Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Hepar, and it’s problems

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Hepar, and it’s problems"— Transcript presentasi:

1 Hepar, and it’s problems
Laksmi Maharani, M.Sc., Apt. Hepar, and it’s problems

2 Anatomi, Fisiologi Hati : Fauci, dkk (2008)
Hati adalah organ terbesar di tubuh kita, beratnya 1-1,5kg, jadi sekitar 1,5-2,5% tubuh kita adalah hati. Besar dan bentuknya tergantung tubuh masing-masing orang. Namun letaknya di kuadran kanan atas abdomen, di bawah tulang rusuk dan dibawah diafragma. Aliran darah yang masuk sekitar 20% merupakan darah kaya oksigen dari arteri hepatic, dan 80% darah kaya nutrisi dari vena porta yang berasal dari lambung, usus, pancreas, dan empedu Anatomi, Fisiologi Hati : Fauci, dkk (2008)

3

4 Sel-sel yang Ada di Hati
Hepatosit  2/3 hati Sel kupfer (masih anggotanya sistem RE) Sel Stellate  tempat menyimpan lemak Sel Endothelial Pembuluh darah Sel Duktus bilier (empedu) dll Anatomi, Fisiologi Hati : Fauci, dkk (2008)

5 Anatomi, Fisiologi Hati : Fauci, dkk (2008)
Hepatosit, sel terbanyak di hati, dan komponen utama fungsi hati manusia Tugas dan Fungsinya: Mensintesis protein serum esensial yang diperlukan tubuh, seperti albumin, protein carrier, faktor-faktor koagulasi, hormon dan faktor pertumbuhan Memproduksi empedu dan isinya (getah empedu, kolesterol, lesitin, fosfolipid) Mengatur nutrisi (glukosa, glikogen, lipid, kolesterol, asam amino) Metabolisme dan konjugasi senyawa lipofilik (bilirubin, anion, kation, obat) untuk diekskresi di empedu atau urin Anatomi, Fisiologi Hati : Fauci, dkk (2008)

6 Dalam sebuah hadits Rasulullah saw
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging, apabila baik maka akan baik pula seluruh jasadnya dan apabila daging itu buruk maka akan buruk pula jasad seluruhnya, ketahuilah bahwa dia adalah hati (Muttafaq ‘alaih)

7 Patologi Hati: Robbins, dkk. (1999)
POLA KERUSAKAN HATI Nekrosis Iskemi atau apoptosis yang disebabkan toksin atau reaksi imunologik Degenerasi Pembengkakan atau edema hepatosit akibat penimmbunan bahan spesifik seperti pigmen empedu, besi, tembaga atau partikel virus Patologi Hati: Robbins, dkk. (1999)

8 Patologi Hati: Robbins, dkk. (1999)
Inflamasi (Hepatitis) Masuknya sel peradangan akut atau kronik, bisa disebabkan oleh benda asing, organisme, atau obat-obatan Regenerasi Terjadi pada semua bentuk penyakit kecuali yang sangat fulminan  bisa menyebabkan penebalan hepatocyte cords Fibrosis Respon terhadap radang atau akibat langsung toksin. Jika berkepanjangan menjadi sirosis Patologi Hati: Robbins, dkk. (1999)

9 Penyebab Gangguan Hati
Infeksi virus hepatitis, dapat ditularkan melalui selaput mukosa, hubungan seksual atau darah (parenteral). Zat-zat toksik, seperti alkohol atau obat-obat tertentu. Genetik atau keturunan, seperti hemochromatosis. Gangguan imunologis, seperti hepatitis autoimun, yang ditimbulkan karena adanya perlawanan sistem pertahanan tubuh terhadap jaringan tubuhnya sendiri. Kanker, seperti Hepatocellular Carcinoma, dapat disebabkan oleh senyawa karsinogenik antara lain aflatoksin, polivinil klorida (bahan pembuat plastik), virus, dan lain-lain. Hepatitis B dan C maupun sirosis hati juga dapat berkembang menjadi kanker hati Depkes RI (2007)

