Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu


Presentasi serupa

Presentasi berjudul: "EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN"— Transcript presentasi:

Bahan kajian MK STELA smno fpub Mei 2013

2 PENDAHULUAN Lahan: bagian bentang alam (lansekap) yang mencakup pengertian lingkungan fisik: termasuk iklim, topografi, hidrologi & keadaan vegetasi alam Pemanfaatan lahan sudah semakin intensif, sehingga sebagian besar telah melampaui daya dukungnya. Ada upaya untuk mengetahui kelas kemampuan lahan dan kelas kesesuaian lahannya.

3 KEMAMPUAN LAHAN Soil quality in relation to soil properties,
soil processes, and environmental quality Sumber:

4 Sumber:
SUMBERDAYA LAHAN Lahan dan Sumberdaya Lahan menunjukkan area tertentu di permukaan bumi meliputi semua attribut biosfir di atas dan di bawah permukaan, seperti: Iklim di dekat permukaan bumi, Tanah dan lansdkap, Hidrologi permukaan (including shallow lakes, rivers, marshes and swamps), The near-surface sedimentary layers and associated groundwater and geohydrological reserve, The plant and animal populations, The human settlement pattern and Physical results of past and present human activity (terracing, water storage or drainage structures, roads, buildings, etc.) (FAO/UNEP, 1997). Sumber:

5 Sumber:
FUNGSI LAHAN a store of wealth for individuals, groups, or a community production of food, fibre, fuel or other biotic materials for human use provision of biological habitats for plants, animals and micro-organisms co-determinant in the global energy balance and the global hydrological cycle, which provides both a source and a sink for greenhouse gases regulation of the storage and flow of surface water and groundwater storehouse of minerals and raw materials for human use a buffer, filter or modifier for chemical pollutants provision of physical space for settlements, industry and recreation storage and protection of evidence from the historical or pre-historical record (fossils, evidence of past climates, archaeological remains, etc.) enabling or hampering movement of animals, plants and people between one area and another. Sumber:

6 Sumber:
KETERSEDIAAN LAHAN Land is becoming more and more scarce as a resource, and this is particularly true of land available for primary production of biomass or for conservation related purposes. Competition for land among different uses is becoming acute and conflicts related to this competition more frequent and more complex. This competition is often most apparent on the peri-urban fringe, where the continuing pressures of urban expansion compete with agricultural enterprises, and with recreational demands. Such situations frequently lead to rapid increases in the economic value of land, and land tenure becomes an important political issue. Many factors associated with global change directly or indirectly influence how land is used. These include biophysical influences, such as changes in climate or natural or human-induced disasters, as well as socio-economic aspects such as trade liberalization, the globalization of markets, decentralization of decision making, privatization, and the widening gap between the "haves" and the "have-nots". Sumber:

7 Sumber:
PROBLEMATIK LAHAN The symptoms of the problem of pressure on land resources are manifested both in terms of impacts on people, and in terms of deterioration in the condition of land or impacts on other natural resources . The deterioration in land condition may be reflected by an impaired ability to carry out any functions of the land listed above, some of which, such as reduced capacity to produce biomass, also, in turn, affect population support or quality of life. Sumber:




11 Land Capability KEMAMPUAN LAHAN
Land capability is the ability of a piece of land to sustainably support a specific land use. If land is used beyond its capability, degradation is the consequence. Land capability is based on the understanding that every component of land has its own particular capacity to provide ecosystem services. It also propounds that a significant proportion of this capacity is required to maintain soil and land health (primary services) and that the remaining capacity is then potentially available for a range of human enterprises (secondary services). Land capability assessment therefore enables the reconciliation of production and protection. Sumber:

12 KEMAMPUAN LAHAN Land Capability
Ecologically sustainable uses must be those which do not compromise the primary ecosystem services. The corollary is that the soil and land can then be regarded as healthy. If, conversely, land is used such that the primary ecosystem services are compromised then, by definition, land degradation has occurred. The level of ecosystem services available will depend on the land component features, and its topographic and climatic environment. It is not possible to provide levels as a simple representation, although they will closely relate to our integrated understanding of land and soil quality. Seasonal variation compounds the issue. Climatic variation adds a new dimension entirely. Sumber:

