Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1.Faktor yang dapat diperkirakan di muka  Faktor-faktor yang dapat diperkirakan di muka, seperti umur ekonomis penggunaan aktiva tetap, teknologi, mode,

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1.Faktor yang dapat diperkirakan di muka  Faktor-faktor yang dapat diperkirakan di muka, seperti umur ekonomis penggunaan aktiva tetap, teknologi, mode,"— Transcript presentasi:

1

2 1.Faktor yang dapat diperkirakan di muka  Faktor-faktor yang dapat diperkirakan di muka, seperti umur ekonomis penggunaan aktiva tetap, teknologi, mode, keausan aktiva, merupakan faktor pokok yang harus digunakan dalam menentukan metode penyusutan. 2.Faktor yang tidak dapat diperkirakan di muka  Faktor-faktor yang tidak dapat diperkirakan di muka, seperti bencana alam, undang-undang baru dan lain-lain bukan merupakan faktor penentu dalam mengambil kebijakan penyusutan.

3 1.Harga perolehan  Harga perolehan adalah seluruh pengeluaran untuk memperoleh suatu aktiva tetap sampai aktiva tetap tersebut siap digunakan untuk beroperasi. 2.Umur ekonomis (masa manfaat)  Estimasi dari masa manfaat suatu aktiva yang dapat disusutkan atau suatu kelompok aktiva serupa yang dapat disusutkan adalah suatu masalah pertimbangan yang biasanya berdasarkan pengalaman dengan jenis aktiva yang serupa. Masa manfaat dari suatu aktiva yang dapat disusutkan untuk suatu perusahaan mungkin lebih pendek dari usia fisiknya.

4 Con’t………………… 2.Nilai sisa akhir pemakaian  Nilai sisa adalah perkiraan nilai aktiva tetap pada akhir pemakaian atau pada akhir umur ekonomisnya.Nilai sisa ini akan menentukan jumlah suatu obyek yang akan disusut. 2.Metode yang digunakan  Untuk menentukan metode apa yang akan digunakan oleh perusahaan, perusahaan harus menghubung-hubungkannya dengan faktor-faktor ekonomi misalnya keausan, teknologi dsb.

5 1. Metode aktivitas (Activity method)  metode jam jasa (service – hours method)  metode jumlah unit produksi (productive – output method) 2. Metode Garis Lurus 3. Metode Beban Menurun:  Jumlah angka tahun (sum of the year digits)  Persentase tetap dari nilai buku (double decline) Metode no 2 dan 3 tersebut Berdasarkan waktu. 4. Metode Khusus (berdasarkan kriteria yang lainnya)  Metode persediaan (inventory method)  Metode penggantian dan pemberhentian (retirement and replacement method)  Metode Berdasarkan jenis dan kelompok (group and composition method)  Metode bunga efektif (compound interest method)

6 1. Metode Aktivitas (Activity Method)  Metode ini tepat digunakan untuk aktiva tetap yang pengoperasiannya sangat mempengaruhi penurunan nilainya.Semakin besar jasa yang diberikan, semakin besar nilai penurunan aktiva tetap tersebut. Contoh : Sebuah pesawat terbang dibeli dengan harga Rp ,- diperkirakan akan memberi jasa penerbangan jam terbang. Pada tahun 2008 digunakan selama jam terbang, maka penyusutan tahun 2008 : Rp ,-/ x 1.500= Rp ,-

7 2. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)  Metode garis lurus adalah metode yang paling umum digunakan. Disamping mudah penerapannya, metode ini juga akan memberikan beban yang adil pada masa-masa penggunaan aktiva. Kelemahan dari metode ini adalah apabila diterapkan pada aktiva tetap semakin lama memberikan jasa semakin kecil, sehingga beban yang sama akan tidak adil. Metode ini sangat tepat digunakan untuk aktiva tetap yang kerusakannya lebih disebabkan oleh waktu, bukan oleh penggunaan, seperti gedung atau bangunan.  Cara menentukan jumlah penyusutan dengan ini adalah :

8 Contoh :  Pada tanggal 1 Januari 1998 sebuah perusahaan membeli sebuah aktiva tetap dengan harga perolehan sebesar Rp ,-. Perkiraan umur ekonomis 10 tahun dan nilai sisa akhir tahun ke sepuluh adalah Rp ,- Penyusutan per tahun :  Rp – Rp /10 tahun= Rp ,-

9 3.a. Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of The Years Digits Method)  Metode jumlah angka tahun akan membebankan penyusutan tiap tahun semakin kecil. Metode ini tepat digunakan untuk aktiva yang memberikan jasa semakin menurun, seperti barang-barang teknologi elektronika.  Cara perhitungan penyusutan dengan metode jumlah angka tahun adalah : Jumlah angka tahun dapat dicari dengan formula :  (n + 1) n/2  n = Jumlah perkiraan umur ekonomis

10 Contoh :  Analog dengan contoh pada metode garis lurus diatas, maka penyusutan tahun pertama dapat dicari sebagai berikut : 10/55 x Rp = Rp ,-  Penyusutan tahun kedua adalah :  9/55 x Rp ,-= Rp ,-

11 3.b. Metode Persentase Tetap dari Nilai Buku (Double Declining Method)  Metode ini tidak mempertimbangkan adanya nilai sisa akhir pemakaian suatu aktiva tetap. Metode ini hanya mendasarkan penentuan penyusutan kepada nilai buku. Cara menghitung penyusutan dengan metode double declining adalah : (2 x Persentase penyusutan metode garis lurus) x Nilai buku awal tahun.

