Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Dipasuta(2011.08.0.00 ) Ulfiya Milanti(2012.08.0.00 ) Resa Syahrial(2012.08.0.0055) Adelia Ayunda Putri(2012.08.0.00 ) Diah Ratri Hartiara(2012.08.0.00.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Dipasuta(2011.08.0.00 ) Ulfiya Milanti(2012.08.0.00 ) Resa Syahrial(2012.08.0.0055) Adelia Ayunda Putri(2012.08.0.00 ) Diah Ratri Hartiara(2012.08.0.00."— Transcript presentasi:

1 Dipasuta( ) Ulfiya Milanti( ) Resa Syahrial( ) Adelia Ayunda Putri( ) Diah Ratri Hartiara( )

2  Diartikan sebagai terapi untuk pasangan suami-istri.  Konseling atau terapi dalam pernikahan dapat meningkatkan stabilitas pernikahan, mengurangi konflik dan mencegah perceraian (Kertamuda, 2009: 128).

3  Menurut Corey (1990) adalah agar setiap pasangan suami-istri mampu melakukan hal-hal sebagai berikut : (Kertamuda, 2009: ) :  a. Dapat belajar mempercayai satu sama lain.  b. Mencapai pengetahuan diri (self knowledge) dan mengembangkan keunikan yang ada dalam diri masing-masing.  c. Meyakini bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan masalah yang biasa dan mengembangkan rasa kebersamaan.  d. Meningkatkan penerimaan diri (self acceptance), kepercayaan diri (self confidence), rasa hormat pada diri (self respect), sehingga dapat mencapai pandangan dan pemahaman baru tentang diri.  e. Menemukan alternative dalam mengatasi masalah-masalah perkembangan dan pemecahan terhadap konflik-konflik.

4  f. Meningkatkan pengarahan diri (self dirention), kemandirian, tanggungjawab terhadap anggota satu dengan yang lainnya.  g. Menjadi peduli dengan pilihan-pilihan dari setiap anggota dalam keluarga dan dapat membuat pilihan yang bijaksana.  h. Membuat rencana khusus untuk perubahan perilaku dan berkomitmen kepada anggota keluarga atau pasangan agar rencana dapat terlaksana sesuai dengan yang diharapkan.  i. Belajar lebih efektif tentang kemampuan sosial.  j. Menjadi lebih sensitive terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain.  k. Belajar menghadapi masalah dengan baik, perhatian, jujur dan langsung.  l. Menjauhi harapan yang berasal dari orang lain dan belajar untuk dapat hidup dengan harapan yang ada dalam diri sendiri.  m. Menjelaskan nilai-nilai yang dimiliki dan bagaimana nilai tersebut dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan.

5 (Walgito, 2004: 7-9) : 1. Masalah perbedaan individu.  Telah menjadi pemahaman umum bahwa masing-masing individu memiliki perbedaan baik fisiologis maupun psikologis, meskipun saudara kembar sekalipun. Masing-masing individu memiliki kemampuan untuk berpikir, namun kualitasnya antara satu dengan yang lainnya berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat dalam mensikapi dan menyelesaikan masalah yang sedangdihadapinya. Bahkan ada yang tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain, berupa konseling pernikahan. 2. Masalah kebutuhan individu.  Manusia merupakan makhluk hidup yang mempunyai kebutuhan tertentu. Kebutuhan merupakan pendorong munculnya tingkah laku manusia. Sehingga tingkah laku manusia ditujukan untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara, perkawinan juga merupakan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun kadang-kadang ditemukan pasangan suami-istri tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana caranya. Maka dalam hal ini pasangan tersebut membutuhkan bantuan dari orang lain atau konselor.