13 KEMAMPUAN LAHAN Land Capability
The sustainable harvest of particular goods and services will thus be directly related to the availability of surplus ecosystem service capacity (i.e. that over and above that require for basic ecosystem activity). Health is lost if harvest (and its associated management) removes goods and services required for basic ecosystem activity Land capability does not include social or economic components. It focuses entirely on requirements for sustainability of the ecosystem. After the assessment of land capability, there is the requirement to overlay this then with the social and the economic constraints. Then, thus, we have land suitability assessment. Sumber:


15 KEMAMPUAN LAHAN Land capability classification is - according to the USDA terminology - "a system of grouping soils primarily on the basis of their capability to produce common cultivated crops and pasture plants without deteriorating over a long period. Land capability classification is subdivided into capability class and capability subclass nationally. Capability class The broadest category in the system. Class codes I to VIII indicate progressively greater limitations and narrower choices for agriculture. The numbers are used to represent both irrigated and nonirrigated land capability. Sumber:

16 Daya Dukung Lahan DDL menunjukkan kemampuan suatu lahan untuk penggunaan tertentu Misalnya: Kebutuhan pangan, Kebutuhan pakan ternak, Ketersediaan air, dll Contoh: Lahan sawah di Kota Malang hanya mampu menyediakan pangan (beras) bagi jiwa, sehingga sisanya harus mendatangkan dari luas Kota Malang

17 Daya Dukung Lahan Untuk mengetahui daya dukung lahan tersebut sering digunakan analisis kemampuan penggunaan lahan (KPL). KPL ini sebenarnya dikembangkan untuk tujuan konservasi tanah, tetapi rekomendasi penggunaannya dapat menyiratkan berapa luas lahan yang masih layak untuk tujuan tertentu.

INVENTARISASI Bentuk lahan Batuan Tanah Lereng Erosi Upaya konservasi tanah Penutupan lahan/ Penggunaan lahan Tabulasi dan plot inventarisasi faktor tunggal dan majemuk SISTEM SURVEI SUMBERDAYA LAHAN Informasi Iklim dan Hidrologi PENILAIAN KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN (KPL) Kelas Sub Kelas Satuan Plot dan Tabulasi KPL DATA SOSIAL EKONOMI Diagram kerangka survei sumberdaya lahan PENGGUNAAN LAHAN YANG DIREKOMENDASIKAN UNTUK PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS TERPADU

19 DEFINISI “KEMAMPUAN LAHAN” adalah kemampuan suatu lahan untuk digunakan sebagai usaha pertanian yang paling intensf termasuk penentuan tindakan pengelolaannya, tanpa menyebabkan lahan tersebut menjadi rusak. Sifat Lahan Berbeda Pembatas Ber-beda2 Kemampuan Berbeda

KPL = Sistem klasifikasi lahan yang dikembangkan terutama untuk tujuan konservasi tanah Mempertimbangkan kelestarian lahan dalam menopang usaha pertanian secara luas : budidaya tanaman, padang rumput, agroforestry.

Land capability classification shows, in a general way, the suitability of soils for most kinds of field crops. Crops that require special management are excluded. The soils are grouped according to their limitations for field crops, the risk of damage if they are used for crops, and the way they respond to management. The criteria used in grouping the soils do not include major and generally expensive landforming that would change slope, depth, or other characteristics of the soils, nor do they include possible but unlikely major reclamation projects. Capability classification is not a substitute for interpretations designed to show suitability and limitations of groups of soils for rangeland, for forestland, or for engineering purposes. Sumber:

22 Hirarki Klasifikasi Kemampuan Lahan (Stallings, 1957)
DIVISI KELAS SUB-KELAS SATUAN PENGELOLAAN (UNIT) Ada 2 DIVISI (1) Dapat diusahakan dan (2) Tidak dapat diusahakan [untuk PERTANIAN] Ada 8 KELAS , yang pembagiannya didasarkan pada Faktor Pembatas Permanen Pembagian SUB-KELAS didasarkan pada Macam Faktor Pembatas Pembagian SATUAN PENGELOLAAN didasarkan pada Perlakuan Pengawetan dan Pemupukan

Derajad pembatas e w s c g Jenis pembatas utama SUB KELAS E = erosi W = kebasahan S = tanah c = iklim G = gradien IVs1 IVs2 IVs3 dll Kemiripan kebutuhan dan konservasi tanah SATUAN

24 Kelas Kemampuan Lahan Kelas Kemampuan Lahan mendeskripsikan total derajad pembatas dari nol atau dapat diabaikan pada kelas I hingga tingkat ekstrem pada kelas VIII. Kelas ini ditulis dengan menggunakan angka Romawi. Contoh : Kelas VI, Kelas V, dst.

