Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

VALIDASI PROSES TERKAIT KONDISI STERIL Laboratorium Farmasetika Jurusan Farmasi FKIK Unsoed 9/22/20151.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "VALIDASI PROSES TERKAIT KONDISI STERIL Laboratorium Farmasetika Jurusan Farmasi FKIK Unsoed 9/22/20151."— Transcript presentasi:

1 VALIDASI PROSES TERKAIT KONDISI STERIL Laboratorium Farmasetika Jurusan Farmasi FKIK Unsoed 9/22/20151

2 Validasi proses terkait kondisi steril –Pengertian validasi –Tahapan validasi 9/22/20152

3 Validasi Prinsip dasar pemastian mutu (Quality Assurance):  Mutu, keamanan, kemanjuran  Mutu tidak ditentukan hasil uji produk akhir  Proses harus terkendali Definisi: Pengadaan bukti terdokumentasi bahwa suatu sistem bekerja sesuai rencana (yang ditetapkan) 9/22/20153

4 Validasi Definisi (Indonesia/Asean): Merupakan suatu tindakan pembuktian dengan cara sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan, atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan Definisi (WHO guideline): The collection and evaluation of data, beginning at the process development stage and continuing through the production phase, which ensure that the manufacturing processes –including equipment, buildings, personnel, and materials- are capable of achieving the intended results on a consistent and continuous basis. 9/22/20154

5 Yang perlu disadari:  Validasi tidak membuat suatu proses menjadi lebih baik  Validasi memberi bukti bahwa suatu proses:  telah (atau tidak) dibuat dengan baik  terkendali –Proses yang tidak baik tidak dapat divalidasi Yang dibutuhkan dalam validasi:  Kerjasama tim ahli (experts)  Anggaran (budget)  Perencanaan yang seksama (planning) 9/22/20155

6 Ruang lingkup validasi Input  Rancangan produk  Bahan awal  Bangunan & fasilitas, sistem sarana penunjang (kritis), alat produksi/uji: -Rancang bangun & kinerja -Pembersihan -Kalibrasi  Protap Kegiatan  Tahapan produksi  Metode pengujian  Penyimpanan/distribusi  Protap Output  Produk akhir -Sesuai tujuan penggunaan? -Sesuai keinginan konsumen?  Protap 9/22/20156 Proses produksi Data kinerja produk

7 Ruang lingkup validasi Proses penunjang –Personalia (pelatihan, kualifikasi) –Pengendalian perubahan (change control) –Validasi ulang (revalidasi) 9/22/20157 Kualifikasi  Suatu sistem harus dikualifikasi agar berfungsi dalam proses yang tervalidasi  Suatu sistem dan/atau alat harus dikualifikasi

8 Tahapan Validasi Kualifikasi Rancangan (Design Qualification) Proses melengkapi dan mendokumentasi kajian rancangan (design review) untuk meyakinkan bahwa seluruh aspek mutu telah dipertimbangkan dan dikaji pada tahap perancangan Kualifikasi Instalasi (Installation Qualification) Proses pemeriksaan instalasi untuk memastikan bahwa seluruh komponen memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan telah dipasang secara tepat, kemudian bagaimana informasi terebut dicatat 9/22/20158

9 Tahapan Validasi Kualifikasi Operasional (Operational Qualification) Proses pengujian untuk memastikan bahwa masing- masing komponen/sistem dan/atau kombinasi sistem tersebut berfungsi sesuai rancangan, dan memenuhi kriteria kinerja yang ditetapkan pada rentang operasional dan bagaimana cara pengujiannya Kualifikasi Kinerja (Performance Qualification) Proses pengujian untuk memastikan bahwa masing- masing komponen/sistem dan/atau kombinasi sistem tersebut berfungsi sesuai rancangan, memenuhi kriteria kinerja yang ditetapkan, dan menghasilkan produk yang diinginkan secara konsisten dan berkesinambungan, serta bagaimana informasi tersebut dicatat. 9/22/20159

10 Pendekatan Validasi Prospective validation (validasi prospektif) Berdasarkan protokol validasi yang sudah dirancang sebelumnya - sebelum produk dipasarkan - untuk produk-produk baru Concurrent validation Berdasarkan data yang diperoleh selama proses terkini - produksi rutin (sudah berjalan tapi belum pernah divalidasi) 9/22/201510

