Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

B.1. Reaksi kimia/warna golongan senyawa obat Ref: Authorhoff, Knabe, Holtje prof. aza.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "B.1. Reaksi kimia/warna golongan senyawa obat Ref: Authorhoff, Knabe, Holtje prof. aza."— Transcript presentasi:

1 B.1. Reaksi kimia/warna golongan senyawa obat Ref: Authorhoff, Knabe, Holtje prof. aza

2 B.1. Reaksi Kimia Golongan Reaksi kimia golongan, adalah reaksi warna yang dapat digunakan untuk identifikasi senyawa obat, yang berhubungan dengan suatu struktur parsial, misalnya gugus metilen, urea dan guanidin. Reaksi yang terjadi memberikan suatu senyawa yang bewarna. prof. aza

3 Reaksi Kimia Golongan B.1.1. Pembentukan senyawa warna polimetin anion B.1.2. Pembentukan senyawa warna polimetin kation B.1.3. Pembentukan senyawa warna trifenilmetana B1.4. Pembentukan chinonimin B.1.5. Pembentukan senyawa azo prof. aza

4 B.1.1. Pembentukan senyawa warna warna polimetin anion B Gugus metil aktif B Reaksi Vitali-Morin B Reaksi Murexide B Reaksi Fujiwara prof. aza

5 B Garam Meisenheimer dan Zimmermann Senyawa obat yang mempunyai metilen yang aktif akan mempunyai gugus seperti dibawah ini. Gugus seperti itu terdapat pada hidromorfinon dan derivat, juga pada cincin butenolid (γ-laktonring) dari cardenolid. Senyawa semacam ini dalam larutan alkali dengan senyawa polinitro akan memberikan garam Meisenheimer bewarna kuat, yang mempunyai polimetin anion. prof. aza

6

7 Mula-mula terjadi deprotonasi metilen grup aktif. Carbanon yang terbentuk selanjutnya bereaksi dengan senyawa polinitro membentuk σ-komplek yang disebut garam Meisenheimer. Reaksi bersifat reversibel, bila senyawa polinitro berlebihan, maka σ-komplek akan teroksidasi menjadi garam Zimmermann yang stabil. prof. aza

8 Berbagai senyawa nitro yang digunakan untuk identifikasi metil grup aktif. prof. aza

9 DAB 10 menggunakan variasi asli dari Reaksi-Janovski untuk identifikasi lidocain. Dengan pereaksi asam nitrat berasap, lidocain akan membentuk 3,5- dinitrolidocain yang dengan aseton dalam alkali etanolik akan membentuk garam Meisen heimer yang bewarna hijau (1). Sebaliknya, identifikasi nitrat dalam DAB 10 adalah berdasarkan, terbentuknya 1,3-dinitrobenzen dari reaksi nitrat, asam sulfat dan nitrobenzen. prof. aza

10 B Reaksi Vitali-Morin Alkaloid tropan dengan asam nitrat berasap akan membentuk 4’-nitrotropat, yang dengan alkali akan membentuk anion bewarna violet yang distabilkan oleh mesomeri. prof. aza

11

12 B Reaksi Murexide Reaksi Murexid adalah reaksi warna untuk purin-derivat. Senyawa ditambah H2O2 dan HCl, kemudian diuapkan sampai kering, senyawa merah kekuningan yang terbentuk dengan uap amoniak akan menjadi merah violet. Reaksi berlangsung dengan perombakan oksidatif dari heterosiklik, dimana diantaranya akan membentuk asam purpurat. Garam amonium asam purpurat disebut Murexid yang merah violet. Mureksid adalah suatu oksonol, oksonol adalah suatu vinilogi dari carboksilat anion. Dari xanthin derivat akan terbentuk berbagai metil-murexide. prof. aza

13 B Reaksi Fujiwara Reaksi ini digunakan untuk identifikasi kloroform dalam jumlahkecil. Klororoform dalam suasana alkali kuat dan pemanasan akan menimbulkan pemutusan piridin ring. Mula-mula terbentuk garam bis-iminium 1, yang kemudian terhidrolisis menjadi polimetin anion 2 yang bewarna merah. Dalam DAB 10 reaksi Fujiwara digunakan untuk identifikasi chlorbutanol. Sebagai kebalikan reaksi sintesisnya, dalam basa pekat akan putus menjadi kloroform dan aseton. prof. aza