6 3. Masalah perkembangan individu.  Manusia merupakan makhluk yang berkembang dari masa ke masa, sehingga terjadi perubahan-perubahan dalam diri manusia tersebut. Dalam mengarungi perkembangan ini, kadang-kadang seseorang mengalami hal-hal yang tidak dimengertinya, hususnya yang berkaitan dengan hubnungan antara pria dan wanita dalam sebuah pernikahan. Maka bantuan dari orang yang ahli dalam konseling pernikahan menjadi sangat berarti. 4. Masalah latar belakang sosio-kultural.  Perubahan keadaan menimbulkan banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, seperti perubahan social, ekonomi, politik, budaya, nilai dan seterusnya. Kondisi demikian tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi kehidupan seseorang dalam masyarakat, dan ini merupakan tantangan yang tidak mudah untuk dihadapi. Maka bagi orang-orang tertentu sangat membutuhkan bantuan dari orang lain atau konselor untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut.

7  (Kertamuda, 2009: ) a. Mediator. Peran sebagai mediator merupakan peran yang tidak mudah, karena harus mampu bersikap netral, adil, dan tidak memihak kepada salah satu pasangan suami-istri yang sedang bertikai  b. Pembimbing dan Penasehat. Penjelasan dari peran konselor tersebut adalah : 1). Konselor memberikan bimbingan/tuntunan kepadangan pasangan suami-istri bermasalah sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Oleh karena itu, konselor harus memiliki kematangan dalam kepribadian, sehingga mampu melihat masalah secara dewasa dan bijaksana. 2). Konselor memberikan nasehat dengan cara membantu pasangan suami-istri agar mampu melaksanakan sesuatu yang baik untuk keluarganya dan menghindari hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan

8 c. Penyelamat Hubungan Pernikahan Berbagai permasalahan yang muncul dalam keluarga membuat peran konselor menjadi sangat penting dalam rangka menyelamatkan hubungan pernikahan. Oleh karena itu. konselor diharapkan mampu membantu pasangan pernikahan menyelesaikan masalah yang menimpanya.

9  Mendengarkan secara aktif (active listening). Maksudnya konselor mendengarkan, melihat dan berupaya memahami apa yang disampaikan oleh konseli dalam proses konseling.  b. Fokus dan mengikuti (focusing and following). Maksudnya, focusing berarti konselor memusatkan perhatian kepada apa yang disampaikan oleh konseli, sementara following berarti mengikuti apa yang disampaikan oleh konseli.

10  c. Menggali lebih dalam (probing). Artinya teknik ini merupakan respons konselor atas apapun yang telah disampaikan oleh konseli, dimana konselor perlu menggali lebih dalam atas masalah tersebut. Sebaiknya probing dilakukan dengan cara yang lunak tetapi tegas namun tidak memaksa.  d. Mendorong konseli (encouraging). Maksudnya konselor mendukung atau mendorong konseli untuk menghadapi permasalahannya secara dewasa dan arif, sehingga konseli merasa didukung sepenuhnya oleh konselor.

11  e. Kejelasan (clarification), merupakan kata-kata atau kalimat-kalimat yang isinya sama dengan apa yang disampaikan konseli. Selain itu, ada juga kalimat- kalimat tersebut isinya mohon kejelasan dari konseli tentang apa yang telah diutarakannya  f. Konfrontasi (confronting). Artinya ada kesenjangan atau kontradiksi yang terjadi dalam diri konseli yang harus ditunjukkan oleh konselor. Hal ini bertujuan agar konseli sadar bahwa terjadi kontradiksi antara apa yang diucapkannya dengan perilakunya atau kenyataan yang terjadi. Namun teknik ini harus digunakan secara hati- hati supaya tidak mengganggu proses konseling.

12  g. Mengarahkan (teaching). Maksudnya ketrampilan konselor untuk mengarahkan pembicaraan dari satu topik ke topik yang lain secara langsung. Teknik ini biasanya digunakan dengan kalimat pertanyaan.  h.Memantulkan (reflecting). Artinya konselor mengekspresikan kembali hal-hal yang telah dinyatakan atau diutarakan oleh konseli kepada konselor. Refelksi merupakan usaha untuk memperoleh kebenaran terhadap apa yang dipahami konselor berkaitan dengan masalah konseli.  i. Keterbukaan diri (self disclosure), merupakan sifat pribadi yang penting, dan merupakan teknik yang penting dalam konseling, di mana konselor harus terbuka menyampaikan pengalaan pribadinya yang berkaitan dengan masalah tersebut.

