Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

THE CONSTRUCTIVISM Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta Dosen: Hartanto, S.I.P, M.A.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "THE CONSTRUCTIVISM Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta Dosen: Hartanto, S.I.P, M.A."— Transcript presentasi:

1 THE CONSTRUCTIVISM Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta Dosen: Hartanto, S.I.P, M.A.

2 Konstruktivisme merupakan salah satu ide pemikiran yang sangat populer dan berpengaruh dalam tataran studi hubungan internasional saat ini yang muncul setelah Perang Dingin. Kaum konstruktivis berpendapat bahwa sangat penting untuk memahami bagaimana aktor-aktor mengembangkan kepentingan mereka dan untuk menjelaskan jangkauan luas dalam fenomena politik internasional.

3 Konstruktivisme muncul karena adanya ketidakpuasan para ilmuwan rasionalis karena melihat teori-teori yang sudah mapan tidak mampu menjelaskan secara detail tentang fenomena- fenomena yang telah terjadi. Misalnya teori neoliberalisme yang lebih fokus kepada ekonomi politik, neorealisme kepada kekuatan militer, dll. Menurut kaum neorealis dan neoliberalis, mereka mampu menjelaskan alasan utama sebuak konflik serta terjalinnya hubungan internasional diatas struktur anarki, dan kepentingan menjadi dasar perilaku aktor. Akan tetapi, menurut kaum konstruktivis bahwa fenomena yang terjadi tidak terlepas dari adanya hubungan dan nilai-nilai sosial, nilai menentukan perilaku dan kepentingan. Dengan kata lain, konstruktivisme menolak pemikiran neorealis dan neoliberal yang menggambarkan manusia secara rasionalis, yakni sebagai aktor yang egois, sedangkan konstruktivis memandang manusia dari sisi yang berbeda yakni sebagai makhluk sosial yang memiliki kultur.

4 GAGASAN UTAMA KONSTRUKTIVIS

5 Pertama, struktur sebagai pembentuk perilaku aktor sosial dan politik, baik individual maupun negara, tidak hanya terdiri memiliki aspek material, tetapi juga normatif dan ideasional. Berbeda dengan neorealis dan marxis, misalnya, yang menekankan pada struktur material hanya dalam bentuk kekuatan militer dan ekonomi dunia yang kapitalis, konstruktivis berargumen bahwa sistem nilai, keyakinan dan gagasan bersama sebenarnya juga memiliki karakteristik struktural dan menentukan tindakan sosial maupun politik. Sumber-sumber material sebenarnya hanya bermakna bagi tindakan atau perilaku melalui struktur nilai atau pengetahuan bersama. Disamping itu, struktur normatif dan ideasionallah yang sebenarnya membentuk identitas sosial aktor-aktor politik.

6 Kedua, kepentingan (sebagai dasar bagi tindakan atau perilaku politik) bukan menggambarkan rangkaian preferensi yang baku, yang telah dimiliki oleh aktor-aktor politik, melainkan sebagai produk dari identitas aktor-aktor tersebut. Berbeda para teoretisi neorealis, neoliberal ataupun marxist, yang hanya memberi perhatian pada aspek-aspek strategis dalam arti bagaimana akator-aktor politik bertindak mencapai kepentingan mereka, teoretisi konstruktivis lebih menekankan pada sumber- sumber munculnya kepentingan, yakni bagaimana aktor-aktor politik mengembangkan kepentingan- kepentingan mereka. Dalam artian ini, terkait dengan proposisi ontologis yang pertama, Alexander Wendt secara jelas mengatakan bahwa, Identities are the basis of interests’ ((1992).

7 Ketiga struktur dan agent saling menentukan satu sama lain. Konstruktivis pada dasarnya adalah strukturasionis yakni menekankan peran struktur non-material terhadap identitas dan kepentingan serta, pada saat yang bersamaan, menekankan peran praktek dalam membentuk struktur-struktur tersebut. Artinya, meskipun sangat menentukan identitas (dan oleh karenanya juga kepentingan) aktor-aktor politik, struktur ideasional atau normatif tidak akan muncul tanpa adanya tindakan-tindakan aktor-aktor politik.

8 VARIAN KONSTRUKTIVIS

9 Konstruktivis sistemik, dengan tokohnya Alexander Wendt, memiliki kesamaan dengan neorealis dalam artian keduanya memberikan perhatian hanya pada interaksi antar negara sebagai aktor-aktor tunggal dan mengabaikan semua proses yang berlangsung di dalam masing- masing aktor tersebut. Memahami politik internasional, dalam pemikiran konstruktivis sistemik, berarti semata-mata memahami bagaimana negara berhubungan satu sama lain dalam ruang eksternal atau internasional.

