Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh : Prof. Dr.rer.nat Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc. (Wakil Dekan Bid. Penelitian dan Kerjasama F. Geografi UGM) Ari Cahyono, S.Si (Dosen F. Geografi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh : Prof. Dr.rer.nat Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc. (Wakil Dekan Bid. Penelitian dan Kerjasama F. Geografi UGM) Ari Cahyono, S.Si (Dosen F. Geografi."— Transcript presentasi:

1 Oleh : Prof. Dr.rer.nat Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc. (Wakil Dekan Bid. Penelitian dan Kerjasama F. Geografi UGM) Ari Cahyono, S.Si (Dosen F. Geografi UGM) PETA DAN ALAT SURVEY UNTUK TATARUANG PERBATASAN

2 WILAYAH NEGARA Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 menyatakan bahwa: “The state as a person of international law should possess the following qualifications: (a) a permanent population; (b) a defined territory; (c) government; and (d) capacity to enter into relations with the other states.” Aturan tersebut telah diakui sebagai Hukum Kebiasaan Internasional ( International Customary Law ) Adapun wilayah negara dibagi atas: - Wilayah Darat - Wilayah Laut / Perairan - Wilayah Udara

3 B ATAS W ILAYAH DAN P ETA Kajian mengenai batas wilayah tidak bisa terlepaskan dari unsur peta. Aspek keruangan tersebut, agar lebih mudah diamati secara visual, maka peran peta menjadi sangat penting. Peta sebagai salah satu bukti ketentuan tertulis dalam perjanjian penetapan dan penegasan batas wilayah, menjadi alat bantu untuk menemukan dan menentukan lokasi distribusi spasial dari kawasan perbatasan. Dalam setiap perjanjian perbatasan, peta sebagai suatu lampiran yang berfungsi untuk mempermudah dan memperjelas letak dan lokasi masing-masing titik batas maupun area perbatasan yang telah disepakati oleh wilayah yang berbatasan (Hadiwijoyo, 2008).

4 A PA ITU PETA Peta merupakan representasi grafis tentang lingkungan geografikal ( geographical milieu ) (Robinson, Morrison, Muehrcke, Kimerling, & Guptill, 1995). Secara sederhana peta berarti suatu representasi/gambaran unsur-unsur kenampakan yang abstrak, atau yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda- benda angkasa terpilih, yang pada umumnya digambarkan pada bidang datar dan mengalami penskalaan.

5 Peta Rupa Bumi Indonesia

6 Peta Lingkungan Pantai Indonesia

7 Peta Lingkungan Laut Nasional

8 Peta Tematik : Geologi

9 Peta Tematik : Pola Pemanfaatan Ruang

10 K OMPONEN YANG ADA PADA PETA Sumber : Bakosurtanal, 2004

11 Keterangan : 1)Judul Peta 2)Inset Peta 3)Sistem Proyeksi dan Sistem Grid 4)Instansi Pembuat 5)Legenda 6)Skala 7)Orientasi 8)Pembuat dan Sumber

12 S KALA P ETA Skala peta diartikan sebagai suatu rasio jarak pada peta dengan jarak di permukaan bumi, yang keduanya dituliskan dalam satuan unit pengukuran yang sama (Dent, Torguson, & Hodler, 2009) Skala angka Skala grafis Skala verbal

13 K OORDINAT PETA Secara umum sistem koordinat dalam kartografi dapat dibagi dua yaitu sitem koordinat geografis dan koordinat planar/rektangular. Koordinat geografi menggunakan garis lintang (latitude) dan garis bujur (longitude). Contoh penyebutan : 6°00’00” Lintang Utara – 11°30’30” Lintang Selatan dan 110°00’00” Bujur Barat – 112°00’00” Bujur Timur. Satuan adalah derajat-menit-detik Sedangkan pada sistem koordinat planar digunakan untuk meletakkan posisi pada bidang datar representasi peta dari permukaan bumi yang lengkung. Kedua pasang absis maupun ordinat pada sistem kartesius membentuk referensi grid. Untuk indonesia koordinat planar ini dikenal dengan nama Universal Transverse Mercator (UTM), yang mana bumi dibagi dalam berbagai zone. Nilai X mencerminkan easting, dan nilai Y disebut sebagai northing. Contoh : mT, mU, zone 40 M.

14 P EMBAGIAN Z ONE UTM DI I NDONESIA

15 T AHAPAN DALAM M ENGGUNAKAN P ETA Ada tiga tahap dalam menggunakan peta, yaitu : 1) membaca peta ( map reading ) yaitu lebih pada pengidentifikasian simbol dan membaca arti simbol, 2) analisa peta ( map analysis ) yaitu sudah mampu mengetahui apa yang digambarkan pada peta, yang dilanjutkan dengan mengukur atau mencari nilai dari unsur ‑ unsur tersebut 3) interpretasi peta ( map interpretation ) yaitu lebih pada mencari jawaban mengapa di bagian tertentu terjadi pola yang berbeda dengan pola di bagian lain dari peta yang sama.