10 Macam-Macam Gangguan Hati
Hepatitis Sirosis Hati Kanker Hati Perlemakan Hati Kolestasis & Jaundice Hemocromatosis Abses Hati Depkes RI (2007)

11 Klasifikasi Penyakit Hati
Gangguan Hati Kronis Gangguan Hati Akut Fulminant Hepatic Failure Depkes RI (2007)

12 Gagal Hati Akut Karakteristik: Penyebab:
Terjadi dalam masa singkat Jarang disertai hipertensi portal Hepatic encephalopathy Udem serebral reversibel Penyebab: hepatitis A, CMV virus, obat (Parasetamol, Rifampicin, INH), jamur amanita phalloides, wilson’s disease, reye’s syndrome

13 Gagal Hati Kronik Karakteristik Penyebab
Terjadi dalam jangka waktu lama (bulanan/ tahunan) Disertai hipertensi portal Hepatic encephalopathy Jarang disertai udem serebral irreversibel Penyebab hepatitis B dan C, sirosis alkoholik, primary billiary sirosis, cholangitis sklerotik primer

14 Gagal Hati fulminant Adalah insufisiensi hepatik yang progresif menjadi kematian (atau transplantasi hepar) dalam 2-3 minggu Manifestasi: ikterus, ensephalopati, fector hepaticus, koagulopati dan perdarahan, instabilitas kardiovaskuler, gagal ginjal, distress respirasi, gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit, serta sepsis.

15 Penyebab Gagal hati fulminan
Hepatitis virus akut Hepatitis karena obat atau racun Nekrosis sel hati iskemik Obstruksi vena hepatik Infiltrasi maligna masif Penyakit wilson Steatosis mikrovesikuler Hipertermi Hepatektomi parsial Transplantasi hati

16 Parameter Penyakit Hati

17

18 Normal Value

19 Terapi obat pada penyakit hati

20 Hepatitis A

21 Hepatitis A Virus Merupakan penyakit self-limiting, sehingga tatalaksana supportif : Cairan Terapi mual-muntah Antipiretik Hepatoprotektor Menjaga balance nutrisi (1 g protein/Kg, cal/kg) Imunoglobulin Vaksinasi

22 Kebutuhan Cairan Jenis terapi cairan:
Koloid : Cairan dengan osmolaritas lebih besar. Digunakan untuk kehilangan cairan dan atau protein plasma yang bisa menyebabkan turunnya volume cairan dalam tubuh Contoh: HES, Albumin, Gelatin Kristaloid : cairan dengan osmolaritas setara dengan cairan tubuh. Digunakan untuk maintenance agar jumlah cairan dan elektrolit dalam tubuh terjaga Contoh: NaCl 0,45%, NaCl 0,9%, Dekstrosa 5%, Ringer, Ringer laktat

23 Mual-Muntah Antasid  warning untuk gangguan ginjal
H2 Antagonis : cimetidin, ranitidin, dll Antihistamin -antikolinergik: difenhidramin, dimenhidrinat, dll Fenotiazin  blok reseptor dopamin kontraindikasi untuk pasien liver disfunction Butryphenon  menurunkan stimulasi dopamin di CTZ Warning untuk pasien aritmia Kortikosteroid Metoclopramid, domperidone  antagonis dopamin

24

25 Antipiretik untuk Penyakit Hati
NSAID toksik terhadap hati Toksisitas: ibuprofen > diklofenak > sulindak Aspirin lebih aman dari semua NSAID karena tidak punya gugus difenilamin Parasetamol dianggap lebih aman dibandingkan dengan NSAID (dengan penyesuaian dosis, <2g/hari tidak beresiko hepatotoksik) atau dengan penambahan N-acetyl-cysteine