11 Pendekatan Validasi Retrospective validation (validasi retrospektif) Berdasarkan kajian dan analisis data historis Revalidation (validasi ulang) Berdasarkan kajian data pengulangan validasi - periodik - perubahan signifikan 9/22/201511

12 Tujuan Validasi Pemastian mutu (Assurance of quality) Penghematan biaya (cost reduction) –Pengurangan waktu sterilisasi  biaya energi –Peningkatan produktivitas mesin  capital saving –Peningkatan rendemen  produk retur berkurang –Penurunan jumlah kerusakan mesin –Peningkatan reputasi pabrik  gaji karyawan naik Peraturan pemerintah (government regulation) 9/22/201512

13 Jenis Dokumen Validasi Rencana induk validasi (RIV) Dokumen yang menyajikan informasi mengenai program kerja validasi secara menyeluruh  merupakan peta kegiatan validasi di suatu perusahaan Protokol validasi Dokumen yang menguraikan metode kegiatan yang akan dilaksanakan dalam rangka validasi suatu sistem atau proses, termasuk metode pengujian dan kriteria penerimaan atas hasil validasi Laporan validasi 9/22/201513

14 Laporan validasi Judul Identitas alat/sistem/proses yang divalidasi beserta tanggal Kesimpulan Uraian singkat hasil validasi Prosedur Sebutkan protokol (dilampirkan) Hasil Sebutkan laporan pengujian (dilampirkan) Disposisi/keputusan Kesimpulan akhir mengenai validasi yang dilaksanakan: diluluskan/ditolak Tanda tangan otorisasi Tim validasi, QA/QC 9/22/201514

15 Dokumen validasi 9/22/ RIV Protokol Laporan validasi Lembar kerja Lampiran data Protap Rujukan

16 VALIDASI PEMBERSIHAN (CLEANING VALIDATION) Tujuan: untuk memberikan bukti tertulis dan terdokumentasi bahwa: 1.Cara pembersihan yang digunakan tepat dan dapat dilakukan berulang-ulang (reliable & reproducible) 2.Peralatan/mesin yang dicuci tidak terdapat pengaruh yang negatif karena efek pencucian 3.Operator/pelaksana yang melakukan pencucian kompeten, mengikuti prosedur pembersihan dan peralatan pembersihan yang sudah ditentukan 4.Cara pencucian menghasilkan tingkat kebersihan yang sudah ditetapkan. Misal: sisa residu, kadar kontaminan, dll. 9/22/201516

17 Mengapa prosedur pembersihan harus divalidasi? 1.Peralatan digunakan untuk bermacam- macam produk 2.Meningkatnya kontak permukaan antara bahan dengan alat/mesin 3.Tuntutan c-GMP (current Good Manufacturing Practice) 9/22/201517

18 Bagaimana cara pelaksanaan validasi pembersihan? 1.Pemilihan prosedur (protap) sanitasi yang diuji 2.Pembuatan protokol validasi 3.Penetapan metode pengambilan sampel 4.Pembuatan lembar kerja (worksheet) validasi 5.Pelaksanaan validasi 6.Pengujian sampel 7.Penentuan kriteria (batas) penerimaan 8.Membuat kesimpulan 9.Pembuatan laporan validasi 9/22/201518

19 Penetapan prosedur pembersihan (bekas produk/active substance) yang divalidasi 1.Bahan-bahan yang sulit dibersihkan (dari pengalaman) 2.Produk-produk yang memiliki tingkat kelarutan buruk 3.Produk-produk yang mengandung bahan yang sangat toksik, karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dll. 4.Untuk bahan yang sama, dipilih yang memiliki dosis yang lebih tinggi 9/22/201519

20 Kriteria alat/mesin yang divalidasi 1.Peralatan/mesin baru 2.Untuk mesin yang sama (merk, jenis/tipe) hanya salah satu yang harus divalidasi 3.Jika dalam proses menggunakan rangkaian mesin yang berbeda secara berkelanjutan (in line machine), masing-masing mesin harus tetap divalidasi secara terpisah. 4.Jika rangkaian mesin merupakan kombinasi mesin yang permanen, validasi dapat dilaksanakan secara bersama-sama. 9/22/201520