13  Pendekatan Psikodinamik Pendekatan psikodinamik bertujuan membantu pasangan mendapatkan pasangan terhadap akar bawah sadar pilihan menikah mereka, dan dalam pekerjaannya proyeksi dan penolakan dalam hubungan mereka saat ini. Mengacu kepada teori psikodinamik, pilihan yang dbuat oleh pasangan adalah karena paling tidak satu pihak, kebutuhan bawah sadar dari masing-masing pihak dipenuhi oleh pihak yang lain, akan tetapi kesesuaian pernikahan ini menjadi semakin tidak nyaman seiring dengan berkembangnya salah satu atau kedua pihak kearah pengklaiman kembali daerah bawah sadar yang tadinya diberikan kepada pihak lain

14  Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam konseling pernikahan dengan pendekatan psikoanalisis, sebagai berikut : (Kertamuda, 2009: ). 1. Interpretasi, merupakan teknik yang dipergunakan untuk menganalisis poin-poin, menjelaskan dan menyampaikan arahan- arahan tentang makna dari perilaku yang ditunjukkan melalui manifestasi mimpi, asosiasi bebas, perlawanan (resistances), serta interpretasi terhadap hubungan terapeutik yang terjalin antara konseli dengan konselor. 2. Analisis mimpi, merupakan prosedur yang penting untuk mengungkap ketidaksadaran dan memberikan insight kepada konseli di banyak area yang menimbulkan masalah.

15 3. Analysis of resistance, merupakan cara konselor memberikan konseling kepada konseli dengan menganalisis atau menginterpretasi berbagai ide, sikap, perasaan atau aksi dari konseli yang berupa perlawanan, yang dilakukan dengan kesadaran atau ketidaksadaran. 4. Transference, merupakan teknik yang terjadi pada saat proses konseling, dimana salah satu pasangan diminta mengekspresikan perasaan, keyakinan, dan keinginan yang tersembunyi di alam bawah sadarnya, termasuk pengalaman masa lalunya. 5. Memahami terhadap latar belakang dan masa lalu setiap pasangan. Hal ini penting untuk dipahami oleh konselor maupun pasangan itu sendiri, karena latar belakang dan masa lalu setiap pasangan tentunya berbeda satu dengan yang lainnya. 6. Memahami sejarah hubungan pernikahan, merupakan factor penting untuk melihat atas dasar apa pernikahan dilakukan, bagaimana bentuk, masalah yang dihadapi, dan bagaimana cara pasangan tersebut mengatasi masalah pernikahan yang terjadi.

16  Pendekatan kognitif behavioral Dengan mengaplikasikan prinsip perilaku untuk memulai perubahan,sepeti menggunakan kontrak antara pasangan. Beberapa konselor pasangan menemukan bahwa merupakan sesuatu yang bermanfaat untuk mengembangkan terapi emotionally focused couples therapy (EFT) yang mengambil pendekatan eksperimensial yang juga didasari oleh teori attachment.

17  Teori Pembelajaran Sosial Teori ini merupakan salah satu bentuk teori yang berdasarkan pada behaviorisme, yang menekankan pada belajar dan modeling. Dalam konseling pernikahan, fokus teori ini ada pada meningkatkan kemampuan dan hubungan pada saat ini. Dalam proses konseling, konselor menggunakan beragam bentuk strategi behavior untuk menolong pasangan agar berubah dalam perilaku maupun persepsi terhadap masalah pernikahan (Kertamuda, 2009: 133). Teknik-Teknik dalam Teori Pembelajaran Sosial Laporan tentang diri sendiri (self reports), Pengamatan (observations). Peningkatan komunikasi melalui latihan dan training (communicaton enhancement training exercises) yang dilakukan oleh pasangan yang sedang dilanda masalah., Kontrak/perjanjian (contracting), yakni melakukan tugas-tugas dalam rumah tangga secara bersama-sama dengan perjanjian/kontrak yang telah disepakati masing-masing pasangan, Tugas/pekerjaan rumah (homework assignments), dilakukan oleh masing-masing pasangan sebagai bahan pembelajaran dan latihan yang didasarkan pada kontrak yang telah disepakati bersama.