25 Sub Kelas: menunjukkan jenis pembatas utama yang meliputi: erosi = e,
kebasahan = w; karakteristik tanah (s) dan gradien (g). Contoh: Subkelas = VIe

26 Satuan Pengelompokan beberapa satuan peta inventarisasi yang mempunyai kemiripan yang sama Mempunyai hasil potensial yang hampir sama, Memerlukan upaya konservasi tanah yang sama Contoh : VIe1, VIe2, dsb

27 Asumsi-1 KPL adalah suatu penilaian bersifat interpretasi berdasarkan sifat fisik lahan yang permanen Bila petani telah atau bisa mengatasi sendiri masalah tersebut, lahan dinilai dengan tingkat pembatas yang masih tersisa setelah mengalami perbaikan Tingkat pengelolaan lahan di atas rata-rata Telah diterapkan upaya konservasi tanah yang memadai untuk pemeliharaan

28 Asumsi-2 KPL bukan suatu penilaian produktivitas terhadap tanaman tertentu, meski nisbah masukan dan keluaran bisa membantu menetapkan KPL Misal : pada tingkat pengelolaan yang sama, tingkat produksi pada KPL III >KPL IV KPL bisa berubah karena reklamasi : drainase, irigasi, pengendalian banjir, dll. Tidak dipengaruhi oleh faktor-2 seperti: lokasi, jarak dari pasar, fasilitas prosesing, pemilikan lahan atau penampilan individu petani.

29 PEMBATAS FISIK Karakteristik Lahan yang mempunyai akibat merugikan terhadap keragaan (performance) lahan Ditunjukkan dalam Sub Kelas Kemampuan Penggunaan Lahan Pembatas fisik dapat berupa: Pembatas permanen Pembatas berubah (dapat dihilangkan atau diperbaikii melalui praktek-2 usaha tani)

30 Pembatas Permanen Sifat-2 jenis batuan
Sifat tanah : kedalaman perakaran, adanya lapisan penghambat dalam tanah, tekstur, kapasitas menahan air, jenis mineral liat, dll Iklim yang kurang cocok Bahaya alam (gunung api, banjir, dsb) Kebasahan tanah berlebih setelah drainase Erosi dan gerakan massa Kemiringan lereng

31 KEDALAMAN PERAKARAN Average root depth for various crops.

32 Depths to which the roots of mature crops will deplete the available water supply when grown in a deep permeable, well-drained soil under average conditions. Sumber: "Sprinkler Irrigation," Section 15, Natural Resources Conservation Service National Engineering Handbook

Root test: dig into soil near an established plant. Look for fine hairy roots (not just coarse roots which indicate poor drainage) going deep with no sharp turns (hard pan) Sumber:

34 KAPASITAS MENAHAN AIR Water holding capacity designates the ability of a soil to hold water. It is useful information for irrigation scheduling, crop selection, groundwater contamination considerations, estimating runoff and determining when plants will become stressed. Water holding capacity varies by soil texture. Sumber:

35 Calculation of water holding capacity for a soil profile
KAPASITAS MENAHAN AIR Calculation of water holding capacity for a soil profile Sumber:

36 Soil Texture and Water Holding Capacity
KAPASITAS MENAHAN AIR Soil Texture and Water Holding Capacity Sumber:

37 Faktor Pembatas Non-permanen (Berubah)
Kekurangan hara Kebasahan tanah atau kerentanan terhadap banjir Keberadaan batu pada permukaan lahan atau di zona perakaran tanaman Erosi : lapis, alur atau jurang Catatan : tergantung dari tingkatannya Kata kunci: pantas, layak dan ekonomis perlu dipertimbangkan sewaktu memutuskan kepraktisan dalam menghilangkan atau memodifikasi pembatas.

