Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KONSELING KELUARGA KELOMPOK 2 : 1.MASNIYA 2.RISMA TRI S 3.ANGGA ANDRIANSYAH T 4.DINDA KUSUMA SARI 5.AYU FATMA NURI.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KONSELING KELUARGA KELOMPOK 2 : 1.MASNIYA 2.RISMA TRI S 3.ANGGA ANDRIANSYAH T 4.DINDA KUSUMA SARI 5.AYU FATMA NURI."— Transcript presentasi:

1 KONSELING KELUARGA KELOMPOK 2 : 1.MASNIYA 2.RISMA TRI S 3.ANGGA ANDRIANSYAH T 4.DINDA KUSUMA SARI 5.AYU FATMA NURI

2 Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan, emosional dan individu mempunyai peranan masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 1998) Macam-macam keluarga 1.Keluarga inti (suami-istri-anak) 2.Keluarga multigenerasi (orang tua-anak-kakek nenek) 3.Keluarga orangtua tunggal (1 orangtua- anak) 4.Keluarga yg menikah lagi (campuran, tiri) 5.Keluarga karir ganda (suami istri bekerja-berkomitmen tinggi) 6.Keluarga tanpa anak (pasangan- memutuskan utk tdk mempunyai anak) 7.Keluarga lansia (kepala rumah tangga usia 65 tahun atau lebih) 8.Keluarga gay/lesbian (pasangan berkelamin sama- tanpa anak) 9.Keluarga multikultural (berasal dari 2 budaya yg berbeda)

3 Konseling keluarga merupakan proses pemberian bantuan kepada individu dengan melibatkan para anggota keluarga lainnya dalam upaya memecahkan masalah yang dialami. Satu cara untuk memahami individu dan keluarga, yaitu dengan cara meneliti perkembangan mereka lewat siklus kehidupan keluarga. Perez (1979:19 dalam Willis, Sofyan 2013) mengemukakan bahwa seorang anggota keluarga merupakan hasil adaptasi atau interaksinya terhadap lingkungan yang sakit pula yang diciptakan oleh keluarga itu. Sehingga definisi konseling keluarga dapat disimpulkan bahwa konseling keluarga adalah suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan dimana setiap anggota keluarga merasakan kebahagiaan.

4 ASUMSI KONSELOR KELUARGA 1.Terjadinya perasaan kecewa karena tertekan atau sakitnya anggota keluarga bukan hanya disebabkan oleh dirinya sendiri melainkan oleh interaksi yang tidak sehat. 2.Ketidaktahuan individu dalam keluarga tentang perannya dalam menjalani kehidupan keluarga. 3.Situasi hubungan suami istri dan antar keluarga lainnya. 4.Penyesuaian diri yang kurang sempurna dalam sebuah keluarga sangat mempengaruhi situasi psikologis. 5.Konseling keluarga diharapkan mampu membantu keluarga mencapai penyesuaian diri yang tinggi. 6.Interaksi kedua orangtua sangat mempengaruhi hubungan semua anggota keluarga (Perez, 1979)

5 PRINSIP KONSELING KELUARGA 1.Setiap anggota adalah sejajar, tdk ada satu yang lebih penting dari yang lain. 2.Situasi saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnyalah yang harus diubah 3.Tidak perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga karna hal ini hanya membuang waktu utk ditelusuri. 4.Selama intervensi berlangsung konselor merupakan bagian penting dalam dinamika keluarga. 5.Konselor memberanikan anggota keluarga utk mengutarakan dan berinteraksi dgn tiap anggota keluarga. 6.Relasi antara konselor merupakan hal yang sementara. 7.Supervisi dilakukan secara riil atau nyata (conselor) (perez, 1979)

6 TUJUAN KONSELING KELUARGA Tujuan Umum 1.Membantu anggota – anggota keluarga belajar dan menghargai secara emosional. 2.Untuk membantu anggota keluarga agar menyadari tentang fakta jika satu anggota keluarga bermasalah, maka akan mempengaruhi kepada persepsi, ekspektasi, dan interaksi anggota – anggota lain. 3.Agar tercapai keseimbangan yang akan membuat pertumbuhan dan peningkatan setiap anggota. 4.Untuk mengembangkan penghargaan penuh sebagai pengaruh dari hubungan parental. 5.Bertindak terus-menerus dalam konseling/terapi sampai dengan keseimbangan homeostasis dapat tercapai, yang akan menumbuhkan dan meningkatkan keutuhan keluarga.

