelajaran dalam kehidupan dini, mungkin akan membentuk skema tentang persepsi mereka terhadap dunia luar, sehingga membentuk cara mereka menghadapinya atau menginterpretasinya. Distorsi kognitif seperti mind-reading (‘Saya tahu bahwa ia sedang mengguna-gunai saya’ ) atau beralasan emosional (‘Saya merasa marah, jadi pasti dia sedang memata-matai saya’) berkontribusi atas reaksi orang terhadap situasi interpersonal

45 Teori kognitif-behavioural Status mood yang menonjol merupakan predisposisi untuk jenis kepribadian tertentu ketika menghadapi situasi tertentu. Terapi kognitif bertujuan menggant kognisi yang salah dan selalu digunakan, menjadi kognisi yang lebih adaptif sehingga mengubah perilaku menjadi lebih adaptif. Terapi kognitif termasuk membantu orang mengidentifikasi dan menantang pikiran dan asumsi otomatis keliru; membantu orang mengembangkan strategi dan ketrampilan perilaku yang menyingkirkan keyakinan disfungsional; dan membantu orang memasuki aktivitas yang langsung mempengaruhi mood.

46 Teori kognitif-behavioural Terapi perilaku dialektikal (Linehan, 1993) program intervensi kompleks multisistemik, termasuk terapi intensif individual dan kelompok terapi berjumlah sekitar 8 sesi sampai setahun Manajemen kasus direncanakan secara teliti bersama anggota keluarga, atau pengawas minum obat, jejaring sebaya dan profesional lainnya Secara keseluruhan program tertuju pada goal, termasuk menurunkan risiko bunuh diri ; penurunan perilaku yang menghambat peningkatan kualitas kehidupan : peningkatan ketrampilan hidup, penurunan simtom PTSD; peningkatan respek diri Terapi kelompok termasuk psikoedukasi psikoedukasi, pelatihan ketrampilan sosial dan pelatihan pengendalian impuls dan pemngaturan afek.

47 Simpulan Gangguan kepribadian khas dengan pola perilaku disfungsi sejak masa remaja dan konsisten dalam situasi apapun. Terdapat kesulitan fungsi kognisi, afeksi, kendali impuls, perilaku dan interpersonal Terdapat juga masalah hubungan relasi interpersonal dan pekerjaan, kriminalitas, psikologik yang selalu berulang. Mereka sulit belajar dari pengalaman dan memaknai psikoterapi. Dalam DSM IV, sepuluh gangguan kepribadian utama dibagi dalam tiga klaster berbasis gambaran klnis umum Klaster dengan kelompok aneh, eksentrik terdapat pada gangguan kepribadian paranoid, schizoid dan schizotypal. Klaster dengan ciri khas dramatis, emosional, erratic: gangguan kepribadian narsisistik, histrionik, ambang dan antisosial Klaster ketiga : gangguan kepribadian menghindar, dependen, obsesif kompulsif ; berciri khas kecemasan dan ketakutan

48 Simpulan Prevalensi gangguan kepribadian 10–13 %. Luaran jangka panjang lebih baik pada yang dramatis, eratik dan cemas, ketakutan daripada klaster yang eksentrik. Konsep trait dalam variasi gangguan kepribadian seperti the Five Factor Model of Personality, lebih bersifat parsimonious dibanding tipe kategorial seperti dalam DSM IV dan ICD 10. Sekitar 50 % varian gangguan kepribadian merupakan kontribusi faktor genetik

49 Simpulan Menurut teori diathesis-stress, ketika orang berada dalam level tinggi kecenderungan kepribadian terpapar faktor risiko tinggi keluarga, maka tercetuslah gangguan kepribadian Teori Diathesis-stress mengatakan bahwa mereka dengan bakat genetik atau konstitusi rentan terhadap stres terpapar stres lingkungan tertentu, akan muncul tanda dan gejala gangguan kepribadian Teori juga memberikan informasi bagi farmakoterapi dan program berbasis terapi keluarga. Teori psikodinamik dan perilaku kognitif telah dikembangkan Controlled trials of treatment programmes menunjukan hasil yang efektif.


Download ppt "Gangguan Kepribadian. Gambaran Klinis Gangguan kepribadian, gambarannya: Pola perilaku dan pengalaman disfungsional yang terus bertahan Pola dimulai di."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google