26 Antara Parasetamol dan N-asetil sistein
Overdosis parasetamol akut dapat terjadi jika seseorang mengkonsumsi parasetamol dalam dosis besar 7,5-10 gram dalam waktu8 jam atau kurang. Kematian bisa terjadi (mencapai 3-4% kasus) jika parasetamol digunakan sampai 15 gram. Pada dosis terapi (500-2 gram), 5-15% obat ini umunya dikonversi oleh enzim sitokrom P450 di hati menjadi metabolit reaktifnya, yang disebut N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Glutation mengandung gugus sulfhidril yang akan mengikat secara kovalen radikal bebas NAPQI, menghasilkan konjugat sistein. Sebagiannya lagi akan diasetilasi menjadi konjugat asam merkapturat, yang kemudian keduanya dapat diekskresikan melalui urin. N-asetilsistein menggantikan glutation dan dengan ketersediaannya sebagai prekursor

27 Hepatoprotektor Methionin dan vitamin (Methicol, Methioson)
Curcuma (Curcuma, Curson, Heparviton, Curvit, Curliv, dll) Pada prinsipnya obat-obat ini membantu ketersediaan enzim-enzim hati Beberapa beraktivitas sebagai antioksidan

28 Profilaksis Personal hygiene
Vaksin : digunakan untuk yang belum terekspos HAV. Jika sudah terekspose, gunakan imunoglobulin (dalam 2 minggu setelah terinfeksi)

29 Imunoglobulin Digunakan sebagai kombinasi pada pemberian vaksin HAV
Efektivitasnya tergantung pada titer antibodi HAV masing-masing individu Durasi proteksi pada dewasa hanya 6 bulan, pada anak2 11 bulan WHO standard untuk pemberian imunoglobulin pada pasien HA adalah 100 iu/ml Jika digunakan setelah pajanan, masih bisa efektif sebelum 2 minggu

30 Hepatitis B

31 Hepatitis B Virus

32 Antivirus Analog Nucleosida
Lamivudin : analog deoksistidin, dimetabolisme hepatosit menjadi triposfat aktif  menghambat polimerase virus secara kompetitif Adefovir : nukleotida asiklik, dimetabolisme melalui fosforilasi oksidatif. Selain menghambat replikasi juga meningkatkan produksi NK dan induktor INF endogen Entekavir : analog deoksiguanosin, fosforilasi oksidatif  menghambat polymerase HBV

33

34 Interferon Glikoprotein alamiah jika terkena rangsang
Mengganggu kemampuan virus menginfeksi sel Yang sering digunakan adalah interferon alfa-2b Diberikan secara iv dan masuk ke cairan sumsum tulang

35 Hepatitis C

36 Hepatitis C Virus

37 SIROSIS HATI

38 Sirosis Hati Hal-hal yang terjadi pada sirosis hati:
Hepatosit ditumbuhi jaringan fibrotik  sel-sel tidak mengandung enzim lagi Sintesis albumin menurun  obat yang ikatan protein plasmanya tinggi akan meningkat konsentrasi di plasmanya Faktor-faktor pembekuan darah menurun  perpanjangan PT  mudah bleeding Pergeseran cairan ke arah ekstravaskuler  VD obat yang larut air meningkat  udem ekstravaskuler

39

40 Interpretasi Nilai Child Pugh
Points Class One year survival Two year survival 5-6 A 100% 85% 7-9 B 81% 57% 10-15 C 45% 35%

41 Mayo-End-Stage Liver Disease

42 Hasil dari perhitungan MELD diklasifikasikan menjadi 5 kategori keparahan hati:
<5 5 - 14,9 ,9 ,9 35 - >35 MILD SEVERE

43 Terapi Sirosis Mengidentifikasi dan mengeliminasi penyebab sirosis
Menilai resiko variceal bleeding dan beri profilaksis Manage tanda dan gejala Monitor adanya encephalopathy hepatik Monitor hepatorenal sindrom, insufisien pulmoner, dan disfungsi endokrin