38 pH and Nutrient Availability chart
KETERSEDIAAN HARA pH and Nutrient Availability chart Sumber:

39 Sumber:
KETERSEDIAAN HARA. Phosphorus and potassium are immobile nutrients in the soil. P and K requirements for canola change, depending on soil test index levels. A phosphorus soil test index of 65 and above is considered 100 percent sufficient for crop growth, and anything less should be adjusted based on the recommendation in Table 1. Similarly, a K soil test index level of 250 or more is considered 100 percent sufficient, and anything less should be adjusted based on the recommendation in Table 2. Phosphorus and potassium needs should be corrected before planting by broadcast application and incorporation into the soil. Sumber:



42 KELAS KPL Delapan kelas: I - VIII Disusun dalam urutan sesuai dengan
peningkatan faktor pembatas atau ancaman untuk digunakan, atau penurunan dalam aneka penggunaan lahan

43 KELAS KEMAMPUAN LAHAN Class 1 soils have slight limitations that restrict their use. Class 2 soils have moderate limitations that restrict the choice of plants or that require moderate conservation practices. Class 3 soils have severe limitations that restrict the choice of plants or that require special conservation practices, or both. Class 4 soils have very severe limitations that restrict the choice of plants or that require very careful management, or both. Class 5 soils are subject to little or no erosion but have other limitations, impractical to remove, that restrict their use mainly to pasture, rangeland, forestland, or wildlife habitat. Class 6 soils have severe limitations that make them generally unsuitable for cultivation and that restrict their use mainly to pasture, rangeland, forestland, or wildlife habitat. Class 7 soils have very severe limitations that make them unsuitable for cultivation and that restrict their use mainly to grazing, forestland, or wildlife habitat. Class 8 soils and miscellaneous areas have limitations that preclude commercial plant production and that restrict their use to recreational purposes, wildlife habitat, watershed, or esthetic purposes.

44 Kelas I-IV Ditetapkan atas kesesuaiannya untuk budidaya tanaman tanpa teras. Sesuai untuk budidaya tanaman pertanian pada teras, dan mempunyai pembatas fisik yang meningkat untuk tanaman pertanian tanpa teras Kelas I: Tidak memiliki pembatas  sawah irigasi Kelas II: Pembatas fisik ringan, sedikit upaya konservasi  sawah irigasi atau yang lainnya Kelas III: Pembatas fisik sedang, perlu upaya konservasi  sesuai untuk segala bentuk usaha tani Kelas IV: Pembatas fisik berat, perlu upaya konservasi tanah intensif  kurang cocok untuk usaha tani non teras Juga sesuai untuk padang rumput, agroforestry atau hutan

45 Sawah Irigasi teknis di Kab. Tulungagung

46 SAWAH IRIGASI: di Kab.. Ngawi

47 Kelas V Tidak sesuai untuk budidaya tanaman pertanian tanpa teras
Sesuai untuk budidaya tanaman pertanian dengan teras, agroforestry, padang rumput atau hutan

Bench terraces are a soil and water conservation measure used on sloping land with relatively deep soils to retain water and control erosion. They are normally constructed by cutting and filling to produce a series of level steps or benches. This allows water to infiltrate slowly into the soil. Bench terraces are reinforced by retaining banks of soil or stone on the forward edges. This practice is typical for rice-based cropping systems. Sumber:

The velocity of water increases as slope length increases. Decreasing slope length by planting rows perpendicular to the slope or by adding terraces can decrease the velocity of water and, as a result, decrease its erosive potential. Sumber:

Agroforestry is an agricultural approach of using the benefits from combining trees and crops and/or livestock. Therefore, knowledge on selection of species combination and good management of trees and crops are needed to maximize the production and positive effects of trees and to minimize negative competitive effects on crops. Sumber:

. A grid pattern is used where you maximize competition between trees and ground vegetation but minimize competition between trees. Trees are arranged into single rows or multiple rows/clusters so that wide open alleys (dependant on size of your farm equipment) for forage production are created to allow grazing, haying, fertilizing, spraying, and hay harvesting. Grouping trees into double rows or clusters creates a local forest effect enhancing growth that produces good quality timber. Usually tree species such as Doug fir trees are combined with hardwoods to take advantage of their different growth habits and nutrient requirements. Sumber:

52 Kelas VI Hanya sesuai untuk budidaya tanaman pertanian dimana kedalaman tanah, kedalaman regolit dan lereng memungkinkan tanaman pertanian atau agroforestry pola kayu-tanaman semusim pada teras bangku Sesuai untuk silvopasture, padang rumput dan hutan

Design for a Douglas-fir/grass-clover silvopasture for western Oregon hill lands. It will qualify as a fully stocked forest for regulatory and forestry cost sharing purposes. Sumber:

Model of a silvipastoral system Sumber:

55 Kelas VII Tidak sesuai untuk tanaman pertanian atau agroforestry pola kayu-tanaman semusim Sesuai untuk agroforestry pola kayu-rumput, padang rumput atau hutan