10 Seperti halnya dengan neorealisme, anarkhi dalam politik internasional menjadi sebuah konsep yang penting dalam varian konstruktivisme ini. Hanya saja, berbeda dengan neorealist yang melihat negara berhubungan satu sama lain dalam konteks anarkhi, konstruktivis memahami anarkhi justru sebagai produk hubungan antar negaraa. Posisi ini ditujuukan dengan jelas oleh Wendt melalui judul dari salah satu karya utamanya, ‘Anarchy is what states make of it’ (1992).

11 Varian kedua konstruktivisme level unit berusaha melihat hubungan pengaruh norma-norma sosial dan legal di tingkat domestik bagi identitas, dan oleh karenanya, kepentingan-kepentingan negara. Peter Katzenstein merupakan salah figur penting konstruktivisme dari varian ini. Melalui dua buah karyanya, Cultural Norms and National Security: Police and Military in Changing Japan (1996) dan Tamed Power: Germany in Europa (1999), Katzenstein berusaha menunjukkan bagaimana kedua negara dengan pengalaman yang sama, sebagai negara yang kalah perang, mengalami pendudukan asing dan berubah dari otoritarian menuju demokrasi, memiliki kebijakan-kebijakan pertahanan internal dan external yang sangat berbeda.

12 Menurut Katzenstein, perbedaan ini mencerminkan institusionalisasi norma-norma sosial dan legal yang berbeda di tingkat nasional kedua negara tersebut. Sekalipun tidak mengabaikan peran peran norma internasional dalam membentuk identitas dan kepentingan negara, penekanan yang berlebihan pada aspek domestik menempatkan konstruktivisme (dalam varian ini) pada posisi yang sulit untuk menjelaskan munculnya kesamaan-kesamaan antar negara ataupun adanya pola-pola konvergensi idetitas dan kepentingan negara-negara yang berbeda.

13 Varian konstruktivisme ketiga, yakni holistik, berusaha menjembatani kedua posisi dua varian konstruktivisme yang bertolak belakang di atas dengan jalan melihat domestik dan internasional sebagai dua aspek berbeda dari tatanan sosial dan politik yang sama. Konstruktivis holistik berusaha menjelaskan dinamika perubahan global  terutama dalam kaitannya dnegan muncul dan hancurnya negara berdaulat  melalui hubungan timbal balik antara negara dan tatanan global tersebut.

14 Hubungan ini ditunjukkan dengan dua cara yang berbeda. John Gerard Ruggie, misalnya, berusaha menjelaskan perubahan dalam politik internasional akibat munculnya negara berdaulat dari puing-puing feodalisme Eropa dengan menekankan pada pentingnya perubahan dalam episteme sosial atau kerangka pengetahuan (1986, 1993). Cara yang kedua diwakili oleh karya Friedrich Kratochwil mengenai berakhirnya Perang Dingin, dengan menekankan pada perubahan dalam gagasan mengenai tatanan dan keamanan internasional. Karena besarnya perhatian terhadap transformasi-transformasi yang bersifat global dan besar, varian konstruktivisme memahami gagasan, norma maupun budaya memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah transformasi, tetapi terlepas dari keinginan, pilihan ataupun tindakan manusia.

15 Apa itu konstruktivisme ? Konstruktivisme adalah salah satu teori sosiologi yang dalam hal ini dipakai sebagai pendekatan untuk memahami pembentukan institusi internasional.

16 Dasar Pemikiran Konstruktivisme Di dunia ini tidak ada yang obyektif, semua adalah dikonstruksikan dalam otak manusia, dalam sanubari manusia. Contoh: Sepakbola, catur, dll. Karena dikonstruksikan manusia maka interaksi yang terjadi itu, kembali pada sosiologi simbolisme atau sosiologi interaksi simbolis, sesungguhnya merupakan interaksi antar manusia, antar subyek, atau istilah sosiologi: inter subyektif meaning.

17 Tiga Konsep Utama Identitas (Identity) Alexander Wendt Norma (Kratochwill) Speech Act (disebut juga Communicative Action) Onuf.

18 Identitas Menurut Wendt, ketika ada proses konstruktif, ada sesuatu yang membuat seseorang bisa menentukan kepentingannya. Jadi konflik atau kerjasama, tidak tergantung pada kepentingan, tetapi tergantung pada sesuatu yang menentukan kepentingan itu, sesuatu yang dikonstruksikan sehingga menentukan kepentingan itu. Sesuatu itulah yang disebut identitas. Identitas bisa berubah karena Social Learning.