14 B.1.2. Pembentukan senyawa warna polimetin kation B Produk reaksi fenol-aldehid-asam Reaksi ini menggunakan 3 komponen, yakni fenol, aldehid dan penarik air. Misalnya Reaksi Chromatropat dan Reaksi Marquis prof. aza

15 B Reaksi asam chromatropat Asam chromatropat 1 dengan formaldehid dan asam sulfat, dengan pemanasan 60 0 C akan membentuk warna violet, dimana terbentuk dibenzoxanthylium kation 2 yang distabilkan oleh mesomeri. prof. aza

16

17 Reaksi ini juga dapat digunakan untuk identifikasi senyawa yang dalam kondisi reaksi memberikan formaldehid, seperti cimetidin, metamizol atau hidroksimetilfurfural, yang terbentuk dari heksosa dengan suatu asam. Juga dapat digunakan untuk identifikasi metanol, setelah dioksidasi menjadi formaldehid. prof. aza

18 B Reaksi Marquis Pada identifiksi morfin menurut Marquis, dari 2 molekul morfin dan 1 molekul formaldehid, melalui 2 substitusi elektrofili dari cincin fenol dan dehidrasi akan terbentuk oxonium-carbenium-ion yang distabilkan mesomeri yang bewarna violet intensif. Reaksi sangat sensitif, dapat mengenali dalam µg. Reaksi tidak spesifik, derivat morfin, seperti codein, etilmorfin, heroin, yang dalam kondisi percobaan berubah jadi morfin juga akan memberikan reaksi positif prof. aza

19 B Produk reaksi Heteroaromat/aldehid/asam B Reaksi Van-Urk B Reaksi Pyridin menurut Koenig prof. aza

20 B Reaksi Van-Urk Reaksi digunakan untuk identifikasi alkaloid Secale cornutum. Dengan pereaksi 4-dimetilaminobenzaldehid dan oksidator besi(III)-clorid dalam asam sulfat, alkaloid indol derivat yang tidak tersubstitusi pada posisi-2 akan memberikan warna biru. Dari 2 molekul indol derivat dan 1 molekul 4-dimetilaminobenzaldehid akan terbentuk produk utama polimetin-kation yang bewarna. Reaksi juga dapat digunakan untuk penetapan kadar secara fotometrik derivat asam lisergat. Reaksi sangat dipengaruhi kondisi percobaan, oleh sebab itu kondisi percobaan harus diatur dengan tepat sesuai prosedur. prof. aza

21 B Reaksi Pyridin menurut Koenig Derivat pyrimidin dengan bromcyan akan memberikan 1-cyanpyridiniumbromida 1, yang dengan anilin melalui pembukaan cincin akan berkondensasi membentuk senyawa warna polimetin 2. Dalam DAB10 reaksi ini digunakan untuk identifikasi necethamid. prof. aza

22 B Senyawa warna polimetin dari komponen lain prof. aza

23 B Reaksi Carr-Price Reaksi ini digunakan untuk identifikasi vitamin A (Retinol). Reaksi ini berdasarkan adisi SbCl3, suatu asam Lewis, membentuk carbenium ion pada sistem polien Retinol. Reaksi dapat terjadi pada ujung rantai atau pada cincin Retinol. Jalan reaksi cukup rumit, terbentuk senyawa biru yang cepat memudar. SbCl3 juga akan mengadisi colecalciferol dan ergocalciferol (Reaksi Brockmann-Chen). Mekanisme reaksi belum diketahui. prof. aza

