Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENGANTAR  Persaingan bisnis dan industri barang/jasa semakin keras. Dibutuhkan kelihaian untuk memenangkan persaingan  Tekanan SP/SB menuntut dipenuhinya.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENGANTAR  Persaingan bisnis dan industri barang/jasa semakin keras. Dibutuhkan kelihaian untuk memenangkan persaingan  Tekanan SP/SB menuntut dipenuhinya."— Transcript presentasi:

1

2 PENGANTAR  Persaingan bisnis dan industri barang/jasa semakin keras. Dibutuhkan kelihaian untuk memenangkan persaingan  Tekanan SP/SB menuntut dipenuhinya standar hak dan kesejahteraan menjadi ‘hantu’ yg menakutkan, terutama menjelang Mayday  Pasokan bahan baku industri yang kian langka dan mahal, mendorong pelaku usaha menekan ongkos produksi serendah mungkin agar produk tetap bisa bersaing di pasar

3  Fenomena buruh rumahan menjamur di sekitar lokasi industri sebagai mata rantai ‘tak terlihat’ dalam proses produksi barang  Menurut penelitian Trade Union Resource Center (TURC), buruh rumahan sudah ada sejak 20 tahun yang lalu  Mereka tersebar, terutama di kota-kota dengan pertumbuhan industri yang sedang berkembang  80%-90% adalah perempuan

4 SIAPAKAH MEREKA ? Seseorang yang bekerja di dalam rumahnya atau ditempat lain yang dipilihnya, diluar tempat kerja milik majikan (pengusaha); untuk memperoleh upah; dan hasilnya berupa produk atau jasa yang ditetapkan oleh majikan (pengusaha) terlepas dari siapa yang menyediakan bahan baku, peralatan dan masukan lain yang dipergunakan. (Home Work Convention, 1996 No.177)

5 Pekerja Rumahan Pekerja Industri Pekerja industri melakukan kerja-kerja yang merupakan bagian dari keseluruhan proses produksi barang atau jasa Bedanya: PR melakukan kerja di rumahnya, setelah menerima pesanan dari pemberi kerja/perantara. Pemberi kerja tidak menghitung atau mengganti biaya produksi yang dikeluarkan oleh pekerja rumahan (tempat kerja, listrik dan peralatan kerja)

6  Upah kerja diperoleh berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan (satuan, kiloan, lusinan): sistem kerja borongan bukan jam kerja  Jika tidak bekerja tidak akan ada pendapatan (no work no pay)

7  Status pekerja individual bukan karyawan  Tidak memiliki kontak dengan pasar atas barang yg diproduksi  Hasil produksi ditentukan pemberi kerja  Bahan baku disediakan pemberi kerja namun peralatan kerja disediakan sendiri  Tidak ada jaminan kerja. Pemberi kerja bisa memutus hubungan kerja kapan dia mau  Resiko pekerjaan ditangung pekerja rumahan, termasuk resiko kesehatan dan keselamatan kerja

8 MENGAPA SEKTOR INI BERKEMBANG  Problem ekonomi RT mendorong perempuan ikut mencari nafkah keluarga  Besarnya angka pengangguran  Faktor kemudahan dan Fleksibilitas

9 Mata Rantai Pemberi kerja Perantara (1) Perantara (2) Pekerja Rumahan Perantara Pekerja Rumahan

10 Rata-rata perempuan, berpendidikan rendah dengan ketrampilan kerja yg juga rendah. Bekerja dari ruang pribadi di dalam rumahnya. K ondisi kerja di bawah standar Sulit dipantau, diawasi dan ditegakkan hukum ketenagakerjaannya. Tidak terorganisir dan minim persentuhan dengan organisasi pekerja sehingga rentan dieksploitasi. POTRET REALITAS

11 Penganyam Panggangan Ikan  Upah : Rp. 150/bh  Jam kerja : 8 s/d 9 jam  Rata-rata : 60 bh (Rp 9.000,-)

12 Mengepak kertas Sembahyang Umat Budha Upah : Rp 7/lembar Jam bekerja : 8-9 jam Rata-rata: 1500 lbr (Rp ,-)

13 Mengemas Pipet/Sedotan Upah: Rp 700,-/Kg Jam kerja: 8-9 jam Rata-rata: 6 Kg (Rp 4000)

14 Merapikan tali sendal jepit Upah : Rp 13,75/pasang Jam kerja : 9 jam Rata-rata: 400 pasang/hari (Rp 5.500,-)

15 Menjahit Jok Kereta Bayi Upah : Rp 665/bh Jam kerja: 8-9 jam Rata-rata: 60 bh (Rp )

16 Menganyam Tikar Upah: Rp 2.165/bh (3x6m) Jam kerja: 9-10 jam Rata-rata: 6 bh (Rp )

17  Sejak Mei 2014 BITRA mendampingi Buruh Rumahan di Tamora, Sunggal (DS), Marelan, Medan Deli (Medan)  Mengorganisir 368 orang dalam 10 kelompok produksi  Telah terbentuk Serikat Pekerja Rumahan Sejahtera (SPRS ) PENDAMPINGAN

18 18  Setiap kelompok telah memiliki AD/ART dan membayar iuran anggota Rp 3000/ bulan.  Pengurus kelompok mampu melakukan negosiasi dengan pemberi kerja.  Pengurus kelompok mampu melakukan audensi ke Dinas Tenaga Kerja Kab/Kota mem- beritahukan kondisi dan meminta perlindungan hukum.

19 19 KESIMPULAN 1.Pekerja Rumahan ada dan tersebar di sekitar sentra- sentra industri terutama di kota-kota besar. Namun keberadaannya tersembunyi karena mereka bekerja di dalam rumah di pemukiman-pemukiman padat penduduk 2.Hubungan kerja terjalin amat longgar, saling percaya dan bersifat lisan. Karena itu, posisi tawar terhadap upah, syarat-syarat kerja, peralatan kerja, K3 dan hal-hal lain meyangkut perlindungan sosial dan jaminan kesehatan, sangat rendah 3.Pekerja Rumahan belum tersentuh perhatian dari instansi Tenaga Kerja karena statusnya yang “tidak jelas”. Secara faktual ada tapi status hukumnya tidak ada. Hal ini dirasa menyulitkan kerika akan dilakukan pengawasan

20 20 SARAN 1.Pemerintah meratifikasi Konvensi No. 177 thn 1996 tentang Pekerja Rumahan. Atau, melakukan revisi terhadap UU No 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dengan mengatur pekerja rumahan sebagai bagian dari perkerja pada umumnya 2.Pemerintah daerah menginisiasi penerbitan Peraturan Daerah tentang Perlindungan Tenaga Kerja, di mana salah satu bagiannya memberi perlindungan bagi pekerja rumahan

21 TERIMAKASIH


Download ppt "PENGANTAR  Persaingan bisnis dan industri barang/jasa semakin keras. Dibutuhkan kelihaian untuk memenangkan persaingan  Tekanan SP/SB menuntut dipenuhinya."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google