Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Karakterisasi Membran 1 April 2015, Kimia Universitas Jember.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Karakterisasi Membran 1 April 2015, Kimia Universitas Jember."— Transcript presentasi:

1 Karakterisasi Membran 1 April 2015, Kimia Universitas Jember

2 Karakterisasi Membran Sifat Membran Sifat pemisahan Membran Ukuran Pori Distribusi ukuran pori Volume bebas Kristalinitas Ukuran Pori Distribusi ukuran pori Volume bebas Kristalinitas Rejeksi Faktor Pemisahan Faktor pengkayaan

3 Pori Pada Membran Membranes Makropori  > 50nm Mesopori2nm <  < 50nm Mikropori  < 2nm porous  = pore diameter nonporous ProsesDriving ForcePori MembranPrinsip Pemisahan MikrofiltrasiPerbedaan Tekanan (0,1 – 1 bar) MakroporiFiltrasi UltrafiltrasiPerbedaan Tekanan (0,5 – 10 bar) MesoporiFiltrasi NanofiltrasiPerbedaan Tekanan (5 – 20 bar) MikroporiFiltrasi/ Gaya Elektrostatik/ difusi larutan

4 Geometri Pori Top Layer Model Actual ConstrictionDead-End

5 Metode Karakterisasi Membran n Structure-related parameters (Pore size distribution, Morphology) n Permeation-related parameters (actual separation parameters using solutes that are more or less retained by the membranes – “cut-off” measurements * ) * cut-off’ is defined as the molecular weight which is 90% rejected by the membrane

6 Pore Size Distribution Metode transport gelembung gas ΔP = P 1 – P 2 γ = Tegangan Permukaan = 15,9 x N/m θ = Sudut Kontak

7 Pore Size Distribution Merkuri Porosimetri Intrusi Merkuri  Ukuran Partikel Hg Besar  Makropori  Sangat Bergantung pada tekanan  Hg merupakan cairan yang tidak membasahi padatan (θ > 90°) (θ < 90°)

8 Porosimetri Intrusi Merkuri Vakum Tekanan Tinggi

9 Porosimetri Intrusi Merkuri Tekanan Kecil  pori interpartikel  distribusi ukuran pori Tekanan Besar  pori intrapartikel  Volume pori Tekanan diturunkan Histerisis

10  Sifat sampel  padatan atau serbuk  kemungkinan terjadinya reaksi antara sampel dengan Hg.  dipastikan sampel telah dikeringkan dengan sempurna  dilakukan penimbangan sampel setelah proses degassing  Pengukuran blanko dan pengurangan data dengan blanko harus dilakukan dengan tepat  pengaplikasian tekanan antara blanko dan sampel harus sama.  Uji reprodusibilitas harus selalu dilakukan  Kemungkinan terjadinya kompresi atau kerusakan sampel juga harus dievaluasi Porosimetri Intrusi Merkuri

11 Pore Size Distribution Adsorpsi Gas substrat Monolayer Multilayer Lapis 1 Lapis 2 Lapis 3

12 Isotermal Adsorpsi Gas/Liquid adsorpsi N 2 pada karbon tertentu Gaya kohesi yang kuat molekul teradsorben

13 Tipe I fisisorpsi gas  padatan mikropori dan kemisorpsi isotermal  mengikuti isotermal adsorpsi Langmuir Tipe II Adsorpsi pada padatan non pori  Adsorpsi multilayer Tipe III Khas untuk uap, Ex: air pada padatan hidrofobik karbon aktif. Gaya kohesi yang kuat terjadi antara molekul-molekul yang teradsorp Tipe IV mirip dengan Tipe II pada tekanan rendah. Tetapi memperlihatkan loop histerisis yang disebabkan oleh kondensasi kapiler dalam mesopori pada tekanan tinggi  khas untuk material mesopori Tipe V mirip dengan Tipe III pada tekanan rendah), ada loop histerisis yang disebabkan oleh kondensasi kapiler pada mesopori pada tekanan tinggi Tipe VI untuk adsorpsi nitrogen pada karbon tertentu

