Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

1 Pertemuan #3 Material Beton Prategang Matakuliah: S0502 / Struktur Beton Lanjut Tahun: 2006 Versi: 1.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "1 Pertemuan #3 Material Beton Prategang Matakuliah: S0502 / Struktur Beton Lanjut Tahun: 2006 Versi: 1."— Transcript presentasi:

1 1 Pertemuan #3 Material Beton Prategang Matakuliah: S0502 / Struktur Beton Lanjut Tahun: 2006 Versi: 1

2 2 Learning Outcomes Pada akhir pertemuan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu : menjelaskan Material utama pada sistim pratekan. Menghitung tegangan ijin pada kabel prategang dan beton dari sistem prategang sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia, yaitu : SK-SNI-T

3 3 Outline Materi Beton Tendon Baja Prategang. Grouting Tegangan Ijin Beton menurut SKSNI 1991 Tegangan Ijin Tendon Pratekan menurut SKSNI 1991

4 4 Material Beton Prategang Material Beton Prategan Terdiri atas : 1.Beton 2.Kabel/Tendon Baja Prategang 3.Grouting 4.Anchor

5 5 Beton Mutu beton minimum untuk : - 40 MPa untuk batang pratarik - 30 MPa untuk batang pasca tarik Nilai regangan susut sisa total yang dianjurkan : - 3,0 x untuk batang pratarik - (2,0 x )/(log t + 2) untuk batang pasca tarik, t adalah umur beton dalam hari Nilai koefisien rangkak yang merupakan rasio regangan rangkak ultimate terhadap regangan elastik adalah 2,2 pada pembebanan 7 hari, 1.6 pada 28 hari dan 1.1 bila umur pada pembebanan 1 tahun Modulus Elastisitas Beton :

6 6 Material Kabel/Tendon Prategang

7 7 Anchor

8 8 Mutu dan Komposisi Grouting Mutu, komposisi dan proporsi bahan untuk grouting harus memenuhi ketentuan berikut : –Grout harus terdiri dari semen portland dan air atau semen portland, pasir dan air; –Bahan untuk grout : semen portland, air, pasir dan bahn tambahan yang boleh digunakan, harus memenuhi ketentuan yang berlaku; Bahan-tambahan campuran yang boleh digunakan adalah yang diketahui tidak memiliki pengaruh buruk terhadap grout, baja, atau beton. Bahan-tambahan yang mengandung kalsium klorida tidak boleh dipergunakan.

9 9 Pemilihan Proporsi Grouting 1)proporsi dari bahan untuk grout harus didasarkan pada salah satu ketentuan berikut : a)hasil pengujian dari grout yang masih basah dan yang sudah mengeras yang dilaksanakan sebelum pekerjaan grout dimulai atau ; b)rekaman pengalaman sebelumnya dengan bahan dan peralatan yang serupa dan pada kondisi lapangan yang sebanding. 2)semen yang digunakan untuk pekerjaan harus sesuai dengan pilihan semen yang digunakan untuk dasar penentuan proporsi grout. 3)Kadar air harus seperlunya cukup untuk menjamin tercapainya pelaksanaan pemompaan grout yang baik; tetapi nilai rasio berat air-semen tidak boleh melampaui 0,45 4)Penurunan kemampuan alir grout yang telah tersedia akibat penundaan pelaksanaan grouting tidak boleh diatasi dengan menambah air.

10 10 Pengadukan dan Pemompaan Grout 1.grout harus diaduk dalam alat yang mampu untuk mengaduk secara mekanis dan beragitasi dengan menerus yang dapat mendistribusikan semua bahan secara merata, dilewatkan saringan, dan dipompa sedemikian rupa hingga akan memenuhi sepenuhnya selongsong tendon. 2.Suhu dari komponen struktur pada saat pelaksanaan grout harus di atas 2 o C dan harus dijaga agar tetap di atas 2 o C hinga kubus grout 50 mm yang dirawat di lapangan mencapai suatu kuat tekan minimum sebesar 6 MPa. 3.Selama pengadukan dan pemompaan, suhu dari grout tidak boleh lebih tinggi dari 30 o C.

11 11 Tegangan Ijin Beton (1) Tegangan ijin beton, sesuai dengan kondisi gaya pratekan dan tegangan beton pada tahap beban-kerja, tidak boleh melampaui nilai berikut : 1. Tegangan beton sesaat sesudah pemindahan gaya pratekan (sebelum kehilangan tegangan yang merupakan fungsi waktu) tidak boleh melampau nilai berikut : 1)Serat terluar mengalami tekan ………………0,60 f’c 2) Serat terluar mengalami tegangan tarik ……. 3)Serat terluar pada ujung komponen struktur yang didukung sederhana mengalami tarik ………

12 12 Tegangan Ijin Beton (2) 2. Tegangan beton pada tingkat beban kerja (sesudah memperhitungkan semua kehilangan pratekan yang mengkin terjadi) tidak boleh melampaui nilai berikut : 1)Serat terluar mengalami tegangan tekan ……0,45f’c 2) Tegangan serat terluar dalam daerah tari yang pada awalnya mengalami tekan ……………… 3) Tegangan pada serat terluar dalam daerah tarik yang paa awalnya megnalami tekan dari komponen (kecuali pada sistem pelat dua arah), dimaan analisis yang didasarkan pada transformasi penampang retak dan hubungan bilinear dari momen-lendut menunjukkan bahwa lendutan sesaat dan lendutan jangka panjang memenuhi persyaratan Ayat butir 4 dan dimana persyaratan penutup beton memenuhi Ayat butir 3 sub butir (2) ………………………..

13 13 Tegangan Ijin Tendon Pratekan Tegangan tarik dalam tendon pratekan tidak boleh melampaui nilai berikut : a). Akibat gaya penjangkaran tendon ………….. 0,94 fpy. Tetapi tidak lebih besar dari 0,8 fpu. Atau nilai maksimum yang direkomendasikan oleh pabrik pembuat tendon pratekan atau jangkar. b). Sesaat setelah pemindahan gaya pratekan …. 0,82 fpy. Tetapi tidak boleh lebih besar dari 0,74 fpu c). Tendon pasca tarik, pada daerah jangkar dan sambungan, sesaat setelah penjangkaran tendon …………………………………………… 0,70 fpy.


Download ppt "1 Pertemuan #3 Material Beton Prategang Matakuliah: S0502 / Struktur Beton Lanjut Tahun: 2006 Versi: 1."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google