7 Tujuan khusus 1.Untuk meningkatkan toleransi dan dorongan anggota-anggota keluarga. 2.Mengembangkan toleransi terhadap anggota-anggota keluarga. 3.Mengembangkan motif dan potensi-potensi, setiap anggota keluarga dengan cara mendorong, memberi semangat dan mengingatkan anggota tersebut. 4.Mengembangkan keberhasilan persepsi diri orang tua secara realistik dan sesuai dengan anggota – anggota lain. 5.Membantu mencapai persepsi parental yang realistis dan sesuai dengan persepsi anggota keluarga (perez,1979, dalam Hasnida, 2002).

8 PERAN KONSELOR KELUARGA Konselor tidak boleh cepat curiga dan cepat cepat menilai tentang masalah keluarga yang menyangkut anak. Ia harus mengumpulkan data langsung dengan mengadakan pengamatan, wawancara atau dengan memberi tugas-tugas tertentu kepada anak. Menurut para pakar konseling keluarga ada empat masalah pokok yang dihadapi anak, dalam menyesuaikan diri dikeluarga yaitu, ketdkseimbangan sistem, gangguan perkembangan, gangguann yang bukan perkembangan, krisis lingkungan.

9 PENDEKATAN KONSELING KELUARGA Multiple Family Therapy Keluarga-keluarga yang terpilih menemui konselor tiap minggu, dan pada waktu itu mereka menceritakan problem mereka masing-masing dan membantu sesama dalam pemecahan persoalan. Multiple impact Therapy Mencakup seluruh keluarga dalam sederetan interaksi yang berkelanjutan dengan konselor-konselor komunitas yang multidisipliner mungkin selama dua hari. Terapi ini mencakup pemberian konseling secara penuh selama dua hari atau lebih kepada satu keluarga. Terapi jaringan (Network Therapy) Berusaha memobilisasi sejumlah orang untuk berkumpul dalam suatu krisis untuk membentuk suatu kekuatan terapeutik. Tujuan ini adalah untuk memperkuat kekuatan dari jaringan yang dikumpulkan untuk memberi kesempatan untuk berubah di dalam sistem keluarga tersebut.

10 PENDEKATAN YANG DOMINAN 1.Psikodinamik : Pandangan ini berdasar pada model psikoanalisis, memberikan perhatian terhadap latar belakang dan pengalaman setiap anggota keluarga sebanyak unit keluarga itu sendiri. 2.Pendekatan eksistensial/humanistik: ini lebih menekankan pada tindakan daripada wawasan dan interpretasi. Pendekatan ini memberikan pengalaman-pengalaman dalam meningkatkan perkembangan, yaitu melalui interaksi antara konselor dan keluarga. 3.Bowenian : Pendekatan ini dianggap sebagai sesuatu yang menjembatani pandangan-pandangan yang berorientasi dinamik dengan pandangan yang lebih menekankan pada sistem. 4.Struktural: Teori konseling keluarga memfokuskan pada kegiatan, keseluruhan yang terorganisasi dari unit keluarga, dan cara-cara dimana keluarga mengatur dirinya sendiri melalui pola-pola transaksional di antara mereka.

11 5. Komunikasi/strategis : Pendekatan konseling keluarga strategis ditandai oleh taktik-taktik yang terencana dan hati-hati, serta langsung menangani masalah-masalah keluarga yang ada. 6. Behavioral : Konseling ini berupaya membawa metode ilmiah dalam proses-proses terapeutik mengembangkan monitoring secara tetap dan mengembangkan prosedur-prosedur intervensi berdasarkan data. Pendekatan behavioral memberikan pengaruh yang signifikan terhadap empat bidang yang berbeda, yaitu konseling perkawinan behavioral, pendidikan dan latihan

12 Konselor sistem keluarga menekankan gagasan kausalitas sirkular, mereka juga menekankan konsep yaitu: 1.Non-sumativitas. Keluarga lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya. 2.Equifinalitas. Asal-usul yang sama dapat mengarah pada hasil yang berbeda. 3.Komunikasi. Semua perilaku dipandang komunikatif. 4.Peraturan keluarga. Fungsi keluarga didasarkan pada peraturan eksplisit dan implisit. 5.Morfogenesis. Kemampuan keluarga untuk memodifikasi fungsinya guna memenuhi tuntutan perubahan faktor internal dan eksternal dikenal dengan morfogenesis. 6.Homeostasis. Seperti organisme biologi, keluarga mempunyai kecenderungan untuk tetap dalam kondisi keseimbangan yang stabil dan mapan, kecuali jika dipaksa untuk berubah.