19 Norma Pendekatan konstruktivisme yang lain adalah yang dikemukakan oleh Kratochwill. Menurutnya Institusi itu terbentuk karena kesalahan dimasa lalu dan kesalahan-kesalahan ini bisa membangun Norma. Norma tidak saja bersifat regulatif tetapi juga bersifat konstrukstif. Dalam hal ini norma, bukan berarti norma yang harus dilakukan oleh orang yang bermain catur, tetapi norma yang membentuk orang bermain catur.

20 Speech Act atau Communicative Action. Semua yang ada di dunia ini asalnya dari pikiran yang kemudian dikomunikasikan dalam bentuk speech, dalam bentuk ungkapan, yang kemudian akan menjadi rule. CA adalah dua orang berinteraksi untuk membangun satu trujuan bersama dan menghasilkan sesuatu yang baru. Kepentingan tidak didefinisikan lebih dahulu dlm berkomunikasi, dlm berargumentasi, kemudian kepentingan bisa berubah.

21 Irrasional Ada keanehan bahwa kadang negara bertindak sesuatu yang tidak sesuai dengan nalar rasional. Negara bertindak irrasional. Kemukakan beberapa contoh ! (Jepang dlm Perang Teluk I, Amerika di Irak dan persenjataan yang digunakannya, Perluasan Eropa, Hubungan Uni Soviet – Amerika selama dan sesudah perang dingin, dll.) Banyak anomaly di dunia ini yang membuat orang bertanya bagaimana menjelaskan ketika sebuah negara membentuk institusi tetapi negara sesungguhnya irrasional ?

22 Munculah Pemikiran Konstruktivisme Di dunia ini tidak ada yang obyektif, semuanya adalah dikonstruksikan, dipersepsikan dalam otak manusia, dan disepakati bersama. Contoh: Sepakbola, Catur, dll. Sehingga sesungguhnya interaksi yang terjadi, seperti kata sosiologi simbolisme atau sosiologi interaksi simbolis, adalah interaksi antar subyektif, inter subyektif meaning. Oleh karena itu pendekatan ini disebut konstruktivisme.

23 Alexander Wendt -Neo-Liberal dlm bukunya Cooperation Under Anarchy mempersoalkan bagaimana menciptakan institusi dalam dunia yang anarchi. Mereka menerima asumsi bhw dunia ini anarchi secara taken for granted. -Persoalan Wendt bukan pada bagaimana menciptakan institusi dalam dunia yang anarchi, tetapi lebih jauh dari itu, dia mempersoalkan dulu, anarchi itu apa dan bagaimana ?

24 Alexander Wendt (lanjutan 1) -Menurutnya Anarchi itu bukan sesuatu yang obyektif, yang ada sebelum negara ada, tapi anarchi diciptakan ketika negara ada. Anarchi itu konstruktif, dikonstruksikan, diciptakan oleh manusia sebagai sebuah rule. Anarchi ada karena ada pelajaran kepentingan nasional, ada Morgenthau, ada realis, ada jurusan HI, dll. Counter-factual, kalau Henry Kissinger tidak lahir, tidak akan ada Anarchi, kalau saja tidak ada George Bush dan tidak ada Sadam Husein, konflik tidak akan pernah ada.

25 Alexander Wendt (lanjutan 2) -Baik Kognitivisme maupun Konstruktivisme keduanya mengakui peranan ide, hanya ide pd Kognitivisme diperlakukan sbg sesuatu yang sdh jadi yg namanya anarchi, sedang Konstruktivisme memperlakukan ide sbg sesuatu yang apriori terhadap struktur, tetapi keduanya tetap berbasis pada ide, pd pengatahuan.

26 Alexander Wendt (lanjutan 3) Pada intinya bhw sesuatu itu dikonstruksikan secara bersama, tidak ada yang obyektif, kecuali kalau itu dikonstruksikan bersama. Oleh krn itu perhatian konstruktivisme pd proses konstruksinya, bukan pd akibat obyektivitasnya. Persoalan lebih lanjut adalah apabila semua yang ada di dunia hasil konstruksi otak manusia, maka kepentingan nasional itu juga konstruksi, bukan hanya anarchi. Kepentingan Nasional itu konstruksi. Oleh krn itu, kita hrs mengkonsentrasikan diri pd konsep kepentingan dan cara mencapai kepentingan.