12 Contoh :  Analog dengan contoh sebelumnya, maka penyusutan tahun pertama, kedua dan seterusnya akan dihitung sebagai berikut :  Tahun pertama : 10% x 2 x Rp ,-= Rp ,-  Tahun kedua : 20% x (Rp – Rp )= Rp ,-  Tahun ketiga : 20% x (Rp – Rp – Rp )= Rp ,-

13 4.a.Metode Persediaan (Inventory Method)  Metode ini menghitung penyusutan berdasarkan persediaan yang dihasilkan oleh aktiva tetap tersebut pada setiap periode. 4.b. Metode Penggantian dan Pemberhentian (Retirement and Replacement Method)  Metode ini sering digunakan oleh perusahaan umum negara yang menggunakan aktiva kecil-kecil tetapi jumlahnya secara keseluruhan menjadi material, misalnya perusahaan kereta api dengan bantalan rel, perusahaan telekomunikasi dengan tiang telepon dan kabel.  Metode retirement membebankan penyusutan setiap penggantian aktiva lama dengan yang baru. Atas penggantian tersebut di debit biaya penyusutan sebesar harga perolehan aktiva yang diganti. Sedangkan metode replacement akan mengakui biaya penyusutan sebesar harga perolehan aktiva sebagai pengganti aktiva lama. Jadi setiap terjadi penggantian aktiva, langsung diakui sebagai biaya penyusutan.

14 4.c. Metode Grup Dan Komposisi  Metode ini digunakan untuk mengadakan penyusutan terhadap sekelompok aktiva tetap yang mempunyai umur ekonomis yang berbeda-beda dan harga perolehan yang berbeda-beda pula.  Cara pembebanan penyusutan dilakukan dengan menentukan rata-rata tertimbang seluruh aktiva yang disusut. Contoh :  Tiga aktiva A,B,C mempunyai harga perolehan, nilai sisa dan umur ekonomis yang berbeda-beda. Ketiga aktiva tersebut disusut berdasarkan metode grup dan komposisi sebagai berikut :

15 AktivaHarga Perolehan Nilai SisaUmurPenyusutan A B C

16 Penyusutan per tahun : x 100%= 25.50% –  Apabila suatu aktiva tetap tersebut dijual, maka perusahaan akan mencatat debit kas dan kredit harga perolehan aktiva yang dijual, sedangkan selisihnya dibebankan ke rekening akumulasi penyusutan. Dengan demikian, setiap ada penjualan sebagian aktiva tetap, tidak akan diakui laba dan rugi.

17 DEPLESI  Deplesi adalah istilah penyusutan untuk perusahaan pertambangan yang mengambil mineral dan sumber alam.  Deplesi dihitung dengan cara : Deplesi per satuan= Jumlah seluruh biaya eksplorasi Perkiraan satuan kandungan Contoh :  Sebuah perusahaan pertambangan telah mengeluarkan biaya eksplorasi sebesar Rp ,-. Isi kandungan mineral tambang tersebut ditaksir sebesar ton, maka deplesi per ton mineral adalah : Rp / ton= Rp 5.000,- per ton

18 REVALUASI  Penilaian kembali aktiva tetap (revaluasi) mencakup dua jenis perlakuan, yaitu :  Revaluasi ke nilai yang lebih tinggi dari nilai buku disebut, apresiasi.  Revaluasi ke nilai yang rendah dari nilai buku disebut, devaluasi. 1. Apresiasi  Pada dasarnya pencantuman aktiva tetap pada Neraca didasarkan kepada harga perolehan. Ada dua kelompok aktiva tetap yang dapat diapresiasi, yaitu aktiva tetap tanpa batas umur ekonomis (tanah) dan aktiva dengan umur tertentu, seperti gedung, mesin dsb.

19 Contoh :  PT “Ayem” mempunyai tanah yang dibeli 10 tahun yang lalu dan sekarang mempunyai nilai Rp ,- lebih besar daripada nilai perolehan yang sebesar Rp ,-.  Jurnal apresiasi : Aktiva tetap – Apresiasi ,- Modal – Apresiasi ,-  Apabila tanah tersebut dijual dengan harga Rp ,-, maka jurnal penjualan yang harus dibuat adalah : Kas ,- Modal-Apresiasi ,- Tanah ,- Tanah-Apresiasi ,- Laba penjualan ,-

20 Devaluasi  Devaluasi adalah penurunan nilai aktiva tetap dari harga perolehan menjadi harga atau nilai baru yang lebih rendah. Penurunan ini ditaksir sebagai rugi luar biasa. Contoh :  PT “Yusa” mempunyai komputer dengan harga perolehan Rp ,-. Umur ekonomis komputer 8 tahun, sudah disusut 4 tahun tanpa nilai sisa. Komputer tersebut sudah ketinggalan zaman dan perlu diturunkan nilainya menjadi Rp ,- sebelum penyusutan.

21 Jurnal devaluasi : Akumulasi penyusutan ,- Rugi luar biasa/laba ditahan ,- Aktiva tetap ,- Catatan : Penurunan nilai aktiva tetap sebesar Rp ,-, nilai buku 50% (4 tahun dari 8 tahun) sehingga rugi luar biasa adalah 50% x Rp ,- = Rp ,-


Download ppt "1.Faktor yang dapat diperkirakan di muka  Faktor-faktor yang dapat diperkirakan di muka, seperti umur ekonomis penggunaan aktiva tetap, teknologi, mode,"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google