13 Terdapat enam langkah untuk melaksanakan konseling keluarga menurut Doherty dan Baird (dalam Sperry,2006) yaitu sebagai berikut. 1.Melakukan pertemuan keluarga untuk melaksanakan wawancara keluarga 2.Memulai dengan suatu diskusi tentang masalah kesehatan dan gaya hidup. 3.Menemukan masukan dalam keluarga. 4.Membantu keluarga dan klien untuk membantu suatu kesepakatan tentang pemenuhan dalam merancang jadwal. 5.Memberikan informasi pada keluarga tentang ketahanan 6.Menjadwalkan untuk melakukan tindak lanjut untuk memantau progres konseling.

14 PERAN INTERVENSI PADA KONSELING KELUARGA 1. Sebagai assessor atau penilai : mengenai masalah keluarga, kebutuhan, dll 2. Pemberi informasi atau pendidikan : agar dpt beradaptasi 3. Pengembang sistem support : mengajarkan support kepada anggota keluarga. 4. Memberikan tantangan bagi keluarga 5. Memberi fasilitas prevensi : mempersiapkan keluarga dalam menghadapi stress.

15 KASUS KONSELING KELUARGA Seorang Anak Tega Membunuh Ayah Kandungnya Sendiri Lampung - Tidak tahan melihat ibunya kerap dianiaya, seorang pemuda di Tulang Bawang Lampung nekad membunuh ayah kandungnya sendiri. Tersangka mengaku gelap mata karena melihat ayahnya hendak membakar rumah yang didiami oleh ibunya. Korban tewas setelah dipukul dengan kayu dan dilukai dengan kapak. Kendati merasa menyesal Tarmiji mengaku tindakan membunuh ayah kandungnya merupakan hal yang wajar. Kasus pembunuhan ini, direka ulang petugas, Rabu (21/03) kemarin. Pemuda berusia dua puluh empat tahun ini mengaku nekad menghabisi nyawa Samiran, ayah kandungnya sendiri karena tidak tahan lagi melihat Samiran kerap menyiksa ibu kandungnya. Terakhir, korban memarahi istrinya karena tidak diberi uang sebesar sepuluh ribu rupiah untuk membeli solar. Peristiwa yang dipicu masalah sepele ini, ternyata berlanjut hingga hari beranjak malam. Tersangka yang baru pulang dari sawah terkejut ketika melihat ayahnya hendak membakar rumah yang didiami oleh ibunya. Tanpa pikir panjang lagi, ia lalu mengambil sebatang kayu dan memukulkan kayu ke kepala ayahnya. Tak sampai disitu, tersangka kemudian mengambil kapak dan mengebaskannya ke kepala korban.

16 ANALISA KASUS Kasus ini termasuk dalam kasus keluarga karena melibatkan orang tua dan anak dimana mereka memiliki konflik dengan keluarga yang sangat serius. Keluarga ini termasuk dalam keluarga yang tidak harmonis, terlihat bahwa Ayah dan Ibunya sudah tidak tinggal dalam satu rumah. Pembunuhan yang dilakukan oleh T dilatarbelakangi adanya perasaan ketidak tegaan T terhadap Ibunya yang akhirnya membuat T melakukan tindakan kriminal, yaitu pembunuhan. Tak hanya itu, kasus dalam keluarga juga dipengaruhi oleh faktor pendidikan, usia, dan lingkungan keluarga itu sendiri.

17 LANJUTAN... Faktor usia juga menentukan, dalam kasus tersebut pemuda berumur 24 tahun membunuh ayahnya, itu membuktikan bahwa pemuda tersebut terburu-buru dalam mengambil keputusan secara sepihak, yang seharusnya pemikirannya sudah kompleks tetapi pemuda tersebut tidak berpikir panjang dan mengambil keputusan yang berakibat fatal Dalam kasus ini, tidak bisa diberikan terapi keluarga, dikarenakan T sudah menanggung akibat pembunuhan yang ia lakukan yaitu di ranah hukum (penjara)

18 KESIMPULAN Terjadinya kasus pembunuhan yang marak terjadi saat ini semakin meresahkan masyarakat bahkan tak jarang pelaku pembunuhan itu sendiri adalah dari pihak keluarga korban. Adanya kasus tersebut banyak disebabkan oleh faktor usia, pendidikan baik dari dalam keluarga maupun lingkungan sekitar dan faktor ekonomi. Semua faktor tersebut saling berkaitan. Secara tidak langsung anak melakukan tindak pembunuhan kepada Ayahnya sendiri karena dia sering melihat Ayahnya melakukan kekerasan kepada Ibunya dan anak meniru perbuatan yang sama dengan membunuh Ayahnya


Download ppt "KONSELING KELUARGA KELOMPOK 2 : 1.MASNIYA 2.RISMA TRI S 3.ANGGA ANDRIANSYAH T 4.DINDA KUSUMA SARI 5.AYU FATMA NURI."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google