14 ModelAsumsi LangmuirAdsorpsi satu layer molekular pada permukaan, kemisorpsi atau fisisorpsi, isotermal Tipe I dengan siku yang hampir 90°. Brunauer, Emmet, dan Teller (BET 2 parameter) Adsorpsi Multi Layer di atas suatu permukaan. Gaya yang aktif dalam kondensasi gas menyebabkan pembentukan multilayer, isotermal Tipe II, IV, VI. BET 3 parameter (full equation) Menggunakan fungsi regresi non-linier untuk memperhalus titik- titik hasil eksperimen. Selain volume monolayer dan nilai C dari standar BET, persamaan ini juga dapat digunakan untuk menghitung jumlah layer N. Dapat diaplikasikan pada semua tipe isotermal fisisorpsi. t-plot dan alpha plot Memasukkan konsep isothermal standar. Data adsorpsi diplot vs ketebalan rata-rata dari layer yang teradsorp atau jumlah gas yang teradsorp pada tekanan referens. Data referens harus dikumpulkan dari material non pori dengan sifat yang sama dengan sample yang diuji. Dubinin Raduskevitch plot Hanya dapat diaplikasikan ketika pori-porinya mempunyai ukuran berdimensi molekular (material mikropori, isotermal Tipe I). Plot ini didasarkan pada diefrensial molar dari adsorpsi (Polanyi).

15 Adsorption Isotherms

16 SA: luas permukaan V m : volume adsorbat (cm 3 ) per gram padatan : 1 / (Intersep + slope) 0,0224 cm 3 : 22,4 L/1000 N: bilangan Avogadro A m : permukaan cross-sectional dari molekul adsorbat (nm) AdsorbatTitik didih (K)A m (m 2 /molekul) N2N2 77,30,162 Ar87,40,142 CO 2 194,50,170 Kr120,80,152

17 ModelAsumsi KelvinMenghubungkan tekanan kesetimbangan (pada desorpsi) dengan jari-jari “inti” gas yang didesorp dari dalam mesopori. Model ini juga dapat diaplikasikan ketika terjadi kondensasi kapiler (isotermal Tipe IV, V). Barret, Joiner, Halenda (BJH) Mengacu persamaan Kelvin, tetapi mengganti jari-jari Kelvin dengan ketebalan dari gas yang masih teradsorpsi. Kedua model berbeda pada cara menghitung ketebalan (Pr = Kr + t). Aplikasinya  isotermal Tipe IV, V. Horvath dan Kavazoe (HK), Saito-Foley (SF), Dll Model ini berdasarkan interaksi Lennard-Jones antara gas dan padata. HK  slit pada karbon mikropori. SF  pori silindris. Fase teradsorp dianggap mengikuti gas ideal dimensi dua. HK  isotermal Tipe I pada karbon aktif, SF pada zeolit mikropori atau silika. Metode lainSejumlah besar metode lain juga tersedia untuk penghitungan luas permukaan dan ukuran pori. Model- model baru atau variasinya muncul tiap tahun karena sulitnya interpretasi mekanisme adsorpsi / desorpsi.

18

19 (a) N 2 adsorption–desorption isotherms of relevant membranes. (b) Pore distribution of relevant membranes using the BJH method. N. Wang et al., Separation and Purification Technology, 126 (2014) 44–51

20 Morfologi Membran TEM SEM Nafion–silica membranes TEM micrograph of Nafion–TEOS membrane showing silica dispersion within the polymer J. Joseph et al., Journal of Power Sources. 196 (2011) 7363– 7371

21 Scanning Electron Microscopy

22 Interaksi Berkas Elektron dengan Sampel Secondary Electron (SE): Topografi Back Scattered Eelectron (BSE): Topografi & Nomor Atom Cathodoluminescence (CL): Informasi Elektrik Sinar X (X-ray): Ketebalan & Komposisi Auger: Surface Sensitive Information Sampel Berkas Elektron BSE SE CL X-rays Auger Specimen Current Electrical Information

23 Morfologi Membran SEM images of ZrO 2 membrane surface: (a) unmodified and (b) modified N. Gao et al., Journal of Membrane Science, 375 (2011) 276–283 ZrO 2 membrane in non-polar organic solvents by surface hydrophobic modification  higher permeate flux and water, effective to mitigate membrane fouling

24 Morfologi Membran S. Y. Park et al., Journal of Membrane Science, 480 (2015) 122–128 Polivinilden Flourida + Positif Modofikator  Meningkatkan pure water permeability (PWP)

25 Topologi Membran (AFM) AFM images of membrane surface of (a) PVDF100, (b) PV 95 TBC 05, (c) PV 90 TBC 10 and (d)PV 85 TBC 15 T. Rajasekhar et al., Journal of Membrane Science, 481(2015) 82–93 Oil–watere mulsion separation using ultrafiltration membranes


Download ppt "Karakterisasi Membran 1 April 2015, Kimia Universitas Jember."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google