18  Teori Struktural dan Strategi Teori ini mendasarkan pada keyakinan bahwa membantu pasangan beradaptasi terhadap gejala-gejala ketidakberfungsian peran dalam pernikahan. Tugas konselor dalam teori ini adalah memberikan kesempatan pada pasangan untuk melakukan perubahan dalam perilakunya. (Kertamuda, 2009: ). Teknik-teknik yang digunakan dalam teori ini antara lain adalah; relabeling (memberikan perspektif baru pada perilaku), paradoxing (insisting on just he opposite, dan memberikan kesadaran kepada pasangan untuk menunjukkan apa yang sebelunya ingin dilakukannya. Dalam teori ini konselor berperan aktif untuk membuat konseli berubah atau untuk membantu konseli mengerjakan tugasnya (Kertamuda, 2009: 136).

19  Teori Emotif Rasional Teori ini menekankan pada pasangan sebagai individu yang seringkali dilanda pada perilaku spesifik yang terjadi dalam hubungannya dengan pasangan, yakni perilaku yang didasarkan pada pikiran rasional dan pikiran irasional.  Terdapat 2 (dua) teknik yang digunakan dalam teori emotif rasional, yakni metode kognitif dan metode emosi. Dalam metode kognitif terdiri atas ;  - Disputing irrational beliefs (perselisihan keyakinan yang irasional). Metode ini digunakan oleh konselor agar dapat memahami perselisihan tersebut dan mengarahkan pasangan untuk dapat memanfaatkannya sebagai tantangan pada kehidupan mereka.  - Cognitive homework (pekerjaan rumah), di mana konselor memberikan pekerjaan rumah dan meminta konseli untuk membuat susunan masalah yang terjadi pada pasangan, mencari keyakinan yang absolut dari keduanya, selanjutnya membedakan keyakinan tersebut.  - Changing one’s language (perubahan pada bahasa). Bahasa yang digunakan oleh konseli menunjukkan pola pikirnya, sehingga penggunaan bahasa konseli perlu untuk diubah agar mereka dapat belajar dari perubahan kata yang digunakan.

20  Solopos.com, SOLO–Peristiwa tepergoknya seorang istri sedang bermesraan dengan lelaki lain oleh suami yang berujung pembakaran sepeda motor, Minggu (13/4) lalu, berbuntut pelaporan. Menindaklanjuti itu aparat Polresta Solo menetapkan kedua pasangan selingkuh itu sebagai tersangka.  Kasatreskrim Polresta Solo, Kompol Guntur Saputro, saat dihubungi solopos.com, Jumat (18/4/2014), menyampaikan pihaknya saat ini hanya menangani peristiwa yang dilaporkan oleh Kmn, 45. Lelaki yang saat kejadian bertempat tinggal di Sabrang Lor RT 007/RW 008, Mojosongo, Jebres, Solo itu melaporkan istrinya, Wwn, 47 atas dugaan pergendakan atau perzinahan dengan Jk, 19, warga Semarang. Guntur menerangkan, berdasar hasil pemeriksaan Wwn dan Jk diduga kuat telah berzina. Atas dasar itu keduanya ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dikatakan Guntur dijerat dengan Pasal 284 KUHP tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan.