Agroforestry is a land use system where woody perennial trees are deliberately used on the same land-management unit as agricultural crops and/or animals Sumber:

58 Kelas VIII Memiliki faktor pembatas yang berat
Tidak sesuai untuk segala bentuk tanaman pertanian, padang rumput atau hutan produksi Hanya sesuai untuk kasawan perlindung DAS (Hutan Lindung)

59 Kelas Kemampuan Lahan Intensitas Penggunaan Lahan Bertambah Tinggi
Cagar Alam Hutan Alam Penggembalaan terbatas Penggembalaan Sedang Penggembalaan Intensif Bercocok tanam terbatas Bercocok tanam sedang Bercocok tanam intensif Sangat intensif Pembatas dan Ancaman semakin meningkat Kebebasan memilih semakin berkurang dan alternatif penggunaan lahan makin terbatas I II III IV V VI VII VIII

60 DIVISI Kemampuan Lahan Kelas Kemampuan Lahan
(derajat hambatan) Sesuai untuk bercocok tanam tanaman pertanian, dengan derajat pengelolaan dan konservasi yang berbeda. I Tidak ada atau sedikit faktor pembatas dan resiko kerusakannya. Sifat tanah sangat baik ditinjau dari berbagai kepentingan. Bisa untuk aneka penggunaan pertanian dengan resiko kerusakan sangat kecil. II Memiliki sedikit faktor pembatas. Sifat tanah umumnya sangat baik untuk aneka penggunaan, pertanian tetapi sudah diperlukan perhatian terhadap resiko kerusakan lahan. III Memiliki sifat-sifat baik dengan faktor pembatas kemiringan yang agak curam. Bisa digunakan untuk pertanian, namun perlu perhatian serius dan upaya2 konservasi yang baik karena resiko erosi cukup besar. IV Memiliki faktor pembatas tetap sangat besar dan resiko kerusakan juga besar. Bisa untuk pertanian terbatas dan harus disertai upaya konservasi tanah yang intensif. Tidak sesuai untuk bercocok tanam, sedapat mungkin selalu tertutup vegetasi permanen V Merupakan lahan datar sampai cekung, dengan pembatas banyaknya batuan di permukaan dan/atau tergenang air, dan mungkin pembatas lainnya. Sebaiknya selalu tertutup vegetasi seperti hutan atau semak. VI Terletak pada lereng agak curam dan tanahnya dangkal. sehingga tidak boleh untuk tanaman semusim. Lahan ini masih bisa untuk tanaman pakan ternak atau padang penggembalaan. VII Terletak pada lereng sangat curam, telah tererosi berat, tanahnya kasar dan dangkal, atau pada rawa2. Sebaiknya hanya untuk vegetasi permanen. VIII Terletak pada lereng sangat curam (>90%), umumnya berbatu, kasar dan tanahnya sangat dangkal. Harus dibiarkan alami sebagai kawasan lindung.

61 Faktor Pembatas untuk Kategori Kelas
Faktor untuk kategori kelas merupakan faktor penghambat yang bersifat tetap dan sulit dirubah. Tekstur tanah (t) Lereng (l) Drainase (d) Kedalaman efektif (k) Erosi (e) Permeabilitas (p) Faktor-faktor Khusus : Bahan kasar di lapisan tanah atas (b) Batuan di permukaan tanah (b) Bahaya banjir (o)

62 1. Tekstur Tanah (t) Ditentukan dari tekstur lapisan atas (horison A atau sampai kedalaman cm dari permukaan) Pengelompokan kelas tekstur berdasarkan sistem USDA : Kelas Tekstur Deskripsi t1 Halus (liat dan liat berdebu) t2 Agak halus (liat berpasir, lempung liat berdebu, lempung berliat, lempung liat berpasir) t3 Sedang (debu, lempung berdebu, lempung) t4 Agak kasar (lempung berpasir) t5 Kasar (pasir berlempung dan pasir)

63 Sumber:

64 Sumber:

65 Agak miring/bergelombang
2. Kelas Lereng (l) Penentuan batas kemiringan lereng yang boleh diusahakan berbeda-beda di negara satu dengan lainnya Pengelompokan kelas lereng berdasarkan sistem USDA : Kelas Lereng Kriteria Deskripsi l0 Datar 0-3% l1 Landai/berombak 8-15% l2 Agak miring/bergelombang l3 Miring berbukit 15-30% l4 Agak curam 30-45% l5 Curam 45-65% l6 Sangat curam > 65%