24 B.1.3. Senyawa warna trifenilmetana prof. aza

25 B Reaksi Schiff Reagen Schiffs (Fuchsin-NaHSO3) digunakan untuk identifikasi aldehid, dalam asam mineral reaksi hanya positif untuk formaldehid. Dapat digunakan untuk uji batas metanol dalam etanol, dengan oksidasi menjadi aldehid (Reaksi Deniges). Fuchsin yang bewarna merah dengan NaHSO3 berlebih akan membentuk C-sulfonat yang tidak bewarna. Dengan penambahan aldehid, melalui reaksi Mnnich akan terbentuk  -asam amino. Induksi efek SO3-grup akan menurunkan kebasaan atom nitrogen C-asam sulfonat. Hal ini akan berakibat eliminasi hidrogensulfit- ion dan sisa C-asam sulfonat akan membentuk chinoid bewarna merah, trifenilmetana yang distabilkan oleh mesomeri. prof. aza

26

27

28 Dalam DAB10 pereaksi Schiffs juga digunakan untuk identifikasi bromida, dimana peraksi Schiffs akan mengoksidasi bromida menjadi Brom, sedangkan reagen Schiffs berubah menjadi garam pentabromrosanilinium1 bewarna violet. prof. aza

29 B.1.4. Chinonimine prof. aza

30 B.1.4. Chinonimine B Reaksi Sakaguchi prof. aza

31 B Reaksi Sakaguchi Reaksi Sakaguchi digunakan untuk identifikasi derivat Guanidin. Guanidin akan dioksidasi oleh hipogalenit dan dengan keberadaan suatu fenol, seperti 1-naftol, akan terbentuk chinonsemicarbazon1, yang dalam suasana alkali akan membentuk anion 2 yang bewarna. Guanethidin akan memberikan endapan yang bila dibiarkan akan bewarna violetmerah. prof. aza

32 B.1.5. Pembentukan senyawa azo prof. aza

33 B.1.5. Pembentukan senyawa azo B Pembentukan kopel azo B Pembentukan Formazon (reaksi TTC) prof. aza

34 B Pembentukan kopel azo Diazotasi amin aromatis primer, dan garam diazonium yang terbentuk di reaksi kopel dengan suatu fenol membentuk senyawa azo yang bewarna, dapat digunakan untuk identifikasi amin, atau fenol sebagai pasangan reaksi kopel. prof. aza

35 B Pembentukan Formazon (reaksi TTC) Trifeniltetrazoliumchlorid1 dalam suasana alkali akan mengoksidasi  -ketol 2 menjadi  -ketolaldehid4. sedangkan TTC tereduksi menjadi Formazan3. Senyawa4 dalam suasana alkali akan berubah menjadi  - hidroksiasamkarboksilat5. Reaksi TTC dapat digunakan untuk identifikasi dan penetapan kadar secara fotometri  - ketol-steroid alam dan semi sintetik, seperti betametason, cortisol, prednison dan prednisolon. Suatu hal yang menarik dalam reaksi ini, oksidator1 tidak bewarna, sedangkan hasil reduksinya3 jadi merah tua. Reagen ini dapat digunakan untuk mengenali reaksi biologis. prof. aza

36

37 Uji sitotoksis MTT Bioassay (in vitro)

38 B.1.6. Indandion prof. aza

39 B Reaksi Ninhydrin Ninhidrin, atau 2,2-dihidroksi-1,3-indandion, adalah reagen yang sangat sensitif terhadap asam amino, polipeptida dan protein. Mekanisme reaksi diinterpretasikan sebagai berikut. Asam amino1 mula-mula mengalami dekarboksilasi, amin2 yang terbentuk mengalami deaminasi oksidatif. Dari reaksi akan terbentuk aldehid3 dan amoniak Sebagai oksidator dalam reaksi adalah ninhidrin4, yang mengalami reduksi menjadi5. Amoniak yang terbentuk dari asam amino akan bereaksi dengan ninhidrin4 dan mereduksinya menjadi senyawa bewarna biru6. Pada reaksi warna semua asam amino akan memberkan warna biru yang sama, tetapi pada analisis KLT beberapa asam amino memberikan warna yang berbeda. prof. aza

40

41 B.1.7. Chinolone prof. aza

42 B Reaksi Thalleiochin Alkaloid kina, yang pada C-6’ mempunyai fungsi oksigen, dalam larutan alkali dan dengan brom akan memberikan warna hijau. Menurut penelitian terakhir, reaksi warnan akan memberikan campuran, yang komponen utamanya adalah bis-chinolonderivat1 dan suatu radikal bewarna biru stabil yang strukturnya belum diketahui. prof. aza