21  “Setelah dipergoki Jk lari tapi akhirnya menyerahkan diri kepada petugas Polsek Jebres. Tak lama Kmn membawa istrinya kepada kami. Berdasar hasil pendalaman kasus keduanya diduga kuat telah bergendak atau berzina,” papar Guntur mewakili Kapolresta Solo, Kombes Pol. Iriansyah. Kendati demikian, kedua tersangka tidak ditahan mengingat ancaman pidana terhadap mereka hanya sembilan bulan atau kurang dari batas maksimal dapat ditahannya seorang tersangka atau terdakwa. Hal itu sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (4) huruf a KUHAP tentang Penahanan. Dalam pasal itu menyebutkan, penahanan tersangka atau terdakwa dapat dilakukan apabila tindak pidana itu diancam hukuman penjara lima tahun atau lebih.  “Dalam perkembangan penyidikan ternyata tersangka Jk terindikasi mengalami gangguan jiwa. Dia saat ini masih diobservasi petugas RSJD (Rumah Sakit Jiwa Daerah) Solo. Walau pun begitu proses hukum terhadap Jk tetap dilanjutkan sambil menunggu hasil pemeriksaan resmi dari petugas medis,” imbuh Guntur. Terkait peristiwa pembakaran sepeda motor milik Jk yang dibakar Kmn, lanjut dia, petugas belum memprosesnya lebih lanjut. Guntur mengaku belum mendapat laporan atas peristiwa tersebut.  Sementara itu, Wwn saat hendak dimintai konfirmasi tidak berada di rumah kontrakannya. Sekretaris RT 007/RW 008 Sabrang Lor, Yustinus Juni Pratomo, 43, saat dihubungi Espos, Jumat, menginformasikan Kmn dan istrinya sudah tidak menghuni rumah di Sabrang Lor. Dia tidak mengetahui mereka pindah di mana.Seperti diketahui, Kmn membakar Honda Mega Pro berpelat nomor H 5760 QS milik Jk seusai memergoki istrinya melakukan perbuatan tak pantas dengan Jk, Minggu pukul WIB. Kala itu Kmn setibanya di rumah curiga melihat ada sepeda motor terparkir di depan rumah kontrakannya. Kecurigaannya semakin kuat saat akan masuk rumah tetapi pintu terkunci dari dalam. Kmn lalu mendobrak pintu dan mendapati peristiwa tersebut.

22  Mengacu pada kasus, sang suami yang memergoki istrinya yang sedang berselingkuh dengan seseorang yang ternyata usianya jauh lebih muda daripada sang istri. Jika ditelaah, sumber permasalahan berasal dari hubungan antara suami dan istri.  Menggunakan pendekatan psikodinamik, pilihan yang dibuat oleh pasangan adalah karena paling tidak satu pihak, kebutuhan bawah sadar dari masing-masing pihak dipenuhi oleh pihak yang lain (dalam kasus ini selingkuhan sang istri), akan tetapi kesesuaian pernikahan menjadi semakin tidak nyaman seiring dengan berkembangnya salah satu atau kedua pihak kearah pengklaiman kembali daerah bawah sadar yang tadinya diberikan kepada pihak lain.

23  Dinamika situasi oedipal dengan konfigurasi teori object relations sangat berguna dalam dalam penanganan masalah segitiga dalam pasangan adalah suami, istri dan orang ketiga yang menjadi selingkuhan salah satu dari pasangan tersebut.  Tugas para konselor disini adalah membantu pasangan tersebut untuk mendapatkan pemahaman terhadap akar bawah sadar mereka dan untuk belajar untuk memberi ekspresi terhadap perasaan tertekan sebelumnya terhadap pasangannya.  Teknik yang dapat digunakan yaitu salah satunya dengan Transference, merupakan teknik yang terjadi pada saat proses konseling, dimana salah satu pasangan diminta mengekspresikan perasaan, keyakinan, dan keinginan yang tersembunyi di alam bawah sadarnya, termasuk pengalaman masa lalunya.


Download ppt "Dipasuta(2011.08.0.00 ) Ulfiya Milanti(2012.08.0.00 ) Resa Syahrial(2012.08.0.0055) Adelia Ayunda Putri(2012.08.0.00 ) Diah Ratri Hartiara(2012.08.0.00."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google