27 Indentitas (Alexander Wendt) Menurut Wend lanjutnya, ketika ada proses konstruksi, ada sesuatu yang membuat seseorang bisa menentukan kepentingannya. Kl saya seorg yg curang, yg jahat, maka kepentingan saya adalah mengakali org lain, kepentingan saya menjahati org lain. Kl saya org yg bermoral, org yg baik, maka kepentingan saya adalah kerjasama. Jd konflik atau kerjasama tdk tergantung pd kepentingan, tetapi tergantung pd sesuatu yg menentukan kepentingan itu, sesuatu yg dikonstruksikan shg menentukan kepentingan itu. Sesuatu itulah yang kemudian disebut identitas. Krn itu bs difahami kl ada negara yang menjalankan kebijakannya tdk sesuai dgn kepentingannya, krn memang identitasnya tdk membuat kepentingan seperti yg dikonstruksikan kaum realis. Contoh AS di Irak, Jepang-Perang Teluk I, Perluasan Eropa dll.

28 Identitas (lanjutan 1 ) Identitas bs berubah dengan Social Learning. Contoh: Jepang ketika PD II dan setelah PD II, AS dan USSR selama Perang Dingin, ASEAN, dll.

29 Norma (Kratochwill) Pendekatan konstruktivisme yg lain adalah yang dikemukakan Kratochwill yg menulis artikel dlm jurnal International Organization dgn judul “ Kesalahan itu ada manfaatnya”. Menurutnya, dunia HI ternyata belajar dari kesalahan. Kenapa ada institusi, ada GATT, ada WTO? Krn mereka belajar dari kesalahan selama PD II. Institusi terbentuk karena kesalahan di masa lalu. Kesalahan2 itu bisa membangun yg namanya Norma. Jd jalan pikiran Kratochwill bkn pd identitas tapi pd norma. Menurutnya dunia ini tdk anarchis, krn sesungguhnya banyak sekali norma yg mengatur hub antar manusia dan jg hubungan antar negara.

30 Norma (lanjutan 1) Dalam Neo-liberal, Norma itu regulative, norma itu mengatur tingkah laku manusia, hrs begitu, tdk boleh begini, dst. Menurut Kratochwill, norma tidak saja regulative tetapi juga konstruktif. Artinya bukan saja norma yg hrs dilakukan org bermain catur, lebih dari itu, norma yang membangun org bermain catur (mengapa org bermain catur?). Dgn kata lain, dgn norma itu menjadikan anda bermain catur.

31 Norma (lanjutan 2) Misal: Ketika semua negara menerima HAM, tdk dgn kalkulasi rasional lagi, pokoknya saya negara yang menghormati HAM. Contoh lain, ASEAN ttg prinsip non-intervensi urusan dlm negeri negara lain. Tapi pengalaman yg salah dari Krisis Ekonomi, yg nyata2 apa yg terjadi disalah satu negara anggota dampaknya akan meluas ke negara-negara anggota yg lain. Error ini menciptakan norma baru yg menggugat norma non-intervensionis.

32 KONTRIBUSI KOSNTRUKTIVIS PADA STUDI HI

33 Pertama, bertambahnya materi cara pandang dalam menganalisa suatu fenomena dalam hubungan internasional kaitannya dengan teori perspektiv. Sehingga fenomena di dunia internasional dapat dianalisa dari berbagai sudut pandang. Kedua, munculnya konstruktivisme juga sebagai pencetus sebuah pembaharuan kepentingan dalam teori internasional. Ketiga, konstruktivisme membawa sebuah level konseptual dan pengalaman baru dalam menganalisa internasional dan masyarakat dunia.

34 KRITIK TERHADAP KONSTRUKTIVIS

35 Pertama, tidak adanya kesepakatan antara penganut konstruktivis itu sendiri tentang sifat dasar konstruktivisme, sehingga terdapat perbedaan pandangan antara kaum konstruktivis satu dengan yang lain. Kedua, belum ada kepentingan ketika konstruktivisme terjun ke masyarakat, akan tetapi nilai-nilai dalam masyarakatlah yang menentukan kepentingan itu seperti interaksi, kultur, dan komunikasi. Ketiga, adanya pandangan bahwa kontruktivisme muncul untuk melengkapi keberadaan realis, dan menjadi sub ordinat dari realis. Keempat, menurut teori kritis, pandangan konstruktivis dianggap berusaha untuk menghilangkan aspek power dalam memahami nilai. Konstruktivisme tidak memandang hubungan antar nilai sebagai sebuah proses politik yang mempengaruhi aspek-aspek tertentu seperti keadilan, dsb

36 SEKIAN DAN TERIMA KASIH


Download ppt "THE CONSTRUCTIVISM Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Respati Yogyakarta Dosen: Hartanto, S.I.P, M.A."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google