16 M EMBACA PETA (1) Contoh : Pembacaan nilai titik tinggi dan kontur

17 M EMBACA PETA (2) Membaca informasi tepi peta Judul Peta Skala Peta Lembar Peta Wilayah Lingkup Peta

18 M EMBACA PETA (3) Membaca simbol peta

19 A NALISIS P ETA (1) Pembacaan posisi Menggunakan rumus perbandingan : contoh x = ((21,9/37) * 30”) + koordinat X awal y = ((31,8/37) * 30”) + koordinat Y awal

20 A NALISIS P ETA (2) Mengukur jarak horisontal vs jarak miring Dengan penggarisdengan benang

21 A NALISIS P ETA (3) Pengukuran Arah

22 A NALISIS P ETA (4) Pengukuran luas Metode gridStrip Segitiga

23 P ERAN P ETA DALAM BATAS WILAYAH Untuk mencatat dan mengesahkan pengetahuan lokal Untuk pengorganisasian dan meningkatkan kesadaran mengenai masalah tanah dan lingkungan Membantu setiap orang untuk sadar akan perubahan yang terjadi dan membahas perubahan tersebut bersama-sama Untuk perencanaan dan pengelolaan lahan masyarakat dan pemanfaatan sumberdaya alam Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat berkomunikasi dan menjalin kerjasama dengan pihak luar Untuk menegaskan dan menegoisasikan kepemilikan kawasan (Sukma Arida dkk, 2004)

24 J ENIS P ETA DALAM KAJIAN BATAS WILAYAH Peta penetapan batas merupakan peta batas yang dibuat secara kartometris dari peta dasar yang telah ada dengan tidak melibatkan data pengukuran di lapangan, merupakan penggambaran hasil kesepakatan pihak terkait Peta penegasan batas Peta batas yang dibuat di dalam peta dasar dengan penambahan data yang diperoleh dari hasil pengukuran dalam penegasan batas sesuai kenyataan di lapangan Peta hasil verifikasi Peta batas yang dibuat oleh daerah yang merupakan hasil verifikasi oleh Tim Penetapan dan Penegasan Batas Daerah sebelum ditandatangani oleh Mendagri

25 S PESIFIKASI P ETA DALAM K AJIAN B ATAS W ILAYAH SESUAI P ERMENDAGRI N O 1 TAHUN )Aspek Kartografi: a)Jenis peta (penyajian): peta foto dan peta garis b)Sistem simbolisasi/legenda dan warna c)Isi peta dan tema d)Ukuran peta (muka peta) e)Bentuk penyajian/penyimpanan data/informasi: lembar peta atau digital 2)Aspek Geometrik: a)Skala/resolusi b)Sistem proyeksi c)Ketelitian planimetris(x,y) dan tinggi (h)

26 KLASIFIKASI PERBATASAN NEGARA BERDASARKAN PENYELENGGARAAN NEGARA.

27 1. ALIENATED BORDERLAND Batas sebagai pemisah. Pengaruh antar wilayah perbatasan kecil. Perbedaan antar wilayah kuat (budaya, etnik, baasa, agama, dll) 2. COEXISTENT BORDERLAND Terjadi konflik diperbatasan (kepemilikan), masih ada hubungan terbatas 3. INTERDEPENDENT BORDERLAND Terjadi hubungan intens (sosial ekonomi) yang didasari hub internasional formal 4. INTEGRATED BORDERLAND Hubungan sangat erat (kawasan integrasi), baik formal (kerjasama) maupun informal (masyarakat). Banyak kesamaan dan bersinergi Sumber : Martinez dalam Riwanto Tirtosudarmo

28 S PESIFIKASI T EKNIS P ETA B ATAS (1) 1) Ellipsoida dan Proyeksi. Dalam pembuatan Peta Batas Daerah di wilayah laut dibuat dengan spesifikasi sebagai berikut : Ellipsoida: WGS-84 Proyeksi : UTM Skala: a) Peta Batas Daerah hasil penetapan secara Kartometris 1: untuk batas daerah provinsi 1: untuk batas daerah kabupaten 1: untuk batas daerah kota b) Peta Batas Daerah hasil penegasan dengan pengukuran 1: untuk batas daerah provinsi 1: untuk batas daerah kabupaten 1: untuk batas daerah kota Lampiran Permendagri No 1 tahun 2006 tentang PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH

29 S PESIFIKASI T EKNIS P ETA B ATAS (2) 2) Ukuran dan Format Peta : Ukuran peta ditentukan dengan ukuran standar peta (A0) Setiap lembar peta memuat satu wilayah provinsi dengan mencakup provinsi tetangganya Pada peta ditulis daftar koordinat geografis dan UTM Lampiran Permendagri No 1 tahun 2006 tentang PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH

30 S PESIFIKASI T EKNIS P ETA B ATAS (3) 3) Macam Simbol dan Tata Letak Informasi Tepi: Simbol batas daerah di laut disesuaikan dengan simbol yang baku digunakan tata letak mengikuti ketentuan pembuatan peta yang berlaku. 4) Penyajian Informasi Peta: Pada peta batas daerah di wilayah laut dicantumkan juga : Nama personil pelaksana Nama Tim Penegasan Batas Daerah Kolom pengesahan Lampiran Permendagri No 1 tahun 2006 tentang PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH

31 S PESIFIKASI T EKNIS P ETA B ATAS (4) 5) Proses Pembuatan Peta: Proses pembuatan peta dilaksanakan melalui beberapa tahapan sebagai berikut : Proses kartografi Perencanaan Persiapan Pengumpulan data Rencana kompilasi Kompilasi Penggambaran Pemisahan warna Proses lithografi Pembuatan plat cetak Cetak coba Koreksi dan perbaikan cetak coba Pencetakan Lampiran Permendagri No 1 tahun 2006 tentang PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH

32 C ONTOH T ATA L ETAK P ETA B ATAS W ILAYAH Lampiran Permendagri No 1 tahun 2006 tentang PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH Keterangan : A.Peta Batas Daerah B.Judul Peta; Sekala Peta; Nomor Lembar Peta; Nama Provinsi, Kabupaten atau Kota; Edisi C.Diagram Lokasi D.Lambang Depdagri dan atau Institusi yang bekerjasama E.Keterangan Peta (Simbol, singkatan dan riwayat serta skala batang) G.Daftar Titik Koordinat Batas Daerah H. Pengesahan A B C D E F G H

33

34 G LOBAL P OSITIONING S YSTEM (GPS) GPS merupakan metode penentuan posisi ekstraterestris yang menggunakan satelit GPS sebagai target pengukuran. Penentuan posisi bersifat geosentris, dimana pusat massa bumi dianggap sebagai pusat sistem koordinat Untuk Indonesia datum (bidang referensi bumi) yang digunakan yaitu World Geodetic System 1984 (WGS 1984)

35 M ACAM GPS GPS Navigasi – akurasi kurang GPS Geodetik – akurasi tinggi

36 M ACAM GPS ( PENJELASAN ) 1) Tipe pertama adalah GPS Navigasi, GPS Navigasi biasanya memiliki tingkat kesalahan dibawah 10 m (rata-rata GPS tipe ini memiliki kesalahan 3 sampai dengan 6 meter) 2) Tipe kedua adalah tipe GPS Geodesi single frekuensi, GPS Geodesi single frekuensi biasanya digunakan untuk pemetaan, tingkat kesalahan dibawah 1 m. 3) GPS tipe terakhir adalah GPS tipe Geodetik dual frekuensi, GPS ini memiliki tingkat ketelitian yang tinggi dan tingkat kesalahannya di bawah 1 cm. GPS Geodesi dual frekuensi digunakan untuk mengukur pergerakan tanah.

37 T IPS P EMAKAIAN GPS SECARA BAIK Usahakan di wilayah yang lapang Pastikan sumber daya listrik dalam kondisi baru dan stabil Hidupkan selalu GPS selama survei (jangan sering dimatikan ketika survei karena penangkapan sinyal satelit membutuhkan waktu) Usahakan dapat menerima minimal 3 satelit untuk 2D, dan minimal 4 satelit untuk 3D

38 T AMPILAN ANTAR MUKA GPS

39 K OORDINAT DALAM KAJIAN BATAS WILAYAH Untuk darat, misalnya, batas bisa ditentukan dengan unsur alam (sungai, igir, dan danau), dan unsur buatan (jalan, rel kereta, saluran irigasi, dan pilar batas). Sehingga keberadaan posisi koordinat dari titik batas ini menjadi penting Koordinat titik batas perlu seakurat mungkin (secara geodetik), dengan memperhatikan datum dan sistem proyeksi yang jelas. Penggunaan GPS maupun alat lain di lapangan dalam penentuan titik koordinat perlu diperhatikan kualitas dan akurasi dari alat maupun operatornya

40 A PLIKASI GPS DALAM PENENTUAN BATAS

41 A PLIKASI GPS DALAM PLOT KEJADIAN / OBJEK

42 Laporan kasus Ke lapangan : Plot lokasi Nilai lokasi Pengolahan data spasial Peta lokasi kejadian/kasus

43 Batas belum jelas Survei lapangan Pembuatan Peta Peta Draft Rapat penetapan batas wilayah Peta batas wilayah


Download ppt "Oleh : Prof. Dr.rer.nat Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc. (Wakil Dekan Bid. Penelitian dan Kerjasama F. Geografi UGM) Ari Cahyono, S.Si (Dosen F. Geografi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google