66 KEMIRINGAN - SLOPE Some Typical Effects of Slope in Drylands

67 3. Drainase (d) Menggambarkan tata air pada suatu daerah
Kondisi drainase diamati dari kenampakan profil tanah Pengelompokan kelas drainase : Kelas Drainase Kriteria Deskripsi d0 Baik Peredaran udara baik, seluruh profil tanah berwarna terang seragam dan tidak terdapat bercak-bercak. d1 Agak baik Peredaran udara baik, tidak terdapat bercak kuning, kelabu atau coklat pada lapisan tanah atas ataupun bawah. d2 Agak buruk Peredaran udara pada lapisan tanah atas baik (tidak terdapat bercak kuning, kelabu atau coklat). Sebaliknya, peredaran udara pada lapisan tanah bawah buruk (terdapat bercak kuning, kelabu atau coklat). d3 Buruk Pada tanah atas bagian bawah dan sepanjang lapisan bawah terdapat bercak kuning, coklat atau kelabu. d4 Sangat buruk Seluruh lapisan permukaan tanah berwarna kelabu , atau terdapat bercak kelabu atau coklat dan kuning.

68 DRAINAGE TANAH Soil Drainage Classes based on soil color and the depth of mottling (Anelli, 2005). Sumber:

69 4. Kedalaman Efektif (k) Merupakan kedalaman tanah di mana masih ditemukan akar tanaman dan tanah masih menyimpan cukup air dan hara. Pada umumnya dibatasi oleh kerikil, lapisan kedap air atau bahan induk lainnya. Pengelompokan kelas kedalaman efektif berdasarkan sistem USDA : Kedalaman Efektif Kriteria Deskripsi k0 (1) Dalam > 90 cm k1 (2) Sedang 50 – 90 cm k2 (3) Dangkal 25 – 50 cm k3 (4) Sangat dangkal < 25 cm

Rooting depth . This is the depth from the top of the soil where the root system starts, typically the sowing depth or the radical insertion point, usually taken as 5cm. Root dept should not to be confused with root depth. Sumber:

71 5. Erosi Tanah (e) Penilaian didasarkan pada gejala-gejala erosi yang sudah terjadi Pengelompokan kelas erosi tanah berdasarkan sistem USDA : Kelas Erosi Tanah Kriteria Deskripsi e0 Tidak ada erosi Tidak ada lapisan atas yang hilang e1 Ringan < 25% tanah lapisan atas hilang e2 Sedang 25 – 75% tanah lapisan atas hilang e3 Berat > 75% lapisan tanah atas hilang dan < 25% lapisan tanah bawah hilang e4 Sangat berat > 25% lapisan tanah bawah hilang

72 Sumber:

73 Kelas Perbeabilitas Tanah
6. Permeabilitas Tanah (p) Permeabilitas tanah adalah kemampuan tanah untuk melalukan (mengalirkan) air dan udara. Pengelompokan kelas permeabilitas tanah berdasarkan sistem USDA : Kelas Perbeabilitas Tanah Kriteria Deskripsi (cm/jam) p1 Sangat lambat < 0,125 p2 Lambat 0,125 – 0,5 p3 Agak lambat 0,5 – 2,0 p4 Sedang 2,0 – 6,25 p5 Agak cepat 6,25 – 12,5 p6 Cepat 12,5 – 25,0 p7 Sangat cepat > 25,0


75 Faktor Khusus (Bahan Kasar, Batuan dan Banjir)
Faktor khusus merupakan penghambat yang tidak selalu dijumpai di semua daerah, melainkan hanya ditemukan pada lahan tertentu saja. Faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kemampuan lahan adalah : Adanya bahan kasar di dalam tanah (b) Adanya batuan/kerikil di permukaan tanah (b) Adanya ancaman bahaya banjir (O) 75

76 7.a. Bahan Kasar di Permukaan (b)
Bahan kasar dipermukaan diidentifikasi sampai kedalaman 20 cm dari permukaan tanah. Yang diidentifikasi adalah : Kerikil (2 mm – 7,5 cm jika bulat , atau sampai 15 cm jika gepeng) Batuan kecil (7,5 mm – 25 cm jika bulat, atau 15 – 40 cm jika gepeng) Pengelompokan kelas bahan kasar berdasarkan sistem USDA : Kelas Bahan Kasar Kriteria Deskripsi b0 Tidak ada /sedikit 0 – 15% dari volume tanah b1 Sedang 15 – 50% dari volume tanah b2 Banyak 50 – 90% dari volume tanah b3 Sangat banyak > 90% dari volume tanah