44 Hipertensi Portal & Variceal Bleeding
Hipertensi portal dikarenakan peningkatan gradien antara vena porta dan tekanan vena sentral  varices esofageal dan gastrik Terapi: Profilaksis primer Terapi acute variceal hemorrhage Profilaksis sekunder

45 Profilaksis primer HT portal & variceal Bleeding
Beta-adrenergik Blocker (non-selektif) Propanolol 10 mg 3xsehari, nadolol 20mg/hari Menurunkan tekanan portal : Blokade beta-1 adrenergik di jantung sehingga menurunkan CO + blokade beta-2 sehingga menurunkan splankik blood flow Pasien yang intoleran dilakukan tindakan EBL (Endoscopic Band Ligation)

46 Terapi Acute Variceal Hemorrhage
Resusitasi cairan yang adekuat Koreksi faktor koagulopati dan trombositopenia Kontrol perdarahan Cegah perdarahan ulang Jaga fungsi hati

47

48 Somatostatin dan Ocreotide
Peptida asam amino T1/2 pendek ~1 menit Harus diberikan secara infus continyu Analog oktapeptida T1/ menit Iv infus atau injeksi sc Vasopressin tidak lagi disarankan untuk variceal bleeding Mekanisme aksi: Blokade glukagon, peptida vasoaktif usus, calcitonin gene-related peptide, dan substansi P Menginhibisi vasodilatasi peptida GI  menurunkan aliran darah arteri splankik

49 Resusitasi Cairan Digunakan untuk mengoreksi kehilangan cairan intravaskuler dan mengoreksi faktor-faktor koagulasi Koloid Albumin HES Produk Darah Whole blood PRC Trombosit

50 Profilaksis Rebleeding
Beta adrenergik blocker + EBL Beta blocker + nitrat (ISMN atau ISDN)  untuk pasien yang gagal menurunkan TD portal dengan beta-blocker saja TIPS

51 Pedoman Variceal Bleeding Depkes RI

52 Ascites dan SBP Pasien sirosis gagal menjaga volume normal cairan extraseluler karena retensi Na, cairan, dan gangguan eliminasi cairan Terapi asites Diuretik : furosemide + spironolakton Parasintesis Albumin (volume >5 L) Terapi SBP antibiotik

53 Diuretika

54 Furosemide Spironolakton
Loop diuretik : selektif menghambat reabsorpsi NaCl di bagian ascending loop henle Diuretik dengan efikasi paling tinggi Spironolakton Mencegah sekresi K melalui aksi antagonis efek aldosteron di tubulus distal dan tubulus kolektivus Inhibisi spironolakton pada reseptor mineralokortikoid

55 Antibiotik SBP Generasi ketiga sefalosporin
Ceftazidime ceftriakson Kombinasi penisilin-beta-laktamase inhibitor Piperacillin-tazobaktam Ampicillin-sulbaktam Fluorokuinolon ofloxacin

56 Asites Depkes RI guideline

57 Spontaneous Bacterial Peritonitis Depkes RI

58

59 Ensefalopati Hepatik

60 Hepatic Encephalopathy
Gangguan di SSP karena insufisiensi hati Turunan nitrogen dari usus masuk ke sirkulasi sistemik karena kegagalan hepar memetabolisme. Manifestasi berupa gangguan neurotransmisi dan kesadaran maupun perilaku Amonia masuk ke SSP karena peningkatan permeabilitas BBB Produk-produk hasil metabolisme bakteri kolon

61 Stage Stage 0 Tidak ada perubahan perilaku Stage 1
Kurang perhatian, atensi rendah, gangguan tidur, gangguan mood Stage 2 Apatis, disorientasi, perilaku berubah, cadel Stage 3 Semi stupor, perilaku aneh, disorientasi Stage 4 koma