43 B.1.8. Fenolat prof. aza

44 B.1.8. Fenolat B Reaksi Arnow Reaksi Arnow dengan asam nitrat/amoniummolybdat spesifik untuk senyawa 1,1-Difenol, seperti Adrenalin, Brenzkatechin dan DOPA. Mula2 terbentuk senyawa Nitroso (1), yang kemudian dengan Molybdat dioksidasi menjadi nitrofenol bewarna kuning (2), yang dalam suasana alkali berada dalam bentuk fenolat (3) yang bewarna merah. Senyawa Fenol, Veratrol, 1,3- dan 1,4-Difenol tidak menganngu reaksi. DAB 10: untuk identifikasi Levodopa prof. aza

45 B.1.9 Pembentukan kompleks yang berwarna prof. aza

46 B Reaksi Zwikker R Zwikker adalah suatu reaksi warna untuk mengenali derivat asam Barbiturat, tetapi tidak spesifik. Tergantung dari pelaksanaan reaksi, derivat urea lainnya, seperti Hidantoin, Purin dan Sulfonil urea juga memberikan reaksi yang positif. Zwikker (1931) memurnikan derivat asam barbiturat melalui pembentukan kompleks dengan CuSO4 dan piridin. Kemudian ditambahkan larutan Cobaltkhlorida dalam metanol dan BaOH2, maka akan terbentuk warna violet. prof. aza

47 Pelaksanaan reaksi dapat dalam berbagai variasi, pada penggunaan piperidin sebagai basa, semua derivat asam barbiturat memberikan warna dan intensitas warna yang hampir sama. Pada penggunaan BaOH2 hanya Barbital dan Fenobarbital yang memberikanwarna yang stabil. DAB 10 menggunakan larutan Cobaltnitrat dan sebagai basa adalah larutan NaOH. Maka barbiturat akan membentuk kompleks oktaedral yang bewarna violet, dimana Co akan berada di pusat dan berikatan dengan 2 barbiturat anion dan 4 molekul pelarut. Reaksi hanya positif untuk barbital yang atom N tidak tersubstitusi. prof. aza

48 Bila digunakan amin sebagai basa, maka akan terbentuk kompleks yang tetraedral. Reaksi lebih sensitif, N- metilasi Barbiturat juga memberikan reaksi yang positif. prof. aza

49 B Legal-test Aseton akan bereaksi dengan natriumpentasianonitrosilferat dalam suasana alkali menjadi kompleks bewarna dengan struktur (1). DAB menggunakan Legal-test untuk identifikasi Sitrat. Sitrat dioksidasi menjadi asetondikarboksilat (2), yang pada pemanasan akan mengalami dekarboksilasi dan memberikan aseton. Reaksi tidak spesifik untuk aseton, juga diberikan oleh metilketon, cardenolid dan asetaldehid. DAB 10: Identifikasi Laktat, Asam laktat dioksidasi menjadi senyawa (3), dengan dekarboksilasi akan menjadi asetaldehid prof. aza

50 B Reaksi Simon Reaksi Simon relatif spesifik untuk identifikasi asetal-dehid. Formaldehid, valeraldehid dan aseton tidak menganggu. Dalam DAB10 digunakan untuk identifikasi etanol. Senyawa dioksidasi dengan dokhromat/H2SO4, reagen glas ditutup dengan kertas saring yang telah direndam dengan natriumpentasianonitrosilferat (II) dan piperidin. Maka akan terbentuk warnabiru prof. aza

51 Dari asetaldehid dan piperidin akan terbentuk N-vinilpiperidin (1), yang kemudian dengan kompleks besi bereaksi menjadi (2). Iminium ion (2) yang tidak bewarna akan terhidrolisis menjadi senyawa (3) yang bewarna biru. prof. aza

52


Download ppt "B.1. Reaksi kimia/warna golongan senyawa obat Ref: Authorhoff, Knabe, Holtje prof. aza."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google