Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Annisetya Robetha M. Bate (2009.33.032) Melisa Ripasindo Yulanda (2009.33.002) Oktaviana sari Nainggolan (2009.33.033)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Annisetya Robetha M. Bate (2009.33.032) Melisa Ripasindo Yulanda (2009.33.002) Oktaviana sari Nainggolan (2009.33.033)"— Transcript presentasi:

1 Annisetya Robetha M. Bate ( ) Melisa Ripasindo Yulanda ( ) Oktaviana sari Nainggolan ( )

2 Pengertian Pharingitis adalah penyakit peradangan yang menyerang tenggorokan atau faring. Kadang disebut radang tenggorokan. Pharingitis dapat disebabkan oleh virus dan kuman.

3

4 Etiologi Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Contoh virus yang menyebabkan faringitis adalah virus flu. Contoh Bakteri yang menyebabkan faritingitis adalah streptokokus grup A, korinebakterium, arkanobakterium, neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae.

5 Ada 2 macam faringitis: Faringitis Akut  Yaitu radang tenggorok yang disebabkan oleh organisme virus hampir 70% dan streptokokus group A adalah organisme bakteri yang umum berkenaan dengan faringitis akut. Faringitis Kronik Faringitis kronik umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja/tinggal dengan lingkungan berdebu, menggunakan suara berlebihan, menderita akibat batuk kronik, penggunaan habitual alkohol dan tembakau.

6 Pharingitis Krn Bakteri Streptokokus

7 PATOFISIOLOG

8 patofisiologi  Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih, atau abu-abu terdapat pada folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi meradang dan membengkak sehingaa timbul radang pada tenggorok atau faringitis. Pada infeksi faringitis, virus atau bakteri secara langsung menginvasi mucosa pada rongga tenggorokan, menyebabkan suatu respon inflamasi lokal. berbeda halnya dengan virus, seperti rhinovirus,dapat mengiritasi mukosa rongga tenggorokan. Streptococcal infeksi/peradangan ditandai oleh pelepasan dan invasi toksin ekstra seluler lokal dan proteases

9 Tanda & Gejala Penyakit ini cenderung akut dengan disertai demam yang tinggi, sakit kepala, rasa nyeri di perut dan muntah-muntah. Tenggorokan terasa nyeri, amandel menjadi berwarna merah dan membengkak. Pada anak yang sudah lebih besar, akan terlihat adanya lapisan seperti krim di atas amandel (eksudat) yang tidak mengeluarkan darah bila disentuh. Kelenjar getah bening di leher sering membengkak dan terasa nyeri bila ditekan. Berbeda dengan faringitis virus, penderita faringitis streptokokus tidak mengalami rhinitis, suara serak atau batuk.

10  Manifestasi klinis faringitis akut, yaitu : - Membran mukosa sangat merah dan tonsil berwarna kemerahan. - Folikel limfoid membengkak dan di penuhi dengan eksudat dan pembesaran. - Nyeri tekan nodus limfa servikal. - Demam - Malaise - Sakit tenggorok - Serak dan batuk - Sakit kepala

11 Manifestasi klinis faringitis kronik yaitu : Pasien dengan faringitis kronik mengeluh sensasi iritasi dan sesak pada tenggorok yang terus-menerus, lendir yang terkumpul dalam tenggorok dan dapat dikeluarkan dengan membatukkan, kesulitan menelan

12 Tes Diagnostik  Kultur tenggorok  Pemeriksaan serologic adalah pemeriksaan terhadap sputum klien untuk mengetahui tingkat keganasan bakteri atau virus.  Pemeriksaan sputum untuk mengetahui basil tahan asam  Fotothorak untuk melihat adanya tuberkolusis paru  Biopsi jaringan untuk mengetahui proses keganasan serta mencari basil tahan asam di jaringan

13 Therapy Medik Apabila penyebabnya diduga infeksi virus, pasien cukup diberikan analgetik dan tablet isap saja. Antibiotika diberikan untuk faringitis yang disebabkan oleh bakteri Gram positif disamping analgetika dan kumur dengan air hangat. Penisilin dapat diberikan untuk penyebab bakteri GABHS, karena penisilin lebih kemanjurannya telah terbukti, spektrum sempit,aman dan murah harganya. Dapat diberikan secara sistemik dengan dosis 250 mg, 2 atau 3 kali sehari untuk anak-anak, dan 250 mg 4 kali sehari atau 500 mg 2 kali sehari selama 10 hari. Apabila pasien alergi dengan penisilin, dapat diganti dengan eritromisin.

14  Untuk faringitis akut : Jika di duga atau ditunjukkan adanya penyebab bakterial, pengobatan dapat mencakup pemberian Agens antimicrobial untuk streptokukus group A, penisilin merupakan obat pilihan. Untuk pasien alergi terhadap penisilin atau yang mempunyai organisme resisten terhadap eritromisin digunakan sefalosporin. Antibiotik di berikan selama sedikitnya 10 hari untuk menghilangkan streptokokus group A dari orofaring.

15  Untuk faringitis kronik Didasarkan pada penghitungan gejala, menghindari pemajanan terhadap iritan, dan memperbaiki setiap gangguan saluran napas atas, paru atau jantung yang mungkin mengakibatkan terhadap batuk kronik. Kongesti nasal dapat dihilangkan dengan sprei nasal / obat-obatan yang mengandung epinefrin sulfat (Afrin) atau fenilefrin hidroklorida (Neo-Synphrine). Jika terdapat riwayat alergi, salah satu medikasi dekongestan antihistamin seperti Drixarol / Dimentapp, diminum setiap 4-6 jam. Malaise secara efektif dapat dikontrol dengan aspirin / asetaminofen.

16 Diagnosa Keperawatan & Intervensi  1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi pada tenggorokan.  Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x24 jam, diharapkan nyeri klien dapat berkurang atau hilang. Intervensi : - Kaji ulang tingkat nyeri - Kaji tanda-tanda vital - Berikan penkes sederhana tentang penanganan nyeri. - Kolaborasi dalam pemberian analgetik

17 2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kesulitan menelan atau nyeri menelan Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam, diharapkan kebutuhan nutrisi klien dapat tepenuhi dan kesulitan menelan saat makan dapat teratasi.

18  Intervensi : - Kaji tingkat intake makanan klien - Anjurkan klien untuk makan makanan yang tinggi kalori dan serat. - Anjurkan klien makan makanan sedikit tapi sering. - Anjurkan klien untuk makan makanan yang disediakan selagi hangat.

19 3. Kerusakan komunikasi verbal b/d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi atau pembengkakan. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatn 1x24 jam, diharapkan pasien dapat berkomunikasi dengan lebih baik dari sebelumnya.

20  Intervensi : - Kaji tingkat berkomunikasi klien - Anjurkan klien untuk tidak mencoba bicara. - Anjurkan klien untuk berkomunikasi lewat tulisan. Faktor predisposisi : sinusitis, rhinitis kronik, perokok dan peminum alkohol, infeksi, daerah berdebu, kebiasaan bernapas melalui mulut

21 SEKIAN……


Download ppt "Annisetya Robetha M. Bate (2009.33.032) Melisa Ripasindo Yulanda (2009.33.002) Oktaviana sari Nainggolan (2009.33.033)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google