62 Terapi Obat

63 Lactulosa dan Ensefalopati Hepatik
Laktulosa mempunyai 2 aksi: Kemampuan mengubah NH3+ menjadi NH4+ yang lebih tidak toksik Aksi katartika mengeluarkan senyawa-senyawa NH3 dari lumen usus Agen lain yang ditemukan baik efektivitasnya adalah PEG

64 Antibiotika untuk EH METRONIDAZOL NEOMISIN Spektrum mulai antiamuba, antibaktergi gram negatif, anaerob, antijamur metronidazol mengikat DNA  merusak struktur heliks  menginhibisi sintesis asam nukleat bakteri ESO pada GI Golongan antibiotik aminoglikosida Bekerja dengan menghambat sintesis protein melalui hambatan ribosom Indeks terapi sempit ESO nefrotoksik dan ototoksik

65

66 Penggunaan Obat-Obatan Pada Pasien Gangguan Liver

67 Adjustment Dose Pada Pasien Liver Disease
Obat-obatan yang dieliminasi utama di hepar: Obat-obat yang ekstraksi hepatiknya tinggi: BA oral obat-obatan ini bisa meningkat tajam pada orang-orang dengan CLD, dan dosis harus diturunkan. Obat-obatan dengan ekstraksi hepatic rendah dan ikatan protein plasmanya tinggi (>90%): klirens oral dan iv obat-obatan ini akan menurun. Obat dengan ekstraksi hepatic rendah dan ikatan plasma rendah disesuaikan dengan konsentrasi plasma dan ikatan obat terikat maupun yang tidak terikat protein. Jika obat yang diekskresi tidak berubah dari ginjal, akan diganggu pada sindrom hepatorenal, sehingga harus dihitung CrCL dan GFR VD obat hidrofilik akan meningkat jika terjadi asites atau edem. Loading dose harus ditingkatkan jika butuh aksi cepat. Namun dilihat fungsi ginjalnya. Obat dengan IT sempit perlu dimonitoring ketat

68

69

70 PUSTAKA Bazarah, S.M., Peltekian, K.M., McAlister, V.C., et.al Utility of MELD and Child-Turcotte-Pugh Scores and the Canadian Waitlisting Algorothm in Predicting Short-Term Survival After Liver Transplant. Clin Invest Med : Depkes RI Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hati. Ditjen Binfar Alkes Depkes RI. Jakarta. Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., et.al Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. McGraw Hill. New York, USA. European Association for The Study of The Liver EASL clinical practice guidelines on the management of ascites, spontaneous bacterial peritonitis, and hepatorenal syndrome in cirrhosis. Journal of Hepatology. Vol. 53 : p Farooqi, J.I., Jafri, S.M.W., Najib-ul-haq, Niaz, S.K., Hamid, S., Abbas, Z., Ghias-un-Nabi-Tayyab, Nawaz, A.A., Umar, M., and Memon, J.M Management of variceal bleeding: PSG guidelines J. Pak. Med. Assoc. Vol 57. No.10 : p Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser, Longo, Jameson, and Loscalzo Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17th Edition. Mc-Graw Hill. New York. Federal BOP Guideline for the Prevention and Treatment of Hepatitis A. Federal BOP. USA. Garcia-Tsao, G., Lim, J., et.al Management and Treatment of Patients With Cirrhosis and Portal hypertension: Recommendations From the Department of Veterans Affairs Hepatitis C Resource Center Program and the National Hepatitis C Program. The American Journal of GASTROENTEROLOGY. Vol. 104 : p.1802 – 1829. Liu, JP, Nikolova, D., and Fei, Y Immunoglobulins for Preventing Hepatitis A. Cochrane Review. 9. Robbins, SL., Cotran, RS., Kumar, V Buku Saku Robbins Dasar Patologi Penyakit. Edisi 5. EGC. Jakarta Verbeeck, R.K Pharmacokinetics and Dosage Adjustment in Patients with Hepatic Dysfunction. Eur J Clin Pharmacol. 64: WHO. Hepatitis A.

71 Terimakasih


Download ppt "Hepar, and it’s problems"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google