77 7.b. Batuan di atas Permukaan (b)
Dibedakan menjadi 2 macam : Batuan lepas (batuan yang tersebar di atas permukaan tanah) Batuan terungkap (batuan yang terungkap di atas tanah yang merupakan dari batuan besar yang terbenam di dalam tanah) Pengelompokan kelas batuan di atas permukaan tanah berdasarkan sistem USDA : Kelas Bahan Kasar Kriteria Deskripsi b0 Tidak ada /sedikit 0 – 15% dari volume tanah b1 Sedang 15 – 50% dari volume tanah b2 Banyak 50 – 90% dari volume tanah b3 Sangat banyak > 90% dari volume tanah

78 7.c. Ancaman Bahaya Banjir (o)
Bahaya banjir diidentifikasi terhadap frekuensi dan besarnya banjir yang terjadi dalam setahun Pengelompokan kelas bahaya banjir berdasarkan sistem USDA : Kelas Bahan Banjir Kriteria O0 Dalam waktu 1 tahun tidak pernah mengalami banjir untuk waktu 24 jam O1 Banjir lebih dari 24 jam terjadinya tidak teratur dalam jangka waktu kurang dari satu bulan O2 Selama satu bulan dalam setahun secara teratur menderita banjir lebih dari 24 jam O3 2 – 5 bulan dalam setahun secara teratur menderita banjir lebih dari 24 jam O4 6 bulan atau lebih dilanda banjir secara teratur lebih dari 24 jam

79 Kriteria Klasifikasi Kelas Kemampuan Lahan
No Faktor Pembatas Kelas Kemampuan Lahan I II III IV V VI VII VIII 1 Tekstur tanah Lapisan Atas t2/t3 t1/t4 = Lapisan Bawah 2 Lereng l0 l1 l2 l3 l4 l5 l6 3 Drainase d0/d1 d2 d3 d4 == 4 Kedalaman Efektif k0 k1 k2 k3 5 Tingkat Erosi e0 e1 e2 e3 e4 6 Batuan/Kerikil b0 b1 b2 b3 7 Bahaya Banjir O0 O1 O2 O3 O4 Keterangan : = Dapat mempunyai nilai faktor penghambat dari kelas yang lebih rendah == Permukaan tanah selalu tergenang air

No Kriteria penilaian KELAS I II III IV V VI VII VIII 1 Kemiringan (%) 0-3 3-8 8-25 25-35 35-45 45-65 65-85 >85 2 Ked eff. Tanah (cm) >90 60-90 30-60 15-30 10-15 - <10 3 Batuan singkapan (%) 1-10 10-20 20-60 >60 4 Batuan dlm tanah (%) 15-50 50-90 5 Tekstur tanah Ber-liat Ber-pasir pasir 6 Drainase baik Agak baik Kurang baik Agak jelek jelek Sangat jelek Amat jelek

No Kriteria penilaian KELAS I II III IV V VI VII VIII 1 Tnm semusim tanpa terras S1 S2 S3 N1 N2 2 Tanm semusim berteras 3 Padangan (rerumputan) 4 Agroforestry (tnm semusim) S! S2* S3* N1* 5 Agroforestry (tnm rumput) 6 Hut produksi Hutan Lindung

82 Klasifikasi Penggunaan Lahan Keputusan Presiden No 32 Tahun 1990
Kawasan Lindung Kawasan Penyangga Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan Kawasan Budidaya Tanaman Semusim Kawasan Pemukiman Faktor Pembatas: Kemirngan lahan (%) Faktor Jenis Tanah menurut kepekaan terhadap erosi Faktor curah hujan harian rata-rata

KELAS KEMAMPUAN LAHAN : III – VIII Sekitar % luas total Sub DAS Brantas Hulu adalah kelas VII Faktor pembatas maksimal yang ditemukan antara lain : Lereng, Tingkat bahaya erosi, Keadaan batuan, Bahaya banjir.

84 EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN Bahan kajian MK STELA smno fpub Mei 2013
Pokok Bahasan: EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN Bahan kajian MK STELA smno fpub Mei 2013


Presentasi serupa

Iklan oleh Google