21 Hal-hal lain yang perlu diperhatikan 1.Desain peralatan (apakah banyak pipa-pipa, apakah ada kesulitan untuk melakukan sampling, lekukan-lekukan, dsb) 2.Teknik sampling (metode pengambilan sampel): swab test, rinse sampling atau placebo sampling 3.Jumlah titik sampling, lokasi sampling, kontaminasi sampel, dll. 4.Formulasi: cairan, serbuk, aseptik, steril, eksipien, dll. 9/22/201521

22 Metode pengambilan sampel  metode apus (swab sampling method) Pengambilan sampel dengan cara apus umumnya menggunakan bahan apus (swab material) yang dibasahi dengan pelarut yang langsung dapat menyerap residu dari permukaan alat. Bahan yang digunakan untuk sampling harus: 1.Kompatibel dengan pelarut & metode analisisnya 2.Tidak ada sisa-sisa serat yang mengganggu analisis 3.Ukuran harus disesuaikan dengan area samplingnya 9/22/201522

23 …metode apus 4.Pelarut harus: a.Disesuaikan dengan spesifikasi bahan yang diperiksa b.Tidak mempengaruhi stabilitas bahan yang diuji c.Sebelum dilakukan validasi, harus dilakukan pemeriksaan/uji penemuan kembali (recovery test) dengan larutan yang diketahui kadarnya. 9/22/201523

24 Metode pembilasan akhir (rinse sampling method) Umumnya dilakukan untuk alat/mesin yang sulit dijangkau dengan cara apus (banyak pipa-pipa, lekukan, dll) Pelarut (bilasan akhir) dapat digunakan pelarut organik (metanol, alkohol) atau hanya aqua demineralisata, pelarut kemudian ditampung dan dianalisis Kelebihan: jika dilakukan dengan benar, hasil pemeriksaan mencerminkan kondisi seluruh permukaan alat Kekurangan: ada kemungkinan tidak seluruh sisa bahan (residu) larut dalam bahan pelarut sehingga residu tidak dapat terdeteksi. 9/22/201524

25 Metode dengan menggunakan placebo Dilakukan dengan cara pengolahan produk yang bersangkutan tanpa bahan aktif dengan peralatan yang sudah dibersihkan kemudian dianalisis Tidak disarankan karena tidak reproducible. 9/22/201525

26 Metode analisis (pemeriksaan) Metode analisis yang digunakan untuk pemeriksaan sisa residu HARUS sudah divalidasi Spesifik untuk bahan yang diperiksa Cukup sensitif untuk mendeteksi sisa residu Alat yang dipakai: HPLC (disarankan, tetapi biaya pemeriksaan mahal; spektro UV/Vis, dan KLT (biaya lebih murah) Pemeriksaan lain: pH, konduktivitas, kejernihan, sisa detergent. 9/22/201526

27 Penentuan total residu Dengan cara menjumlahkan sisa residu dari semua bagian Mengkonversikan jumlah total residu dari sisa residu yang disampling Jika tidak ada residu yang terdeteksi, perhitungan sisa residu menggunakan limit of detection. 9/22/201527

28 Kriteria penerimaan (acceptance criteria) Penentuan risiko terjadinya kontaminasi silang (cross-contamination) dengan “worst case scenario”: –Seluruh sisa residu akan diterima (tercampur) oleh produk berikutnya –Sisa residu akan tercampur secara homogen pada produk selanjutnya –TIEL (Toxicological Insignificant Exposure Level) atau dosis terapetik terkecil per hari sebagai bahan perhitungan. 9/22/201528

29 Acceptance criteria Kriteria dosis  cemaran bahan aktif tidak lebih dari 0,001 x dosis harian maksimal per hari dari produk selanjutnya Kriteria ppm  produk berikutnya mengandung tidak lebih dari 10 ppm cemaran produk sebelumnya Bersih secara visual  pada alat yang telah dibersihkan, tidak terlihat secara visual adanya sisa produk sebelumnya. 9/22/201529

30 9/22/201530


Download ppt "VALIDASI PROSES TERKAIT KONDISI STERIL Laboratorium Farmasetika Jurusan Farmasi FKIK Unsoed 9/22/20151."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google